IMG-LOGO
Daerah

Ekstrem Negatif dan Positif Sosok Haji dalam Novel Sunda

Selasa 28 Agustus 2018 1:30 WIB
Bagikan:
Ekstrem Negatif dan Positif Sosok Haji dalam Novel Sunda
Bandung, NU Online
Budayawan Hawe Setiawan, menjelaskan ada dua penggambaran sosok haji dalam sastra Sunda. Pertama citra yang negatif dan kedua yang positif. Ia menyebut sangat ekstrem dalam penggambaran citra haji itu.  

“(Penggambaran) ekstrem haji itu buruk sekali. Saya ksih contoh dari Pak Sayudi terbitan tahun 83,” katanya pada diskusi rutin Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Jawa Barat di kediaman Enjang AS Cibiru, Kota Bandung, Ahad (26/8). 

Baca: Lakpesdam NU Jawa Barat Bincang Serial NU Sunda
Baca: Pergumulan NU dan Kesundaan Belum Digali Mendalam
Menurut kolumnis yang gemar bersepeda ini, di dalam karya Sayudi tersebut, ada dua sosok haji yang sama-sama bertabiat buruk, Haji Umar dan Haji Syukur. 

“Taya dua Haji Umar katelahna nu boga adat fidunya, haji keling taya tanding, sarakah mamawa lurah, sakait jeung juru tulis,” pria kelahiran Subang mengutip novel tersebut, “jelek sekali kan? Dia (Haji Umar) kongkalikong dengan pejabat, terus materialistis,” lanjutnya. 

Penggambaran Haji Syukur, tambah pengamat sastra ini, meski namanya bagus, tapi berlainan dengan tabiatnya. 

Sambian maluruh catur, laku Ki Haji Syukur nu racak tapak pangupat, nu ledug tapak penyebut, anyar jegud benang munjung, pajar teu modalan, Kang Haji kaintip nyegik,” kutipnya. 

(Terjemah bebasnya: Haji Syukur seorang yang banyak digunjing orang, kaya mendadak dari memuja babi)

Menurut Hawe, penggambaran tersebut sangat kontradiktif karena Haji Syukur beribadah (berhaji, red.) dengan harta buah dari cara yang tidak islami. 

“Korupsi dulu terus umrah gitu kan sama saja polanya. Itu esktrem satu,” katanya.  

Menurut dia, citra buruk haji, bisa ditemukan di beberapa karya Pramudya Ananta Toer, terutama di novel Arus Balik. Di novel itu penulis menceritakan seorang keturunan Syahbandar yang berhidung melengkung. 

Kalau kita runut ke belakang, sambungnya, penggambaran haji yang demikian, muncul dalam karya-karya sastra Belanda, misalnya pada novel De Stille Kracht (Tenaga Tersembunyi) karya Louis Couperus. Penulisnya, sekitar tahun 30-an pernah ke Indonesia (waktu itu Hindia Belanda). 

“Di novel itu tokoh hantu haji; seperti ikut mencerminkan ketakutan kolonialisme terhadap Islam,” terangnya. 

Kemudian Hawe menjelaskan penggambaran yang sangat bagus tentang sosok haji, misalnya di karya Syarif Amin, berjudul Nyi Haji Saonah. 

“Ini cerita cinta ya sebetulnya. Di situ ada dua haji, Haji Saonah sendiri dan suaminya Haji Siroj. Saya kutip ada gambaran Haji Siroj: ‘Ari parung pasanggrok di jalan eta manehna dina sado, kuring leumpang, Haji Siroj meni sok dongko-dongko bae bari nyekelan ples teh. Jelema handap asor kasebut beungharna’,” ungkapnya.  

Pria berkacamata yang terampil membuat sketsa ini menjelaskan, di novel itu, Haji Siroj adalah sosok kaya raya yang nyantri. Kekayaannya merupakan hasil dari bisnis halal yang tidak membuatnya angkuh, melainkan rendah hati. (Abdullah Alawi) 

Tags:
Bagikan:
Selasa 28 Agustus 2018 23:3 WIB
Islam Terus Diperbincangkan, Tapi Kehilangan Ruhnya
Islam Terus Diperbincangkan, Tapi Kehilangan Ruhnya
Bandung, NU Online
Budayawan Acep Iwan Saidi berpendapat saat ini kata Islam menjadi sesuatu yang hangat dan selalu menjadi pembicaraan oleh pihak mana pun di mana pun. Namun, ia menyayangkan di saat yang sama Islam kehilangan ruhnya, karena yang terus-menerus dilibatkan dalam pembicaran itu adalah Islam dan politk.

“Islam menjadi bagian noise, bagian dari perbincangan yang hiruk-pikuk, bukan voice,” katanya pada diskusi rutin  Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PWNU Jawa Barat di kediaman Enjang AS, Cibiru, Kota Bandung, Ahad (26/8).

Menurut ahli semiotika Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut, Nahdlatul Ulama menjadi bagian yang terlibat dalam perbincangan hiruk-pikuk Islam itu. 

Karena hanya sekadar hiruk-pikuk, ia mengusulkan agar Lakpesdam keluar dari wilayah itu menempuh jalan lain. Memang, jalan itu, tidak mungkin populer dan wacana yang digandrungi hari ini. 

“Kalau itu tidak dilakukan, kita menjadi terlibat di dalamnya,” katanya. (Abdullah Alawi)

Selasa 28 Agustus 2018 21:0 WIB
Ansor Harus Rawat Tradisi dan Tingkatkan Kemampuan
Ansor Harus Rawat Tradisi dan Tingkatkan Kemampuan
Pelantikan Ansor Karangmalang.
Kendal, NU Online
Ansor sebagai wadah generasi muda berwawasan Ahlussunah wal Jamaah diharapkan bisa menjadi pelopor perubahan. Hal tersebut demi mengawal pembangunan, termasuk di desa agar terwujud masyarakat yang berketuhanan dan berkeadilan sosial. 

“Sebagai wujud syukur, kita perlu mengisi kemerdekaan ini dengan pembangunan,” kata KH Sunaryo, Senin (28/8). Yang dibangun tidak hanya badan, juga jiwa, lanjut penceramah ini.

Secara khusus, Kiai Sunaryo mengingatkan bahwa pengurus dan anggota Ansor adalah generasi muda yang cerdas emosional dan spiritual. “Karenanya perlu berada di garda terdepan dalam pembangunan di desa,” pesannya dalam pengajian HUT Kemerdekaan RI dan pelantikan Pengurus Ranting Ansor Desa Karangmalang, Kangkung, Kendal, Jawa Tengah tersebut. 

Dirinya juga mengingatkan bahwa kemerdekaan yang dirasakan masyarakat Indonesia merupakan rahmat dari Tuhan. “Dan didapat melalui perjuangan dari para pahlawan dalam mengusir penjajah,” tegasnya. 

Muhammad Romadhon mengatakan pelantikan Pengurus Ranting Ansor yang dibarengkan dengan peringatan hari kemerdekaan ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat perjuangan. “Menjadi pengurus Ansor merupakan amanah yang memerlukan perjuangan dan pengorbanan,” kata Ketua Pimpinan Anak Cabang Ansor Kecamatan Kangkung ini.

Di hadapan pengurus baru, dirinya mengingatkan pesan KH Hasyim Asy’ari. “Hadratussyekh KH Hasyim Asyari pernah berwasiat bahwa siapapun yang berkhidmat di NU akan diakui sebagai santrinya dan didoakan husnul khatimah,” tegasnya. 

Di akhir sambutan, dirinya mengajak pengurus Ansor untuk membulatkan tekad untuk berkhidmat kepada organisasi ini. “Yakni dengan terus merawat tradisi dan meningkatkan kapasitas pengetahuan dan keterampilan sesuai tantangan zaman,” pungkas Romadhon. 

Pelantikan Pengurus Ranting Gerakan Pemuda Ansor Desa Karangmalang dilakukan oleh Ketua Pimpinan Cabang  GP Ansor Kendal, Muhammad Ulil Amri. Tampak hadir kepala desa dan masyarakat desa Karangmalang. (M Sulhanuddin/Ibnu Nawawi)
Selasa 28 Agustus 2018 20:30 WIB
Usai Syubbanul Wathan, Shalawat Badar Bergema di IAIN Pontianak
Usai Syubbanul Wathan, Shalawat Badar Bergema di IAIN Pontianak
Pontianak, NU Online
Ada yang berbeda dalam lanjutan kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak Kalimantan Barat kali ini. Di hari kedua, mahasiswa dari setiap fakultas mendapat pengarahan dari masing masing dekan. Termasuk mahasiswa Fakultas Ushuludin Adab dan Dakwah (FUAD) yang diberi pengarahan langsung oleh dekan setempat.

Setelah di hari pertama seluruh mahasiswa baru menggemakan lagu Syubbanul Wathan, di hari kedua sebelum pengarahan berlangsung, mahasiswa di fakultas ini diajak bersama melantunkan Shalawat Badar. Merekapun tampak khidmat melantunkan shalawat yang menjadi tradisi khas Islam Indonesia ini.

Dalam arahannya, Dekan FUAD IAIN Pontianak, Ismail Ruslan menyampaikan bahwa Shalawat Badar yang dilantunkan merupakan kekhasan dari tradisi Islam Indonesia yang moderat. Ia menjelaskan prinsip moderasi beragama kepada para mahasiswa baru.

Mahasiswa FUAD IAIN Pontianak perlu memahami prinsip moderasi beragama dalam bingkai kebinekaan. “Hal ini sebenarnya sudah sejalan dengan QS Al Hujurat Ayat 13 yang memberikan kesan bahwa penghargaan terhadap berbagai perbedaan baik itu suku, ras, maupun agama sangat dijunjung tinggi,” jelasnya.

Kemudian Ismail melanjutkan bahwa dengan memahami prinsip moderasi beragama ini, mahasiswa diharapkan tidak mudah saling menyalahkan serta menghargai perbedaan yang terjadi di lingkungan sekitar.

Apalagi menurutnya, Kalimantan Barat merupakan provinsi dengan berbagai macam suku, ras dan agama ikut terlibat aktif dalam menjaga pluralitas “Mahasiswa hendaknya terlibat aktif menjaga pluralitas ini dengan menghayati prinsip prinsip moderasi beragama,” pesannya.

Syifa, salah seorang mahasiswa baru dari Riau merasa senang dan menikmati pelantunan Shalawat Badar di PBAK.

“Wah, saya sangat senang dan menikmati sekali, dan ini hal yang baik kampus mengenalkan shalawat kepada mahasiswa baru,” ungkapnya.

Dirinya berharap tidak hanya di acara PBAK, shalawat dilantunkan. "Di acara selanjutnya juga sebaiknya ada pelantunan shalawat bersama, agar ada keberkahan di setiap acara terutama untuk kampus," pungkasnya. (Siti Maulida/Ibnu Nawawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG