IMG-LOGO
Trending Now:
Daerah

Alasan Anak Muda NU Harus Meniru Kiprah Mbah Wahab


Selasa 14 Agustus 2018 04:00 WIB
Bagikan:
Alasan Anak Muda NU Harus Meniru Kiprah Mbah Wahab
KH Abdul Wahab Hasbullah
Jombang, NU Online
Di antara kelebihan KH Abdul Wahab Hasbullah atau Mbah Wahab adalah selalu berkhidmat di manapun berada. Ini memberikan pelajaran agar dalam setiap momen apapun selalu berkiprah sesuai dengan waktu, keadaan dan komunitasnya.

“Saat masih belajar selama lima tahun di Makkah, Mbah Wahab mendirikan Sarekat Islam Cabang Makkah,” kata Miftakhul Arif, Senin (13/8).

Demikian pula ketika pulang ke Tanah Air dan berada di Surabaya ternyata tidak pernah diam. “Beliau mendirikan Nahdlatut Tujjar, Nahdlatul Wathan hingga Tashwirul Afkar,” kata kandidat doktor di UIN Sunan Ampel Surabaya yang mengangkat disertasi tentang Mbah Wahab ini. Dan dari sejumlah organisasi yang didirikan tersebut menjadi embrio bagi berdirinya Nahdlatul Ulama serta memberikan warna bagi perjalanan masa depan bangsa, lanjutnya.

"Sosok Mbah Wahab adalah kiai yang lintas batas," katanya. Yakni bisa berteman dengan para pemikir nasionalis sehingga dapat berkawan dengan aktifis Budi Utomo, juga kalangan yang mengaku sebagai Islam modernis.

Meskipun bergaul dengan banyak kalangan, namun tidak kehilangan jati diri. Terbukti sepulang dari Makkah, Mbah Wahab tidak bergabung dengan Sarekat Islam, namun mendirikan Nahdlatul Wathan yang merupakan sekolah kebangsaan bagi kalangan santri dan pesantren di tanah air. “Organisasi ini pun mendapat apresiasi dari berbagai komunitas pesantren hingga terbentuk sejumlah cabang di berbagai kota di Jawa Timur dan Jawa Tengah,” ungkap Ustadz Arif, sapaan akrabnya.

Saat berada di Tambakberas Jombang, Mbah Wahab mendirikan Madrasah Mubdil Fann (1912) yang sekarang menjadi MI Bahrul Ulum. “Di madrasah ini, Kiai Wahab melakukan modernisasi pendidikan dengan menggunakan bangku serta meja layaknya sekolah Belanda waktu itu,” terangnya. 

Bahkan lantaran dianggap tasyabuh atau menyerupai dengan penjajah, Kiai Chasbullah, ayahnya, melarang madrasah tersebut beroperasi. “Namun, bukan Kiai Wahab namanya kalau tidak mampu meyakinkan sang ayah,” kata Ustadz Arif. 

Selang beberapa waktu setelah mencermati dan merasakan manfaat Madrasah Mubdin Fann, sang ayah pun akhirnya luluh. Tidak hanya merestui, Kiai Chasbullah juga memberikan sebidang tanah kepada anaknya ini untuk didirikan bangunan Madrasah Mubdil Fann yang letaknya di sebelah barat pondok. Saat ini lokasi tersebut menjadi kantor Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.  

Madrasah Mubdil Fann merupakan proyek percontohan Mbah Wahab sebelum mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan di Surabaya. “Secara usia, Madrasah Mubdil Fann adalah madrasah pertama dengan sistem modern yang didirikan di pondok pesantren, jauh sebelum Kiai Wahid Hasyim mendirikan Madrasah Nidzamiyah di Tebuireng tahun 1935,” jelasnya.

Demikian pula usai kemerdekaan, Mbah Wahab sukses mendirikan Partai Nahdlatul Ulama yang mampu bertahan dibanding dengan partai lain seperti Serikat Islam, juga Masyumi.  

Makna dari itu semua mengingatkan generasi muda NU untuk tidak mudah menyerah. “Harus ada inovasi dan kreasi baru agar generasi NU dapat bertahan seperti saat Mbah Wahab muda,” kata wakil kepala di Madrasah Aliyah Unggulan KH Abdul Wahab Hasbulloh (MAUWH) Tambakberas ini.

Di akhir penjelasan, Ustadz Arif mengemukakan agar anak muda NU berupaya berkhidmat yang terbaik. “Agar ada atsar atau tinggalan bagi kiprah kita di masa yang akan datang,” pungkasnya. (Ibnu Nawawi)
Bagikan:
IMG
IMG