IMG-LOGO
Cerpen

Guru Ngaji

Ahad 19 Agustus 2018 16:0 WIB
Bagikan:
Guru Ngaji
Ilustrasi: antikwoy.blogspot.com
Oleh Ali Mukoddas

Seorang pemuda berparas angkuh dengan tubuh kurus mendatangi Guru Ngaji di kampung Bates. Pemuda yang katanya lulusan Fakultas Perbandingan Agama di salah satu Universitas Jogja tersebut datang hanya karena tahu bahwa Guru Ngaji di kampung Bates pernah mengislamkan beberapa warga asing yang berpelesir ke tanah itu, namun kabar yang sampai di telinga pemuda tersebut membuat pengetahuan api muda di kepalanya membakar amarah. 

Kata pemuda itu, Guru Ngaji tersebut mengislamkan dengan cara kekufuran, sok islami tapi munafik. Dia ngotot, bahwa cara yang dilakukan Guru Ngaji adalah salah. Dirinya harus meluruskan kesalahan itu. Jelasnya, kedatangan pemuda tersebut menginginkan adanya debat. Beradu keyakinan siapa yang paling benar. Dengan mata yang selalu waspada, pemuda itu duduk bersila.

"Kiai-kiai yang ada di kursi politik itu bukan berjuang, tapi menginginkan uang." Pemuda tersebut berdalih.

"Uang agar tidak digelapkan, tidak dikorupsi oleh pihak mana pun." Guru Ngaji menyambung kata terakhir pemuda tersebut dengan cepat.

"Seperti yang ada di gedung organisasi-organisasi islam di negeri ini, semua penjilat."

"Penjilat rahmad Tuhan dan kebenaran!" Lugas dan jelas Guru Ngaji berujar.

"Mereka-mereka itu penyebar kebohongan dengan intrik kebaikan, moderat, ramah dan toleran."

"Agar orang yang bodoh dan sok tahu yakin bahwa ketiga hal tersebut ada dalam diri setiap manusia."

Pemuda yang rupanya bernama Mad itu menarik napas lelah. Dia tidak suka penjelasannya disambung seperti melengkapi kalimat yang putus. Kepala Mad memutar logika, mencari cara agar pas tanpa penjelasan yang berbuntut kekalahan.

Guru Ngaji yang bersila di hadapan pemuda tersebut tersenyum. Dia tersenyum bukan karena merasa menang bisa mematahkan secara gamblang kalimat pemuda tersebut. Dia tersenyum pada dirinya sendiri, yang rupanya tak bisa menghentikan pikiran jail pemuda tersebut. Guru Ngaji beranggapan, seharusnya mudah membuat orang yang congkak pada pengetahuannya sendiri dengan mengiyakan kecongkakan tersebut.

“Buktinya, banyak yang statusnya tokoh agama, menjadikan status tersebut sebagai kendaraan berpolitik. Mereka beralasan, kalau bukan orang baik yang mengisi kursi politik, siapa lagi? Mau orang-orang busuk yang tetap mendudukinya? Omong-kosong! Air bening bertemu tinta, ya, hitam!”

Kalimat Mad yang ini cukup panjang dan menghantam. Guru Ngaji tersenyum. Tidak seperti menanggapi kalimat-kalimat sebelumnya dengan langsung meluruskan, dia mengambil kopi yang dihidangkan anaknya.

“Kopi ini hitam pekat, tanpa gula. Anakku tahu bahwa aku suka minum kopi tanpa gula. Tentu pahit. Sekarang aku akan memberikanmu kopi ini. Minumlah.” Guru Ngaji menyodorkan kopi di tangannya ke hadapan Mad.

Mad sedikit tersinggung karena kalimatnya tak ada tanggapan. Dia menerima kopi itu, kemudian melihatnya sebentar, lalu mencium baunya. Merasa tak ada yang aneh, dia menyeruputnya perlahan. Keningnya segera berkerut. Matanya memicing bersamaan dengan bibirnya yang membentuk garis lurus.

“Anak, ambilkan bapak gula, letakkan di atas piring kecil. Bawa ke sini,” ucap Guru Ngaji.

Segera yang dipanggil datang membawa gula tersebut. Lalu segera berbalik menyembunyikan diri di dalam rumah yang terbuat dari bambu. Setelah melihat anaknya masuk, Guru Ngaji menarik napas seraya mengangkat gelas berisi kopi.

“Coba kau tambahkan gula. Lalu minumlah.”

Pemuda itu melakukan sesuatu yang dikatakan Guru Ngaji. Selesai meminum kopi, yang kali itu kening dan matanya tak berubah aneh, Guru Ngaji tertawa.

“Seperti itulah para ulama yang memilih berperang di dunia politik. Dia memansikan yang pahit. Kalau kau umpamakan dengan air bening, tentu tidak tepat. Karena hal yang bening bisa melebur dengan warna apa pun. Dan yang bening itu tidak ada walau kita melihatnya ada. Kau bahkan termakan oleh kata-katamu sendiri.”

Mendengar kalimat Guru Ngaji, Mad menghembuskan napas berat. Dia tidak terima kalimatnya dipatahkan dengan contoh yang langsung dirasakan dirinya. Seraya meletakkan gelas berisi kopi yang sudah ditambahi gula, Mad memperbaiki posisi duduknya. Kali itu kakinya dilipat, seperti penari sinden yang bersimpuh sebelum memulai tarinya.

“Sekarang kembali ke permasalahan yang membuatku mendatangimu. Kau mengislamkan orang sedang orang tersebut tidak tahu-menahu tentang agama kita. Itu sama saja kau mengajak kambing memakan daging.”

“Aku mengislamkan orang sebelum dia mengetahui ajaran agama kita, agar saat dia mempelajari agama dapat pahala. Sebab percuma belajar agama sedang dia belum beragama, nilai keagungan ilmu yang didapat akan berbeda. Seperti dirimu, Pemuda. Apa aku salah mengislamkan orang?”

“Sesat! Tidak hanya salah, itu sesat!” Keras suara Mad memecah keheningan di beranda rumah bambu itu. “Kau mengislamkan para turis-turis itu, lalu membiarkan mereka pulang ke tempat asalnya tanpa membimbing mereka untuk belajar agama. Itulah yang membuat banyaknya teroris mengatasnamakan Islam. Masuk Islam tanpa bimbingan sama saja membuat orang tersebut mengikuti kesesatan sebelum mereka Islam. Aku sama sekali tidak setuju itu. Lebih baik biarkan mereka beragama sesuai agama mereka, karena pada dasarnya semua agama itu baik. Kau ini, Pak Tua…”

“Aku paham arah pikiranmu, Pemuda. Kau mungkin hanya tahu bahwa aku mengislamkan orang, tapi kau tidak tahu kelanjutannya. Bahwa, orang yang kuislamkan memilih memperdalam ajaran agama di sini hingga bertahun-tahun. Ada sebagian yang merasa paham dasar agama, setelah satu tahun memilih kembali ke negerinya. Tentu kalau mau mengikuti aturan negara, hal semacam itu tidak bisa, sebab para turis ke negeri ini ada batas waktunya untuk tinggal. Namun di desa terpencil ini, tak berlaku aturan itu. Untuk kembali ke negerinya pun mereka bisa mengurus persyaratan agar bisa kembali ke orang yang mengabdikan dirinya pada agama, tak perlu kusebut namanya. Aku salah? Tentu aku selalu salah, Pemuda. Melayanimu untuk bercakap-cakap panjang ini pun salah.”

Setelah kalimat panjang Guru Ngaji itu berentet, keadaan menjadi hening. Mad tak menemukan kata-kata berikutnya untuk diucapkan. Sedang Guru Ngaji memberi kesempatan Mad untuk berpikir dan mencerna kalimatnya.

“Kau mengislamkan tidak dengan cara islami. Kau menggunakan ilmu sesat untuk mengelabui mereka. Kau menggunakan sihir agar mereka mau masuk Islam.”

Akhirnya Mad mengucapkan kalimat yang disimpan lama, kalimat yang membuatnya datang ke kediaman Guru Ngaji tersebut. Yang Mad tahu, menurut desas-desus mulut yang sampai di telinganya, Guru Ngaji membuat keris bisa bergerak sendiri lalu mengatakan itu karamah Tuhan pada orang yang mau dimasukkannya ke agama Islam. Mad yakin Guru Ngaji itu memberi harapan palsu, bahwa jika orang asing yang tidak beragama Islam itu berpindah agama seperti agamanya, maka orang itu bisa menggerakkan benda-benda. Ditambah, menurut orang yang berbicara di dekatnya saat bus menuju arah kampung Bates, Mad mendengar orang bercakap-cakap soal Guru Ngaji itu. Kalau-kalau Guru Ngaji itu membuat para turis tersesat dan tidak tahu arah untuk ke luar dari desa dengan ilmu gaibnya. Guru Ngaji menggunakan sihir agar para turis itu tanpa sadar sudah berdiri di hadapan rumahnya, lantas mengatakan mereka dituntun Tuhan hingga bisa bertemu dengan Guru Ngaji. Mengetahui semua itu, Mad menjadi berang. Keinginan untuk meluruskan dan mencari tahu kebenarannya membuat dia tidak takut bertamu walau sendirian. Padahal, pikiran lainnya mengatakan, takut-takut dia kena ulah sihir Guru Ngaji. Dia harus selalu waspada.

“Ya, Tuhan… Pemuda, kau mau mendengarkan kisah orang yang tidak suka pada ulama? Ditambah, sekarang ini zamannya fitnah. Kumaklumi dan kusanjung perhatianmu pada agama. Perlu ditegaskan, kau bisa mencari tahu sendiri apakah yang kulakukan sama seperti cerita-cerita yang kau dengar itu? Baiknya, kau cari kebenaran menurut hatimu sendiri. Aku memang mengislamkan orang, tapi tidak dengan sihir. Para turis itu tersesat, kadang bisa dibenarkan, karena mereka tidak pernah ke desa ini sebelumnya, ditambah ulah jail para pemuda yang menunjuk arah asal-asalan saat turis itu bertanya jalan ke sini dan ke situ yang mana. Aku bisa menggerakkan keris, memang benar. Karena setiap benda memiliki bahasanya tersendiri, dan kebetulan aku tahu bahasa keris itu. Jadi, kembalilah ke nuranimu. Jangan terlalu menggunakan akal, yang mengalahkan gerak dan detak jantungmu itu. Apa ada hal lain yang membuatmu datang ke mari?” Guru Ngaji menutup kalimatnya dengan menyodorkan kopi ke arah pemuda itu.

Mad tidak menanggapinya dengan kata-kata. Kepalanya berpaling ke kegelapan malam. Melihat jauh ke lampu kuning rumah warga. Dia merasa dirinya telah cukup tahu. Kemudian dia menganggap, kuliahnya selama empat tahun tak ada gunanya. Kepalanya bergumam, aku sangat bodoh. Beberapa saat menatap keheningan, tangannya merogoh gelas berisi kopi, seakan tangan itu punya mata sendiri. Tatapan jauhnya mengajak dia untuk segera pulang.

“Maaf telah kasar, aku datang untuk mencari keyakinan. Terima kasih, Guru,” ucap Mad.

Bersamaan dengan kalimat itu, dia melihat wajah Guru Ngaji. Kemudian mengambil tangan orang yang disebutnya guru, lalu meletakkan tangan itu di bawah hidungnya. Mad pergi dari rumah bambu itu dengan melawan hembusan angin yang menerpa wajahnya. Tak kuat memicingkan mata karena angin, dia memalingkan wajah ke belakang. Segera matanya menangkap pohon-pohon berjejar seperti bayangan. Dalam hati Mad bergumam, bukankah aku baru saja melangkah dari halaman rumah Guru Ngaji? Setelah gumaman tersebut, burung hantu beruhu, seakan mengiyakan kalimat tanya yang terkurung itu.

Jakarta, 11 Agustus 2018.


Penulis adalah bagian dari santri Annuqayah, yang menjejakkan kaki dan tangisnya pertama kali di Sampang pada era reformasi. Sekarang tercatat sebagai mahasiswa Hukum Unusia. Kunjungi beberapa ceritanya di www.riilfiksi.ga atau surel dengan alamat alimukoddas@gmail.com 

Bagikan:
Ahad 29 Juli 2018 7:0 WIB
Akankah Dinding Itu Runtuh?
Akankah Dinding Itu Runtuh?
Ilustrasi: pxhere.com
Oleh Hanifah Rahadianty Kusmana

Bibir Inah tak kunjung berhenti bicara. Meletup-letup menceritakan keindahan kampung halamannya. Berulang kali ia menceritakan keseharian di desa tempat ia berasal tak membuatku bosan. Kehidupan metropolitan di ibukota menimbulkan rasa jemu pada diriku. Keseharianku berkuatat pada siklus rumah, kampus, dan kembali ke rumah, dengan sedikit variasi berupa ibadah ke gereja atau belanja di mall pada akhir pekan.

“Di kampung Inah, tidak dapat Neng temukan mall. Yang kami punya adalah sawah, air terjun, dan Gunung Manglayang. Inah sehari-hari nandur di sawah, makanya kulit Inah hitam, tidak putih seperti kulit Neng Feli,” Inah nyerocos dengan girangnya. “Kami di desa senang makan peutuey, Neng Felic tahu peuteuy tidak?”

Aku mengerutkan alis,”Peuteuy? Aku belum pernah mendengarnya.”

Peuteuy itu sejenis sayuran yang bentuknya panjang, isinya bulat-bulat. Bila kita makan akan meninggalkan napas tak sedap pada mulut kita,”Inah memberi petunjuk seperti main tebak-tebakan.

Aku berpikir, terdiam sejenak.

“Ooo... maksudnya pete?”

Inah menyunggingkan senyum tiga jari, mengacungkan jempol. “Leres pisan!”

“Apa tuh artinya?” aku bertanya.

“Itu bahasa Sunda, dalam bahasa Indonesia artinya betul sekali.”

Aku terkekeh, begitu terhibur dengan cara Inah menyampaikan cerita. Inah bagiku bukan hanya seorang pembantu rumah tangga, melainkan juga sahabat sejati yang senantiasa mendengarkan keluh kesah di saat aku mengalami kesulitan, memberi nasihat ketika aku kebingungan, dan tentu saja melipur laraku dengan ocehan ringannya. Dara belia itu berusia 20  tahun, setahun lebih tua dibanding usiaku. Ia cantik, gesit, dan punya semangat kerja yang menggebu. Sayangnya, nasib yang ia lalui tak semenawan paras dan hatinya. Dari 4 bersaudara, ia anak tertua. Ketiga adiknya masih bersekolah. Ibunya menjanda setelah ditinggal mati bapak Inah lima tahun yang lalu. Meskipun dirinya hanya lulusan SD, Inah memiliki tekad yang tak tergoyahkan bahwa adik-adiknya harus bernasib lebih baik daripadanya. Selepas lulus bangku SD, Inah membantu kerja tani. Pada usia 17 tahun, ketika kejemuan terhadap pekerjaan di sawah sudah tak terbendung, ia memberanikan diri merantau ke kota besar nan penuh sesak bernama Jakarta, tak berbekal apa pun kecuali ongkos seadanya hasil menjual gabah dan  ambisi yang membuncah meluap-luap.

Sesampainya di hingar-bingar kota tempat ia mengadu nasib, ia menginap di rumah Ceu Neneng, tetangganya di kampung yang berdagang sayur di belakang kompleks rumahku. Dari Ceu Neneng itulah ia memperoleh informasi bahwa Mami sedang mencari orang untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Semenjak hari pertama kehadirannya di rumahku, aku sudah menduga Inah akan berteman baik denganku. Dugaanku ternyata meleset. Ia tak dapat disebut sekadar teman karib, namun ia layaknya saudara bagiku. Takdir sebagai anak tunggal yang tinggal di rumah gedongan meninggalkanku dalam kesepian, apalagi Mami adalah pengusaha dengan kesibukan segudang sehingga selalu pulang kala matahari sudah dijemput malam. Dengan adanya Inah, rumah tak lagi sunyi. Bersama Inah, rasa suntukku sirna, ditepis oleh keceriaan yang ia tularkan kepadaku sepanjang hari.

Alasan mengapa Inah dan aku menemukan kecocokan pada diri masing-masing masih menjadi teka-teki. Padahal, Tuhan memberikan segala hal yang kontras pada kehidupan kami: aku Tionghoa, sementara ia pribumi Sunda; aku pendiam dan pemalu, sedangkan ia ceriwis dan percaya diri; aku Kristen, sedangkan ia Muslim yang tak pernah meninggalkan shalat dan membaca Yasin pada malam Jumat. Dan yang paling mengherankan menurut Mami, adalah kenyataan bahwa aku anak majikan, berkebalikan 180 derajat dari status seorang pembantu. Mendengarnya, hatiku seolah tersayat oleh belati. Mengapa Mami tidak melihat ketulusan Inah berteman denganku? Sayangnya aku tak kuasa menyatakan kecamuk dalam diri, itulah rintangan bagi setiap pengecut sepertiku. Seharusnya aku dapat meyanggah persepsi pongah Mami dan membela sahabatku, meskipun itu tak mudah karena Mami adalah ibu yang dominan. Setiap sabdanya tak boleh dibantah. Alangkah menyebalkan mendengarnya mengomel, memarahi setiap orang yang gagal memenuhi standar kerja yang sempurna! Di antara pegawai pabrik milik keluarga kami, ia dikenal galak. Di antara kolega bisnisnya, ia dikenal sebagai wanita yang lihai dan cermat menyasar peluang usaha. Betapapun gondoknya aku terhadap Mami, tetap saja tak berani aku melawannya. Bagaimanapun juga, Mami adalah ibu tangguh bermental besi, tiada bandingnya, telah teruji oleh rentetan kepahitan hidup. Semenjak bercerai dari Papi 13 tahun silam, Mami bangkit dari keterpurukannya dengan mengembangkan bisnis keluarga, memperluas jaringan bisnisnya hingga skala nasional seperti hari ini. Dan yang terpenting, membesarkanku seorang diri. Ibu mana yang lebih hebat daripada dia?

***

Tugas yang menumpuk membuat berpaling dari tatapan kojing adalah sebuah dosa. Bokong yang sudah dijejalkan di atas kursi selama tiga jam ini menjadi saksi atas kawalahanku berpacu memburu 2.500 kata yang harus mengisi esaiku sebelum jam 8 malam. Akhirnya rampung sudah esai ini, siap dilayangkan melalui surel kepada dosenku. Setengah jam menuju deadline, surel tadi bertengger dalam jajaran surel yang sukses terkirim. Jantungku yang selama tiga jam ritmenya sekencang tabuhan tamborin pun melambat. Lega. Napasku kembali normal. 

Pintu kamarku diketuk. Wajah Inah menyembul di baliknya. “Neng, sudah jam 8 malam. Makan dulu atuh, Neng.”

“Baiklah,”timpalku seraya beranjak menuju meja makan. Seperti biasa, Inah menemaniku bersantap makan malam.

Aroma kuah sop di mangkuk mengalir masuk ke hidungku, merangsang saraf penghirup hingga aku terbuai oleh harumnya. Aromanya saja menggiurkan, apalagi rasanya. Aroma menggoda itu datang dari kaldu ayam yang begitu gurih di lidah. Belum lagi sayuran segar yang membuat nafsu makan ini terbangkitkan setelah kumengabaikan lambung yang meronta minta makan selama aku sibuk bertempur menghadang tugas kuliah. Ah, masakan Inah barangkali paling lezat seantero jagad!

“Neng, Inah punya impian,” katanya membuka obrolan. 

“Apa itu?,” tanyaku.

Inah mencecarku dengan celotehannya,“Inah ingin menyekolakan adik-adik Inah sampai lulus SMA, kalau perlu sampai lulus sarjana! Adik Inah yang perempuan sekarang kelas 2 SMP, ia pintar, rangking 1 di sekolahnya. Selain pintar, ia juga rajin mengaji. Adik Inah yang anak nomor tiga laki-laki, sekarang kelas 3 SD, agak kurang cerdas di sekolah tapi ia berbakat main bola. Kelak katanya ingin menjadi atlet sepak bola Persib Bandung. Sedangkan adik yang bontot umur 4 tahun tapi sudah bisa baca. Inah bangga pada mereka!”

Aku menyimak, sesekali mengangguk.

“Di desa Inah di Cicalengka, bangunan sekolah tidak memadai. Temboknya berjamur, atapnya gompel sehingga bocor setiap hujan turun. Justru dengan keterbatasan itu, adik-adik Inah makin terpecut belajar giat. Pesan Inah kepada mereka, boleh jadi orang kampung, asalkan tidak kampungan. Tidak kampungan salah satunya diraih melalui pendidikan,” mata Inah berkaca-kaca, menyiratkan antusiasme yang mengharukan. Aku terenyuh, sebelum lamunanku buyar oleh kedatangan Mami dari kantor. 

Tak seperti biasanya, napas Mami terengah-engah. 

“Feli, jangan keluar rumah malam ini. Di luar sedang bahaya,”suaranya tercekat. Wajahnya pucat pasi. Kalut dan panik.

“Memang ada apa, Mi?” aku penasaran.

Ia tak menjawab. Berlalu ke kamarnya.

Pagi tiba, menyembunyikan malam, tetapi tak sanggup menghilangkan ancaman malam yang baru saja berlalu. Mami akhirnya menceritakan kepanikannya semalam, 11 Mei 2016. Jalanan di Jakarta Utara begitu mencekam. Massa berulah dengan liarnya di sekitar Pasar Ikan. Mereka memboikot jalan, berorasi dengan gegap gempita,” Kafir! Ganyang China! Allahu akbar!” Batu, kerikil, dan botol kaca dilemparkan ke jalan, pecahannya berserakan sepanjang Jalan Gedong Panjang.

Toko mesin dan perkakas otomotif bertuliskan huruf hanzi dijarah massa. Kaca dipecah, separuh toko dibakar. Tepat di seberang toko, seonggok bangkai motor tergeletak di tepi jalan, hangus tak bersisa. Halte Pakin, tak jauh dari toko itu, ikut dirusak. Kacanya pecah porak-poranda dilempar batu oleh demonstran. Aparat terus menembakkan gas air mata dan cannon water, tapi massa tak kunjung mundur.

Kericuhan itu membuat mobil Mami tak bisa lewat. Ia takut dicegat demonstran, apalagi wajah Mami wajah Tionghoa, sasaran empuk di setiap demo berbau bentrokan etnis. Demostran semalam ialah warga Kampung Luar Batang yang tak terima lahannya digusur. Mereka mengincar satu rumah yang penghuninya mereka anggap kafir, namun dihalangi aparat.

“Tidak aman bagi kita, etnis bermata sipit, untuk tinggal di Jakarta. Jauh lebih parah dari semalam, adalah ketika bulan Mei 1998. Waktu itu kamu masih 1 tahun. Mami ingat, mendekapmu dalam buaian di tengah ancaman kehilangan harta dan nyawa. Krisis moneter yang memiskinkan negara ini, diikuti oleh krisis terhadap persatuan kita. Kamu tebak siapa yang jadi korban, Feli? Kita! Mami, kamu, dan saudara-saudara kita lainnya. Toko-toko orang China dibumihanguskan, perempuan Tionghoa diperkosa di depan mata kepala keluarganya sendiri oleh keparat-keparat itu! Kita tak akan bisa prediksi, apakah peristiwa semalam hanya berlangsung sementara ataukah menjadi awal dari penjarahan serupa seperti 1998. Mami sudah trauma!” Mami memekik. Tangisnya pecah.

Air mata Mami keluar makin deras. Aku hanya bisa termenung, membayangkan kejadian Mei 1998, peristiwa paling pahit yang dapat diingat orang keturunan China di Jakarta. Menyisakan trauma, bahkan ada korban yang kehilangan kewarasannya seumur hidup. Aku menatap wajah Mami, sementara Mami menatap kosong  ke arah lain. Jelas ia murka. Murka yang terramu sejak 18 tahun lalu. Murka yang terbentuk dari trauma atas diskiriminasi, dan lebih dahsyat dari itu, antara hidup dan mati. Sebagai orang Tionghoa yang hidup di kawasan pecinan di Jakarta Utara, tidak menutup kemungkinan harta kami dirampas dan nyawa kami dihabisi sewaktu-waktu, apalagi di tengah kemelut sentimen etnis begini.

Tangis Mami belum surut. Kurangkul bahunya.

“Sebagai minoritas yang selalu tertindas, kita mesti berjaga jarak dari pribumi. Buat kamu Feli, jangan lagi dekat-dekat dengan Inah. Mami tidak suka kamu bersahabat dengan dia. Seharusnya kamu bergaul dengan teman-temanmu di kampus sesama Tionghoa, bukan dengan pribumi dekil seperti Inah. Mengerti?!” Mami memburuku dengan omelan. Sontak aku tidak terima.

“Tapi, Mi...”

Sebelum dapat kumenangkisnya, ia lebih dulu menutup pembicaraan dengan bergegas berangkat ke kantor, tanpa memberiku kesempatan bicara.

***

Satu pekan berjalan dengan janggal. Tak lagi Inah dengan girang di ambang pintu menyambut kepulanganku dari kampus. Tak ada lagi suara tawaku dan Inah yang biasa menggema di rumah ini. Inah yang biasanya melontarkan lelucon kini membisu. Sengaja kuciptakan keadaan ini. Aku menghindari gadis pribumi itu.

Satu pekan ini sering kumerenung. Mencerna petuah Mami yang tak bisa dielak. Entitas kami sebagai Tionghoa membawa ironi. Itulah sebabnya Mami mengurungku dalam lingkungan Tionghoa. Mulai dari Taman Kanak-Kanak hingga kampusku adalah dunia pendidikan Kristen yang mayoritas muridnya berdarah Tionghoa. Tujuannya tak lain melindungiku dari segala bentuk diskriminasi yang menimpa orang Tionghoa yang tinggal di tengah komunitas pribumi. Antara Tionghoa dan pribumi terdapat dinding pemisah yang tebal dan tak terruntuhkan. Sekat itu akan terus membatasi persaudaraan antar keduanya.

Mami sudah makan asam garam soal itu. Ia masuk ke salah satu SMA negeri di Jakarta. Seluruh temannya pribumi, 80% di antaranya Muslim. Menjadi satu-satunya Tionghoa membuat ia disingkirkan dari pergaulan. Mata sipit dan kulit putihnya acap kali dijadikan bahan cemooh. Belum lagi jatuh bangun Mami membesarkan perusahaan dipenuhi dengan kesulitan birokrasi yang dialami oleh pengusaha-pengusaha Tionghoa lainnya. Goresan hidup begitu pedih. Apa salah Tionghoa sehingga pribumi begitu benci mendarah daging? Bukankah kita hidup bersaudara, satu tanah air Indonesia? Terbuat dari apakah dinding pemisah itu? Apakah tembaga, alumunium, ataukah bongkahan intan? Ah, barangkali baja paling kuat sedunia, sehingga dinding itu tak runtuh, tak retak dimakan zaman.

Lama aku termenung, sebelum teriakan Mami di luar kamar memecah keheningan. Aku melongo lewat jendela.

“Inah! Mengapa baju Feli jadi gosong begini?!” Mami naik pitam, menunjuk ke arah gaun biru berbahan beludru milikku yang elok sekali, di bagian dadanya kini terdapat noda hitam berbentuk setrika seperti terbakar.

Inah menghampiri dengan ketakutan. Kepalanya menunduk.

“Maaf, Nyonya,”suara Inah bergetar. “Itu kelalaian saya. Sewaktu saya menyetrika, saya tinggal ke kamar mandi. Begitu kembali, bagian baju yang ditimpa setrika sudah gosong.”

Inah memandang Mami dengan mata yang basah. “Nyonya, maafkan saya. Saya rela dipotong gaji selama berbulan-bulan, seharga gaun yang telah saya rusak,” pinta Inah dengan terisak.

Wajah Mami memerah oleh kecamuk angkara. “Kamu dasar pembantu tidak becus. Kapan sih kamu bisa kerja dengan benar? Menyetrika saja selebor. Lalu bisanya apa? Rumah saya tak lagi dapat menampung babu bodoh sepertimu!”

Mendengar makian dari Mulut mami, jantungku seolah mau loncat keluar dari tulang iga saking terkejutnya. Tak pernah kusangka aku memiliki ibu yang lisannya sekasar itu. Bukankah wanita terpelajar tercermin dari ucapannya?

Tubuh Inah lemas. Pipinya banjir air mata. “Nyonya, izinkan saya bekerja di sini lebih lama lagi. Adik-adik saya butuh biaya sekolah, dan ibu saya perlu biaya berobat TBC,”Inah memohon.

Mami meyodorkan telapak tangan ke wajah Inah. “Tidak menerima maaf dan belas kasihan. Segera kemasi barang-barangmu. Angkat kakilah dari rumah ini esok hari!”

Pikiranku kalut bagai benang kusut. Apa yang sedang kusaksikan sulit diterima logika. Tak bisa disangkal gaun indah itu rusak dan tak bisa dipakai lagi, tetapi aku masih punya gaun-gaun lain yang tak kalah cantiknya, jumlahnya membeludak di lemari kamarku. Dan gadis pribumi itu, sepanjang tiga tahun bekerja untukku, baru kali ini ia bersikap ceroboh. Senista itukah keteledorannya hingga tak termaafkan?

Inah berkemas malam harinya. Tak satupun barangnya luput ia bawa. Setitik rasa sendu bercampur kehilangan hinggap padaku, segera kugempur dengan pesan Mami “jangan dekat-dekat dengan pribumi.” Kubiarkan Inah meninggalkan rumah. Tak peduli lagi aku dengan sahabat sejatiku itu. Bagaimanapun juga, aku dan Mami sepakat untuk membangun dinding yang membatasi pribumi dengan Tionghoa. Dinding itu semakin kokoh, ditopang oleh kerangka dendam sejak bertahun silam dan etnosentrisme adalah semen yang merekatkannya. Angin tornado pun tak mampu menghantam dinding itu.

***

Berkali-kali Mami berupaya mencari pengganti Inah, namun tak kunjung menemukan. Rumah besar ini sunyi. Baru sekarang, ketika aku harus mengerjakan pekerjaan rumah seorang diri, aku menyadari betapa letihnya pekerjaan Inah menyapu dan mengepel rumah sebesar ini. Melalui hari-hari tanpa celoteh Inah telah berhasil mengurung jiwaku dalam belenggu sepi. Kehampaan menyergap, mengepul di dadaku. Alangkah beratnya hari-hari kulalui tanpa Inah.

Sesal dan melankolis laksana saudara kembar yang keluar masuk akal sehatku. Senjata paling ampuh membentengi keduanya hanyalah sugesti rasis: “Inah orang pribumi, dan aku harus menjauhi pribumi.” Otakku berputar bagaikan komidi putar. Di mana letak kebenaran jalan pikir rasis itu? Bukankah persahabatan tiga tahun dengan Inah adalah ikatan termanis yang pernah kurasakan setelah kasih sayang ibuku sendiri? Seumur hidup terperangkap dalam sangkar orang-orang Tionghoa membuatku tak sekalipun bahkan menengok, apalagi bersentuhan dengan dunia orang pribumi. 

Hari ini hari Minggu. Mami dan aku melangkahkan kaki ke gerja, enggan lepas dari kasih Kristus. Pendeta Jacob tengah berkhotbah di altar. Wibawanya bagai lampur sorot yang menyinari jemaat setianya. Ia memiliki daya pikat paras yang rupawan, kecerdasan, dan kharisma yang membius. Khotbahnya selalu dinantikan oleh Mami.

“Membenci itu boleh,” demikian ia mengawali khotbahnya. Jemaat terperangah kaget.

“Membenci apa yang boleh? Membenci kejahatan. Tertuang dalam Mazmur 97 ayat 10, ‘Hai orang-orang yang mengasihi Tuhan, bencilah kejahatan.’ Ketika seseorang semakin dekat dengan Allah, semakin dalam persekutuan kita dengan-Nya.”

Membenci kejahatan. Dua kata itu menyihirku. Tak sabar aku menunggu lanjutan khotbah ini.

“Namun, kebencian yang negatif pastinya ialah kebencian yang diarahkan terhadap sesama. Dalam Matthius 5 ayat 22, ‘tetapi aku berkata kepadamu: setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum. Tidak hanya harus berdamai dengan saudara kita sebelum kita datang ke hadapan Allah, Allah memerintahkan kita harus melakukannya dengan cepat, seperti firman Tuhan dalam Matthius 5 ayat 23-26.”

‘Tidak hanya harus berdamai dengan saudara kita sebelum  kita datang ke hadapan Allah, Allah memerintahkan kita harus melakukannya dengan cepat’. Kalimat ini bersemayam dalam batinku berhari-hari lamanya. Kata ‘saudara’ dalam penggalan ayat Matthius itu bermakna luas. Suara batinku menafsirkannya sebagai saudara dalam cinta Tuhan, saudara sesama manusia, atau... saudara se-Tanah Air Indonesia? Ah, entahlah. Sejauh yang bisa dijangkau oleh buah pikirku, pribumi dan Tionghoa adalah saudara, begitu pula Muslim dan Kristiani.

Terngiang khotbah Pendeta Jacob membuat tidurku tak nyenyak, selalu digubris rasa bersalah dan rindu terhadap Inah. Bagaimana bisa kepiluan di masa lalu mengeruhkan hatiku dan hati Mami sehingga kami buta terhadap kepribadian Inah yang begitu jernih? Benci bak racun yang perlahan menggerogoti jiwa, bahkan jiwa seorang religius sekalipun dapat habis olehnya. Dendam ialah kutukan yang membuat hati tak lagi peka terhadap dosa. Haruskah aku mempertahankan keduanya?

***

Tekad adalah amunisiku untuk bertatap muka dan mengutarakan pandanganku kepada Mami. Rasa gamang harus kusingkirkan sementara. Sebulan sudah nuraniku terusik oleh sikap tak adil kami terhadap Inah. Kini saatnya mengurai itu semua.

“Mami, izinkan Feli bicara. Ini soal kebencian terhadap Inah yang kita pupuk dalam hati kita.”

“Kamu kok masih mengingat-ingat gadis pribumi itu?” nada Mami mulai meninggi.

“Mami, sebagai anak Tuhan yang tak ingin putus dari kasih sayang-Nya, mengapa kita memelihara benci terhadap sesama? Mami ingat khotbah Pendeta Jacob, bahwa Tuhan akan meminta pertanggung jawaban kelak kepada orang-orang yang memusuhi saudaranya? Bila Inah bukan saudara kita dalam satu etnis, biarlah ia bersaudara dengan kita sebagai sesama manusia. Masa silam Mami maupun kerabat-kerabat Tionghoa kita tak berkaitan dengan Inah. Inah punya hati paling tulus dan kerja yang paling tekun bagi seorang pembantu rumah tangga. Selama tiga tahun bekerja untuk kita, kecerobohan menyetrika baju ialah kesalahan yang pertama kali ia buat. Idealnya hati seorang hamba Tuhan adalah hati yang lembut, sehingga menaburkan kedamaian bagi orang sekitar. Sementara kita yang tak sanggup memaafkan kesalahan Inah, terbuat dari apakah hati kita? Batu?”

Mulut Mami terkatup. Baru kali ini ia mendengar kata-kataku tanpa mencela sebelum aku menyelesaikan kalimat. Ia tak berkutik. Bahunya turun. Menghela napas. Egonya tengah menukik.

***

Mami menghabiskan tiga hari untuk mencerna kata-kataku, sebelum akhirnya mengizinkanku menghubungi Inah untuk memintanya kembali bekerja di rumah kami. Aku senang bukan kepalang. Akhirnya gadis pengecut bernama Felicia ini menang bertarung melawan ketakutannya terhadap ketangguhan ibunya sendiri. Keberanianku menentang persepsi Mami yang keliru telah menumbangkan pohon kebencian yang sebelumnya tumbuh subur.

Berkali-kali kuhubungi ponsel Inah tapi tak kunjung ia menyahut. Aku tak kehabisan akal. Aku berkunjung ke kios sayur di belakang komplek untuk mencari Ceu Neneng, tetangga Inah di kampung. Kebetulan Ceu Neneng akan menengok anaknya di kampung dua hari lagi, maka aku akan turut pergi bersamanya untuk menjemput Inah.

Kereta melesat bagai naga merah dalam film laga Tiongkok, melintasi persawahan hijau yang menyejukkan mata, tak kelabu seperti udara di ibukota. Di Stasiun Bandung kami berganti kereta, menuju Stasiun Cicalengka. Setibanya di beranda rumah Inah tepat ketika matahari tuntas melaksanakan tugasnya hari ini, nampak Inah tengah mengajari ketiga adiknya membaca kitab suci. Ia terkejut melihat sosok putih sipit di depan pagar bambu.

“Neng Feli, ada apa datang kemari?” dahinya mengernyit keheranan.

Sebelum kujawab pertanyaannya, badanku spontan melekap ke pinggangnya. Bukankah pelukan adalah simbol kerinduan yang membuat diri paling puas setelah diekspresikan?

“Aku dan Mami ingin Inah kembali ke Jakarta, bekerja kembali di rumah kami. Maafkan kami ya, Inah.”

Kepala Inah mengangguk-angguk. Pelupuk matanya digenangi air mata. Hatiku lantas berpuisi:

Sahabat sejatiku telah kembali
Setelah satu bulan dihanyutkan lautan benci alias diskriminasi
Aku telah silap
Menganggap dinding pemisah antara kami tak akan lenyap
Di luar riuh akupun tak acuh
Dinding itu kini runtuh



Penulis adalah mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional Universitas Parahyangan

Ahad 22 Juli 2018 21:15 WIB
Senja dalam Kereta
Senja dalam Kereta
Oleh Dwi Putri

1

Aku ingin bercerita senja yang datang dari gadis berbola mata indah. Aku ingat ia terbiasa berdiri di sisi kiri pintu pertama gerbong ke dua. Meskipun sebenarnya ada tempat duduk yang kosong, ia tetap berdiri. Nyaris setiap aku pulang dari kantor selalu melihatnya di sana. Makanya demikian aku tahu di mana posisi yang akan ia ambil ketika kereta datang. 

Awalnya aku anggap hal tersebut adalah sebuah ketidaksengajaan. Maksudku, dia pasti berdiri di kereta tanpa tahu bahwa ia beradadi tempat yang sama seperti kemarin. Itu pikirku. Tapi entahlah aku tidak terlalu peduli. Toh ada juga ibu-ibu, gadis, bapak, atau sesiapapun melakukan hal yang sama. Menyandarkan bahu kirinya di lengan bangku kereta. Acapkali tangannya dilipat di dada. Tapi tatapannya hanya tertuju pada satu hal, senja di ufuk barat Jakarta. Bibirnya melengkung seperti pelangi. Bedanya, pelangi berwarna warni, sedang bibirnya hanya tipis merah jambu. Hidupnya seperti tanpa gairah. Tidak ada sapa, tidak ada senyum, tidak ada tanya, tidak ada teguran ketika ada yang menyekat bahunya karena berdesakan turun naik kereta.

Lama kelamaan, ternyata tidak sekali dua kali saja aku lihat ia melakukan hal yang sama. Aku kurang tahu betul apakah dia seperti itu setiap hari. Karena, jadwalku masuk kantor yang berada di sekitaran Tebet Timur Dalam hanya 3 kali dalam seminggu. Dan 3 kali pula aku akan memperhatikan hal yang sama. Gadis yang menatap kaku matahari terbenam. Matanya nyaris tak beralih pada apapun. Kami hanya bertemu 2 stasiun dari Tebet. Setelah sampai stasiun Manggarai, ia turun.

Demikian penasarannya aku dengan gelagat gadis itu. Agak sedikit risih, karena pandangan dan konsentrasiku teralihkan olehnya. Sampai akhirnya aku mencoba memberanikan diri mengikuti si gadis. Kira-kira setelah keluar dari stasiun Manggarai, kemanakah dia akan pergi? Dan apa yang akan ia lakukan? Aku berjalan agak sedikit lamban agar gadis itu tidak menyadari kalau ada yang sedang menguntitnya. Sumpah! Aku akan mati penasaran jika tidak segera mengetahui apa yang sedang terjadi dengannya. Apakah mungkin dia psikopat? Atau sengaja ingin menarik perhatianku supaya nanti aku mengikutinya dan kemudian dia akan menculikku bersama teman-temannya yang ternyata mereka sudah merencanakannya sedari awal. Heh?! Jauh sekali aku berpikir buruk tentangnya.

Ia berjalan keluar stasiun. Sesekali ia agak mempercepat langkahnya dan kemudian berjalan melewati pintu arah pos polisi. Tidak, dia tidak berhenti. Ia terus melaju dan masuk ke taman, lalu duduk di rerumputan tepat menghadap ke lapangan yang digunakan anak-anak bermain sepakbola. Ia hanya duduk sendiri. Sedang dari kejauhan aku memperhatikannya dengan seksama. Berharap ada sesuatu yang bisa menjawab rasa penasaranku. Ia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Ternyata ponsel. Mungkin ingin menghubungi seseorang, kekasihnya barangkali. Wajahnya ia biarkan tenggelam menunduk dalam memperhatikan ponsel itu.

JDUKKK!!!!!

“Awwhhhh,!!!!” Ia berteriak meringis kesakitan. Bola yang dimainkan oleh anak-anak tadi mengenai kepalanya keras. Setelahnya ia hanya terdiam sambil memegang kepala. Matanya menatap tajam ke arah bola, lalu ke arah anak-anak yang terdiam mematung. Satu dua orang berbisik-bisik. Mungkin sedang membicarakan bagaimana caranya mengambil bola yang ada di depan gadis itu.

Ia tiba-tiba berdiri,

“Bermainlah dengan hati-hati. Kepalaku pening karena ulah kalian.” Ujarnya datar sambil melemparkan bola ke lapangan. Anak-anak tadi berhamburan dan bermain kembali.

Aku harus kecewa karena setengah jam waktuku harus terbuang sia-sia. Tidak ada sesuatu yang aneh sebenarnya. Mungkin aku saja yang terlalu ingin tahu tentang gadis itu. Aku memutuskan untuk segera pulang. Soal si gadis, besok aku akan memberanikan diri menyapanyalebih dulu. Jujuraku belum begitu yakin sebenarnya. Karena takut dia tidak akan menanggapiku. Lihat saja sikapnya yang dingin.

Baiklah. Aku membiarkannya bebas hari ini. Besok tidak akan kulepas sampai rasa penasaranku mati. 

2

Sudah dua minggu sejak hari itu. Bahkan jejak sepatu mungilnya juga ikut lenyap. Aku pikir ia sadar kalau ada yang sedang mengikutinya. Tapi itu tidak mungkin, karena aku baru sekali mengikutinya sampai ke taman. Ah, gadis itu semakin membuatku penasaran. Pada akhirnya, sebelum aku melihat ia kembali di sisi kiri kereta, aku akan melakukan apa yang biasa ia lakukan. Bersandar sambil menatap penuh ke arah matahari terbenam. Bukan apa-apa, aku tidak tahu artinya kenapa dia senang melihat sesuatu yang akan hilang. Kalian tahu? Senja belum tentu akan datang esok hari. Bisa jadi ia tersapu awan atau bisa juga ditenggalamkan hujan. Beruntungnya, ketika ia asyik berhubungan dengan senja, Tuhan sedang baik dan tidak membiarkan ia kecewa. Jika setiap hari ia melakukan hal demikian, mungkin senja sudah dibaiat olehnya sebagai kekasih. Sosok yang harus ia temui sekedar menawar rindu. Atau mungkin juga senja adalah masa lalunya. Pacarnya mecintai senja, lalu kemudian mereka terpisah entah karena apa. Dan kini ia yang mencintai senja agar cinta yang ia dapatkan dari kekasihnya tetap utuh.

Dua minggu berikutnya berlalu. Ia tak juga muncul di pintu kiri kereta. Di sisi lain aku mulai terbiasa dengan senja dan ingin menjadikannya juga seolah sebagaikekasih baruku seperti yang dilakukan oleh si gadis. Dan khayalku sekarang bukan hanya matahari terbenam yang menjadi kekasihku, tapi juga gadis itu. Aku merindukan ia berdiri di tempat yang sedang aku jajaki. Berharap ia akan datang besok dan dari kejauhan aku akan menikmati caranya menatap senja.

Tuhan menunjukkan kemurahan hatinya. Keesokan hari ia kembali bersandar di kereta. Kondisinya tidak nampak bugar, sepertinya sakit. Kaki yang biasa ia biarkan tanpa kaos kaki kini tertutup. Begitu juga dengan rambut ikalnya yang sudah ditutupi oleh jilbab. Bibirnya pasi. Kali ini tangannya begitu erat mendekap dadanya. Matanya nanar mencari senja. Ia mungkin tidak memperkirakan jika sore ini akan hujan. Langit menghitam sebagai isyarat bahwa ia juga sedang tidak baik.

Aku berjalan pelan mendekatinya.

“Aku…….”

“Kamu tidak perlu bersusah payah mengikutiku.” Baru saja aku ingin membuka obrolan, gadis itu sudah memotong bicaraku.

“Saya tahu dari jauh hari bagaimana kamumemperhatikan dan penasaran kenapa saya selalu berdiri di sini. Dengar, itu sama sekali tidak ada hubungannya denganmu. Dan kamu tidak akan rugi jika terlewat cerita bagaimana saya setia menatap matahari terbenam. Lihat? Hari ini dia tidak ada. Dan aku malang hari ini tidak dapat melihatnya untuk terakhir kali. Berhentilah menguntitku. Saya yakin kamu orang sibuk dan tidak akan menyia-nyiakan waktu begitu saja untuk hal konyol seperti ini.”

“Maaf, Almira,”

Keningnya mengernyit. Aku menunjuk,

“Papan namamu.”

“Ah ya, namaku Almira. Bisa biarkan aku sendiri? Maaf.”

“Aku yang seharusnya meminta maaf. Aku akan pindah. Maaf mengganggumu, Almira.”

Aku mengambil posisi di pintu sisi sebelah kanan. Berseberangnya dengannya. Ada rasa malu dan menyesal. Seharusnya tadi tidak seperti itukejadiannya. Aku hanya cukup berdiri di dekatnya. Mungkin dari mata dan punggungnya aku mampu menemukan alasan kenapa ia begitu setia menatap senja di dalam kereta. Tidak harus menunjuk papan nama miliknya. Kurang sopan memang.

Kereta berhenti di stasiun Manggarai. Aku duduk di bangku santai peron 4 sambil menunggu kereta ke arah Bekasi.

“Hai. Maaf tadi aku agak sedikit kasar.”

“Tidak apa.”

“Kita impas berarti.” Ia tersenyum. Manis sekali.

Aku terdiam.

“Senang melihatmu tersenyum Almira.” Kataku dalam hati. Apalagi sekarang ia yang memulai berbicara. Bukan aku.

“Boleh aku duduk?” Pintanya tiba-tiba.

“Silakan.”

Aku tertunduk. Agak sedikit gugup. Almira ternyata terlihat lebih cantik dari dekat. Bulu matanya lentik, hidungnya agak sedikit meruncing. Yang lebih cantik adalah bibir merah jambunya.

“Dia pergi.” Pundakku terangkat, terkejut ketika ia memulai bicara. Tadinya aku pikir dia akan diam saja.

“Dan dia tak kunjung kembali. Padahal dia sudah berjanji akan membawakanku potret senja dari atas ketinggian yang paling cantik. Karena ia tahu aku akan sangat menyukainya. Tapi sayangnya dia ingkar. Kau tahu berita pendaki yang meninggal di gunung Salak beberapa bulan lalu?” Aku mengangguk pelan.“Nah itu kekasihku. Tubuhnya memang sudah pergi tapi tidak dengan ruhnya, dan aku meyakini dia akan kembali. Jiwanya adalah senja. Dari senja aku kembali meyakini jika yang hilang suatu saat akan terulang hidup. Mungkin sudah di dalam tubuh yang berbeda. Makanya aku datang ke sini memastikan jika ia sedang mengirim dirinya untuk menepati janji.Esok hari, jika dia tidak datang juga, maka aku yang akan menemuinya.”

“Ke mana kau akan menemuinya?” Sahutku.

Ia mengangkat pundak, “Ke mana saja.”

Kereta arah Bekasi tiba,

“Kau ikut naik?” tawarku.

“Tidak, terima kasih. Silakan naik.”

Aku hanya tersenyum ketir dan naik. Jalanku agak sedikit enggan karena ingin mendengar ceritanya lebih banyak lagi tentang ia dan senja dalam kereta. Ia masih mematung menatapku yang berdiri di dekat pintu.

“Besok, jika aku datang terlambat, aku titip senja padamu.” 

Tanpa mendengar jawaban dariku ia langsung berjalan ke arah pintu keluar tanpa menoleh lagi. Dadaku bergemuruh. Aku sedikit membetulkan jilbabku yang terkena embusan kipas angin yang ada di dalam kereta.

Hingga keesokan harinya terdengar kabar perempuan yang mati terlindas kereta.


Penulis adalah mahasiswi Psikologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta  

Ahad 8 Juli 2018 9:0 WIB
Mudik ke Haribaan
Mudik ke Haribaan
Ilustrasi: Imural.id
Oleh Madno Wanakuncoro

“Romo Yai, kenapa panjenengan tidak ikut serta takbiran di masjid pesantren?” 

Kang Wongso, santri senior yang telah dua belas tahun mengabdi di Ponpes Sanubari, sambil terduduk leseh dan posisi ngapurancang demi rasa takzim, ia bertanya dengan nada bingung kenapa Pengasuhnya, Romo Kiai Umbaran. Kenapa tidak merayakan malam takbir seperti tahun-tahun yang silam. Tidak lazimnya kiaiku yang semangat ini mendadak sepi, sirep. Begitu batinnya.

Romo Kiai Umbaran di ruang tamu ndalem tersenyum ramah. Wajahnya masih secerah pagi hari pada musim semi. Kemudian ia beranjak dari kursinya, menuju rak kitab-kitab yang terpajang di sisi dekat pintu di ruang tamu. Mengambil salah satunya. Lantas membukanya, mencari lembar-lembar halaman kertas tua tersebut untuk lalu sejenak membaca isinya. Setelah itu ia masukkan kembali kitab yang sepertinya bukan kitab Arab.

“Sebentar lagi saya mudik, Wongso.” 

Senyum Kiai Umbaran masih terkerat halus di parasnya. Sinar mata dari kelopak yang terkatup itu masih bisa memancar. Cahaya yang lembut. Meneduhkan. Ternyata pancaran auranya tak terbendung sama sekali walau sedang terpejam.

“Loh, mudik teng pundi, Yai?” Kang Wongso masih tertunduk. Ia masih ingat betul, akan menjadi kurang sopan bahkan su’ul adab bila santri berani menatap langsung wajah kiainya tanpa seizin dari kiai sendiri.

Sudah belasan tahun ia mengabdi di pesantren ini dan belum pernah satu kali pun Romo Kiai Umbaran bepergian atau mudik. Untuk sowan? Ah, beliau sudah sepuh dan justru menjadi pihak yang disowani. Beliau sudah punya cicit, dan kakek-nenek atau abah-ibu beliau pun sudah wafat dan dimakamkan dekat tanah pesantren. 

Namun apa salahnya jika seorang tua ingin sowan ke seseorang yang meskipun lebih muda darinya. Toh, demi peleburan dosa antar sesama, halal bi halal, itu sah-sah saja asalkan semua pihak saling memaafkan. Saling melegakan. Satu sama lain. Tanpa memelihara dendam di hati masing-masing. Mana mungkin seorang kiai rela membiarkan batinnya dirongrong penyakit hati itu. 

Kalau benar demikian, terus mudik ke mana beliau? Gemerisik bisikan batin Kang Wongso mengurai benang-benang kusut pertanyaan. Rasa yang sebetulnya tidak teramat masalah jika pun tidak mendapatkan jawaban sama sekali.

“Ya masak semuanya harus saya laporkan ke kamu, Wong? Macam inteljen saja kamu ini.” Kiai Umbaran terkekeh kecil, selera humornya tiada habis dimakan usia yang sudah beranjak kepala tujuh.

Suasana pun cair. Kang Wongso tersenyum tipis sambil menunduk minta maaf atas perbuatannya yang dianggap lancang oleh perhitungan moral di benaknya sendiri. Kesadaran yang tertebak oleh Romo Kiai Umbaran.

“Heuheu... saya guyon kok, Wong.”

“Eh, sini. Kok di situ? Jangan lesehan di lantai. Dingin. Sini, di karpet sama saya.” 

“Injeh, Yai.”

“Itu, tuh. Monggo dimakan juga unjukannya. Ojo sungkan-sungkan.

Di luar; takbir, jidor, bedug, dan riuh-rendah suara-suara menggema di seluruh desa. Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. Laaa ilaaha illallahu wallahu akbar. Allahu Akbar, walillaaahil hamd. Berkali-kali, hiruk-pikuk malam itu bersahut-sahutan, antarlanggar, mushala, dan masjid-masjid. 

Anak-anak desa ada yang berlarian sambil teriak-teriak semangat membawa obor bambu bikinan bapak mereka atau paman mereka sendiri. Beberapa jamaah majelis mengadakan takbir keliling dengan mengendarai mobil pick-up. 

Tapi, keesokan harinya, tiada yang tahu: apakah masing-masing mereka masih diberi jatah berdetak ataukah tuntas sudah tugas jantungnya. Semua orang hanya terlarut dalam suasana yang megah nan membahagiakan di Hari Raya Idul Fitri. Semua umat Islam, di Indonesia, sebagian kecil saja yang masih berkesadaran akan betapa dekatnya ajal. Romo Kiai Umbaran termasuk dalam sebagian kecil itu.

Malam takbir sudah berlalu. Petasan-petasan yang memekakkan telinga sudah menuju hening. Bungkam. Hanya tersisa merdu takbir dengan nada yang lebih halus dan syahdu dari semalam. Sekarang di pagi ini, setelah subuh, Kiai Umbaran tidak pulang dari masjid. Ditugaskan menjadi imam shalat Idul Fitri tahun ini membuatnya untuk memilihi tinggal di masjid saja.

Telah datang saatnya Shalat Id, maka ramainya orang di masjid begitu meruah. Tumpah hingga ke selasar halaman masjid dan bahkan ada beberapa yang menggelar tikar dan karpet di sisi jalan raya. Sesudah Kiai Umbaran menyelesaikan tujuh takbir pada rakaat pertama, menuju ke rakaat kedua dengan lima kali takbir, dan ketika usai menyelesaikan rukuk, tiba-tiba Kiai Umbaran terjatuh!

Para jamaah pada barisan shaf pertama seketika membatalkan shalatnya.

“Mbah Yai! Mbah… Mbah Yai…” satu di antaranya menggoyangkan tubuh Romo Kiai sepuh itu. Tapi tak berguna. Kiai Umbaran tak juga bangun. 

Hanya hening yang tersisa. Sejenak angin terjeda. Diam. Dan selanjutnya buyarlah para jamaah Idul Fitri itu untuk mengerubungi jasad Kiai Umbaran yang tak lagi bernyawa. Beliau kapundhut. Pergi, pulang, mudik ke kampung halaman kesejatian yang fitri sefitri-fitrinya. Tepat di hari yang suci itu.

Bandung, 25 Juni 2018


Madno Wanakuncoro, nama pena dari Muhammad Naufal Waliyuddin. Penulis yang gemar melukis, apalagi membaca. Suka kopi yang nggak banyak tingkah. Anggota PMII Cab. Kab. Bandung dan CSSMoRA UIN Sunan Gunung Djati Bandung angkatan 2013.

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG