IMG-LOGO
Daerah

LDNU Jombang: Ilmu yang Dangkal Cenderung Menyesatkan

Ahad 12 Agustus 2018 16:30 WIB
Bagikan:
LDNU Jombang: Ilmu yang Dangkal Cenderung Menyesatkan
Ketua LDNU Jombang, Aang Fatihul Islam
Jombang, NU Online
Ketua Pengurus Cabang (PC) Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Jombang Aang Fatihul Islam menegaskan, para ustadz yang tengah naik daun perlu berhati-hati dalam menafsirkan Al-Qur'an agar tidak meresahkan bahkan menyesatkan masyarakat.

Perihal ini menurut pandangannya, tak hanya Evie Effendi yang belakangan diketahui menafsirkan Al-Qur'an dengan tidak tepat, namun beberapa ustadz sebelumnya juga melakukan hal yang serupa. Bahkan menurutnya, tidak menutup kemungkinan masih akan muncul sejumlah ustadz yang demikian.

Evie Effendi sempat viral saat mengatakan memperingati maulid Nabi Muhammad seolah memeringati sesatnya Nabi Muhammad. Karena menurutnya, Nabi Muhammad dilahirkan dalam keadaan sesat.

"Pertanyaannya kemudian yang sesat ini Nabi Muhammad ataukah cara ia berfikir yang sesat?," jelasnya sembari bertanya-tanya, Ahad (12/8).

Fenomena ini terjadi akibat adanya kesalahan penafsiran Al-Qur'an yang hanya melihat dari terjemahan tanpa melihat konteksnya, sehingga terjadilah peyimpangan cara berfikir. "Sebenarnya penyimpangan semacam ini sudah pernah digambarkan sejak zaman Rasulullah SAW dulu," jelasnya.

Di samping itu, imbuhnya, kesesatan pemahaman ini terjadi karena kedangkalan pemahaman atau dalam istilahnya ta'wil yang dilakukan oleh orang-orang yang dangkal ilmunya/bodoh (ta'wil al-jahilin) yang menafsirkan Al-Qur'an dengan penafsiran yang salah.

Ia kemudian mengutip ceramahnya Evie yang mengacu pada QS Ad-Dhuha ayat 7 'ووجدك ضالافهدى (wawajadaka dhollan fahadaa) dengan serta merta mengatakan bahwa kata dhallan dalam ayat tersebut diartikan sebagai sesat oleh sang ustaz. Ayat tersebut diterjemahkan menjadi "ketika Allah mendapatimu dalam keadaan sesat lalu Allah memberimu petunjuk". 

"Terjemah semacam ini berbeda dengan terjemahan Kemenag "Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk". Tentu menerjemahkan kata dhall dalam konteks surat ini sebagai sesat amat sangat berbahaya," ungkapnya.

Dosen di STKIP PGRI Jombang ini menambahkan, dari beberapa kitab tafsir (Tafsir At-thabari, Tafsir Fi Zhilalil Qur'an, dan tafsir Ibnu Katsir) tidak ada satupun yang menyatakan bahwa kata 'dhallan' marujuk pada kesesatan Nabi Muhammad SAW. 

"Bahkan tidak ada ulama yang mengatakan Nabi Muhammad itu lahir dalam keadaan sesat," tuturnya. (Syamsul Arifin/Muiz)
Bagikan:
Ahad 12 Agustus 2018 23:30 WIB
KKM STISNU Tangerang Bedah Rumah Warga dan Khitanan Masal
KKM STISNU Tangerang Bedah Rumah Warga dan Khitanan Masal
KKM STISNU Tangerang bedah rumah warga
Tangerang, NU Online
Mahasiswa STISNU Tangerang melakukan Kerja Kuliah Mahasiswa (KKM) di Desa Sukamulya Tangerang sejak 21 Juli 2018. Mereka akan melakukan pengabdian di sana selama satu bulan. Hingga saat ini banyak program-program unggulan yang sudah dirasakan masyarakat Sukamulya.

Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan STISNU Nusantara Tangerang Bahrudin kepada NU Online di Kantor STISNU Nusantara Tangerang, Ahad (12/8) Pagi.

Alhamdulillah, mahasiswa STISNU bisa di terima masyarakat. Semoga program KKM STISNU ini membawa manfaat dan keberkahan buat masyarakat sekitar,” terangnya.

Ia menambahkan, salah satu programnya adalah khitanan masal. Kelompok KKM mahasiswa menginisiasi ada khitanan masal. Ada sekitar 30 anak yang ikut dalam program tersebut. Sebelumnya, ada bedah rumah warga tak layak.

“Minggu kemarin (5/8), kelompok satu ada bedah rumah tak layak. Sekarang, ada khitanan masal. Semoga selanjutnya ada program lainnya yang bisa dirasakan warga Sukamulya,” terangnya.

Menurutnya, rumah yang di bedah memang sangat tidak layak huni. Pemerintah setempat saja baru mengetahui, jika ada warganya yang memiliki rumah tak layak huni. Dengan keberadaan KKM STISNU ikut membantu program pemerintah daerah dan mensejahterakan warga.

“Dana untuk bedah rumah dan khitanan masal itu hasil patungan mahasiswa. Mereka berinisiatif membuat kaos. Keuntungannya untuk kegiatan bedah rumah. Sebagian sumbangan dari Kecamatan, Polda dan TNI setempat,” pungkasnya. (Suhendra/Muiz)

Ahad 12 Agustus 2018 23:0 WIB
HUT KE-73 RI
NU Demak Instruksikan Pasang Bendera NU Dampingi Merah Putih
NU Demak Instruksikan Pasang Bendera NU Dampingi Merah Putih
PCNU Demak Instruksikan pasang bendera NU
Demak, NU Online
Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-73, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulamma (PCNU) Kabupaten Demak Jateng menginstruksikan kepada seluruh jajaran pengurus, lembaga, badan otonom di semua tingkatan untuk memasang Bendera NU mendampingi Bendera Merah Putih mulai tanggal 14 Agustus sampai tanggal 27 Agustus 2018.

Pemasangan bendera NU mendampingi Bendera merah putih dimaksud memberikan penjelasan dan pemahaman pada masyarakat Indonesia khususnya warga NU di mana andil perjuangan dan kiprah para pejuang NU dalam merebut kemerdekaan dari kaum penjajah, sehingga harus merasa memiliki negaranya sendiri.

“Kami instruksikan kepada seluruh pengurus di semua tingkatan untuk memasang bendera NU mendampingi bendera Merah Putih termasuk di kantor MWC, lembaga maupun sekolah Maarif NU,” ujar Ketua NU Cabang Demak KH Muhammad Aminuddin Alawi pada pembukaan Bahtsul Masail NU Cabang putaran Ke-2 di Kantor MWC NU Demak Jalan Raya Buko – Berahan Wedung Demak Jateng , Ahad (12/8).

Lebih lanjut Aminudin menjelaskan, dalam teknis pemasangan bendera NU diharapkan mengikuti aturan baku yang selama ini diterapkan selama ini mulai dari ukuran bendera, beda tinggi antara bendera merah putih dengan bendera organisasi, di samping itu khusus lembaga banom dan Kantor MWC pemasangannya mininal lima buah bendera baik Merah Putih maupun bendera NU secara berdampingan.

“Kami harap tiap MWC lembaga dan sekolah untuk memasang minimal 5 buah,  dalam pemasangan nanti harus pakai aturan, merah putih lebih tinggi dibandingkan dengan bendera NU,” jelasnya.

Sementara itu Rais PCNU Demak KH Zaenal Arifin Ma’shum menekankan pada pentingnya kecintaan pada tanah air yang sudah susah payah direbut oleh para pejuang sesuai pesan Rois Akbar KH Hasyim Asy’ari.

“Negara ini kita yang memiliki, kita sendiri yang memerdekakan. Maka, cintailah dan pertahankanlah,” imbuhnya.

Bahtsul masail tingkat cabang tersebut dihadiri Pengurus Cabang, Pengurus MWC, lembaga dan badan otonom NU tingkat cabang dan Pengurus Ranting Se Kecamatan Wedung. (A Shiddiq Sugiarto/Muiz)
Ahad 12 Agustus 2018 22:45 WIB
Ini Alasan Pergunu Jepara Studi Banding ke Amanatul Ummah Mojokerto
Ini Alasan Pergunu Jepara Studi Banding ke Amanatul Ummah Mojokerto
Pergunu Jepara study banding ke Mojokerto
Jepara, NU Online 
Pimpinan Cabang (PC) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu)  dan Kelompok Kerja Madrasah Aliyah (KKMA) 02 Jepara Jawa Tengah melaksanakan kegiatan studi banding ke Pesantren Amanatul Ummah Pacet, Mojokerto, Sabtu (11/8) kemarin. 

Studi banding diikuti pengurus Pergunu Jepara dan 38 Kepala Madrasah Aliyah yang bernaung di bawah LP Maarif NU Kabupaten Jepara.   

Ketua PC Pergunu Jepara Nur Khandir menyatakan, dipilihnya Pesantren Amanatul Ummah karena lembaga berbasis pesantren tersebut berhasil mengelola lembaga pendidikan mulai SMP Akselerasi, SMP Unggulan, Madrasah Internasional, maupun lembaga yang lain. 

“Tiap tahun lebih dari 100 lulusannya di terima Perguruan Tinggi (PT) favorit di Indonesia. Separohnya masuk fakultas Kedokteran,” terangnya dalam siaran persnya. 

Lulusannya masih menurutnya berhasil mendapat beasiswa studi di Jepang, Korea, Maroko, Turki, Jerman Australia, Finlandia, maupun di negara yang lain. Yang patut diacungi jempol Pesantren ini pernah mendapat penghargaan The Best Famous School. 

Rombongan Pergunu dan KKMA 02 Jepara di Amanatul Ummah disambut langsung KH Asep Saifuddin Chalim pengasuh pesantren yang juga Ketua Umum PP Pergunu. 

Dalam paparannya Kiai Asep menyampaikan 2 kunci sukses Amanatul Ummah. Pertama, guru yang baik dan sistem yang kompetitif. “Guru harus terus menjelaskan sampai muridnya mengerti, dan murid harus terus bertanya sampai dia mengerti,” terangnya. 

Sehingga lembaga pendidikan dituntut tidak hanya mengikuti standar pendidikan dari pemerintah tetapi harus lebih dari itu. 

Kesempatan itu Kiai Asep juga menambahkan murid harus mengamalkan beberapa amaliah di antaranya birrul walidain (berbuat baik kepada kedua orang tua), menjaga wudlu, berhenti makan sebelum kenyang, dan lain sebagainya. 

Hal lain lain disampaikan H Suwiganto, Ketua KKMA 02 Jepara. Dia berharap meskipun tidak semua bisa “diduplikat” namun poin-poin pengalaman dari Amanatul Ummah bisa dicoba di madrasah masing-masing. (Syaiful Mustaqim/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG