IMG-LOGO
Pesantren

Tradisi 'Roan' Membangun Karakater Santri

Kamis 13 September 2018 6:30 WIB
Bagikan:
Tradisi 'Roan' Membangun Karakater Santri
Para santri membersihkan area pesantren dalam kegiatan roan.
Yogyakarta, NU Online
Kegiatan roan yang dilakukan di pondok pesantren-pondok pesantren salafiyah di Yogyakarta menjadi tradisi yang mengakar sangat kuat. Dua pesantren di Yogyakarta,yakni Pesantren Al Munawwir dan Pesantren Ali Maksum, mewajibkan santrinya untuk mengikuti kegiatan ini, dan apabila melanggarnya akan dikenakan sanksi.

Biasanya para santri setiap hari Jumat yang merupakan hari libur pondok, melakukan kegiatan rutin yaitu bersih-bersih pondok pesantren. Ya, nama kegiatan ini biasa dikenal di kalangan pesantren adalah roan, di mana para santri turun langsung membersihkan halaman pondok pesantren dan arena ndalem (rumah kiai).

Setiap santri diberi tugas tertentu, ada yang mencabuti rumput, membersihkan halaman, membuang sampah, menata kitab-kitab. Para santri menyambutnya dengan riang gembira, karena hal ini bagi mereka merupakan upaya ngalap berkah dari kiai.

Pengurus Pondok Pesantren Nailul Ula Center, Plosokuning, Sleman, Muhammad Maftuhan mengatakan kegiatan roan menjadi kebiasaan yang sudah biasa dilakukan oleh para santri-santri sebelumnya dan tetap dipertahankan hingga sekarang.

"Dengan tujuan agar santri-santri disiplin dan peduli dengan diri sendiri dan lingkungan sekitarnya," katanya beberapa waktu lalu.

Dalam kegiatan roan, apabila ada santri yang belum menyelesaikan tugasnya maka santri yang lain akan ikut membantu.  Jika sudah selesai semua, para santri akan membersihkan kamar mereka masing-masing dengan sistem per blok.

"Mereka semua menikmatinya, bahkan dengan diselipin canda tawa yang membuat mereka tidak akan merasakan lelah," tambah Maftuhan.

Kelelahan benar-benar hilang ketika hidangan makanan dihidangkan di hadapan mereka. Bisanya makanan disajikan dalam nampan-nampan, di mana setiap nampan berlaku untuk lima orang.

Walau sederhana, roan nyata bermanfaat bagi pondok pesantren dan bagi santri sendiri. Dengan adanya kegiatan rutin ini diharapkan juga bisa memberikan dampak yang positif untuk kehidupan santri di kemudian hari setelah lulus dari pondok pesantren. Santri mampu mengamalkan hidup disiplin, gotong-royong dan solidaritas antar kawan.

Alumni Nailul Ula Center, Plosokuning, Sleman, Yogyakarta mengatakan roan memiliki makna yang begitu dalam bagi santri.

"Kegitan ini bertujuan membersihkan yang tampak, sekaligus diniati membersihkan hati dari ria, takabur dan dengki,"  ungkapnya. (Galih Maryanuntoro/Kendi Setiawan)
Tags:
Bagikan:
Sabtu 25 Agustus 2018 14:0 WIB
Pusat Studi Pesantren: Inklusifitas Pesantren dan Rahmat Bagi Semesta
Pusat Studi Pesantren: Inklusifitas Pesantren dan Rahmat Bagi Semesta
PSP rutin mengadakan diskusi terkait isu Islam, kemanusiaan, perdamaian, dan demokrasi.
Ekspresi serius tapi rileks tergambar di wajah-wajah peserta program Asia Interfaith Forum 2018 yang digelar di Hotel Cikopo Bogor pada 23-16 Juli 2018. Mereka menyimak dengan khusuk paparan para pemateri dan memberi umpan balik yang cerdas. Namun kekhusukan itu tidak menghalangi mereka untuk menyeruput kopi dan menjumput pisang goreng di sela-sela diskusi.

Para peserta kegiatan bertema Building Collaboration in Resisting Violance Extremism itu berasal dari Singapura, Yaman, Korea Selatan, Malaysia, dan Indonesia. Mereka adalah bagian dari komunitas atau lembaga yang tidak hanya peduli tapi juga berupaya turut memecahkan persoalan intoleransi, radikalisme, dan ekstrimisme.

Tema diskusinya cukup “berat’, meliputi rencana dan aksi pencegahan ekstrimisme kekerasan, radikalisme atas nama agama yang muncul dan merebak di Asia Tenggara, upaya perempuan menangkal radikalisme dan ekstremisme, penguatan keamanan nasional, hingga perlindungan agama minoritas termasuk agama lokal (penghayat kepercayaan). Persoalan yang membutuhkan upaya serius oleh banyak pihak.

Penyelenggara forum lintas iman tersebut adalah Pusat Studi Pesantren (PSP) atau Center for Pesantren Studies dalam bahasa Inggris. PSP merupakan lembaga nirlaba yang diniatkan untuk menjadi wadah bagi proses pengkajian dunia kepesantrenan dan pengembangan pemikiran Islam secara umum. PSP juga menjadi wadah bagi jejaring pesantren yang mengembangkan wawasan yang lebih moderat dan terbuka.

Kalau menilik namanya,  Pusat Studi Pesantren, kegiatan forum lintas iman yang diikuti lebih dari 20 peserta dari beberapa negara Asia itu terkesan melampaui kegiatan yang mustinya dilakukan, ya seputar dunia kepesantrenan begitulah. Namun, kalau melihat tujuan didirikannya PSP pada 21 September 2007, forum litas iman itu menjadi relevan. Sebab, PSP juga diorientasikan untuk menjadi jembatan penghubung antara dunia pesantren dan dunia di luarnya, sekaligus menjadi media yang memfasilitasi proses dialog dan pencerahan untuk mengeliminir mispersepsi dan misinterpretasi publik terhadap dunia pesantren.

Pendiri dan Direktur PSP Achmad Ubaidilah menjabarkan beberapa tujuan didirikaannya PSP. “Sebagai sarana komunikasi dan menumbuhkan ukhuwah di antara umat Islam, khususnya di kalangan masyarakat pesantren di Indonesia. Tujuan lain adalah untuk menumbuhkan dan menyosialisasikan pandangan dan sikap-sikap serta misi Islam yang mencerahkan, moderat, ramah, toleran, inklusif dan modern di kalangan masyarakat. Lalu juga menumbuhkembangkan nilai-nilai perdamaian antar sesama umat manusia,” kata Ubaidilah.

Di tangan PSP, kata pesantren terasa inklusif dan familier, khususnya bagi warga asing.  Perannya juga  lebih dari sekadar tempat belajar ilmu agama dan belajar kemandirian. Banyak yang bisa diperbuat di pesantren dan oleh pesantren.

Pendirian PSP sejatinya memang terkait erat dengan sejarah pesantren Al-Falak Pegentongan yang didirikan kakek buyut Ubaidilah, KH Tubagus Muhammad Falak (1842—1972). Pesantren tetap lestari dari generasi ke generasi, itu tidak perlu disangsikan. Akan tetapi, Ubaidilah ingin melakukan sesuatu yang berbeda, selain menjadi pengasuh pesantren.


(Salah satu sudut bagunan pondok pesantren Al-Falak Pegentongan.Foto. Alid.id)

“Saya ingin melanjutkan dan mengembangkan prinsip-prinsip perjuangan dan kiprah Mbah Falak. Beliau adalah Mursyid Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah yang telah berkiprah di ranah pendidikan, sosial, kemanusiaan, politik kebangsaan, dan keagamaan. Selain itu juga mewujudkan dan mengembangkan tingkah laku serta cara pandang keagamaan berdasarkan faham Ahlussunah wal Jamaah. Itulah yang saya adopsi menjadi visi PSP,” papar Ubaidilah.

Rahmatan lil alamin

Rahmatan lil alamin, rahmat bagi alam semesta, sesungguhnya adalah ruh yang menjadi pijakan Islam moderat. Jika semua makhluk dinaungi, perbedaan agama dan keyakinan antarmanusia hanyalah persoalan sepele yang tak kan menghalangi tujuan besar yakni kedamaian semesta.  Maka itu, satu misi PSP adalah menyebarkan gagasan dan pandangan yang mencerahkan, moderat, ramah, toleran, inklusif, dan modern.

Obrolan dengan peserta forum lintas iman dari Singapura, Saiful Anuar, makin membuka pikiran bahwa pandangan moderat itu harus terus ditebarkan.  Kami ngobrol santai mengenai Islam Nusantara yang hingga saat ini masih terus menjadi topik perdebatan. Kami berdiskusi mengenai kondisi keberagamaan dan keberagaman di Indonesia, Malaysia, dan Singfapura. Saiful menanyakan beberapa hal terkait penggunaan kata nusantara dan kami dari PSP pun saling sahut, saling menambah referensi. “Ya, saya tahu intinya, hanya masih asing dengan kata nusantara,” katanya.

Diskusi dengan Heyam juga mengasyikkan. Perempuan muda asal Yaman itu mahasiswi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, yang sudah lumayan fasih berbahasa Indonesia. Ia menceritakan kondisi di Yaman yang kini masih kacau walau tidak bisa dibilang ambruk. Sesekali ia minta maaf karena harus menjawab telepon temannya di Yaman dan mereka pun mengobrol dengan bahasa Arab ‘amiyah dengan asyiknya. Heyam bertanya mengenai pemilihan Gubernur DKI Jakarta yang riuh itu, juga tentang pesantren di Indonesia. Mengapa begini, mengapa begitu, sambil sesekali berseru “subhanallah…” dan “masyaallah….”.  

Bagi Pendiri SPACE (Speak Peace) Boas Simanjuntak, PSP melalui program-programnya telah menunjukkan sisi modernitas dan inklusifitas pesantren dalam konteks membuka dialog dengan pihak-pihak yang berbeda secara agama. “Pesantren bisa menjadi pelopor perdamaian di tengah maraknya penyebaran nilai-nilai kekerasan yang berbasis ayat-ayat suci, dalam agama manapun,” katanya. Seperti program Asia Interfaith Forum ini, lanjut Boas, menjadi ajang saling tukar informasi terkini tentang kondisi terakhir di negara masing-masing peserta terkait isu-isu yang beririsan dengan agama dan kekerasan.

Linda Bustan, Direktur Pusat Kajian Etik dan Religiusitas Sosial Universitas Kristen Petra Surabaya merasakan suasana teduh ketika berada di antara teman-teman muslim yang moderat dan toleran. Ia sebelumnya pernah mengikuti program PSP lain yaitu Initiative Understanding of Peacebuilding. Program ini lebih bersifat akademis, karena ditujukan kepada pada pendidik dan menggunakan pendekatan Tri Darma Perguruan Tinggi (bidang pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat).

Pengajar di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Nina Mariani Noor, melihat PSP cukup menjembatani para pegiat, peneliti, penulis, dan pemikir yang “bergaul” dengan isu-isu intoleransi. Beberapa program ia lihat bisa menjadi ajang saling tukar informasi dan pandangan, juga menambah jejaring tidak hanya di Asia Tenggara namun juga Asia. Selain itu juga program literasi kalangan pesantren yang sangat membantu kaum santri untuk makin terlibat dengan dunia luar dan memberi kontribusi.

Beragam program

PSP terus memikirkan program-program yang menyentuh akar rumput untuk mencapai masyarakat demokratik. Satu agenda yang diperjuangkan adalah menjembatani kalangan santri untuk turut mengisi ruang publik melalui publikasi karya-karya santri di lamansuarapesantren.net. Media ini adalah bagian dari upaya untuk menyuarakan moderatisme berbasis pesantren.

Program-program srategis yang telah, sedang, dan akan dilakukan PSP meliputi:
  1. Kampanye Islam, Perdamaian, Kemanusiaan dan Demokrasi. PSP memfasilitasi komunikasi dan kerjasama antara bangsa, budaya, agama yang memiliki perhatian dan minat terhadap perkembangan Islam dan masyarakat Muslim, khususnya perkembangan pesantren di Indonesia. Selain itu juga mendukung kampanye Islam moderat dan inklusif yang cinta perdamaian.
  2. Diskusi, lokakarya, dan seminar yang berkaitan dengan isu-isu Islam, kemanusiaan, perdamaian, dan demokrasi.
  3. Penerbitan dan perpustakaan. PSP mendorong tersosialisasi dan terpublikasikannya gagasan-gagasan yang lahir dari kalangan masyarakat pesantren yang sarat dengan prinsip, tingkah laku dan cara pandang toleran, inklusif, moderat dan aktif melakukan tindakan nyata yang bermanfaat bagi umat.
  4. Membangun Database Pesantren di Indonesia. Kegiatannya berupa inventarisasi dan pendataan pesantren di Indonesia serta memperoleh deskripsi mengenai gerakan masyarakat sipil di Indonesia berbasis pesantren. Berbagai infomasi tersebut dikumpulkan dan disusun menjadi database yang komprehensif.
  5. Pendidikan dan Pelatihan. Memberi kesempatan kepada generasi muda kaum santri untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan dalam upaya mengembangkan kapasitas diri dan pemikiran serta pandangan keislaman yang inklusif, ramah dan cinta perdamaian. Di samping itu kesempatan tersebut terbuka untuk kalangan lintas kultural, lintas bangsa dan lintas agama yang memiliki pengetahuan cukup mengenai Islam untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) PBNU Abdul Ghafar Rozin mengatakan, idealnya PSP memiliki peran penting dalam pengembangan pesantren. PSP dapat menjadi partner strategis baik kementerian agama sebagai unsur struktural maupun RMINU sebagai unsur ormas agama. 

Untuk menuju ke sana, ada banyak langkah yang harus dilakukan. “Di antaranya adalah menjalin  komunikasi intensif setidaknya dengan dua unsur tadi, kementerian dan RMI sebagai asosianya pesantren di lingkungan NU yang jumlahnya lebih dari 20 ribu. Hal lain adalah mengajak para pemikir dan aktifis  yang memiliki perhatian yang sama, yang tentu sudah dilakukan,” papar Gus Rozin, sapaan Abdul Ghafar Rozin.

Hal yang paling penting dari semua program, menurut Gus Rozin, adalah menerjemahkan hasil FGD atau kegiatan apa pun itu menjadi langkah-langkah kongkrit dan terukur. Rekomendasi perlu disampaikan kepada para partner sehingga tercapai sinergitas yang bekelanjutan. (Susi Ivvaty/Zunus)
Sabtu 11 Agustus 2018 20:30 WIB
Ketika Santri Sowan Kiai Dimyati Rois Ingin Kuliah
Ketika Santri Sowan Kiai Dimyati Rois Ingin Kuliah
KH Dimyati Rois (foto: Fathoni Ahmad)
Oleh: Zaim Ahya’

Tahun 2011 tepatnya, saat kami lulus dari  Madrasah Aliyah Pondok Pesantren al-Fadllu Djagalan Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, beberapa dari kami ingin kuliah di IAIN (sekarang UIN) Walisongo Semarang. Kampus ini ditempuh kira-kira 15 menit dari pesantren, jika menggunakan sepeda motor. Rencananya, saya dan beberapa teman ingin tetap nyantri di pesantren, ikut kelas takhassus yang mengkaji secara bandungan dan musyawarah kitab fiqh al-Mahalli, sambil siangnya kuliah di kampus yang terletak di Semarang Barat itu.

KH Dimyati Rois, kami memanggil beliau Abah Dem, mengizinkan. Abah Dem berpesan agar kami kuliah yang benar. 

Setelah mendaftar, dan masih awal masuk kuliah, orang tua sepupu saya datang ke pondok ingin sowan Abah Dem. Saya meminta dia supaya saya di-sowan-kan juga ke Abah Dem perihal kuliah sekaligus membawa sepeda motor untuk pulang pergi ke kampus. Untuk izin membawa sepeda motor sendiri ini, yang saya tidak berani sowan sendiri. Pikir saya, senyampang ayah sepupu saya datang, sekalian nebeng sowan.

Dari awal, memang yang saya khawatirkan adalah perizinan membawa sepeda motor. Antara boleh atau tidak. Ternyata di luar dugaan, Abah Dem mengiyakan begitu saja perihal membawa sepeda motor untuk kuliah. Hanya berpesan agar hati-hati.

Justru pesan Abah Dem yang diulang sampai tiga kali, sampai saya berjalan keluar dari ndalem (kediaman), adalah agar saya ingat betul dan dipegang sungguh-sungguh selalu memakai sarung dan peci selayaknya santri saat keluar dan masuk pondok. Baru diizinkan mengganti dengan pakaian kuliah setelah keluar dari pondok.

Kira-kira kata beliau sambil tersenyum, “Nang iling yo, nek meh metu seko pondok lan muleh meng pondok yo anggo sarung, klambi dowo lan peci koyo biasane. Engko tekan ngono yo ganti. Mosok kuliah anggo sarung yo diguyu. Iling yo nang. (Nak, ingat ya, kalau mau keluar dari pondok dan pulang ke pondok, pakailah sarung, baju lengan panjang, dan peci seperti biasanya. Nanti kalau sudah sampai, ya silakan ganti pakaian. Masak kuliah pakai sarung, ya diketawain)

Memang seperti itu adanya. Di pesantren al-Fadllu, santri-santri yang nyambi kuliah di luar, keluar masuk pondok memakai sarung dan peci. Maka jangan heran jika ada santri yang berpenampilan agak berbeda, seperti beralas kaki bukan sandal tapi sepatu, yang sekarang tampaknya mulai banyak diminati. Atau di antara para santri banyak terlihat menenteng plastik kresek berisi sepatu.

Kembali ke pesan Abah Dem. Entah, selain makna tersurat, adakah makna tersirat dari pesan itu. Beberapa teman santri yang kuliah, saat saya ceritakan pesan Abah Dem itu, merespons dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang mencoba melakukan tafsir, menggali makna tersirat, namun ada juga memilih menerima pesan itu apa adanya.

Penulis ingat, Abah Dem pernah berkata bahwa banyak orang gampang terpengaruh. Statemen yang sama beliau katakan lagi, sebagai nasihat kepada santri yang bertugas jadi pembawa acara di acara Haflah Akhirrussanah menjelang liburan pondok. Saat itu santri yang bertugas mengikuti model seperti presenter Raffi Ahmad di acara Inbox, salah satu tayangan televisi swasta.

“Santri kok gampang terpengaruh,” kata Abah Dem, sambil tertawa di akhir acara, tanpa menyetop acara di tengah-tengah.

Antara pesan Abah Dem kepada santri yang mau kuliah dan nasihat Abah Dem ini, bisa jadi ada hubungannya, namun bisa tidak. Jika ada hubungannya, mungkin apa Abah pesan kepada santri yang kuliah, merupakan cara Abah Dem menjaga identitas pesantren atau santri, sekaligus memperbolehkan santri berdialektika dengan tradisi intelektual di perguruan tinggi. 

Perihal, Abah Dem memperbolehkan santrinya kuliah dan tetap bisa tinggal di pondok, namun saat kembali di ke pondok, harus dengan berpakaian santri seperti biasa. Bisa jadi ini—meminjam istilah Ahmad Baso— juga termasuk ikhtiar menjaga santri biar tetap menjadi fa’il, bukan maf’ul.

Tahun berganti tahun, dan hampir selalu ada angkatan di bawah saya, yang izin sambil kuliah, tradisi memakai atribut santri pun masih berlanjut, baik saat ngaji, mandi, tidur, bahkan roan (kerja bakti). Dan kegiatan di pondok juga tak ada yang berubah. Sorogan, bandungan, madrasah, ngaji al-Qur’an, musyawarah dan belajar wajib di malam hari, masih berlangsung seperti dulu kala. Dan satu hal lagi, yang tak berubah: tradisi ngopi bersama.

Penulis adalah santri Pondok Pesantren al-Fadllu Kaliwungu Kendal, penulis lepas dan pegiat di Idea Institut Semarang.


Senin 6 Agustus 2018 0:30 WIB
Kisah Syekh Ahmad Shonhaji Membuang Kitab Jurumiyah
Kisah Syekh Ahmad Shonhaji Membuang Kitab Jurumiyah
Purworejo, NU Online
Ada metode pembelajaran yang hanya dimiliki oleh pondok pesantren, yaitu metode salafiyah. Di antara contoh aplikasi metode salafiyah ini adalah kiai  atau guru tidak berani mengaji jika belum menghadiahkan Alfatihah kepada yang mengarang kitab.

Demikian disampaikan KH Achmad Chalwani, pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo, pada acara Khataman Akhirussanah ke-40 pesantren tersebut, Sabtu (4/8) malam.

"Kiai tidak berani mengajarkan kitab Jurumiyah (ilmu gramatika Arab) sebelum menghadiahkan Fatihah kepada sang pengarang kitab, yaitu Syekh Ahmad Shonhaji," ungkapnya menggambarkan.


Baca: Kiai Chalwani Purworejo Ingatkan Hati-hati Memilih Pesantren

Kitab Jurumiyah itu, menurut Kiai Chalwani kitab yang ampuh. Setelah Syekh Shonhaji mengarang kitab Jurumiyah, kitab itu dibuang ke laut. "Sambil membuang kitab, beliau bilang 'Kalau kitab ini akan bermanfaat, walaupun aku buang ke laut, akan kembali.' Ketika Syekh Shonhaji pulang ke rumah, kitab itu sudah ada di meja kamarnya," tutur Kiai Chalwani. 

Kitab dibuang, lanjutnya, kembali sendiri. "Sementara kitab kita, tidak dibuang hilang sendiri karena tidak pernah dibaca," seloroh tokoh NU ini, diikuti gelak tawa ribuan hadirin yang mayoritas adalah para alumni dan wali santri.

Selain itu, Kiai Chalwani yang merupakan alumnus Pesantren Lirboyo, mencontoh guru-guru dan kiai-kiai Lirboyo dalam mengajarkan kitab. Kepada para dewan asatidz, ia menekankan pentingnya tawadluk dalam mengajar, karena ini merupakan salah satu metode salafiyyah.

"Saya sering menyampaikan kepada para guru di sini, 'Kamu kalau ngajar, di hati diterapkan, ana al-qaari', allaahu al-haadi. Saya hanya membacakan, Allah-lah yang ngasih petunjuk. Jangan mentang-mentang mengajar merasa ngasih petunjuk. ini tawadlu’, andap asor,” ungkapnya. “(Metode) Ini hanya dimiliki oleh pesantren,” imbuhnya.

Tak hanya itu, ia juga menjelaskan metode ittishal dan infishal di pesantren. “Metode ittishal, santri langsung menghadap guru atau kiai. Adapun metode infishal, santri menghadap pembantu kiai, menghadap para guru, qari', ustadz, tetapi hati tetap niat kepada kiai,” terangnya. (Ahmad Naufa/Kendi Setiawan)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG