IMG-LOGO
Daerah

Dosen STAINU Temanggung Juara I Lomba Artikel Kemdikbud dan Esai UGM

Kamis 16 Agustus 2018 7:0 WIB
Bagikan:
Dosen STAINU Temanggung Juara I Lomba Artikel Kemdikbud dan Esai UGM
Jakarta, NU Online
Hamidulloh Ibda, dosen STAINU Temanggung menjadi Juara I kategori umum dalam Lomba Karya Jurnalistik Pendidikan dan Kebudayaan dalam rangka Hardiknas 2018 yang bertajuk Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan sebagai salah satu rangkaian Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2018.

Ari Santoso, Kepala Biro Masyarakat dan Layanan Masyarakat Kemdikbud, menjelaskan acara itu merupakan skala dan prestasinya nasional karena semua prosesnya digarap profesional.

"Semua juri profesional, memakai aplikasi dan tahun ini lebih banyak pesertanya. Tahun kemarin untuk lomba karya jurnalistik dan foto ada sekira 5000 dan tahun ini ada 7000 lebih. Jadi bapak, ibu, adik-adik semua adalah pilihan se Indonesia," beber dia.

Ia menjelaskan, lomba foto dan karya jurnalistik sudah digelar lima kali. Dan tahun ini pesertanya paling banyak. Panitia menobatkan sembilan juara pada masing-masing kategori. Mulai dari kategori guru, kategori umum dan kategori feature dan beberapa juara lomba foto.

Ibda diberi penghargaan dari Kemdikbud pada Rabu (15/8) malam di Gedung Ki Hajar Dewantara, Plaza Insan Berprestasi Lt.1 Kemdikbud, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta oleh Sekjen Kemdikbud Didik Suhardi, Ph.D yang mewakili Mendikbud Prof Muhadjir Effendy.

Sebelumnya, panitia mengumumkan juara lomba Hardiknas itu di laman lombafotoartikel.kemdikbud.go.id dan di laman kemdikbud.go.id tentang Pemenang Lomba Artikel dan Karya Jurnalistik Pendidikan dan Kebudayaan 2018  pada 07 Juni 2018. Kemudian hari ini, Rabu (15/8), dia diberi penghargaan oleh Kemdikbud bersama para juara dari ketagori artikel/opini guru dan karya jurnalistik/feature serta bersama Pemenang Lomba Foto Pendidikan dan Kebudayaan 2018.

"Alhamdulillah bisa berbagi, ini bukan prestasi, hanya ikut meramaikan perayaan Hardiknas tahun 2018 ini," beber Kaprodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STAINU Temanggung tersebut.

Dalam lomba Hardiknas itu, Ibda menjadi Juara I Kategori Umum dengan artikel berjudul "Penguatan Bahasa Ibu untuk Memajukan Kebudayaan" yang sebelumnya sudah dimuat di media Satelitpost pada 19 April 2018 dan berhasil menyisihkan karya peserta lain se Indonesia.

Sementara itu, sebelumnya penulis buku Sing Penting NUlis Terus ini juga berhasil menjadi Juara I lomba esai tingkat nasional bertema Pengembangan Ilmu Berbasis Local Wisdom yang digelar Filsafat Ilmu UGM yang diumumkan pada 2 Juli 2018 melalui laman filsafatilmu.filsafat.ugm.ac.id.

Pada lomba itu, Ibda menulis esai bertajuk Penguatan Tasawuf Sosial lewat Nyadran yang menyisihkan peserta lain se-Indonesia. Ibda diberi penghargaan dari panitia pada 7 Juni 2018.

Panitia Lomba Esai UGM, Lingga, mengatakan apresiasi terhadap kejuaraan tersebut. "Selamat Anda telah keluar sebagai pemenang dalam Lomba Esai Menara Ilmu "Pengembangan Ilmu berbasis local wisdom," beber dia.

Sing Penting NUlis Terus
Bagi pria kelahiran Pati 17 Juni ini, kunci untuk awet muda salah satunya adalah membaca dan menulis. "Kalau saya sih justru memilih menulis, membaca, membaca, menulis. Pokoknya itu, apa saja, kapan saja, dan di mana saja usahakan membaca yang agak serius, lalu tulislah," ujar penulis buku Media Literasi Sekolah itu.

Mengikuti perlombaan, bagi dia, adalah bagian dari wahana publikasi ide dan gagasan. "Sejak 2008, saya sudah menulis. Meski dulu acakadut, tapi belajar dari banyak senior, teman, dan kolega, sampai sekarang alhamdulillah saya tetap bisa menulis. Jadi, bukan jadi alasan kesibukan itu merenggut waktu menulis. Kayak jadi candu gitu lah, karena dulu saya fokus artikel populer, sekarang mau tidak mau harus bisa menulis buku dan jurnal ilmiah, penelitian juga," beber penulis buku Teacherpreneurship itu.

Ibda berharap, dari lomba yang ia ikuti itu bisa menjadi motivasi bagi dirinya sendiri untuk terus menghidupkan budaya literasi. "Ini hanya bagian dari sebagian kecil aktivitas literasi. Menulis itu hakikatnya ya candu, hobi, bukan sekadar mencari materi. Adapun juara itu hanya bonus saja. Kuncinya, sing penting nulis terus ," lanjut dia. (Dul/Abdullah Alawi)
Bagikan:
Kamis 16 Agustus 2018 23:30 WIB
Yarsis Surabaya Sumbang Korban Gempa Lombok Melalui NU Jatim
Yarsis Surabaya Sumbang Korban Gempa Lombok Melalui NU Jatim
Yarsis Surabaya sumbang korban Lombok lewat PWNU Jatim
Surabaya, NU Online
Yayasan Rumah Sakit Islam (Yarsis) yang membawahi empat unit usaha masing-masing Universitas NU Surabaya (Unusa), Rumah Sakit Islam A Yani Surabaya, Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya, dan Rumah Sakit Islam, Nyi Ageng Pinatih, Gresik, ikut menghimpun sumbangan untuk korban bencana Lombok, di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Bantuan sebesar Rp235 juta tersebut disampaikan secara simbolik oleh Ketua Yarsis Mohammad Nuh dan diterima secara langsung oleh Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim, KH Marzuki Mustamar, di Kantor PWNU Jatim, Surabaya, Kamis (16/8) siang. Hadir pula Ketua Unusa Peduli, Moh Ghofirin dan jajaran pengurus Yarsis.

Dikatakan Mohammad Nuh, penyerahan bantuan dari Yarsis kepada PWNU yang diperuntukkan bagi korban bencana gempa bumi di Lombok dihimpun dari warga yayasan di empat unit Yarsis yang dikelola oleh unit pengelola zakat. 

"Kami mempercayakan penyaluran bantuan ini melalui PWNU Jatim, karena PWNU memiliki jejaring dan sumber daya manusia yang lengkap di lokasi gempa," katanya.

Yarsis sendiri, selain memberikan dalam bentuk uang juga telah mengirimkan tenaga kesehatan atau dokter dan perawat ke lokasi untuk menangani tanggap darurat. 

"Kami akan terus memaksimalkan bantuan tenaga medis melalui unit yang ada di Yarsis, seperti Unusa dengan mengirim dosen dan mahasiswanya dan RSI untuk dokter," katanya.

Nuh berharap, bantuan yang diberikan yayasannya itu dapat meringankan beban saudara-saudara kita yang terdampak di lokasi bencana. (Rof Maulana/Muiz)
Kamis 16 Agustus 2018 23:19 WIB
Tradisi Nyadran di Ngajuk Bikin Warga Guyub dan Rukun
Tradisi Nyadran di Ngajuk Bikin Warga Guyub dan Rukun
Nganjuk, NU Online 
Ratusan warga Desa Karangsemi, Kecamatan Gondang, Kabupaten Nganjuk, menggelar kenduri seribu tumpeng sebagai bagian dari tradisi budaya Nyadran atau ziarah makam di area makam Ki Ageng Keniten. 

Acara Nyadran merupakan tradisi Jawa yang melakukan kunjungan ke makam para leluhur untuk berdoa dan membersihkan makam. Setelah usai berdoa kepada leluhur, dilanjutkan makan tumpeng bersama dan diakhiri pagelaran Wayang Kulit oleh Ki Dalang Ali Yusuf Purwo Carito.

"Tradisi Nyadran ini merupakan cetusan para wali saat menyiarkan agama Islam di tanah Jawa. Setiap tradisi yang dibuat oleh para wali tetap lestari dan tak mudah untuk ditinggalkan; karena tradisi yang diajarkan wali semuanya baik; karena mengandung unsur pemersatu setiap perbedaan budaya di tengah masyarakat," jelas Ketua Panitia Ismail, Kamis (16/8).

Lanjutnya, tradisi Nyadran dilaksanakan  setahun sekali. Biasanya berlangsung pada Jumat Pahing secara sederhana dan kali ini masyarakat menyetujui di alihkan pada hari lain. Nyadran merupakan media efektif untuk menjalin silaturahim antarwarga yang selama ini banyak disibukkan dengan urusan pribadi.

"Tradisi Nyadran Makam Keniten merupakan kebudayaan yang mengajarkan nilai-nilai agama untuk berbakti kepada orang tua dan para leluhur. Para leluhur dan orang tua itu telah banyak memberi kebaikan dan kemanfaatan kepada kita semua dan para anak cucunya. Oleh sebab itu, kebudayaan Nyadran ini baik dan harus tetap dilestarikan," bebernya.

Sementara itu, menurut Kepala Desa Karangsemi Puryani pada pergelaran kali ini dinamakan gerakan Seribu tumpeng. Tradisi Nyadran ini selain efektif sebagai media silaturahmi, juga ada keyakinan yang mendasari warga desa ini tetap setia melestarikan tradisi ini. Yakni adanya keyakinan tidak akan mendapatkan berkah hidup, baik warga yang berprofesi sebagai petani atau pekerjaan lainnya selama satu tahun mendatang. Itu lah sebabnya banyak warga yang datang dan berkerumun.

"Biasanya ada masyarakat malas kumpulan tapi kalau Nyadran pasti datang dan memeriahkan. Yang mangkel-mengkel (kesal) pun akhirnya ketemu di sini, makan bareng berdoa bareng. Ini bagian dari merawat Negara Kesantuan Republik Indonesia (NKRI) dari kelompok yang terkecil," kata Puryani.

Ia menjelaskan Nyadran di Desa Karangsemi memang sederhana namun berlangsung khidmat. Warga, tua muda, laki-laki dan perempuan berkumpul di pemakaman umum desa. Bahkan sebenarnya acara ini sudah dimulai sehari sebelum Nyadran. Dimana warga sudah bergotong-royong membersihkan lahan di sekitar area makam untuk pelaksanaan acara ini.

"Setiap keluarga yang datang membawa makanan berupa nasi dan aneka makanan berupa nasi dan lauk pauk serta ayam panggang. Selain makanan, warga juga membawa bunga untuk keperluan nyekar. Masakan khasnya adalah setiap orang membawa ayam panggang satu ekor utuh," bebernya.

Suasana kebersamaan antarwarga ini terlihat sekali saat warga makan bersama. Mereka duduk berjajar saling berhadapan membuat barisan memanjang. Sementara nasi dan aneka lauk pauk ditata rapi didepannya. Ayam panggang yang dibawa oleh setiap kepala keluarga lalu dipotong-potong agar semua kebagian.

"Ritual ini dihadiri jajaran Muspika Kecamatan Gondang dan Kepala Bidang Kebudayaan Nganjuk Pasian. Hadir pula dalam acara itu Kepala Desa se-Kecamatan Gondang. Cukup meriah dan guyup rukun," pungkas Puryani. (Syarif Abdurrahman/Abdullah Alawi)


Kamis 16 Agustus 2018 18:30 WIB
LAZISNU Jember Perpanjang Penarikan Dana untuk Korban Lombok
LAZISNU Jember Perpanjang Penarikan Dana untuk Korban Lombok
Jember, NU Online 
Aksi penggalangan dana oleh Pimpinan Cabang (PC) Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Jember, Jawa Timur diperpanjang. Hal tersebut seiring antusias masyarakat yang menyalurkan dana untuk korban bencana gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kegiatan ini atas kerja sama dengan Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) serta Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau PMII. Awalnya aksi pengumpulan donasi dicukupkan tiga hari, Namun diperpanjang menyusul antusias warga yang cukup tinggi untuk berpartisipasi menyumbang. 

Menurut Ketua PZISNU Jember, H Sanusi Muchtar Fadilah, perpanjangan durasi penarikan dana tersebut atas permintaan sejumlah kader NU yang turun langsung menarik dana dari warga. “Ya kami akomodasi. LAZISNU sifatnya hanya mengkoordinir teman-teman di lapangan,” katanya kepada NU Online, Rabu (15/8).

Dalam pandangannya, antusiame masyarakat yang tinggi untuk berpartisipasi dalam membantu korban gempa Lombok membuktikan bahwa kepekaan sosial warga Jember cukup tinggi. “Hal itu juga tidak lepas dari sosialisasi LAZISNU yang tiada henti mengetuk hati warga, baik melalui media sosial maupun pertemuan dengan pengurus Majelis Wakil Cabang dan Ranting NU,” jelasnya.

“Kami terus berupaya untuk mengetuk hati warga agar ikut beramal dalam penggalangan dana itu,” jelasnya.

H Sanusi menambahkan, dana yang sudah terkumpul dari sebagian kader IPNU dan PMII sudah mencapai Rp. 10 juta lebih. Dana tersebut akan disetorkan kepada PW LAZISNU Jawa Timur untuk disumbangkan bagi korban bencana Lombok. 

Diakui Sanusi, pihaknya memasrahkan penggunaan dana itu kepada PW LAZISNU Jatim untuk dibelikan kebutuhan mendesak yang diperlukan korban.

“Yang tahu persis soal kebutuhan itu, ya LAZISNU Jatim. Soalnya mereka punya tim di Lombok yang bertugas menginventaris kebutuhan korban,” tandasnya. (Aryudi Abdul Razaq/Ibnu Nawawi

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG