IMG-LOGO
Pustaka

Memahami Tasawuf KH Saleh Darat

Sabtu 18 Agustus 2018 15:30 WIB
Bagikan:
Memahami Tasawuf KH Saleh Darat
Nama KH Saleh Darat Semarang dalam konteks sejarah Islam di Nusantara, terkhusus sejarah pesantren, memiliki tempat tersendiri dalam ruang diskusi para pembaca dan pemerhati. Ia dikenal salah satu ulama yang produktif berdakwan dan menulis. Tidak sedikit berbagai karya telah dituliskan sebagai medium dakwah di tengah masyarakat luas, termasuk diajarkan kepada santri-santrinya dengan menggunakan tulisan Arab pegon Jawa.

Kealimannya tidak disangsikan. Karenanya, berbagai santri yang kelak menjadi tokoh besar terlahir dari sentuhan dingin dari sosok Kiai Saleh. Kenyataan ini tidak bisa lepas dari proses belajarnya kepada beberapa ulama di di Makkah al-Mukarramah, termasuk beberapa ulama Jawa yang pernah disinggahi. Salah satu ulama Makkah yang menjadi jujukannya adalah Syaikh Muhammad Muqri al-Mishri al-Makki, Syaikh Ahmad ibn Zaini Dahlan, Syaikh Nahrawi al-Mishri al-Makki. (lihat 84-86).

Buku ini menarik, sebab mengupas dari kekhasan pemikiran Kiai Saleh. Menarik sebab Kiai Saleh menguasai beberapa disiplin keilmuan Islam dan buku ini mengungkap secara gamblang plus detail bagaimana pemikiran tasawuf Kiai Saleh Darat serta berada dalam tipologi apakah tasawufnya, bila dikaitkan dengan tipologi tasawuf Sunni atau tasawuf falsafi. Sebuah usaha akademik yang sangat berharga sehingga layak dibaca oleh semua kalangan.

Salah satu pemikiran tasawuf Kiai Saleh Darat bila dipahami, misalnya, adalah “larangan agar kita tidak mudah berburuk sangka kepada guru –tepatnya guru mursyid—yang telah memiliki sanad yang sangat jelas dari para guru-guru atau mursyid yang sempurna” (lihat, 259). Sebuah larangan yang layak direnungkan dalam konteks hubungan murid dan guru sehingga akan sangat berarti buku ini untuk dibaca dalam rangka mendalami bagaimana langkah tasawuf itu mengajarkan banyak hal dalam kehidupan; bukan saja kehidupan bersama Allah, tapi juga bersama manusia.

Dalam kontek pendidikan, untuk menafsirkan isyarat atau intruksi ambigu yang disampaikan oleh seorang guru, siswa harus memiliki rasa kepercayaan yang tinggi kepada guru. Oleh karena itu dengan adanya rasa percaya seorang siswa kepada guru, siswa akan memperoleh manfaat berupa kurangnya keraguan dalam mengartikan tingkah laku guru, rasa hormat kepada guru sehingga siswa komitmen dan mematuhi aturan serta norma-norma yang berlaku baik di kelasa maupun di sekolah. Rasa percaya seorang murid kepada guru sangat penting dilakukan untuk menciptakan proses belajar mengajar yang diinginkan.

Banyak ajaran tasawuf Kiai Saleh Darat yang diulas dalam buku ini, yang pasti tipologi pemikiran tasawufnya menjadi menarik untuk didalami. Pembacaannya yang mengunakan bahasa lokal menjadi kelebihan tersendiri dalam karya-karyanya sehingga sungguh cukup bagus ulasan buku ini juga mengupas bahasa aslinya lantas penulisnya mengulas dan menafsirkan sesuai dengan kerangka pengetahuan yang dipahami secara teroritis.

Namun, membaca buku ini memang butuh pembacaan yang serius dan ini –sekaligus--menjadi kelebihan buku ini sebab bukan sekadar buku biografi sebagaimana buku-buku lain yang membahas tentang buku Kiai Saleh Darat. Tapi lebih pada tulisan sejarah intelektual Muslim, apalagi buku ini adalah karya disertasi penulisnya dalam rangka menyelesaikan program doktoral.

Lebih dari itu ulasannya yang cukup baik dengan membandingkan data-data lain memastikan buku ini mampu menyuguhkan posisi tasawuf Kiai Saleh Darat dalam bingkai perkembangan tasawuf Nusantara. Yang pasti, membaca buku ini adalah salah satu jalan agar kita mampu membaca dan menemukan bagaimana ulama Nusantara berdakwah memahamkan nilai-nilai tasawuf kepada masyarakat. Selamat membaca.


Identitas Buku
Judul Buku: Pemikiran Tasawuf KH Saleh Darat Al-Samarani; Maha Guru Para Ulama Nusantara
Pengarang: Prof Dr Ali Mas’ud Kholqillah, MAg
Penerbit: Pustaka Idea
Tahun Terbit: 2018
Tebal Buku: xxii + 338
Peresensi: Ibnus Shofi (Mahasiswa S2 UIN Sunan Ampel, penerima Beasiswa Kemenpora 2018)

Bagikan:
Rabu 15 Agustus 2018 9:1 WIB
Mengenal Mujiz Dalailul Khairat dari Kudus
Mengenal Mujiz Dalailul Khairat dari Kudus
Bagi kalangan santri atau kaum pesantren, tirakat (riyadhah) sudah menjadi hal umum. Tirakat dilakukan sebagai ikhtiar bathiniyah, supaya jalannya dalam menuntut ilmu diberi kemudahan oleh Allah SWT.

Di Kabupaten Kudus, ada satu pesantren yang bahkan dikenal sebagai Pondok Riyadhah, yakni Pondok Bareng yang didirikan oleh KH Yasin. KH Yasin adalah satu dari kiai di Bareng yang mula-mula mengembangkan pondok pesantren di kawasan Kecamatan Jekulo, Kudus.

Di balik sukses KH Yasin mengembangkan pondok pesantren, ada dua sosok lain yang sangat berjasa mendukungnya dalam membangun dan mengembangkan Pondok Bareng, yaitu KH Sanusi (Mbah Sanusi) yang tak lain adalah guru dari KH Yasin serta KH Yasir, sang ayah mertua.

KH Yasin yang memiliki nama kecil Soekandar, lahir di Kabupaten Pati, Jawa Tengah sekitar tahun 1890-an. Ada yang mengatakan tempat kelahirannya adalah Desa Cebolek, dan ada yang mengatakan di Desa Kajen. (hal. 16).

Nama Yasin sendiri baru 'disandangnya' usai menunaikan ibdaha haji di Haramain. Ayahnya adalah Tasmin, yang setelah menunaikan ibdah haji berganti nama menjadi Haji Amin. Sedang ibunya bernama Nyai Salamah.

Sekitar usia enam tahun, ayahanda Soekandar meninggal dunia di Makkah saat menunaikan ibdaha haji. Soekandar pun kemudian diasuh oleh Kiai Abdussalam yang merupakan ayahanda dari para kiai besar keturunan KH Mutamakkin di Kajen. Putra-putra Kiai Abdussalam yaitu Kiai Mahfudz, Kiai Abdullah Salam dan Kiai Ali Mukhtar. (hal. 28)

Soekandar pun tumbuh menjadi pribadi dengan pendidikan agama yang baik di bawah asuhan Kiai Abdussalam. Antara lain mengaji al-Quran, Nahwu-Sharf, Fikih, Tauhid, Tafsir, Hadits, dan lain sebagainya. (hal. 29)

Selain kepada Kiai Abdussalam, Soekandar juga belajar kepada para ulama Nusantara berpengaruh, yakni KH. Kholil Bangkalan, Kiai Nawawi Noer Hasan Sidogiri, Kiai Sholeh Darat, Kiai Amir Idris Pekalongan, Kiai Khalil Harus Kasingan dan Kiai Idris Jamsaren.

Dan kepada Kiai Sanusi, Soekandar atau Kiai Yasin belajar ilmu rabbaniyah, kesufian atau jalan mendekatkan diri kepada Allah. Kiai Sanusi sendiri merupakan mursyid Tarekat Naqsabandiyah, yang sanad keilmuannya bersambung degan Syaikh Bahauddin al-Naqsabandi.

Dan Pondok Bareng yang didirkan oleh KH Yasin, dikenal masyarakat luas terkait dengan persebaran ijazah Dalailul Khairat. Pondok Bareng pun kemudian dikenal sebagai pondok riyadhoh.

Santri yang menjalani riyadhoh Dalailul Khairat meyakini akan keberkahannya, terlebih Dalailul Khairat karya Syaikh Abu Abdillah bin Sulaiman Al-Jazuli Al-Simlali Al-Syarif A-Hasani tak lain adalah sebuah wirid yang berisi shalawat yang mengagungkan Baginda Nabi Muhammad Saw. (hal. 93 – 94)

Dari Pondok Bareng yang didirikan dan diasuh KH Yasin itu, berhasil 'mencetak' para santri yang menjadi kiai-kiai berpengaruh yang sangat dikenal masyarakat, antara lain Kiai Hambali, Kiai Makmun, Kiai Ahmad Basyir dan Kiai Hanafi (Kudus); Kiai Muhammadun (Pondowan, Pati), Kiai Muhammad Zen (Cebolek, Pati); Habib Muhsin (Pemalang); dan Kiai Shaleh (Sayung, Demak). (hal. 67)

Ingin tahu lebih banyak tentang KH Yasin Bareng? Silakan pembaca simak lembar demi lembar buku ''KH. Yasin Bareng: Sang Mujiz Dalailul Khairat dari Nusantara'' karya Amirul Ulum.

Peresensi adalah Rosidi, Guru MANU Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus dan Koordinator Gubug Literasi Tansaro

Identitas buku:
Judul Buku: KH Yasin Bareng: Sang Mujiz Dalailul Khairat dari Nusantara
Penulis: Amirul Ulum
Pengantar: KH. Muhammad Mujib
Penerbit: Global Press, Yogyakarta
Cetakan: I, Maret 2018
Halaman: 116 + xviii
Selasa 14 Agustus 2018 17:45 WIB
‘Road Map’ NU Menghadapi Abad Kedua
‘Road Map’ NU Menghadapi Abad Kedua
Pada tahun 2026 mendatang, Nahdlatul Ulama mencapai usia satu abad atau 100 tahun sejak dideklarasikan pada 1926 di Surabaya oleh para kiai yang dinakhodai Hadlratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Banyak hal telah dilalui oleh jamaah dan jam’iyah NU, baik rintangan, tantangan, sejarah, program, jasa untuk umat, bangsa, dan negara hingga saat ini Indonesia masih menjadi satu kesatuan di tengah kemajemukan bangsa.

Bahkan, peran global yang sedari awal telah dibangun oleh KH Abdul Wahab Chasbullah melalui pengiriman delegasi bernama Komite Hijaz di Makkah turut memberikan inspirasi bagi Nahdliyin agar tidak terlepas dari problem dunia internasional. Setidaknya, peran NU yang mendunia itu tetap akan menjadi rel dan pondasi kokoh seperti terlihat dalam gambaran bola dunia di logo NU.

Saat ini, perubahan sosial semakin cepat. Hal ini berakibat problem yang ditimbulkan juga semakin kompleks sehingga dengan sendirinya, tantangan NU sebagai organisasi sosial keagamaan terbesar di dunia juga mempunyai pekerjaan rumah yang tidak mudah. Apalagi perubahan tersebut disertai kemajuan pesat teknologi informasi dan digital. Dunia dalam genggaman. Seluruh individu, komunitas, kelompok, organisasi, bangsa, dan negara di semua belahan dunia dapat mengakses informasi secara realtime. 

Dahulu tradisi, budaya, pemikiran, dan ilmu harus didapat dengan mendatangi langsung seorang guru. Saat ini, dengan gadget di tangan, siapa pun bisa belajar lewat transformasi era digital berwujud media sosial, baik tulisan, video, gambar kartun, maupun gambar kutipan (meme). Bedanya, tradisi lama membentuk sekaligus mampu merawat jalinan masyarakat yang kuat dan kokoh secara keilmuan sehingga bisa membentuk budaya baru, sedangkan tradisi baru atau digital membentuk masyarakat virtual yang cenderung kurang humanis.

Salah satu tantangan inilah yang dibaca oleh para penulis dalam buku Peta Jalan NU Abad Kedua. Namun, melihat realitas sosial saat ini, NU tidak terlalu takjub apalagi kaget. Sebab sedari awal, NU mempunyai prinsip al-muhafadzatu ‘alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah (menjaga nilai-nilai tradisi yang berguna buat umat dan mengambil secara selektif terhadap nilai-nilai baru yang lebih berguna untuk umat).

Dalam buku yang banyak merangkum ide dan gagasan bagi NU untuk menghadapi abad kedua setelah 2026 ini, warga NU (nahdliyyin) juga dituntut mempunyai jiwa inovatif di segala lini kehidupan, tak terkecuali bidang sosial dan agama yang selama ini menjadi concern NU. Langkah inovatif ini harus berjalan terus menerus agar NU tetap menjadi subjek (fa’il) atau produsen, bukan objek (maf’ul) atau konsumen di tengah perubahan.

Langkah itulah yang disebut Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin dengan prinsip al-ashlah ilaa mahuwal ashlah tsummal ashlah fal ashlah (innovative and continous improvement). Jadi, menjaga tradisi merupakan hal penting, mengadopsi dan selektif terhadap tradisi baru juga langkah yang tidak kalah penting, tetapi tetap berinovasi merupakan langkah yang sangat penting sehingga peran NU sebagai subjek akan konsisten atau istiqomah dalam keaktifan memberi manfaat (maslahah) untuk umat di seluruh dunia.

Konsep Islam Nusantara sebagai sebuah karakter dan tipologi Islam khas di Indonesia juga perlu terus digaungkan. Sebab, nilai-nilai Islam yang dikembangkan oleh para ulama Nusantara dengan jutaan khazanahnya selama ini mampu menginspirasi warga Muslim dunia untuk bisa adaptif dengan tradisi dan budaya lokal, di mana pun Muslim itu berada.

Dengan prinsip kemasyarakatan yang dikembangkan oleh NU seperti tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), i’tidal (tegak lurus/adil), dan amar ma’ruf nahi munkar menjadikan Islam dapat diterima siapa saja. Alasan fundamental itulah yang mejadikan Islam dapat mudah diterima oleh masyarakat lokal Nusantara hingga saat ini Indonesia menjadi negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia.

Sebagai organisasi yang terus mentradisikan kitab-kitab ulama klasik (turats) dalam setiap pengambilan hukum, NU juga perlu istiqomah dengan tradisi Bahtsul Masail-nya. Pembahasan problem-problem aktual keagamaan dalam realitas sosial masyarakat itu selama ini mampu memberikan solusi konkret dalam menjawab perubahan zaman. Artinya, tradisi Bahtsul Masail merupakan salah satu pondasi penting dan kebutuhan pokok dalam menjawab perubahan.

Dalam hal ini, semangat hasil Munas Alim Ulama di Lampung tahun 1992 perlu menjadi rujukan, yakni prinsip istinbath jama’iy untuk menghadapi berbagai dinamika masyarakat yang berubah secara cepat. Jika di abad pertama NU telah membuktikan kecerdasan ijtihadnya untuk mempertemukan paham keagamaan dengan paham kebangsaan yang kemudian melahirkan ideologi Pancasila dan NKRI sebagai sebuah konsep kenegaraan yang sudah final secara hukum agama, maka tantangan NU di abad kedua akan menghadapi hiruk-pikuk perubahan sehingga istinbath jama’iy perlu terus dialakukan.

Istinbath jama’iy ini metode pengambilan hukum secara kolektif dengan menyandarkan diri kepada berbagai pendapat para ulama madzhab. Salah satu poin penting dari keputusan Munas Lampung tersebut ialah pengembangan pengambilan hukum dari secara qauliy (pendapat ulama) ke manhajiy (metodologis).

Metode qauliy mengharuskan pengambilan hukum jika ada pendapat ulama yang menjelaskan. Konsekuensinya, jika pendapat ulama tersebut tidak ada dalam kitab mana pun, maka sebuah hukum tidak bisa diputuskan alias mauquf (tertunda). 

Dampak dari metode ini, NU tidak bisa merespon perubahan zaman secara cepat. Maka dari itu, diambillah metode manhajiy yang dititikberatkan kepada metodologi pengambilan hukum. Manhajiy ini yang paling relevan, sebab meskipun pendapat ulama secara sharih tidak ada, namun hukum tetap bisa diputuskan secara metodologis sehingga NU bisa terus merespon perubahan secara cepat pula.

Buku yang ditulis sejumlah aktivis NU melalui pengamatan selama lima tahun ini menjadi semacam rekomendasi strategis bagi NU untuk menghadapi abad kedua. Dalam buku ini juga dijelaskan tentang pengembangan peran dan manajemen organisasi untuk pengurus, lembaga, dan badan otonom NU di semua tingkatan.

Perangkat-perangkat NU tersebut juga mempunyai mekanisme mandiri dalam merespon perubahan zaman sehingga keputusan-keputusan yang ada di dalamnya juga perlu terakumulasi dan mendapat perhatian. Wallahu’alam bisshawab.

Peresensi adalah Fathoni Ahmad, pengajar di Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta

Identitas buku:
Judul: Peta Jalan NU Abad Kedua
Editor: Abdul Aziz
Penerbit: Yayasan Talibuana Nusantara
Cetakan: Pertama, Mei 2018 
Tebal: xxi + 194 halaman
ISBN: 978-602-61971-3-9
Selasa 31 Juli 2018 18:40 WIB
Al-Kawakibul Lama’ah: Kitab Rujukan Aswaja Karya Ulama Nusantara
Al-Kawakibul Lama’ah: Kitab Rujukan Aswaja Karya Ulama Nusantara
Kitab rujukan paham Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) ditulis oleh beberapa Kiai NU di antaranya Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah karya Hadlratussyekh KH Hasyim Asy’ari, Al-Hujaj Al-Qath’iyyah An-Nahdliyyah karya KH Muhyiddin Abdusshomad, Al-Muqtathafat li Ahlil Bidayat karya KH Marzuqi Mustamar, dan Al-Kawakibul Lama’ah karya Syekh Abu Fadhol Senory.

Ahlussunnah wal Jama’ah sendiri merupakan paham keagamaan kaum Sunni yang berasal dari kalam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi. Paham ini mengambil jalan tengah antara ahlul ra’yi (kelompok rasionalis) dan ahlul hadits sehingga memiliki pemikiran dan paham yang cenderung moderat (wasathi), tidak terlalu tekstual juga tidak terlalu rasional.

Kitab rujukan pokok tentang Aswaja Al-Kawakibul Lama’ah karya Syekh Abu Fadhol Senory merupakan kitab yang ingin diulas dalam tulisan ini. Syekh Abu Fadhol yang lahir di daerah Senori, Tuban, Jawa Timur berupaya memberikan pemahaman yang jelas, lugas, dan mudah dimengerti kepada masyarakat tentang Aswaja dalam kitab ini.

Kitab ini cukup berharga setidaknya karena dua alasan. Pertama, kitab ini merupakan karya asli ulama Nusantara. Ini bukti bahwa khazanah keilmuan dan kealiman ulama-ulama Nusantara mampu menderivasikan (menurunkan) pemahaman Aswaja secara sederhana sehingga bisa dipahami oleh masyarakat umum, terutama untuk warga NU (Nahdliyin).

Syekh Abu Fadhol Senori ini merupakan satu dari banyak ulama Nusantara yang menghasilkan karya rujukan. Bahkan, ulama-ulama Nusantara seperti Syekh Nawawi Banten, Syekh Khatib Sambas, Syekh Yasin Padang, Syekh Mahfud Termas, Syekh Ihsan Jampes, dan lain-lain menghasilkan karya yang menjadi rujukan akademik di ranah global.

Alasan kedua, kitab ini merupakan rujukan penting bagi generasi milenial, terutama untuk menghadapi upaya-upaya tahrif dan pengaburan ajaran Islam ala Aswaja yang selama dipraktikkan dan berkembang luas di tengah masyarakat Indonesia. Kitab ini menurut Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj bisa dijadikan fondasi dan dasar untuk memahami epistemologi Aswaja secara utuh.

Awalnya, Prof Al-Ludz’i Abu Al-Fadhl ibn Syekh Abd Asy-Syakur As-Sinuri Al-Bangilani mengirimkan karya Al-Kawakibul Lama’ah fi Tahqiq Al-Musamma bi Ahli As-Sunnah wa Al-Jama’ah kepada KH Abdul Jalil Hamid Kudus. Kiai Abdul Hamid melihat akan kebenaran dan pentingnya kitab tersebut bahkan bisa menjadi tambahan ilmu yang kuat bagi kaum intelektual.

Lantas kitab tersebut dibawa ke forum Muktamar ke-23 Nahdlatul Ulama di Solo, Jawa Tengah tahun 1962. Muktamirin sangat antusias dengan kitab tersebut sehingga disepakati untuk membentuk tim tashih. Setelah cukup lama, akhirnya tim tashih baru terbentuk di Denanyar, Jombang pada 1383 H bertepatan pada pertengahan Mei 1994.

Hadir dalam agenda tersebut, pemuka-pemuka jami’yah NU di antaranya KH Bisri Syansuri, KH Adlan Ali, KH Kholil, dan KH Mansur Anwar. Mereka merupakan tokoh-tokoh besar NU yang tinggal di Jombang.

Juga hadir dalam agenda tashih tersebut KH Turaihan Ajhuri Kudus, KH Abdul Majid Palembang, KH Raden Muhammad Al-Karim Solo, KH Muhammad Al-Bagir Marzuqi Jakarta, dan KH Abdul Jalil Hamid sendiri. Hadir juga ulama cerdik cendekia dari Martapura Kalimantan KH Nur Jalil.

Dalam kitab ini, Syekh Abu Fadhol Senori memberikan penjelasan cukup sederhana namun mendetail dalam lima pasal. Lima pasal tersebut menjelaskan epistemologi Ahlussunnah wal Jama’ah yang dikembangkan oleh Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi.

Pasal-pasal tersebut juga menjelaskan secara gamblang terkait prinsip-prinsip pembahasan tentang kata dalam bahasa Arab. Syekh Abu Fadhol memaparkan bahwa sebuah kata adakalanya hakiki (bermakna sebenarnya) atau majasi (kiasan). Keduanya bisa bersifat bahasa (lughawi), syariat (syar’i), tradisi (‘urfi), yang bersifat istilah adakalanya ‘am (universal) atau khas (parsial).

Dalam kitab ini juga dibahas penerapan ragam dan karakter kata serta bahasa yang dimaksud di atas. Selanjutnya pembahasan istilah dan makna ‘Sunnah’ dan Ahlussunnah wal Jama’ah yang masuk dalam kelompok kata tradisi (‘urfi). Pembahasan runut tersebut membawa pembaca dapat memahami prinsip-prinsip Aswaja secara mudah namun mendalam.

Dalam kitabnya ini, Syekh Senori juga menerangkan hasil sebuah penelitian yang mengungkakan bahwa Aswaja terbagi menjadi tiga kelompok, pertama, ahli hadits yang metode dan pijakan mereka adalah dalil-dalil sam’i yakni Al-Qur’an, Hadits, dan Ijma’.

Kedua, kelompok ideologis dan pemikir, mereka adalah kaum Asy’ariyah dan Maturidiyah (Hanafiah). Ketiga, ahli rasa dan kasyaf. Mereka adalah kaum sufi. Adapun prinsip ajaran mereka di tahap awal ialah sama dengan prinsip ahli fiqih dan hadits. Namun pada puncaknya mereka menggunakan prinsip kasyaf dan ilham.

Agar lebih memahamkan pembaca, Syekh Senory memaparkan pembahasannya dalam bentuk tanya jawab. Pertanyaan-pertanyaan yang dimunculkan ialah pertanyaan yang muncul, baik dari kalangan masyarakat, ulama, maupun intelektual. Jawaban yang dikemukakan Syekh Senory dibahas dalam bingkai pemahaman Aswaja.

Dengan demikian, kitab ini tidak hanya menguraikan paham Aswaja secara teoritis, tetapi juga menerangkannya secara praktis. Praktik keagamaan yang berkembang di Nusantara selama ini merupakan ejawantah paham Aswaja. Pijakan syar’i-nya jelas dan dapat dipertanggungjawabkan secara teologis maupun akademis. Wallau’alam bisshowab.

Peresensi adalah Fathoni Ahmad, pengajar di Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta

Identitas buku:
Judul: Al-Kawakibul Lama’ah
Penulis: Syekh Abu Fadhol Senory
Penerjemah: Yusni Amru Ghazali
Penerbit: Pengurus Besar Nahdlatul Ulama
Cetakan: Pertama, November 2017
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG