IMG-LOGO
Pustaka

Al-Kawakibul Lama’ah: Kitab Rujukan Aswaja Karya Ulama Nusantara

Selasa 31 Juli 2018 18:40 WIB
Bagikan:
Al-Kawakibul Lama’ah: Kitab Rujukan Aswaja Karya Ulama Nusantara
Kitab rujukan paham Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) ditulis oleh beberapa Kiai NU di antaranya Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah karya Hadlratussyekh KH Hasyim Asy’ari, Al-Hujaj Al-Qath’iyyah An-Nahdliyyah karya KH Muhyiddin Abdusshomad, Al-Muqtathafat li Ahlil Bidayat karya KH Marzuqi Mustamar, dan Al-Kawakibul Lama’ah karya Syekh Abu Fadhol Senory.

Ahlussunnah wal Jama’ah sendiri merupakan paham keagamaan kaum Sunni yang berasal dari kalam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi. Paham ini mengambil jalan tengah antara ahlul ra’yi (kelompok rasionalis) dan ahlul hadits sehingga memiliki pemikiran dan paham yang cenderung moderat (wasathi), tidak terlalu tekstual juga tidak terlalu rasional.

Kitab rujukan pokok tentang Aswaja Al-Kawakibul Lama’ah karya Syekh Abu Fadhol Senory merupakan kitab yang ingin diulas dalam tulisan ini. Syekh Abu Fadhol yang lahir di daerah Senori, Tuban, Jawa Timur berupaya memberikan pemahaman yang jelas, lugas, dan mudah dimengerti kepada masyarakat tentang Aswaja dalam kitab ini.

Kitab ini cukup berharga setidaknya karena dua alasan. Pertama, kitab ini merupakan karya asli ulama Nusantara. Ini bukti bahwa khazanah keilmuan dan kealiman ulama-ulama Nusantara mampu menderivasikan (menurunkan) pemahaman Aswaja secara sederhana sehingga bisa dipahami oleh masyarakat umum, terutama untuk warga NU (Nahdliyin).

Syekh Abu Fadhol Senori ini merupakan satu dari banyak ulama Nusantara yang menghasilkan karya rujukan. Bahkan, ulama-ulama Nusantara seperti Syekh Nawawi Banten, Syekh Khatib Sambas, Syekh Yasin Padang, Syekh Mahfud Termas, Syekh Ihsan Jampes, dan lain-lain menghasilkan karya yang menjadi rujukan akademik di ranah global.

Alasan kedua, kitab ini merupakan rujukan penting bagi generasi milenial, terutama untuk menghadapi upaya-upaya tahrif dan pengaburan ajaran Islam ala Aswaja yang selama dipraktikkan dan berkembang luas di tengah masyarakat Indonesia. Kitab ini menurut Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj bisa dijadikan fondasi dan dasar untuk memahami epistemologi Aswaja secara utuh.

Awalnya, Prof Al-Ludz’i Abu Al-Fadhl ibn Syekh Abd Asy-Syakur As-Sinuri Al-Bangilani mengirimkan karya Al-Kawakibul Lama’ah fi Tahqiq Al-Musamma bi Ahli As-Sunnah wa Al-Jama’ah kepada KH Abdul Jalil Hamid Kudus. Kiai Abdul Hamid melihat akan kebenaran dan pentingnya kitab tersebut bahkan bisa menjadi tambahan ilmu yang kuat bagi kaum intelektual.

Lantas kitab tersebut dibawa ke forum Muktamar ke-23 Nahdlatul Ulama di Solo, Jawa Tengah tahun 1962. Muktamirin sangat antusias dengan kitab tersebut sehingga disepakati untuk membentuk tim tashih. Setelah cukup lama, akhirnya tim tashih baru terbentuk di Denanyar, Jombang pada 1383 H bertepatan pada pertengahan Mei 1994.

Hadir dalam agenda tersebut, pemuka-pemuka jami’yah NU di antaranya KH Bisri Syansuri, KH Adlan Ali, KH Kholil, dan KH Mansur Anwar. Mereka merupakan tokoh-tokoh besar NU yang tinggal di Jombang.

Juga hadir dalam agenda tashih tersebut KH Turaihan Ajhuri Kudus, KH Abdul Majid Palembang, KH Raden Muhammad Al-Karim Solo, KH Muhammad Al-Bagir Marzuqi Jakarta, dan KH Abdul Jalil Hamid sendiri. Hadir juga ulama cerdik cendekia dari Martapura Kalimantan KH Nur Jalil.

Dalam kitab ini, Syekh Abu Fadhol Senori memberikan penjelasan cukup sederhana namun mendetail dalam lima pasal. Lima pasal tersebut menjelaskan epistemologi Ahlussunnah wal Jama’ah yang dikembangkan oleh Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi.

Pasal-pasal tersebut juga menjelaskan secara gamblang terkait prinsip-prinsip pembahasan tentang kata dalam bahasa Arab. Syekh Abu Fadhol memaparkan bahwa sebuah kata adakalanya hakiki (bermakna sebenarnya) atau majasi (kiasan). Keduanya bisa bersifat bahasa (lughawi), syariat (syar’i), tradisi (‘urfi), yang bersifat istilah adakalanya ‘am (universal) atau khas (parsial).

Dalam kitab ini juga dibahas penerapan ragam dan karakter kata serta bahasa yang dimaksud di atas. Selanjutnya pembahasan istilah dan makna ‘Sunnah’ dan Ahlussunnah wal Jama’ah yang masuk dalam kelompok kata tradisi (‘urfi). Pembahasan runut tersebut membawa pembaca dapat memahami prinsip-prinsip Aswaja secara mudah namun mendalam.

Dalam kitabnya ini, Syekh Senori juga menerangkan hasil sebuah penelitian yang mengungkakan bahwa Aswaja terbagi menjadi tiga kelompok, pertama, ahli hadits yang metode dan pijakan mereka adalah dalil-dalil sam’i yakni Al-Qur’an, Hadits, dan Ijma’.

Kedua, kelompok ideologis dan pemikir, mereka adalah kaum Asy’ariyah dan Maturidiyah (Hanafiah). Ketiga, ahli rasa dan kasyaf. Mereka adalah kaum sufi. Adapun prinsip ajaran mereka di tahap awal ialah sama dengan prinsip ahli fiqih dan hadits. Namun pada puncaknya mereka menggunakan prinsip kasyaf dan ilham.

Agar lebih memahamkan pembaca, Syekh Senory memaparkan pembahasannya dalam bentuk tanya jawab. Pertanyaan-pertanyaan yang dimunculkan ialah pertanyaan yang muncul, baik dari kalangan masyarakat, ulama, maupun intelektual. Jawaban yang dikemukakan Syekh Senory dibahas dalam bingkai pemahaman Aswaja.

Dengan demikian, kitab ini tidak hanya menguraikan paham Aswaja secara teoritis, tetapi juga menerangkannya secara praktis. Praktik keagamaan yang berkembang di Nusantara selama ini merupakan ejawantah paham Aswaja. Pijakan syar’i-nya jelas dan dapat dipertanggungjawabkan secara teologis maupun akademis. Wallau’alam bisshowab.

Peresensi adalah Fathoni Ahmad, pengajar di Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta

Identitas buku:
Judul: Al-Kawakibul Lama’ah
Penulis: Syekh Abu Fadhol Senory
Penerjemah: Yusni Amru Ghazali
Penerbit: Pengurus Besar Nahdlatul Ulama
Cetakan: Pertama, November 2017
Bagikan:
Senin 30 Juli 2018 10:45 WIB
Jejak Anak-anak Syekh Ruyani Pandeglang di Kairo Awal Abad 20
Jejak Anak-anak Syekh Ruyani Pandeglang di Kairo Awal Abad 20
Di Pandeglang Banten, tepatnya di Desa Kadu Pinang, terdapat dua makam ulama besar kawasan itu yang dikenal dengan “Keramat Kadu Pinang”, yaitu Syekh Muhammad Sohib dan putranya, Syekh Muhammad Ruyani.

Syekh Muhammad Sohib Pandeglang ini diperkirakan hidup sezaman dengan Syekh Nawawi Banten dan Syekh Abdul Karim Banten, yaitu pada abad ke-19 M, sekaligus sejawat keduanya. Data ini setidaknya dapat ditelusuri dari manaqib KH. Tubagus Falak Bogor (Mama Pagentongan), yang mana ketika beliau belajar di Makkah pada akhir abad ke-19 M, beliau dititipkan oleh gurunya, yaitu Syekh Sohib Kadu Pinang Pandeglang, kepada kawannya yang juga asal Banten dan mengajar di Makkah, yaitu Syekh Abdul Karim Banten.

Terdapat beberapa nama ulama Banten yang bermukim di Makkah dan menjadi pengajar di Masjidil Haram, di antaranya adalah Syekh Nawawi Banten, Syekh Syadzili b. Wasi’ Banten (murid Syekh Nawawi), Syekh Abdul Hanan Banten (menantu Syekh Nawawi), Syekh Abdul Haq Banten (cucu Syekh Nawawi Banten), Syekh Abdul Karim Banten, Syekh As’ad Thawil, dan lain-lain. Dua nama terakhir, yaitu Syekh Abdul Karim Banten dan Syekh As’ad Thawil, pulang ke tanah air dan menjadi sentral gerakan sosial-keagamaan di Banten pada akhir abad ke-19 M. Keduanya pula yang menjadi pemantik gerakan perlawanan petani di Cilegon terhadap pemerintahan kolonial Belanda pada tahun 1886.

Terdapat seorang nama cendikiawan asal Banten lainnya yang bermukim di Hijaz namun memilih jalur karir birokrat, bukan ulama, yaitu Raden Abu Bakar Djajadiningrat, putra dari Raden Ahmad Djajadiningrat yang merupakan Bupati Pandeglang pada zamannya. Raden Abu Bakar Djajadiningrat bekerja sebagai pegawai dan penerjemah pada kantor Konsulat Belanda di Jeddah sejak tahun 1884 hingga 1914. Djajadiningrat pula yang menjadi pembimbing dan informan setia bagi Snouck Hurgronje, orientalis kawakan dari Leiden yang kelak menjadi penasehat pemerintahan Hindia Belanda pada persilangan abad ke-19-20 M, ketika Hurgronje pertamakali datang ke Hijaz dan berkehendak melakukan penelitian di Makkah.

Kembali ke sosok Syekh Shohib Kadu Pinang Pandeglang. Beliau ini mempunyai anak, yang juga menjadi salah satu ulama sentral Banten, yaitu Syekh Muhamad Ruyani. Sayangnya, tak banyak data dan informasi lanjutan tentang kedua tokoh ulama besar ini.

Menariknya, dalam beberapa arsip yang dihimpun oleh penulis, terdapat dua buah nama yang mengindikasikan jika kedua nama tersebut adalah anak dari Syekh Muhammad Ruyani Kadu Pinang Pandeglang, yaitu Syekh Sholih Ruyani al-Bantani dan Syekh Burhanuddin Ruyani al-Bantani. Keduanya hidup dan berkarir di Kairo pada paruh pertama abad ke-20 M. Penulis mendapatkan dua buah arsip yang berbeda yang memuat informasi awal tentang keduanya.

Pertama, nama Syekh Sholih Ruyani al-Bantani. Penulis mendapatkan informasi nama tersebut dari kitab “Kifâyah al-Mubtadi’în ilâ ‘Ibâdah Rabb al-‘Âlamîn”, sebuah kitab karangan Syekh Mukhtar Bogor (Syekh Mukhtâr b. ‘Athârîd al-Bughûrî atau Raden Mukhtar b. Raden Natanagara), seorang bangsawan Sunda yang mengajar di Masjidil Haram hingga wafatnya pada tahun 1930 M. Kitab karangan Syekh Mukhtar Bogor tersebut ditulis dalam bahasa Sunda aksara Pegon, diselesaikan penulisannya di Makkah lalu diterbitkan di Kairo pada tahun 1920 M oleh Maktabah Musthafâ al-Bâbî al-Halabî.

Nah, terdapat keterangan nama korektor (pentashih) kitab tersebut pada halaman belakang, yaitu Syekh Muhammad Shâlih b. Syekh Muhammad Ruyânî Bantân. Kuat dugaan jika nama tersebut merujuk pada sosok Syekh Sholih Ruyani Pandeglang, yang merupakan anak dari Syekh Ruyani Kadu Pinang.

Informasi di atas sekaligus membuka kemungkinan fakta sejarah lainnya, yaitu adanya hubungan yang erat antara Syekh Mukhtar Bogor di Makkah, KH. Tubagus Falak di Pagentongan (Bogor), dan cucu dari guru Mama Pagentongan, yaitu Syekh Sholih Ruyani Banten di Kairo.

Informasi kedua yang penulis dapatkan memuat nama Syekh Burhanuddin Ruyani Banten. Penulis mendapatkan informasi nama tersebut dari Majalah Berita Nahdlatoel Oelama (BNO) edisi tahun ke-10 bilangan ke-6 (tahun 1941). Di sana terdapat sebuah kolom berita duka cita atas wafatnya seorang bernama “Boerhanoedin Roe’jani di Cairo”. Tertulis dalam kolom berita tersebut:

“Dari Cairo diterima kabar. Toean Boerhanoedin Roe’jani, Pembantu Kepala Rowak Djawa di Kairo meninggal pada tanggal 9 Mei dalam oesia 45 tahoen.

Boerhanoedin Roe’jani almarhoem lahir di Bantam (Banten), anak seorang oelama jang terkenal, Kiai Hadji Moehammad Roe’jani di Pandeglang. Boerhanoedin Roe’jani almarhoem itoe menoentoet ilmoe pada sekolah tingga Al-Azhar di Cairo. Di kalangan student ia seorang jang terkenal”.

Menimbang informasi kedua tokoh di atas, yaitu Sholih Ruyani dan Burhanuddin Ruyani, yang terdapat dalam dua sumber arsip, dapat disimpulkan jika dua cendikiawan asal Pandeglang tersebut merupakan aktivis gerakan intelektual Bumi Putera yang berkarir di Kairo. Sholih Ruyani adalah seorang korektor (pentashih) kitab pada penerbit Maktabah Musthafâ al-Bâbî al-Halabî yang pada masa itu adalah salah satu penerbit swasta terbesar di Timur Tengah. Sementara Burhanuddin Ruyani adalah wakil kepala Ruwaq Jawa (Pemondokan Pelajar Nusantara) di al-Azhar Kairo sekaligus aktivis intelektual yang sangat terkenal di Kairo pada zamannya.

Dua nama cendikiawan asal Pandeglang di Kairo ini, yang kuat terindikasi memiliki hubungan anak-ayah dengan Syekh Ruyani b. Syekh Sohib Kadu Pinang Pandeglang, tentu memberikan tambahan informasi dan data yang penting bagi rekonstruksi sejarah gerakan sosio-intelektual Islam (di) Nusantara, khususnya untuk wilayah Banten. (A. Ginanjar Sya’ban)


Jumat 27 Juli 2018 22:0 WIB
Menatap Langkah NU di Abad Kedua
Menatap Langkah NU di Abad Kedua
Genap 8 tahun lagi, atau tepatnya pada 2026, Nahdlatul Ulama akan berusia satu abad. Sebuah usia yang lebih dari cukup untuk disebut matang. Tetapi bukan satu abad itu yang perlu disongsong. Yang perlu disiapkan adalah bagaimana mewarnai perjalanan abad berikutnya. NU di abad kedua.

Melihat judulnya saja, Peta Jalan NU Abad Kedua, buku ini dari awal sudah berupaya meluruskan cara pandang dalam meneropong dimensi waktu. Dalam dua-tiga tahun terakhir, bahkan sejak Muktamar ke-33 NU di Jombang, semangat menyongsong satu abad NU telah didengungkan.

Buku ini mengingatkan, disongsong atau tidak, satu abad NU pasti datang. Jadi bukan menyongsong miladnya yang selalu seremonial itu. Yang lebih penting adalah bagaimana perkhidmatan NU di abad digital nanti terorganisasi lebih sistemik lagi. 

Buku setebal 194 halaman ini merupakan ringkasan hasil diskusi panjang tokoh-tokoh NU generasi kedua. Yakni mereka yang telah mengikuti perjalanan jamiyah ini sejak 40 atau 50-an tahun yang lalu. Yang hingga saat ini masih konsisten menjaga nafas perkhidmatan NU. Mereka antara lain Ahmad Bagdja, Mustofa Zuhad, Maskuri Abdillah, Masduki Baidlowi, Endin Soefihara, Nasihin Hasan, dan yang lain.

Beberapa gagasan dan elaborasi penting disajikan antara lain; terkait upaya pengembangan organisasi dan reorganisasi yang berorientasi tidak lagi pada pendekatan geografi melainkan pendekatan komunitas. 

Struktur organisasi NU saat ini secara hierarkis-demorafis mengikuti pola pemerintahan negara. Secara pararel dapat dilihat, NU berkantor pusat di Jakarta. Membawahi seluruh wilayah di Indonesia. Pengurus wilayahnya berkantor pusat di ibukota provinsi, dan seterusnya ke bawah. 

Pertanyaannya, apakah NU akan berkhidmat dalam kerangka sistemik yang sama persis dengan pemerintah? Dengan mengikuti model hierarki pemerintahan yang rentang kendalinya sangat panjang ini, sementara SDM dan pendanaan yang dimiliki relatif terbatas. Dengan pola hierarki ini, efektifkah NU selama ini menjalankan tugas pokok dan fungsinya?  

Di sinilah reorganisasi NU dibutuhkan. Pengembangan struktur menurut buku futuristik ini, ke depan perlu mempertimbangkan dinamika stakeholders yang semakin terdiferensiasi seiring perkembangan zaman. Contoh, dinamika masyarakat urban yang tumbuh di perkotaan sudah mengalami diferensiasi yang semakin rumit. Ada masyarakat industri perkotaan seperti kalangan perbankan, kalangan industri kreatif dan jasa, yang pertumbuhannya sangat pesat.

Ini semua sangat memerlukan pendekatan khusus. Dalam arti pengorganisasian tidak cukup hanya dengan pendekatan geografi. Tetapi perlu juga mempertimbangkan pengembangan struktur organisasi di komunitas-komunitas baru sesuai dengan perkembangan masyarakat urban, yang sangat dinamis, yang tak bisa dijangkau oleh eksistensi struktur organisasi yang terlalu administratif seperti pemerintahan negara.             

Terawangan penting lainnya, ke depan NU harus berjejaring dan berinteraksi dengan komponen potensial yang lebih luas lagi, baik di tingkat domestik maupun internasional. Selama lima belas tahun terakhir tidak dapat dipungkiri terjadi interaksi yang semakin meningkat antarorganisasi dari berbagai jenis dan bidang. Berbagai perkumpulan, yayasan, jaringan kerja, perhimpunan, lembaga bantuan, kelompok hobi, bahkan instansi dan perusahaan swasta telah memperluas jangkauan kegiatan mereka ke bidang yang selama ini hanya menjadi trade mark kegiatan klasik organisasi nirlaba.

Dalam perkembangan situasi ini, akan muncul berbagai lembaga, instansi pemerintah maupun swasta yang bakal mengincar kompetensi, expertise dan waktu pengurus NU yang sangat berharga. NU tidak mungkin mengelak dan harus berjejaring dan bekerjasama dengan pihak tersebut. Sebab jika tidak, NU akan merasakan kesulitan menghadapi ragam persoalan kemasyarakatan secara sendirian di zaman yang semakin multidimensional itu.

Jadi pilihannya, NU harus aktif masuk ke wilayah sistem yang lebih besar, baik di tingkat kabupaten/kota, provinsi, nasional, maupun internasional. Ketidaksiapan masuk ke wilayah sistem yang lebih besar ini akan membawa NU hanya pada saling ketergantungan dalam berbagai dimensi. Kekurangan di daerah dilimpahkan ke pusat, kelemahan di pusat dilemparkan ke daerah, dan seterusnya. Inilah situasi yang amat sangat tidak boleh terjadi. Situasi yang menempatkan NU menjadi bagian dari suatu kesatuan sistem, dimana NU akhirnya hanya menjadi sub-sistem.


Judul Buku : Peta Jalan NU Abad Kedua
Penulis         : Ahmad Bagdja dkk
Editor : Abdul Aziz
Tebal buku : 194 halaman
Penerbit         : Yayasan Talibuana Nusantara
Tahun Terbit : Mei 2018
Dilaunching : 7 gustus 2018  
Peresensi : Didik Suyuthi 
Rabu 25 Juli 2018 9:0 WIB
Memahami Ideologi Kaum Fundamentalis
Memahami Ideologi Kaum Fundamentalis
Jika ada penganut keagamaan berani bunuh diri dan meledakkan bom maka tesis “atas nama iman, atas nama teks” dan berperang demi Tuhan, berperang demi agama sedang mengalami faktualisasinya, maka inilah potret mutakhir hari-hari kita menyaksikan bom dan ancaman terorisme tak berkesudahan di Indonesia. Sebuah zaman yang menandakan lahirnya kekuatan fundamentalisme agama guna melawan neo-kapitalisme yang digerakan oleh Amerika dan sekutunya.

Tentu saja fundamentalisme-terorisme agama dan hegemoni kapitalisme AS merupakan dua kutub antagonis yang berseberangan. Sebab, fundamentalisme-terorisme agama harus dikecam (ditinggalkan), fundamentalisme - terorisme demokrasi (prosedural) — yang didesain sehingga melahirkan perlawanan dan kekejaman yang sama — juga harus dikutuk ramai-ramai (lihat Bagian Keenam, hlm. 133).

Dari fenomena tersebut pertanyaannya adalah, efektifkah perlawanan atas nama Tuhan dan atas nama agama? Manusiawikah memberangus fundamentalisme - terorisme berbasis agama dengan fundamentalisme-terorisme berbasis demokrasi? Menurut para analis, pakar politik, pers dan dalam pengertian yang paling sederhana, mereka yang berani melawan Amerika adalah para fundamentalis, radikalis, dan teroris. Tetapi, siapakah para begundal penganut fundamentalisme itu?

Fundamentalisme sering dimaknai sebagai perilaku keagamaan berdasarkan normative approach (penghayatan normative) yang skriptural (berdasar teks semata) tanpa melihat persoalan-persoalan substansial lainnya (misal; sejarah, peradaban, iptek). Perilaku normative approach ini kemudian melahirkan sibling rivalry yaitu permusuhan antar saudara kandung (maksudnya, Abrahamic Religions—Yahudi, Kristen, dan Islam) dengan mengedepankan sikap truth claim, merasa paling benar dengan menyalah-menyesatkan agama dan pemeluk lainnya.

Ideologi dan agama (termasuk agama Islam) sebenarnya merupakan dua hal yang berbeda, karena ideologi pada prinsipnya adalah hasil pemikiran manusia, sedangkan Islam dipercaya sebagai agama yang diturunkan Allah untuk keselamatan umat manusia (lihat Bagian Kesatu & Kedua, hlm. 22 & 17). Dalam agama Islam ternyata selain mengandung ajaran-ajaran yang menata hubungan Tuhan dan manusia, juga mengatur hubungan antarmanusia dalam kaitan hubungan antarindividu dan kemasyarakatan. Karena kenyataan inilah ajaran-ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur'an dan Hadits diadopsi/digunakan dalam ideologi, yang kemudian disebut ideologi Islam.

Islam Fundamental sebetulnya merupakan istilah yang digunakan oleh dunia Barat untuk menamai sebuah gerakan Islam (lihat Bagian Ketiga, hlm. 68). Menurut para pengikutnya, gerakan tersebut didasari oleh semangat pemurnian ajaran Islam dan dilaksanakannya ajaran Islam secara kaffah. Dalam perkembangannya, ternyata gerakan ini menampakkan sifat dan sikap radikal dalam perjuangan, terutama untuk menghadapi pihak-pihak atau golongan yang bukan ikhwan atau yang menjadi musuh-musuh Islam. Sifat dan sikap keradikalan tersebut, diantaranya ditunjukkan melalui pemahaman konsep jihad dalam perjuangannya (lihat Bagian Ketiga, hlm. 39), yang diaktualisasikan dalam bentuk terorisme.

Buku yang ditulis oleh A. Dwi Hendro Sunarko Ginting (Pengamat Kajian Global and Strategic) dan Abdul Ghopur (Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Bangsa) ini hadir dan berusaha menjawab beragam persoalan di atas, terutama berbicara persoalan pemahaman keagamaan kelompok-kelompok garis keras yang mengusung tema rigiditas dan kemurnian Islam.

Sebut saja soal konsep Jihâd fi Sabilillâh dan mati syahid (lihat Bagian Ketiga, hlm. 39), amar ma’ruf nahi munkar, siapa kafir dan bukan kafir, siapa selamat dan yang tidak selamat, siapa teman (ikhwan) siapa lawan/musuh? (lihat Bagian Ketiga, hlm. 41), tak mau mengakui madzhab-madzhab besar dalam Islam (4 Madzhab), Perjuangan Islam serta Negara Islam (Daulah Islamiyah), dan lain-lain, yang dirasa oleh para penulis perlu diluruskan dan dibenahi agar selaras dengan tujuan akhir Islam, yakni Islam yang rahmatan lil 'alamin, rahmat bagi semesta alam (lihat Bagian Ketujuh & Kedelapan).

Pertemuan antara kedua penulis ini, seperti pertemuan “tumbu dengan tutup” – sampun klop, istilahnya kalau Guitar itu sudah nyetem, tinggal mereka bermain musik yag seirama dengan segenap jiwa, yaitu Jiwa Islam dan Kebangsaan, Islam Nusantara, Islamnya Indonesia yang menjadi rahmat dan berkah bagi segenap alam semesta raya atau Rahmatan lil 'alamin.

Bung Ghopur sejak lama ingin menulis tentang ideologi kelompok fundamentalis agama (Islam) yang ternyata banyak dalil dalam Al-Qur’an dan Hadits apabila ditelisik dapat menjawab serta mengkonter (menderadikalisasi) nilai-nilai ideologi kelompok fundamentalis, untuk kemudian memberikan gambaran awal bagaimana menjawab “pertentangan” dan kegalauan agama dan negara dalm konteks Indonesia yang seharusnya sinergis dalam nilai-nilai “ideologi tengah” Pancasila dan NKRI (lihat, Bagian Kedelapan).

Buku yang bermula dari sebuah skripsi yang ditulis Mas Anton dan telah diterbitkan oleh Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian pada tahun 2006 dengan judul Ideologi Teroris Indonesia, yang diambil dari judul Skripsi “Latar Belakang Ideologis Kelompok Tersangka Kasus Bom Bali – Identifikasi Ideologi, Proses Internalissasi dan Kajian Tentang Jaringan Teroris”, sebagai salah satu hasil penelitian terhadap kasus Bom Bali I (lihat Bagian Keempat & Kelima).

Kedua penulis ini yakin dan sadar bahwa berbicara agama (Islam) dan negara (Nasionalisme) tak perlu dipertentangkan dan diperhadap-hadapkan, tetapi sebaliknya, saling membutuhkan, menunjang dan memperkuat satu sama lain (lihat Pengantar Penulis Abdul Ghopur, hlm. xxvi). Sebab, bernegara tanpa landasan nilai-nilai moral “agama”, kehidupan berbangsa akan kering-kerontang, dan beragama tanpa aras dan bingkai-bingkai (batasan) kebangsaan hanya akan menjadi kehidupan yang pincang bahkan “over dosis” agama, mengerikan.

Oleh sebab itu, keduanya sepakat dan berjuang untuk “menegakkan” agama dalam bingkai keindonesiaan, Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). insyaAllah melalui buku ini, sumbangsih pemikiran mereka dapat sedikit memberikan penyegaran pemahaman berbangsa dan bernegara sekaligus beragama yang ramah. Meski kita sadar bahwa inti persoalan dan ontran-ontran kebangsaan kita adalah tentang pemenuhan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang belum rampung-rampung dan berwujud juga.

Singkat kata, kemunculan gerakan-gerakan radikal di dalam kalangan Islam terutama dalam penafsiran konsep jihad yang dipahami yang pada umumnya dipahami sebagai perang suci. Jihad yang dipahami dipahamam secara internal (dari dalam sebuah negara) bentuk sebuah kewajiban muslim dalam meneggakan kalimat Allah melalui kekuatan dan peperangan, yang mengakibatkan, banyak kaum muslim rela hanya menjadi mortir melakukan perang dalam konteks teror bom bunuh diri atas nama agama, untuk secara eksternal (dari luar Negara) dalam bentuk aksi modernisasi yang dilakukan dunia barat ke dunia Islam yang berdasal dan didorong dari sosial ekonomi internasional yang dianggap tidak adil bagi kaum muslim yang kalah dengan arus globalisasi.

Oleh sebab itu, penulis buku merasa perlu meluruskan sikap, pandangan dan tindakan para penganut fundamentalisme dan rigiditas dalam beragama dengan pandangan dan sikap yang lebih bijak dan tentunya substantif dalam menerapkan nilai-nilai atau syariat agama yang tentunya memiliki prinsip dan tujuan kemaslahatan di dunia dan akhirat. 

Kiranya, sebagai bahan referensi dan masukan-masukan yangsangat berharga, buku ini layak dibaca oleh semua kalangan atau pihak terutama pihak pemerintah dan penganut rigiditas nilai-nilai keagamaan secara khusus, serta masyarakat luas pada umumnya.

Identitas buku:
Judul: Ideologi Kaum Fundamentalis: Menjawab Kegalauan Persoalan Agama & Negara
Penulis: A. Dwi Hendro Sunarko Ginting dan Abdul Ghopur
Penerbit: LKSB
Cetakan: I, April 2018
Tebal: xliii + 307 halaman
ISBN: 978-602-50585-1-6
Peresensi: Rizky Afriono, Sekretaris Lembaga Kajian Strategis Bangsa
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG