IMG-LOGO
Anti-Hoaks

Berita Pengasuh Al Munawir Krapyak Ultimatum Jokowi, Seratus Persen Hoaks

Ahad 5 Agustus 2018 22:56 WIB
Bagikan:
Berita Pengasuh Al Munawir Krapyak Ultimatum Jokowi, Seratus Persen Hoaks
Screenshot berita jppn
Jakarta, NU Online
Sejak Ahad (5/8) sore jagat maya diramaikan oleh pemberitaan salah satu media daring berjudul Jika 2 Hari Ini Jokowi Tak Pilih Cak Imin PBNU Angkat Kaki, yang menyebutkan Mustasyar atau Penasihat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Najib Abdul Qodir mengultimatum Presiden Joko Widodo, terkait kepastian menggaet Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin sebagai calon wakil presiden (Cawapres).

Dalam berita juga disebutkan Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta itu memberi waktu kepada Jokowi hingga dua hari ke depan. Jika tidak, tegas dia, kiai NU akan membuat poros baru. Kiai Nadjib menyatakan akan memberi deadline kepada Jokowi dalam dua hari, yang jika tidak jelas, akan membikin poros baru. 

JPNN mengutip pernyataan tersebut tidak dari Kiai Najib langsung, melainkan dari orang lain yang mengaku sebagai juru bicara para kiai. Tanpa mengonfirmasi ulang, berita itu dimuat dalam bingkai seolah-olah pernyataan resmi PBNU. Kiai Najib sebenarnya juga bukan Mustasyar PBNU, melainkan Rais Syuriyah PBNU.

Menanggapi hal itu, Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak melalui akun Twitter resminya mengklarifikasi bahwa berita tersebut hoaks. "Salah satu media elektronik yang menyatakan 'Jika @jokowi tidak pilih Cak Imin maka PBNU akan angkat kaki' adalah berita yang tidak benar dan sangat ngawur. Apalagi mencatut nama KH.R.M. Najib Abdul Qadir," tulis @almunawwir_com sembari menyertakan tangkapan layar berita yang dimaksud.

Ketua Alumni Huffadh al Munawwir Krapyak, KH R Abdul Hamid Abdul Qodir, juga menegaskan hal serupa. “Disampaikan kpd segenap klrga besar Himmah el-Muna...dimanapun berada,khususnya para pengurus,bhw berita diatas☝( kyai & guru kita KHR M Najib Abd Qodir ) ngancam2 Bpk Presiden Jokowi adalah sangat tdk benar & ngawur,” tulisnya dalam broadcast yang diterima NU Online, Ahad (5/8) malam ini.

Oleh karena itu, sambungnya, ia memohon kepada segenap alumni untuk membantu meluruskan berita tersebut kepada semua pihak.

Pelayan kiai (khadim ndalem) yang juga pengurus pondok setempat, Ahmad Rikza, juga memberi kesaksian bahwa Nadjib tidak pernah mengeluarkan pernyataan tersebut. Katanya, menurut klarifikasi putri Kiai Nadjib,  Ning Nilna yang bertanya langsung pada sekitar pukul 20.30 WIB malam ini, Kiai Nadjib menjawab, “aku ora muni opo-opo (saya tidak bicara apa pun soal itu)."

Rikza yang menyampaikan hal tersebut melalui akun Twitter pribadinya @madreqza itu juga menambahkan bahwa berita tersebut seratus persen hoaks.



Diberitakan sebelumnya sejumlah kiai dan pengasuh pesantren di Indonesia menemui Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj, Sabtu (4/8) malam di Gedung PBNU Kramat Raya, Jakarta Pusat. Kedatangan mereka untuk mengajukan H Muhaimin Iskandar (Cak Imin) agar diusulkan PBNU sebagai calon wakil presiden yang berpasangan dengan Joko Widodo (Jokowi) dalam Pemilu mendatang.

Baca: Pengajuan Cawapres Oleh Para Kiai Bukan Atas Nama Organisasi

Pertemuan yang berlangsung hampir satu jam bersifat tertutup. Juru bicara acara, KH Anwar Iskandar mengatakan pertemuan digagas karena para kiai percaya bahwa Indonesia harus ditopang oleh unsur kebangsaan dan religius. Para kiai yang hadir, kata Kiai Anwar, membawa unsur religius tersebut.

Ini yang mengajukan adalah kiai-kiai yang kebetulan warga NU. Pengajuan mereka atas Cak Imin kepada PBNU untuk diusulkan sebagai Cawapres sama dengan hak warga negara yang memiliki aspirasi politik. (Kendi Setiawan/Mahbib)

Bagikan:
Rabu 4 April 2018 11:45 WIB
Beredar Hoaks Komentari Puisi Sukmawati Mengatasnamakan Gus Mus
Beredar Hoaks Komentari Puisi Sukmawati Mengatasnamakan Gus Mus
Jakarta, NU Online
Berita hoaks kembali membawa-bawa nama tokoh Nahdlatul Ulama. Kali ini tentang puisi karya Sukmawati Soekarnoputri yang menjadi polemik setelah video pembacaannya viral di media sosial. Di grup-grup WhatsApp dan sejumlah unggahan di media sosial lain, tersebar tulisan atas nama KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) dengan nada membela Sukmawati.

Rabu (4/4) pagi, Ienas Tsuroiya, putri mustasyar PBNU itu melalui akun Facebook pribadinya mengklarifikasi berita palsu tersebut. 

“Sebenarnya saya ngga mau menanggapi soal puisi Sukmawati itu. Lelah. Tapi pagi ini mendapat laporan dari adik saya, ada yang menulis pembelaan terhadap Sukmawati, dengan (lagi-lagi) MENCATUT nama Abah. Sekali lagi saya tegaskan, postingan yang beredar di WA itu, BUKAN tulisan Abah,” tulisnya.

Menurutnya, tulisan yang beredar itu luar biasa kacau, dipenuhi tagar di sana-sini. Menulis nama "Sukmawati" pun tak konsisten, keliru nulis "Fatmawati" berkali-kali. “Pokoknya secara kualitas, sampah banget dah. Seharusnya, begitu membaca tulisan sekacau itu, orang langsung tahu, ngga mungkin itu tulisan Abah. Well, ternyata masih banyak yang merasa perlu bertanya langsung ke Abah. Sad, indeed,” tulisnya.

Ini bukan kali pertama nama Gus Mus dilibatkan dalam polemik sebuah isu di media sosial. Pada musim kampanye pemilihan presiden 2014 lalu, nama Gus Mus juga dicatut dalam sebuah meme yang berisi dukungan terhadap salah catu calon presiden. Peristiwa mirip terjadi lagi pada musim kampanye pemilihan gubernur Jawa Tengah saat ini.

Hingga berita ini dimuat, belum ada penjelasan resmi dari KH A Mustofa Bisri terkait kontroversi puisi Sukmawati yang dibaca di gelaran pertunjukkan busana Anne Avantie beberapa waktu lalu itu. Sementara itu, sebagian kelompok tengah berusaha melaporkan putri Bung Karno tersebut atas tuduhan penodaan agama.

Merespon kasus ini, Sekretaris Jendral PBNU Helmy Faishal Zaini mengimbau kepada semua pihak untuk tenang dan tak terpancing emosi dalam menyelesaikan masalah. Ia berharap masyarakat mengedepankan prinsip tabayun (klarifikasi) sebagai bagian dari kehati-hatian dan juga agar lebih jernih melihat persoalan.

“Cukup dengan tabayyun, saya berkeyakinan tidak ada niatan dari Sukmawati untuk melecehkan Islam,” jelas Helmy.

Kendatipun demikian, Helmy Faishal juga berpendapat, hendaknya para tokoh bisa secara tepat dan lebih hati-hati ketika menggunakan kalimat atau diksi dalam berinteraksi, utamanya dalam ruang publik. Para tokoh hendaknya tidak menggunakan kalimat yang berpotensi mengganggu bangunan keindonesiaan kita. (Mahbib)

Selasa 26 Desember 2017 16:25 WIB
Keji, NU Kembali Difitnah Tolak Ustadz Abdul Somad
Keji, NU Kembali Difitnah Tolak Ustadz Abdul Somad
Jakarta, NU Online 
NU kembali difitnah menolak Ustadz Abdul Somad (UAS) yang hendak berceramah di Hong Kong. Bisa dipastikan tokoh-tokoh NU tidak pernah melakukan tindakan semacam itu.

"Saya tegaskan itu fitnah yang keji. Tak mungkin, KH Said Aqil Siroj melakukan tindakan itu," kata Robikin Emhas, ketua Bidang Hukum dan Konstitusi Pengurus Besar NU, Selasa (26/12).

Beredar fitnah yang disebarkan satu akun Twitter yang menyebut Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, dalang di balik peristiwa penolakan Ustadz Abdul Somad di Hong Kong. Akun itu menuliskan, "Penolakan ustadz Abdul Somad di Hong Kong, merupakan pesanan LBP (Luhut Binsar Panjaitan, menteri Koordinator Bidang Kemaritiman). LBP perintahkan Said Aqil. Said Aqil suruh Nusron Wahid hubungi imigrasi Hong Kong untuk tolak Abdul Somad."

Menurut Robikin, publik sudah mafhum bahwa Kiai Said Aqil Siroj adalah tokoh yang selalu mengajarkan amar makruf (berbuat kebajikan) dengan cara yang baik; begitu juga nahi mungkar (melarang perbuatan buruk) dengan cara yang baik pula. Itu adalah metode dakwah yang dijunjung tinggi kalangan NU.

NU tentu ikut menyesalkan insiden penolakan UAS. Soal menerima atau menolak warga asing masuk, sepenuhnya wewenang mutlak otoritas Hong Kong. Kewenangan semacam itu dimiliki juga oleh negara Indonesia.

"Mungkin tindakan pemerintah setempat (Hong Kong), merupakan bentuk proteksi atas warga negaranya sesuai sistem politik dan kebudayaan yang dianutnya. Kita ambil hikmahnya," kata Robikin.

Dia bersyukur, kegiatan keagamaan yang direncanakan tetap berjalan dengan penceramah lain dari Indonesia, yakni KH Anwar Zahid. Dengan demikian syiar Islam tetap berlangsung sebagaimana mestinya.

Sebelumnya, NU juga difitnah menolak Ustadz Abdul Somad ketika hendak berceramah di Bali. (Baca: Klarifikasi PWNU Bali soal Penolakan Ustad Abdul Somad)(Red: Abdullah Alawi)


Kamis 4 Mei 2017 20:20 WIB
Heboh Hoax Non-Muslim Tionghoa Jadi Anggota Banser
Heboh Hoax Non-Muslim Tionghoa Jadi Anggota Banser
Jakarta, NU Online
Belakangan ini menyebar berita rumor bahwa ada anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang non-Muslim. Berita fiktif tersebut menyebar di berbagai media sosial dan menjadi bahan cemoohan para pengguna media sosial.

Kabar itu dipublikasikan bersamaan menampilkan foto kartu tanda anggota (KTA) Banser bernama Lie Tjin Kiong dengan nomor anggota XII-01.26.06.160003. Lie Tjin Kiong dituding sebagai non-Muslim China yang resmi menjadi anggota badan semiotonom Gerakan Pemuda Ansor NU itu.

Salah satu akun anonim di Instagram yang turut mempublikasikan hoax tersebut adalah @divisihumorpolitik. Dengan nada provokatif akun ini mengimbuhi foto tersebut dengan pernyataan, “Karena banser bukan hanya untuk orang islam.. Ahok pun dapat gelar santri Shalat kaga, sunat kaga banser itu kumpulan orang yg ga ada otaknya, idiot semua.”

Berdasarkan isi KTA tersebut, Lie Tjin Kiong resmi menjadi anggota Banser mulai 24 April 2016. KTA ditandatangani Ketua PW GP Ansor Jatim H Rudi Triwahid dan Kepala Satkorwil Banser Jatim dr H Umar Usman.

Rudi Triwahid meluruskan seputar hoax yang menyebar luas di dunia maya itu. Ia membenarkan isi KTA Lie Tjin Kiong namun membantah bahwa Lie adalah non-Muslim. "Benar KTA itu. Dia seorang mualaf. Dia ikut Diklatsar Banser pada tahun 2001. Siapa pun boleh menjadi anggota Banser," katanya sebagaimana dikutip Beritajatim.com.

Kepala Satkorwil Banser Jatim Gus Abid Umar menegaskan, Lie Tjin Kiong merupakan salah seorang pengurus Masjid Cheng Ho Surabaya yang telah mengikuti Diklatsar Banser. "KTA memang benar diteken oleh Kasatkorwil Banser Jatim yang lama, dr Umar Usman. Banser juga punya yang Londho. Tapi mereka beragama Islam," jelasnya. (Mahbib)



IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG