IMG-LOGO
Humor

Ganti Presiden, Presidennya Siapa?

Kamis 6 September 2018 12:33 WIB
Bagikan:
Ganti Presiden, Presidennya Siapa?
Ilustrasi humor (ist)
Dalam kehidupan bernegara yang menjunjung tinggi demokrasi, sudah lazim sebuah kelompok melontarkan kritik terhadap pemerintahan.

Namun belakangan, kritik tersebut mengarah pada ketidaksukaan sehingga demokrasi menjelma menjadi apatisme terhadap pemerintah, bahkan cenderung tidak mengakui kepemimpinan seorang Presiden.

Terkait hal itu, alkisah ada seorang kakek yang sedang asik ngobrol dengan cucunya yang baru menginjak semester dua di perguruan tinggi. Lewat berita dan informasi yang tersebar di media sosial, si cucu dengan pede mengungkapkan kebenciannya terhadap Presiden.

“Jadi kamu tidak mengakui Presiden yang sekarang ini sedang menjabat?” tanya si kakek dengan polosnya sambil nyruput teh tubruk kental di hadapannya.

“Iya kek, tidak,” jawab si cucu sembari panjang lebar dan berbusa-busa melontarkan alasan-alasannya berdasarkan informasi di media sosial dan grup WA yang dia ikuti.

“Lalu, apa yang kamu inginkan?” tanya si kakek lagi yang kali ini asik dengan lintingan tembakau dan daun jagung kering (kolobot).

“Pokoknya Presiden harus ganti, kek!” ucap si cucu setengah teriak.

Loh, bukannya kamu tidak punya Presiden? Ini seperti kamu nggak punya baju, tapi pengen ganti baju,” seloroh sang kakek merujuk pada pernyataan cucunya yang tidak mengakui Presiden. (Ahmad)
Tags:
Bagikan:
Jumat 31 Agustus 2018 12:0 WIB
Ketika Guru Bertanya dan Murid Menjawab
Ketika Guru Bertanya dan Murid Menjawab
Ilustrasi humor
Pagi itu Pak Sodikin bergegas masuk kelas untuk mengisi materi Persilangan atau Hibrida dalam mata pelajaran Biologi seperti yang tertera di silabus. Para murid juga telah mengetahui pagi itu materinya tentang Hibrida.

Seperti biasa sebelum memulai pelajaran, Pak Sodikin mengawali dengan sebuah pertanyaan dasar. “Kalian tahu, apa yang dimaksud hibrida?” tanya Pak Sodikin kepada para muridnya.

“Tidak tahu, pak,” serempak para murid menjawab. “Kalau gitu saya tidak jadi mengajar karena kalian tidak belajar,” ucap Pak Sodikin sedikit ngambek. 

Para murid diambang kebingungan. Mereka saling tengok ke kanan dan ke kiri. Dari kejadian itu, mereka sepakat untuk menjawab “iya” ketika Pak Sodikin melontarkan pertanyaan yang sama.

Karuan saja, Pak Sodikin bertanya tentang persoalan yang sama pada minggu selanjutnya. “Apa kalian sudah tahu yang dimaksud dengan hibrida?”

“Iya pak, tahuuu,” para murid serentak menjawab. “Kalau begitu, buat apa saya mengajar, kan kalian sudah tahu,” seloroh Pak Sodikin bikin para murid tambah bingung.

Setelah itu mereka meneken kesepakatan lagi sebagian menjawab “iya” dan sebagian lagi menjawab “tidak”. Betul saja Pak Sodikin masih konsisten dengan pertanyaannya itu. “Kalian sudah tahu apa yang disebut hibrida?”

Bagai paduan suara, sebagian murid di sebelah kanan menjawab “iya” dan sebagian lagi yang berada di sebelah kiri menjawab “tidak”.

Lalu Pak Sodikin berkata, “Kalau gitu, yang tahu tolong ajari yang tidak tahu.” (Fathoni)
Senin 27 Agustus 2018 19:0 WIB
Kisah Suami Istri yang Pandai Bersyukur dan Sabar
Kisah Suami Istri yang Pandai Bersyukur dan Sabar
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Itqon, Gugen, Semarang KH Haris Shodaqoh berpesan agar senantiasa merawat sifat sabar dan syukur seperti para ulama terdahulu.  

"Pahala dari sabar dan syukur itu tidak terukur," kata Kiai Haris.

Kiai Haris menceritakan sebuah kisah tentang percakapan pasangan suami istri. Sang suami memiliki wajah buruk rupa sedangkan istri mempunyai paras yang menawan.

Suami   : "Dek, kalau urusan masuk surga jelas aku lebih unggul darimu."

Istri       : "Kenapa bisa begitu ?"

Suami   : "Karena aku orang yang selalu bersyukur memiliki istri secantik dirimu, Dek."

Istri        : "Ah kamu salah, Mas. Kalau urusan surga aku lebih dulu, Mas," sanggah sang istri.

Suami    : "Lha kok bisa?" tanya si suami dengan penasaran.

Istri         : "Karena aku orang tersabar di dunia, Mas, punya suami yang wajahnya enggak karu-karuan." (Khozin Muhammad)


Cerita tersebut disampaikan KH Haris Shodaqoh saat berceramah pada Haul KH Abdurrahman bin Qosidil Haq dan keluarga pada di halaman Pondok Pesantren Futuhiyyah, Mranggen, Demak sabtu (25/8). 

Ahad 26 Agustus 2018 9:0 WIB
Calon Tunggal dan Pemilih Tunggal
Calon Tunggal dan Pemilih Tunggal
Ilustrasi humor (ist)
Setiap perhelatan pesta demokrasi tiba, partai politik sibuk menjajaki pencalonan. Ada seorang kader yang ngotot ingin menjadi calon tunggal partainya.

Untuk misi tersebut, dia mengumpulkan pendukung utamanya. Dalam pertemuan tersebut, ia pun berpidato dengan berapi-api agar menyukseskan calon tunggal tersebut.

“Saudara-saudara perlu tahu, saya calon tunggal partai ini. Tidak ada yang lain. Calon tunggal harus direalisasikan agar langsung fokus,” teriaknya dalam pidato.

Mendengar pernyataan tersebut, salah satu pendukungnya mengangkat tangan untuk menyampaikan pandangannya.

“Silakan, apa yang ingin saudara sampaikan,” ucap si calon tunggal.

Sambil berteriak pede dan bersemangat, pendukung itu berkata, “Siap pak! Saya juga akan menjadi pemilih tunggal bapak di pemilihan nanti!” (Ahmad)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG