IMG-LOGO
Nasional

Innalillahi, Perintis Rubrik Bahtsul Masail NU Online Wafat

Kamis 6 September 2018 12:14 WIB
Bagikan:
Innalillahi, Perintis Rubrik Bahtsul Masail NU Online Wafat
Demak, NU Online
Salah satu perintis rubrik Bahtsul Masail di NU Online, Ustadz Maftukhan meninggal dunia, Kamis (6/9) pada usia 36 tahun.  Alumnus PTIQ Jakarta ini mengembuskan nafas terakhirnya sekitar pukul 02.00 WIB setelah dirawat di RS Kariadi Semarang.

“انا لله وانا اليه راجعون 
Telah berpulang ke Rahmatullah, adek kami Alfaqiir ilaa rohmati robbihi ustadz Maftukhan SQ SThi, semoga husnul khotimah...jika ada kehilafannya selama bermuamalah mohon untuk dimaafkan dan jika ada tanggunhan hutang bisa berhubungan dg saya atau keluarga,” demikian informasi meninggalnya Ustadz Maftukhan yang diterima NU Online, Kamis (6/9).

Kabar duka tersebut pertama kali diterima NU Online dari pihak keluarga, H Mustofa Kholil. Saat diklarifikasi, Mustofa membenarkan kabar tersebut.

“Pemakaman kang Maftuhan Bin Sholihin, hari ini sekitar jam 09.30,” sambungnya.

Selain aktif menulis di rubrik Bahtsul Masail, ia juga pernah menjadi pengajar di SDIT Wahid Hasyim Ciganjur. Mengisi kajian tafsir di Masjid Jami’ Al Ma’mur, Cikini dan pengajar di Pesantren Ciganjur.

Rubrik Bahtsul Masail di NU Online pertama kali terbit pertengahan bulan Maret 2014. Rubrik ini melengkapi beberapa rubrik keislaman yang sudah ada seperti Ubudiyah, Syari’ah, Khotbah, Hikmah, dan Taushiyah. Selain almarhum Ustadz Maftukhan, beberapa santri senior antara lain, Ustadz Mahbub Ma’afi, Ustadz Sarmidi Husna, Ustadz Ulil Hadrawi dan Ustadz Alhafiz Kurniawan turut menggawangi rubrik ini. (Zunus) 

Bagikan:
Kamis 6 September 2018 23:30 WIB
Peraih Medali ASC Mendapat Apresiasi dari Kemnaker
Peraih Medali ASC Mendapat Apresiasi dari Kemnaker
Menaker Hanif Dhakiri (tengah)
Jakarta, NU Online
Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mengapresiasi Delegasi Indonesia yang berhasil meraih juara kedua pada ajang ASEAN Skills Competition (ASC) Ke-12 di Thailand dengan raihan 13 emas, 6 perak, 8 perunggu, dan 7 medali diploma.
 
Apresiasi tersebut diberikan dalam bentuk pemberian uang tabungan masing-masing senilai Rp25 juta kepada peraih medali emas, Rp 20 juta (perak), Rp15 juta (perunggu), Rp12,5 juta (diploma).
 
Selain itu, para peraih medali juga mendapat apresiasi dari Bank BNI. Untuk peraih medali emas mendapatkan Rp2 juta, perak Rp1,5 juta, perunggu Rp1 juta, dan Diploma Rp500 Ribu.
 
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M Hanif Dhakiri menilai keberhasilan meraih juara kedua di ASC sebagai bukti kalau pekerja Indonesia kompeten dan mampu bersaing dengan pekerja dari negara lain.
 
"Selamat kepada kompetitor yang sudah membanggakan Indonesia. Membuat merah putih berkibar. Ini juga sekaligus bukti kalau Indonesia bisa, Indonesia kompeten, dan Indonesia bisa bersaing," kata Menaker Hanif di Jakarta, Kamis (6/9).
 
Dikutip dari kemnaker.go.id, Hanif menambahkan, meskipun menjadi juara kedua di bawah tuan rumah Thailand (16 emas, 4 perak, 3 perunggu dan 13 diploma), rata-rata nilai Indonesia lebih tinggi dibanding Negara Gajah Putih tersebut. 
 
Nilai rata-rata Indonesia 717,66 dari 22 kejuruan yang diikuti 44 kompetitor, sedangkan Thailand memperoleh nilai 707,81 dari 26 kejuruan yang diikuti 52 kompetitornya.
 
"ASC kali ini tidak ada juara umum karena peraih medali emas terbanyak Thailand nilainya lebih rendah dari Indonesia. Ini mengindikasikan kualitas skill dari angkatan kerja muda kita sedikit lebih baik di atas Thailand," tutur Menaker Hanif.
 
Lebih lanjut, Menaker Hanif mengatakan, 44 kompetitor yang telah berprestasi di ASC akan dipekerjakan menjadi instruktur di Balai Latihan Kerja (BLK) milik Kemnaker. 
 
Bahkan Menaker Hanif mengaku akan bicara dengan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi dalam rangka menjajaki kemungkinan menjadikan mereka sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) seperti atlet berprestasi di ASIAN Games 2018.
 
"Para kompetitor ini akan kita pekerjakan sebagai instruktur di BLK. Saya juga akan mengupayakan kemungkinan menjadikan mereka sebagai PNS," ungkap Menaker Hanif. (Red: Muiz)
Kamis 6 September 2018 18:30 WIB
Kiai Said: Gerakan #2019GantiPresiden Berpotensi Makar, Jika...
Kiai Said: Gerakan #2019GantiPresiden Berpotensi Makar, Jika...
Jakarta, NU Online 
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengatakan bahwa gerakan tanda pagar '#2019GantiPresiden' dapat dikategorikan sebagai gerakan makar apabila tidak mengikuti koridor konstitusi yang berlaku. 

Koridor Kostitusi yang dimaksud Kiai Said adalah kepatuhan gerakan ini pada sistem demokrasi melalui pemilihan umum sesuai waktu yang ditetapkan pemerintah melalui mekanisme Pemilihan Presiden yang akan digelar pada April 2019 mendatang. 

"Kalau (gerakannya) hanya tagar saja, it's oke. Tapi kalau berupa pengerahan massa, dan ganti presidennya bulan Januari, Februari atau Maret (di luar jadwal Pilpres), ya berarti berbau makar dong," kata Kiai Said kepada NU Online di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (6/9).

Ditanya mengenai perlunya membatasi gerakan ini, Kiai Said mengembalikan persoalan ini kepada pemerintah dan aparat yang berwenang. "Soal izin atau larangan tergantung polisi ya. Alasan apa pun, siapa pun kalau gerakannya itu mengagganggu ketenangan, menimbulkan kegaduhan sebaiknya dilarang," jelasnya.

Seperti diketahui, tanda pagar #2019GantiPresiden tengah menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Sejumlah deklarasi gerakan ini di beberapa daerah menimbulkan kontroversi.

Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Makyun Subuki berpendapat, gerakan ini berpotensi besar melahirkan konflik di tengah masyarakat. Sebab gerakan ini memanfaatkan sentimen massa untuk melakukan aksi bersama dengan sejumlah petingginya sambil melakukan orasi hingga deklarasi. “Karena pengaruh medsos begitu kuat, potensi kerusuhan tinggi,” ungkapnya.

Oleh karenanya, ia mengimbau agar Bawaslu melarang tagar tersebut guna menghindarkan dampak sosial yang terjadi. “KPU sama Bawaslu harusnya pakek kaidah fiqih "dar’ul mafasidi muqaddamun ‘ala jalbil mashalih (menghindari kerusakan lebih didahulukan ketimbang melahirkan kemaslahatan),” tegas alumnus Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyah, Kedoya, Jakarta Barat tersebut. (Husni Sahal/Syakir/Ahmad Rozali)
Kamis 6 September 2018 17:1 WIB
Kiai Ma'ruf Amin Bimbing Seorang Pria Masuk Islam
Kiai Ma'ruf Amin Bimbing Seorang Pria Masuk Islam
Jakarta, NU Online
Rais 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Ma'ruf Amin membimbing seorang seorang pria memeluk agama Islam dengan membaca dua kalimat syahadat. Kejadian itu berlangsung di Universitas Islam Nusantara Bandung, seusai Kiai Ma'ruf dikukuhkan sebagai guru besar bidang Ekonomi Syariah.

Pembacaaan syahadat pria bernama Eduardo Gomez ini berawal saat Eduardo menghampiri KH Ma'ruf Amin dan mengutarakan niatnya untuk memeluk agama Islam. Lepas itu, Kiai Ma'ruf membimbing pria yang mengenakan batik ini dengan menyuruhnya mengikuti setiap kalimat yang diucapkannya. 

Sambil bersalaman, Eduardo Gomez mengikuti setiap kata dari dua kalimat syahadat secara hari-hati. "Asyhadu an laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasuulullah. Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah," ucap Ma'ruf yang diikuti Eduardo, Kamis (6/9).

Pembacaan dua kalimat syahadat ini ditutup dengan suka cita oleh orang yang hadir memenuhi ruangan sambil mengucapkan kalimat hamdalah sambil bertepuk tangan. Setelah diberi nama Islam menjadi 'Muhammad Eduardo Gomez', Kiai Ma'ruf memimpin doa yang diamini oleh semua orang yang hadir. 

Ma'ruf Amin Kiai dikukuhkan sebagai profesor bidang Ilmu Ekonomi Muamalat Syariah oleh Universitas Islam Negeri Malang. pada meui, 2017. (Ahmad Rozali)
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG