::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ketika Santri Sowan Kiai Dimyati Rois Ingin Kuliah

Sabtu, 11 Agustus 2018 20:30 Pesantren

Bagikan

Ketika Santri Sowan Kiai Dimyati Rois Ingin Kuliah
KH Dimyati Rois (foto: Fathoni Ahmad)
Oleh: Zaim Ahya’

Tahun 2011 tepatnya, saat kami lulus dari  Madrasah Aliyah Pondok Pesantren al-Fadllu Djagalan Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, beberapa dari kami ingin kuliah di IAIN (sekarang UIN) Walisongo Semarang. Kampus ini ditempuh kira-kira 15 menit dari pesantren, jika menggunakan sepeda motor. Rencananya, saya dan beberapa teman ingin tetap nyantri di pesantren, ikut kelas takhassus yang mengkaji secara bandungan dan musyawarah kitab fiqh al-Mahalli, sambil siangnya kuliah di kampus yang terletak di Semarang Barat itu.

KH Dimyati Rois, kami memanggil beliau Abah Dem, mengizinkan. Abah Dem berpesan agar kami kuliah yang benar. 

Setelah mendaftar, dan masih awal masuk kuliah, orang tua sepupu saya datang ke pondok ingin sowan Abah Dem. Saya meminta dia supaya saya di-sowan-kan juga ke Abah Dem perihal kuliah sekaligus membawa sepeda motor untuk pulang pergi ke kampus. Untuk izin membawa sepeda motor sendiri ini, yang saya tidak berani sowan sendiri. Pikir saya, senyampang ayah sepupu saya datang, sekalian nebeng sowan.

Dari awal, memang yang saya khawatirkan adalah perizinan membawa sepeda motor. Antara boleh atau tidak. Ternyata di luar dugaan, Abah Dem mengiyakan begitu saja perihal membawa sepeda motor untuk kuliah. Hanya berpesan agar hati-hati.

Justru pesan Abah Dem yang diulang sampai tiga kali, sampai saya berjalan keluar dari ndalem (kediaman), adalah agar saya ingat betul dan dipegang sungguh-sungguh selalu memakai sarung dan peci selayaknya santri saat keluar dan masuk pondok. Baru diizinkan mengganti dengan pakaian kuliah setelah keluar dari pondok.

Kira-kira kata beliau sambil tersenyum, “Nang iling yo, nek meh metu seko pondok lan muleh meng pondok yo anggo sarung, klambi dowo lan peci koyo biasane. Engko tekan ngono yo ganti. Mosok kuliah anggo sarung yo diguyu. Iling yo nang. (Nak, ingat ya, kalau mau keluar dari pondok dan pulang ke pondok, pakailah sarung, baju lengan panjang, dan peci seperti biasanya. Nanti kalau sudah sampai, ya silakan ganti pakaian. Masak kuliah pakai sarung, ya diketawain)

Memang seperti itu adanya. Di pesantren al-Fadllu, santri-santri yang nyambi kuliah di luar, keluar masuk pondok memakai sarung dan peci. Maka jangan heran jika ada santri yang berpenampilan agak berbeda, seperti beralas kaki bukan sandal tapi sepatu, yang sekarang tampaknya mulai banyak diminati. Atau di antara para santri banyak terlihat menenteng plastik kresek berisi sepatu.

Kembali ke pesan Abah Dem. Entah, selain makna tersurat, adakah makna tersirat dari pesan itu. Beberapa teman santri yang kuliah, saat saya ceritakan pesan Abah Dem itu, merespons dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang mencoba melakukan tafsir, menggali makna tersirat, namun ada juga memilih menerima pesan itu apa adanya.

Penulis ingat, Abah Dem pernah berkata bahwa banyak orang gampang terpengaruh. Statemen yang sama beliau katakan lagi, sebagai nasihat kepada santri yang bertugas jadi pembawa acara di acara Haflah Akhirrussanah menjelang liburan pondok. Saat itu santri yang bertugas mengikuti model seperti presenter Raffi Ahmad di acara Inbox, salah satu tayangan televisi swasta.

“Santri kok gampang terpengaruh,” kata Abah Dem, sambil tertawa di akhir acara, tanpa menyetop acara di tengah-tengah.

Antara pesan Abah Dem kepada santri yang mau kuliah dan nasihat Abah Dem ini, bisa jadi ada hubungannya, namun bisa tidak. Jika ada hubungannya, mungkin apa Abah pesan kepada santri yang kuliah, merupakan cara Abah Dem menjaga identitas pesantren atau santri, sekaligus memperbolehkan santri berdialektika dengan tradisi intelektual di perguruan tinggi. 

Perihal, Abah Dem memperbolehkan santrinya kuliah dan tetap bisa tinggal di pondok, namun saat kembali di ke pondok, harus dengan berpakaian santri seperti biasa. Bisa jadi ini—meminjam istilah Ahmad Baso— juga termasuk ikhtiar menjaga santri biar tetap menjadi fa’il, bukan maf’ul.

Tahun berganti tahun, dan hampir selalu ada angkatan di bawah saya, yang izin sambil kuliah, tradisi memakai atribut santri pun masih berlanjut, baik saat ngaji, mandi, tidur, bahkan roan (kerja bakti). Dan kegiatan di pondok juga tak ada yang berubah. Sorogan, bandungan, madrasah, ngaji al-Qur’an, musyawarah dan belajar wajib di malam hari, masih berlangsung seperti dulu kala. Dan satu hal lagi, yang tak berubah: tradisi ngopi bersama.

Penulis adalah santri Pondok Pesantren al-Fadllu Kaliwungu Kendal, penulis lepas dan pegiat di Idea Institut Semarang.