::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mantra Pejinak Ular: Tradisi dan Agama Abu Kasan Sapari

Rabu, 01 Agustus 2018 06:00 Esai

Bagikan

Mantra Pejinak Ular: Tradisi dan Agama Abu Kasan Sapari
Oleh Warsa Suwarsa

Membaca novel "Mantra Pejinak Ular" karya Kuntowijoyo tidak memerlukan pikiran mengada-ada, alur dan plot dalam novel ini begitu bersahaja, dan memang seperti itulah Pak Kunto, sering menyajikan kalimat-kalimat sederhana dan mudah dipahami dalam karya sastranya. Lebih tepatnya jarang menggunakan kata yang tidak akan dipahami oleh pembaca atau lebih ekstrimnya kalimat-kalimat jangan menyusahkan orang lain. Kuntowijoyo merasa dirinya tidak seharunya memosisikan diri di tempat mentereng, meskipun dia bisa, karena sebagai seorang akademisi.

Tradisi dan agama begitu besar memengaruhi novel ini. Penamaan tokoh utama, Abu Kasan Sapari , merupakan perpaduan dua kebudayaan, Bahasa Arab dengan logat Orang Jawa dalam melafalkan kata dari bahasa asing. Kasan berarti Hasan, cucu Nabi saudara Husein, sapari berarti safari, bulan Safar. Di kampung-kampung bukan hanya di Jawa, di Tatar Pasundan pun kebiasaan ini telah lama berkembang. Seorang lelaki bernama Omid pada mulanya diberi nama Ahmid oleh orangtua atau kakek –neneknya, ada juga bernama Oleh padahal ketika lahir diberi nama Soleh. Begitulah orang –orang di masa lalu, lebih mudah dan praktis dalam memberi nama, yang penting nama tersebut mengandung doa, demi kebaikan si pemilik nama juga.

Dari awal kelahiran Abu Kasan Sapari ada sinyal-sinyal sederhana, dimana Kuntowijoyo berusama memasukkan unsur cerita Semitik (Baca: Israilliyat), cerita dari bangsa Semit. Beberapa lama setelah kelahiran Abu Kasan Sapari ada pertanda khusus, saat telah tumbuh besar, jabang bayi akan menjelma menjadi orang penting. Ada pertanda, rombongan orang-orang  membarang, menyanyi, dan menabuh gamelan seolah menyambut kedatangan Abu Kasan Sapari ketika dibawa berziarah ke Makam Leluhurnya , Ronggowarsito. Kakekanya yakin pertanda itu adalah pesan supranatural dari dimensi lain. "Hati-hati memelihara anak ini. Besok dia akan jadi  pujangga. Aku mendapat firasat, ketika aku keluar dari makam ada rombongan orang membarang, menyanyi, dan menabuh gamelan. Anak itu memiringkan telinganya, seperti mendengar sinden dan klenengan."

Percakapan antara sang kakek dengan kedua orangtua Abu sering mengingatkan saya pada cerita Yesus dan Nabi Muhammad. Dalam cerita bibliKal disebutkan, rombongan orang-orang Parsi melihat bintang bersinar  sangat terang dari Timur, mereka menafsirkan; tanda-tanda dilahirkan seorang messiah sebagaimana yang sering diceritakan oleh nenek –moyang mereka telah dekat. Dan peristiwa ini bersamaan dengan kelahiran Yesus (Isa). Nabi Muhammad pun demikian, sejak kelahirannya hingga usia anak-anak, kehidupannya sering disertai oleh berbagai pertanda. Kemiripan lain antara Abu Kasan Sapari dengan dua cerita ini yaitu: Abu dibanggakan oleh kakeknya (kerabat terdekat), sebagaimana Yesus dibanggakan oleh Zakaria dan Muhammad oleh Abdul Mothallib. Tentu saja, ini hanya asumsi , perlu penelitian serius terhadap masalah ini.

Dalam etika dan budaya Jawa serta Sunda, beberapa dekade paska feodalisme mulai mencair, pernikahan antara kaum priyayi, ningrat dengan rakyat biasa mulai terbiasa. Diyakini  sepenuhnya, kelak anak yang dilahirkan dari pernikahan campuran kelas di masyarakat ini akan lebih didominasi oleh kekuatan keluarga ningrat. Dalam tradisi Arab Kuno, dikenal pernikahan silang, bahkan tanpa menikah pun bisa, agar darah yang mengalir dalam diri seorang anak berwarna bangsawan, seorang wanita dengan rela bisa memberikan kehormatannya kepada lelaki bangsawan. Namun tradisi seperti ini tidak dikenal dalam masyarakat kita yang lebih beradab.

Ibu Abu Kasan Sapari berasal dari keluarga bangsawan, minimal disebut orang berada, sementara ayahnya berasal dari keluarga biasa yang memegang teguh tradisi. Ayahnya ketika Abu masih dalam kandungan rajin berpuasa namun tidak pernah melakukan ritual sembahyang. Sudah tentu, istrinya memberi masukan agar puasa itu dilengkapi dengan sembahyang. Sang suami hanya menjawab dengan ringan: 

"Nantilah, orang Jawa itu kalau saya sudah sembahyang, sembahyang sungguhan."

"Lha iya, sungguhan. Tapi kapan mulai?"

"Nanti itu ya nanti."

Itulah sebabnya, di beberapa daerah di Jawa, dalam satu rumah atau keluarga  bisa ditemukan adanya perbedaan keyakinan atau agama dari anggota keluarga tersebut. Bukan hal aneh jika dalam satu keluarga ada orang Islam, Kristen, dan penganut aliran kepercayaan. Fenomena sosial ini sudah tentu berbeda dengan apa yang terjadi di Tatar Sunda, keluarga inti ya keluarga inti dengan segala tetek-bengek apa yang diyakininya. Bahkan dalam satu keluarga jika ada salah satu anggota keluarga memiliki perbedaan aliran pemahaman (madzhab) bisa menjadi bahan pertanyaan. 

Kemiripan lain setiap budaya di berbagai pelosok dunia manapun, ketika pasangan suami istri memiliki anggota keluarga baru akan disambut dengan berbagai ritual dan upacara tradisi. Di masyarakat Sunda dikenal acara marhabaan dan mahinuman. Sebagai sikap penyambutan lahirnya manusia baru, "ngabagyakeun anu anyar datang." 

Tradisi di atas telah mengalami eliminasi dalam kehidupan masyarakat modern. Masyarakat Sunda modern  telah lebih mengarah kepada penyambutan tanpa mengedepankan seremonial dan ritual , cukup mengadakan acara selamatan, membuat nasi tumpeng, lalu membagikannya kepada para tetangga. Masyarakat Sunda modern–sekarang ini -  lebih memilih mengadakan perayaan hari ulang tahun anaknya dengan acara makan atau pesta.

Abu Kasan Sapari disambut oleh masyarakat dengan acara-acara bernuansa tradisi. Ada pembacaan macapat dan kenduri doa. Kesemuanya dilakukan demi kebaikan sang bayi. Apalagi kakeknya meyakini, Abu Kasan Sapari kelak akan mewarisi apa yang pernah dimiliki oleh leluhurnya, seorang pujangga agung seperti Ronggowarsito. Kenduri dan acara selamatan seperti ini tidak hanya dilakukan oleh para trah priyayi saja, sejak kekuasaan Mataram menyebar ke bagian barat Jawa, kebiasaan ini diikuti oleh masyarakat Sunda. 

Kemeriahan  atau "kariaan" puncak di masyarakat Sunda-Islam biasanya berlangsung saat seorang bayi laki-laki akan disunat. Diselenggarakan lah pesta sebangsa hajatan. Di beberapa perkampungan, saat seorang bayi laki-laki akan disunat, biasanya pada usia 3-5 tahun, solawat dan barjanzi dibacakan melalui pengeras suara bermerk Toa. Selain pesta sunat, ada juga tradisi akikah, di masyarakat Sunda biasa disebut "ékah", menyembelih dua ekor kambing jika bayinya laki-laki atau seekor saja untuk bayi  perempuan. 

Tradisi-tradisi dilakukan, tidak ada maksud lain kecuali untuk menyambut kedatangan manusia baru dengan penuh suka cita, meskipun pada saat dilahirkan, siapapun sebagai seorang bayi selalu menjerit-jerit menangis. Ada juga yang berpendapat, upacara atau kenduri itu dimaksudkan untuk menghubungkan dunia tempat kita hidup dengan dimensi lain, lantas harus ada hal-hal sakral yang disiapkan misalkan dibaca macapat dan doa-doa, hingga pupuh pun bisa dibaca. Tidak bertentangan dengan agama manapun, tradisi merupakan penafsiran masyarakat tentang kebaikan yang harus dilakukan agar orang menjadi baik.

Penulis adalah guru MTs Riyadlul Jannah Cikundul, Sukabumi