IMG-LOGO
Nasional

Ziarah Kubur, Pengingat untuk Berbuat Baik

Ahad 5 Agustus 2018 1:30 WIB
Bagikan:
Ziarah Kubur, Pengingat untuk Berbuat Baik
Tangerang Selatan,  NU Online
Salah satu tradisi Nahdlatul Ulama (NU) yang kerap kali mendapatkan kritikan dari kelompok Islam puritan adalah ziarah kubur. Mereka menuduh ziarah kubur sebagai perbuatan bid’ah, syirik, dan tuduhan negatif lainnya. Meski demikian, warga NU atau Nahdliyin terus mempertahankan tradisi itu hingga hari ini. 

Merespons hal itu, Intelektual Muda Nahdlatul Ulama (NU) Zuhairi Misrawi atau Gus Mis menjelaskan, ziarah kubur merupakan upaya untuk membangun spiritualitas antara yang masih hidup dan yang sudah meninggal.

“Dalam ziarah kubur ada perjumpaan spiritual,” katanya di Sekretariat Islam Nusantara Center (INC), Sabtu, (4/8).

Ia menuturkan, orang-orang yang diziarahi itu adalah orang-orang yang baik semasa hidupnya.  Sehingga ziarah kubur dapat menjadi pengingat bagi seorang yang masih hidup untuk berbuat baik sebagaimana yang sudah meninggal. Sehingga ketika mereka meninggal, maka generasi penerusnya akan balik menziarahinya dan mengenang kebaikan-kebaikannya.

“Dengan berziarah diharapkan kita bisa berbuat baik seperti Syaikhona Kholil (Bangkalan),” jelasnya.

Makam-makam Wali Songo, kiai, dan tokoh NU adalah makam yang paling ramai diziarahi. Dalam satu hari, ada ribuan bahkan puluhan ribu peziarah yang menziarahi makam tersebut.

“Makam Syaikhona Kholil diziarahi puluhan ribu peziarah,” urainya.

Alasan lain mengapa Nahdliyin ziarah kubur adalah sebagai pengingat kematian. Dengan melihat langsung pusara, mereka diingatkan bahwa dunia ini hanya sementara dan suatu saat nanti dia yang akan berbaring di situ.

Gus Mis menambahkan, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur memiliki alasan ‘unik’ terkait dengan ziarah kubur ke makam-makam wali. Alasan Gus Dur ziarah kubur adalah karena orang yang sudah meninggal tidak memiliki kepentingan lagi, sementara orang yang masih hidup masih memiliki kepentingan. (Muchlishon)
Bagikan:
Ahad 5 Agustus 2018 23:15 WIB
Deputi Pengembangan Pemuda Kemenpora Lakukan Inspeksi Peserta Diklat Paskibraka
Deputi Pengembangan Pemuda Kemenpora Lakukan Inspeksi Peserta Diklat Paskibraka
Deputi Pengembangan Pemuda Kemenpora Asrorun Niam Sholeh
Jakarta, NU Online
Deputi Pengembangan Pemuda Kemenpora Asrorun Niam Sholeh memantau pelaksanaan Diklat Paskibraka 2018 di Pusat Pemberdayaan Pemuda dan Olahraga Nasional (PPPON) Cibubur Jakarta, Ahad (5/8). 

Dalam inspeksi tersebut, Niam memberikan motivasi dan pengarahan kepada peserta Paskibraka yang digembleng sejak 25 Juli lalu. "Apa kabar hari ini?. Saya bangga dengan kalian. Di hari libur ini,  saat teman-teman anda beristirahat dan berlibur, kalian masih terus berlatih dan berjuang untuk mempersembahkan yang terbaik terbaik bagi negeri, mempersiapkan diri mengemban tugas mengibarkan Sang Merah Putih saat 17 Agustus nanti. Karena itu saya hadir bersama kalian di sini. Sukses selalu untuk kalian. Ini adalah tempat penempaan diri yang insya Allah kelak akan memetik hasil terbaik", ujar Niam.  

Deputi Pengembangan Pemuda dalam kunjungan kali ini mengikuti beberapa kegiatan peserta yang dilaksanakan,  mulai saat baris berbaris di lapangan, saat salat di masjid, hingga saat sesi di ruangan. Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) 2018 selain mendapatkan pendidikan baris-berbaris secara militer di PP PON Cibubur, Jakarta, juga mendapatkan materi pelatihan yang cukup berbeda, yaitu kelas kecantikan dan perawatan fisik.

Kegiatan yang di antaranya bermaterikan tata rias dan potong rambut ini dipandu secara langsung oleh tim dari PT Martina Berto Tbk (Martha Tilaar Group) dan diikuti secara antusias oleh seluruh peserta. "Mengapa beauty class penting? Kecantikan di samping perawatan tubuh juga merupakan bagian dari tanggung jawab untuk memelihara fisik. Anggota Paskibraka juga diberikan pemahaman mengenai kecantikan yang ada di dalam (inner beauty). Hahekatnya itu, di samping kecantikan fisik juga perlu dipahami tentang kecantikan attitude, membangun pola hubungan dengan sesama,  di samping perlu tampilan fisik, juga perlu attitude yang baik dan integritas," ujar Niam memberi penjelasan.

Selanjutnya ia menambahkan,  integritas kepribadian diri juga dapat memunculkan "inner beauty" sehingga peserta Paskibraka bisa lebih percaya diri. "Penampilan wajah yang cerah menjadi penting karena merupakan wujud perhatian,  tanggung jawab serta penghargaan terhadap diri serta penghargaan dalam membangun relasi sosial", tambahnya.

Mantan aktifis 1998 ini dalam pertemuannya dengan perwakilan pemuda terbaik dari seluruh Indonesia itu juga menegaskan jika pendidikan dan pelatihan ini mengajarkan kita untuk menjadi pribadi-pribadi yang unggul, baik lahiriah maupun bathiniyah.  "Penampilan fisik penting diperhatikan dalam hubungan antarsesama. Tapi yang tak kalah penting untuk diperhatikan adalah soal kepribadian, kejujuran, rendah hati,  sadar akan kekurangan dan kelebihan masing-masing serta menghargai perbedaan, dan komitmen kesukarelawanan. Inilah salah satu komitmen revolusi mental yang perlu diwujudkan", pungkasnya. 

Sebelum bertugas di Istana Negara dan bakal mendapatkan pantauan masyarakat, Paskibraka ini bakal dikukuhkan oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara Jakarta, yang dijadwalkan pada 15 Agustus mendatang. (Red-Zunus)
Ahad 5 Agustus 2018 23:15 WIB
Peserta Diklat Paskibraka Ikuti Beauty Class
Peserta Diklat Paskibraka Ikuti Beauty Class
Jakarta, NU Online
Deputi Pengembangan Pemuda Kemenpora, Asrorun Niam Sholeh memantau pelaksanaan Diklat Paskibraka 2018 di di Pusat Pemberdayaan Pemuda dan Olahraga Nasional (PPPON) Cibubur Jakarta. Ahad (5/8).

Dalam inspeksi tersebut, Niam memberikan motivasi dan pengarahan kepada peserta Paskibraka yang digembleng sejak 25 Juli lalu.

"Apa kabar hari ini? Saya bangga dengan kalian. Di hari libur ini, saat teman-teman anda beristirahat dan berlibur, kalian masih terus berlatih dan berjuang untuk mempersembahkan yang terbaik terbaik bagi negeri, mempersiapkan diri mengemban tugas mengibarkan Sang Merah Putih saat 17 Agustus nanti. Karena itu saya hadir bersama kalian di sini, di hari Ahad ini. Sukses selalu untuk kalian. Ini adalah tempat penempaan diri yang insya Allah kelak akan memetik hasil terbaik," ujar Niam yang disahuti seluruh peserta dengan penuh semangat. Yel yel khas paskibraka pun diteriakkan. 

Deputi Pengembangan Pemuda dalam kunjungan kali ini mengikuti beberapa kegiatan peserta yang dilaksanakan,  mulai saat baris berbaris di lapangan, saat shalat di masjid hingga saat sesi di ruangan. Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) 2018 selain mendapatkan pendidikan baris-berbaris secara militer di PP PON Cibubur, Jakarta, juga mendapatkan materi pelatihan yang cukup berbeda, yaitu kelas kecantikan dan perawatan fisik.

Materi yang diadakan di antaranya tata rias dan potong rambut ini dipandu secara langsung oleh tim dari PT Martina Berto Tbk (Martha Tilaar Group) dan diikuti secara antusias oleh seluruh peserta. "Kecantikan di samping perawatan tubuh juga merupakan bagian dari tanggung jawab untuk memelihara fisik. Anggota Paskibraka juga diberikan pemahaman mengenai kecantikan yang ada di dalam (inner beauty)," Niam menjelaskan.

Hahikatnya, kata dia, di samping kecantikan fisik juga perlu dipahami tentang kecantikan attitude, membangun pola hubungan dengan sesama, di samping perlu tampilan fisik, juga perlu attitude yang baik dan integritas.

Selanjutnya ia menambahkan, integritas kepribadian diri juga dapat memunculkan inner beauty sehingga peserta Paskibraka bisa lebih percaya diri. "Penampilan wajah yang cerah menjadi penting karena merupakan wujud perhatian,  tanggung jawab serta penghargaan terhadap diri serta penghargaan dalam membangun relasi sosial", tambahnya.

Mantan aktivis 1998 ini dalam pertemuannya dengan perwakilan pemuda terbaik dari seluruh Indonesia itu juga menegaskan jika pendidikan dan pelatihan ini mengajarkan kita untuk menjadi pribadi-pribadi yang unggul, baik lahiriah maupun bathiniyah. 

"Penampilan fisik penting diperhatikan dalam hubungan antarsesama. Tapi yang tak kalah penting untuk diperhatikan adalah soal kepribadian, kejujuran, rendah hati,  sadar akan kekurangan dan kelebihan masing-masing serta menghargai perbedaan, dan komitmen kesukarelawanan. Inilah salah satu komitmen revolusi mental yang perlu diwujudkan," pungkasnya. 

Sebelum bertugas di Istana Negara dan bakal mendapatkan pantauan masyarakat, Paskibraka ini bakal dikukuhkan oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara Jakarta, yang dijadwalkan pada 15 Agustus mendatang. (Red: Kendi Setiawan)
Ahad 5 Agustus 2018 22:0 WIB
Fenomena Memahami Islam Nusantara dengan 'The Fallacy of Straw Man'
Fenomena Memahami Islam Nusantara dengan 'The Fallacy of Straw Man'
Ulil Abshar Abdalla
Jakarta, NU Online
Sebagai manusia, sering kali kita terjebak pada kesalahan berpikir yang disebut dengan istilah "the fallacy of straw man". Kesalahan fatal dalam model berfikir seperti ini adalah ketika kita menciptakan bayangan tertentu di kepala kita, lalu kita “gebuki” bayangan tersebut. Padahal yang kita gebuki itu tak ada dalam dunia nyata. Yang kita "gebuki" adalah bayangan dalam kepala kita sendiri.

Salah satu contoh nyata dan hangat akhir-akhir ini yang bisa dikategorikan sebagai kesalahan berfikir "the fallacy of straw man" adalah perdebatan tentang Islam Nusantara.

Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) menjelaskan, orang-orang yang tidak sepakat dengan gagasan Islam Nusantara nampaknya memiliki definisi sendiri soal istilah itu. Dan setelah mendefinisikan sendiri, definisi itu mereka "gebuki" sendiri. Padahal definisi yang ada dalam pikiran mereka itu tidak ada dalam kenyataan nyata.

“Misalnya, mereka membayangkan bahwa pendukung ide Islam Nusantara akan sembahyang dengan bahasa Jawa, Sunda, Mandar, Bugis, Batak, dan lain-lain. Pendukung ide Islam Nusantara anti segala hal yang berbau Arab, termasuk nama-nama Arab dan seterusnya. Lebih parah lagi kalau ada yang berpikiran bahwa Islam Nusantara adalah aliran atau "firqah" baru,” kata menantu Gus Mus ini melalui akun facebook pribadinya, Ahad (5/8).

Gus Ulil menegaskan bahwa gambaran tersebut keliru karena para penggagas Islam Nusantara tidak bermaksud demikian. Apa yang menjadi keberatan para penyangkal Islam Nusantara sebagian besar adalah bayangan yang mereka ciptakan di kepala mereka sendiri, lalu bayangan itulah yang mereka kritik dan mereka "gebuki" bersama-sama.

“Kesalahan berpikir semacam ini bisa mengenai siapapun. Kaum liberal, konservatif, fundamentalis, teis, ateis, moderat, kiri, kanan, tengah, relijius, sekuler, semuanya bisa terpapar penyakit "the fallacy of straw man" ini,” katanya.

Untuk mengatasi kesalahan berfikir seperti ini, penting untuk melakukan diskusi dan mendengar orang lain agar setiap pribadi mampu melihat kesalahan dalam pikiran sendiri sekaligus mengoreksinya.

Al-muslimu mir'atu akhihi al-muslim. Seorang muslim adalah cermin bagi saudaranya. Cermin di sini maksudnya kita bisa bercermin dan melihat kelemahan kita dengan mendengar kritik dari orang lain,” jelasnya sesuai dengan hadits Nabi SAW.

Walau pun dalam hadits tersebut dikatakan "al-muslim", bukan berarti ajaran dalam hadits ini berlaku bagi orang muslim saja. Ketika Nabi mengatakan "al-muslim" dalam konteks pembicaraan mengenai etika universal, maka yang dimaksudkan adalah siapa saja, baik muslim maupun non-muslim. (Red: Muhammad Faizin)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG