IMG-LOGO
Risalah Redaksi

Menjaga Khittah NU dalam Pusaran Pemilihan Presiden-Wakil Presiden

Rabu 8 Agustus 2018 19:15 WIB
Bagikan:
Menjaga Khittah NU dalam Pusaran Pemilihan Presiden-Wakil Presiden
Sejumlah tokoh NU dikabarkan menjadi kandidat utama bakal calon wakil presiden yang digadang-gadang akan mendampingi Joko Widodo dalam pemilihan presiden 2019 mendatang. Tanggal 10 Agustus merupakan akhir penetapan dan pendaftaran calon pasangan presiden-wakil presiden menjadi saat-saat yang sibuk para politisi yang bertarung untuk memperebutkan jabatan paling strategis di Indonesia ini. Nahdlatul Ulama yang merupakan organisasi sosial keagamaan dengan kekuatan massa sangat besar turut bersinggungan dengan momen politik lima tahunan ini.

Posisi strategis NU bahkan bukan hanya terkait dengan kader NU yang dinominasikan sebagai calon wakil presiden. Salah satu kandidat bakal calon presiden juga menyatakan bahwa jika dirinya mengambil pasangan calon wapresnya, maka yang akan diambil adalah cawapres yang bisa diterima oleh warga NU.

NU telah memiliki pengalaman panjang terkait dengan politik praktis. Pada era Orde Lama, NU merupakan partai politik berpengaruh, selanjutnya, pada era Orde Baru, partai NU dengan partai-partai Islam lainnya berfusi dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Dinamika dalam berpartai tersebut selanjutnya melahirkan khittah NU 1926, yaitu kembalinya NU menjadi jamiyah diniyah ijtimaiyah. Yaitu menjadi organisasi keagamaan. Situasi keterbukaan pada era Reformasi membuat peluang politik terbuka lebar. Banyak kader NU mengisi ruang-ruang politik tersebut. 

Kembali ke khittah sudah disepakati secara bersama-sama. Yang menjadi persoalan sampai saat ini adalah definisi khittah ketika terjadi momen-momen politik. Banyak sekali kekuatan politik yang ingin mendapatkan dukungan NU dengan kekuatan massanya yang luar biasa ini untuk meraih kemenangan politik. Tak sedikit pengurus NU yang dalam masa jabatannya kemudian mencalonkan diri dalam jabatan-jabatan publik seperti gubernur, bupati, atau walikota. 

Secara organisasi, tak ada satu pun pernyataan resmi yang mengatasnamakan bahwa NU mendukung calon atau partai tertentu. Wilayah abu-abu adalah ketika para pengurus NU ramai-ramai mengatasnamakan dirinya sebagai pribadi, sebagai warga negara yang berhak menyatakan dirinya untuk menyampaikan aspirasi politik ketika terlibat dalam kontestasi politik praktis. 

Sebagai pemimpin organisasi dengan keterikatan kultural yang kuat, sesungguhnya sangat susah untuk membedakan ranah individu dan ranah sebagai pemimpin organisasi. Kredibilitas yang dimiliki naik secara drastis ketika ia menduduki jabatan strategis dalam organisasi tertentu yang dipercaya masyarakat. Modal sosial dimiliki dapat digunakan untuk akses untuk akselerasi vertikal yang lebih tinggi.  

NU memiliki pengalaman yang dapat menjadi pelajaran terkait dengan politik praktis. Pada pemilihan presiden tahun 2004 ketika para tokoh penting NU menjadi calon wakil presiden Warga NU, termasuk para ulama terbelah dalam memberikan dukungan di antara dua kandidat yang mengusung cawapres berlatar belakang NU. Tak ada pernyataan organisasi secara resmi yang menyatakan dukungan pada calon tertentu, tetapi masing-masing kandidat jaringan NU yang dimilikinya. Tak ada dukungan resmi dari Ansor atau Muslimat NU, tetapi sejumlah ketua dan pengurusnya, tentu saja atas nama pribadi, menjadi tim sukses pemenangan salah satu calon. Warga NU terfragmentasi dalam berbagai pilihan yang saling meniadakan. Antara tokoh satu dengan yang lainnya berkontestasi untuk memenangkan kandidat yang didukungnya. Efek pilpres 2004 masih terasa dalam pelaksanaan muktamar 31 NU pada 2005 yang berlangsung di Asrama Haji Donohudan Solo.

Hal yang sama terjadi pula pada proses pemilihan gubernur Jawa Timur yang baru saja berlalu dengan kemenangan Khofifah Indar Parawansa atas Syaifullah Yusuf. Dua-duanya merupakan tokoh NU, yaitu Khofifah sebagai ketua umum Muslimat NU sedangkan Syaifullah Yusuf merupakan salah satu ketua PBNU. Sebelumnya ia merupakan ketua umum GP Ansor. Tak ada sikap resmi dari Muslimat NU atau PWNU Jawa Timur yang menyatakan dukungan kepada salah satu kandidat, namun para aktivis di Muslimat NU secara kasat mata memberi dukungan Khofifah. Demikian pula, sejumlah pengurus NU Jatim dengan jelas terlibat dalam sejumlah kampanye pemenangan Syaifullah Yusuf. 

Yang cukup berbeda dari keterlibatan tokoh struktural NU dalam penentuan capres-cawapres tahun 2004 dan era-era sesudahnya adalah sikap para aktivis NU. Pada masa tersebut, pengurus NU yang terlibat dalam politik praktis  mendapat kritikan keras dari para aktivis sebagai orang-orang yang melanggar khittah. Kini, suara-suara untuk menjaga khittah NU tak sekencang dahulu. Bahkan di saat ruang untuk mengekspresikan pendapat di media sosial semakin terbuka lebar. Sejumlah aktivis NU bahkan jauh terlibat dalam arus kekuasaan. 

Pendirian Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sesungguhnya diniatkan sebagai saluran aspirasi politik warga NU. Sementara NU tetap mengurusi politik tingkat tinggi, menjadi penjaga bangsa, menjadi organisasi massa Islam. Tetapi ternyata tak mudah mengelola hubungan ini. Hubungan NU-PKB sejak pendirian partai tersebut didirikan penuh dinamika. Ada suatu masa ketika hubungan tersebut bak bapak dan anak yang masing-masing jalan sendiri. Saat lainnya, menjadi satu keluarga yang sudah sama-sama dewasa, yang saling mendukung satu sama lain dengan tetap menghormati posisinya.  

Ranah kerja-kerja sosial kemasyarakatan kini menunggu sentuhan tangan-tangan para pengurus dan aktivis NU untuk mengelolanya. Ada puluhan universitas NU yang baru didirikan dalam tahun-tahun belakangan ini yang membutuhkan kerja keras untuk membesarkannya sebagai ruang untuk memberikan pelayanan pendidikan. Sejumlah pusat layanan kesehatan sedang dalam proses pengerjaan agar warga NU memiliki kesehatan yang baik. Inisiatif pengembangan ekonomi masyarakat yang diinisiasi di lingkungan NU juga bergairah untuk warga yang sejahtera. Berbagai kelompok masyarakat tak henti-hentinya menyampaikan keluhan atas nasib mereka di sejumlah daerah juga membutuhkan advokasi. 

Nahdlatul Ulama juga memiliki perhatian yang sangat tinggi terhadap isu-isu perdamaian baik di tingkat nasional maupun internasional yang belakangan ini mengalami banyak tantangan. Upaya-upaya perdamaian dan rekonsiliasi dan domestik dan internasional terus digalang. Konservatisme beragama yang belakangan menguat menjadi tantangan yang harus dihadapi. NU dengan nilai-nilai Islam moderatnya memiliki peluang untuk membuat Islam di Indonesia tetap sebagai Islam yang moderat dan cinta damai. Pada ruang-ruang inilah kita mencurahkan energi.

Ruang abu-abu yang saat ini masih luas, khususnya terkait dengan posisi para pengurus NU sebagai pribadi dan mewakili organisasi sudah saatnya diperjelas. Hal ini untuk menghindari pemanfaatan organisasi untuk kepentingan individu mengingat sangat susah untuk memisahkan dengan tegas antara keduanya. Aturan yang baik dan disertai dengan mekanisme agar aturan tersebut bisa berlaku dengan baik akan membuat organisasi bisa berjalan dengan tertib. (Achmad Mukafi Niam)
Tags:
Bagikan:
Sabtu 4 Agustus 2018 8:45 WIB
Menuju Organisasi Berbasis Data
Menuju Organisasi Berbasis Data
Konferensi Wilayah NU Jawa Timur yang diselenggarakan pada 28-29 Juli 2018 di Pesantren Lirboyo Kediri berlangsung sukses. Jawa Timur merupakan pusat NU sementara Lirboyo adalah salah satu pesantren salaf terbesar yang menjadi rujukan untuk belajar. Apa yang terjadi di Jawa Timur menjadi perhatian bagi seluruh warga NU di Indonesia karena wilayah ini paling dinamis dalam banyak hal. Kegiatan NU yang terjadi di sana bisa dikatakan paling maju serta paling inovatif yang layak untuk dicontoh oleh daerah-daerah NU lainnya dalam mengembangkan khidmah untuk umat dan bangsa.

Tentu saja, apa yang sudah dilakukan oleh para pengurus dan warga yang dengan sungguh-sungguh telah mencurahkan pikiran, tenaga, dan waktunya untuk organisasi patut diapresiasi dan dibanggakan. NU merupakan organisasi kemasyarakatan yang aktivitas organisasi dan pengelolaannya mengandalkan kerelawanan dari para pengurus dan pengikutnya. Para pengurus mengalokasikan sebagian waktunya untuk mengelola organisasi setelah kewajibannya kepada keluarga dan lembaga tempatnya mengabdi terpenuhi. 

Untuk bisa melayani umat dan masyarakat dengan baik, tata kelola dan layanan keorganisasian sudah selayaknya terus ditingkatkan seiring dengan kemajuan teknologi. Salah satu hal yang penting untuk mulai diperhatikan adalah pemanfaatan data kuantitatif untuk pengelolaan organisasi, mulai dari perencanaan program sampai dengan evaluasi dan tentu saja aset organisasi. Teknologi telah memberi kemudahan luar biasa dalam pengelolaan data kuantitatif sehingga terdapat standar bersama untuk menilai kinerja, baik yang sifatnya individual atau organisasi.

Pemanfaatan data untuk memprediksi perilaku dan minat, lalu kemudian memprediksi apa yang terjadi di masa mendatang terlihat dalam pemanfaatan big data. Kumpulan data dalam berjumlah besar yang lalu dianalisis untuk mencari pola-polanya kini semakin diminati, baik kalangan bisnis, pemerintahan maupun organisasi masyarakat. Dari situ, maka dapat diketahui karakteristik pengguna. Jika kita membuka web atau media sosial, maka iklan yang muncul di halaman yang kita buka adalah hal-hal yang menjadi minat kita. Google map memberitahu jalanan yang macet dengan warna merah. Ini adalah contoh penggunaan big data yang telah dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. 

Bagi Nahdlatul Ulama, jika kita dapat memanfaatkan big data untuk mengetahui profil, karakteristik, dan pilihan-pilihan warga NU dalam banyak hal, tentu kita akan memiliki informasi yang sangat bermanfaat. Untuk saat ini, tahapan awal adalah bagaimana bagaimana informasi-informasi dasar tentang aktivitas organisasi dan sumber daya yang dimiliki dapat dikumpulkan dengan akurat dan terus diperbaharui.

Selama ini, selalu ada mimpi untuk bisa mengumpulkan data jumlah dan profil warga NU di seluruh Indonesia. Beragam upaya telah dicoba untuk dilakukan seperti survei atau pendataan warga melalui data yang diperoleh dari pendaftaran kartu anggota NU (Kartanu). Sayangnya, hasil yang diperoleh kurang maksimal. 

Sesungguhnya yang lebih mendesak adalah bagaimana kita mengetahui aset dan perkembangan organisasi. Misalnya, berapa banyak jumlah sekolah yang dikelola sebuah PWNU, berapa banyak muridnya, bagaimana hasil ujian akhirnya, berapa banyak yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Potensi masing-masing siswa, profil guru, kondisi sekolah beserta sarana dan prasarananya, kemampuan keuangannya dan banyak hal-hal lainnya.

Jika data tersebut dikumpulkan secara konsisten dari tahun ke tahun, informasi tersebut bisa dibandingkan dari tahun-tahun sebelumnya untuk mengetahui apakah ada tren peningkatan atau penurunan. Kita juga dapat memproyeksikan perkembangannya serta mengantisipasi kebutuhannya yang harus disiapkan di masa mendatang.

Dari situ, kita dapat menilai kinerja ketua Ma’arif NU secara lebih obyektif. Kumpulan data bidang lainnya secara keseluruhan berguna untuk menilai kinerja kepengurusan PWNU. Evaluasi berkala yang terukur memungkinkan mereka yang kinerjanya kurang maksimal segera mendapat penanganan. Hal ini akan membuat organisasi akan terus berjalan dengan baik. 

Pengukuran kinerja organisasi yang terstandarisasi di seluruh Indonesia akan memudahkan penilaian secara lebih obyektif. Selama ini, laporan-laporan pertanggungjawaban sifatnya deskriptif. Capaian dari satu periode ke periode selanjutnya tidak dapat dilakukan. Upaya membandingkan kinerja secara horisontal, misalnya dari satu PWNU ke PWNU lainnya juga susah. Dengan demikian, susah untuk menilai apakah seorang ketua wilayah sudah menjalankan amanah yang diberikan kepadanya dengan baik atau belum atau membandingkan kinerja satu ketua wilayah dengan yang lainnya. 

Jika ada alat ukur yang baik dalam menilai kinerja organisasi, maka seluruh jajaran kepengurusan NU dan perangkat organisasinya akan menjadikan hal tersebut sebagai panduan. Masing-masing bagian akan memiiki key performance indicator (KIP) atau indikator kinerja utama untuk membantu menilai mengukur kemajuan sasaran organisasi. Sistem yang baik akan membuat semua orang berkinerja baik. Sistem buruk akan membuat orang-orang berbakat tidak bisa menjalankan perannya dengan baik. 

Secara teknologi, perangkat lunak pengolah data sudah banyak tersedia dengan biaya terjangkau. NU juga memiliki kader yang siap merancang sistem dalam standarisasi. Yang perlu disiapkan adalah perubahan budaya organisasi. Mereka yang memanfaatkan NU untuk kepentingan pribadi dengan hanya aktif pada saat-saat tertentu saja akan segera ketahuan. Pengurus yang tidak aktif dengan hanya menempel nama saja juga akan segera terdeteksi. Standar evaluasi yang obyektif akan membuat mereka yang dinilai lebih mungkin menerima hasilnya. 

Tahapan pelaksanaan bisa dimulai pengukuran-pengukuran yang sederhana, lalu seiring dengan waktu, dibuat secara lebih detail. Bisa juga dengan memulai dari satu aspek yang sudah siap, misalnya bidang pendidikan dengan berbagai detailnya kemudian dikembangkan ke bidang-bidang lainnya untuk selanjutnya diintegrasikan dalam sebuah sistem besar. Tentu saja, yang diperlukan adalah tim pengolah data yang kuat. Jika ini berhasil dilakukan, maka kita akan memiliki gambaran akurat tentang organisasi dan mampu membuat kebijakan yang tepat serta bisa memproyeksikan perkembangan organisasi di masa mendatang dengan lebih baik. (Achmad Mukafi Niam)


Ahad 29 Juli 2018 12:30 WIB
Salah Kaprah Memahami Islam Nusantara
Salah Kaprah Memahami Islam Nusantara
“Islam itu sudah sempurna, tidak perlu embel-embel lagi. Islam Nusantara malah mereduksi makna Islam itu sendiri”.  Demikan di antara ungkapan ketidaksetujuan atas penggunaan istilah Islam Nusantara yang banyak beredar di media sosial. Alasan ini pula yang menjadi salah satu pertimbangan MUI Sumbar yang baru-baru ini menyatakan tidak perlunya Islam Nusantara berada di wilayah Sumatera Barat

Jika alasannya karena Islam sudah sempurna, dan tidak perlu embel-embel lagi, mengapa tak ada keberatan dengan penggunaan istilah Islam Kaffah (berarti ada Islam yang tidak kaffah), Islam Berkemajuan (berarti ada Islam yang tidak berkemajuan), Islam Wasathiyah atau Islam Moderat (berarti ada Islam yang tidak Moderat), dan sederetan istilah lainnya seperti Islam Transformatif, Islam Hadhari, atau Islam Progresif yang coba dikembangkan oleh organisasi masyarakat Islam atau intelektual Muslim? 

Bahkan ada pula yang tampaknya dengan sengaja menulis Islam Nusantara sebagai agama baru. Mereka yang ikut Islam Nusantara dianggap sudah batal keislamannya sehingga harus syahadat ulang. Jelas bagi orang seperti itu, telah merendahkan dirinya sendiri di depan publik sebagai pembuat fitnah dan berita bohong belaka. Mereka yang membagikannya di media sosial tanpa alasan jelas juga menunjukkan literasi digitalnya rendah karena membantu menyebarkan informasi hoaks di dunia maya. 

Media sosial membuat semua orang menjadi setara, siapa pun bebas berkomentar atas masalah apa pun. Mereka yang mengkaji ilmu agama bertahun-tahun dikomentari oleh anak-anak muda bersemangat agama tinggi, tapi minim pengetahuan. Memiliki pengetahuan sepotong-sepotong, yang seharusnya masih harus banyak belajar, tapi mengomentari beragam permasalahan agama. Tak menyadari bahwa dirinya masih belum banyak tahu dan dengan bangganya menjadi pasukan sorak hore kepentingan tertentu. 

Tampaknya ada orang-orang tertentu yang tidak suka dengan Nahdlatul Ulama dan apa yang datang darinya. Apa saja yang datang dari NU, perlu diawasi dan dikritisi. Yang tidak disetujui bukan lagi soal idenya, tetapi dari mana ide tersebut datang. Tapi situasi itu bukan hal yang baru bagi NU. Sejak NU didirikan, beragam dinamika terhadap pandangan keislaman sudah terjadi. Toh, NU tetap tumbuh dan berkembang serta mendapat kepercayaan dari umat. Pandangan-pandangannya makin berterima di masyarakat. Metode-metode dakwahnya bahkan diadopsi oleh mereka yang dulu menentangnya.

Baca:
Sementara NU mengakui keragaman pendapat agama dalam empat mazhab, kelompok-kelompok Islam puritan merasa bahwa hanya pandangannya saja yang benar, hanya Islamnya saja yang berhak masuk surga, hanya kitab tertentu yang boleh dibaca, dan hanya pendapat gurunya saja yang dianggap otoritatif. Tampak penuh semangat dan menarik generasi muda atau orang yang baru bersemangat dalam berislam, mereka bagai meteor yang bersinar terang, tapi kemudian cepat pudar dan akhirnya padam. Zaman telah membuktikan, gerakan-gerakan seperti itu tumbuh dan hilang berganti dengan cepat. 

Mereka yang tidak setuju Islam Nusantara mengkritiknya tanpa merujuk makna yang dikembangkan NU, melainkan membuat definisi sendiri, lalu mengembangkan makna dan tafsir atas definisi yang dibuatnya tersebut. Dari situ Islam Nusantara dikritik dan dan disebutkan sederet kesalahan-kesalahannya atas nama Al-Qur’an dan Sunnah sebagai legitimasinya. Seolah-olah para ulama NU yang membuat konsep Islam Nusantara tak paham agama dan tak merujuk pada Qur’an  dan Hadits. Seolah-olah, hanya tafsirnya saja yang dianggap otoritatif. Menghakimi tanpa melakukan tabayyun atau berdiskusi terlebih dulu. Dengan bangga paling merasa sesuai Qur’an dan Sunnah, sementara para imam pendiri mazhab saja menghargai perbedaan pandangan ulama lainnya. 

Sebagian pengkritik bahkan mengaku tak paham agama secara mendalam tapi merasa menjadi tokoh yang bisa mengomentasi apa saja, termasuk masalah agama hanya berdasarkan logikanya semata. 

Unduh: Hasil Bahtsul Masail PWNU Jawa Timur tentang Islam Nusantara
Spirit Islam Nusantara adalah penghargaan tradisi lokal yang tidak pertentangan dengan nilai-nilai agama. Di sini, Islam Nusantara kemudian dituduh anti-Arab. Padahal, Islam tidak identik dengan Arab sehingga tradisi lokal yang bersesuaian dengan nilai-nilai Islam harus dihargai dan dikembangkan. Hal ini sudah lama berjalan dan kemudian NU mendefinisikan apa yang terjadi dalam proses dakwah Islam di wilayah Nusantara ini sebagai Islam Nusantara.

Spirit ini layak dikembangkan dalam konteks kekinian ketika Islam berkembang ke seluruh pelosok dunia melalui proses migrasi dan kemudahan komunikasi. Beberapa negara tempat Muslim bermigrasi mengeluhkan soal integrasi Muslim dengan masyarakat lokal. Sikap tertutup seperti ini memunculkan kesan bahwa Islam itu eksklusif. Pesan bahwa Islam adalah agama yang memberi rahmat bagi seluruh alam tidak akan muncul melalui ekslusifitas tersebut 

Bagi Nahdlatul Ulama, masukan dan diskusi untuk membahas Islam Nusantara yang dilakukan dengan baik dan sopan, dengan pendekatan intelektual akan diterima dengan baik. NU memiliki tradisi bahtsul masail yang sangat kuat di lingkungan pesantren dan forum-forum resmi organisasi. Dalam forum itu, perdebatan-perdebatan tentang berbagai tema dilakukan secara terbuka.  Masing-masing menyampaikan argumentasi yang paling otoritatif. Dari situ, pendapat yang paling kuat yang akan disepakati. Kadang, ada ketidaksepakatan terhadap masalah tertentu yang disebut maukuf, yang nantinya akan dibahas lebih lanjut di kesempatan berbeda atau forum lebih tinggi. Konsep Islam Nusantara telah dibahas dalam forum tertinggi NU, yaitu dalam Muktamar ke-33 NU di Jombang, yang merupakan forum tertinggi organisasi.

Beragam konsep pengembangan Islam yang digagas oleh organisasi Islam atau intelektual Islam sesungguhnya memiliki irisan yang kuat. Nilai yang dikembangkan NU, yaitu tawassuth, juga dikembangkan oleh Islam Wasathiyah. NU juga dengan memiliki prinsip menjaga nilai-nilai lama yang baik dan mengambil nilai baru yang lebih baik, dan melakukan perbaikan secara terus menerus. Dengan demikian, NU juga mendorong kemajuan. NU juga menghargai dan mengembangkan Islam Berkemajuan. 

Kini kajian Islam Nusantara dikembangkan lebih lanjut di lingkungan perguruan tinggi supaya dihasilkan temuan-temuan baru dan mengembangkan pengetahuan yang sudah ada. Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta telah membuka jurusan pascasarjana program Islam Nusantara untuk strata magister yang sudah berjalan beberapa tahun dan pada 2018 ini, sudah dibuka program’ doktor Kajian Islam Nusantara. Dari situ, konsep Islam Nusantara akan dikaji lebih matang dan lebih komprehensif untuk memberi sumbangan pada peradaban Islam. Dari NU, untuk Indonesia, untuk dunia. (Achmad Mukafi Niam)
Ahad 22 Juli 2018 15:45 WIB
Menanti Inovasi Gerakan Para Pengaji dan Penghafal Al-Qur’an
Menanti Inovasi Gerakan Para Pengaji dan Penghafal Al-Qur’an
Ilustrasi (Reuters)
Organisasi para pengaji dan penghafal Al-Qur’an di lingkungan Nahdlatul Ulama, Jamiyyatul Qurra wal Huffadh NU (JQHNU) selesai sudah melakukan musyawarah tertinggi pada 15 Juli 2018 di Pondok Pesantren Assidiqiyah, Kerawang. Pemimpin baru sudah terpilih dengan amanat berat untuk menggerakkan organisasi pada era perubahan lingkungan sosial budaya yang sangat cepat dan kecenderungan mengerasnya pandangan keagamaan akibat masuknya ajaran Islam transnasional serta berkembangnya media sosial sebagai pilihan belajar keagamaan.

Tradisi menghafal Al-Qur’an sudah lama tumbuh dan berkembang di lingkungan pesantren-pesantren NU. Sejumlah pesantren secara khusus mengembangkan para menghafal Quran ini. Keberadaan JQHNU adalah untuk mewadahi tradisi yang sudah lama hidup ini. Di antara di Jawa yang sangat terkenal adalah pesantren Krapyak dan Pesantren Arwaniyah Kudus. Di dua pesantren tersebut, para penghafal Al-Quran dari seluruh Indonesia belajar dan kemudian menyebarluaskan tradisi menghafal tersebut hingga kini. Tradisi tilawah Al-Qur’an atau seni membaca Al-Qur’an kini juga berkembang luas. Banyak acara yang digelar dari tingkat lokal sampai internasional dengan intensitas yang rapat. 

Jika dulu, hanya komunitas Nahdliyin yang cukup intens dalam membaca dan menghafalkan Qur’an, kini perhatian dan minat publik untuk membaca dan menghafalkan Qur’an ini meningkat dengan pesat. Pesantren tahfidh berdiri di mana-mana dengan peminat yang luar biasa banyak, bukan hanya dari komunitas pesantren NU. Tradisi mengaji Al-Qur’an yang dikhatamkan bersama juga berkembang dalam kelompok One Day One Juz (ODOJ). Teknologi telah menembus jarak sehingga koordinasi siapa membaca juz atau surat Al-Qur’an yang ke berapa menjadi mudah dalam sebuah grup ODOJ.

Berbagai perguruan tinggi memberikan beasiswa khusus kepada para penghafal Qur’an sebagai bentuk apresiasi kepada mereka. Hanya orang-orang cerdas yang mampu menghafalkan sedemikian banyak ayat. Demikian pula, sejumlah pesantren Al-Qur’an memberikan beasiswa kepada santri yang menghafalkan Al-Qur’an. 

Satu aspek yang belum mendapat perhatian yang memadai adalah mempelajari tafsir Al-Qur’an. Belum banyak pesantren yang mengkhususkan diri dalam bidang tafsir. Pesantren tahfidh yang sudah lama dengan puluhan tahun dan melahirkan ribuan hafiz-hafizah juga belum terlihat mengarahkan kebijakannya untuk mengembangkan kurikulum dalam bidang tafsir. Bidang ini lebih banyak dikaji di perguruan tinggi Islam. 

Menghafal Al-Qur’an, bagi orang Indonesia yang berbahasa ibu bukan bahasa Arab bukan persoalan mudah dalam konteks memahami makna yang terkandung di dalamnya. Butuh kerja ekstra untuk belajar bahasa Arab dan lalu belajar metodologi tafsirnya. Jika ingin tak sekadar hafal, maka langkah-langkah tersebut harus dilakukan. Dengan perencanaan yang baik, tentu hal tersebut akan dapat dilakukan. Sangat disayangkan misalnya, sudah menghafal Al-Qur’an pada usia 20 atau 30 tahunan dan kemudian sampai usia 60 sampai 70 tahunan tetap saja berkutat pada apa yang telah dipelajari 30 tahun yang lalu. 

Penguatan aspek tafsir Al-Qur’an ini penting mengingat, belakangan ini, terdapat kelompok yang memaknai Al-Qur’an hanya secara tekstual. Memiliki semangat beragama tinggi tetapi kurang memiliki pengetahuan. Mereka berusaha menafsirkan Al-Qur’an hanya berdasarkan terjemahan saja atau sekadar menjadi jamaah kelompok pengajian. Dengan bekal sekadarnya tersebut, mereka sudah merasa paling benar dalam beragama. Adanya ahli-ahli tafsir dengan kredibilitas tinggi akan mampu menjelaskan dan menafsirkan dengan baik makna dari sebuah ayat dengan metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan. 

Persoalan lain adalah upaya politisasi ayat-ayat Al-Qur’an yang dilakukan kelompok politik tertentu untuk kepentingan mereka sendiri. Ajaran agama ditafsirkan yang menguntungkannya. Umat Islam lain, yang tidak sejalan dengan pandangan politiknya menjadi musuhnya. Para ahli tafsir bisa menetralkan penggunaan ayat-ayat untuk kepentingan politik ini kepada publik.

Penguatan kajian tafsir Al-Qur’an yang selama ini kurang menonjol sudah layaknya mendapatkan perhatian serius dalam program kerja JQHNU. Ke sanalah para penghafal harus diarahkan, menjadi intelektual agama dengan pengkhususan tafsir. Mereka akan mampu memberi pengaruh lebih besar terhadap corak keberagaman di Indonesia. Para intelektual Muslim, salah satunya para pengkaji Al-Qur’an yang mampu menanamkan pandangan agama ke isi kepala anak-anak muda yang kini rentan beralih pada kelompok radikal yang berkembang melalui dunia maya. 

Inovasi gerakan tentu bukan hal yang mudah karena membutuhkan banyak sumber daya. Tetapi hal ini akan membuat organisasi lebih dinamis, lebih menantang, dan memberi kontribusi yang lebih besar kepada pengkajian Islam di Indonesia yang kini sedang mengembangkan kekhasannya. Tafsir-tafsir baru yang lebih kontekstual diperlukan untuk menambah kekayaan kajian keagamaan seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perubahan sosial kemasyarakatan. 

Tentu saja, kerja-kerja besar tersebut tidak dapat dilakukan sendiri. Sinergi dengan perguruan tinggi Islam, Kementerian Agama, lembaga pengkaji tafsir, komunitas internasional dan pemangku kepentingan lainnya bisa dilakukan. Hasil yang dicapai juga tidak dapat diperoleh dengan instant atau seketika. Tidak jika upaya ini berhasil, akan memberi pengaruh jangka panjang dalam cara keberislaman di Indonesia yang moderat dan damai ini. (Achmad Mukafi Niam)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG