IMG-LOGO
Trending Now:
Nasional

Bersatu untuk Kuatkan Kembali Rupiah, Ini yang Harus Dilakukan


Rabu 5 September 2018 15:00 WIB
Bagikan:
Bersatu untuk Kuatkan Kembali Rupiah, Ini yang Harus Dilakukan
Ilustrasi (fin.co.id)
Jakarta, NU Online
Beberapa hari terakhir, nilai mata uang rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Puncaknya hari, Rabu (5/9) ketika nilai tukar rupiah berada di level terendah yaitu Rp15.029/dollar AS sejak krisis ekonomi tahun 1998.

Menurut Pakar Hubungan Internasional yang juga Wakil Sekjen Pimpinan Pusat GP Ansor Mahmud Syaltout mengatakan, melemahnya rupiah ini perlu ditanggapi secara cepat namun tidak perlu reaktif, apalagi menggunakan momen tersebut untuk kepentingan politik praktis.

“Terhadap dolar Amerika, kita memang babak belur,” kata Syaltout saat dikonfirmasi NU Online, Rabu (5/9).

Namun, katanya, pelemahan tersebut terjadi juga terhadap Yuan Tiongkok, Yen Jepang, Won Korea, dan semua mata uang negara-negara anggota ASEAN, kecuali dibandingkan dengan Kyat mata uang Myanmar - negara anggota ASEAN dengan perolehan medali paling buncit di Asian Games 2018.

“Kini saatnya kembali kerja, kerja, kerja. Kita harus mengupayakan bersama-sama agar ekonomi kita, khususnya mata uang kita jadi kuat, karena kita bersatu!” tegas doktor lulusan Universitas Sorbonne Paris, Perancis ini.

Menurutnya, apa dengan misuhi (memarahi) Paklik Jokowi, Bu Sri Mulyani dan tim ekonominya, mata uang Rupiah jadi menguat? “No!” jelasnya.

Begitu pula apa dengan ngedumeli atau bully Pak Prabowo, Bang Sandi dan lain-lainnya yang punya banyak tabungan dollar namun tetap konsisten ajukan kritik atau setidaknya warning terhadap pemerintahan Paklik Jokowi-Pak JK, mata uang Rupiah jadi menguat? “No!” ucapnya.

“Ayolah gaes. Lupakan sejenak perbedaan, rasakan kembali pelukan hangat kebangsaan Hanifan (atlet pencak silat peraih medali emas Asian games 2018), Paklik Jokowi dan Pak Prabowo yang menyatukan dan menguatkan kita sebagai bangsa! Dan, sekali lagi, kita bersatu, karena kuat! Ayo Indonesia!” tandas Syaltout.

Apa yang harus dilakukan?

Melemahnya rupiah terhadap dollar lebih banyak dipengaruhi karena kondisi ekononi global, selain inflasi yang tidak terkendali di dalam negeri. Namun, dikutip NU Online dari IDN Times dalam kondisi rupiah melemah, masyarakat bisa melakukan hal-hal sebagai berikut:

1. Mengerem belanja barang impor

Kalau kamu selama ini termasuk konsumtif terhadap barang-barang impor, terutama secara online, nampaknya hal ini perlu di-rem sementara waktu. Berhubung nilai tukar mata uang kita kian turun, otomatis barang yang dibanderol dengan harga dolar akan makin mahal jika dikonversi ke rupiah.

2. Memacu kegiatan ekspor

Kalau flow impor menjadi lebih sulit, kondisi ini bisa digunakan untuk menaikkan nilai jual ke luar negeri atau ekspor.  Naiknya kurs dolar terhadap hampir seluruh mata uang lainnya di dunia menyebabkan peluang industri Indonesia dilirik pasar asing jadi lebih besar.

"Keadaan ini bisa menguntungkan kalau depresiasi rupiah bisa direspons secara cepat oleh sektor industri kita, karena ekspor yang meningkat. Mestinya harga komoditas bisa dianggap lebih murah di mata konsumen luar negeri," ujar Agus Eko, Ekonom dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kepada IDN Times.

Untuk bidang usaha kecil dan menengah, bisa juga memanfaatkan momentum ini untuk mendorong kegiatan ekspor. Nilai tukar dolar terhadap rupiah yang meroket akan meningkatkan daya jual.

3. Untuk pelaku UMKM: dibanding menaikkan harga, lebih baik menekan biaya produksi

Salah satu dampak yang mungkin timbul dari kejadian ini adalah naiknya harga pasaran dan kebutuhan hingga ke tingkat UMKM. Terutama mereka yang memanfaatkan bahan baku impor, baik pengimpor langsung atau tangan kedua.

Untuk menutup tingginya biaya produksi, mengatrol harga jual seringkali dipilih jadi solusi. Padahal kenaikan harga yang tak terkendali bisa berbuntut tingginya inflasi, sehingga keadaan ekonomi di Indonesia makin tak stabil.

"Banyak UMKM kita yang mengandalkan bahan baku dari sejumlah komunitas impor, misalkan bahan tekstil atau metal. Hal ini mempengaruhi biaya produksi yang juga naik," tutur Agus Eko. Apalagi kalau mereka hanya bermain di pasar domestik dan tidak bisa mendapatkan nilai exchange rate dengan ekspor.

4. Melakukan transaksi di dalam negeri secara normal

Sebagai konsumen, kita tetap bisa berkontribusi dalam stabilitas ekonomi. Agus mengatakan, pola transaksi dan konsumsi di masyarakat turut mempengaruhi inflasi.

Meskipun dalam kasus terburuk harga kebutuhan pokok akan naik karena pelemahan kurs, selama daya beli masyarakat stabil dan baik, harusnya tak sampai menjadi masalah. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar seharusnya tak sampai menimbulkan ketakutan atau kepanikan sosial di masyarakat.

"Di sini pemerintah harus bisa memastikan kepada masyarakat secara keseluruhan bahwa ini sifatnya temporer," ujar Agus. Tak perlu adanya penundaan konsumsi akibat hal ini. Transaksi harus berjalan normal dan semuanya diawali dari pemerintah.

Ia menambahkan ketahanan ekonomi di Indonesia yang relatif baik bisa dilihat dari daya beli masyarakatnya.  Apalagi setiap jelang bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, di mana pola konsumsi orang cenderung irasional untuk memenuhi kebutuhan sandang dan pangan.

5. Berinvestasi ke sejumlah bidang ini

Meski mata uang sedang merosot, bukan berarti investasi bakal seluruhnya mampet. Menurut Agus, ada sejumlah bidang yang tetap menguntungkan dan tak begitu terdampak meski nilai sedang fluktuatif.

Kamu masih bisa menyisihkan pundi rupiah demi masa depan dengan berinvestasi ke sana. Yakni bisnis dengan aset tetap seperti properti, emas, pembelian surat utang negara (saham), sektor pariwisata, dan lain-lain.

Di tengah kondisi seperti ini, juga ada sejumlah rekomendasi agar tak ikut terpuruk saat kurs rupiah memburuk. Ahli Ekonomi seperti dilansir Tempo, menyarankan perusahaan swasta yang mempunyai utang di luar negeri segera melakukan hedging atau lindung nilai.

Sebab, masih banyak perusahaan swasta yang berutang, tapi penerimaan yang didapat masih dalam rupiah. Artinya, perusahaan yang berutang dalam bentuk dolar, juga harus bayar pakai dolar. Jika tidak hedging, rupiah bisa semakin melemah.

Salah satu yang juga bisa dilakukan pemerintah untuk memperbaiki kurs rupiah adalah menggenjot investasi jangka panjang. Kinerja ekspor juga harus didongkrak dengan pemberian insentif. (Fathoni)
Bagikan:
IMG
IMG