IMG-LOGO
Trending Now:
Nasional

Bantuan NU untuk Korban Gempa di Lombok Telah Diterima Warga

Ahad 12 Agustus 2018 11:0 WIB
Bagikan:
Bantuan NU untuk Korban Gempa di Lombok Telah Diterima Warga
Relawan NU di Lombok menerima warga.
Mataram, NU Online
Tim Kemanusiaan NU Jawa Timur telah berada di Lombok, Nusa tenggara Barat dan memastikan warga di sana memperoleh bantuan yang dibutuhkan. 

“Sampai dengan hari ini, bantuan dari PWNU Jatim berupa bahan pokok makanan, sarung, selimut, air mineral, tikar, dan terpal sudah terdistribusi tepat sasaran yakni mereka yang membutuhkan,” kata M Ghofirin, Ahad (12/8). 

Sejak berada di Lombok, Tim Kemanusiaan NU Jatim telah bergabung dengan tim untuk memastikan koordinasi dan aksi yang mendesak dilakukan bersama. Termasuk membagikan berbagai bantuan kepada korban gempa yang berada di sejumlah titik rawan.

“Bantuan telah kami sebar di 16 titik desa yang ada di Lombok Utara, Lombok Barat, dan Lombok Timur,” ungkapnya.

Secara rinci, M Ghofirin menyebutkan dusun atau desa yang mendapat bantuan dari NU Jatim. Dusun Lekok, Gondang, Gangga, Dusun Teluk Nere, Desa Malaka, Pemenang, Dusun Terengan Lauq, Pemenang, Dusun Monggal, Desa Genggelang, Gangga, Dusun Jeruju, Mumbul Sari yang semuanya di Kabupaten  Lombok Utara.

Untuk Kabupaten Lombok Barat yakni Desa Lingsar, Kecamatan  Lingsar, Desa Batu Layar, Baru Layar, Desa Sentong, Kayangan, Desa Selat, Narmada, Desa Tegal, dan Langko di Kecamatan Lingsar, serta Desa Teniga, Tanjung. Juga Dusun Montong Tangar, Desa Batukumbang, Lingsar.

“Kawasan Kodya Mataram adalah Desa Karang Puluh, Kecamatan Cakra Negara,” ungkapnya. Sedangkan Lombok Timur meliputi Dusun Medas, Desa Obel-obel, Sambelia, serta Dusun Bawaknao, Desa Sajang, Sembalun, lanjutnya.

Menurutnya, banyak hal yang dilakukan bersama tim gabungan. “Sejak kemarin sore sudah berdiri dapur umum yang menyediakan makanan siap saji dengan kapasitas dua ribu bungkus setiap harinya,” jelasnya. Dapur umum tersebut berada di Dusun Rangsot Barat, Desa Sigar Penjalin, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara, lanjutnya.

Secara khusus, M Ghofirin menyampaikan penghargaan dan rasa terima kasih atas kesigapan warga Jawa Timur dalam membantu saudara di Lombok. “Atas nama Relawan Kemanusiaan NU Jatim yang berada di lokasi bencana mengucapkan ribuan terima kasih atas segala bantuannya. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita semua,” pungkasnya.

Tim kemanusiaan  yang dibentuk PWNU Jatim hasil kerja bersama berbagai elemen di NU seperti TV9 Peduli, NU Care-LAZISNU, SERNU, LPBINU, LKNU, Asosiasi Rumah Sakit NU (Arsinu), Perkumpulan Dokter (PDNU), beberapa perguruan Tinggi NU antara lain Unisma, Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang, Unusa, Banser Cyber, Santricare dan sejumlah elemen lain.

Untuk dana, hingga kini telah terkumpul yakni dari rekening TV9 Peduli RP 145,778,948 dan LAZISNU Rp. 260.204.600. Sehingga total donasi sebesar RP  405.983.548,- 

Masih terbuka kesempatan kepada para simpatisan untuk turut menyalurkan donasi melalui rekening #AksiBersama Tim Kemanusiaan NU Jatim lewat Rekening TV9 Peduli BCA 2582347272 dan NUcare Lazisnu Jatim BTN Syariah 7063066060. (Ibnu Nawawi)

Tags:
Bagikan:
Ahad 12 Agustus 2018 23:59 WIB
Bagi yang Sudah Mampu, Sebaiknya Menyegerakan atau Menunda Haji?
Bagi yang Sudah Mampu, Sebaiknya Menyegerakan atau Menunda Haji?
Jakarta, NU Online
Pengasuh Pesantren Cendekia Amanah KH Cholil Nafis mengatakan, ulama berbeda pendapat tentang apakah orang yang sudah diwajibkan untuk melaksanakan ibadah haji harus menyegerakan Haji (al faur) atau boleh saja  menundanya pada tahun berikutnya (al-tarakhi).

“Menurut Jumhur ulama hukum orang yang sudah mampu melaksanakan haji wajib menyegerakan haji, karena kita diperintahkan oleh hadits Nabi Muhammad saw. untuk segera berhaji bagi yang sudah mampu,” kata Kiai Cholil kepada NU Online, Ahad, (12/8). 

Kiai Cholil menuturkan, hal itu berbeda dengan pendapat Imam Syafi’i. Menurut Imam Syafi’i, seseorang yang sudah mampu melaksanakan haji boleh menunda pelaksanaan ibadah haji pada tahun berikutnya. Dalilnya, haji diwajibkan pada tahun ke-6 Hijriyah namun Nabi Muhammad saw. baru melaksanakannya pada tahun ke-10 Hijriyah.

“Pendapat ini tidak mengharuskan segera berhaji bagi yang mampu tapi boleh saja menundanya. Hal ini sama dengan waktu shalat yang tak mengharuskan shalat seusai adzan secara langsung tetapi boleh memilih di antara beberapa saat di waktu shalat yang luas itu,” jelasnya. 

Ketua Komisi Dakwah MUI ini menambahkan, menyikapi perbedaan ulama tersebut dan melihat fenomena daftar tunggu haji di Indonesia yang mencapai 20 hingga 30 tahun maka sebaiknya mereka yang sudah mampu wajib untuk segera mendaftar berangkat haji.  

“Menurut pemikiran saya, bagi yang sudah mampu hukumnya wajib untuk menyegerakan mendaftar berangkat haji,” katanya.  

Lalu bagaimana hukumnya mereka yang sengaja tidak mendaftar atau menunda daftar haji? 

“Jika ia sengaja untuk tidak atau menunda mendaftarkan dirinya maka ia berdosa. Sebab dengan model antrean yang panjang pasti pendaftar haji tak bisa langsung berangkat padahal kita tak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, termasuk apakah umur masih panjang,” urainya.

Menurut Kiai Cholil, orang yang sudah mendaftar haji berarti ia sudah berupaya untuk melaksanakan ibadah haji meskipun harus menunggu giliran antri. Hal ini dapat menggugurkan dosa orang yang wajib haji meskipun mereka belum melaksanakannya. 

“Anjuran saya, marilah orang yang sudah mampu menyegerakan untuk membayar setoran haji agar menggugah kesadaran berhaji dan bagi yang sudah mampu dapat menggugurkan dosa karena belum melaksanakan kewajiban haji,” jelasnya.  

Sesuai dengan apa yang disebutkan Al-Qur’an dan dirumuskan para ulama, orang yang sudah baligh, berakal, dan memiliki kemampuan –baik fisik atau pun harta- maka wajib melaksanakan ibadah haji sekali dalam seumur hidup. 

“Berpahala jika dikerjakan dan berdosa manakala ditinggalkan,” tegasnya. (Muchlishon)
Ahad 12 Agustus 2018 22:46 WIB
Ketum PBNU: Islam Nusantara Harmoni antara Agama dan Budaya
Ketum PBNU: Islam Nusantara Harmoni antara Agama dan Budaya
Jakarta, NU Online 
Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta mengundang Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj untuk menjelaskan Islam Nusantara pada acara Silaturahim dan Pengarahan pada Jajaran Pengurus Wilayah NU Jakarta. Acara tersebut diselenggarakan di Gedung PWNU DKI Jakarta, Jakarta Timur, Ahad (12/8) dengan mengusung tema Islam Nusantara Perekat Indonesia NU untuk Dunia

Ketua panitia KH Ahmad Zahari mengatakan bahwa diangkatnya tema Islam Nusantara agar Kiai Said menjelaskan Islam Nusantara kepada para pengurus NU DKI Jakarta. 

Menurutnya, masih banyak orang yang belum paham terhadap Islam Nusantara. Selain itu, PWNU resah atas celaan dari kelompok-kelompok yang tidak sependapat, bahkan mencela istilah yang digaungkan PBNU tersebut. 

"Agar Ketua Umum menjelaskan Islam Nusantara, agar nanti menyampaikan dari sumber yang sama. Karena Islam Nusantara itu sedang gencar-gencarnya diserang oleh tetangga sebelah. Dia (kelompok pembenci) kan tidak bisa menciptakan karya. Bisanya mencela saja," ucapnya. 

Permintaan PWNU DKI Jakarta tersebut langsung ditanggapi Kiai Said dengan menjelaskannya. Menurut Kiai Said, Islam Nusantara bukan sebuah mazhab atau aliran, melainkan identitas atau ciri khas, yakni terjalin secara harmoni antara agama dan budaya. 

"Inilah yang saya maksud dengan Islam Nusantara," ucapnya. 

Ia menegaskan bahwa NU tidak membenci Arab. Hanya saja, terkait budaya, Kiai Said mengingatkan masyarakat bahwa Indonesia juga mempunyai budaya yang tidak kalah baik daripada Arab. 

"Tidak benci Arab. Tidak. Tapi kita punya budaya. Saya tidak anti-Arab," jelasnya.

Hadir pada kesempatan itu, Ketua PWNU DKI Jakarta H Saefullah, Wakil Katib Syuriyah KH Taufik Damas, dan Wakil Sekretaris PWNU Husni Mubarok Amir (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Ahad 12 Agustus 2018 22:1 WIB
Imam Besar Istiqlal: Jangan Jadikan Al-Qur’an Alasan untuk Membenci
Imam Besar Istiqlal: Jangan Jadikan Al-Qur’an Alasan untuk Membenci
Bogor, NU Online
Untuk menjalin silaturahim antarwarga Nahdliyin di lingkungan Kabupaten Bogor, Ranting Istimewa NU Citra Indah City, Kecamatan Jonggol menggelar Halal bi Halal dan Istighotsah, Ahad (11/8) malam. Hadir dalam kegiatan yang dilaksanakan di Masjid Al-Ittihad, Bukit Menteng, Citra Indah City itu, Imam Besar Masjid Istiqlal, KH Nasharuddin Umar.

Sesuai tema yang diusung Memperkokoh Ukhuwah Islamiyyah, Wathoniyah dan Menjaga NKRI, Mustasyar PBNU ini banyak menjelaskan tentang hakikat cinta dalam Al-Quran dan yang seharusnya diimplementasikan dalam kehidupan antarsesama, khususnya di Indonesia.

"Di Indonesia, umat Islam ada yang suka shalawatan, merayakan Maulid ada yang suka memanjangkan jenggot, memakai celana cingkrang. Tidak ada yang salah dengan semuanya itu. Yang salah kalau saling menyalahkan," ujarnya yang sebelumnya memaparkan tentang kondisi umat Islam di Indonesia. 

Lebih lanjut, kiai asal Sulawesi Selatan itu memaparkan tentang ummul kitab, yakni Alfatihah serta bismillahirrahmanirrahim sebagai ayat pertama Al-Quran.

"Kalau ada yang bilang bismillahirrahmanirrahim itu tidak termasuk ayat Al-Quran, sama saja merusak Al-Quran itu. Sebab, sudah menjadi hitungan bahwa jumlah Bismillah dalam Al-Quran 114 yang bisa dibagi 19. Bismillah mengawali semua surat dalam Al-Quran kecuali Surat At-taubah yang tidak diawali dengan Bismillah. Jumlah surat Al-Quran 113, lalu di mana Bismillah yang menggenapkan jumlahnya 114, yang menggenapkannya adalah Bismillah yang ada dalam Surat An-Naml ayat 30," paparnya panjang lebar. 

Lebih lanjut dijelaskan pula bahwa inti dari Al-Quran adalah Alfatihah, sebagai ummul quran, dalam ayat pertama Alfatihah ada pembelajaran tentang kasih sayang "bismillahirrahmanirrahim" dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. 

"Inti Al-Quran itu cinta dengan kasih sayang, jadi jangan jadikan Al-Quran alasan untuk membenci," pungkasnya menandaskan bahwa salah jika ada orang yang menjadikan Al-Quran sebagai alasan membenci serta menyalahkan orang lain yang berbeda penafsiran dalam memahaminya. (Nidhomatum MR/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG