IMG-LOGO
Humor

Akibat Memahami Al-Qur’an Secara Tekstual

Rabu 12 September 2018 19:0 WIB
Bagikan:
Akibat Memahami Al-Qur’an Secara Tekstual
Al-Qur’an itu ‘kompleks.’ Untuk memahaminya, dibutuhkan banyak perangkat. Ada tafsir, asbabun nuzul (sebab turunya), ushul fiqih, balaghah, dan lainnya. Tidak cukup memahami Al-Qur’an hanya berdasarkan terjemahan. Malah, memahami suatu ayat Al-Qur’an secara tesktual bisa-bisa membuat seseorang ‘keblinger’ dan jauh dari apa yang dimaksudkan ayat tersebut.

Dikisahkan, ada seorang Badui bernama Mujrim –dalam bahasa Arab, Mujrim bermakna pelaku kriminal atau pendosa. Suatu ketika, Mujrim sedang melaksanakan shalat Subuh di sebuah masjid. Ia berada di barisan paling depan, belakang imam tepat. Sejak imam takbiratul ihram hingga selesai membaca Al-Fatihah, Mujrim baik-baik saja. 

Keadaan tiba-tiba berubah manakala sang imam membaca Surat al-Mursalah, usai membaca Surat Al-Fatihah. Ketika sang imam sampai pada ayat ke-16: Alam nuhlikil awwalin (Bukankah telah Kami binasakan orang-orang terdahulu?). Mendengar ayat itu, Mujrim langsung mundur ke barisan paling belakang. Dalam pemahaman Mujrim, ‘orang-orang terdahulu’ dalam ayat tersebut adalah orang yang berada dalam barisan pertama shalat, dirinya.

Ketika sang imam membaca ayat ke-17; Tsumma nutbi’uhumul akhirin (Lalu Kami susulkan (azab Kami atas) orang-orang yang datang belakangan). Lagi-lagi, karena  memahami ayat tersebut secara tekstual, apa adanya, maka Mujrim berpindah lagi. Ia maju satu shaf, berdiri di barisan tengah. 

Tidak sampai di situ, ulah Mujrim ‘menjadi-jadi’ manakala imam sampai pada ayat ke-18 Surat al-Mursalat. Imam membaca Kadzalika naf’alu bil mujrimin (Demikianlah Kami perlakukan para pendosa (mujrim)). Mendengar ayat yang dibacakan imam itu, si Badui Mujrim langsung keluar dari barisan shalat dan berlari meninggalkan masjid seketika itu juga. Tidak lain, dengan memahami ayat Al-Qur’an secara tekstual, Mujrim mengira bahwa dirinyanya lah yang dicari-cari untuk dibinasakan atau dibunuh. (Ahmad)

Kisah di atas disarikan dari Tertawa Bersama Al-Qur’an, Menangis Bersama Al-Qur’an.
Bagikan:
Rabu 12 September 2018 7:30 WIB
Donor Hati Anggota DPR
Donor Hati Anggota DPR
Ilustrasi via Elshinta
Herman merupakan salah satu orang terpandang di kampungnya. Tetapi dia harus menghadapi penyakit dalam yang akut, kerusakan hati.

Setelah diperiksa oleh dokter di sebuah rumah sakit kelas satu, hati Herman harus ditransplantasi.

“Bapak harus melakukan transplantasi hati kalau ingin sembuh total,” terang sang dokter.

“Maksudnya hati saya harus diganti, dok?” tanya Herman.

“Benar pak, dan bapak harus mencari donornya,” dokter lagi.

“Saya minta tolong saja dok, carikan donor hati seorang anggota DPR,” pinta Herman.

“Kenapa harus anggota DPR, pak?” dokter keheranan.

“Karena hati mereka jarang dipakai, dok,” seloroh Herman. (Fathoni)
Kamis 6 September 2018 12:33 WIB
Ganti Presiden, Presidennya Siapa?
Ganti Presiden, Presidennya Siapa?
Ilustrasi humor (ist)
Dalam kehidupan bernegara yang menjunjung tinggi demokrasi, sudah lazim sebuah kelompok melontarkan kritik terhadap pemerintahan.

Namun belakangan, kritik tersebut mengarah pada ketidaksukaan sehingga demokrasi menjelma menjadi apatisme terhadap pemerintah, bahkan cenderung tidak mengakui kepemimpinan seorang Presiden.

Terkait hal itu, alkisah ada seorang kakek yang sedang asik ngobrol dengan cucunya yang baru menginjak semester dua di perguruan tinggi. Lewat berita dan informasi yang tersebar di media sosial, si cucu dengan pede mengungkapkan kebenciannya terhadap Presiden.

“Jadi kamu tidak mengakui Presiden yang sekarang ini sedang menjabat?” tanya si kakek dengan polosnya sambil nyruput teh tubruk kental di hadapannya.

“Iya kek, tidak,” jawab si cucu sembari panjang lebar dan berbusa-busa melontarkan alasan-alasannya berdasarkan informasi di media sosial dan grup WA yang dia ikuti.

“Lalu, apa yang kamu inginkan?” tanya si kakek lagi yang kali ini asik dengan lintingan tembakau dan daun jagung kering (kolobot).

“Pokoknya Presiden harus ganti, kek!” ucap si cucu setengah teriak.

Loh, bukannya kamu tidak punya Presiden? Ini seperti kamu nggak punya baju, tapi pengen ganti baju,” seloroh sang kakek merujuk pada pernyataan cucunya yang tidak mengakui Presiden. (Ahmad)
Jumat 31 Agustus 2018 12:0 WIB
Ketika Guru Bertanya dan Murid Menjawab
Ketika Guru Bertanya dan Murid Menjawab
Ilustrasi humor
Pagi itu Pak Sodikin bergegas masuk kelas untuk mengisi materi Persilangan atau Hibrida dalam mata pelajaran Biologi seperti yang tertera di silabus. Para murid juga telah mengetahui pagi itu materinya tentang Hibrida.

Seperti biasa sebelum memulai pelajaran, Pak Sodikin mengawali dengan sebuah pertanyaan dasar. “Kalian tahu, apa yang dimaksud hibrida?” tanya Pak Sodikin kepada para muridnya.

“Tidak tahu, pak,” serempak para murid menjawab. “Kalau gitu saya tidak jadi mengajar karena kalian tidak belajar,” ucap Pak Sodikin sedikit ngambek. 

Para murid diambang kebingungan. Mereka saling tengok ke kanan dan ke kiri. Dari kejadian itu, mereka sepakat untuk menjawab “iya” ketika Pak Sodikin melontarkan pertanyaan yang sama.

Karuan saja, Pak Sodikin bertanya tentang persoalan yang sama pada minggu selanjutnya. “Apa kalian sudah tahu yang dimaksud dengan hibrida?”

“Iya pak, tahuuu,” para murid serentak menjawab. “Kalau begitu, buat apa saya mengajar, kan kalian sudah tahu,” seloroh Pak Sodikin bikin para murid tambah bingung.

Setelah itu mereka meneken kesepakatan lagi sebagian menjawab “iya” dan sebagian lagi menjawab “tidak”. Betul saja Pak Sodikin masih konsisten dengan pertanyaannya itu. “Kalian sudah tahu apa yang disebut hibrida?”

Bagai paduan suara, sebagian murid di sebelah kanan menjawab “iya” dan sebagian lagi yang berada di sebelah kiri menjawab “tidak”.

Lalu Pak Sodikin berkata, “Kalau gitu, yang tahu tolong ajari yang tidak tahu.” (Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG