IMG-LOGO
Wawancara

PWNU Jateng Menyeimbangkan Peran Diniyah dan Ijtimaiyah NU

Kamis 16 Agustus 2018 18:0 WIB
Bagikan:
PWNU Jateng Menyeimbangkan Peran Diniyah dan Ijtimaiyah NU
Ketua PWNU Jawa Tengah KH Muzammil
Selain Jawa Timur, Jawa Tengah termasuk daerah yang memiliki Nahdliyin yang besar. Para pendiri NU juga sebagian berasal dari Jawa Tengah misal KHR. Asnawi dari Kudus dan KH Ma'shum Lasem. Dari waktu ke waktu, jumlah Nahdliyin tetap terjaga di wilayah tersebut melalui pesantren dengan kiai dan para santrinya. Serta para pengurus NU sendiri. 

Selama ini, NU dikenal dalam upaya menjaga pemikiran, pergerakan dan amaliah Ahlussunah wal Wajamaah. Karena situasi makin berubah berdasarkan kebutuhan masyarakat yang juga berganti, Pengurus NU di wilayah tersebut tidak hanya bergerak dalam bidang keagamaan, tapi sosial semacam pendidikan, ekonomi dan kesehatan. 

Belum lama ini, PWNU Jawa Tengah berganti. Semula dipimpin duet KH Ubaidillah dan Abu Hafsin. Kini duet KH Ubaidillah dan KH Muzammill. Bagaimana upaya Jawa Tengah untuk memperkuat bidang sosial tanpa meninggalkan peran keagamaannya? Untuk mendapatkan penjelasan itu, Abdullah Alawi dari NU Online berhasil mewawancarai KH Muzammil. Berikut Petikannya: 

Setelah terpilih sebagai Ketua PWNU Jawa Tengah, mimpi besarnya apa, paling tidak selama lima tahun ke depan? 

Di hasil konferensi kemarin ka nada 7 bidang ya, yaitu bidang organissi, pendidikan, pendidikan tinggi, komisi publik, lalu ada perekonomian, ada kesehatan, lalu juga pemberdayaan kader. Ini kita upayakan dibagi tugas dengan lembaga-lembaga. Insyaallah itu didistribusikan ke lembaga-lembaga. Wilayah, kita koordinatif. Fungsi komunikasi, koordinasi, sinkronisasi, nah ini yang dilakukan PW ke depan. 

Di Jawa Tengah dari sisi kultur kan masyarakat luar biasa, Ahlussunah wal Jamaah luar biasa, tinggal dari penguatan kelembagaannya. Kita dorong semua struktur kepengurusan Nahdlatul Ulama ini supaya bisa menjalankan tugas dan fungsinya untuk mengemban amanat anggaran dasar dan anggaran rumah tangga nahdlatul ulama. Dengan sendirinya kalau itu terwujud ya seratus tahun NU akan bisa  berjalan  sperti yang kita harapkan. Cuma memang tantanganya sangat berat karena pangaruh-pengaruh era informasi sekarang ini harus sering melakukan tabayun. Termasuk kita juga mohon apa arahan-arahan pengurus besar, kesepuhan-kesepuhan yang ada di Jawa Tengah. Ini adalah sesuatu yang penting untuk dilakukan. Selain untuk juga memberdayakan yang masih muda. Yang di IPNU, IPPNU, kemudian Gerakan Pemuda Ansor, kemudian Pencak SIlat Pagar Nusa, dan semua banom kan banyak sekali di lingkungan NU, ada ISNU, toriqoh urang tua kita semua. 

Bagaimana Kiai memastikan 7 program dipastikan berjalan dengan baik?

Nanti kita rapatkan untuk ditentukan skala prioritasnya. Yang mana dulu yang harus kita prioritaskan. Yang mungkin bisa kita lakukan. Dan juga kita nanti mohon sumber daya yang lebih dari supervisi maupun dari kalangan fungsional penting diajak untuk bareng-bareng.

Tujuannya supaya NU itu lebih terasa di masyarakat bagaimana?

Ya, supaya NU lebih terasa kemanfaatannya di masyarakat. Selama ini kan dari sisi keagamaan kan ya. Dari sisi diniyah itu luar biasa, diasuh oleh kiai-kiai. Nah, tinggal dari sisi ijtimaiyahnya, kemasyarakatannya, bagaimana supaya NU bisa punya peranan di persoalana-persoalan ijtimaiyah. Masyarakat yang sekarang ini ada ini kan dulu dibangun oleh ulama-ulama terdahulu. Masyarakat ke depan ya, dibangun oleh ulama-ulama sekarang. Meskipun kemampuan kita jauh berbeda dengan kesepuhan-kesepuhan terdahulu, tapi setidaknya kita punya niat berkhidmah di dalam Nahdlatul Ulama. 

Menurut taksiran, NU Jawa Tengah mampu tidak untuk melakukan peran-peran itu? 

Ya, sudah dimulai oleh kepengurusan-kepengurusan sebelumnya, dan kita tinggal melanjutkan kebaikan-kebaikan yang sudah dilakukan oleh pengurus-pengurus sebelumnya. Dari sisi pendidikan, alhamdulillah ada peningkatan. Dari sisi sosial, nah, ini yang perlu kita garap karena dari segi kesehatan, kita masih minim. Ini yang perlu kita pacu. Kita dorong cabang-acbang untuk proaktif di dalam sosial dan kemasyarakatan. 

Terus formasi yang akan dibangun di kepengurusan PWNU Jateng bagaimana? 

Semuanya kita ajak untuk sama-sama khidmah; dari unsur kesepuhan, dari yang muda, dari yang profesi maupun dari praktisi, semuanya kita ajak untuk bergabung di kepengurusan nanti. Dan alhamdulillah beberapa teman-teman di profesi maupun di akademisi siap membantu.

Syarat mereka untuk bisa jadi pengurus apa? 

Acuan kita adalah anggaran dasar dan anggaran rumah tangga ini. Syarat untuk menjadi anggota NU kan, satu menyetujui anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. Kemudian yang kedua, melaksanakan bersama-sama dengan pengurus. Ini sesuai dengan  keahlian mereka untuk berkhidmah di NU. Kita merujuk dawuh-dawuh kiai terdahulu, “jangan bertanya apa yang bisa kaudapatkan dari NU, tapi bertanyalah apa yang bisa kauberikan kepada NU”. Ini saya rasa perlu kita terus sosialisasikan. Nah, insyaallah kita optimis bisa berjalan dengan baik. 

Bagaimana NU Jawa Tengah memastikan kaderisasi berjalan sebab mereka yang akan melanjutkan kepengurusan NU yang akan datang?

Kaderisasi di IPNU, IPPNU, kemudian Gerakan Pemuda Ansor, Banser intensif dilakukan di Jawa Tengah. Setiap Sabtu Minggu itu IPNU terus turun ke bawah. Kemarin kita baru ketemu dengan pengurus IPNU, Pimpinan Wilayahnya, lalu dengan Ketua Ansornya, dengan Kktua Muslimat, alhamdulillah ibu-ibu juga aktif untuk menjalankan tugas di badan otonomnya masing-masing. Tinggal bagaimana nanti mensinergikan dengan NU-nya. 

Sebetulnya, apa yang membuat NU berjalan? 

Karena suri tauladan yang ditunjukkan kesepuhan-kesepuahn kita, pemimpin-pemimpin kita sampai hari ini, itu suri tauladan baik yang perlu dilanjutkan di tingkat kepengurusan maupun di tingkat warga. Sangat luar biasa kiai kita dalam rangka mendidik masyarakat, pengurus-pengurus NU, mulai dari pengurus besar sampai anak ranting itu alhamdulillah, beliau-beliau itu sangat luar biasa khidmahnya. Dan ini tidak dimiliki oleh yang lain. 

Kira-kira kendala apa yang bakal dihadapi NU di Jawa Tengah dan bagaimana cara menanggulanginya? 

Kendala yang terjadi selama ini soal waktu ya, banyak sekarang ini yang punya kesibukan-kesibukan yang luar biasa ditambah lalu lintas sering macet. Hambatannya paling itu. Kalau dulu tak ada hambatan lalu lintas, hanya alat transportasinya sederhana. Sekarang alat transportasi luar biasa banyaknya sehingga perjalanan sulit diprediksi. Misalnya kita mau rapat jam sembilan, kemudian ada beberapa pengurus yang belum hadir karena persoalan teknis di jalan. 

Sebentar ladi ada pesta demokrasi. Bagaimana menjaga NU Jawa Tengah agar sesuai tetap dengan khittah NU sebagai acuannya? 

Warga NU itu kan sudah memiliki kriteria-kriteria untuk memilih calon pemimpin. Dan itu sudah disosialisasi oleh kiai-kiai kita. Nah, tinggal ini dilaksanakan. Memang ada upaya-upaya dari untuk mempengaruhi warga NU. Tapi saya yakin warga NU itu bijak di dalam menentukan pilihannya karena beliau-beliau sudah punya gambaran kriteria untuk memilih seperti apa yang harus dipilih. Minimal seperti kejujuran, amanah, fathanah, tabligh. Warga NU sudah punya alarm, relatif dewasa dalam memilih di dalam pemilu. Bukan suatu yang perlu dikhawatirkan. 

Tidak akan memilih calon yang memusuhi NU? 

Ya, mereka sudah punya kriteria. Rajin ngajin pada kiai-kaiainya. Wajib ngaji. Ada selapanan, ada yang lain. 

Supaya PWNU memastikan agar terjadi pengajian yang dikelola kiai NU bagaimana? 

Pengajian merupakan prakarsa dari Nahdliyin. Semuanya prakarsa mereka untuk menegakkan syiar-syiar Islam ala ahlussunah wal jamaah. Tanpa disuruh pun tetap dilaksanakan. Tinggal ijtimaiyah itu supaya berjalan dengan baik. Paling tidak keseimbangan antara diniyah dan ijtimiyah, tawazun (seimbang)

Rencana pelantikan kapan? 

Menyesuaikan waktunya dengan pengurus besar, kapan beliau bisa hadir, kita sambutlah. Mudah-mudahan tidak sampai dua bulan. Kalau pengurus besar kan melayani seluruh Indonesia kan dan kita siap antre. 

Tags:
Bagikan:
Rabu 1 Agustus 2018 3:0 WIB
Kekeliruan-kekeliruan dalam Memahami 'Kafir' dalam Al-Qur'an
Kekeliruan-kekeliruan dalam Memahami 'Kafir' dalam Al-Qur'an

Pada pembukaan Kongres kelima Jam’iyyatul Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj meminta para penghafal, pembaca, dan pengkaji Al-Qur’an di kalangan NU jangan sampai jatuh pada hadits Nabi yang artinya: “membaca Al-Qur’an hanya sampai di tenggorokan”. 

Ungkapan itu, maksudnya tiada lain adalah orang yang membaca Al-Qur’an, tapi pemahamannya tidak sampai di hati dan praktik. 

Karena itulah, para ahli Al-Qur’an NU harus bisa memahaminya sebagaimana para ulama terdahulu. Sebab, jika keliru akan berakibat fatal. Misalnya dalam memahami kata kafir, jika salah, akan berakibat terkucurnya darah seseorang atau sekelompok orang.  

Abdurrahman bin Muljam misalnya, adalah orang yang memahami ayat Al-Qur’an dengan cara salah. Sayidina Ali, sahabat dan sekaligus menantu Nabi Muhammad yang termasuk kalangan pertama memeluk Islam, dianggap kafir karena dianggap tidak menggunakan hukum Allah berdasarkan ayat Al-Qur’an. Darah pun terkucur.  

Grand Syekh Al-Azhar saat berkunjung ke PBNU pada awal Mei Tahun ini mengajak umat Islam untuk tidak mengkafirkan orang yang masih bersyahadat dan menghadap kiblat. Apalagi karena berbeda pilihan partai politik. 

Ada mekanisme tertentu untuk menyebut orang sebagai kafir. Kalaupun iya seseorang jelas kafir, ada mekanisme tertentu dalam memeberikan hukum kepadanya. Tidak gampang. 

Bahkan di dalam Al-Qur’an sendiri, dalam konteks tertentu, kafir ada yang bermakna menimbun biji di dalam tanah. Ada juga yang bermakna, seseorang yang tidak mensyukuri nikmat. 

Bagaimana sebetulnya cara memahami Al-Qur’an itu agar tidak jatuh pada penafsiran yang salah? Abdullah Alawi dari NU Online berhasil mewawancarai pakar Al-Qur’an, seorang ahli dalam qiraah sab’ah, penghafal Al-Qur’an, pemimpin pondok pesantren Al-Qur’an, doktor lulusan di Madinah dengan hasil cum loude, yaitu KH Ahsin Sakho Muhammad, di Pondok Pesantren Asshidiqiyah Karawang, 15 Juli lalu. 

Reputasinya dalam bidang Al-Qur’an diakui banyak orang. Dia pernah menjadi Rektor Institute Ilmu Al-Qur’an (IIQ), dosen tafsir di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dan Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ). 

Tak heran kemudian, para ahli Al-Qur’an di NU mempercayakan posisi Rais Majelis Ilmi Pimpinan Pusat Jam’iyyatul Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama kepadanya. Bahkan beberapa periode hingga hari ini. 

Berikut petikannya:

Bagaimana JQHNU mendidik penghafal dan pengkaji Al-Qur’an agar tidak jatuh pada ungkapan dari Nabi Muhammad "ada orang membaca Al-Qur'an hanya sampai pada tenggorokan"?

Al-Qur’an kitab yang rahmatan yang lil alamin. Jangan melihat Al-Qur’an dengan satu mata saja. Melihat Al-Qur’an harus secara menyeluruh. Jangan memahami Al-Qur’an seenaknya sendiri, tidak menggunakan dan melihat yang lain-lain, misalnya asbabun nuzul. Jangan menggunakan satu dalil saja, misalnya dalam masalah hukum: inil hukmu ila lilllah {Sesungguhnya hukum itu hanya milik Allah (Yusuf ayat 40)}. Jangan Itu saja. Misalnya lagi, apakah mereka akan mencari hukum jahiliyah pada ayat, “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maidah: 50). 

Jika hanya menggunakan ayat itu, selain hukum Islam, berarti hukum jahiliyah. Nah, begitu kan. Sekarang di Indonesia itu hukumnya peninggalan Belanda. Berarti kalau begitu hukum jahiliyah. Orang (yang berpendapat seperti ini) tidak membeda-bedakan mana hukum bersifat sipil yang merupakan wewenang dari negara, mana yang merupakan wewenang dari syara. Mereka tidak melihat di Indonesia adalah negara yang memperbolehkan shalat, haji, wakaf ada, perbankan (syariah) ada. Apalagi coba? Apakah akan "gedung" itu dihancurkan dulu? Kalau ada konsep yang tidak cocok, ya itu saja ketidakcocokannya (yang diubah), misalnya ketidakadilan; bagaimana umat Islam supaya menciptakan orang-orang baik yang penuh dengan keadilan. Kalau sistemnya dirombak dulu, wah, itu sih terlalu jauh dan hasilnya juga belum tentu. 

Dan begini saja sudah kehidupan keislaman, islami. Kehidupan islami itu apa? Islam itu luas sekali berkaitan dengan unsur-unsur kemasyarakatan, kepribadian. Orang yang hidup di desa, mengerjakan shalat lima waktu, akhlaknya bagus, tidak menyakiti orang lain; sudah dia hidup dalam kehidupan yang islami; di negara apa saja. Nah, sekarang orang yang hidup di Amerika, apa negaranya harus dihancurin dulu? 

Ini (Indonesia) adalah namanya darul mu’ahadah (negara hasil perjanjian), darul muwathanah (negara kebangsaan) negara Indonesia ini. Nabi sendiri pada waktu hidup di Madinah bersama dengan orang Yahudi dan berbagai suku. Apakah hidup pada waktu itu disebut hidup di zaman jahiliyah (karena Nabi menggunakan hukum Piagam Madinah berdasarkan kesepakatan semua elemen)? Kan enggak juga. Jadi pemahaman-pemahaman seperti inilah yang harus diserap oleh orang-orang yang masih memiliki pemahaman yang masih dangkal, pemahaman yang dangkal. (Al-Qur’an dipahami) dari segi lafaznya saja. Ngajinya bagus. Kalau mengajarkan juga bagus. Tapi pemahaman yang dibaca masih setengah-setengah. 

Apa Abdurrahman bin Muljam yang membunuh Sayidina Ali dengan alasan ayat Al-Qur’an termasuk orang yang memahaminya setengah-setengah?  

Ibnu Muljam, ia melihatnya Sayidina Ali itu bermusyarawah dalam menentukan hukum; kan (di dalam Al-Qur'an ada ayat) وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ (dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, QS Ali Imran 159). Ia tidak melihat itu. Itu yang bahaya sekali kalau pemahaman seperit itu. Makanya saya tulis Oase Al-Qur’an, buku saya. Bagian-bagian pertama inti-inti ajaran Islam itu adanya di sini. Ada enggak surah-suarah Makiyah (surat atau ayat yang turun di Makkah) menyuruh orang-orang bertindak seperti itu. Enggak ada.

Orang yang menafsirkan Al-Qur’an sepotong-sepotong atau setengah-setengah dan tidak melihat ayat yang lain itu bagaimana? 

Wah, itu berarti dia kesalahan dalam memahami metode menafsirkan karena Al-Qur’an yufassiru ba’dluhu ba’dlan; Al-Qur’an itu saling menafsirkan satu ayat kepada ayat yang lain, yaitu perkataan ulama ahli tafsir. 

Di dalam ayat Al-Qur’an ada, fa anzalna dzikra litubayyina linnasi; kami menurunkan kepada kamu Al-Qur’an ini supaya kamu menjelaskan; jadi ayat Al-Qur’an itu global-global saja. Bagian Nabi itu adalah menjelaskan. Orang seperti itu, tidak melihat hadits-hadits Nabi. Orang seperti Ibnu Mujmam. Ada hadits la yahillu, tidak halal darahnya seorang Muslim kecuali dengan tiga sebab, yang satu qathlu nahs, membunuh orang lain. Kedua karena zina muhsan, yang ketiga karena murtad. Jadi tiga itu saja. Kenapa Ibnu Muljam tidak merujuk hadits ini? Orang diperbolehkan membunuh orang lain itu hanya itu saja. Jadi, ada batasan-batasan tertentu. 

Khulafaur Rasyidin juga banyak hasil musyawarah. Kalau seandainya ada yang diketahui dari Nabi, langsung dikemukakan. Kalau seandainya tidak diketahui, dimusyawarahkan. Al-ittifiaqu sahabah, hujjah (kesepakatan para sahabat Nabi bisa dijadikan dalil). Ada ilmunya begitu. 

Itu sudah diprediksi oleh Nabi, akan ada kelompok orang yang dia itu goyang kaki saja kemudian dia mengatakan, "saya hanya berhukum dengan Al-Qur’an saja". Kalau begitu kan salah juga karena Allah percayakan untuk menjelaskan isi kandungan Al-Qur’an baik melalui qaul (perkataan), maupun fi’li (perbuatan).

Kenapa di awal sejarah Islam melahirkan orang seperti kan masih dekat dan pernah mengalami bersama Nabi? 

Jadi, setelah perang Hunain, tahun kedelapan hijriah; itu nabi bisa mengatasi pemberontakan orang Hunain, Tsaqif. Nabi banyak mendapatkan hewan, untanya banyak, kambingnya banyak. Kemudian Nabi membagikannya. Semuanya dibagikan. Nabi tidak membawanya sama sekali. Akhirnya ada orang yang nyeletuk di hadapan Nabi, didengarkan. "Wah, Nabi enggak beres nih, Nabi enggak adil." Nabi menanggapi; "Siapa lagi yang adil kalau Rasulullah tidak adil? Kamu tahu tidak, saya bagikan kepada mereka supaya mereka mau masuk Islam." Nah, (terhadap) orang yang nyeletuk itu, dikatakan (Nabi), akan muncul dari keturunan orang itu, yang keras-keras, lupa juga namanya. 

Kenapa Nabi waktu itu dianggap tidak adil?

Karena Nabi tidak membagikan harta rampasan perang Hunain untuk mereka yang berperang. Tidak ada yang dibagi. Hanya orang-orang tertentu, sahabat yang tidak ikut berperang. Sahabat yang ikut perang tidak usah mendapat bagian lagi. Nabi memahami semuanya. Nabi berkata, “Kamu dulu kafir, siapa yang mengislamkan kamu.” Semuanya pada nangis. Ya sudah, kami akan berpulang bersama Nabi. Kemudian, setelahnya itu munculnya Ibnu Muljam dan yang lain-lain karena Nabi prediksinya seperti itu. 

Jika saat ini orang seperti dia masih ada dan jumlahnya mungkin banyak, apakah mungkin ada pihak yang membuatnya selalu ada? 

Ya, ada, ada. Jadi, ada kekosongan pada tingkat kelas menengah, yang harus diisi, ada pihak yang memberikan wejangan kelas menengah. Mereka tertarik pada orang yang bisa membaca Al-Qur’an, tahu hadits, ceramahnya memikat, akhirnya hijrah. Tapi kalangan menengah ini tidak mempunya basis pengambilan keputusan dari Al-Qur’an dan hadits. Jadi akhirnya muncul pemikiran-pemikiran radikal itu. Dan mereka tidak mempunyai mahaguru yang mengarahkan. 

Kembali lagi ke masalah tadi, apa hikmah Allah dalam membuat Al-Qur’an yang memungkinkan orang memahaminya secara sepotong-spotong? 

Jadi begini ya, Al-Qur’an itu kan ada konteks turunnya, ada konteks ayat; seperti Al-Maidah 50. Ini konteksnya mereka yang meminta hukum kepada selain nabi. Konteksnya ini Yahudi dan Nasrani kemudian kaum Muslimn. Hal yang berkaitan dengan hukum-hukum Islam mereka ingin mencari hukum lain, selain hukum Islam dalam hal syariat, seperti orang Yahudi itu. Mereka kalau berzina muhsan (orang yang yang sudah bersuami atau beristri melakukan zina), mereka ingin mencari agar supaya hukumannya tidak berat. Kalau hukuman yang sebenarnya itu adalah dirajam. Yang kedua, hukum yang lain itu cuma dicoreng-corengg saja. Itu berarti orang yang mencari hukum selain hukum Allah, konteksnya orang Yahudi, Nashrani. 

Bahwa di Indonesia belum bisa seperti itu karena ini kan kesepakatan, daulah kesepakatan, darul mu’ahadah. Kemudian kita melihat pelaksanaan hukum itu, berkaitan dengan pidana itu tidak gampang karena berkaitan dengan darah. Di Indonesia itu kan berbagai macam suku, berbagai macam agama, kesepakatannya bagaimana? Jadi, kita itu harus yakin bahwa yang terbaik itu hukum Allah, tapi kalau ada situasi dan kondisi seperti ini, maka tidak harus memaksa seperti itu. 

Kita yang penting bahwa orang yang salah itu harus dihukum, itu saja. Produk hukumnya apa? Ya terserah. Ya apa saja. Orang yang mencuri dihukum, korupsi dihukum, orang zina dihukum. Di Indonesia orang yang berzina tidak dihukum, itu tidak sesuai. Tapi jangan langsung bahwa ini jahiliyah. Orang kalau ingin amar ma’ruf nahi munkar, tanamkan dahulu amar ma’rufnya. 

Ada empat tahapan kalau seandainya memberantas kemunkaran akhirnya bisa menghilangkan kemunkaran itu bagus. Kalau seandainya meminimalisir kemunkaran, itu bagus juga. Tapi kalau seandainya pemberantasan kemunkaran sama saja, itu jangan. Kalau seandaianya kita memberantas kemunkaran dan menimbulkan kemunkaran yang baru, tidak boleh. Haram itu. Ada bagian-bagian khusus pemerintah, polisi, itu bukan wewenang kita. Jadi, sebagian kelompok di Indonesia menghilangkan kemunkaran langsung oleh masyarakat; seharusnya kita tekan pemerintah untuk ikut terjun. 

Bagaimana Abdurrahman bin Muljam memahami wa man lam yahkum bima anzalallah itu? 

Salah dia itu. Salah dia itu. Wa man lam yahkum itu, pertama adalah ayat itu wa ulaika humul kafirun. Kafir di situ, menurut Ibnu Abbas, kufrun duna kufrin. Artinya bukan kufur yang sampai orang keluar dari Islam. Tidak. Kata Ibnu Abbas sendiri. Salah seorang sahabat Nabi itu.         

Menghukumi kafir itu tidak gampang. Apa kita setiap orang mempunyai hak untuk mengkafirkan orang. Kan tidak gampang. Harus dipanggil dulu. Menurut saudara apa? Kalau dia mengakui hukum selain Allah lebih hebat, ya sudah, suruh taubat dulu, taubat, taubat. Setelahnya itu yang harus mengeksekusi siapa? Mahkamah. Sementara selain mahkamah kita tidak mempunya hak seperti itu.

Tidak boleh orang bertindak sendiri-sendiri meskipun sandarannya kitab suci? 

Tidak boleh. Tidak boleh. Tidak boleh. Karena ini berkaitan dengan darah. Darah itu yang melakukannya kekuatan tertinggi, pemerintah. Kalau pemerintah, ya harus melalui undang-undang. Nabi Sendiri yang melakukannya. 

Lalu, kenapa dia sampai pada pemahaman kafir dalam arti layak untuk dibunuh? 

Pengertian kafir di dalam Al-Qur’an menunjukkan bahwa beberapa arti. Ada kuffar yang artinya petani. Petani itu menimbun, menutupi biji dengan tanah. Kuffar itu. Ada kuffar di dalam Al-Qur’an yang berarti kufur nikmat. Itu kufar juga. Lain syakartum laazidannakum, wa lain kafartum inna adzabi lasyadid. Orang kufur nikmat, kufur juga, seorang kafir juga. Tapi tidak sampai menjadikan orang itu, kafir yang keluar dari Islam. Jadi, harus berhati-hati betul. Hati-hati betul. Harus ngaji dulu tuh; kafir, kafir aja. 

Nabi sendiri menafsirkan atau memahami Al-Qur’an itu bagaimana? 

Nabi itu, menafsirkan Al-Qur’an teks dengan teks itu jarang. Tidak banyak. Yang lebih banyak, nabi menjelaskan melalui pekerjaannya, melalui fi’ilnya, af’alnya. Oleh amalinya. Shalat, itu penerjemahan dari Al-Qur’an, semua hukumnya Nabi adalah yang dia pahami dari Al-Qur’an. Semua sunah nabi itu adalah syarah (penjelasan) dari kitab-Nya. Nabi tidak secara sepesifik, ngaji kitab tafsir. Kitab tafsir tidak ada. Jadi, misalnya Nabi mengatakan, fawajada abdan; bilangan rakaat itu berapa, Nabi yang mengajarkan (dengan praktik). Haji, caranya puasa, zakat. Itu syarhun likitabillah (penjelasan terhadap Al-Qur'an). 

Jadi, tidak bisa Al-Qur’an saja. Enggak boleh. Itulah tidak boleh menafsirkan Al-Qur’an sekenanya saja. Orang menafsirkan Al-Qur’an dari terjemahnya, salah lagi. Terjemahan itu tidak bisa merangkum ayat suci Al-Qur’an. Terjemah itu terbatas. Ungkapan untuk mengambil pemahaman dari ayat Al-Qur’an hanya dengan terjemahan bahasa Indonesia, tidak bisa. Rabbul ‘alamin, Tuhan semesta alam. Itu masih kurang. Rabbul ‘alamin itu berarti sayyidul ‘alamin, malikul ‘alamin, murabbil ‘alamin; yang mengurus, yang mendidik, yang mempunyai, yang menjadi sayid (tuannya); itu ada di situ. Alhamdu puji. Sana puji lagi. Madhu, puji lagi. 

Padahal berbeda antara al-madhu dan sana’u dan alhamdu itu berbeda. Sana’u kalau orang melihat orang lain baik. Kalau al-hamdu itu ada yang sampai pada syukur. Kalau mendapat kenikmatan dari orang lain, ya kita syukuri. Saya terima kasih kepadamu. Ya pujian juga. Berarti al-madhu itu. As-sanau, berbeda lagi. Wah, ada orang hebat banget, tampan banget, cerdas banget, itu namanya wa sana’u. Kalau al-hamdu itu dua-duanya. 

Supaya memhami Al-Qur’an tidak jatuh pada cara memahami seperti Abdurrahman bin Muljam bagaimana?

Ya harus belajar tafsir. Kita tidak boleh menafsirkan Al-Qur’an seenaknya sendiri. itu tafsir bi ra’yi almadmum, tafsir dengan pikiran yang tercela.  Banyak itu,  tidak menggunakan ilmu-ilmu yang spesial dalam menafsirkan Al-Qur’an. Sekenanya saja. Tafsir yang mengandalkan, menggunakan bahasa Arab saja, tak bisa juga. Kemudian tafsir bil-hawa, tafsir dengan hawa nafsunya sendiri saja. 

Ahad 29 Juli 2018 19:30 WIB
Patuh Guru dan Orang Tua, Modal Utama Kembangkan Pesantren
Patuh Guru dan Orang Tua, Modal Utama Kembangkan Pesantren
Ada ungkapan yang terkenal di kalangan para santri, menimba ilmu itu susah, sementara mengamalkan ilmu itu lebih susah. Tak sedikit santri cerdas, mudah paham kitab-kitab kuning, tapi ketika pulang ke rumah, ia tak mampu mengamalkannya. 

Ya, ilmu yang bermanfaat atau berkah itu lebih susah mendapatkannya karena terkait beragam faktor. Bagi kalangan pesantren, pertolongan Allah, restu guru dan orang tua merupakan faktor kunci. Jika itu tidak didapat, akan susah melakukannya, kalau tidak dikatakan mustahil.  

KH Hasan Nuri Hidayatullah merupakan salah seorang contoh santri yang berhasil memanfaatkan ilmunya. Ia mengakui, hal itu merupakan pertolongan Allah, doa, dan ridha guru berikut orang tuanya. Semuanya itu adalah modal utama. 

Bagaimana kisah KH Hasan Nuri Hidayatullah yang juga Ketua PWNU Jawa Barat mengamalkan ilmunya melalui Pondok Pesantren Asshiddiqiyah di Karawang?  Abdullah dari NU Online berhasil mewawancarai kiai kelahiran Banyuwangi itu di kediamannya, Kompleks Pondok Pesantren Asshiddiqiyah 3, Cilamaya, Karawang, 14 Juli lalu. 

Berikut petikannya: 

Bisa cerita bagaimana seorang kiai memulai mengembangakan pesantren di kampung orang?

Modal utamanya doa dari orang tua dan guru. Kalau itu sudah didapat, pintu-pintu yang akan kita lalui itu akan dimudahkan keterbukaan oleh Allah karena kadang-kadang dihitung dengan logika, di sini, saya 2001. Kalau sampai hari ini 17 tahun, kalau dibilang relatif singkat, ya singkat, kadang-kadang saya melihat hal yang ada sekarang ini, saya berpikir, apa iya, gitu. 

Ketika pertama datang ke sini, apa saja yang ada? Kondisinya bagaimana? 

Abah menyuruh saya ke sini, kalau dibilang perusahaan, ya perusahaan yang sudah collaps. Keppercayaan masyarakat drop. Santri ketika itu hanya ada kurang lebih, tak jauh dari 30 atau 40 mungkin. Bangunan-bangunan semuanya tripleks-tripleks. Bangun permanen hanya ada satu yang di putri, di putra hanya ada dua kobong kecil dengan satu masjid. Alhamdulillah sekarang, kalau ditotal, sekarang santri ada 1200 santri. 

Itu hanya Asshiddiqiyah 3? 

Semuanya, saya diamanati yang di sini. Saya kembangkan menjadi ada Asshiddiqiyah 4 untuk sekolah tinggi. Setahun ke belakang saya mengembangkan di Jonggol

Perguruan tinggi tahun berapa berdiri? 

Tahun 2010 . Asshiddiqiyah 3 ada dua, putri dan putra, Asshidiqiyah 4 hanya putra saja dan mahasiswa. Mahasiswanya 170 sampai 200. 

Oh ya, tadi menyebut ridha guru dan orang tua. Bagaimana cara mendapatkannya? 

Pada dasarnya manut. Mohon maaf, pesantren ini ada sejak 1992. Itu sudah orang yang diamanati abah di sini ini  yang kelima. Banyak enggak betah. Karena kondisina di kampuung. Secara lahir, tidak menariklah. Orang berkarir di organisais di sini, tidak mendukung, bisnis juga tidak menarik, jauh di mana-mana, repot jangkauannya. Makanya banyak tak kuat di sini. Belum lagi dinamika kehidupan di pedasaan dan di kota kan berbeda. Kalau di kota mungkkin hdupnya individualis ya sehingga apa yang dilakukan oleh orang itu cuek. Nah, kalau di kampung itu, kiai dinilai. Harus agak ekstra hati-hati karena masyarakat kampung ini masih mempunyai kepeduliaan sehingga apa yang terjadi pada tokohnya itu selalu diperhatikan. Kadang-kadang seseorang yang dikatakan kiai atau haji atau ustadz, Shalat Jumat tidak di depan aja menjadi bahan, kok pak haji tidak di depan. Ini di kampung itu jadi hati-hati. 

Apa pesan yang paling dipegang dari guru dan orang tua? 

Saya cuma manut saja. Guru nyuruh wiridan ini, ya dikerjain. Kalau tidak disuruh berhenti, ya terus.  Gitu saja. Kalau orang tua ya, pesan mereka kan sederhana, jadi wong sing jujur, amanah. Normatif sebenarnya. Hanya mungkin saya menerima pesan orang tua itu sebagai hal istimewa buat saya. Psan orang tua dan guru normatif sebenarnya. 

Tadi disebutkan sebagai kiai yang kelima. bagaimana supaya tidak mengulang kegagalan kiai sebelumnya? 

Saya dengan sederhana saja. Saya dulu dengar katanya kalau kita dekat dengan masayarakat A, manyarakat B ini tidak senang. Saya dengar berita itu, justru saya jadikan bahan. Keduanya saya datangi. Saya ajak diskusi, saya mintai saran. 

Justru yang pertama itu bersama masayarakat dulu?

Saya rangkul semunya. Saya kadang-kadang, bawa apa, bawa ke kampung makan bareng-bareng di  sana. Sama orang-orang sehingga menghilangkan sungkan dululah.

Awal-awal, saya tidak masuk PCNU. Waktu itu belum masuk PCNU. Waktu itu saya hanya dekat dengan teman-teman NU karena sering saya silaturahim. Jadi, masyarakat dikunjungi, tokoh-tokoh, termasuk di NU. Lalu menyapa masyarakat dengan pengajian umum.

Pengajiian untuk masyarakat umum mulai kapan? 

Pada 2002 saya langsung mengadakan pengajian. Sambil silaturahim ya sambil mengaji. 

Mula-mula ada berapa orang?

Dua, tiga, awal-awal di teras rumah ngajiinya. 

Tapi terus berjalan?

Tetap jalan. 

Sekarang per minggu berapa orang yang ngaji? 

Ya kalau cuacanya bagus, orang-orang banyak yang kosong kegiatan, tidak ada hajatan, kadang sampai seribu. Di depan itu full itu. Apalagi pas maulid. Semuanya allah. Kita ini, tanpa pertolongan allah tidak apa-apa. 

Kembali ke masalah pesantren, bagaimana meningkatkan santri? 

Ya, mulai tahun itu juga menambah sedikit, itu mulai banyak agak membludak, itu ketika saya mau mempunya anak kedua, sekitar tahun 2007. Santri yang ada sekarang 1200. 

Karena kita pesantren ini. sama saja, sekolah formal, sore ngaji, malam ngaji, berjamaah wajib, anak-anak diajak baca Ratib. Sama saja. Karena saja tidak punya hal yang istimewa, jadi tak ada yang istimewa yang bisa saya ceritakan. Jadi, paling tidak, mengurangi membebani pikiran, punyanya SDM ya itu, punya teman-teman mampunya ya itu. Kira-kira teman mampu, kita perjuangkan. 

Lembaga pendidikannya apa saja? 

Tsanwiyah ada, Aliyah ada, SMK ada, SMA ada, MI ada. 1200 semuanya. Yang tidak ngobong hanya MI saja. semuanya tinggal di sini.

Santri kalong? 

Santri kalong yang ngaji malam kamisi itu saja. orang tua. Saya tingkatkan kemudian karena semakin sedikit waktu bersama teman-teman, bersama masyarakat, saya bikin kegiatan yang bersifat massal. Pesantren melakukan kegiatan bedah mushala. Jadi saya kirim orang, cari mushala yang kira-kira doyong, kita perbaiki. Pas peresmian kira ngumpul bersama masyarakat. Kita biayai mushalanya sampai selesai. Itu alhamdulillah sudah berjalan, kurang lebih 18 mushala. 

Sejak kapan? 

Dua tahun belakang ini.  dulu bedah rumah, tapi karena hanya mmanfaatkan satu orang, kalau banyak kan berat, kalau mushala kan satu, tapi dimanfaatkan banyak orang. 

Biayanya? 

Bareng-bareng saja. para jamaah iuran, ditambahin dari kita, teman-teman dari donatur, punya toko matrial, yang punya semen, tukangnya yang bekerja orang kampung. Mushala-mushala sekitar sini. Yang jauh-jauh ada di Subang ada, satu. 

Ohya, melakukan itu mulai pada usia berapa? 

Saya 2001 berusia 23 tahun dan saya belum menikah. Saya diambil mantu oleh Kiai Nur setelah saya setahun setengah di sini. Saya ditaroh di sini, yang penting iya, karena yang nyuruh guru. Saya juga tak pernah mikir diambil mantu apa enggak, yang penting ngikuti guru saja. 

Dulu saya saya sekolah Tsnawiyah dan Aliyah di sana, mesantren di Jakarta, tahun lulus 1992. Tamatan 1999. Setelah itu saya ke Madinah 4 tahun. Mesantren tidak kuliah, Habib Zen bin Smith, ia ipar-iparan dengan Habib Umar Al-hafidz. Istrinya Habib Zen dengan istrinya Habib Umar itu kakak beradik. Banyak orang Indonesia ada 60-an satu angkatan. Banyaknya para habaib. 

Kamis 26 Juli 2018 20:0 WIB
Sebagai Ahli Waris Nabi, Ulama Harus Uswatun Hasanah
Sebagai Ahli Waris Nabi, Ulama Harus Uswatun Hasanah
Belakangan ini, kata ulama sering muncul dalam pemberitaan di media. Hadits Nabi yang berbunyi "Al-ulma'u waratsatul anbiya" demikian populer. Ulama adalah ahli waris nabi. Dengan ungkapan itu, demikian kokoh status dan kedudukan ulama.Lalu, ungkapan "bela ulama" juga mengikuti pemberitaan-pemberitaan tersebut.

Namun, yang muncul adalah ulama dalam konteks dukungan calon yang diusung partai politik atau fatwa agama yang terhubung dengan politik pilkada.    

Sebenarnya bagaimana pengertian, sosok, watak ulama dalam Al-Qur'an? Abdullah Alawi dari NU Online berhasil mewawancarai Rais Majelis Ilmi Pimpinan Pusat Jam'iyyatul Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama KH Ahsin Sakho Muhammad di Pondok Pesantren Ashiddiqiyah, Karawang, Jawa barat 15 Juni lalu. Ia merupakan pakar Al-Qur'an yang memiliki raputasi internasional di bidang qiraah sab'ah

Berikut petikannya.

Apakah pengertian ulama itu? 

Di dalam Al-Qur’an ulama adalah jamak dari kata alim, ada (huruf)Ya -nya ya. Aliiim. Artinya, orang yang pinter banget di dalam bidang apa saja? 

Tidak hanya dalam bidang agama? 

Ya. Bagi mereka yang ahli dalam bidang apa pun. Jadi, nanti ada yang bersifat umum ada yang khusus. Ulama itu cendekiawan. Orang Indonesia sekarang membagi, orang yang menguasai ilmu yang mendalam dalam bidang keagamaan, disebut ulama. Kalau dalam ilmu umum, namanya cendekiawan. Tapi semuanya itu ulama. Di dalam Al-Qur’an “Innama yakhsallaha min ibadihil ulama". Itu konteksnya 

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنزلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهَا وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ (27) وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالأنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ (28)

"Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit, lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka ragam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun."

Itu kontesknya adalah mereka-mereka yang tahu tentang hukum-hukum umum. Itu konteksnya ulama adalah pengetahuan umum. Itu surat Fathir. Misalnya Einstein, itu ulama ya dari segi lughat (bahasa). Orang pintar sekali. Sekarang di Indonesia, baru bisa tabligh saja, disebut ulama. Siapa yang memberikan label ulama itu. Kalau Ali bin Abi Thalib, orang yang dikatakan ‘alim adalah orang yang mengamalkan ilmunya. Kalau tidak mengamalkan berarti bukan ulama. 

Kalau ulama Bani  Israil, di dalam Al-Qur’an menggunakan ulil ilmi. Dalam kalangan Bani Israil, orang Yahudi, orang yang ulama, al-ahbar, artinya para cendekiawan. Itu dari kata alhibr, artinya tinta. Orang alim dan mereka itu sering menulis, menulis, menulis, jadi alhibr. Ada ulil ilmi, ada ulin nuha, orang yang mempunyai akal, ulil abshar, itu masuk dalam jaringan ulama. Di kalangan, orang Islam, ulama adalah orang alim di dalam agama. 

Di dalam hadits juga ada, kata Nabi, al-ulama waratsatul anbiya. Itu adalah ulama yang ahli dalam ilmu agama. Ulama itu yang mewarisi (menjadi ahli waris, red) para Nabi. Sementara Nabi tidak mewariskan dirham (uang), tapi al-ilm. Orang yang bisa menguasai apa peninggalan Nabi berupa Al-Qur’an dan sunnah maka dia sebenarnya dia mendapatkan bagian yang sempurna. Ulama di situ adalah ulamaud din (ahli agama). Tapi sekarang orang gampang-gampang saja menyebut ulama. 

Bisa dijelaskan lagi kriteria ulama? 

Orang yang memahami seluk-beluk ajaran agama Islam dengan mempelajari sumber-sumber ajaran Islam dan cara pemahamannya menggunakan metode-metode yang disepakati para ulama, ya itu melalui Al-Qur’an, hadits, ijma’, qiyas, itu sebenarnya ijtihadnya para ulama dahulu dalam memahami, melalui Al-Qur’an, dengan hadits, qiyas, ijma sahabat, qiyas mengqiyaskan satu persoalan satu dengan persoalan yang lain, antara yang asli dengan yang far’i. Jadi itu, jangan seenaknya saja.

Apa lagi kriteria ulama itu? 

Begini, bagi orang yang mengamati, misalnya ibil (unta). 

أَفَلَا يَنْظُرُوْنَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ

Hebat banget yang namanya ibil (unta) itu, teracaknya besar, menembus pasir-pasir yang panas, dia bisa tahan tidak minum berjam-jam, satu hari satu malam; kerongkongan bisa disuling air yang sudah masuk; makanya siapakah yang menciptakannya? Berarti yang menciptakan unta itu haruslah Zat Yang Maha Luar Biasa. Onta apakah bisa menciptakan dirinya sendiri? Tak bisa. Manusia apakah bisa menciptakan dirinya sendiri? Enggak bisa. Kita sendiri yang punya jantung tak mengerti jantung kita. Apa orang tua yang menciptakan? Bukan.

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ

"Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?"

Kalau seandainya seseorang yang meneliti diri sendiri, meneliti tentang mata misalnya, akhirnya (mereka berkesimpulan), “oh hebat banget”. Berarti zat yang menciptakan mata itu jauh lebih hebat. Itu siapa? Allah. Kalau sampai kepada Allah, kalau sampai kepada Allah, berarti kita harus Allahu akbar. 

Begitu juga ulama yang meneliti ajaran agama Islam. Hebat banget ya, shalat lima waktu pada waktu terbit fajar, Allahu akbar, Allahu akbar; pada waktu matahari bergerser menuju ke barat terjadi pergeseran alam semesta, Allahu akbar, Allahu akbar; pada waktu bayangan melebihi benda itu sendiri, Allahu akbar, Allahu akbar; begitu malam datang, terbenamnya matahari, Allahu akbar, Allahu akbar; begitu mega merah datang, Allahu akbar, Allahu akbar. Hebat banget. Ada orang Barat yang meneliti siklus waktu azan yang dilakukan orang Islam mulai subuh, dzuhur, dia tersentak banget, Ini hebat banget, ajaran siapa sih? (Juga menepakuri dan menyingkap hikmah di balik ibadah) seperti zakat, ibadah haji.


يُؤْتِى ٱلْحِكْمَةَ مَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُؤْتَ ٱلْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِىَ خَيْرًا كَثِيرً
 

Allah memberikan hikmah. Hikmah itu memahami seluk-beluk rahasia ajaran agama. Siapa yang diberikan hikmah, mampu untuk memahami ajaran Islam, subtansinya itu, maka dia itu diberikan kebaikan yang sangat banyak sekali. 

Jadi, seorang ulama itu lebih banyak tafakurnya? 

Ya, itu dia.

 رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا

Kalau sampai pada ayat itu, berarti hebat itu. Al-Qur’an bukan ciptaan Nabi Muhammad.

Berarti umat Islam harus mengikuti ulama yang seperti itu, bukan yang berwatak lain? 

Ya, (ulama) adalah orang yang suka tadabur. Kalau seandainya dibacakan ayat Al-Qur’an dia termenung, tadabur, menangis, itu hatinya itu yang peka. Langsung tersungkur.

Masih ada watak ulama yang selain itu?

Jadi, orang-orang yang, kata Nabi, kata Al-Qur’an, laqad kaana lakum uswatun hasanah. Paling tidak itu.

Uswatun hasanah itu bagaimana?

Ya artinya panutan yang baik dari segi takwanya, dari segi akhlaknya, dari segi tutur katanya. Akhlaknya semuanya itu. Kalau tidak bisa mengikuti Nabi seratus persen, ya 50 persen. Kalau tidak bisa 50 persen, ya 10 persen saja. Pokoknya sesuai dengan kemampuannya. Orang yang memahami betul tentang ajaran agama Islam dan dia mempraktikannya. Itu dia yang patut diikuti, akhlaknya bagus, pengetahuannya luas. 

Kalau seorang ulama berkata buruk dengan dalih amar ma’ruf nahi munkar bagaimana? 

Enggak, enggak. Enggak boleh menjelek-jelekkan orang, berarti mulutnya jelek. Janganlah berkata-kata kasar. Laisa bi fadin wa la ghalidin wa la sakhatin fil aswaq. Nabi itu tidak berkata kasar. 

Itu hadits Nabi? 

Itu dari kitab Taurat menyifati Nabi akhir zaman. Laisa bi fadin wa la ghalidin wa la sakhatin fil aswaq. Jadi, dalam kitab Taurat itu diterangkan sifat-sifat nabi akhir zaman. Ada itu. 

Artinya apa? 

Inna arsalnaka syahidan wa mubasyiran wa nadira wa hirjan lil ummiyina, samaitukal mutawakkil, laisa bi faddin wa la ghalidin wa la sakhatin fil aswaq. Ada itu. Haditsnya sahih. Jadi, di kuburan Danial ada lembaran-lembaran Taurat tentang sifatnya Nabi. 

Artinya apa? 

Kami telah mengutusmu pemberi kabar gembira dan memperingati, bagi orang-orang yang tidak bisa membaca dan menulis, aku namakanmu mutawakkil, dia bukan orang yang berkata kasar, dan bukan yang berhati keras, dan bukan orang yang selalu berteriak-teriak di pasar. 

Itu Taurat yang dalam bahasa Arab? 

Iya, itu Taurat yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Bagaimana sikap seorang ulama ketika ia menemui perbedaan dengan ulama yang lain? 

Jadi begini, perbedaan boleh, asal jangan bertengkar. Asal jangan bertengkar. Semuanya dalam rangka untuk mencari kebenaran. Kalau seandainya ini punya dalil, itu punya dalil, ya sudah, seperti Abu Hanifah yang tidak Qunut Subuh, Imam Syafi’i yang Qunut Subuh, ya sudah. Ini cara istinbatnya berbeda, ya sudah. Karena tidak ada teks yang, kalau di situ banyak ijtihad, berarti tidak ada teks yang qath’i terhadap itu, atau cara pemahamannya berbeda, atau misalnya yang satu sudah mendapatkan hadits, yang satu belum mendapatkannya, atau datang hadits, tapi cara pemahamannya berbeda. Itu cara-caranya yang demikian itu harus dipelajari. Jangan sampai orang menyalahkan orang lain wong caranya pandangnya berbeda, ya. Misalnya istihsan, Imam Syafi’i tidak menerima, sementara Abu Hanifah menerima. Banyaklah. Ini ada di dalam ushul fiqih. 

Perbedaan itu lantas tidak harus saling membenci dan mencurigai? 

Iya, jangan, jangan! 

Apa batasan perbedaan antara sesama ulama?  

Asal perbedaan itu tidak khilafun lahu wajhun minan nadlari, wa laisa kullu khilafin jaa mu’tabaran ila khilafun lahu wajhun minan nadlar. Tidak setiap perbedaan diterima semuanya, kecuali perbedaan yang bisa diterima, alasan yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Contohnya seperti orang yang bersentuhan kulit orang dengan muhrimnya. Bersentuhan kulit, kata Imam Syafi’i batal, kalau Abu Hanifah enggak apa-apa. Kata Imam Malik, batal kalau ada syahwat, berbeda-beda. Dalilnya apa? Ya cara memahami. Abu Hanifah mengatakan, Nabi pernah mencium istrinya menuju shalat tanpa wudlu lagi, berbeda. Ya seperti itulah. 

Bagaiman sikap pengikutnya ketika mengetahui perbedaan sesama ulama ? 

Ya harus memahami seperti itu. Jadi, jangan semena-mena. Jangan gampang menyalahkan orang lain. Apalagi mengkafirkan orang lain, apalagi memusyrikkan orang lain. Itulah yang menjadikan orang itu radikal. 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG