IMG-LOGO
Pustaka

Renungan Remaja: Sosok Dilan dan Al-Fatih

Kamis 13 September 2018 8:0 WIB
Bagikan:
Renungan Remaja: Sosok Dilan dan Al-Fatih
NR. Tambunan seorang cendekiawan Alumni University of Lille 1, Perancis mengatakan “BANDUNG pun rela ‘mundur’ ke era 1990-an demi sebuah film remaja yang sedang hits saat ini ‘Dilan 1990’.” Menurutnya Film yang diadopsi dari sebuah novel karya Pidi Baiq itu memang didukung oleh walikota Bandung Ridwan Kamil dan didukung oleh masyarakat Bandung karena berlatar belakang Bandung zaman baheula.

Tak heran, film ini pun akhirnya mampu menembus jutaan penonton dalam waktu hanya beberapa hari. Bahkan tak jarang anak-anak muda baik di kota maupun di desa terkena demam Dilan “jangan rindu, ini berat, kamu gak akan kuat, biar aku saja.” 

Yang menarik dari fenomena ini sesunguhnya apa? Jika Publikasi dan dukungan penguasa menjadi faktor yang menyedot masyarakat terutama remaja zaman now untuk berbondong-bondong terhanyut ke dalam diksi romantis yang ditawarkan Dilan. Tentu hal ini akan berdampak pada tiap film-film remaja bertemakan cinta dan romantisme akan selalu mendapatkan sambutan yang meluap dari masyarakat.

Hal ini juga bisa menjadi bukti bahwa karena masyarakat saat ini haus akan imaginasi romantisme di tengah-tengah kesulitan hidup dan kondisi nyata yang melelahkan, ataukah memang selera masyarakat kita pada kisah yang menawarkan cerita dan merefleksikan fakta remaja kekinian. Yang pasti, film-film serumpun makin menyebar luas dan memenuhi beranda kehidupan masyarakat kita.

Inilah fenomena remaja saat ini yang sudah demikian bebas, semakin liar dan jauh dari nilai-nilai agama adalah kondisi yang memang menjadi sebuah kondisi yang menghawatirkan. Industri hiburan di bidang perfilman memiliki andil yang sangat nyata dalam memelihara arus budaya yang saat ini menggerusi pola pergaulan para remaja.

Budaya permisif yang sekuler adalah budaya yang senantiasa dicekokkan ke dalam benak anak-anak muda Indonesia. Sedangkan anak muda adalah merupakan aset masa depan bangsa. Akankah hal ini akan dibiarkan begitu saja? Adakah hasrat kapitalis di sana?

Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan. Mengapa demikian? Segi positif yang bisa diambil adalah remaja merupakan generasi masa depan penerus bangsa yang diharapkan mampu bangkit dan memiliki pemikiran revolusioner, fresh dan keknian. Namun di sisi lain bukankah ini akan menjadikan mereka menjadi remaja yang alay, lebay dan perayu serta mudah dirayu?

Alangkah baiknya jika kita membuka kembali sejarah Islam, misalnya kita menyoroti kondisi remaja di dalam kepemimpinan Islam. Sebut saja Muhammad Al Fatih, yang telah menjadi seorang pemimpin di usianya yang masih belia. Beliau bahkan telah menaklukkan Konstantinopel yang terkenal tak terkalahkan pada saat menginjak usia 21 tahun. Saat itu ia masih berusia 21 tahun telah mencapai prestasi yang amat luar biasa. Adakah kira-kira di zaman sekarang pemuda seusia itu mempunyai pemikiran dan mimpi-mipi besar untuk bangsa dan agamanya?

Manakala Sultan al Fatih menjadi nakhoda kepemimpinan, kaum Muslimin berhasil menguasai Benteng terkuat pada masa itu. Di bawah sistem kepemimpinan Islam dengan metode pendidikan Islam, potensi remaja sebagai aset masa depan dapat dioptimalkan sehingga mampu mencetak pemuda-pemuda berkualitas semisal Muhammad Al-Fatih.

Apa yang terjadi sekarang? Sungguh amat disayangkan, apabila remaja saat ini kurang peka dan tidak menyadari bahwa dirinya adalah pemegang estafet kepemimpinan di masa depan. Sangat penting bagi kita untuk dapat membangunkan remaja agar tidak tenggelam dalam propaganda kapitalis dan terjebak dalam budaya yang tidak kurang mendidik.

Masyarakat harus dapat mengeluarkan sikap kritisnya terhadap serangan budaya dan kepentingan kapitalis yang merasuki remaja melalui industri film maupun cara-cara lainnya. Dilan dan Muhammad Al Fatih adalah dua produk pemuda yang berbeda dengan kualitas yang berbeda. Dan kita saat ini tentu saja lebih membutuhkan para pemuda berkapasitas setara dengan Muhammad Al Fatih bahkan lebih lagi untuk dapat melakukan perubahan yang nyata dan membangun peradaban yang mulia.

Tokoh Dilan yang hidup di tahun1990 dia adalah seorang pria, menyukai perempuan yang bernama Milea dan berusaha menaklukan hatinya. Dalam sejarah Islam ada pemuda pemberani yang mempunyai prestasi luar biasa. Siapakah dia? Namanya adalah Muhammad Al Fatih. Jika sosok Dilan membawa kita kepada perasaan salut dan kagum. Apakah yang akan kita rasakan ketika mengetahui kisah hidup Sultan Al Fatih? menangis haru dan bangga?

Perbedaan mendasar diantara Sultan Fatih dan Dilan adalah jika Pada diri al Fatih ia Mempunyai karakter pemimpin yang ditanamkan sejak kecil, Menghafal Al-Quran 30 Juz di ketika masih kecil, Menjadi Khalifah Utsmani ketia usianya 19 Tahun, Menaklukan Byzantium. Sedangkan dalam diri Dilan ia mampu Menaklukan hati wanita di Usia kurang lebih 20 tahun, Suka Meramal, Anggota Geng Motor.

Kesimpulan yang dapat ditarik adalah "Dilan kuat menanggung berat nya rindu, punya genk motor, ia juga bisa meramal pertemuannya dengan Milea. Sedangkan al Fatih? Ia adalah jawaban dari ramalan Rasulullah SAW, mempunyai pasukan yang amat tangguh dan istiqomah berpuasa. Seperti apakah ramalan Rasulullah itu? Dan bagaimana kehebatan Sultan al Fatih hingga ia bisa menaklukkan Konstantinopel?

Penulis buku ini Ahmad Ali Adhim mengatakan bahwa untuk itulah buku sederhana ini dihadirkan, ia berharap melalui buku ini generasi bangsa kita dapat mengambil pelajaran dari kisah dan perjalanan hidup yang amat mulia dari mereka berdua, baik dari sisi positif yang ada pada diri Dilan maupun al Fatih.

Keduanya sama-sama pemuda yang mempunyai keberanian dan patut diapresiasi. Namun sebagai generasi bangsa yang baik, kita harus bisa memilih dan memilah manakah yang cocok untuk kita jadikan tauladan.

Meski terhitung tipis, sebab buku ini hanya berjumlah 144 Hlm, tetapi di dalamnya terdapat banyak pelajaran yang bisa diambil; mulai dari perjuangan, diplomasi politik, dan strategi Muhammad al Fatih dalam mengumpulkan pasukan, perjuangan dan semangat Dilan melawan kebathilan (guru yang semena-mena).

Penulis buku ini rupanya ingin mengajak generasi milenial untuk menjaga hak dan martabanya sebagai siswa atau mahasiswa, sebagaimana yang disabdakan oleh Ramsey Clark seorang pengacara, aktivis, dan mantan pejabat pemerintah federal Amerika. “Hak bukanlah apa yang diberikan seseorang kepadamu, melainkan apa yang seorangpun tidak bisa ambil darimu.”

Buku ini cocok untuk generasi Millenial, ada semangat jiwa muda di sana, ada juga lika-liku perjuangan cinta yang selalu berkobar. Karya yang ditulis oleh santri di Pesantren Baitul Kilmah Yogyakarta ini menggambarkan kebesaran jiwa al Fatih dengan begitu dramatis. Bacalah ini:

“Setelah menaklukkan Konstantinopel, masuklah Sulatan ke kota besar itu. Ia kemudian mengubah nama Konstantinopel menjadi Islambul yang bermakna (Ibukota Islam). Meski kemudian nama yang dirumuskan oleh al Fatih itu diselewengkan menjadi Istanbul. Ia juga mengubah gereja terbesar di kota itu yang bernama Aya Sophia menjadi masjid setelah pasukannya menunaikan shalat di sana paska kemenangan perangnya. Bagaimana perlakuan atau sifat beliau kepada orang Kristen?

Beliau sama sekali tidak memperlakukan mereka seperti dahulu mereka memperlakukan kaum muslimin. Beliau memberikan kebebasan kepada mereka untuk beribadah dan membiarkan uskup mereka mengatur segala urusan agama mereka. Ketika kaisar Konstantinopel terbunuh dan para pengikutnya ditawan, beliau mempersilahkan pasukan Kaisar Kristen itu agar dimakamkan dengan cara agama mereka, sedikitpun beliau tidak menyuruh agar Kaisar itu dimakamkan dengan cara yang ada dalam Islam.

Seorang Filosof Perancis bernama Voltaire mengatakan “sesungguhnya orang-orang Turki itu tidak pernah memperlakukan kaum Kristen dengan buruk seperti yang kita yakini. Hal yang harus dicermati adalah bahwa tak satupun masyarakat Kristen yang akan mengizinkan kaum Muslimin mempunyai masjid di negerinya. Berbeda dengan bangsa Turki.

Mereka mengizinkan bangsa Yunani yang kalah dalam peperangan itu mempunyai Gereja sendiri. Hal inilah menunjukkan bahwa Sultan Muhammad Al Fatih adalah sosok yang cerdas dan bijaksana ketika memberikan kebebasan kepada kaum Kristen yang kalah itu untuk memilih sendiri uskup mereka. Dan ketika mereka telah memilihnya, Sultan pun menetapkannya dan menyerahkan tongkat keuskupan kepadanya serta mengenakan cincin untuknya.

Hingga sang uskup berseru saat itu dengan mengatakan “aku sungguh malu menerima penghargaan dan penghormatan ini; suatu hal yang tidak pernah dilakukan oleh raja-raja Kristen terhadap uskup-uskup sebelumku.”

Inilah perbedaan prinsip Islam di medan perang dan toleransinya terhadap pemeluk agama lain yang disajikan oleh penulis. Ada banyak surat-surat Dilan yang super romantis, ada banyak juga surat-surat al Fatih yang super diplomatis nun bijaksana. Ada pula nasehat al Fatih untuk para pejabat negara, salah satunya bacalah ini: “Bekerjalah engkau untuk menyebarkan Islam karena itu sesungguhnya itu merupakan kewajiban para penguasa di muka bumi ini. Kedepankankepetingan agama di atas kepentingan lain apapun."

Sebagai seorang guru, saya sangat setuju dengan ungkapan Dilan yang djelaskan lebih renyah oleh penulis dalam buku ini. “Guru itu digugu dan ditiru, kalau dia mengajariku menampar, aku juga akan menampar!" Membaca buku ini, membuat saya menjadi ingin mengulang masa muda, masa yang selalu berapi-api, dimana semangat masih membaja, apa yang kita inginkan harus terealisasi, pesan itu yang saya dapat dalam buku ini. Selamat membaca!

Peresensi adalah Besse Tantri Eka, alumnus Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Jurusan Magister Pendidikan Agama Islam, saat ini menjadi salah satu pendidik di sekolah unggulan SD Budi Mulia 2 Yogyakarta.

Identitas buku:
Judul Buku: Dilan & al-Fatih: Pemuda, Keberanian, dan Perjuangan Cinta
Penulis: Ahmad Ali Adhim
Penerbit: Andalusia
Cetakan: Pertama, 2018
ISBN: 978-602-5653-11-7
Bagikan:
Rabu 12 September 2018 13:0 WIB
Jalan Lurus Anak-Cucu Nabi Muhammad
Jalan Lurus Anak-Cucu Nabi Muhammad
Istilah thariqah tentu sudah tidak asing bagi warga nahdliyin. Secara harfiah, thariqah dapat dimaknai sebagai jalan. Jalan dimaksud tidak lain berupa serangkaian metode untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Salah satu thariqah muktabaroh dalam lingkungan Nahdlatul Ulama adalah Thariqah Alawiyah.

Jalan Lurus Anak Cucu Nabi: Thariqah Alawiyah merupakan salah satu buku yang dapat menjadi rujukan bagi siapapun yang ingin mempelajari Thariqah Alawiyah. Buku karya Habib Novel bin Muhammad Alaydrus ini tergolong spesial karena ditulis langsung oleh salah satu keturunan dari Rosulullah Muhammad SAW.

Habib Novel merupakan salah satu murid dari Habib Anis Al-Habsy yang kealiman dan kezuhudannya tidak diragukan lagi. Habib Novel juga merupakan pengasuh Majelis Ar-Raudhah, salah satu majelis besar di Solo, Jawa Tengah.

Buku ini diawali dengan ulasan tentang gelar habib. Gelar yang di Indonesia disematkan khusus kepada keturunan Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana dipahami bersama, Thariqah Alawiyah merupakan thariqah khas para habib dari zaman ke zaman.

Dengan bahasa yang sederhana, buku ini mengajak pembacanya untuk memahami dengan detail tentang seluk beluk Bani ‘Alawi. Mulai dari nasab, alasan hijrah ke Yaman, hingga akidah dan madzhab yang dianut oleh keturunan Rosululloh Muhammad SAW dari zaman ke zaman. Penjelasan ini berlanjut pada pengertian tentang thariqah secara umum, dan Thariqah Alawiyah.

Menggunakan referensi yang  terbilang komplet, Habib Novel dalam buku ini mengajak pembaca untuk menyusuri lautan samudra Thariqah Alawiyah. Bahkan, ada bagian khusus yang memberikan penjelasan detail tentang Al Faqih Al Muqodam yang dikenal sebagai salah satu dari panutan Thariqah Alawiyah.

Dengan tegas, dalam buku ini dipaparkan Al Quran dan sunah sebagai pondasi Thariqah Alawiyah: Sebagai sebuah tarekat sufi, tarekat Bani ‘Alawi sedikit pun tidak pernah menyimpang dari Al Qur’an dan Sunah. Keduanya merupakan pondasi utama tarekat ini. (Hal: 139)

Selain mendapat pemahaman yang cukup lengkap tentang Thariqah Alawiyah, pembaca buku ini akan termotivasi untuk meneladan kesungguhan ulama-ulama besar Bani ‘Alawi dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dengan demikian, bisa setapak demi setapak menapaki maqam tobat, wara’, zuhud, sabar, faqr, syukur, khauf, tawakal, dan ridha yang juga dijelaskan pada buku spesial karya Habib Novel ini.

Identitas Buku
Judul Buku: Jalan Lurus Anak Cucu Nabi, Thariqah Alawiyah
Pengarang: Novel bin Muhammad Alaydrus
Penerbit: Taman Ilmu
Tebal Buku: vi+240
Peresensi: Pekik Nur Sasongko, santri Majelis Ar-Raudhah, Anggota LTN NU Klaten
Selasa 28 Agustus 2018 5:45 WIB
Manasik Haji Orang Betawi Tempo Dulu
Manasik Haji Orang Betawi Tempo Dulu
Orang Muslim Betawi abad ke-20 hingga pertengahan abad ke-21 cukup beruntung dengan kehadiran Sayyid Utsman bin Yahya, mufti Batavia yang sangat alim. Mereka mendapat bimbingan dari muftinya dalam soal haji antara lain melalui Kitab Manasik Haji dan Umrah karya Sayyid Utsman bin Yahya. Sebelum era politik etis kolonial yang membuat pribumi melek baca tulis aksara Latin, aksara Jawi merupakan bahasa ilmu pengetahuan masyarakat.

Karya ini menjadi pedoman masyarakat sebelum buku-buku Latin soal haji ditulis dengan semarak puluhan tahun sesudahnya. karya ini ditulis dalam aksara Jawi dan berbahasa Melayu yang berjumlah 48 halaman. Karya ini kini dicetak oleh Al-Aidrus, Jakarta Pusat atas izin Sayyid Muhammad bin Yahya. Karya ini berukuran 14 cm x 20 cm. Setiap halaman terdiri atas 21 baris. Sementara teks dan tepi kertas berjarak antara 1-1 ½ cm.

Berikut ini kami kutip catatan aksara Jawi pada sampul depan yang berbentuk piramida terbalik. Catatan ini kami alihaksarakan ke dalam aksara Latin.

”Ini Kitab Manasik Haji dan Umrah. Dengan bahasa Melayu, dan sebutan aturan, dan syarat-syarat sembahyang qashar jamak, dan aturan kiblah di dalam pelayaran pergi haji karangan hamba yang dhaif Utsman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya Al-Alawi nasaban, was Syafi’i Mazhaban, wal Asy’ari aqidatan, afallahu anhu wa li walidaihi wa jami’il muslimina amiiin. Dan tiada ridha oleh yang mengarang kitab ini dicitak oleh seorang akan dia dan tiada halal dunia dan akhirat baginya.”

Karya ini merupakan semacam buku saku perihal manasik haji dan umrah yang dimanfaatkan oleh masyarakat Jakarta saat itu. Karya ini memuat tuntunan lengkap mulai dari orang keluar rumah untuk menunaikan ibadah haji hingga pulang kembali ke rumahnya. Sebagaimana diketahui peribadatan haji saat itu ditempuh melalui jalur laut.

Untuk menulis buku praktis ini, Sayyid Utsman bin Yahya mengutip sejumlah beberapa karya ulama terdahulu. Kejujuran intelektual ini disampaikan Sayyid Utsman bin Yahya dalam pengantar karyanya dalam aksara Jawi berikut ini yang sudah dialihaksarakan ke dalam aksara Latin.

Alhamdulillahi rabbil alamin. Was shalatu was salamu ala sayyidina Muhammadin, wa alihi wa shahbihi ajma’ain. Wa ba’du. Kemudian daripada itu, maka inilah Kitab Manasik Haji dan Umrah terlalu sedikit lafazhnya dan mudah dipahamkan insya Allah ta’ala bagi sekalian saudara yang hendak pergi haji dengan aturan amal-amalan orang pergi haji dari permulaan pelayarannya, dari rumahnya hingga ia pulang kembali dengan selamat ke rumahnya. Maka apa yang tersebut di dalam ini kitab setengahnya dinaqal dari Kitab Idhah karangan Imam An-Nawawi, dan setengahnya dari Kitab Faidhul Malikil Allam karangan Sayyid Yusuf Al-Baththah, dan setengahnya dari Kitab Ihya Ulumiddin karangan As-Syekh Al-Ghazali, dipindahkan sekalian itu dengan Bahasa Melayu Betawi,” (Lihat Sayyid Utsman bin Yahya, Kitab Manasik Haji dan Umrah, [Jakarta, Al-Aidrus: tanpa catatan tahun], halaman 2).

Karya ini secara umum ditulis dalam aksara Jawi dan Bahasa Melayu Betawi sebagaimana diungkapkan secara lugas oleh Sayyid Utsman. Sebagaimana diketahui, Bahasa Melayu memiliki banyak ragam, baik Melayu Sumatera, Patani, Malaysia, Kalimantan, maupun Betawi.

Karya ini dilengkapi dengan sebuah tabel yang memetakan syarat, rukun, dan wajib bagi ibadah haji dan umrah. Pembaca juga akan menemukan diagram lingkaran yang menjelaskan posisi kapal laut berdasarkan rasi bintang untuk menentukan arah mata angin.

Sayyid Utsman juga menggambarkan syarat, rukun, wajib, dan sunnah bagi ibadah haji dan umrah dengan ilustrasi sebuah pohon yang daunnya adalah keikhlasan. Kecuali itu, Sayyid Utsman melengkapi karyanya dengan diagram yang menjelaskan posisi Makkah dan tempat miqat bagi jamaah haji dari empat penjuru.

Upaya melengkapi karya dengan tabel dan diagram yang tidak melulu deskripsi merupakan sebuah kemajuan dalam teknik penulisan yang melampaui zamannya. Tabel dan diagram itu memudahkan pembaca dalam memahami amanat dalam karya tersebut.

Hal ini bisa jadi dilatarbelakangi keinginan Sayyid Utsman dalam memudahkan pembaca. Kemajuan dalam teknik penulisan seperti itu bisa jadi digali oleh Sayyid Utsman dari banyak karya yang dibacanya dari pelbagai negeri.

Karya ini memuat tata cara ibadah haji dan umrah mulai dari a sampai z. Selain itu, karya ini juga memuat doa-doa setiap ibadah yang ada di dalam haji dan umrah. Karya ini dilengkapi dengan tata cara ziarah kubur di makam Rasulullah, Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, dan Sayyidatina Fathimah.

Karya ini sengaj disusun secara ringkas untuk menjadi semacam buku saku bagi jamaah haji dan umrah asal Nusantara. Oleh karenanya, kajian fiqih lintas mazhab atau kajian mendalam perihal haji dan umrah tidak dibawa di sini. Hal ini disampaikan oleh Sayyid Utsman bin Yahya di akhir kitab ini.

”Maka inilah penghabisan yang tersebut daripada perkara haji dan umrah dan ziarah dengan pendek perkataan, ’maka barang siapa menghendakkan lebih dari ini maka ia baca Kitab Al-Idhah atau lain-lain kitab manasik haji. Dan jika ia  hendak lebih daripada perkara ziarah yang lebih afdhal, maka ia baca Ziarah Abil Baqa’ adanya,’” (Lihat Sayyid Utsman bin Yahya, Kitab Manasik Haji dan Umrah, [Jakarta, Al-Aidrus: tanpa catatan tahun], halaman 47-48).

Kolofon karya ini ditulis dalam bentuk piramida terbalik. Kolofon ini hanya memuat informasi berupa nama dan harapan penulis. Kolofon ini tidak memuat tempat dan waktu penyalinan. Karya ini disalin oleh Al-faqir Muhammad Ishaq Sa’ad. Kolofon karya Sayyid Utsman ini kami kutip dengan alih aksara Latin.

”Maka berharaplah hamba pada Allah ta’ala akan memberi manfaat dengan ini kitab bagi sekalian saudara yang membaca atau mendengarkan padanya mendapatikhlash lillahi ta’ala dan qabul sekalian amal haji dan umrah dan ziarah. Amiiin. Allahumma amiiin. Wa shallallahu ala sayyidina Muhammadin wa alihi wa shahbihi wa sallama ajma’in. Walhamdu lillahi rabbil alamin. Tamma,” (Lihat Sayyid Utsman bin Yahya, Kitab Manasik Haji dan Umrah, [Jakarta, Al-Aidrus: tanpa catatan tahun], halaman 48).

Karya ini oleh sejumlah kalangan dianggap sebagai karya pertama Sayyid Utsman bin Yahya. Meskipun tidak ada informasi perihal waktu penulisan, sebuah katalog perpustakaan menyebutkan tahun terbit karya ini pada 1875 M atau 1292 H.

Dari kolofon ini, kita juga dapat menarik simpulan bahwa tradisi lisan masih cukup kuat dalam kehidupan masyarakat saat itu di mana sebagian dari masyarakat mengakses konten sebuah karya melalui pelisanan teks dan didengarkan.

Riwayat Singkat Sayyid Utsman bin Yahya Petamburan
Sebagaimana diketahui Sayyid Utsman bin Yahya Petamburan lahir pada awal Desember 1822 M, Sayid Usman lahir di Pekojan, kini Jakarta Barat. Ayahnya bernama Sayid Abdullah bin Aqil bin Umar bin Yahya. Ibunya bernama Aminah binti Syekh Abdurrahman Al-Mishri yang tidak lain salah seorang ulama terkemuka di zamannya.

Sejak kecil ia gemar menuntut ilmu. Menginjak usia remaja, ia menunaikan ibadah haji di Mekkah lalu bertahan di sana selama 7 tahun. Di sana ia mengaji kepada ayahnya sendiri dan mufti Mekkah bermadzhab Syafi’i Sayid Ahmad Zaini Dahlan.

Pada 1848 M Sayyid Utsman bergerak menuju Hadhramaut. Di negeri ini ia berguru kepada Habib Abdullah bin Umar bin Yahya, Habib Hasan bin Shaleh Al-Bahar, Syekh Abdullah bin Husein bin Thahir, dan Habib Alwi bin Saggaf Al-Jufri.

Pada 1862 M, Sayyid Usman tiba di tanah air. Ia sangat berjasa dalam peningkatan pemahaman masyarakat Betawi melalui karya tulisnya yang berbahasa Melayu. Tidak kurang dari 120 karyanya dicetak dan disebarluaskan. Sebagian darinya berbahasa Arab.

Sayid Usman dipanggil Allah pada pertengahan Januari 1914 M dan dikebumikan di TPU Karet. Pada masa Orde Baru makamnya kena gusur. Pihak kerabat memindahkannya ke sisi selatan Masjid Al-Abidin, Sawah Barat, Pondok Bambu, Jakarta Timur. (Alhafiz Kurniawan)
Kamis 23 Agustus 2018 21:0 WIB
Kitab Tuntunan Manasik Haji Karya KH Bisri Mustofa
Kitab Tuntunan Manasik Haji Karya KH Bisri Mustofa
Haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib dilaksanakan oleh umat Islam yang memiliki istitha’ah atau kemampuan untuk menjalankannya. Ibadah haji sedikit berbeda dengan rukun Islam yang lain, oleh karena pelaksanaan haji ditentukan waktu dan tempatnya. Waktunya diselenggarakan setiap bulan Dzulhijjah.

Dengan demikian, Haji tidak bisa dilaksanakan setiap waktu, berbeda dengan Ibadah Umrah. Sedangkan tempatnya juga ditentukan, seperti Wuquf di Arafah, Mabit di Muzdalifah, Sa’i di Shofa dan Marwa dan lain-lain. Dan dengan demikian, penyelenggaraan Ibadah Haji tidak bisa dilaksanakan di sembarang tempat.

Orang-orang Islam yang berasal dari Indonesia, yang berjarak 8.388 km dari Mekkah di Arab Saudi, dalam melaksanakan Ibadah Haji tentunya membutuhkan tuntunan dan bimbingan, utamanya bagi mereka yang belum pernah sama sekali menginjakkan kaki di tanah suci.

Atas dasar itulah, kemudian Simbah KH Bisri Mustofa, ayahanda KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) yang juga penulis Tafsir Pegon Nusantara Al-Ibriz berinisiatif untuk membuat kitab tuntunan manasik ibadah haji bagi masyarakat muslim Indonesia.

Kitab tuntunan manasik haji karya Simbah KH Bisri Mustofa ini merupakan pedoman praktis penyelenggaraan ibadah haji. Kitab ini telah disempurnakan oleh Kiai Bisri dari kitab beliau sebelumnya, yang ditulis dengan menggunakan aksara pegon dengan tujuan untuk memudahkan umat Islam Nusantara dalam memahami tatacara ibadah haji secara baik dan benar. Kitab ini ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami, runut, dan aplikatif. 

Kitab ini juga dilengkapi dengan gambar-gambar yang terkait dengan pelaksanaan ibadah haji, untuk mengenalkan kepada masyrakat muslim Indonesia tentang bagaimana kondisi sosio-kultural Makkah dan sekitarnya. Dalam penyampaiannya, Simbah Kiai Bisri banyak menggunakan bahasa yang komunikatif dan berbentuk cerita sehingga memudahkan para pembaca untuk memahami dan mengamalkannya.

"تُوْنْتُوْنَانْ رِيْڠْكٓسْ مَنَاسِكْ حَجِّ" ڤُوْنِيْكَا بَدَيْ سُوْكَا كٓتٓرَڠَانْ مَاوِيْ چَارَا إِيْڠْكَڠْ ڮَامْڤِيْلْ فَهَمْ. إِيْڠْڮِيْهْ مٓنِيْكَا نَمُوْڠْ چَرَا چَارِيَوْسْ، دَادَوْسْ مْبَوْتٓنْ كَادَوْسْ عُمُوْمْ إِيْڤُوْنْ كِتَابْ-كِتَابْ بَابْ حَجِّ.

Artinya: “Tuntunan Ringkas Manasik Haji ini disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami, yaitu bahasa cerita yang komunikatif, sehingga tidak seperti kitab-kitab atau buku-buku pedoman haji pada umumnya.” [Mukaddimah Tuntunan Ringkas Manasik Haji, karya Simbah KH Bisri Mustofa]

Adapun materi yang dibahas di dalam Kitab Tuntunan Manasik Haji ini, tidak hanya terbatas pada persoalan haji saja, melainkan juga hal-hal yang terkait dengan Ibadah Haji, seperti: tatacara pelaksanaan haji Ifrad yang mana jamaah haji melaksanakan ibadah haji terlebih dulu kemudian umrah, haji tamattu’ yang mana jamaah haji melaksanakan ibadah umrah terlebih dulu beru kemuran haji, haji qiran yang mana jamaah haji melaksanakan ibadah haji dan umrah secara bersamaan, tatacara melaksanakan ibadah shalat dalam keadaan bepergian haji, tatacara berziarah di makam Nabi, dan lain sebagainya. 

Oleh karena kitab Tuntunan Manasik Haji ini ditulis pada 31 Agustus 1962, yang mana pada tahun tersebut penyelenggaraan ibadah haji di Indonesia masih menggunakan moda transportasi kapal, maka terdapat beberapa keterangan yang ditulis Simbah Kiai Bisri yang mungkin sudah tidak sesuai dengan kondisi zaman.

Seperti nasihat-nasihat beliau tentang apa yang harus kita lakukan saat berada di dalam kapal, tentu hal ini tidak relevan dengan pelaksanaan ibadah haji yang sudah menggunakan moda transportasi pesawat.

Meskipun demikian, secara keseluruhan, kitab ini masih sangat layak untuk kita jadikan pedoman, oleh karena kitab ini berisi pedoman teknis pelaksanaan haji, baik dari sisi rukun, kewajiban maupun kesunnahannya. 

Pelaksanaan ibadah haji sejak zaman Nabi sampai sekarang bahkan sampai kelak hari kiamat tidak ada yang berubah sama sekali, baik itu rukun, kewajiban dan kesunnahannya, sehingga kitab Tuntunan Manasik Haji ini bisa dijadikan pedoman ibadah haji sepanjang zaman.

Kitab ini selesai ditulis oleh Simbah KH Bisri Mustofa di Rembang pada 31 Agustus 1962 M yang bertepatan dengan tanggal 1 Rabi’ul Tsani 1382 H. Dicetak oleh Penerbit Menara Kudus, dengan ketebalan 68 halaman. Kepada beliau, Simbah KH Bisri Mustofa Rembang, mari kita langitkan Surat Al-Fatihah.

Sahal Japara, pemerhati Aksara Pegon, Khadim di SMPQT Yanbu’ul Qur’an 1 Pati, Jawa Tengah
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG