IMG-LOGO
Pustaka

Manasik Haji Orang Betawi Tempo Dulu

Selasa 28 Agustus 2018 5:45 WIB
Bagikan:
Manasik Haji Orang Betawi Tempo Dulu
Orang Muslim Betawi abad ke-20 hingga pertengahan abad ke-21 cukup beruntung dengan kehadiran Sayyid Utsman bin Yahya, mufti Batavia yang sangat alim. Mereka mendapat bimbingan dari muftinya dalam soal haji antara lain melalui Kitab Manasik Haji dan Umrah karya Sayyid Utsman bin Yahya. Sebelum era politik etis kolonial yang membuat pribumi melek baca tulis aksara Latin, aksara Jawi merupakan bahasa ilmu pengetahuan masyarakat.

Karya ini menjadi pedoman masyarakat sebelum buku-buku Latin soal haji ditulis dengan semarak puluhan tahun sesudahnya. karya ini ditulis dalam aksara Jawi dan berbahasa Melayu yang berjumlah 48 halaman. Karya ini kini dicetak oleh Al-Aidrus, Jakarta Pusat atas izin Sayyid Muhammad bin Yahya. Karya ini berukuran 14 cm x 20 cm. Setiap halaman terdiri atas 21 baris. Sementara teks dan tepi kertas berjarak antara 1-1 ½ cm.

Berikut ini kami kutip catatan aksara Jawi pada sampul depan yang berbentuk piramida terbalik. Catatan ini kami alihaksarakan ke dalam aksara Latin.

”Ini Kitab Manasik Haji dan Umrah. Dengan bahasa Melayu, dan sebutan aturan, dan syarat-syarat sembahyang qashar jamak, dan aturan kiblah di dalam pelayaran pergi haji karangan hamba yang dhaif Utsman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya Al-Alawi nasaban, was Syafi’i Mazhaban, wal Asy’ari aqidatan, afallahu anhu wa li walidaihi wa jami’il muslimina amiiin. Dan tiada ridha oleh yang mengarang kitab ini dicitak oleh seorang akan dia dan tiada halal dunia dan akhirat baginya.”

Karya ini merupakan semacam buku saku perihal manasik haji dan umrah yang dimanfaatkan oleh masyarakat Jakarta saat itu. Karya ini memuat tuntunan lengkap mulai dari orang keluar rumah untuk menunaikan ibadah haji hingga pulang kembali ke rumahnya. Sebagaimana diketahui peribadatan haji saat itu ditempuh melalui jalur laut.

Untuk menulis buku praktis ini, Sayyid Utsman bin Yahya mengutip sejumlah beberapa karya ulama terdahulu. Kejujuran intelektual ini disampaikan Sayyid Utsman bin Yahya dalam pengantar karyanya dalam aksara Jawi berikut ini yang sudah dialihaksarakan ke dalam aksara Latin.

Alhamdulillahi rabbil alamin. Was shalatu was salamu ala sayyidina Muhammadin, wa alihi wa shahbihi ajma’ain. Wa ba’du. Kemudian daripada itu, maka inilah Kitab Manasik Haji dan Umrah terlalu sedikit lafazhnya dan mudah dipahamkan insya Allah ta’ala bagi sekalian saudara yang hendak pergi haji dengan aturan amal-amalan orang pergi haji dari permulaan pelayarannya, dari rumahnya hingga ia pulang kembali dengan selamat ke rumahnya. Maka apa yang tersebut di dalam ini kitab setengahnya dinaqal dari Kitab Idhah karangan Imam An-Nawawi, dan setengahnya dari Kitab Faidhul Malikil Allam karangan Sayyid Yusuf Al-Baththah, dan setengahnya dari Kitab Ihya Ulumiddin karangan As-Syekh Al-Ghazali, dipindahkan sekalian itu dengan Bahasa Melayu Betawi,” (Lihat Sayyid Utsman bin Yahya, Kitab Manasik Haji dan Umrah, [Jakarta, Al-Aidrus: tanpa catatan tahun], halaman 2).

Karya ini secara umum ditulis dalam aksara Jawi dan Bahasa Melayu Betawi sebagaimana diungkapkan secara lugas oleh Sayyid Utsman. Sebagaimana diketahui, Bahasa Melayu memiliki banyak ragam, baik Melayu Sumatera, Patani, Malaysia, Kalimantan, maupun Betawi.

Karya ini dilengkapi dengan sebuah tabel yang memetakan syarat, rukun, dan wajib bagi ibadah haji dan umrah. Pembaca juga akan menemukan diagram lingkaran yang menjelaskan posisi kapal laut berdasarkan rasi bintang untuk menentukan arah mata angin.

Sayyid Utsman juga menggambarkan syarat, rukun, wajib, dan sunnah bagi ibadah haji dan umrah dengan ilustrasi sebuah pohon yang daunnya adalah keikhlasan. Kecuali itu, Sayyid Utsman melengkapi karyanya dengan diagram yang menjelaskan posisi Makkah dan tempat miqat bagi jamaah haji dari empat penjuru.

Upaya melengkapi karya dengan tabel dan diagram yang tidak melulu deskripsi merupakan sebuah kemajuan dalam teknik penulisan yang melampaui zamannya. Tabel dan diagram itu memudahkan pembaca dalam memahami amanat dalam karya tersebut.

Hal ini bisa jadi dilatarbelakangi keinginan Sayyid Utsman dalam memudahkan pembaca. Kemajuan dalam teknik penulisan seperti itu bisa jadi digali oleh Sayyid Utsman dari banyak karya yang dibacanya dari pelbagai negeri.

Karya ini memuat tata cara ibadah haji dan umrah mulai dari a sampai z. Selain itu, karya ini juga memuat doa-doa setiap ibadah yang ada di dalam haji dan umrah. Karya ini dilengkapi dengan tata cara ziarah kubur di makam Rasulullah, Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, dan Sayyidatina Fathimah.

Karya ini sengaj disusun secara ringkas untuk menjadi semacam buku saku bagi jamaah haji dan umrah asal Nusantara. Oleh karenanya, kajian fiqih lintas mazhab atau kajian mendalam perihal haji dan umrah tidak dibawa di sini. Hal ini disampaikan oleh Sayyid Utsman bin Yahya di akhir kitab ini.

”Maka inilah penghabisan yang tersebut daripada perkara haji dan umrah dan ziarah dengan pendek perkataan, ’maka barang siapa menghendakkan lebih dari ini maka ia baca Kitab Al-Idhah atau lain-lain kitab manasik haji. Dan jika ia  hendak lebih daripada perkara ziarah yang lebih afdhal, maka ia baca Ziarah Abil Baqa’ adanya,’” (Lihat Sayyid Utsman bin Yahya, Kitab Manasik Haji dan Umrah, [Jakarta, Al-Aidrus: tanpa catatan tahun], halaman 47-48).

Kolofon karya ini ditulis dalam bentuk piramida terbalik. Kolofon ini hanya memuat informasi berupa nama dan harapan penulis. Kolofon ini tidak memuat tempat dan waktu penyalinan. Karya ini disalin oleh Al-faqir Muhammad Ishaq Sa’ad. Kolofon karya Sayyid Utsman ini kami kutip dengan alih aksara Latin.

”Maka berharaplah hamba pada Allah ta’ala akan memberi manfaat dengan ini kitab bagi sekalian saudara yang membaca atau mendengarkan padanya mendapatikhlash lillahi ta’ala dan qabul sekalian amal haji dan umrah dan ziarah. Amiiin. Allahumma amiiin. Wa shallallahu ala sayyidina Muhammadin wa alihi wa shahbihi wa sallama ajma’in. Walhamdu lillahi rabbil alamin. Tamma,” (Lihat Sayyid Utsman bin Yahya, Kitab Manasik Haji dan Umrah, [Jakarta, Al-Aidrus: tanpa catatan tahun], halaman 48).

Karya ini oleh sejumlah kalangan dianggap sebagai karya pertama Sayyid Utsman bin Yahya. Meskipun tidak ada informasi perihal waktu penulisan, sebuah katalog perpustakaan menyebutkan tahun terbit karya ini pada 1875 M atau 1292 H.

Dari kolofon ini, kita juga dapat menarik simpulan bahwa tradisi lisan masih cukup kuat dalam kehidupan masyarakat saat itu di mana sebagian dari masyarakat mengakses konten sebuah karya melalui pelisanan teks dan didengarkan.

Riwayat Singkat Sayyid Utsman bin Yahya Petamburan
Sebagaimana diketahui Sayyid Utsman bin Yahya Petamburan lahir pada awal Desember 1822 M, Sayid Usman lahir di Pekojan, kini Jakarta Barat. Ayahnya bernama Sayid Abdullah bin Aqil bin Umar bin Yahya. Ibunya bernama Aminah binti Syekh Abdurrahman Al-Mishri yang tidak lain salah seorang ulama terkemuka di zamannya.

Sejak kecil ia gemar menuntut ilmu. Menginjak usia remaja, ia menunaikan ibadah haji di Mekkah lalu bertahan di sana selama 7 tahun. Di sana ia mengaji kepada ayahnya sendiri dan mufti Mekkah bermadzhab Syafi’i Sayid Ahmad Zaini Dahlan.

Pada 1848 M Sayyid Utsman bergerak menuju Hadhramaut. Di negeri ini ia berguru kepada Habib Abdullah bin Umar bin Yahya, Habib Hasan bin Shaleh Al-Bahar, Syekh Abdullah bin Husein bin Thahir, dan Habib Alwi bin Saggaf Al-Jufri.

Pada 1862 M, Sayyid Usman tiba di tanah air. Ia sangat berjasa dalam peningkatan pemahaman masyarakat Betawi melalui karya tulisnya yang berbahasa Melayu. Tidak kurang dari 120 karyanya dicetak dan disebarluaskan. Sebagian darinya berbahasa Arab.

Sayid Usman dipanggil Allah pada pertengahan Januari 1914 M dan dikebumikan di TPU Karet. Pada masa Orde Baru makamnya kena gusur. Pihak kerabat memindahkannya ke sisi selatan Masjid Al-Abidin, Sawah Barat, Pondok Bambu, Jakarta Timur. (Alhafiz Kurniawan)
Bagikan:
Kamis 23 Agustus 2018 21:0 WIB
Kitab Tuntunan Manasik Haji Karya KH Bisri Mustofa
Kitab Tuntunan Manasik Haji Karya KH Bisri Mustofa
Haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib dilaksanakan oleh umat Islam yang memiliki istitha’ah atau kemampuan untuk menjalankannya. Ibadah haji sedikit berbeda dengan rukun Islam yang lain, oleh karena pelaksanaan haji ditentukan waktu dan tempatnya. Waktunya diselenggarakan setiap bulan Dzulhijjah.

Dengan demikian, Haji tidak bisa dilaksanakan setiap waktu, berbeda dengan Ibadah Umrah. Sedangkan tempatnya juga ditentukan, seperti Wuquf di Arafah, Mabit di Muzdalifah, Sa’i di Shofa dan Marwa dan lain-lain. Dan dengan demikian, penyelenggaraan Ibadah Haji tidak bisa dilaksanakan di sembarang tempat.

Orang-orang Islam yang berasal dari Indonesia, yang berjarak 8.388 km dari Mekkah di Arab Saudi, dalam melaksanakan Ibadah Haji tentunya membutuhkan tuntunan dan bimbingan, utamanya bagi mereka yang belum pernah sama sekali menginjakkan kaki di tanah suci.

Atas dasar itulah, kemudian Simbah KH Bisri Mustofa, ayahanda KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) yang juga penulis Tafsir Pegon Nusantara Al-Ibriz berinisiatif untuk membuat kitab tuntunan manasik ibadah haji bagi masyarakat muslim Indonesia.

Kitab tuntunan manasik haji karya Simbah KH Bisri Mustofa ini merupakan pedoman praktis penyelenggaraan ibadah haji. Kitab ini telah disempurnakan oleh Kiai Bisri dari kitab beliau sebelumnya, yang ditulis dengan menggunakan aksara pegon dengan tujuan untuk memudahkan umat Islam Nusantara dalam memahami tatacara ibadah haji secara baik dan benar. Kitab ini ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami, runut, dan aplikatif. 

Kitab ini juga dilengkapi dengan gambar-gambar yang terkait dengan pelaksanaan ibadah haji, untuk mengenalkan kepada masyrakat muslim Indonesia tentang bagaimana kondisi sosio-kultural Makkah dan sekitarnya. Dalam penyampaiannya, Simbah Kiai Bisri banyak menggunakan bahasa yang komunikatif dan berbentuk cerita sehingga memudahkan para pembaca untuk memahami dan mengamalkannya.

"تُوْنْتُوْنَانْ رِيْڠْكٓسْ مَنَاسِكْ حَجِّ" ڤُوْنِيْكَا بَدَيْ سُوْكَا كٓتٓرَڠَانْ مَاوِيْ چَارَا إِيْڠْكَڠْ ڮَامْڤِيْلْ فَهَمْ. إِيْڠْڮِيْهْ مٓنِيْكَا نَمُوْڠْ چَرَا چَارِيَوْسْ، دَادَوْسْ مْبَوْتٓنْ كَادَوْسْ عُمُوْمْ إِيْڤُوْنْ كِتَابْ-كِتَابْ بَابْ حَجِّ.

Artinya: “Tuntunan Ringkas Manasik Haji ini disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami, yaitu bahasa cerita yang komunikatif, sehingga tidak seperti kitab-kitab atau buku-buku pedoman haji pada umumnya.” [Mukaddimah Tuntunan Ringkas Manasik Haji, karya Simbah KH Bisri Mustofa]

Adapun materi yang dibahas di dalam Kitab Tuntunan Manasik Haji ini, tidak hanya terbatas pada persoalan haji saja, melainkan juga hal-hal yang terkait dengan Ibadah Haji, seperti: tatacara pelaksanaan haji Ifrad yang mana jamaah haji melaksanakan ibadah haji terlebih dulu kemudian umrah, haji tamattu’ yang mana jamaah haji melaksanakan ibadah umrah terlebih dulu beru kemuran haji, haji qiran yang mana jamaah haji melaksanakan ibadah haji dan umrah secara bersamaan, tatacara melaksanakan ibadah shalat dalam keadaan bepergian haji, tatacara berziarah di makam Nabi, dan lain sebagainya. 

Oleh karena kitab Tuntunan Manasik Haji ini ditulis pada 31 Agustus 1962, yang mana pada tahun tersebut penyelenggaraan ibadah haji di Indonesia masih menggunakan moda transportasi kapal, maka terdapat beberapa keterangan yang ditulis Simbah Kiai Bisri yang mungkin sudah tidak sesuai dengan kondisi zaman.

Seperti nasihat-nasihat beliau tentang apa yang harus kita lakukan saat berada di dalam kapal, tentu hal ini tidak relevan dengan pelaksanaan ibadah haji yang sudah menggunakan moda transportasi pesawat.

Meskipun demikian, secara keseluruhan, kitab ini masih sangat layak untuk kita jadikan pedoman, oleh karena kitab ini berisi pedoman teknis pelaksanaan haji, baik dari sisi rukun, kewajiban maupun kesunnahannya. 

Pelaksanaan ibadah haji sejak zaman Nabi sampai sekarang bahkan sampai kelak hari kiamat tidak ada yang berubah sama sekali, baik itu rukun, kewajiban dan kesunnahannya, sehingga kitab Tuntunan Manasik Haji ini bisa dijadikan pedoman ibadah haji sepanjang zaman.

Kitab ini selesai ditulis oleh Simbah KH Bisri Mustofa di Rembang pada 31 Agustus 1962 M yang bertepatan dengan tanggal 1 Rabi’ul Tsani 1382 H. Dicetak oleh Penerbit Menara Kudus, dengan ketebalan 68 halaman. Kepada beliau, Simbah KH Bisri Mustofa Rembang, mari kita langitkan Surat Al-Fatihah.

Sahal Japara, pemerhati Aksara Pegon, Khadim di SMPQT Yanbu’ul Qur’an 1 Pati, Jawa Tengah
Senin 20 Agustus 2018 10:0 WIB
Gus Dur dan Pemerintahan yang Dibangunnya
Gus Dur dan Pemerintahan yang Dibangunnya
Presiden ke-4 Republik Indonesia KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menamakan kabinet pada masa pemerintahannya dengan Kabinet Persatuan Nasional. Nama kabinet ini sesuai dengan misi besar Gus Dur untuk kembali menyatukan seluruh elemen bangsa menjadi karena saat itu ancaman desentegrasi bangsa cukup mengemuka.

Selalu menarik memotret sosok Gus Dur dari semua sisi atau kehidupan yang telah ia lalu sebab inspirasi dan pancaran kharisma cucu Hadlratussyekh Hasyim Asy’ari ini membuat siapa pun ingin mengetahui lebih mendalam. Termasuk di masa pemerintahan Gus Dur seperti yang dipotret Bondan Gunawan dalam bukunya ini.

Bondan Gunawan merupakan Sekretaris Pengendalian Pemerintahan (Sesdalprin) di era Presiden Gus Dur. Dalam buku berjudul Hari-Hari Terkahir Bersama Gus Dur, Bondang berusaha merefleksikan kenangan berinterkasi langsung dengan sosok yang dikenal humanis tersebut.

Ia menguraikan pengalamannya bersama Gus Dur dari sedari bersama saat aktif di Forum Demokrasi (Fordem) hingga Gus Dur dilengserkan secara inskonstitusional oleh Sidang Istimewa (SI) MPR yang dipimpin Amin Rais.

Buku setebal 328 halaman ini juga ditulis oleh Bondan untuk memberikan kejernihan informasi-informasi ‘berkabut’, baik secara sosial maupun politik yang menerpa Gus Dur saat itu. Sehingga buku ini penting dibaca dan dipahami agar masyarakat memperoleh informasi dari orang yang memang dekat dengan Gus Dur.

Namun, di balik semua yang dikisahkan oleh Bondan dalam bukunya ini, Gus Dur memang sosok berbeda. Dia mampu mengemas dan menyelesaikan persoalan sepelik apapun hanya dengan joke. Perilaku nyentriknya tidak hilang bahkan saat dia menjadi Presiden. Yang paling menjadi perhatian ketika Gus Dur terlihat tertidur pulas di pertemuan internasional dengan pemimpin tertinggi Iran, sidang paripurna, rapat pleno di DPR, dan forum-forum besar lainnya.

Tidur merupakan aktivitas di mana manusia tidak sadar terhadap apa terjadi di sekelilingnya. Namun, hal ini berbeda dengan tidur KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang dinilai banyak kalangan menyimpan misteri.

Misteri yang dimaksud ialah, meskipun dalam kondisi tertidur ketika diskusi, rapat, musyawarah, dan lain-lain, Gus Dur justru mampu menanggapi dengan tangkas dan cerdas pembicaraan di forum. Persis seperti orang yang terjaga padahal dirinya terlelap ketika forum berlangsung.

Awalnya, tidak sedikit orang-orang yang tidak menyukai perilaku Gus Dur tersebut karena dianggap kurang sopan dan tidak etis. Namun, justru ketika Gus Dur mampu menanggapi musyawarah dengan brilian setelah terlelap, orang-orang tersebut berbalik kagum, hormat, dan menyukai Gus Dur.

Tidak ada yang meragukan kecerdasan dan level pengabdian KH Abdurrahman Wahid kepada agama, bangsa, dan negara untuk menjadi seorang pemimpin. Potensi besar menjadi pemimpin ini dilihat secara serius oleh sahabatnya, Fahmi Djafar Saifuddin (1942-2002). Bukan hanya pada level organisasi Islam terbesar di dunia seperti Nahdlatul Ulama (NU), tetapi juga menjadi seorang pemimpin negara, Presiden.

Meskipun serius ‘mengarsiteki’ Gus Dur menjadi pemimpin bangsa, Fahmi D. Saifuddin justru terlebih dahulu mendorong Gus Dur agar terbiasa memakai sepatu. Karena walau kemana pun dan dalam kegiatan apapun, Gus Dur kerap memakai sandal. Hal itu yang menurutnya cukup mengganjal dalam pikiran Fahmi, padahal Gus Dur sendiri merasa nyaman memakai sandal meski dirinya kala itu telah menjabat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Itulah Gus Dur, sosok yang mampu menjadikan sesuatu yang dianggap luar biasa oleh orang pada umumnya, tetapi baginya, persoalan yang menyangkut sisi artifisial tersebut adalah hal yang biasa. Karena yang terpenting bagi Gus Dur ialah substansi atau inti dari problem yang lebih luas.

Dalam proses memerintah seperti banyak yang diceritakan dalam buku ini, Gus Dur merupakan Presiden yang berhasil menghalau ancaman disintegrasi bangsa pasca-kerusuhan dan konflik horisontal tahun 1998. Gus Dur juga melihat, otoritarianisme Orde Baru yang dipimpin Soeharto menyimpan banyak problem sosial dan politik. Baginya, potensi disintegrasi dari dampak ketidakadilan Orde Baru harus bisa diredam dan dirajut kembali sehingga Indonesia tetap satu bangsa.

Upaya tersebut tidak hanya dilakukan Gus Dur di dalam negeri, tetapi juga menguatkan konslidasi di luar negeri dengan tujuan yang lebih luas, yaitu mewujdukan perdamaian dunia. Terutama memberikan rasa aman kelompok Muslim di Barat yang minoritas secara jumlah.

Gus Dur bolak-balik mengatakan kepada para pemimpin dunia bahwa Indonesia mayoritas berpenduduk Muslim, bahkan terbesar di dunia. Namun, mayoritas Muslim di Indonesia hidup damai dengan kelompok-kelompok lain yang menjadi minoritas. Hal ini tidak lain merupakan upaya Gus Dur untuk melindungi Muslim di Barat yang menjadi minoritas. Selengkapnya, selamat membaca!

Peresensi adalah Fathoni Ahmad, warga NU kelahiran Brebes, Jawa Tengah

Idenitas buku:
Judul: Hari-hari Terkahir Bersama Gus Dur
Penulis: Bondan Gunawan
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
Cetakan: Pertama, Mei 2018
Tebal: xxiii + 328 halaman
ISBN: 978-602-412-430-4
Sabtu 18 Agustus 2018 15:30 WIB
Memahami Tasawuf KH Saleh Darat
Memahami Tasawuf KH Saleh Darat
Nama KH Saleh Darat Semarang dalam konteks sejarah Islam di Nusantara, terkhusus sejarah pesantren, memiliki tempat tersendiri dalam ruang diskusi para pembaca dan pemerhati. Ia dikenal salah satu ulama yang produktif berdakwan dan menulis. Tidak sedikit berbagai karya telah dituliskan sebagai medium dakwah di tengah masyarakat luas, termasuk diajarkan kepada santri-santrinya dengan menggunakan tulisan Arab pegon Jawa.

Kealimannya tidak disangsikan. Karenanya, berbagai santri yang kelak menjadi tokoh besar terlahir dari sentuhan dingin dari sosok Kiai Saleh. Kenyataan ini tidak bisa lepas dari proses belajarnya kepada beberapa ulama di di Makkah al-Mukarramah, termasuk beberapa ulama Jawa yang pernah disinggahi. Salah satu ulama Makkah yang menjadi jujukannya adalah Syaikh Muhammad Muqri al-Mishri al-Makki, Syaikh Ahmad ibn Zaini Dahlan, Syaikh Nahrawi al-Mishri al-Makki. (lihat 84-86).

Buku ini menarik, sebab mengupas dari kekhasan pemikiran Kiai Saleh. Menarik sebab Kiai Saleh menguasai beberapa disiplin keilmuan Islam dan buku ini mengungkap secara gamblang plus detail bagaimana pemikiran tasawuf Kiai Saleh Darat serta berada dalam tipologi apakah tasawufnya, bila dikaitkan dengan tipologi tasawuf Sunni atau tasawuf falsafi. Sebuah usaha akademik yang sangat berharga sehingga layak dibaca oleh semua kalangan.

Salah satu pemikiran tasawuf Kiai Saleh Darat bila dipahami, misalnya, adalah “larangan agar kita tidak mudah berburuk sangka kepada guru –tepatnya guru mursyid—yang telah memiliki sanad yang sangat jelas dari para guru-guru atau mursyid yang sempurna” (lihat, 259). Sebuah larangan yang layak direnungkan dalam konteks hubungan murid dan guru sehingga akan sangat berarti buku ini untuk dibaca dalam rangka mendalami bagaimana langkah tasawuf itu mengajarkan banyak hal dalam kehidupan; bukan saja kehidupan bersama Allah, tapi juga bersama manusia.

Dalam kontek pendidikan, untuk menafsirkan isyarat atau intruksi ambigu yang disampaikan oleh seorang guru, siswa harus memiliki rasa kepercayaan yang tinggi kepada guru. Oleh karena itu dengan adanya rasa percaya seorang siswa kepada guru, siswa akan memperoleh manfaat berupa kurangnya keraguan dalam mengartikan tingkah laku guru, rasa hormat kepada guru sehingga siswa komitmen dan mematuhi aturan serta norma-norma yang berlaku baik di kelasa maupun di sekolah. Rasa percaya seorang murid kepada guru sangat penting dilakukan untuk menciptakan proses belajar mengajar yang diinginkan.

Banyak ajaran tasawuf Kiai Saleh Darat yang diulas dalam buku ini, yang pasti tipologi pemikiran tasawufnya menjadi menarik untuk didalami. Pembacaannya yang mengunakan bahasa lokal menjadi kelebihan tersendiri dalam karya-karyanya sehingga sungguh cukup bagus ulasan buku ini juga mengupas bahasa aslinya lantas penulisnya mengulas dan menafsirkan sesuai dengan kerangka pengetahuan yang dipahami secara teroritis.

Namun, membaca buku ini memang butuh pembacaan yang serius dan ini –sekaligus--menjadi kelebihan buku ini sebab bukan sekadar buku biografi sebagaimana buku-buku lain yang membahas tentang buku Kiai Saleh Darat. Tapi lebih pada tulisan sejarah intelektual Muslim, apalagi buku ini adalah karya disertasi penulisnya dalam rangka menyelesaikan program doktoral.

Lebih dari itu ulasannya yang cukup baik dengan membandingkan data-data lain memastikan buku ini mampu menyuguhkan posisi tasawuf Kiai Saleh Darat dalam bingkai perkembangan tasawuf Nusantara. Yang pasti, membaca buku ini adalah salah satu jalan agar kita mampu membaca dan menemukan bagaimana ulama Nusantara berdakwah memahamkan nilai-nilai tasawuf kepada masyarakat. Selamat membaca.


Identitas Buku
Judul Buku: Pemikiran Tasawuf KH Saleh Darat Al-Samarani; Maha Guru Para Ulama Nusantara
Pengarang: Prof Dr Ali Mas’ud Kholqillah, MAg
Penerbit: Pustaka Idea
Tahun Terbit: 2018
Tebal Buku: xxii + 338
Peresensi: Ibnus Shofi (Mahasiswa S2 UIN Sunan Ampel, penerima Beasiswa Kemenpora 2018)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG