IMG-LOGO
Nasional

Ulama Nusantara Penerus Tradisi Intelektual Utsmani

Sabtu 1 September 2018 20:30 WIB
Bagikan:
Ulama Nusantara Penerus Tradisi Intelektual Utsmani
Tangerang Selatan, NU Online
Saat Khilafah Utsmani runtuh, negara pecahannya berubah. Arab menjadi puritan, Mesir menjadi modernis, dan Turki sebagai ibu kotanya menjadi sekuler.

Indonesia muncul sebagai penerus tongkat estafet keilmuan Turki Utsmani meskipun tidak mengadaptasi sistem kenegaraannya, yakni khilafah.

"Yang melanjutkan tradisi intelektual Utsmani yang tradisionil dan Ahlussunah wal Jamaah itu siapa?" Tanya Ahmad Ginanjar Sya'ban saat mengisi diskusi rutin di Islam Nusantara Center (INC) Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (1/9).  "Ulama Nusantara," jawabnya sendiri.

Makanya, tak aneh jika kurikulum pesantren tradisional dengan kurikulum zaman Utsmani sebelum sekuler itu memiliki kesamaan.

Direktur INC itu juga menjelaskan, bahwa Indonesia dan Turki memiliki kesamaan pada sisi tasawufnya yang menganut tasawuf akhlaki dan tasawuf yang dilembagakan, yakni tarekat. Sementara bidang aqidahnya, masyarakat Nusantara mengikuti paham Asyariyah, sedangkan Turki Maturidiyah. Dalam bidang fiqihnya, bangsa Indonesia mengikuti ijtihad Imam Syafi'i, sedang Turki mengambil pandangan Imam Hanafi.

Pendirian NU sebagai Respons Internasional
Saat imperium Ottoman runtuh, jelasnya, terdapat dua kerajaan di Arab, yakni Hijaz dan Najd. Kerajaan terakhir ini, menurutnya, setahun kemudian (1925) dapat menaklukkan Haramain.

Karena itu, para kiai khawatir tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah yang ada di Haramain itu hilang karena pengaruh Najd yang wahabi. Komite Hijaz dibentuk untuk mengatasi hal tersebut.

"Untuk menyelamatkan tradisi keilmuan yang ada di Hijaz di Makkah agar tidak hilang ketika dikuasai Saudi," katanya.

NU memproklamirkan untuk meneruskan tradisi keilmuan dan tradisi keagamaannya. "Muludannya dipertahankan, ziarah kuburnya dipertahankan. Termasuk model berpikir ala mazhab empat itu dipertahankan di sini," ujar Ketua Program Studi Sarjana Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta itu.

Jadi, menurutnya, NU didirikan itu bukan untuk merespons organisasi modernis yang muncul lebih dulu di Indonesia.

KH M Hasyim Asy’ari atau Mbah Hasyim ketika disowani KH Abdul Wahab Chasbullah (Kiai Wahab), ceritanya, ditanya perihal apakah perlu buat organisasi serupa. "Gak perlu. Biarkan saja. NU secara tradisi sudah mengakar ratusan tahun," kisahnya.

Diskusi bertema Islam Nusantara dan Poros Studi Islam itu juga menghadirkan Ulil Abshar Abdalla dan Zainul Milal Bizawie. (Syakir NF/Ibnu Nawawi)

Bagikan:
Sabtu 1 September 2018 22:30 WIB
Ini Tiga Program Utama Ketua PWNU Maluku Terpilih
Ini Tiga Program Utama Ketua PWNU Maluku Terpilih
Jakarta, NU Online 
Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Maluku terpilih masa khidmat 2018-2023 H Karnusa Serang akan menghidupkan kembali NU di kawasan tersebut dari mulai menata kepengurusan organisasi hingga mengawal persoalan-persoalan yang dihadapi warga. Dirinya juga akan melakukan perbaikan dari kepengurusan periode sebelumnya.

"NU sebagai jamiyah harus melihat bagaimana (keadaan) jamaahnya. Kami akan menata NU di Maluku agar lebih baik dari kepengurusan kemarin," kata Karnusa kepada NU Online di Jakarta, Sabtu (1/9).

Untuk terwujudnya perbaikan-perbaikan di tubuh NU, pria yang juga dosen di Fakultas Ushuluddin IAIN Ambon ini telah mempersiapkan setidaknya tiga program prioritas.

Pertama, menyiapkan kepengurusan organisasi secara ramping. “Maksudnya, struktur kepengurusan di PWNU, lembaga, Badan Otonom (Banom) dan lajnah diisi oleh para profesional dan praktisi,” jelasnya. 

Hal tersebut mendesak dilakukan supaya organisasi berfungsi sebagaimana mestinya. “Lembaga Pendidikan Ma'arif NU, misalnya, diisi oleh orang-orang yang mengerti tentang dunia pendidikan,” urainya.

"Karena NU sebagai jamiyah itu operasional sebenarnya di badan otonom atau Banom, lajnah dan lembaga yang langsung turun ke masyarakat,” katanya. Misalnya LP Ma'arif, akan dipilih para profesional, juga doktor dalam pendidikan. Sedangkan rais dan tanfidziyah mengambil kebijakan-kebijakan yang sifatnya umum, lanjutnya.

Kedua, menata administrasi organisasi PWNU. “Administrasi organisasi harus tertata dengan rapi,” tegasnya. Hal tersebut dapat terwujud dengan keberadaan kantor NU definitif. Oleh sebab itu, PWNU Maluku akan berkomunikasi dengan pemerintah daerah agar memperhatikan keadaan NU yang merupakan pendiri negara ini, lanjutnya.

“Alhamdulillah kita baru-baru ini sudah punya kantor dengan menyewa selama dua tahun pertama. Selanjutnya kami berusaha agar mempunyai kantor secara definitif. Itulah obsesi saya dan rais syuriyah mengupayakan kantor," ucapnya.

Ketiga, meramaikan kantor NU dengan berbagai amaliyah Ahlussunnah wal Jamaah seperti mengadakan pembacaan ratib al-haddad dan pengajian di kantor NU setidaknya sebulan sekali."Nanti pengurus datang dan kita mengundang tokoh-tokoh sehingga bisa betul-betul mengembangkan NU," jelasnya. 

H Karnusa Serang terpilih secara aklamasi pada Konferwil NU Maluku. Sedangkan Rais Syuriyah dijabat KH Muhammad Dyosan Bugis. (Husni Sahal/Ibnu Nawawi)

Sabtu 1 September 2018 22:15 WIB
Ketua NU Maluku Terpilih Bertekad Aktifkan Jamiyah
Ketua NU Maluku Terpilih Bertekad Aktifkan Jamiyah
H Karnusa Serang saat berada di PBNU.
Jakarta, NU Online
Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Maluku menyelenggarakan Konferensi Wilayah di Ambon, Kamis hingga Jumat (27-8/8). Forum tertinggi di tingkat provinsi itu pun mendaulat KH Muhammad Dyosan Bugis sebagai Rais Syuriyah dan H Karnusa Serang sebagai Ketua Tanfidziyah untuk masa khidmat 2018-2023. 

Saat ditemui NU Online di Jakarta Pusat, Sabtu (1/9), ketua terpilih Karnusa menyampaikan tentang tekadnya untuk membenahi organisasi NU di Maluku. Ia memastikan akan menjalankan organisasi yang didirikan pada 31 Januari 1926 itu.

"NU (kepengurusan periode sebelumnya) di Maluku itu vakum. Ada program, tapi belum dibuat di visi-misi," ungkapnya. 

Dirinya menyadari termasuk pengurus lama. Tapi sebagai sebuah organisasi, keputusan di NU adalah koletif kolegial, dalam artian tidak bisa hanya tertumpu pada ketua dan sekretaris. “Harus ada rapat-rapat, dan harus dilaksanakan. Nah, insyaallah saya siap bertanggung jawab mengaktifkan NU," katanya.

Tekad Karnusa dibuktikan dengan visi dan misi yang telah dibuatnya. Bahkan ia telah membentuk tim tarnsisi yang disebut dengan tim empat. "Nah, alhamdulillah saya sudah punya visi dan misi untuk melancarkan sejumlah program. Nantinya setelah dilantik, kami langsung melakukan kerja-kerja," tegasnya.

Pria yang juga dosen di Fakultas Ushuluddin IAIN Ambon ini pun bersama rais syuriyah terpilih akan bekerja sama untuk mensukseskan program-progam lima tahun ke depan.

"Saya mohon doa, semoga bisa sama-sama bekerja. Karena biasanya ada kerja sama, tapi tidak sama-sama bekerja," ucapnya diikuti tawa. 

Terkait visi dan misi, H Karnusa Serang mengemukakan bertekad menjadi jamiyah untuk tegaknya ajaran Islam yang menganut Aswaja an-Nahdliyah untuk mewujudkan kemaslahatan masyarakat. “Juga kemajuan bangsa, kesejahteraan, keadilan dan kemandirian serta terciptanya rahmat bagi semesta alam dalam wadah NKRI,” ungkapnya. 

Sedangkan misi yang diemban di bidang agama adalah mengupayakan terlaksananya ajaran Islam yang menganut paham Ahlussunah wal Jamaah.

“Untuk bidang pendidikan adalah pengajaran dan kebudayaan mengupayakan terwujudnya penyelenggaarn pendidikan dan pengajaran serta pengembangan kebudayaan sesuai dengan ajaran Islam,” katanya.

Terkait bidang sosial, dirinya akan mendorong pemberdayaan di bidang kesehatan. “Termasuk kemaslahatan dan ketahanan keluarga, serta pendampingan masyarakat yang terpinggirkan atau mustadl'afin,” jelasnya.

Yang juga tidak kalah penting yakni bidang ekonomi. “Kami mengupayakan dan mendorong kebijakan pemerintah daerah dalam peningkatan pendapatan masyarakat dan lapangan kerja atau usaha untuk kemakmuran jamiyah dan umat secara merata,” tandasnya. (Husni Sahal/Ibnu Nawawi)
Sabtu 1 September 2018 21:0 WIB
Biarkan Islam Nusantara Terbuka
Biarkan Islam Nusantara Terbuka
Tangerang Selatan, NU Online
Sampai saat ini, Islam Nusantara seolah tidak berhenti menjadi bahan kajian. Ia terus dipelajari dari berbagai perspektifnya, meskipun tidak ada pula yang terus berkampanye menolaknya.

Cendekiawan Nahdlatul Ulama, Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) mengungkapkan bahwa istilah tersebut memang sengaja dibiarkan menggelinding tanpa definisi ketika pertama kali dicetuskan sebagai tema pada Muktamar ke-33 NU di Jombang, tahun 2015.

"Islam Nusantara ini jangan mendefinisikan dulu, biarkan ini terbuka," kata Gus Ulil mengutip pernyataan Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf saat mengisi kajian rutin di Islam Nusantara Center (INC) Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (1/9).

Gus Yahya, sapaan akrab Katib Aam juga, ceritanya, mencegah KH Ahmad Mustofa Bisri untuk membuat definisi itu ketika dimintai pendapatnya.

"Karena Islam Nusantara (jika) didefinisikan, buru-buru, tidak ada proses secara perdebatan, diskusi," katanya.

Hal tersebut, menurutnya, akan dijadikan alat klaim. Itu juga dapat dijadikan alat untuk menegasikan orang lain.

Dalam istilah usul fiqh, batasan disebut had. Hal ini, katanya, harus jami' dan mani', yakni menyeluruh dan mencegah. Mengingat semangat bangsa Indonesia ini adalah inklusifitas, maka Gus Yahya, katanya, seakan enggan mengeksklusi sekelompok orang.
Benar saja, gagasan ini membuat Islam Nusantara menjadi diskusi yang kreatif. Hal ini melahirkan cukup banyak karya.

"Sampai saat ini sudah lahir banyak sekali (karya)," pungkasnya. (Syakir NF/Ibnu Nawawi)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG