IMG-LOGO
Daerah

Uniknya Pemilihan Pengurus di SMA 3 Bilingual Pesantren Rejoso

Senin 3 September 2018 17:30 WIB
Bagikan:
Uniknya Pemilihan Pengurus di SMA 3 Bilingual Pesantren Rejoso
Suasana pemilihan Ketua OSIS di SMA 3 Darul Ulum.
Jombang, NU Online
Sekolah Menengah Atas (SMA) 3 Bilingual Pesantran Darul Ulum Rejoso, Peterongan, Jombang, Jawa Timur punya hal unik dalam pergantian pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Hal uniknya yaitu kepala sekolah, guru, staf sekolah dan peserta didik semuanya ikut nyoblos di Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Menurut guru SMA 3 Darul Ulum Mohamad Erlangga Bicky Hananta, pemilihan pengurus OSIS di sekolahnya dibuat layaknya pemilihan kepala daerah yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU).

"Ya, di sini hampir sama seperti pemilu pada umumnya, para guru dan staf juga ikut nyoblos. Biasanya di sekolah lain siswa-siswi saja, tapi di sini beda," jelasnya, Senin (4/8).

Pria yang akrab disapa Rangga ini menceritakan dalam pemilihan ketua OSIS  di SMA 3 Darul Ulum diikuti oleh tujuh calon. Mereka akan melalui tahap pendaftaran, debat kandidat, kampanye dan pemilihan langsung. Syarat menjadi ketua OSIS harus siswa-siswi kelas X dan XI.

Calon ketua OSIS yang pria dihiasi dengan blangkon, baju hitam, celana hitam dan batik yang melilit di pinggang. Untuk calon ketua OSIS perempuan, lebih sederhana dengan hanya menggunakan baju rapi dan jilbab. Semua kandidat berada di atas panggung yang disediakan panitia.

"Debatnya dibuat konsep seperti pemilihan gubenur, asyik dan menarik. Panitia pemilihannya atau yang bertindak jadi KPU adalah pengurus OSIS yang akan diganti. Sekalian latihan organisasi dan mengelola sebuah acara," tambahnya.

Menurut Rangga, pemilihan ketua OSIS juga dihiasi pentas seni dari para peserta didik seperti Flash Mob Asian Games 2018, tari kipas, drama dan musik. Hal ini digunakan untuk menarik minat para siswa-siswi dan antisipasi adanya golongan putih atau Golput.

Pembelajaran demokrasi harus dibiasakan sejak dini agar generasi bangsa tidak menjadi individu kaku dan takut berbeda. “Dengan memiliki sikap demokrasi seseorang akan berkompetensi secara sehat dan jujur,” ujarnya.

Menurutnya banyak ilmu yang dapati siswa-siswi dari kegiatan ini. Seperti belajar public speaking, membuat sebuah acara, mempengaruhi orang lain dan belajar manajemen organisasi. “Makanya setiap tahun kita buat acara ini," pungkas Rangga. (Syarif Abdurrahman/Ibnu Nawawi)

Bagikan:
Senin 3 September 2018 23:47 WIB
LAZISNU Jombang Dorong UPZIS Tertib Berorganisasi
LAZISNU Jombang Dorong UPZIS Tertib Berorganisasi
Jombang, NU Online
Pengurus Unit Pengumpul Zakat Infaq dan Sedekah (UPZIS) di tingkat Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) dan ranting di Jombang, Jawa Timur kini terbentuk cukup banyak, meski belum keseluruhan. 

Secara garis organisasi, sejumlah UPZIS tersebut adalah di bawah garis koordinasi Pengurus Cabang (PC) Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) setempat.

Agar keberadaan UPZIS dapat berjalan maksimal, PC LAZISNU mendorongnya agar tertib berorganisasi. Salah satu tugas yang harus dilakukan masing-masing UPZIS adalah melaporkan keuangan yang dikelola, sejumlah kegiatan serta kewajiban ianah syahriyah setiap bulannya.

Direktur PC LAZISNU Jombang Ahmad Zainudin memaparkan, secara teknis, kegiatan, serta putaran keuangan dan ianah setiap UPZIS tingkat ranting dilaporkan kepada Pengurus UPZIS tingkat MWCNU secara tertulis.

"Untuk laporan bulan Agustus kemarin, semua UPZIS ranting melaporkan keuangan dan kegiatan beserta kewajiban ianah syahriyah kepada UPZIS MWCNU terakhir tanggal 5 September ini," katanya, Senin (4/9).

Setalahnya, semua laporan tersebut kemudian direkapitulasi oleh UPZIS MWCNU, dan baru diteruskan kepada PC LAZISNU Jombang setelah rekapannya rampung sempurna.

"Nah selanjutnya UPZIS MWCNU melaporkan rekapitulasi laporan ranting kepada PC LAZISNU. Terakhir 10 September 2018 untuk laporan bulan sebelumnya," jelasnya.

Pria yang juga dosen di Universitas KH A Wahab Hasbullah (Unwaha) Tambakberas Jombang ini menegaskan, perihal laporan tersebut seolah perkara kecil namun tak mudah dilakukan, apalagi dilakukan secara istiqamah.

Kendati begitu, ia berharap semua Pengurus UPZIS baik di tingkat ranting maupun tingkat MWCNU (kecamatan) agar sudah mulai memperhatikan kewajibannya dalam menjalankan organisasi sebagaimana ia urai di atas. (Syamsul Arifin/Abdullah Alawi)
Senin 3 September 2018 22:30 WIB
Terkait Isu Kekinian, NU Tanggamus Imbau Warga Tabayyun
Terkait Isu Kekinian, NU Tanggamus Imbau Warga Tabayyun
Tanggamus, NU Online
Keluarga besar Nahdlatul Ulama hendaknya tidak terprovokasi terkait kondisi perpolitikan saat ini. Yang mendesak dilakukan adalah klarifikasi atau tabayyun bila menghadapi banyak persoalan.

Hal tersebut diingatkan KH Amiruddin Harun saat koordinasi persiapan hari santri nasional 2018, Senin (3/9).

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Tanggamus, Lampung ini juga mengimbau secara khusus kepada pengurus Majelis Wakil Cabang NU sampai tataran ranting untuk bertabayun atas beragam isu yang menyerang NU. 

“Baik berupa pro maupun kontra Islam Nusantara, sampai persoalan majunya Kiai Ma'ruf Amin sebagai Cawapres Jokowi,” katanya.  

Dalam pandangannya, pengurus NU harus melakukan tabayyun. Dan melakukan aksi nyata dalam menghadapi beragam persoalan hari ini. “Jangan biarkan warga NU mencari informasi dari sumber yang tidak jelas,” kata Kiai Amir saat sambutan. 

Rais PCNU Tanggamus, KH Syamsul Hadi juga berpesan agar warga berhati-hati jangan sampai organisasi digerogoti ideologi yang tidak sepaham dengan NU.  "Muslimat dan Fatayat NU, jangan sampai pengajian rutinan disusupi oleh kelompok-kelompok lain,” katanya. 

Kiai Syamsul Hadi mengingatkan agar dalam memilih dai juga selektif. “Masak pengajian Muslimat NU, penceramahnya tidak sepaham dengan kita," tegasnya. 

Dalam rapat koordinasi juga dibahas mengenai persiapan perayaan hari santri nasional 2018. Serta perlunya membentuk media dakwah sebagai jawaban atas tantangan zaman kekinian, memasuki era digital dan menghadapi generasi milenial. 

Pada kesempatan tersebut dibahas sejumlah media virtual yakni media sosial, maupun literal atau cetak berupa bulletin dan majalah  sebagai sarana dakwah dan benteng ajaran Ahlus sunnah wal Jamaah di Tanggamus. (Abdur Rouf Hanif/Ibnu Nawawi
 

Senin 3 September 2018 22:0 WIB
Kapolsek Juga Ingatkan Peserta Lakmud Bahaya Radikalisme
Kapolsek Juga Ingatkan Peserta Lakmud Bahaya Radikalisme
Cilacap, NU Online
Sebagai organisasi yang barafiliasi pada organisasi induk, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) haruslah melahirkan kader yang nantinya melanjutkan khidmat di NU. 

Hal tersebut yang ingin diraih Pimpinan Anak Cabang IPNU IPPNU Kecamatan Keseugihan, Cilacap, Jawa Tengah. Mereka menyelenggarakan kaderisasi formal yaitu Latihan Kader Muda atau Lakmud sejak Jumat hingga Ahad (31/8-2/9).

Kegiatan ini diikuti utusan dari setiap kepengurusan ranting maupun anak cabang dari luar Kesugihan dan dipusatkan di MI 01 Yabaki.

“Pengkaderan sangatlah vital bagi organisasi, karenanya diharapkan Lakmud nantinya menghasilkan kader yang militan dalam menggerakan roda organisasi,” kata Muhammad Musyafa, Ahad (2/9). 

Ketua PAC IPNU Kesugihan ini mengemukakan Lakmud bertujuan menghasilkan kader yang lebih berkualitas, sesuai dengan tema kegiatan yakni merajut militansi dalam progresivitas kaderisasi. 

“Para peserta nantinya diharapkan menjadi kader yang berjiwa militan dan kader yang siap menggerakan organisasi, tidak lagi digerakan atau hanya sebagai pengikut,” ungkap Gus Mumu, sapaan akrabnya.

Saat pembukaan acara, peserta juganmengikuti kuliah umum tentang mencegah masuknya paham radikal. Salah seorang narasumber adalah AKBP Asep Kusnadi, selaku Kepala Polsek Kecamatan Kesugihan. 

Dia mengatakan bahwa sudah banyak para pemuda khususnya pelajar yang terpengaruh paham radikalisme. “Mereka para pemuda berkeyakinan bahwa Pancasila sudah tidak relevan lagi diterapkan di Indonesia,” ungkapnya.

Dirinya mengingatkan Pancasila bukanlah agama. “Jadi sangatlah salah mereka yang mengatakan Pancasila tidak islami, karena bisa masuk di setiap agama, termasuk Islam, bahkan Pancasila adalah paham kenegaraan yang sangat islamis,” kata polisi kelahiran Kota Kuningan itu.

Dalam data pengurus, Kesugihan terakhir kali mengadakan acara Lakmud tahun 1994. Dua puluh tahun lebih, kawasan ini vakum dalam hal pendidikan kaderisasi.

“Walaupun acara ini adalah yang pertama setelah sekian lama, diharapkan para alumni pelatihan bisa melanjutkan hal serupa di kemudian hari,” kata Gus Mumu. Sehingga regenerasi organisasi tidak akan mati seperti dahulu, lanjutnya.

Kegiatan juga dihadiri pengurus dan intstruktur dari Pimpinan Wilayah IPNU IPPNU Jawa Tengah. Pada kesempatan tersebut diucapkan janji suci Panca Satya, atau lima janji yang harus dilaksanakan setelah Lakmud. (Dyaz/Ibnu Nawawi)
 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG