IMG-LOGO
Pesantren

Ketika Santri Sowan Kiai Dimyati Rois Ingin Kuliah

Sabtu 11 Agustus 2018 20:30 WIB
Bagikan:
Ketika Santri Sowan Kiai Dimyati Rois Ingin Kuliah
KH Dimyati Rois (foto: Fathoni Ahmad)
Oleh: Zaim Ahya’

Tahun 2011 tepatnya, saat kami lulus dari  Madrasah Aliyah Pondok Pesantren al-Fadllu Djagalan Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, beberapa dari kami ingin kuliah di IAIN (sekarang UIN) Walisongo Semarang. Kampus ini ditempuh kira-kira 15 menit dari pesantren, jika menggunakan sepeda motor. Rencananya, saya dan beberapa teman ingin tetap nyantri di pesantren, ikut kelas takhassus yang mengkaji secara bandungan dan musyawarah kitab fiqh al-Mahalli, sambil siangnya kuliah di kampus yang terletak di Semarang Barat itu.

KH Dimyati Rois, kami memanggil beliau Abah Dem, mengizinkan. Abah Dem berpesan agar kami kuliah yang benar. 

Setelah mendaftar, dan masih awal masuk kuliah, orang tua sepupu saya datang ke pondok ingin sowan Abah Dem. Saya meminta dia supaya saya di-sowan-kan juga ke Abah Dem perihal kuliah sekaligus membawa sepeda motor untuk pulang pergi ke kampus. Untuk izin membawa sepeda motor sendiri ini, yang saya tidak berani sowan sendiri. Pikir saya, senyampang ayah sepupu saya datang, sekalian nebeng sowan.

Dari awal, memang yang saya khawatirkan adalah perizinan membawa sepeda motor. Antara boleh atau tidak. Ternyata di luar dugaan, Abah Dem mengiyakan begitu saja perihal membawa sepeda motor untuk kuliah. Hanya berpesan agar hati-hati.

Justru pesan Abah Dem yang diulang sampai tiga kali, sampai saya berjalan keluar dari ndalem (kediaman), adalah agar saya ingat betul dan dipegang sungguh-sungguh selalu memakai sarung dan peci selayaknya santri saat keluar dan masuk pondok. Baru diizinkan mengganti dengan pakaian kuliah setelah keluar dari pondok.

Kira-kira kata beliau sambil tersenyum, “Nang iling yo, nek meh metu seko pondok lan muleh meng pondok yo anggo sarung, klambi dowo lan peci koyo biasane. Engko tekan ngono yo ganti. Mosok kuliah anggo sarung yo diguyu. Iling yo nang. (Nak, ingat ya, kalau mau keluar dari pondok dan pulang ke pondok, pakailah sarung, baju lengan panjang, dan peci seperti biasanya. Nanti kalau sudah sampai, ya silakan ganti pakaian. Masak kuliah pakai sarung, ya diketawain)

Memang seperti itu adanya. Di pesantren al-Fadllu, santri-santri yang nyambi kuliah di luar, keluar masuk pondok memakai sarung dan peci. Maka jangan heran jika ada santri yang berpenampilan agak berbeda, seperti beralas kaki bukan sandal tapi sepatu, yang sekarang tampaknya mulai banyak diminati. Atau di antara para santri banyak terlihat menenteng plastik kresek berisi sepatu.

Kembali ke pesan Abah Dem. Entah, selain makna tersurat, adakah makna tersirat dari pesan itu. Beberapa teman santri yang kuliah, saat saya ceritakan pesan Abah Dem itu, merespons dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang mencoba melakukan tafsir, menggali makna tersirat, namun ada juga memilih menerima pesan itu apa adanya.

Penulis ingat, Abah Dem pernah berkata bahwa banyak orang gampang terpengaruh. Statemen yang sama beliau katakan lagi, sebagai nasihat kepada santri yang bertugas jadi pembawa acara di acara Haflah Akhirrussanah menjelang liburan pondok. Saat itu santri yang bertugas mengikuti model seperti presenter Raffi Ahmad di acara Inbox, salah satu tayangan televisi swasta.

“Santri kok gampang terpengaruh,” kata Abah Dem, sambil tertawa di akhir acara, tanpa menyetop acara di tengah-tengah.

Antara pesan Abah Dem kepada santri yang mau kuliah dan nasihat Abah Dem ini, bisa jadi ada hubungannya, namun bisa tidak. Jika ada hubungannya, mungkin apa Abah pesan kepada santri yang kuliah, merupakan cara Abah Dem menjaga identitas pesantren atau santri, sekaligus memperbolehkan santri berdialektika dengan tradisi intelektual di perguruan tinggi. 

Perihal, Abah Dem memperbolehkan santrinya kuliah dan tetap bisa tinggal di pondok, namun saat kembali di ke pondok, harus dengan berpakaian santri seperti biasa. Bisa jadi ini—meminjam istilah Ahmad Baso— juga termasuk ikhtiar menjaga santri biar tetap menjadi fa’il, bukan maf’ul.

Tahun berganti tahun, dan hampir selalu ada angkatan di bawah saya, yang izin sambil kuliah, tradisi memakai atribut santri pun masih berlanjut, baik saat ngaji, mandi, tidur, bahkan roan (kerja bakti). Dan kegiatan di pondok juga tak ada yang berubah. Sorogan, bandungan, madrasah, ngaji al-Qur’an, musyawarah dan belajar wajib di malam hari, masih berlangsung seperti dulu kala. Dan satu hal lagi, yang tak berubah: tradisi ngopi bersama.

Penulis adalah santri Pondok Pesantren al-Fadllu Kaliwungu Kendal, penulis lepas dan pegiat di Idea Institut Semarang.


Bagikan:
Senin 6 Agustus 2018 0:30 WIB
Kisah Syekh Ahmad Shonhaji Membuang Kitab Jurumiyah
Kisah Syekh Ahmad Shonhaji Membuang Kitab Jurumiyah
Purworejo, NU Online
Ada metode pembelajaran yang hanya dimiliki oleh pondok pesantren, yaitu metode salafiyah. Di antara contoh aplikasi metode salafiyah ini adalah kiai  atau guru tidak berani mengaji jika belum menghadiahkan Alfatihah kepada yang mengarang kitab.

Demikian disampaikan KH Achmad Chalwani, pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo, pada acara Khataman Akhirussanah ke-40 pesantren tersebut, Sabtu (4/8) malam.

"Kiai tidak berani mengajarkan kitab Jurumiyah (ilmu gramatika Arab) sebelum menghadiahkan Fatihah kepada sang pengarang kitab, yaitu Syekh Ahmad Shonhaji," ungkapnya menggambarkan.


Baca: Kiai Chalwani Purworejo Ingatkan Hati-hati Memilih Pesantren

Kitab Jurumiyah itu, menurut Kiai Chalwani kitab yang ampuh. Setelah Syekh Shonhaji mengarang kitab Jurumiyah, kitab itu dibuang ke laut. "Sambil membuang kitab, beliau bilang 'Kalau kitab ini akan bermanfaat, walaupun aku buang ke laut, akan kembali.' Ketika Syekh Shonhaji pulang ke rumah, kitab itu sudah ada di meja kamarnya," tutur Kiai Chalwani. 

Kitab dibuang, lanjutnya, kembali sendiri. "Sementara kitab kita, tidak dibuang hilang sendiri karena tidak pernah dibaca," seloroh tokoh NU ini, diikuti gelak tawa ribuan hadirin yang mayoritas adalah para alumni dan wali santri.

Selain itu, Kiai Chalwani yang merupakan alumnus Pesantren Lirboyo, mencontoh guru-guru dan kiai-kiai Lirboyo dalam mengajarkan kitab. Kepada para dewan asatidz, ia menekankan pentingnya tawadluk dalam mengajar, karena ini merupakan salah satu metode salafiyyah.

"Saya sering menyampaikan kepada para guru di sini, 'Kamu kalau ngajar, di hati diterapkan, ana al-qaari', allaahu al-haadi. Saya hanya membacakan, Allah-lah yang ngasih petunjuk. Jangan mentang-mentang mengajar merasa ngasih petunjuk. ini tawadlu’, andap asor,” ungkapnya. “(Metode) Ini hanya dimiliki oleh pesantren,” imbuhnya.

Tak hanya itu, ia juga menjelaskan metode ittishal dan infishal di pesantren. “Metode ittishal, santri langsung menghadap guru atau kiai. Adapun metode infishal, santri menghadap pembantu kiai, menghadap para guru, qari', ustadz, tetapi hati tetap niat kepada kiai,” terangnya. (Ahmad Naufa/Kendi Setiawan)

Ahad 5 Agustus 2018 16:0 WIB
Pesantren Al-Muhajirin Sambas, Benteng Aswaja Annahdliyah di Perbatasan
Pesantren Al-Muhajirin Sambas, Benteng Aswaja Annahdliyah di Perbatasan
Pesantren Al-Muhajirin Sambas
Pondok Pesantren Al-Muhajirin Sambas didirikan oleh KH Afif Hilal pada tahun 1995. Lokasi Pesantren Al Muhajirin di Jln Natuna No 08 Sapak Hulu, Kecamatan Subah, Kabupaten Sambas, Kalimantan  Barat. 

Pesantren Al-Muhajirin memiliki visi Berdisiplin, Prestasi dalam Iptek, Unggul  dalam  Imtaq. Adapun misinya adalah Mengamalkan prinsip Islam sebagai Rahmatan lil’alamin, dan membangun generasi Islam yang bertaqwa, berpengetahuan dan berkepedulian.

Keberadaan Pondok Pesantren Al-Muhajirin mempunyai peran yang penting dalam pendidikan nilai-nilai keislaman di daerah terpencil wilayah Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Terletak di daerah pedalaman (dekat dengan wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia), masyarakat di lingkungan Pondok Pesantren Al-Muhajirin merupakan masyarakat multikultur (lokal dan transmigrasi) yang terdiri dari berbagai suku, agama, dan asal daerah, di antaranya Dayak, Melayu, Jawa, Nusa Tenggara, Sunda, Batak.

Hampir semua anak usia sekolah di wilayah tersebut khususnya pada tingkat sekolah lanjutan baik menengah maupun atas tidak dapat melanjutkan pendidikannya. Hal tersebut dikarenakan kondisi ekonomi dan tempat pendidikan yang sangat jauh. Lalu dibentuklah lembaga Yayasan Pondok Pesantren Al-Muhajirin yang berkarakter amaliyah Annahdliyah, yang menaungi lembaga pendidikan formal Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah.

Pondok Pesantren Al-Muhajirin Sambas memiliki peranan yang strategis dalam membangun generasi yang berakhlak dan berpengetahuan. Lebih dari itu, peran Pesantren Al-Muhajirin telah mampu merekatkan dari berbagai perbedaan di masyarakat yang multi etnis, budaya dan agama, sekaligus dalam sektor-sektor yang lain seperti sosial dan ekonomi dengan mengamalkan prinsip Islam rahmatan lil’alamin.

Dengan menjadi instrumen pengembangan pendidikan yang berbasis pada ajaran agama Islam di wilayah terpencil, Pondok Pesantren Al-Muhajirin tetap istiqamah dalam mendidik santri-santrinya. Dalam bidang pendidikan Yayasan Pondok Pesantren Al-Muhajirin menyelenggarakan pendidikan formal dan non formal. 

Pendidikan nonformal melalui pendidikan sistem pesantren bagi santri yang berada di Asrama Putra dan Putri dan Madrasah Diniyah Awaliyah bagi anak-anak sekitar yang tidak mukim di Asrama Pesantren. Metode pengajaran yang digunakan dengan cara klasikal dan sorogan; Al-Qur’an dan kitab kuning seperti kitab Safinah, Sulam Taufiq, Fathul Qorib, Ta’lim Muta’allim, Al-Amtsilah, Jurumiyyah. 

Selain bergerak di bidang pendidikan dan keagamaan, Yayasan Pondok Pesantren Al-Muhajirin juga berperan dalam bidang sosial kemasyarakatan melalui panti sosial. Panti sosial dibangun untuk membantu masyarakat yang kurang mampu serta anak yang terlantar agar mendapat perhatian khususnya haknya dalam belajar. Melalui ketiga peran tersebut, di tengah masyarakat yang beragam, Pondok Pesantren Al-Muhajirin telah memainkan peranan yang strategis; mampu melakukan penyebaran dan pendidikan agama yang toleran, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan untuk mewujudkan prinsip Islam rahmatan lil’alamin.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin, KH ‘Afif Hilal mengatakan peran dan kontribusi pesantren kepada masyarakat selama ini merupakan wujud dari harapan dan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga Pondok Pesantren Al-Muhajirin. Selain itu ruh dari semangat perjuangannya untuk terus mengembangkan Yayasan Pondok Pesantren Al-Muhajirin menjadi lembaga yang terus berperan aktif dalam membangun akhlak generasi bangsa.

Untuk itu pesantren dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Fasilitas berupa gedung Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah, asrama santri putra dan putri, panti sosial, mushala putri, kantor, perpustakaan, koperasi, aula. 

Sementara untuk kegiatan pegembangan kualitas santri juga didukung dengan ekstrakurikuler seperti kajian kitab-kitab kuning, pembinaan tahfidz dan tilawatil Al-Qur’an, latihan berpidato, Pramuka, pengembangan olahraga, pengembangan shalawat dan kasidah, seni beladiri karate. (Muhammad Syukri/Kendi Setiawan)

Sabtu 28 Juli 2018 18:0 WIB
Pesantren Ashiddiqiyah 3 Karawang Didik Santri dan Masyarakat
Pesantren Ashiddiqiyah 3 Karawang Didik Santri dan Masyarakat
Pondok Pesantren Asshiddiqyah Karawang merupakan bagian dari pengembangan Asshiddiqyah Jakarta sebagai induknya yang didirikan KH Nur Iskandar SQ pada pada Rabi’ul Awal 1406 H bertepatan dengan 1 Juli 1985. Pengembangan di Karawang dilakukan mulai 1992. 

Di dalam laman Asshiddiqyah disebutkan, pesantren itu didirikan dalam kapasitasnya sebagai lembaga pendidikan keagamaan dan sosial kemasyarakatan, senantiasa eksis dan tetap pada komitmennya sebagai benteng perjuangan syiar Islam.

Namanya syiar, tentu harus dikembangkan, dikembangkan lagi, dan terus dikembangkan. Makanya Asshiddiqiyah melebarkan sayapnya. Selain di  Karawang, tersebar dibeberapa daerah, yaitu Batu Ceper (Banten), Bogor (Jawa Barat), Palembang (Sumatera Selatan), Way Kanan (Lampung), Sukabumi (Jawa Barat),  dan lainnya. Jumlahnya kini ada 12. 

Pesantren di Karawang, yang terletak di Kecamatan Cilamaya, adalah pesantren nomor tiga dalam pengembangan Asshiddiqiyah dan Batu Ceper. 

Tentu saja, mengembangkan pesantren tidak semudah membalikkan tangan. Sejak berdiri pada 1992, Asshiddiqiyah Karawang jatuh-bangun di tangan empat kiai. Tidak sesuai dengan yang diharapkan Kiai Nur.

Lalu, pada 2001, pesantren tersebut digerakkan seorang kiai muda yang baru lulus menimba ilmu di Madinah, KH Hasan Nuri Hidayatullah. Pria yang akrab disapa Gus Hasan ini merupakan alumnus dari Asshiddiqiyah induk di Jakarta. Lalu nyantri di Habib Zein bi Smith di Madinah selama 4 tahun. 

Sepulang dari Madinah, ia diminta Kiai Nur untuk menangani Asshiddiqiyah Karawang. Waktu itu  Gus Hasan masih lajang dan berusia 23 tahun. Dua tahun kemudian, ia diambil mantu oleh Kiai Nur.  

Patuh pada guru dan orang tua
Di  tangan Gus Hasan, Asshiddiqiiyah Karawang dikembangkan lagi menjadi beberapa, yaitu di Karawang sendiri dan di Jonggol. Bahkan kini  telah berdiri Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Asshiddiqiiyah Karawang. Jumlah keseluruhan santri yang ditangani Gus Hasan saat ini sekitar 1200 orang. Padahal ketika ia masuk pada 2001hanya ada 30-40 santri dengan fasilitas yang minim. Hanya satu asrama puti, du kobong putra dan satu masjid.  

“Saya kembangkan menjadi ada Ashiddiqiyah dalam bentuk sekolah tinggi dua tahun ke belakang. Setahun ke belakang saya mengembangkan di Jonggol,” ungkap Gus Hasan di kediamannya, di Kompleks Asshiddiqiiyah Karawang, 14 Juli lalu. “Asshiddiqiiyah 3 ada dua, putri dan putra, Ashidiqiyah 4 hanya putra dan mahasiswa,” lanjutnya. 

Di samping itu, Asshiddiqiiyah 3 menyelenggarakan pendidikan dalam beberapa jenjang mulai Madrasah Ibtidaiyah, Tsanwiyah, Aliyah, SMK dan SMA. Semua siswa dan siswi, kecuali Madrasah Ibtidaiyah, berada dan tinggal di asrama. 

Selain mendidik santri, Asshiddiqiiyah 3 mengadakan pengajiian untuk masyarakat. Setahun setelah berada di pesantren itu, Gus Hasan membuka pengajian umum setiap Rabu malam.  

“Pada tahun 2002 saya langsung mengadakan pengajian. Sambil silaturahim ya sambil mengaji. Mula-mula ada berapa orang, dua, tiga orang. Awal-awal di teras rumah ngajiinya,” kata Ketua PWNU Jawa Barat ini. 

Kini, pengajian yang mengupas Tafsir Jalalayn tersebut makin diikuti banyak jamaah. Jumlahnya ribuan. Tidak hanya desa terdekat, tapi melampaui batas kecamatan dan kabupaten.

“Ya kalau cuacanya bagus, orang-orang banyak yang kosong kegiatan, tidak ada hajatan, kadang sampai seribu. Di depan itu full itu. Apalagi pas maulid. Semuanya karena Allah. Kita ini, tanpa pertolongan Allah tidak apa-apa,” ungkap Gus Hasan. 

Keberhasilannya dalam mengembangkan pesantren dan pengajian bersama masyarakat, menurut Gus Hasan adalah patuh kepada perintah guru dan orang tua. Kedua, banyak silaturahim dengan masyarakat setempat. (Abdullah Alawi)


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG