IMG-LOGO
Nasional

Sungguh Aneh Orang Mengaku Hijrah, Tapi Akhlaknya Tidak Mulia

Kamis 13 September 2018 5:0 WIB
Bagikan:
Sungguh Aneh Orang Mengaku Hijrah, Tapi Akhlaknya Tidak Mulia
Semarang, NU Online
Di tahun baru Hijriah, banyak orang memaknai sendiri-sendiri arti hijrah. Di lini masa media sosial, berseliweran status atau statemen tentang makna hijrah. Sayangnya, atau sedihnya, banyak di antara status atau statemen itu tidak sesuai yang semestinya. Bahkan ada yang keliru dan berpotensi menyesatkan. 

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah (PWNU Jateng) H Mohamad Muzamil termasuk orang yang suka memperhatikan literasi masyarakat di media sosial. Ketika ditemui NU Online di kantor PWNU Jateng kemarin ia mengajak semua pihak untuk memaknai hijrah sesuai tuntuntan para ulama. 

Dikatakannya, arti hijrah secara bahasa memang “pindah”; mengacu pada peristiwa pindahnya Nabi Muhammad dari Makkah ke Yatsrib yang kemudian diganti nama menjadi Madinah. 

“Peristiwa hijrahnya Rasulullah itu mari kita maknai yang tepat menurut konteks sekarang,” ujarnya. 

Muzamil menjelaskan, yang paling penting dari pemaknaan hijrah untuk umat sekarang adalah tekad meninggalkan akhlak yang buruk lalu menjadi pribadi yang mulia sebagaimana Kanjeng Nabi Muhammad. 

Yaitu hijrah dengan menjauhi segala larangan, bertaubat dan membersihkan diri sampai menjadi hamba yang dicintai Allah dan Rasulnya. 
“Hijrah kita haruslah menempa diri menjadi hamba yang takwa,” ujarnya. 

Disebutkan alumnus Fakultas Tarbiyah IAIN (sekarang UIN) Walisongo Semarang ini, orang yang hijrah dengan benar, maka dia akan secara otomatis menjadi dai. Menjadi orang yang mempromosikan Islam. Membuat agama Islam menjadi menarik sesuai misinya, yakni menebar kasih sayang, rahmat bagi semesta. Karena yang tampak pada setiap Muslim adalah pribadi yang mulia akhlaknya. 

“Jadi, sungguh aneh dan menyesatkan kalau mengaku hijrah tapi akhlaknya tidak mulia,” tandasnya. 

Ia sebutkan, upaya hijrah adalah dengan selalu bersandar kepada Allah. Selalu mengingat Allah dalam segala hal. Menempa jiwanya menjadi pribadi yang mantab imannya. Sehingga tidak terombang ambing oleh keadaan. Puncaknya adalah menjadi manusia yang berjiwa tenteram. Muthmainnah. Yang diridhoi Tuhannya, yang damai hidupnya hingga matinya. 

“Sungguh bahagia orang yang menyucikan jiwanya. Dan sungguh rugi orang yang mengotori hatinya,”ucapnya seraya menyirit dua ayat terakhir dari surat Al-Syams. 

Untuk bisa seperti itu, kata dia, tidak ada cara lain kecuali dengan dibimbing oleh guru. Oleh ulama. Dan yang dimaksud ulama adalah yang memiliki sanad tersambung sampai kepada Rasulullah.

“Rasulullah membaiat para sahabatnya sebelum berhijrah. Kita yang ingin hijrah juga perlu berbaiat kepada guru kita, yaitu ulama yang merupakan pewaris Nabi. Serta memiliki sanad yang tersambung kepada Rasulullah,” terangnya. 

Lebih lanjutkader NU yang pernah berkhidmah di PMII, GP Ansor dan PKB ini menyatakan, ulama tidak pernah mengajarkan merasa benar sendiri, apalagi menyalahkan orang lain. Maka orang yang hijrah menurut bimbingan ulama, dijamin benar alias tidak kesasar.

Sebaliknya jika ada orang mengaku telah hijrah tetapi suka menyalahkan dan merasa benar sendiri, bisa dipastikan dia tidak belajar kepada ulama. Dan dia pasti akan sesat dan menyesatkan. Oleh karena itu, kata dia, setiap muslim harus belajar kepada sumber yang benar, yaitu ulama. 

“Mari kita berhijrah menurut ajaran ulama. Dari situlah kita bisa meniru makna hijrahnya Kanjeng Nabi,” pungkasnya. (Ichwan/Abdullah Alawi)






Bagikan:
Kamis 13 September 2018 23:41 WIB
BEM Perguruan Tinggi NU se-Nusantara Bahas Energi Nasional
BEM Perguruan Tinggi NU se-Nusantara Bahas Energi Nasional
Jakarta, NU Online 
Presidium Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama se-Nusantara menggelar Sarasehan Energi Nasional 2018 di lantai delapan Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (13/9).

Sarasehan ini dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian acara Musyawarah Kerja Nasional PTNU se-Nusantara yang diselenggarakan di Lombok, Nusa Tenggara Barat November mendatang.

Sarasehan yang mengusung tema Peran Penting Industri Hulu Migas bagi Ketahanan Energi Nasional Ini dihadiri ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta, seperti dari Unusia Jakarta, STAI Az-ziyadah, dan Universitas Islam Jakarta. 

Juru Bicara Nasional PTNU se-Nusantara Muhammad Aqil Azizi mengatakan, mahasiswa dan kaum pelajar perlu mengetahui tentang energi migas, termasuk dalam hal distribusi di bidang hulu. 

"Kita pengen mahasiswa, kaum muda itu ikut andil, jadi bukan hanya sekadar datang, tau, tapi kita mendapat arahan, harus seperti apa," kata Aqil. 

Menurutnya, selama ini, para mahasiswa mendapat informasi tentang banyaknya cadangan migas Indonesia, tapi pemerintah tidak mampu mengelola dengan baik. Sebab itu, mahasiswa perlu mendapat klasifikasi langsung dari pihak terkait. 

"Nah, kita mengusung tema energi biar tau, termasuk mengklarifikasi terkait energi migas," ucapnya. 

Hadir sejumlah pembicara dari SKK Migas Didik Sasono Setiyadi, Presiden Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu Ari Gumilar, dan dari LPBH PBNU Abdul Ghafur. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)
Kamis 13 September 2018 22:30 WIB
Lembaga Dakwah PBNU: Shalawatan di Klub Malam Boleh, Asal…
Lembaga Dakwah PBNU: Shalawatan di Klub Malam Boleh, Asal…
Jakarta, NU Online 
Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ( LD PBNU) menilai dakwah dan lantunan shalawat di klub atau tempat hiburan malam itu baik jika berpotensi mendatangkan kebaikan.

"Kalau dakwah di situ (klub malam) tau baiknya, gak papa," kata Sekretaris LD PBNU Ustadz H Bukhori Muslim di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (13/9).

Ia tidak mempermasalahkan hal itu karena menurutnya, dakwah di tempat hiburan malam merupakan kondisi yang “sempit”, sehingga mengajak kebaikan pada pengunjung klub malam adalah baik.

"Kalau dalam ushul fiqh itu disebutkan idza dhaqal amru ittasa'a" (apabila sesuatu itu sempit, hukumnya menjadi luas), maksudnya, dalam kondisi sempit penuh maksiat, ngajak kebaikan itu baik. Kalau (bershalawat) untuk awal-awal, bagus sih," ucapnya

Namun, Bukhori mengingatkan agar aktivitas tersebut tidak sampai berlebihan yang berujung kepada penghinaan terhadap Nabi Muhammad, seperti melantunkan shalawat dengan cara berjoget atau dalam keadaan telanjang.

"Yang penting jangan dibuka selebar-lebarnya, mohon maaf, jangan sampai misalnya joget dengan shalawatan, telanjang," ucapnya.

Bukhori meminta pendakwah untuk istiqamah melakukan aktivitasnya agar bisa selalu memberikan bimbingan kepada sasaran dakwahnya.

"Melakukan kebaikan ini baik, tapi jangan dilepas, (orang yang menjadi sasaran dakwah) harus dibimbing. Jangan terus menganggap selesai. Mengajak kebaikan ini perlu ditindaklanjuti," katanya.

Selain itu, ia berharap kepada pendakwah agar setelah dakwahnya berlangsung lama, mengingatkan kepada sasaran dakwahnya tentang pentingnya adab, seperti memakai baju yang sopan.

"Wa idza-ttasa'al amru dhaqa" (Apabila sesuatu itu longgar atau luas, hukum menjadi sempit). Jadi kalau orang (aktivitas melantunkan shalawat) udah biasa, disempitkan, ada adabnya loh," ucapnya. 

Nama Gus Miftah atau KH Miftah Maulana Habiburrahman menjadi viral setelah video dakwah dan pembacaan shalawatnya di sebuah klub malam di Bali beredar di internet. 

Gus Miftah adalah pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji di Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Dia sudah delapan tahun menekuni dakwah di klub malam, 14 tahun berdakwah di kawasan prostitusi Yogyakarta, Pasar Kembang (Sarkem). (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Kamis 13 September 2018 17:45 WIB
Gus Yahya: 22 Oktober 1945 Perlawanan Nasional Pertama
Gus Yahya: 22 Oktober 1945 Perlawanan Nasional Pertama
KH Yahya Cholil Staquf
Jakarta, NU Online
Katib 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengatakan, peristiwa besar pada 22 Oktober 1945 yang dimulai dengan fatwa Resolusi Jihad oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari merupakan perlawanan nasional pertama paling nyata dari bangsa Indonesia yang dilakukan secara masif.

"Pada hakikatnya, 22 Oktober 1945 itu hari yang menandai perlawanan yang paling nyata dari bangsa Indonesia dan masif," kata Gus Yahya di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (12/9).

Sebab, katanya, sebelum Oktober 1945, tidak ada perlawan nasional terhadap Belanda yang dilakukan oleh militer. Sementara perlawanan yang dilakukan oleh petani di berbagai daerah disebutnya sebagai perlawanan-perlawanan komunal.

"Yang ada itu perlawanan-perlawanan komunal, kelompok-kelompok petani di daerah-daerah," jelasnya.

Pria yang juga Pengasuh Pesantren Raudhatut Thalibin Leteh, Rembang, Jawa Tengah itu berpendapat, hari santri yang ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo melalui Keppres No 22 Tahun 2015 itu bukan hanya untuk santri, melainkan juga untuk kebangkitan bangsa Indonesia.

"Hari santri ini bukan hanya untuk santri, tapi juga hari untuk kebangsaan. Hari bangkitnya bangsa dari seluruh Indonesia bangsa Indonesia ini untuk gigih menyatu melakukan perlawanan terhadap penjajah.," ucapnya.

Oleh karena itu, Gus Yahya mengajak seluruh warga bangsa yang mencintai Negara Indonesia agar mensyukuri peringatan hari santri sebagai nikmat yang dikaruniai Allah.

"Marilah kita jadikan hari santri ini sebagai pembangkit semangat kebangsaan kita semua untuk membela, mempertahankan tanah air," pungkasnya. (Husni Sahal/Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG