IMG-LOGO
Nasional

Ceramah dengan Kebencian Tak Akan Masuk dalam Hati

Sabtu 4 Agustus 2018 12:30 WIB
Bagikan:
Ceramah dengan Kebencian Tak Akan Masuk dalam Hati
Ilustrasi (ist.)
Jakarta, NU Online
Diantara keistimewaan dan kemuliaan yang diberikan Allah SWT kepada para kekasih Allah, para Nabi dan para Wali adalah nasehat, ungkapan dan perkataan mereka yang akan senantiasa abadi tak lekang dimakan waktu.

Ungkapan mereka akan mudah dicerna walaupun tidak dibungkus dengan retorika yang muluk-muluk. Hal ini karena cahaya para kekasih Allah itu akan mendahului ungkapan-ungkapan mereka dan akan sampai kepada hati orang-orang yang mendengarkan sebelum apa yang dikatakannya itu sampai.

Demikian dikatakan KH Muhammad Nur Hayid, Pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) saat memberikan penjelasan hikmah nomor 184 dari Kitab Hikam karya Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari di Jakarta, Sabtu (4/8).

"Selain karena ini (perkataan kekasih Allah, red) adalah doktrin, tapi kalau kita cermati dari hati terdalam, karena nasehat-nasehat dan ungkapan-ungkapan atau aqwal (perkataan) dari kalimat itu keluar dari hati yang bersih sehingga akan langsung masuk ke dalam hati kita," jelasnya.

Jadi ketika ada orang yang tidak mendapatkan hidayah atau tidak bisa menerima hidayah itu dikarenakan dalam hatinya sudah memiliki mental blocking (menolak), mental untuk menutup masuknya cahaya dan kebenaran itu.

Oleh karenanya Islam sangat menganjurkan perilaku husnudzan (berbaik sangka) karena sekali perilaku su'udzan (berburuk sangka) dibiarkan, maka akan mulai merayap menguasai hati manusia. Sehingga hati manusia akan menjadi keras dan gelap.

"Kalau hati sudah keras dan gelap, jangankan cahaya, diberi sinar mataharipun tidak akan bisa menembusnya. Seperti kaca yang telah berdebu sangat pekat menjadikan ruangan menjadi gelap sampai sinar matahari pun tidak tembus kedalam ruangan," jelas Kiai muda yang akrab disapa Gus Hayid ini.

Demikianlah hati manusia, jika disiapkan terus menerus untuk dibersihkan dengan melawan hawa nafsu, maka cahaya Allah akan mudah untuk sampai. Ketika cahaya Allah sudah sampai, maka akan terwujud dalam kata-kata yang diucapkan. Sehingga perkataannya pun akan mudah dicerna, mudah dipahami karena masuk dari hati yang bersih.

"Kata-kata yang keluar dari hati, ikhlas karena Allah, bukan dipadu oleh retorika maka ia akan sampai pada hati orang yang mendengarnya. Begitu juga kalau kata-katanya hanya dipadu oleh retorika, ia hanya akan sampai kepada akal orang yang mendengarnya," jelasnya.

Gus Hayid yang juga anggota Komisi Dakwah MUI Pusat ini menegaskan jika sesuatu yang berasal dari hati pasti akan bermuara kepada hati. Kata-kata yang diungkapkan dari hati pasti akan dicerna dan masuk ke dalam hati seseorang yang mendengarnya.

"Tapi kalau sesuatu itu hanya berasal dari otaknya pasti akan hanya bermuara pada otak dan sudah pasti sangat mudah untuk dilupakan atau bahkan tidak terpahami dan menjadi salah paham. Apalagi kalau kata-kata itu berasal dari nafsunya. Kalau ada ungkapan berasal dari nafsu, pasti akan bermuara pada nafsu-nafsu yang lainnya," tegas Gus Hayid.

Jadi menurutnya, jika ada seseorang berceramah dengan kebencian, amarah maka tidak akan pernah masuk dalam hati yang mendengarkannya karena hanya akan melahirkan kebencian dan amarah-amarah yang baru dari para pendengarnya.

"Kalau ada ceramah ustadz atau siapa pun di televisi atau di sosial media. Ayo kita olah rasa olah jiwa. Apa yang kita dapatkan setelah mendengar ceramah itu? Kalau kita mendengarkan ceramah lalu mendapatkan kebahagiaan, ketenangan hati, merasa semakin hina kita dihadapan Allah, lalu terdorong hati kita untuk beribadah kepada Allah, tidak dengan menyalahkan orang lain, tidak sibuk dengan mencari aibnya orang lain tapi sibuk dengan aib kita sendiri, itulah cahaya dari Allah SWT," katanya.

Tetapi kalau kita mendengarkan ceramah lalu dari ceramah itu melahirkan kebencian-kebencian yang baru dan memunculkan perasaan bahwa kita paling Sunah, paling bersih, paling Quran, paling dekat dengan Allah, paling ahli ibadah dan paling sesuai dengan Quran dan Sunah, kemudian yang tidak sama dengan pemahamannya itu adalah sesat, bid'ah, syirik bahkan kafir maka sesungguhnya ceramah itu tidak berasal dari hati dan ceramah tersebut berasal dari nafsu.

"Siapa yang memulai dari kebencian dan amarah pasti akan bermuara kepada permusuhan dan kebencian yang baru," tegasnya.

Oleh karena itu lanjutnya, Islam mengajarkan tentang pentingnya berakhlak karena contoh dan teladan dari akhlak, jauh lebih penting dari pada nasehat. Seseorang yang pintar berceramah, pandai menasehati orang, tapi kalau kelakuan yang bersangkutan bejat, maka sudah hampir bisa dipastikan tidak akan pernah memiliki efek dan pengaruh apapun di hati umat atau masyarakat

"Tetapi banyak orang yang tidak banyak bicara tetapi akhlaknya luar biasa sebagai pancaran dari hatinya yang bersih, maka meskipun perkataannya satu atau dua kali maka akan didengarkan," pungkasnya. (Muhammad Faizin)
Tags:
Bagikan:
Sabtu 4 Agustus 2018 23:0 WIB
Gus Sholah: Tokoh Agama Telat Antisipasi Hoaks
Gus Sholah: Tokoh Agama Telat Antisipasi Hoaks
Gus Sholah menerima Komisioner Bawaslu RI
Jombang, NU Online
Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) menyebutkan isu Suku Agama Ras dan Antargolongan atau SARA pada pemilihan umum dilatarbelakangi fitnah atau informasi yang kurang lengkap alias belum valid.

Pernyataan ini disampaikan Gus Sholah pada acara Pesantren Tebuireng bersama Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Republik Indonesia di halaman masjid pesantren setempat, Sabtu (4/8).

Kegiatan dihadiri para tokoh lintas agama, di antaranya perwakilan Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Selain itu, juga dihadiri oleh perwakilan Kodim, Polres, dan Banwaslu Jombang. Juga ikut serta perwakilan organisasi masyarakat lintas agama, Muspika dan Muspida Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

"Terjadinya isu SARA biasanya dilatarbelakangi oleh fitnah atau informasi yang kurang benar," jelas Gus Sholah.

Ia menambahkan isu SARA banyak diproduksi untuk menjatuhkan calon lain. Hal ini karena informasi yang berkembang tidak disaring kebenarannya dan dikonsumsi dengan mentah oleh pembaca atau pendengar. Sementara itu, tokoh agamanya lambat mengantisipasi perkembangan informasi bohong atau hoaks tersebut.

"Isu SARA biasa muncul dilatarbelakangi oleh informasi tidak benar, yang disebut berita hoaks. Dan tokoh agama sering telat mengantisipasi hal ini," pungkas Gus Sholah. (Syarif Abdurrahman/Ibnu Nawawi)
Sabtu 4 Agustus 2018 22:15 WIB
Sesmenpora: Calon Paskibraka Harus Melek Media
Sesmenpora: Calon Paskibraka Harus Melek Media
Jakarta, NU Online
Peserta Diklat Paskibaraka selain mendapat pendidikan dan pelatihan di lapangan juga mendapat materi di dalam ruangan untuk menambah pengetahuan yang lebih mendalam dari para narasumber. 

Pada Hari ke-9 pelaksanaan Diklat, peserta mendapat materi dari Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga Gatot S. Dewa Broto.

“Menjadi anggota paskibraka nasional bukan akhir perjuangan tetapi awal dari karir sehingga anda harus terus bisa mengembangkan diri dengan cara membuka jaringan yang luas kepada semua lini. Berkomunikasi yang baik dengan media, bagi yang punya media sosial gunakan akun yang ada untuk hal yang positif jangan asal mengikuti teman, dan pahami Undang-undang ITE, jangan mudah percaya berita-berita hoax, jadilah orang fight jangan mudah baper” ucap Gatot S. Dewa Broto. di Aula Wisma Soegondo, Sabtu (4/8) malam.

Selanjutnya disampaikan dalam hal berkomunikasi dengan media, manfaatkan kedekatan dengan awak media pada saat menjelang bertugas di istana sehingga pasca bertugas di istana masih dapat terus berkomunikasi.

"Pertempuran adik-adik tidak cukup disini, untuk melangkah ke tempat selanjutnya dibutuhkan waktu yang panjang menuju kesuksesan, manfaatkan kedekatan dengan media untuk mensyiarkan diri baik sebagai anggota paskibraka maupun untuk mengembangkan potensi diri di bidang lain. Gunakanlah komunikasi yang yang efektif, apabila diwawancarai harus friendly dan sampaikan segala sesuatu kepada masyarakat dengan jujur," tambah Gatot.

Terakhir Sesmenpora Gatot S. Dewa Broto mengajak peserta untuk menjaga nama baik Paskibraka. “Kesuksesan seorang anggota paskibraka dapat diraih tidak hanya di militer dan birokrasi tetapi disemua bidang, gunakan jaringan lebih luas lagi dengan purna paskibraka Indonesia. Dan ingat, perilaku adik-adik paskibraka harus tetap dijaga agar tidak ada berita negatif tentang paskibraka," (Red-Zunus)
Sabtu 4 Agustus 2018 22:0 WIB
PMII Ditantang Menaker Hanif Jadi Sociopreneur
PMII Ditantang Menaker Hanif Jadi Sociopreneur
Jakarta, NU Online
Pemerintah mendorong generasi muda untuk meniti masa depannya menjadi sociopreneur atau wirausaha sosial. Kehadiran para sociopreneur dinilai sangat penting, karena perannya mampu menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

"Jadi tidak hanya mengejar keuntungan bisnis, tapi juga bisa memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat," kata Menteri Ketenagakerjaan RI (Menaker) M Hanif Dhakiri saat menjadi narasumber dalam Sekolah Miliarder yang diselenggarakan oleh PB PMII di Jakarta, Jumat (3/8) malam.

Pada dasarnya, sociopreneur merupakan kegiatan wirausaha yang mempunyai perhatian penuh terhadap pengembangan masyarakat di lingkungannya. Sehingga, mampu memberdayakan masyarakat untuk menghasilkan suatu perubahan sosial yang berujung pada kesejahteraan bersama.

"Saya ingin kalian jadi agen perubahan wirausaha sosial itu," kata Menteri Hanif.

Menurut Menaker, ada beberapa hal yang harus disiapkan generasi muda untuk menjadi sociopreneur. Pertama, motivasi kerja keras dan berbuat kebaikan. Sudah bukan rahasia lagi, kerja keras merupakan kunci bagi seseorang untuk mencapai kesuksesan.

"Sedangkan menjadi baik, menjadi orang yang bisa memberikan manfaatkan sebesar-besarnya kepada orang lain," terang Menaker.

Kedua, kreatif dan inovatif. Untuk menjadi kreatif dan inovatif, menurut Menaker, seseorang harus belajar dan bekerja di atas standar, serta keluar dari zona nyaman. "Anda harus keluar dari rutinitas. Kalau tidak, anda akan terlalu nyaman, dan pasti tidak akan kreatif," Menaker menjelaskan.

Ketiga, responsif terhadap perubahan zaman. Perkembangan teknologi dan informasi telah memberi dampak besar terhadap perubahan model bisnis dewasa ini. Untuk itu, wirausahawan muda harus responsif terhadap perubahan zaman. Agar bisnis yang dijalankan tetap relevan.

Menaker pun mencontohkan dengan perusahaan Nokia. Menurut Menaker, kegagalan Nokia dalam persaingan pasar global saat ini bukan disebabkan oleh kesalahan dalam perecanaan bisnis. Namun, lambatnya perusahaan tersebut dalam merespon dinamika dunia industri menjadi penyebab utamanya.

"Yang akan bertahan hidup bukanlah mereka yang paling kuat, yang akan bertahan hidup bukanlah mereka yang paling pintar, tapi yang akan bertahan hidup adalah mereka yang paling resposnsif terhadap perubahan" kata Menaker mengutip gagasan Charles Darwin.

Menaker mengingatkan bahwa untuk menjadi wirausahawan tantangannya sangatlah besar. Oleh karenanya, seorang wirausahawan haruslah pantang menyerah dan istiqomah. "Jangan berhenti karena capek, tapi berhentilah karena sampai," papar Menaker.

Dalam kesempatan ini, Menaker juga memberikan salah satu contoh bentuk dukungan pemerintah dalam mendorong tumbuhnya wirausahawan muda. Yakni, diresmikannya Innovation Room di Kementerian Ketenagakerjaan RI.

Pembangunan Innovation Room, sebut Menaker, didasari oleh perkembangan teknologi dan informasi yang telah memberi pengaruh besar terhadap perubahan model bisnis berikut keterampilan yang dibutuhkan. Innovation Room ini diharapkan dapat menjadi sarana untuk membekali generasi muda tentang literasi digital, khususnya digital skill.

"Jadi, innovation room ini untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan yang berkaitan dengan digital," ujarnya. (Red: Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG