Home Nasional Keislaman English Version Baru Fragmen Internasional Risalah Redaksi Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Unik, Pemilihan Ketua Pondok di Pesantren Al-Aqobah Jombang

Unik, Pemilihan Ketua Pondok di Pesantren Al-Aqobah Jombang
Pemilu memilih ketua pondok di Pesantren Al-Aqobah Jombang
Pemilu memilih ketua pondok di Pesantren Al-Aqobah Jombang
Jombang, NU Online
Biasanya ketua pesantren menjadi hak otoritas pengasuh. Namun hal ini tidak berlaku di Pesantren Al-Aqobah Desa Kwaron, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang di mana ketua pondok dipilih langsung oleh para santri.

Layaknya pemilihan umum, pemilihan ketua pondok di Pesentren Al-Aqobah juga memakai sistem demokrasi. Hal ini tampak dari dibentuknya Komisi Pemilihan Umum (KPU), surat suara, kotak suara, bilik pencoblosan, masa pencalonan dan massa kampanye. Bahkan di pesantren ini setiap calon boleh membentuk juru kampanye juga.

Menurut Pengasuh Al-Aqobah KH Ahmad Kanzul Fikri, setiap calon diberi masa kampanye selama seminggu. Kesempatan kampanye diberikan setelah shalat Isya di auditorium pesantren. Calon ketua pondok harus siswa-siswi kelas XI, sedangkan KPU menjadi tugas dari kelas XII.

"Pemilihan umum kali ini memilih ketua pondok putera dan puteri. Karena di sini pengurus putera dipisah dengan puteri. Saat ini ada dua pondok yang melakukan pemilihan serentak, yaitu Pesantren Al-Aqobah 1 dan Pesantren Al-Aqobah 4," jelasnya, Sabtu (8/9) malam.

Pemilihan ketua pondok ini ada di dua lokasi, lokasi pertama di halaman Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) Al-Aqobah dan lokasi kedua di halaman Pesantren Al-Aqobah 4.

Berdasarkan pantauan NU Online di lokasi pemilihan ada 12 calon ketua pondok yang bertarung. Dari Al-Aqobah 1 Putera calonnya bernama Aghtof Annabil, Haikal Ahmad, Bayu Adi. Dan dari Al-Aqobah 1 Puteri calon ketuanya bernama Sahara Mazaya, Rizkiyani Safitri, Silvi Syarifatun.

Sedangkan dari Al-Aqobah 4 nama-nama calon ketua dari putera yaitu M Dizkri fitra Ananta, M. Fahrurroziy, Ahmad Hakim Agung dan dari puteri yaitu Wanda, Julia serta Fathina.

Pria yang biasa disapa Gus Fikri ini menjelaskan, tujuan pemilihan ketua pondok secara demokrasi ini untuk melatih para santri sikap terbuka. Selain itu, proses pemilihan dengan sistem ini juga mengajari santri publik speaking dan manegemen membuat sebuah kegiatan.

"Ini acara yang buat santri dan untuk santri dan pengasuh serta pembina hanya mengawasi dari belakang. Mengingatkan bila ada sesuatu yang melenceng," ujar Gus Fikri.

Menurut Gus Fikri, santri di zaman modern harus tanggap keadaan lingkungan sekitar, salah satunya dengan aktif dalam kegiatan masyarakat. Untuk membiasakan santri aktif di masyarakat maka harus dilatih di pesantren lewat jalur organisasi dan berbagai kegiatan.

"Berani tampil di masyarakat itu butuh pembiasaan dan tidak bisa tiba-tiba ngomong di depan umum. Pasti mereka grogi kalau tidak biasa. Karena karakter jujur dan berani tumbuh lewat pembiasaan, ini salah satunya," pungkasnya. (Syarif Abdurrahman/Muiz
Posisi Bawah | Youtube NU Online