IMG-LOGO
Internasional

Anggota DPD RI Jenguk Jamaah Haji Asal Kalteng di Arab Saudi

Rabu 15 Agustus 2018 18:30 WIB
Bagikan:
Anggota DPD RI Jenguk Jamaah Haji Asal Kalteng di Arab Saudi
Anggota DPD RI jenguk jamaah calon haji di Makkah
Makkah, NU Online
Sebanyak 324 Jamaah calon haji asal tiga kabupaten, yakni Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kabupaten Lamandau dan Kabupaten Barito Utara Kalimantan Tengah (Kalteng) mendapatkan kunjungan dari Anggota DPD RI asal Kalimantan Tengah H Muhammad Rakhman, Selasa (14/8).

Selain bersilaturrahim dan menerima masukan atas pelayanan haji, dirinya juga membawa bingkisan kurma untuk jama'ah.

Seperti yang disampaikan Ketua Kloter asal Kabupaten Lamandau Said Muhammad Nuch Huddawie, masih ada beberapa item yang perlu ditambah dan dibenahi. Diantaranya adalah mengenai fasilitas transportasi yang masih kurang, pembimbing ibadah yang kurang maksimal dan kelengkapan pelayanan dapur. 

"Bus shalawat penuh,  mesin cuci kurang memadai, makanan harus ada variatif, Televisi yang menyiarkan dari Indonesia dan juga kebersihan alas tempat tidur," harap Said.

Dalam rilis diterima NU Online, Said juga menyampaikan ucapan terima kepada Rakhman yang juga Bendahara PC GP Ansor Kota Waingin Barat, yang telah hadir serta mau menerima usulan dari para jamaah haji khususnya dari Kalimantan Tengah yang bertempat di hotel nomor 102 bersebelahan dengan kantor Daerah Kerja Mekkah di Syisah.

Rakhman yag mendapat keluhan jama'ah asal Kalteng berjanji akan menindaklanjuti usulan dari jamaah haji itu. 

"Semua masukan kami tampung, ini wujud kepedulian kita (Pemerintah) dalam melayani jamaah haji asal Indonesia. Harapan kita semoga ke depan semakin baik lagi," ucapnya. 

Ia mengakui, sebagai senator utusan dari Kalimantan Tengah, dirinya berhak menyampaikan masukan yang bersumber dari jamaah kepada penyelenggara. Hal itu, kata dia, atas dasar keinginan memberikan pelayanan terbaik sesuai aturan yang telah ditentukan oleh Pemerintah Indonesia. 

"Saya kira semuanya menghendaki yang terbaik. Pastinya semua sudah disiapkan, meski demikian kekurangan itu nanti akan dievalusi demi kebaikan bersama," jelas Rakhman. 

Pelayanan dari Pemerintah, sambung dia, dari tahun ke tahun semakin membaik. Tahun lalu, atas saran DPD RI, semula bus yang digunakan jamaah haji asal Indonesia keluaran tahun tua, namun sekarang sudah menggunakan armada baru. 

Di akhir penyampaiannya, Rakhman memberikan pesan kepada jamaah agar menjaga kesehatan dan banyak istirahat terutama mengurangi bepergian jauh. Apalagi ke masjidil haram, karena tanggal 16 bus sholawat yang mengantarkan jamaah ke masjidil haram sudah dihentikan.

"Inti dari ibadah haji adalah ke Arafah 9 zulhijjah nanti, semoga kita semua menjadi haji yang mabrur. Aamiin," pungkasnya. (Suhud Mas'ud/Muiz)
Bagikan:
Rabu 15 Agustus 2018 9:17 WIB
Imam Besar Masjidil Haram: Terorisme Tak Punya Agama dan Budaya
Imam Besar Masjidil Haram: Terorisme Tak Punya Agama dan Budaya
Syekh Abdurrahman As-Sudais (Foto: Antara)
Jakarta, NU Online
Imam Besar Masjidil Haram di Makkah yang juga menjadi Imam Besar Masjid Nabawi di Madinah, Syekh Abdurrahman As-Sudais menekankan bahwa ideologi dan aksi terorisme bertentangan dengan ajaran Islam yang mengedepankan kasih sayang dan toleransi.

"Terorisme tidak memiliki agama dan budaya. Namun, ada banyak pihak yang berusaha untuk mengubah citra Islam," kata Syekh As-Sudais dalam pernyataan melalui layanan pesan singkat yang diterima di Jakarta, Selasa (14/8).

Syekh melanjutkan bahwa Pemerintah Kerajaan Arab Saudi senantiasa menyampaikan pesan-pesan Islam berdasarkan belas kasihan, toleransi dan koeksistensi, serta mendukung moderasi dan menyoroti citra Muslim yang beradab guna menghalau tuduhan terorisme atas Islam.

Kepada sejumlah wartawan dari beberapa negara yang menemuinya beberapa waktu lalu, Syekh As-Sudais mengatakan media massa memiliki tanggung jawab besar yang mewakili denyut nadi seluruh Umat Islam di dunia.

Dia juga menekankan bahwa wartawan memiliki kemampuan mengubah opini publik tentang Islam. "Allah akan meminta pertanggungjawaban Anda pada Hari Kebangkitan untuk setiap kata yang Anda tulis," katanya.

Syekh menegaskan bahwa Tanah Suci adalah tempat ibadah, bukan untuk mengampanyekan slogan politik dan sekte-sekte agama.

"Kerajaan Arab Saudi dipercaya oleh Allah untuk menjaga dua Masjid Suci sehingga kerajaan sangat peduli akan keamanan dan kedamaian di dalamnya," kata Syekh As-Sudais.

Syekh menekankan bahwa dirinya ingin terus mengurus urusan Umat Islam dan berusaha untuk menguatkan hubungan dan solidaritas di antara masyarakat di negari-negeri Islam.

Syekh As-Sudais dijadwalkan menyampaikan khutbah Arafah saat pelaksanaan musim haji 1439 Hijriah/2018 Masehi dan akan disiarkan dalam lima bahasa, yakni Melayu (Bahasa Indonesia), Urdu, Persia, Prancis, dan Inggris melalui lima frekuensi radio.

Penerjemahan khutbah Arafah yang merupakan proyek Pemerintah Kerajaan Arab Saudi yang bertujuan agar jamaah haji dan Muslim di seluruh dunia dapat mendengarkan dan memahami isi khutbah Arafah yang dibawakan dalam Bahasa Arab.

Pemerintah Arab Saudi telah mengumumkan bahwa Idul Adha 1439 Hijriyah akan jatuh pada 21 Agustus 2018. Dengan demikian, pelaksaanaan ibadah haji akan dimulai pada 19 Agustus (8 Dzulhijjah) hingga 23 Agustus 2018 (12 Dzulhijjah). (Antara/Fathoni)
Rabu 15 Agustus 2018 1:0 WIB
Dubes Agus Maftuh: Saudi Harap Indonesia Berbagi Pengalaman Kelola Haji
Dubes Agus Maftuh: Saudi Harap Indonesia Berbagi Pengalaman Kelola Haji
foto: istimewa
Makkah, NU Online
Pemerintah Saudi memberikan apresiasi besar kepada Indonesia karena dianggap sebagai jemaah terdisiplin. Bahkan, Saudi berharap Indonesia mau berbagi kemampuan manajerial pelayanan haji kepada negara-negara lainnya.

Duta Besar Indonesia untuk Saudi, Agus Maftuh Abegebriel, menandaskan hal itu usai rapat koordinasi (rakor) antara Amirul Hajj dengan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi. Senin (13/08).

“Saudi sangat berharap Indonesia menularkan sharing manajerial haji karena memandang Indonesia sangat mampu untuk itu,” tandas Dubes Agus Maftuh.

Dikutip dari kemenag.go.id, Agus menambahkan, saat ini merupakan masa keemasan diplomatik antara Saudi dan Indonesia. “Saya dan Dubes Saudi untuk Indonesia sepakat membentuk poros kerjasama Saunesia (Saudi-Indonesia) untuk meningkatkan hubungan bilateral kedua negara,” imbuh Agus Maftuh.

Selain itu, Dubes menjelaskan Saudi akan membuat proyek besar yang disebut Thoriq Mecca atau Mecca Road. “Proyek ini akan diselesaikan pada 2030, yang dapat menampung 5 juta jemaah haji sedunia dan saya meyakini Indonesia bakal menjadi negara yang paling dimanjakan Saudi,” pungkas pria yang menjabat Dubes sejak 13 Januari 2016 ini. (Red: Muis)
Selasa 14 Agustus 2018 7:0 WIB
Tiga Penyebab Munculnya Islamofobia di Eropa
Tiga Penyebab Munculnya Islamofobia di Eropa
Jakarta, NU Online
Sepanjang sejarah dunia, ketidaknyamanan selalu muncul di antara manusia sebagai makhluk sosial, baik karena bahasa, agama, ataupun ras. Hal ini muncul di dunia Barat dengan bentuk islamofobia. Ada semacam sentimen negatif ketika melihat ataupun mendengar Islam. Penyebabnya muncul dari berbagai hal dan dari segala arah sehingga membentuk gelombang besar yang memengaruhi masyarakat di sana untuk benci terhadap Islam.
 
Hal ini diungkapkan oleh Pimpinan Bayt Ar-Rahmah li ad-Da'wa al-Islamiyah Rahmatan li al-'Alamin Holland C Taylor saat ditemui NU Online di hotel Grand Hyatt, Jakarta pada Senin (13/8).
 
Pertama, ketidaknyamanan masyarakat Eropa terhadap Islam itu muncul karena homogenitas mereka dan kesulitannya masyarakat imigran melakukan asimilasi dan integrasi, penyesuaian sifat asli mereka dengan sifat lingkungan di sekitar mereka tinggal. Karena itu, bangsa Eropa kurang bisa menerima kedatangan imigran yang beranak pinak dengan tanpa menghilangkan sifat mereka.
 
“Sebelum kedatangan grup-grup ini (imigran) dari negara masing-masing, kebanyakan negara Eropa itu homogen,” katanya.
 
Terlebih, mereka yang masuk ke Eropa lebih banyak yang berpendidikan rendah. Hal ini berbeda dengan Muslim yang masuk ke Amerika, yakni memiliki latar belakang pendidikan yang baik. Selain itu, menurut Duta Gerakan Pemuda Ansor untuk Amerika dan Eropa itu, Muslim di Amerika tidak tinggal di satu daerah tertentu saja yang mengelompok, tetapi menyebar.
 
“Di Eropa biasanya pendidikannya rendah, kerjanya agak ke bawah. Dan mereka semua dari satu etnik dan kumpul di satu lokasi. Mereka dianggap asing karena Eropa tidak punya budaya imigran,” ujar pimpinan LibForAll Foundation itu.
 
Ketidaknyamanan mereka semakin diperparah dengan kehadiran kaum ekstremis yang melakukan teror di mana-mana, seperti Al-Qaeda dan ISIS.  “Dengan kemunculan fenomena teror dari Al-Qaeda dan belakangan ini dari ISIS, wuh itu jauh lebih parah,” kata pria asal Amerika itu menyebut penyebab keduanya.
 
Lebih lanjut, Holland juga mengungkapkan bahwa terjadi benturan antara masyarakat keturunan imigran yang lahir dan tumbuh di negara Eropa dengan masyarakat asli Eropanya. “Mereka membantai sesama warga. Itu masalah besar. Mereka berbeda etnik dan agamanya, meskipun secara kewarganegaraan sama,” katanya.
 
Adanya gelombang migrasi ke Eropa tanpa ada persyaratan khusus dan kontrol membuat publik Eropa menjadi kaget dan prihatin. “Yang ketiga, imigrasi massal sampai ada jutaan orang masuk Eropa tanpa ada persyaratan dan kontrol,” katanya.
 
Pasalnya, hal tersebut menaikkan angka pemerkosaan di sana, sebagai salah satu contoh saja. Hal ini pernah Holland lihat sendiri ketika ia berkunjung ke Jerman. Ia melihat perempuan pribumi (orang asli Jerman) diperkosa. Hal demikian, menurutnya terjadi di mana-mana. Ia sampai menyebutnya diekspor ke Eropa.
 
“Sikap laki-laki di beberapa kawasan di Timur Tengah terhadap perempuan, kita di sini bisa menganggap kurang ajar,” katanya.
 
Karena itu, ia menerangkan bahwa Islamofobia tidak mulai dari nol. Hal ini akan lebih panjang kronologinya jika ditarik ke masa khilafah mengingat adanya ekspansi dengan menggunakan militer di belahan dunia Barat tersebut. (Syakir NF/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG