IMG-LOGO
Daerah

Kiai Chalwani Purworejo Ingatkan Hati-hati Memilih Pesantren

Senin 6 Agustus 2018 21:15 WIB
Bagikan:
Kiai Chalwani Purworejo Ingatkan Hati-hati Memilih Pesantren
Khataman Akhirussanah ke-40 Pesantren An-Nawawi Berjan, Sabtu (4/8)
Purworejo, NU Online
Pengasuh Pesantren An-Nawawi Berjan, Purworejo, Jawa Tengah, KH Achmad Chalwani mewanti-wanti agar masyarakat berhati-hati dengan banyaknya pihak yang kekinian membuka pondok pesantren. Pasalnya, tidak sedikit orang yang bukan alumni pesantren, namun setelah tahu bahwa pesantren mulai 'laku', lalu berinisiatif membuka pendidikan pesantren. 

“Maka harus hati-hati. Walaupun mengirim anak ke pesantren, harus tanya kepada kiai (terlebih dahulu). Tidak sedikit orang yang tidak tahu pesantren bikin pondok pesantren," pintanya pada acara Khataman Akhirussanah ke-40 Pesantren An-Nawawi Berjan, Sabtu (4/8) malam.

Menurutnya para wali santri sudah tepat mengirimkan anak-anak mereka ke pesantren. "Dengan segala kelemahan dan kekuranngannya, insyaallah kalau di pesantren (anak) lebih selamat daripada di luar pesantren," jelasnya.

Ia juga bercerita tentang Douwes Dekker, tokoh yang semula akan merusak Indonesia, namun setelah mengenal para kiai dan santri, pikirannya berubah, justru bergabung dengan pergerakan bangsa Indonesia. 

“Bahkan kadang semangat keindonesiaannya melebihi bangsa Indonesia sendiri," ujarnya.

Baca: Kisah Syekh Ahmad Shonhaji Membuang Kitab Jurumiyah

Dalam sebuah buku, lanjut Kiai Chalwani, Douwes Dekker menyatakan 'Kalau tidak ada kiai dan pesantren, patriotisme bangsa Indonesia sudah hancur berantakan.'

“Ini pernyataan orang luar pesantren. Maaf, barangkali kalau yang punya pernyataan semacam ini para kiai yang punya pesantren, masih memungkinkan dipengaruhi oleh subjektivitas kepesantrenan. Akan tetapi kalau ini pernyataan orang luar pesantren, adalah pengakuan yang apa adanya, objektif," jelas Kiai Chalwani.

Pendapat Douwes Dekker tersebut, lanjut Kiai Chalwani, juga diperkuat oleh alm Ki Hajar Dewantara atau Suwardi Suryaningrat, yang pernah mempelajari  kitab suci Al-Qur'an kepada KH Sulaiman Zainuddin Kalasan, Sleman, Yogyakarta. 

Kiai Chalwani menceritakan, Ki Hajar Dewantara pernah menyatakan, pendidikan yang paling berhasil adalah pendidikan sistem pondok pesantren. Karena pendidikan ala pesantren adalah pendidikan yang lingkungannya serba mendukung keberhasilan pendidikan.

"Maka Ki Hajar Dewantara mendirikan lembaga pendidikan dengan mencohtoh pensantren dengan nama Taman Siswa,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Kiai Chalwani, ada juga pendapat dari almarhum Sudjatmoko, mantan Rektor Universitas Perserikatan Bangsa Bangsa. Dalam sebuah seminar di Jakarta dulu, kata Kiai Chalwani, kurang lebih 30 tahun yang lalu, Sudjatmoko pernah menyatakan, Pada zaman akhir ini, alternatif pendidikan terbaik adalah pondok pesantren, dengan catatan dikelola manageman modern.

“Ini pernyataan orang luar pesantren. Yang dimodernisasi manajemannya, tata organisasinya. Adapun metode mengaji tetap metode salafiyyah, tidak boleh ditinggal," tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Mursyid Thariqah Qadiriyyah/ Naqsyabandiiyah ini mengucapkan terima kasih dan memohon doa restu dari hadirin, agar para santri dapat bermanfaat di tengah-tengah masyarakat.

Pada kesempatan tersebut juga diadakan pengajian umum yang disampaikan oleh KH Ahmad Hasan Zamzami Mahrus, yang dalam hal ini mewakili KH Muhammad Anwar Mansyur, pengasuh dan sesepuh Pondok Pesantrn Lirboyo Kediri Jawa Timur.

Di antara hal yang ia uraikan adalah empat perkara yang menjadikan seseorang naik derajatnya, yaitu ilmu; adab, tata-krama; kejujuran; dan amanah atau bisa dipercaya.

Hadir dalam acara tahunan ini, KH.Ismail Ali (Sempu, Secang, Magelang), KH Choirul Muna (Anggota Komisi VIII DPR/MPR RI), KH Thoifur Mawardi (Kedungsari, Purworejo), Panggah Susanto (Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian), KH Achmad Chalwani Nawawi (Ketua Yayasan KH Maulana Alwi), H Wuryanto (Assisten III Pemda Purworejo), H Bambang Sucipto, Hamid (Ketua PCNU Purworejo), dan ribuan alumni serta wali santri dari berbagai penjuru tanah air.

Agus Masykur SH selaku ketua panita mengatakan khataman akhirussanah ini terdiri dari rangkaian kegiatan, di antaranya Ziarah Santri Putra-Putri, Seminar, Khataman Aal-Qur'an bin Nadhar, Khataman Kitab, Khitanan Massal Gratis dan Panggung Kreativitas Santri dan Pengajian Umum. (Ahmad Naufa/Kendi Setiawan)

Bagikan:
Senin 6 Agustus 2018 23:45 WIB
Tiga Ujian Allah Tingkatkan Takwa
Tiga Ujian Allah Tingkatkan Takwa
Bogor, NU Online
Kabar duka datang dari Lombok, NTB dan sekitarnya. Pada Ahad (5/8) kemarin mereka diuji dengan adanya musibah gempa. Ribuan rumah tinggal dan gedung instansi pemerintah dan swasta dikabarkan hancur lebur. Ratusan korban meninggal dunia dan terluka.

Wakil Sekretaris Lembaga Takmir Masjid (LTM) PCNU Kabupaten Bogor, Jawa Barat,  H Abdul Hadi Hasan pada Senin (6/8) bersama santrinya mengadakan doa bersama untuk warga terdampak gempa Lombok. Doa bersama berlangsung di Majelis Taklim Al Ittihad Al Islami Annahdliyah Citayam, Bojonggede, Kabupaten Bogor.

Pada kesempatan tersebut ustadz muda yang akrab dipanggil Kang Hadi, mengutip sebuah firman Allah swt dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 155-156. “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, Inna lillahi wa Inna ilaihi raajiun.'"

Menurut Kang Hadi, jika mengkaji ayat tersebut, akan dipahami bahwa Allah swt memberi tiga jenis ujian bagi hamba-Nya. Ujian pertama, Allah memberikan rasa takut.

"Setiap insan, apa pun agama, suku dan rasnya pasti memiliki rasa takut. Rasa takut itu tidak bisa diganggu gugat dan bagian dari fitrah insaniah. Ketakutan ada sebagai mesin penggerak yang akan menarik seseorang pada sebuah kekuatan pelindung Yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana," papar Kang Hadi.

Ujian kedua, lanjutnya, Allah swt mewarnai kehidupan setiap insan di dunia ini dengan kelaparan. Rasa lapar dan haus sebuah kenikmatan yang selalu bersamaan, hal itu ada agar insan ingat dengan kondisi selainnya dan memahami kebutuhan ruhiyahnya.

"Kita ketahui lapar pada kondisi tertentu kadang menjadi bagian yang sakral, yaitu saat insan memasuki bulan suci ramadhan dan menyelami ibadah puasa dengan totalitas penghambaan," tambahnya.

Sedangkan ujian ketiga, Allah swt memberikan beragam kekurangan baik dari segi harta, nyawa dan kenikmatan lainnya. Kekurangan terwujud demi meminimalisir rasa kesombongan insan yang selalu menginginkan segala hal.

"Dengan kekurangan, insan dapat menundukan nafsu dan dirinya sehingga akan menjadi peminta-minta hanya kepada Yang Maha Kaya dan Maha Pemberi Reseki," kata Kang Hadi.

Ia menegaskan semua ujian dan cobaan itu ada sesungguhnya demi meningkatkan keimanan dan ketakwaan setiap insan kepada Allah. "Ingat, keduanya dapat diraih dengan tunduk patuh kepada arahan dan bimbingan alim ulama, bilkhusus kiai Nahdlatul Ulama," pungkasnya. (Red: Kendi Setiawan)
Senin 6 Agustus 2018 23:30 WIB
Keluarkan SP Tutup Hiburan Malam, Bupati Wonosobo Minta Dukungan PCNU dan Ansor
Keluarkan SP Tutup Hiburan Malam, Bupati Wonosobo Minta Dukungan PCNU dan Ansor
Bupati Wonosobo Eko Purnomo (foto: istimewa)
Wonosobo, NU Online
Aksi damai tagih janji Bupati Wonosobo yang dilakukan oleh ribuan Nahdliyin menegakan Perda No. 3 Tahun 2017 dan kelangsungan generasi anak bangsa di Wonosobo akhirnya membuahkan hasil.

Dalam aksi yang di laksanakan Senin (6/8) di depan Gedung Bupati tersebut, walaupun lamban dan sedikit alot ahirnya Bupati Wonosobo Eko Purnomo keluarkan pernyataan bahwa akan melaksanakan dan menegakkan Perda No. 3 Tahun 2017.

Sebelum di tandatangani pernyataan yang di keluarkan, Eko Purnomo meminta dukungan dan bantuan dari Ansor-Banser, PCNU, dan banom lainnya dalam melaksanakan dan menegakan Perda tersebut. 

Dalam pernyataan yang ditandatangani diatas materai yang dikeluarkan tertulis bahwa Bupati Wonosobo Eko Purnomo akan melaksanakan tugasnya  sebagai Kepala Daerah Wonosobo melaksanakan dan menegakkan Perda yakni menutup tempat hiburan karena telah melanggar Perda No. 3 Tahun 2017  tentang Penyelenggaraan Usaha Hiburan di Kabupaten Wonosobo. 

"Apabila saya tidak melaksanakan pernyataan ini, maka saya bersedia menanggung segala konsekuensinya dan bersedia dituntut secara hukum," tulis Eko dalam pernyataannya. 

Menaggapi permintaan Bupati Wonosobo, Ketua GP Ansor Wonosobo Santoso menyampaikan bahwa Ansor dan PCNU Wonosobo beserta banom lainnya akan memberikan dukungan penuh kepada Pemkab Wonosobo untuk menutup tempat tempat hiburan yang melanggar Perda No. 3 Tahun 2017.

"Langkah Ansor, Banser, PCNU, dan Banom lainnya tidak hanya sampai penuntutan agar Bupati menutup hiburan malam karaoke saja," tandasnya. 

Dikatakan, dirinya beserta kader Ansor Banser Wonosobo, PCNU dan banom lainnya akan terus mengawal proses realisasi dan aksi Pemkab terhadap pernyataan yang telah dikeluarkan Bupati. (Sholeh Nahru/Muiz)

Senin 6 Agustus 2018 23:15 WIB
Santri Riyadlus Sholihin Probolinggo Gelar Sholat Ghaib untuk Korban Gempa Lombok
Santri Riyadlus Sholihin Probolinggo Gelar Sholat Ghaib untuk Korban Gempa Lombok
Ribuan santri Riyadlus sholihin Probolinggo gelar shalat ghaib
Probolinggo, NU Online
Sebagai bentuk kepedulian terhadap korban gempa bumi di Lombok Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan sekitarnya, ribuan santri  Riyadlus Sholihin Kelurahan Ketapang Kecamatan Kademangan Kota Probolinggo, Senin (6/8) menggelar shalat ghaib dan tahlil bersama.

Kegiatan ini dilakukan setelah sekitar 3 ribu santri menggelar shalat Dhuhur di masjid komplek PP Riyadlus Sholihin. Selanjutnya mereka menggelar shalat ghaib yang dilanjutkan dengan doa tahlil dan tahmid bersama-sama.

Pengasuh Pesantren Riyadlus Sholihin Habib Hadi Zainal Abidin mengatakan, Shalat Ghaib dan Tahlil bersama ini bertujuan sebagai edukasi kepada para santri agar memiliki kepedulian terhadap sesama yang terkena musibah.

“Sekaligus bersama-sama mendoakan agar para korban gempa yang meninggal dunia mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah SWT. serta ratusan korban luka-luka segera diberikan kesembuhan dan tidak ada lagi korban bencana di Indonesia,” katanya.

Menurut Habib Hadi, kegiatan ini dalam agama Islam merupakan bentuk empati kepada sesama yang mengalami musibah. “Mudah-mudahan dengan kegiatan ini santri memiliki rasa empati dan kepedulian kepada sesama, terutama saat nantinya mereka lulus dan terjun ke masyarakat,” harapnya.

Sementara Syamsul Huda, salah satu santri PP Riyadlus Sholihin menuturkan kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk mendoakan para korban gempa di Lombok yang menelan puluhan korban jiwa meninggal dunia dan ratusan korban luka-luka.

“Dengan adanya tahlil dan doa bersama ini,  semoga arwah para korban yang meninggal dunia mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Sementara korban luka-luka segera diberikan kesembuhan,” ungkapnya. (Syamsul Akbar/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG