IMG-LOGO
Tokoh

KH Masruri Mughni dan Budaya Menghafal Al-Qur’an Masyarakat Benda

Kamis 13 September 2018 9:0 WIB
Bagikan:
KH Masruri Mughni dan Budaya Menghafal Al-Qur’an Masyarakat Benda
KH Masruri Abdul Mughni
Setiap tanggal 1 Muharam tahun Hijriyah, masyarakat Desa Benda, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, mengadakan Haul Akbar al-Maghfūr lah KH Masruri Abdul Mughni (1943-2011 M) atau yang akrab disapa Abah Masruri. Namun, sebagian masyarakat belum banyak yang tahu tentang keunikan desa tersebut sebagai kampung yang aktif “memproduksi” Ḥāfiẓ/Ḥāfiẓah di setiap generasinya.

Pada umumnya, Desa Benda dikenal oleh khalayak masyarakat sebagai kampung santri karena keberadaan Pesantren Al-Hikmah, terutama ketika di bawah kepemimpinan kharismatik Abah Masrur, sebagai tokoh generasi kedua.

Meski tidak sepenuhnya salah, namun satu fakta yang tidak boleh luput dari tinta sejarah adalah penisbatan Desa Benda sebagai Dār al-Qur’ān atau desa hunian Qur’āni. Penisbatan demikian tidaklah berlebihan dan sangat beralasan mengingat di samping desa ini memiliki tidak kurang 7 pesantren Taḥfiẓ al-Qur’ān, desa ini juga telah bershasil menciptakan budaya menghafal al-Qur’an bagi masyarakat setempat dan di sekitarnya.

Tujuh pesantren di Desa Benda yang dirintis khusus pembelajaran Taḥfiẓ al-Qur’ān adalah Pesantren Al-Hikmah, Pesantren Al-Amīn, Pesantren Al-ʻIzzah, Pesantren Manārul Qur’ān, Pesantren Al-Istiqāmah, Pesantren Nūr al-Qur’ān, dan muncul belakangan adalah Pesantren Al-Hikmah 1.

Oleh karenanya tidak sedikit para ulama dan tokoh nasional yang sempat berkunjung ke Desa Benda selalu menyebutnya sebagai Dār al-Qur’ān atau Desa Al-Qur’ān  yang layak masuk rekor MURI. Fakta demikian semakin diperkuat dengan data statistik tahun 2013 yang mencatat bahwa jumlah Ḥāfiẓ/Ḥāfiẓah penduduk desa Benda (non-santri) sebanyak 165 orang (JQH Brebes, 2013). Jumlah ini menurun drastis dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Berdasarkan wawancara peneliti dengan ʻIzzuddīn Masruri, Putra Abah Masrur sekaligus Pengasuh Pesantren Taḥfiẓ al-Qur’ān Al-Hikmah, diperoleh sebuah informasi bahwa pendidikan Taḥfiẓ al-Qur’ān di Desa Benda tidak sekonyong-konyong ada, tetapi melalui sebuah proses panjang pengenalan al-Qur’ān  kepada masyarakat yang dimulai dari era Kiai Nasir sampai Kiai Suhaimi.

Kiai Nasir adalah orang yang pertama kali memperkenalkan bacaan al-Qur’ān  kepada masyarakat Benda meski dari segi kualitas bacaan tidak sempurna seperti pengucapan yā ḥayyu menjadi yā kayyu,walāḍḍāllīn menjadi walā lalin dan sebagainya, sampai dengan datangnya Kiai Khalīl bin Maḥallī. Maka perlu dicatat bahwa orang yang pertama kali mereformasi bacaan al-Qur’ān secara tepat dan benar berdasarkan kaidah tajwid adalah Kiai Khalīl sampai dengan lahirnya budaya menghafal al-Qur’ān  di era Kiai Suhaimi 11 tahun kemudian (1922 M).

Abah Masrur adalah cucu pendiri Pondok Pesantren Al-Hikmah (1911 M), KH. Cholil bin Mahali. Ulama yang menjadi Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah hampir dua periode ini dikenal khalayak sebagai kiai kharismatik yang ʻālim hampir di semua bidang ilmu keagamaan sebagaimana menu harian yang dibaca untuk santrinya mulai dari Fatḥ al-Wahāb, Tafsir Jalālain, Sharaḥ Ibn ʻAqīl sampai Ihyā ‘Ulūm al-Dīn.

Khusus bagi santri yang belajar di Madrasah Mu’allimīn dan Muʻallimāt akan mendapat servis plus darinya dengan materi ilmu tafsir, ilmu ‘arūḍ dan ilmu falak. Waktunya hampir habis untuk mengajar para santri yang dimulai dari baʻda subuh hingga tengah malam dan itu dilakukan dengan istiqāmah hingga menjelang wafatnya.

Tidak berlebihan jika sebagian masyarakat menisbatkan tarekatnya sebagai tarekat taʻlīmiyah. Atau bahkan ada yang menisbatkannya dengan tarekat mbanguniyah karena di eranya lah, Al Hikmah mengalami perkembangan pesat dalam ranah pendidikan yang dibarengi dengan pembangunan sarana dan prasarana yang tak bertepi.

Dalam konteks budaya menghafal, kiprah dan kontribusi Abah tidak dapat diabaikan. Meski tidak secara langsung membawahi Pesantren Taḥfiẓ al-Qur’ān, sebagai generasi kedua, peran Abah sangat krusial dan substansial. Abah tidak pernah merasa sungkan untuk selalu memberi motivasi kepada khalayak masyarakat khususnya santri untuk menjadi Ahl al-Qur’ān dengan menghafalkannya.

Bahkan di setiap pengajian-pengajian majlis taʻlim, Abah tidak jarang memberikan tawaran beasiswa kepada siapa saja yang mau menghafal al-Qur’ān dan di manapun pesantren yang diinginkan. Sebuah terobosan yang juga dilakukan pendahulunya, Kiai Suhaimi yang tidak sungkan untuk menjemput bola dan mengajak orang untuk menghafal al-Qur’ān.

Semangat Abah bukan tanpa alasan tetapi terinspirasi oleh ajaran fiqh yang menghukumi Farḍu Kifāyah di dalam menghafal al Qur'ān, yakni harus ada sebagian umat Islam yang hafal Al Qur’ān. Ia melihat selama ini belum ada lembaga yang menyatakan sanggup menjaga ketentuan fardlu kifayah yang satu ini. Untuk itu, melalui pondok pesantrennya, ia ingin sebisa mungkin menjaga ketentuan ini.

“Jangan sampai pada suatu masa nanti, tidak ada lagi satu pun umat Islam yang hafal kitab suci yang terbagi dalam 6 ribu lebih ayat, 114 surat dan 30 juz itu”(Profil Pondok Pesantren Al-Hikmah, t.t.). Bahkan dengan para penghafal al-Qur’ān, Abah tidak segan mengungkapkan jargon “Afḍal al-Ṭarīqah Ṭarīqah Al-Qur’ān”.

Motivasi Abah ini memiliki pengaruh luar biasa di dalam menjaga budaya menghafal al-Qur’an bahkan berhasil melakukan terobosan ke arah pengembangan. Bertambahnya jumlah Pesantren Taḥfiẓ al-Qur’ān di Desa Benda disertai massifnya generasi penerus penghafal al-Qur’an, merupakan fakta yang menggembirakan.

Untuk menyebut dari sekian generasi penerus dan beberapa pesantren yang lahir kemudian seperti Ustāẓ ʻAbdul Hādi (menantu dan penerus Kiai Fatih), KH. Abdul Rauf, KH. Abdur Rasyid dan KH. Mustofa (ketiganya merupakan anak dan penerus KH. Aminuddin), KH. Izzuddin dan Nyai Hj. Minhah (keduanya adalah penerus KH. Alī Ashʻāri).

Sedangkan beberapa Pesantren Taḥfiẓ al-Qur’ān yang lahir kemudian adalah Pesantren Al-Istiqāmah di bawah asuhan KH. Abdul Jamil, Pesantren Nūr al- Qur’ān di bawah Asuhan Kiai Nashroh, Pesantren Al-Izzah di bawah asuhan Ny. Hj. Minhah (isteri KH. Alī ʻAshʻārī) beserta puteranya Ustaẓ Faiq Muʻin dan terkahir pesantren Al-Hikmah I yang diasuh Ustaẓ Ḍiyāulhaq (cucu Kiai Suhaimi dari garis KH. Shodik Suhaimi).

Dengan meningkatnya jumlah generasi penerus dan berkembangnya jumlah pesantren Tahfidz al-Qur’ān, merupakan lompatan besar sebagai keberhasilan kaderisasi yang dilakukan generasi sebelumnya. Dan semuanya tidak dapat dilepaskan dari pengaruh Abah sebagai tokoh sentral masyarakat Desa Benda.

Namun demikian, bertambahnya jumlah pesantren dan jumlah generasi tidak berbanding lurus dengan semangat budaya menghafal al-Qu’ān masyarakat Desa Benda. Hal ini dapat dilihat dari keengganan masyarakat untuk menghafal al-Qur-ān akhir-akhir ini karena sudah dianggap tidak prospektif atau meminjam istilah Kiai Ahsin Sakho sebagai kelompok “masa depan suram”.

Di sinilah makna kerinduan motivasi, laiknya motivasi dari seorang Abah dibutuhkan. Motivasi sebagai suntikan ampuh untuk masyarakat dan khususnya masyarakat Desa Benda agar semakin mencintai al-Qur’ān dan menghafalnya kembali. Setidaknya untuk membuktikan kepada khalayak umum bahwa seorang ḥāfiẓ/ḥāfiẓah tidak lagi identik dengan kelompok masa depan suram tetapi kelompok yang menjaga kalimat Allah dan tentunya membawa pencerahan.
Agus Irfan, alumni Al-Hikmah, Pengurus Ansor Jawa Tengah dan Pengasuh Pesantren Mahasiswa Sultan AgungUNISSULA Semarang.

Referensi :
1. Agus Irfan, Kontekstualisasi Pendidikan Tahfidz al-Qur’ān, Penelitian DIPA Kopertais, Kemenag, 2013.
2. Profil Pondok Pesantren Al-Hikmah, t.t.
3. Laporan Jam’iyat al-Qurrā wa al-Ḥuffāḍ (JQH), Kabupaten Brebes, 2013.
4. Wawancara dengan Izzudin Masruri, 2013 dan 2018
Tags:
Bagikan:
Sabtu 8 September 2018 15:0 WIB
Syekh Junaid Al-Baghdadi, Imam Tasawuf Panutan NU
Syekh Junaid Al-Baghdadi, Imam Tasawuf Panutan NU
Nahdlatul Ulama mengikuti Imam Asyari dan Imam Maturidi dari sisi aqidah, imam empat mazhab dari sisi fiqih, dan Imam Junaid Al-Baghdadi serta Imam Al-Ghazali dari segi tasawuf. Kenapa para kiai mengangkat nama Imam Junaid Al-Baghdadi? Apakah karena ia bergelar sayyidut thaifah di zamannya, pemimpin kaum sufi yang ucapannya diterima oleh semua kalangan masyarakat?

Junaid bin Muhammad Az-Zujjaj merupakan putra Muhammad, penjual kaca. Ia berasal dari Nahawan, lahir dan tumbuh di Irak. Junaid seorang ahli fikih dan berfatwa berdasarkan mazhab fikih Abu Tsaur, salah seorang sahabat Imam Syafi’i.

Junaid berguru kepada As-Sarri As-Saqthi, pamannya sendiri, Al-Harits Al-Muhasibi, dan Muhammad bin Ali Al-Qashshab. Junaid adalah salah seorang imam besar dan salah seorang imam terkemuka dalam bidang tasawuf. Ia juga memiliki sejumlah karamah luar biasa. Ucapannya diterima banyak kalangan. Ia wafat pada Sabtu, 297 H. Makamnya terkenal di Baghdad dan diziarahi oleh masyarakat umum dan orang-orang istimewa.

Syekh Ibrahim Al-Laqqani dalam Jauharatut Tauhid menyebut Imam Malik dan Imam Junaid Al-Baghdadi sebagai pembimbing dan panutan umat Islam.

ومالك وسائر الأئمة وكذا أبو القاسم هداة الأمة

Artinya, “Imam Malik RA dan seluruh imam, begitu juga Abul Qasim adalah pembimbing umat,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Laqqani, Jauharatut Tauhid pada Hamisy Tuhfatil Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 89).

Syekh M Nawawi Banten juga menyebutkan sejak awal Imam Junaid Al-Baghdadi sebagai panutan umat dari sisi tasawuf. Menurutnya, Imam Junaid Al-Baghdadi layak menjadi pembimbing umat dari sisi tasawuf karena kapasitas ilmu dan amalnya.

ويجب على من ذكر أن يقلد في علم التصوف إماما من أئمة التصوف كالجنيد وهو الإمام سعيد بن محمد أبو القاسم الجنيد سيد الصوفية علما وعملا رضي الله عنه والحاصل أن الإمام الشافعي ونحوه هداة الأمة في الفروع والإمام الأشعري ونحوه هداة الأمة في الأصول والجنيد ونحوه هداة الأمة في التصوف فجزاهم الله خيرا ونفعنا بهم آمين

Artinya, “Ulama yang disebutkan itu wajib diikuti sebagaimam perihal ilmu tasawuf seperti Imam Junaid, yaitu Sa’id bin Muhammad, Abul Qasim Al-Junaid, pemimpin para sufi dari sisi ilmu dan amal. Walhasil, Imam Syafi’i dan fuqaha lainnya adalah pembimbing umat dalam bidang fiqih, Imam Asy’ari dan mutakallimin lainnya adalah pembimbing umat dalam bidang aqidah, dan Imam Junaid dan sufi lainnya adalah pembimbing umat dalam bidang tasawuf. Semoga Allah membalas kebaikan mereka dan semoga Allah memberikan manfaat kepada kita atas ilmu dan amal mereka. Amiiin,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nihayatuz Zein, [Bandung, Al-Maarif: tanpa catatan tahun], halaman 7).

Pandangan serupa juga dikemukakan oleh Syekh M Ibrahim Al-Baijuri. Menurutnya, jalan terang dan keistiqamahan Imam Junaid Al-Baghdadi di jalan hidayah patut menjadi teladan. Ilmu dan amalnya dalam bidang tasawuf membuat Imam Junaid layak menjadi pedoman.

وقوله كذا أبو القاسم كذا خبر مقدم وأبو القاسم مبتدأ مؤخر أي مثل من ذكر في الهداية واستقامة الطريق أبو القاسم الجنيد سيد الطائفة علما وعملا ولعل المصنف رأى شهرته بهذه الكنية ولو قال جنيدهم أيضا هداة الأمة لكان أوضح 

Artinya, “Perihal perkataan ‘Demikian juga Abul Qasim’, ‘demikian juga’ adalah khabar muqaddam atau predikat yang didahulukan. ‘Abul Qasim’ adalah mubtada muakhkhar atau subjek yang diakhirkan. Maksudnya, seperti ulama yang sudah tersebut perihal hidayah dan keistiqamahan jalan adalah Abul Qasim, Junaid, pemimpin kelompok sufi baik dari sisi ilmu maupun amal. Bisa jadi penulis memandang popularitas Junaid melalui gelarnya. Kalau penulis mengatakan, ‘Junaid juga pembimbing umat’, tentu lebih klir,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyah Tuhfatil Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 89).

Meskipun sebagai seorang imam sufi di zamannya, Junaid Al-Baghdadi tidak meminggirkan sisi fiqih dalam kesehariannya. Artinya, ia cukup proporsional dalam menempatkan aspek fiqih (lahiriyah) dan aspek tasawuf (batiniyah) di saat kedua aspek ini bersitegang dan tidak berada pada titik temu yang harmonis di zamannya.

Di zamannya, banyak ulama terjebak secara fanatik di satu kutub yang sangat ekstrem, yang faqih dan yang sufi. Banyak ulama mengambil aspek fikih dalam syariat Islam, tetapi menyampingkan aspek tasawuf dalam syariat. Sebaliknya pun terjadi, banyak ulama mengambil jalan sufistik, tetapi menyampingkan aspek fiqih dalam syariat.

Junaid sendiri bahkan ahli fiqih. Ia juga seorang mufti yang mengeluarkan fatwa berdasarkan mazhab Abu Tsaur, salah seorang sahabat Imam Syafi’i. Baginya, jalan menuju Allah tidak dapat ditempuh kecuali oleh mereka yang mengikuti sunnah Rasulullah SAW sebagai keterangan Al-Baijuri berikut ini.

وكان الجنيد رضي الله عنه على مذهب أبي ثور صاحب الإمام الشافعي فإنه كان مجتهدا اجتهادا مطلقا كالإمام أحمد ومن كلام الجنيد الطريق إلى الله مسدود على خلقه إلا على المقتفين آثار الرسول صلى الله عليه وسلم ومن كلامه أيضا لو أقبل صادق على الله ألف ألف سنة ثم أعرض عنه لحظة كان ما فاته أكثر مما ناله ومن كلامه أيضا إن بدت ذرة من عين الكرم والجود ألحقت المسيئ بالمحسن

Artinya, “Imam Junaid dari sisi fiqih mengikuti Abu Tsaur, salah seorang sahabat Imam Syafi’i. Abu Tsaur juga seorang mujtahid mutlak seperti Imam Ahmad. Salah satu ucapan Imam Al-Junaid adalah, ‘Jalan menuju Allah tertutup bagi makhluk-Nya kecuali bagi mereka yang mengikuti jejak Rasulullah SAW,’ ‘Kalau ada seorang dengan keimanan sejati yang beribadah ribuan tahun, lalu berpaling dari-Nya sebentar saja, niscaya apa yang luput baginya lebih banyak daripada apa yang didapatkannya,’ dan ‘Bila tumbuh bibit kemurahan hati dan kedermawanan, maka orang jahat dapat dikategorikan dengan orang baik,’” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyah Tuhfatil Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 89-90).

Keterangan Al-Baijuri menjelaskan sikap sufisme Junaid Al-Baghdadi, yaitu tasawuf sunni. Jalan ini yang diambil oleh Junaid Al-Baghdadi karena banyak pengamal sufi di zaman itu terjebak pada kebatinan dan bid’ah yang tidak bersumber dari sunnah Rasulullah SAW. Oleh karena itu, Imam Junaid layak menjadi panutan NU dari sisi tasawuf karena tetap berpijak pada sunnah Rasulullah SAW. 

وقوله هداة الأمة أي هداة هذه الأمة التي هي خير الأمم بشهادة قوله تعالى كنتم خير أمة أخرجت للناس فهم خيار الخيار لكن بعد من ذكر من الصحابة ومن معهم والحاصل أن الإمام مالكا ونحوه هذاة الأمة في الفروع والإمام الأشعري ونحوه هداة الأمة في الأصول أي العقائد الدينية والجنيد ونحوه هداة الأمة في التصوف فجزاهم الله عنا خيرا ونفعنا بهم 

Artinya, “Perkataan ‘pembimbing umat’ maksudnya adalah pembimbing umat Islam ini, umat terbaik sebagaimana kesaksian firman Allah SWT dalam Al-Qur’an ‘Kalian adalah sebaik-baik umat yang hadir di tengah umat manusia.’ Mereka para imam itu adalah orang pilihan di tengah umat terbaik tetapi derajatnya di bawah para sahabat Rasulullah dan tabi’in. walhasil, Imam Malik dan fuqaha lainnya adalah pembimbing umat dalam bidang furu’ atau fiqih. Imam Asy’ari dan mutakalimin sunni lainnya adalah pembimbing umat dalam bidang ushul atau aqidah. Imam Junaid dan sufi lainnya adalah pembimbing umat dalam bidang tasawuf. Semoga Allah membalas kebaikan mereka dan semoga Allah memberikan manfaat kepada kita atas ilmu dan amal mereka,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyah Tuhfatil Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 90).

Imam Junaid juga menyayangkan sikap naif sebagian kelompok sufi yang mengabaikan realitas dan aspek lahiriyah. Menurutnya, sikap naif sekelompok sufi dengan mengabaikan sisi lahiriyah mencerminkan kondisi batinnya yang runtuh seperti kota mati tanpa bangunan.

وكان رضي الله عنه يقول إذا رأيت الصوفي يعبأ بظاهره فاعلم أنه باطنه خراب

Artinya, “Imam Junaid RA mengatakan, ‘Bila kau melihat sufi mengabaikan lahiriyahnya, ketahuilah bahwa batin sufi itu runtuh,’” (Lihat Syekh Abdul Wahhab As-Syarani, At-Thabaqul Kubra, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 85).

Sebaliknya, ia juga menyayangkan sekelompok umat Islam yang hanya mengutamakan sisi lahiriyah melalui formalitas hukum fiqih dengan mengabaikan sisi batiniyah yang merupakan roh dari kehambaan manusia kepada Allah.

Walhasil, Imam Junaid Al-Baghdadi adalah ulama abad ke-3 H yang mempertemukan fiqih dan tasawuf di saat keduanya tidak pernah mengalami titik temu. Sikap proporsional Imam Junaid seperti ini sejalan dengan pandangan NU yang tawasuth, tawazun, dan i’tidal, yaitu dalam konteks ini mempertahankan dengan gigih syariat Islam melalui fiqih sekaligus menjiwainya dengan nilai-nilai tasawuf sehingga tidak ada penolakan terhadap salah satunya. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Rabu 22 Agustus 2018 6:0 WIB
O. Hulaemi, Ajengan Kuntet dari Garasi
O. Hulaemi, Ajengan Kuntet dari Garasi
Kehadiran majalah ini menjadi penting karena di Tasikmalaya pada saat itu terdapat pula kumpulan para ulama yang didukung oleh pemerintah yaitu Perkumpulan Guru Ngaji (PGN) yang didirikan oleh Bupati Tasikmalaya yaitu R.A.A. Wiratanuningrat. Ulama yang ada dalam organisasi ini dikenal juga dengan sebutan ulama Idhar. Ulama Idhar menerbitkan pula majalah yang bernama Al-Imtisal.

Antara ulama NU dan ulama Idhar menujukkan adanya persaingan. Kedua kelompok ulama sering berpolemik dalam hal masalah keagamaan dan politik khususnya dalam kaitan dengan sikap terhadap pemerintah. Persaingan ini nampak dari isi majalah Al-Mawa’idz dan Al-Imtisal yang kadang-kadang terjadi polemik. Dalam majalah Al-Mawaidz nama Pak Emi disamarkan menjadi nama K. Kuntet dari Garage (garasi).

Beberapa orang menyangka nama itu adalah Kiai Buntet dari Cirebon. Padahal nama itu adalah nama samaran yang diberikan oleh Sutisna Senjaya kepada Pak Emi yang berarti kiai pendek, kecil yang ngantor di garasi (garage bahasa Belanda)” karena Al-Mawaidz berkantor menyewa di garasi.

Pak Emi, ketika Sutisna Senjaya diminta para kiai untuk menjadi ketua NU, ia meminta Pak Emi untuk mendampinginya. Ia kemudian menjadi Sekretaris NU Cabang Tasikmalaya di samping mengurusi Majalah Al-Mawaidz. 

Ayah Pak Emi lahir di Beber, Cirebon setelah keluar. Setelah keluar dari Verpoleng (SD zaman Belanda, ayahnya menginginkan dia untukk menjadi pegawai pemerintah. Hal itu berbeda dengan ibunya yang menginginkan Pak Emi menjadi seorang ajengan. 

Keluar dari sekolah pernah bekerja sebagai juru tulis di pabrik pad Cikampek dengan gaji f 15 (lima belas ferak) sebulan, tambah bonus 1 sen saru dacin. Tiap hari bisa mengahasilkan 50 SM 100 dacm. Penghasilannya untung untuk ukuran waktu itu sebab harga beras waktu itu hanya 4 sen/kg, daging 6 sen/kg dan ikan 4 sen/kg. 

Baru beberapa bulan jadi juru tulis di sana kemudian ditarik oleh orang tua lalu dimasukkan ke Pesantren Cihaur, Ciawi Gebang, Kuningan dari tahun 1922 sampai tahun I925. Pindah ke Pesantren Ciwaringin disana sampai tahun 1928. Bulan Rayagung pindah lagi ke Pesantren Cikalang, Tasikmalaya, bulan Jumadil awal menikah di Cikalang tanpa memberitahu orang tua di Cirebon.

Ayahanda agak “bendu” sebab ayahnya sudah punya janji dan akan dikawinkan dengan putri Ajengan Amin, kepada adik yang menikah dengan A. Sanusi Catayan, Sukabumi. 

Waktu pondok di Ciwaringin H. Maemunah IH. Irsyad pemah menitipkan anaknya dan beliaupun membcri bekal. Temyata tahu belakangan beliau ada maksud mengambil mantu kepada Pak Emi, Pak Emi panjang lebar menerangkan tentang istrinya yang besar jasanya dalam meniti karier beliau selanjutnya. (Abdullah Alawi)

Selasa 21 Agustus 2018 3:34 WIB
Kepahlawanan Ajengan Ruhiat Cipasung
Kepahlawanan Ajengan Ruhiat Cipasung
Siang itu, pria berumur 34 tahun pergi ke alun-alun Tasikmalaya. Dia kemudian berdiri tegap di atas babancong, podium terbuka yang tak jauh dari pendopo kabupaten. Ia berpidato, menyatakan dengan tegas bahwa kemerdekaan yang sudah diraih bangsa Indonesia cocok dengan perjuangan Islam. 

Menurut dia, kemerdekaan harus dipertahankan dan jangan sampai jatuh kembali ke tangan penjajah. Ia meneriakkan pekik merdeka seraya menghunus pedangnya itu.

Dialah Ajengan Ruhiat, tokoh pertama di Tasikmalaya yang melakukan hal itu, tak lama setelah berita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia sampai ke Cipasung. Dialah tokoh NU yang berjuang, bersama kiai-kiai lain untuk membesarkan NU di daerah tersebut. 

Seblumnya, sebagai seorang pejuang, Ajengan Ruhiat dipenjara tak kurang dari empat kali. Pertama, pada tahun 1941 ia dipenjara di Sukamiskin selama 53 hari bersama pahlawan nasional KH Zainal Mustofa. Alasan penahanan ini karena Pemerintah Hindia Belanda cemas melihat kemajuan Pesantren Cipasung dan Sukamanah yang dianggap dapat menganggu stabilitas kolonial. 

Kedua, bersama puluhan kiai ia dijebloskan ke penjara Ciamis. Ia hanya tiga hari di dalamnya karena keburu datang tentara Jepang yang mengambil alih kekuasaan atas Hindia Belanda tahun 1942.

Ketiga, tahun 1944 ia dipenjara oleh pemerintah Jepang selama dua bulan, sebagai dampak dari pemberontakan KH Zainal Mustofa di Sukamanah. Pada saat itu, Ajengan Cipasung dan Sukamanah lazim disebut dua serangkai dan sama-sama aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU).

Keempat, ia dijebloskan ke penjara Tasikmalaya, lalu dipindahkan ke Sukamiskin selama 9 bulan pada aksi polisional kedua tahun 1948-1949, dan dibebaskan setelah penyerahan kedaulatan. 

Dari beberapa kali penangkapannya, membuktikan bahwa Ajengan Ruhiat sangat tidak kooperatif terhadap penjajah Belanda sehingga sangat dibenci. Sebelum masuk penjara yang terakhir itu, sepasukan tentara Belanda datang ke pesantren pada waktu ia sedang Shalat Ashar bersama tiga orang santri. Tanpa peringatan apapun, tentara Belanda memberondong tembakan. Ajengan Ruhiat selamat, tapi dua santrinya tewas seketika. 

***

Ajengan Ruhiat adalah ayahanda Rais Aam PBNU 1994-1999 KH Ilyas Ruhiat atau kakeknya pelukis dan penyair Acep Zamzam Noor. Dalam NU, Ajengan Ruhiat pernah jadi A’wan Syuriyah PBNU  periode 1954-1956 dan 1956-1959.

Ajengan Ruhiat konsisten memilih jalur pesantren sebagai perjuangan sebagai pengabdiannya, bahkan sebagai tarekatnya. “Tarekat Cipasung adalah mengajar santri,” demikian kesaksian HM. Ihrom, salah seorang pengagum Ajengan Ruhiat dari Paseh, Tasikmalaya. 

Ajengan Ruhiat lahir 11 Nopember 1911 dan wafat 28 Nopember 1977. Hari wafatnya bertepatan dengan 17 Dzulhijjah 1397. 

Kiai Ruhiat masuk NU sekitar tahun 1933 disamping mengelola pesantren. Inovasi pendidikan pesantren Cipasung tampak pada tahun 1935 dengan didirikannya Madrasah Diniyyah. Sekolah agama pertama di Pesantren Cipasung. Selanjutnya, pada tahun 1937 didirikan Kursus Kader Muballighin wal Musyawwirin (KKMM). (Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG