IMG-LOGO
Trending Now:
Pesantren

Pesantren Al-Muhajirin Sambas, Benteng Aswaja Annahdliyah di Perbatasan

Ahad 5 Agustus 2018 16:0 WIB
Bagikan:
Pesantren Al-Muhajirin Sambas, Benteng Aswaja Annahdliyah di Perbatasan
Pesantren Al-Muhajirin Sambas
Pondok Pesantren Al-Muhajirin Sambas didirikan oleh KH Afif Hilal pada tahun 1995. Lokasi Pesantren Al Muhajirin di Jln Natuna No 08 Sapak Hulu, Kecamatan Subah, Kabupaten Sambas, Kalimantan  Barat. 

Pesantren Al-Muhajirin memiliki visi Berdisiplin, Prestasi dalam Iptek, Unggul  dalam  Imtaq. Adapun misinya adalah Mengamalkan prinsip Islam sebagai Rahmatan lil’alamin, dan membangun generasi Islam yang bertaqwa, berpengetahuan dan berkepedulian.

Keberadaan Pondok Pesantren Al-Muhajirin mempunyai peran yang penting dalam pendidikan nilai-nilai keislaman di daerah terpencil wilayah Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Terletak di daerah pedalaman (dekat dengan wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia), masyarakat di lingkungan Pondok Pesantren Al-Muhajirin merupakan masyarakat multikultur (lokal dan transmigrasi) yang terdiri dari berbagai suku, agama, dan asal daerah, di antaranya Dayak, Melayu, Jawa, Nusa Tenggara, Sunda, Batak.

Hampir semua anak usia sekolah di wilayah tersebut khususnya pada tingkat sekolah lanjutan baik menengah maupun atas tidak dapat melanjutkan pendidikannya. Hal tersebut dikarenakan kondisi ekonomi dan tempat pendidikan yang sangat jauh. Lalu dibentuklah lembaga Yayasan Pondok Pesantren Al-Muhajirin yang berkarakter amaliyah Annahdliyah, yang menaungi lembaga pendidikan formal Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah.

Pondok Pesantren Al-Muhajirin Sambas memiliki peranan yang strategis dalam membangun generasi yang berakhlak dan berpengetahuan. Lebih dari itu, peran Pesantren Al-Muhajirin telah mampu merekatkan dari berbagai perbedaan di masyarakat yang multi etnis, budaya dan agama, sekaligus dalam sektor-sektor yang lain seperti sosial dan ekonomi dengan mengamalkan prinsip Islam rahmatan lil’alamin.

Dengan menjadi instrumen pengembangan pendidikan yang berbasis pada ajaran agama Islam di wilayah terpencil, Pondok Pesantren Al-Muhajirin tetap istiqamah dalam mendidik santri-santrinya. Dalam bidang pendidikan Yayasan Pondok Pesantren Al-Muhajirin menyelenggarakan pendidikan formal dan non formal. 

Pendidikan nonformal melalui pendidikan sistem pesantren bagi santri yang berada di Asrama Putra dan Putri dan Madrasah Diniyah Awaliyah bagi anak-anak sekitar yang tidak mukim di Asrama Pesantren. Metode pengajaran yang digunakan dengan cara klasikal dan sorogan; Al-Qur’an dan kitab kuning seperti kitab Safinah, Sulam Taufiq, Fathul Qorib, Ta’lim Muta’allim, Al-Amtsilah, Jurumiyyah. 

Selain bergerak di bidang pendidikan dan keagamaan, Yayasan Pondok Pesantren Al-Muhajirin juga berperan dalam bidang sosial kemasyarakatan melalui panti sosial. Panti sosial dibangun untuk membantu masyarakat yang kurang mampu serta anak yang terlantar agar mendapat perhatian khususnya haknya dalam belajar. Melalui ketiga peran tersebut, di tengah masyarakat yang beragam, Pondok Pesantren Al-Muhajirin telah memainkan peranan yang strategis; mampu melakukan penyebaran dan pendidikan agama yang toleran, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan untuk mewujudkan prinsip Islam rahmatan lil’alamin.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin, KH ‘Afif Hilal mengatakan peran dan kontribusi pesantren kepada masyarakat selama ini merupakan wujud dari harapan dan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga Pondok Pesantren Al-Muhajirin. Selain itu ruh dari semangat perjuangannya untuk terus mengembangkan Yayasan Pondok Pesantren Al-Muhajirin menjadi lembaga yang terus berperan aktif dalam membangun akhlak generasi bangsa.

Untuk itu pesantren dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Fasilitas berupa gedung Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah, asrama santri putra dan putri, panti sosial, mushala putri, kantor, perpustakaan, koperasi, aula. 

Sementara untuk kegiatan pegembangan kualitas santri juga didukung dengan ekstrakurikuler seperti kajian kitab-kitab kuning, pembinaan tahfidz dan tilawatil Al-Qur’an, latihan berpidato, Pramuka, pengembangan olahraga, pengembangan shalawat dan kasidah, seni beladiri karate. (Muhammad Syukri/Kendi Setiawan)

Bagikan:
Sabtu 28 Juli 2018 18:0 WIB
Pesantren Ashiddiqiyah 3 Karawang Didik Santri dan Masyarakat
Pesantren Ashiddiqiyah 3 Karawang Didik Santri dan Masyarakat
Pondok Pesantren Asshiddiqyah Karawang merupakan bagian dari pengembangan Asshiddiqyah Jakarta sebagai induknya yang didirikan KH Nur Iskandar SQ pada pada Rabi’ul Awal 1406 H bertepatan dengan 1 Juli 1985. Pengembangan di Karawang dilakukan mulai 1992. 

Di dalam laman Asshiddiqyah disebutkan, pesantren itu didirikan dalam kapasitasnya sebagai lembaga pendidikan keagamaan dan sosial kemasyarakatan, senantiasa eksis dan tetap pada komitmennya sebagai benteng perjuangan syiar Islam.

Namanya syiar, tentu harus dikembangkan, dikembangkan lagi, dan terus dikembangkan. Makanya Asshiddiqiyah melebarkan sayapnya. Selain di  Karawang, tersebar dibeberapa daerah, yaitu Batu Ceper (Banten), Bogor (Jawa Barat), Palembang (Sumatera Selatan), Way Kanan (Lampung), Sukabumi (Jawa Barat),  dan lainnya. Jumlahnya kini ada 12. 

Pesantren di Karawang, yang terletak di Kecamatan Cilamaya, adalah pesantren nomor tiga dalam pengembangan Asshiddiqiyah dan Batu Ceper. 

Tentu saja, mengembangkan pesantren tidak semudah membalikkan tangan. Sejak berdiri pada 1992, Asshiddiqiyah Karawang jatuh-bangun di tangan empat kiai. Tidak sesuai dengan yang diharapkan Kiai Nur.

Lalu, pada 2001, pesantren tersebut digerakkan seorang kiai muda yang baru lulus menimba ilmu di Madinah, KH Hasan Nuri Hidayatullah. Pria yang akrab disapa Gus Hasan ini merupakan alumnus dari Asshiddiqiyah induk di Jakarta. Lalu nyantri di Habib Zein bi Smith di Madinah selama 4 tahun. 

Sepulang dari Madinah, ia diminta Kiai Nur untuk menangani Asshiddiqiyah Karawang. Waktu itu  Gus Hasan masih lajang dan berusia 23 tahun. Dua tahun kemudian, ia diambil mantu oleh Kiai Nur.  

Patuh pada guru dan orang tua
Di  tangan Gus Hasan, Asshiddiqiiyah Karawang dikembangkan lagi menjadi beberapa, yaitu di Karawang sendiri dan di Jonggol. Bahkan kini  telah berdiri Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Asshiddiqiiyah Karawang. Jumlah keseluruhan santri yang ditangani Gus Hasan saat ini sekitar 1200 orang. Padahal ketika ia masuk pada 2001hanya ada 30-40 santri dengan fasilitas yang minim. Hanya satu asrama puti, du kobong putra dan satu masjid.  

“Saya kembangkan menjadi ada Ashiddiqiyah dalam bentuk sekolah tinggi dua tahun ke belakang. Setahun ke belakang saya mengembangkan di Jonggol,” ungkap Gus Hasan di kediamannya, di Kompleks Asshiddiqiiyah Karawang, 14 Juli lalu. “Asshiddiqiiyah 3 ada dua, putri dan putra, Ashidiqiyah 4 hanya putra dan mahasiswa,” lanjutnya. 

Di samping itu, Asshiddiqiiyah 3 menyelenggarakan pendidikan dalam beberapa jenjang mulai Madrasah Ibtidaiyah, Tsanwiyah, Aliyah, SMK dan SMA. Semua siswa dan siswi, kecuali Madrasah Ibtidaiyah, berada dan tinggal di asrama. 

Selain mendidik santri, Asshiddiqiiyah 3 mengadakan pengajiian untuk masyarakat. Setahun setelah berada di pesantren itu, Gus Hasan membuka pengajian umum setiap Rabu malam.  

“Pada tahun 2002 saya langsung mengadakan pengajian. Sambil silaturahim ya sambil mengaji. Mula-mula ada berapa orang, dua, tiga orang. Awal-awal di teras rumah ngajiinya,” kata Ketua PWNU Jawa Barat ini. 

Kini, pengajian yang mengupas Tafsir Jalalayn tersebut makin diikuti banyak jamaah. Jumlahnya ribuan. Tidak hanya desa terdekat, tapi melampaui batas kecamatan dan kabupaten.

“Ya kalau cuacanya bagus, orang-orang banyak yang kosong kegiatan, tidak ada hajatan, kadang sampai seribu. Di depan itu full itu. Apalagi pas maulid. Semuanya karena Allah. Kita ini, tanpa pertolongan Allah tidak apa-apa,” ungkap Gus Hasan. 

Keberhasilannya dalam mengembangkan pesantren dan pengajian bersama masyarakat, menurut Gus Hasan adalah patuh kepada perintah guru dan orang tua. Kedua, banyak silaturahim dengan masyarakat setempat. (Abdullah Alawi)


Kamis 19 Juli 2018 9:15 WIB
Gus Yusuf: Cinta Kasih Adalah Ciri Khas Pendidikan Pesantren
Gus Yusuf: Cinta Kasih Adalah Ciri Khas Pendidikan Pesantren
KH Yusuf Chudlori, Pengasuh API Tegalrejo Magelang (Foto: Ist.)
Jakarta, NU Online
Pengasuh Pondok Pesantren Tegalrejo, Magelang, KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) menjelaskan bahwa ciri khas pendidikan pondok pesantren adalah mengedepankan cinta kasih dan suri tauladan yang baik.  

Ia mencontohkan jika ada seorang pendidik merasa jengkel kepada peserta didik atau santrinya maka langkah yang terbaik adalah dengan mendoakan dan mengirimkan fatihah kepadanya. Langkah seperti inilah yang akan memunculkan ikatan batin dan rasa cinta kasih kepada mereka.

"Itulah ciri khas pendidikan pesantren. Ciri khas pendidikan pesantren itu didasari dengan cinta kasih," tegasnya dikutip NU Online dari video di Gus Yusuf Channel, Rabu (18/7).

Ia pun mengisahkan sebuah contoh bagaimana seorang kiai memberikan peringatan kepada peserta didiknya untuk tidak melakukan pelanggaran agar mampu menjadi pribadi yang lebih baik. Ia merujuk kepada kisah yang terdapat pada buku yang berjudul “Petuah Bijak dan Kisah Inspiratif Ulama Salaf Nusantara”.

Kisah itu terjadi di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur, saat ada salah seorang santri yang suka keluar malam. Ia selalu lolos dari pengawasan pengurus pondok. Anehnya, justru KH Abdul Karim mengetahuinya.

"Lantas beliau menulis pada secarik kertas dengan tangannya sendiri, Kula mboten remen santri ingkang remen miyos (Saya tidak suka santri yang suka keluar). Tulisan tersebut kemudian beliau tempelkan di bawah bedug," lanjutnya.

Secara kebetulan, santri yang biasa keluar pondok tanpa izin itu ternyata pada malam harinya memilih tidur di bawah bedug. Betapa kagetnya santri itu, ketika membaca sebuah tulisan persis di depan matanya. Dia sangat mengenali tulisan itu, yang menulisnya adalah Mbah Kiai Abdul Karim. Yang selama ini dianggapnya tidak mengetahui kelakuannya selama ini.

"Setelah peristiwa menakjubkan pada malam itu, santri itu insaf. Dia tidak lagi keluar pondok pada malam hari. Kita mungkin tidak sanggup meniru persis cara Mbah Abdul Karim. Tetapi kita bisa meneladani kebijaksanaan dan kearifan beliau. Murid atau anak yang nakal, mendidiknya tidak dilakukan dengan kekerasan dan pemaksaan. Melainkan dengan kasih sayang dan do’a," ungkapnya.

Dari kisah ini Gus Yusuf mengingatkan bahwa pemaksaan dalam kadar tertentu memang akan menghasilkan tindakan seperti yang diinginkan si pemaksa. Tetapi pada saat yang bersamaan ia memantik bara api yang akan menjadi sumber bencana di waktu yang akan datang.

"Orang-orang yang terpaksa mengikuti dan melayani paksaan akan kehilangan rasa hormat kepada pemaksa. Seorang guru akan kehilangan kehormatan dari muridnya. Seorang bapak akan kehilangan bakti anaknya. Seorang suami akan kehilangan cinta istrinya," pungkasnya. (Red: Muhammad Faizin)
Selasa 10 Juli 2018 13:0 WIB
Tradisi Unik Santri Baru di Pesantren Tremas
Tradisi Unik Santri Baru di Pesantren Tremas
Masjid Pesantren Tremas (Foto: Zainal Faizin)
Pacitan, NU Online
Sejak dibukanya tahun pelajaran baru pada tanggal 15 Syawal lalu, gelombang santri baru  yang mondok ke Pesantren Tremas Pacitan Jawa Timur terus berdatangan. Mereka datang dari berbagai daerah dan berangkat dari latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda-beda.

Dalam sepekan ini, ratusan santri baru sudah mulai beradaptasi dengan aktfitas kegiatan dan kultur pesantren. Lalu apa saja kegiatan yang dilakukan santri baru di Pesantren Tremas? NU Online berhasil menghimpun beberapa tradisi unik santri baru di pesantren yang menjadi tempat kelahiran ulama internasional asal Nusantara, Syekh Mahfudz Attarmasi itu.

Tidak Tidur Siang Selama Satu Minggu

Dalam sepekan ini santri baru tengah menjalani sebuah tradisi unik yang sudah mengakar di kalangan santri Pesantren Tremas yaitu tradisi tidak tidur siang selama tujuh hari sejak hari pertama kedatangan mereka di Tremas.

Tidak tidur siang, suatu hal yang kelihatannya sepele dan ringan ini ternyata sangat sulit dilakukan. Dalam praktIknya, biasanya para santri baru selalu mendapat berbagai cobaan dan godaan, seperti merasakan kantuk yang sangat berat.

Untuk itu para santri senior biasanya dengan senang hati akan membantu mereka dengan selalu mengingatkan dan bahkan menunggui atau mengajaknya jalan-jalan keliling perkampungan Desa Tremas agar tidak tertidur.

Pada prinsipnya, tradisi seperti ini tidak terdapat dasar hukumnya sama sekali. Ini merupakan tradisi yang sudah  diwariskan secara turun temurun. Apalagi Pesantren Tremas pun tidak menulisnya dalam sebuah peraturan.

"Dicari dalilnya dalam kitab pun juga tidak ada. Namun bila kita cermati lebih jauh, tradisi ini merupakan suatu tes mental yang amat dalam maknanya untuk menguji sejauh mana kesungguhan dan ketekunan santri baru dalam menuntut ilmu di Tremas," jelas salah seorang pengurus Pesantren Tremas, Ustadz Jahrudin, saat ditemui NU Online, Senin (9/7) malam.

Apabila santri baru berhasil melakukan tradisi ini, maka itu merupakan pertanda baik bagi keberlangsungan belajar mereka di Pesantren Tremas. "Biasanya santri baru akan segera betah dan kerasan tinggal di pesantren kalau sudah lulus ujian mental yang  pertama ini," tambahnya.

Ziarah 41 Hari Tanpa Putus

Di pesantren yang didirikan oleh KH Abdul Manan Dipomenggolo pada tahun 1830 M ini, lahir sebuah tradisi unik yang sudah berjalan sejak ratusan tahun yang lalu, yaitu setiap santri baru “diusahakan”, bahkan ada yang  "wajib" untuk rutin berziarah ke makam masyayikh (sesepuh) Pesantren selama 41 hari berturut-turut tanpa putus.

Santri baru berusaha mentradisikan ziarah ke makam para sesepuh tiap pagi dan sore hari ke makam Gunung Lembu yang terletak sekitar 350 meter barat daya dari komplek pesantren Tremas dan makam Semanten yang terletak di sebuah bukit desa Semanten (pinggiran kota Pacitan) pada setiap hari Kamis dan Jumat.

Di makam gunung Lembu bersemayam para sesepuh dan pengasuh Pesantren Tremas, seperti KH Dimyathi, KH Abdurrozaq, KH Habib Dimyathi, KH Haris Dimyathi, KH Hasyim Ihsan, KH Toyyib Hasan Ba’bud, KH Mahrus Hasyim, dan para kiai Tremas yang lain.

Sedangkan di makam bukit Semanten, Pacitan, dimakamkan para kiai seperti KH Abdul Manan Dipomenggolo (Wafat 1860) pendiri pertama Pesantren Tremas Pacitan yang merupakan generasi pertama orang Indonesia yang belajar di Universitas Al Azhar Kairo Mesir, Sayyid Hasan Ba'bud dan sesepuh lainya.

Kegiatan berziarah selama 41 hari kelihatannya juga ringan dan gampang dilakukan, namun pada prakteknya sangat sulit untuk mencapai target sempurna, ada saja kendalanya, seperti hujan, ketiduran, dan halangan-halangan lainya.

Bila para santri berhasil mencapai target 41 hari tanpa putus, maka itu merupakan pertanda yang baik bagi mereka. Artinya mereka benar-benar sabar dalam menghadapi tes mental kedua ini, setelah tidak tidur siang selama satu minggu.

"Lagi-lagi ini merupakan tradisi unik yang sepertinya hanya ditemukan di Pesantren Tremas," kata Ustadz Jahrudin.

Dalam sebuah kesempatan peringatan Haul, Pengasuh Pesantren Tremas KH Fuad Habib Dimyathi mengatakan, salah satu wujud cinta kepada para ulama, diantaranya dengan sering menziarahi makamnya. Setidaknya, orang yang sering melakukan ziarah akan terlihat berbeda dengan orang yang tidak biasa melakukan ziarah ke makam para ulama.

“Banyak sekali hikmah dan manfaat ziarah kubur itu. saya haqqul yaqin, orang-orang yang sering ziarah kubur itu jauh berbeda wajahnya, peraupan-nya, ahwaliahnya (tingkah lakunya) dengan orang-orang yang tidak terbiasa melakukan ziarah kubur,” ungkap Kiai Fuad.

Ziarah kubur, imbuhnya, merupakan salah satu amaliyah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Apalagi ziarah ke makam para ulama, walaupun sudah wafat, namun sejatinya mereka masih hidup di sisi Allah SWT.

Para santri Pesantren Tremas percaya akan hal itu dan merekapun berusaha mentradisikan ziarah sebagai bentuk ta'dhim (penghormatan) kepada para ulama.

Nahun, Tidak Pulang Selama 3 Tahun 3 Bulan

Tradisi Nahun, disebut juga tirakat atau lelakon. Tradisi ini pertama kali dilakukan oleh santrinya Simbah KH Dimyati (Wafat 1934 M), dimana pada saat itu perkembangan pesantren Tremas sangat pesat sehingga banyak santri yang datang menuntut ilmu dari berbagai penjuru nusantara, dan bahkan ada yang datang dari negara tetangga.

Karena letak pesantren yang jauh dari kampung halaman para santri, sementara waktu itu alat transportasi juga belum ada sama sekali kecuali gerobak dan sejenisnya, maka dilakukanlah "Nahun" dalam arti hakiki yaitu tekun belajar dan tidak keluar dari komplek pesantren dalam jangka waktu 3 tahun ataupun 3 bulan dan 3 hari.

Ustadz Jahrudin menerangkan, mengenai jangka waktu pelaksanaan tradisi Nahun sebenarnya tidak ada ketentuanya, dan hanya istilah yang digunakan para santri kala itu, bahkan pesantren Tremas pun tidak mengatur tentang hal ini.

Dia menjelaskan, ada sebuah kisah unik yang melatarbelakangi tradisi Nahun ini. Suatu ketika, Isteri KH Dimyathi yang bernama Nyai Khotijah yang sedang melakukan tirakat puasa selama 3 tahun, 3 bulan dan 3 hari, mengalami kejadian yang sangat aneh. Yaitu saat beliau mencuci beras untuk dimasak, tiba-tiba beras tersebut berubah menjadi emas.

Nyai Khotijah pun merasa kaget, seraya berdo’a: "Ya Allah, saya bertirakat bukanlah untuk mengharapkan emas atau harta benda dunia, akan tetapi saya memohon kepada-Mu ya Allah, jadikanlah Tremas ini bagian dari masyarakat, jadikanlah keluarga termasuk Ahlul Ilmi (ahli ilmu) dan jadikanlah santri-santri yang menuntut ilmu disini menjadi santri yang barokah," seraya membuang emas tersebut ke dalam sumur.

Setelah kejadian itu banyak santri yang melakukan tradisi Nahun sebagai bentuk tirakat agar kegiatan belajarnya di Pesantren Tremas senantiasa lancar dan berhasil mencapai tujuannya, hingga setelah terjun di masyarakat kelak.

Sesuai perkembangan zaman, tradisi ini tetap ditiru oleh generasi selanjutnya meskipun dengan versi yang berbeda-beda. Sekarang ini versi Nahun yang berlaku di kalangan santri Pesantren Tremas ada tiga. Pertama, tidak keluar dari komplek Pesantren Tremas. Kedua, tidak keluar dari wilayah Kabupaten Pacitan. Ketiga, tidak pulang ke rumahnya.

"Yang berlaku umum di kalangan santri Pesantren Tremas sekarang ini adalah tradisi Nahun sesuai kategori kedua dan ketiga, dengan waktu minimal 3 tahun," jelas Ustadz Jahrudin.

Dia menambahkan, kebanyakan mereka yang melakukan tradisi Nahun adalah santri yang berasal dari luar Jawa, namun pada perkembangannya, santri asal pulau Jawa juga banyak yang melakukan tradisi ini.

"Mereka yang melakukan Nahun berangkat dari keinginan mereka sendiri, didasari niat yang tulus untuk bersungguh-sungguh belajar dan berharap berkah dari para sesepuh Pesantren Tremas," pungkasnya.

Demikianlah tradisi-tradisi unik santri Pesantren yang tidak ditemui di lembaga lain manapun. Tradisi ini merupakan khazanah kekayaan pesantren yang keberadaanya masih terjaga dengan baik sebagai ciri khas pendidikan Islam asli Nusantara. (Zaenal Faizin/Muhammad Faizin)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG