IMG-LOGO
Risalah Redaksi

Kepada Siapa Para Pesohor Berhijrah dan Belajar Agama?

Jumat 14 September 2018 13:45 WIB
Bagikan:
Kepada Siapa Para Pesohor Berhijrah dan Belajar Agama?
Ilustrasi (via superprof.de)
Kehidupan masa kini menawarkan berbagai macam kenikmatan yang bisa diteguk oleh siapa saja. Perzinaan menjadi sesuatu yang dianggap normal. Narkoba, minuman keras, perjudian, dan hal-hal lain yang dianggap melanggar norma dan hukum, bisa diakses dengan gampang. Dunia adalah kebebasan. Siapa pun yang memiliki uang atau akses, berhak menikmatinya. Jalan hidup inilah yang diyakini dan dipraktikkan oleh sebagian dari para pesohor yang memuja kebebasan dan hedonisme.

Di antara para pesohor ada yang tertangkap menggunakan narkoba, ada yang video pornonya beredar di masyarakat. Tak sedikit pula yang bergonta-ganti pasangan. Berpakaian seksi yang memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh dan bagian tubuh yang terbuka dianggap sebagai hal yang lumrah untuk menarik perhatian publik. Semuanya atas nama hak untuk melakukan apa saja karena manusia memiliki otoritas penuh atas tubuh dan pikirannya.

Bagi pemuja ideologi kebebasan, ajaran agama dianggap menjadi penghambat kemajuan. Agama menurut mereka adalah nilai-nilai kuno yang sudah tidak relevan dengan kondisi kekinian. Penganut agama yang taat dipandang sebagai orang-orang kolot. Para pemuja nilai hidup bebas menjadi pelaku dan penyebar kesenangan sesaat. 

Mereka beralasan, hidup tidak boleh dikekang karena membutuhkan kreativitas untuk menghasilkan kreasi baru. Apakah sesungguhnya memang demikian? Apakah kreativitas selalu dimaknai hidup sesukanya, tanpa aturan yang dirasa menghambat seseorang menikmati hidup? Ada beragam jawaban yang bisa disuguhkan. Faktanya banyak pesohor dengan perilaku hidup normal mampu menghasilkan karya yang berkualitas dan disukai oleh publik. 

Berkembangnya individualisme menyebabkan nilai-nilai kebebasan berperilaku berkembang massif. Tak ada lagi kontrol dari masyarakat karena selama dianggap tidak menganggu orang lain, hal tersebut boleh saja dilakukan. Di lingkungan perkotaan, hal tersebut tumbuh subur di mana hubungan masyarakat lebih renggang dibandingkan di pedesaan. Ada pihak yang menginginkan layanan dan ada yang siap menyediakannya. Sebagian pesohor menjadi model dalam pengembangan gaya hidup ini.

Di tengah lingkungan yang selalu mengagungkan sikap hidup hedonis ini, beruntung selalu ada para dai yang berusaha berdakwah untuk mereka. Dan sebagian di antara pelakunya berhasil disadarkan. Orang-orang yang tersadar bahwa kehidupannya penuh kubangan dosa dan kemudian ingin kembali ke jalan yang benar menggunakan istilah hijrah untuk perpindahan ini. Mereka bertobat dan berusaha menjalani kehidupan sesuai ajaran agama. Sebagian yang berhijrah adalah para pesohor.

Pesohor merupakan orang-orang yang memiliki pengaruh terhadap publik. Mereka memiliki jutaan penggemar yang mengawasi seluruh perilakunya. Bukan hanya perilakunya di depan publik, hal-hal yang bersifat pribadi pun menimbulkan ketertarikan. Media pun mengorek-korek apa saja yang kiranya bisa menjadi berita dan disukai penggemarnya. Jika ada perubahan dalam hidupnya, hal tersebut segera saja menarik perhatian. Ada pula sebagian yang mengikuti langkah yang dilakukan, atau minimal mendukungnya. 

Pada masyarakat umum, jumlah mereka yang bertobat atau berusaha menjadi Muslim yang lebih baik lebih banyak lagi, tapi memang mereka tidak banyak disorot. Orang-orang di lingkungan sekitar kita yang sebelumnya cuek soal agama, kini lebih rajin mengaji agama. Status media sosialnya penuh dengan ungkapan religius. Pada perempuan, mereka berusaha memperbaiki penampilannya dengan berjilbab. Jutaan orang pergi berumrah. 

Upaya untuk kembali ke jalan yang benar tentu harus kita syukuri bersama saudara-saudara Muslim yang kembali menemukan makna hidupnya dalam jalan agama layak untuk ditemani dalam proses mereka memperbaiki hidup. Ada orang-orang yang telah belajar agama ketika kecil di pesantren atau tempat lain sebelum mereka masuk ke dunia tersebut sehingga ketika jatuh dalam kehidupan kelam, mereka tahu jalan untuk kembali. Yang terjadi pada banyak orang, bekal pengetahuan agama yang dimiliki sangat kurang. Bahkan untuk hal-hal yang sangat sederhana seperti cara berwudhu yang baik dan bacaan shalat yang benar saja tidak bisa. 

Tanpa pendampingan, bisa saja mereka kembali kepada perilaku sebelumnya karena proses tersebut sangat berat. Semangat saja tidak cukup mengingat iman bisa naik atau turun. Dibutuhkan energi besar, ketangguhan, dan konsistensi yang luar biasa untuk bisa bertahan. Hidup yang biasanya penuh dengan kebebasan, kini dibatasi oleh banyak hal. Biasanya bebas tidur kapan saja, kini harus menjalankan shalat sebanyak lima kali dalam sehari. Sebelumnya boleh makan apa saja, kini hanya makanan halal saja yang boleh masuk dalam perut. Jika mental tidak kuat, bisa saja runtuh menghadapi kebiasaan-kebiasaan baru ini. 

Beratnya proses berhijrah ini bisa dilihat dari seorang pesohor yang mengubah perilaku dan penampilannya. Sayangnya, tak lama kemudian, ia kembali berjoget-joget. Konon hal tersebut dilakukan karena kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan. Ini menunjukan bahwa untuk bisa tetap istiqamah memang membutuhkan perjuangan. 

Hal lain yang tak kalah penting adalah, kepada siapa mereka berhijrah ini belajar agama. Ada beberapa kelompok dalam Islam. Bahkan masing-masing kelompok memiliki subkelompok atau organisasi sendiri-sendiri. Ada pengikut Ahlusunnah wal Jama’ah, ada Salafi, Wahabi, Tarbiyah, dan lainnya. Secara organisasi bisa berafiliasi dengan NU, Muhammadiyah, Jamaah Tabligh, Persis, dan lainnya. Tiap aliran memiliki perbedaan dalam sejumlah pandangan keagamaan atau sikap politik. 

Memberi pemahaman bahwa dalam Islam terdapat banyak pendapat terkait satu persoalan atau masalah khilafiyah juga sangat penting. Jangan sampai, orang-orang yang baru berhijrah ini memiliki pandangan sempit bahwa ajaran dari gurunya saja yang benar. Pandangan Islam yang lainnya penuh dengan bid’ah, sesat atau bahkan kafir. Hal ini akan menjadi persoalan baru dalam interaksi antarsesama umat Islam. Kasus ini pernah menimpa seorang pesohor yang mengaku sudah bertobat. Penampilannya berubah total. Jenggot tebal dan panjang menghiasi wajahnya. Ia berpendapat di depan media bahwa bacaan Alfatihah yang dikirimkan kepada orang yang sudah meninggal tidak akan sampai. Pernyataan kontroversial tersebut akhirnya memicu perdebatan publik sehingga dia harus minta maaf.

Ada yang kehilangan pekerjaan karena berhijrah, tetapi ada pula yang mendapatkan pekerjaan baru untuk produk-produk yang mengambil segmen Muslim. Beberapa pesohor perempuan yang sebelumnya tampil menantang kemudian bertobat, mengubah penampilannya dengan menutup aurat. Lalu, ia menjadi bintang iklan untuk produk-produk kosmetik perempuan. Sebagian keluar sepenuhnya dari dunia yang membesarkannya dengan membangun usaha baru, sementara yang lain tetap menggelutinya dengan sejumlah pembatasan.

Sebagain dari mereka istiqamah dalam berhijrah dan mendalami Islam sehingga pengetahuannya terus meningkat, lalu menjadi dai dengan memanfaatkan posisinya yang sudah dikenal publik. Mengisahkan perjalanan hidupnya kepada orang banyak dan mengajak orang lain untuk bergabung dalam barisan yang menuju kebaikan. Hijrahnya mendorong sebagian pengikutnya untuk mengambil tindakan yang sama. Banyak pula yang kemudian hidup sebagai orang normal yang tidak lagi disorot oleh publik. 

Kini, tantangannya adalah bagaimana mewarnai lingkungan para pesohor beraktivitas dengan hal-hal yang lebih religius, yang sesuai dengan nilai-nilai agama. Mereka dapat menjadi pelaku dakwah yang membantu membantu menyadarkan orang-orang untuk kembali ke jalan yang benar. Dengan status sebagai pesohor, dakwah yang mereka lakukan dapat berjalan dengan lebih maksimal. (Achmad Mukafi Niam)

Tags:
Bagikan:
Ahad 9 September 2018 16:15 WIB
Mewaspadai Terulangnya Krisis Ekonomi
Mewaspadai Terulangnya Krisis Ekonomi
Ilustrasi (eadaily.com)
Nilai tukar dolar terhadap rupiah sempat mencapai level psikologis 15 ribu rupiah per dolar AS baru-baru ini. Sejumlah kekhawatiran muncul, apakah Indonesia akan kembali jatuh dalam kubangan krisis ekonomi seperti tahun 1998 lalu yang memporakporandakan kehidupan ekonomi dan sosial. Turki, salah satu negara yang dianggap berhasil dalam melakukan pembangunan, kini sedang mengalami kesulitan ekonomi. Nilai tukar mata uang Turki, lira telah turun sekitar 70 persen dari awal tahun 2018 saja. Ada keresahan bahwa situasi yang terjadi di Turki akan merembet ke Indonesia. Sekalipun sementara nilai tukar dolar terhadap rupiah bisa dikendalikan di bawah 15 ribu, suatu saat bisa bergejolak lagi.

Perubahan nilai tukar sangat mempengaruhi kondisi perekonomian terkait dengan daya beli. Jika kita memiliki uang 100 juta, saat nilai tukar dolar dengan rupiah 14 ribu, maka kita memiliki uang sebanyak 7.142,86 dolar. Saat nilai kurang dolar naik menjadi 15 ribu, maka nilai uang kita tinggal 6.666,67 dolar atau sudah berkurang sebesar 458,19 dolar, sekalipun tetap 100 juta pada mata uang rupiah. 

Jika kita punya pinjaman seribu dolar, saat kurs 14 ribu rupiah per dolar, maka hutang kita jika dihitung dalam mata uang rupiah hanya14 juta rupiah. Saat kurs dolar naik menjadi 15 ribu, utang kita menjadi 15 juta, naik 1 juta rupiah tanpa kita sadari, sekalipun tetap seribu dolar. Naik turunnya nilai tukar menyebabkan kita menjadi lebih kaya atau miskin tanpa kita terasa. 

Saat nilai dolar naik, harga barang-barang yang harus diimpor menjadi lebih mahal. Bukan hanya produk elektronik seperti laptop atau handphone, dan sejumlah barang mewah tetapi Indonesia juga mengimpor berbagai produk pangan seperti gandum, beras, garam, gula, bahkan termasuk kedelai untuk membuat tempe. Masyarakat mengeluh akibat harga barang-barang kebutuhan pokok yang tidak terkendali.

Sebaliknya, produk-produk yang diekspor ke negara lain harganya menjadi lebih mahal jika dihitung dalam mata uang rupiah, sekalipun tetap sama dalam mata uang dolar. Eksporter CPO, karet, garment, elektronik, dan produk lainnya dari Indonesia akan mendapatkan berkah keuntungan tambahan tanpa melakukan satu tindakan apapun.

Pejabat pemerintah berusaha menenangkankan masyarakat bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini berbeda jauh dengan tahun 1998 saat Indonesia mengalami krisis. Kurs saat krisis turun dengan cepat dari 2500 menjadi sekitar 8-10 ribu atau turun 80 persen. Rupiah sempat mencapai 15.500 pada 17 Juni 1998. Cadangan devisa juga dalam posisi yang jauh lebih baik, saat itu sekitar 23 miliar dollar sedangkan saat ini menjadi 118 miliar dollar. Inflasi tahun 1998 sebesar 77.6 persen sedangkan antara Januari-Agustus 2018 ini, inflasi hanya 2.31 persen. Daftar perbedaan tersebut masih bisa dibuat lebih panjang.

Berbagai perlindungan sosial juga telah diterapkan seperti adanya jaminan kesehatan yang diselenggarakan oleh BPJS, kartu keluarga sejahtera (KKS), biaya operasional sekolah (BOS) atau tunjangan lainnya yang diberikan oleh pemerintah daerah sesuai dengan kemampuan anggaran seperti Kartu Pintar untuk para pelajar di DKI Jakarta. Hal ini membuat daya beli masyarakat tetap terjaga dari berbagai gejolak. Kualitas pelayanan publik dan keberadaan infrastruktur Indonesia jauh lebih baik dari 20 tahun lalu. Sejauh ini, situasi tetap terkendali. 

Tahun ini merupakan tahun politik. Pihak oposisi pemerintahan memanfaatkan gejolak nilai tukar sebagai bahan untuk melakukan serangan terhadap pemerintah. Jumlah utang negara yang terus membengkak juga dijadikan alasan bahwa rezim kali ini menambah pinjaman yang bisa membahayakan negara. Penurunan jumlah orang miskin yang persentasenya sangat rendah juga menjadi kritik. Selalu ada hal yang bisa menjadi bahan kritikan kepada pemerintah. 

Sementara itu, pihak pemerintah berusaha membangun persepsi bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia baik-baik saja. Permasalahan ada pada faktor eksternal seperti kebijakan penaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat. Akibatnya, dolar yang sebelumnya diinvestasikan di berbagai belahan dunia kembali balik kandang ke negari Paman Sam karena memberikan imbal hasil investasi yang lebih tinggi dengan tingkat keamanan investasi yang lebih baik. Jika dibandingkan dengan negara lain, penurunan mata uang Indonesia masih jauh lebih terkendali dibandingkan dengan negara lain seperti Argentina (- 119%), Turki (-77%), Afsel (-26%), Brazil (-25%), dan India (-12%). Mata uang Indonesia hanya turun sekitar 11 persen.

Faktor lain yang menjadi penyebab gejolak mata uang adalah kebijakan proteksionisme Trump yang mengakibatkan terjadinya perang dagang antara mitra dagang Amerika Serikat, yaitu China dan Uni Eropa. Situasi ini menyebabkan ketidakstabilan dan ketidakpastian yang menganggu sistem perdagangan terbuka yang selama ini sudah berjalan. Amerika Serikat menerapkan tarif impor barang yang tinggi pada sejumlah produk yang berasal dari China dan Uni Eropa. Kebijakan tersebut kemudian dibalas atas sejumlah item dari AS yang masuk ke masing-masing negara. 

Sekalipun perang dagang hanya berlangsung di beberapa negara besar, tetapi pengaruhnya bisa melebar ke mana-mana. Sistem produksi rantai global menyebabkan hambatan produksi di satu wilayah menyebabkan permasalahan lain. Dalam sistem ini, sejumlah item atau komponen produksi diproduksi di berbagai dunia dengan mencari ongkos produksi yang paling efisien. Komponen-komponen tersebut dirakit di satu tempat untuk menjadi produk akhir, yang kemudian didistribusikan kembali ke seluruh dunia. 

Sebuah telepon cerdas merupakan produk akhir dari berbagai komponen yang berbagai negara. Transistor mungkin berasal dari Korea Selatan, item lain bisa berasal dari Indonesia, Taiwan, Malaysia atau negara lain. China menjadi tempat produk akhir yang kemudian oleh perusahaan pemegang merek yang berasal dari Amerika Serikat, dijual ke seluruh dunia. Adanya hambatan lalu lintas produksi karena tarif menyebabkan seluruh rantai produksi dari hulu ke hilir menjadi tidak lancar. 

Situasi ekonomi dunia banyak tergantung pada China dan Amerika Serikat. China menyerap banyak bahan baku untuk barang-barang yang diproduksi di negari tirai bambu tersebut. Indonesia mengekspor batubara, pulp dan kayu, karet, produk nabati dan hewani serta lainnya ke China untuk memenuhi kebutuhan industri di sana. Saat permintaan barang hasil produksi dari China turun atau dihambat, maka permintaan bahan baku juga menurun. 

Krisis ekonomi merupakan sesuatu yang tak dapat dikendalikan sepenuhnya. Amerika Serikat sendiri pernah mengalami krisis ekonomi pada 2008 sekalipun di negeri tersebut, terdapat ekonom paling pintar sedunia. Sekalipun perangkat pemerintahan untuk mengendalikan ekonomi telah berjalan dengan baik dibandingkan dengan negara-negara lain. Mereka juga telah belajar dari Depresi Besar yang terjadi pada 1929, toh krisis tetap terjadi.

Penjaga kondisi ekonomi Indonesia yang merupakan sebuah tim yang terdiri dari Bank Indonesia (BI), Kementerian Keuangan, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia menentukan kebijakan moneter, Kementerian Keuangan merencanakan dan mengatur besarnya pendapatan dan belanja pemerintah, sedangkan OJK bertugas mengawasi lembaga keuangan di Indonesia. 

Mereka bagai sebuah tim yang mengendalikan kendaraan dalam sebuah perjalanan penuh liku dan jalanan yang bergelombang. Ngebut akan cepat sampai, tetapi menimbulkan risiko kecelakaan, terlalu berhati-hati, tentu akan lambat sampai di tujuan. Saat situasi ekonomi sedang kurang stabil, BI menaikkan suku bunga acuran sehingga masyarakat lebih suka menyimpan uangnya di bank dibandingkan membelanjakannya atau jika dalam denominasi dolar, maka uang tersebut tetap disimpan di Indonesia, tidak dibawa ke luar negeri. Kementerian Keuangan menentukan, mana saja proyek yang perlu ditunda dan mana yang harus tetap dilaksanakan sedangkan OJK mengawasi agar lembaga keuangan tetap terkelola risikonya. Kombinasi berbagai kebijakan tersebut menentukan arah dan kecepatan kebijakan dalam sektor keuangan.

Indonesia telah banyak belajar dari krisis 1998. Tata kelola lembaga-lembaga keuangan telah diperbaiki, tingkat risiko lebih terkelola. Kondisi perekonomian juga jauh lebih baik. Langkah-langkah antisipatif lainnya telah dilakukan. Namun kewaspadaan tinggi harus tetap dijaga. Dunia yang semakin terhubung menyebabkan krisis yang terjadi di satu tempat dengan cepat menyebar ke tempat lainnya. Amerika Serikat, Yunani, Argentina dan lainnya telah mengalami pahitnya krisis ekonomi. Siapapun dapat mengalami hal ini jika tidak mampu mengelola ekonomi dengan baik. Warga dengan pendapatan terbawah yang paling akan terdampak. (Achmad Mukafi Niam)

Sabtu 1 September 2018 13:30 WIB
Sukses Asian Games, Momentum Perbaikan Olahraga Indonesia
Sukses Asian Games, Momentum Perbaikan Olahraga Indonesia
Ilustrasi (Antaranews)
Rakyat Indonesia kini dilanda eufaria Asian Games. Ada kebanggaan sebagai sebuah bangsa bahwa kita memiliki prestasi olahraga yang baik di tingkat Asia. Target 16 medali emas ternyata bisa terlampaui dengan perolehan 30 medali emas. Cabang pencak silat yang merupakan olahraga bela diri asli Indonesia memberi sumbangan besar terhadap perolehan emas sebanyak 14 buah atau mencapai komposisi 46.67 persen. Cabang yang tak diunggulkan pun ternyata memberi sumbangan emas, yaitu balap sepeda gunung yang meraih dua emas. Para atlet Indonesia berusaha sekuat tenaga untuk mencapai prestasi terbaik guna mengharumkan nama bangsa. 

Kegembiraan ini sungguh wajar, mengingat selama bertahun-tahun dalam berbagai ajang olahraga internasional, tak banyak medali emas yang berhasil dibawa pulang. Bahkan dalam SEA games, Indonesia bukanlah negara yang selalu berada di puncak klasemen, sekalipun ada jutaan anak muda berbakat dalam bidang olahraga. SEA Games terakhir yang diselenggarakan di Singapura pada 2015 lalu, kontingen Indonesia hanya berada pada peringkat 5, di bawah negara kecil seperti Singapura, Vietnam dan Malaysia, serta Thailand yang menjadi juara umum. Pada Asian Games di Guangzou China (2010) dan Incheon Korsel (2014), Indonesia masing-masing hanya mendapatkan empat emas. Prestasi saat ini mengobati kekecewaan yang terus-menerus dirasakan dalam bidang olahraga.

Capaian saat ini tentu saja harus kita syukuri dengan baik. Posisi sebagai tuan rumah memberikan keuntungan tersendiri karena adanya dukungan publik dan para atletnya dipersiapkan dengan lebih baik. Strategi-strategi sukses saat bisa menjadi pijakan untuk keberhasilan Indonesia dalam ajang olahraga internasional berikutnya seperti Olimpiade Tokyo tahun 2020. Ujian sebenarnya bagi tim kita adalah ketika berkompetisi di negara lain. Di bawah tekanan pendukung dari negara lain dan dalam situasi yang tidak diakrabinya. Jika kita mampu, prestasi tersebut akan lebih membanggakan lagi. Jangan sampai kita hanya serius mengelola olahraga saat menjadi tuan rumah, tetapi melempem saat kompetisi diselenggarakan di negara lain.

Dari prestasi olahraga, sebuah bangsa membangun nasionalismenya. Jutaan orang menyambut juara piala dunia di pusat kota. Stadion selalu penuh ketika tim kebanggaan nasional bertanding. Dan bagi yang tidak bisa datang langsung, mereka menyaksikannya melalui layar kaca atau streaming dari telepon cerdasnya. Ungkapan kebangaan disampaikan melalui media sosial saat kemenangan tiba. Merekalah pahlawan masa kini yang mengangkat harga diri sebuah bangsa.   

Dalam  strategi kompetisi di arena internasional, cabang-cabang olahraga yang sudah kuat inilah yang harus diperkuat agar perolahen medali emasnya banyak. Ini merupakan salah satu keunggulan bersaing yang secara khas dimiliki negara-negara tertentu. Para juara lari dikenal banyak yang berasal dari negara-negara di Afrika, Sepak bola, tentu saja semuanya paham, bahwa tradisi sepak bola sangat kuat di Amerika latin sementara Amerika Serikat dengan kompetisi basket yang sudah mapan, selalu mendominasi olahraga ini. Indonesia yang cukup kuat adalah bidang bulu tangkis dan pencak silat. Saatnya mengidentifikasi bidang-bidang lainnya yang memiliki potensi untuk dikembangkan dengan baik karena tak mungkin kita bisa unggul dalam semua cabang olahraga. 

Untuk mencapai prestasi olahraga dalam tingkat internasional, dibutuhkan komitmen kuat dalam jangka panjang. Para atlet harus berlatih keras sepanjang hari selama bertahun-tahun. Perbedaan dalam hitungan detik dalam sebuah lari 100 meter dihasilkan dari latihan ketat yang membutuhkan ketahanan fisik dan mental. Selain itu juga dibutuhkan komitmen kuat negara untuk memberikan dukungan bagi pengembangan atlet.

Negara memiliki peran penting dalam pembinaan atlet dan penyediaan anggaran. Sebelum mencapai level nasional, atlet-atlet muda merupakan hasil seleksi dari berbagai turnamen lokal seperti ajang pekan olahraga di tingkat daerah atau nasional atau dari kompetisi yang diselenggarakan masing-masing cabang olahraga tersebut. Merekalah yang akan diseleksi untuk terus dikembangkan sehingga kemampuannya semakin terasah. Dan untuk itu dibutuhkan pendanaan yang memadai guna mendukung berbagai kebutuhan yang diperlukan. Tak mungkin atlet diminta mencari pendanaan sendiri sekaligus tiap hari berlatih. Hasilnya tentu akan kurang maksimal. 

Bahkan, kehidupan pascakarir sebagai atlet selesai pun harus dipikirkan oleh pemerintah. Kepastian masa depan setelah mereka gantung sepatu akan membuat para atlet memiliki komitmen penuh untuk menekuni karir olahraga yang berusia pendek. Atlet mencapai puncak prestasinya pada usia muda. Pada usia di 30 tahunan, ketika sejumlah bidang karir baru mulai menanjak, banyak atlet yang sudah tidak dapat berkompetisi dengan mereka yang berusia lebih muda. 

Kisah sedih dapat dibaca di berbagai laporan media yang mengabarkan, para atlet yang dipuja-puja saat meraih prestasi dalam ajang olahraga internasional ternyata hidupnya merana di usia senja. Mereka mengalami kesulitan ekonomi karena tidak ada yang memperhatikan nasibnya. Contoh-contoh seperti ini akan membuat keluarga yang memiliki anak dengan bakat sebagai atlet akan enggan mengarahkan dan mendukung anak tersebut sebagai atlet. Beberapa upaya perbaikan kebijakan telah diupayakan seperti menawari para peraih emas sebagai pegawai negeri sipil (PNS) atau memberi bonus besar atas prestasi yang diraih sang atlet. Mantan atlet berprestasi kini juga diperhatikan nasibnya dengan berbagai tunjangan untuk membantu kehidupannya.  

Olahraga dapat menghasilkan kehidupan yang layak bagi para pemain yang terlibat di dalamnya asal dikelola dengan baik. Di sejumlah negara maju, olahraga telah dikemas sebagai salah satu industri hiburan yang menghasilkan pemasukan uang bagi para pemainnya. Kompetisi sepak bola, tenis, basket, tinju dan beberapa lainnya adalah contohnya. Para pemainnya hidupnya sejahtera dan menjadi pesohor yang menjadi pujaan banyak orang. Para pemain sepak bola kelas dunia memiliki pendapatan mencapai miliaran rupiah per pekannya. Pemain tenis peringkat atas dunia kekayaan tak kalah dari penyanyi papan atas dunia. Para pemain basket bergelimangan harta dengan beragam sumber penghasilan yang tidak hanya dari gaji sebagai pemain, bonus dan dari sponsor. Pemain sepak bola Rolando memuncaki posisi sebagai atlet dengan pendapatan tertinggi tahun 2017 dengan penghasilan 1.24 triliun rupiah. 

Untuk menjadi sebuah industri yang menghasilkan banyak uang dan menghasilkan dampak ikutan yang besar, ajang olahraga harus dikelola dengan baik sehingga enak untuk dinikmati. Upaya tersebut tidaklah mudah. Kompetisi sepak bola di Indonesia masih menimbulkan ketakutan kepada sebagian masyarakat akan potensi kerusuhan yang ditimbulkan oleh pendukung tim yang kalah. Masih banyak PR untuk menjadikan olahraga sebagai sebuah pertunjukan yang enak ditonton oleh siapa saja, menjadi hiburan bagi keluarga yang mana anak-anak pun bisa ikut dengan aman, bukan malah menimbulkan ketakutan. 

Sejumlah negara atau daerah berhasil menjadikan olahraga untuk mendorong industri wisatanya seperti maraton di Tokyo, New York, Berlin, dan lainnya. Para peserta dari negara asing berdatangan untuk mengikuti lomba tersebut. Tour de France menjadi ajang balap sepeda yang ditunggu-tunggu dan kota yang dilaluinya  selalu dipadati penonton. Ajang balap mobil Formula 1 menjadi peristiwa yang ditunggu-tunggu penonton di seluruh dunia. Dalam tingkat lokal, lomba maraton di Bali, Borobudur, Jakarta yang belakangan ini diinisiasi oleh pemerintah daerah untuk memperkenalkan daerahnya.

Keberhasilan atlet profesional dapat menginspirasi generasi di bawahnya untuk meraih sukses dengan meniti karir profesional dalam bidang olahraga. Sementara bagi masyarakat umum, tubuh bugar mereka bisa dipromosikan sebagai teladan untuk aktif berolahraga. Remaja dan anak muda merupakan orang-orang yang selalu mencari teladan dan mereka berusaha menirunya. Teladan dari bidang olahraga memiliki nilai positif yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pesohor dari dunia hiburan yang hidupnya selalu penuh drama, seringkali lebih berupa upaya pengembangkan pencitraan daripada prestasi yang sesungguhnya. Pada dunia olahraga, dengan kompetisi yang ketat, siapa berprestasi dan yang tidak, ketahuan dengan jelas.

Energi yang meluap-luap  para remaja dapat diarahkan ke hal-hal yang sifatnya produktif. Aktivitas olahraga mendorong sikap sportif dan menambah pertemanan. Aktivitas olahraga dapat meningkatkan prestasi akademik. Mereka yang rajin berolahraga memiliki tubuh yang lebih bugar dan lebih mampu berkonsentrasi, sehingga capaian akademik juga meningkat.  

Penyakit-penyakit paling mematikan saat ini bukanlah diakibatkan oleh bakteri atau virus yang menular, melainkan penyakit karena gaya hidup seperti jantung, stroke, dan diabetes. Risiko terhadap penyakit tersebut sesungguhnya bisa dikurangi dengan rutin berolahraga. Apalagi saat ini, kemudahan teknologi semakin membuat orang tidak perlu bergerak. Ke mana-mana kita menggunakan kendaraan bermotor. Beragam pekerjaan di rumah seperti mencuci, membersihkan rumah, memasak, dan lainnya semuanya bisa dilakukan hanya menekan tombol Akibatnya, tubuh manusia yang didesain untuk selalu bergerak menjadi tidak terlatih dan akibatnya, berbagai penyakit muncul. Pada negara yang penduduknya sehat, biaya kesehatan yang harus dikeluarkan pribadi atau pemerintah melalui layanan jaminan kesehatan akan terkendali. Pada masyarakat yang sehat, mereka memiliki produktifitas yang tinggi. 

Olahraga menjadi hulu dari masyarakat yang sehat. Berbagai kompetisi olahraga merupakan sarana untuk mendorong masyarakat berperilaku hidup sehat. Para pemain olahraga dapat menjadi teladan bagi masyarakat untuk berolahraga. Cabang olahraga yang dikemas dengan baik dapat menjadi hiburan bagi masyarakat dan memberikan kesejahteraan bagi para pelakunya. Prestasi yang baik dan memunculkan tradisi berolahraga tidak bisa dicapai dalam jangka pendek, melainkan akumulasi dari ketekunan dan kegigihan, dan kerja sama dari berbagai pemangku kepentingan. Pemerintah memiliki peran sangat penting dengan kebijakan pembinaan dan penganggaran yang baik. Investasi dalam bidang olahraga merupakan salah satu prasyarat memenangkan kompetisi global. (Achmad Mukafi Niam)

Jumat 24 Agustus 2018 9:0 WIB
Memulihkan Lombok, Memulihkan Kemanusiaan
Memulihkan Lombok, Memulihkan Kemanusiaan
Ilustrasi: Tim Medis NU Peduli Kemanusiaan
Gempa besar terjadi berturut-turut sampai tiga kali dalam beberapa waktu terakhir di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Upaya pemulihan yang dilakukan setelah gempa besar pertama dan kedua, kembali runtuh dengan terjadinya gempa besar selanjutnya. Biasanya bencana gempa besar yang terjadi di Indonesia adalah, satu kali gempa besar tetapi tidak diikuti dengan gempa susulan yang sama atau lebih besar. Tak ada kepastian apakah ini gempa besar terakhir pada 19 Agustus lalu akan terulang, namun kejadian ini telah menyebabkan penderitaan yang dialami para korban semakin besar. Apa pun yang terjadi, upaya-upaya pemulihan harus terus dilakukan. 

Indonesia merupakan negara yang rawan gempa karena terletak dalam daerah cincin api, yaitu wilayah di cekungan Samudra Pasifik yang sering mengalami gempa dan letusan gunung berapi. Bahkan Indonesia berada dalam jalur paling aktif dari cincin api tersebut. Tak heran, sejak dahulu wilayah Nusantara sering mengalami gempa. Bencana gempa dalam skala besar setelah tahun 2000 saja telah terjadi di sejumlah daerah antara lain Aceh, Nias, Padang, Bengkulu, Yogyakarta, Ciamis, dan lainnya. Gempa yang kemudian disertai tsunami di Aceh menimbulkan korban paling besar. Lebih dari 230 ribu korban meninggal atau hilang. Triliunan aset rusak berat. Butuh upaya bersama dari semua pihak untuk melakukan rekonstruksi sehingga korban keadaan pulih. 

Desain pemulihan pascabencana yang terjadi di Lombok awalnya mengikuti pola penanganan yang terjadi di tempat lain sebelumnya, yaitu satu gempa besar yang segera selesai, kemudian diiringi gempa-tempa kecil yang besarannya tak terlalu signifikan. Dan demi alasan mempertahankan sektor pariwisata yang kini proporsinya semakin besar dalam perekonomian NTB, status bencana tersebut ditetapkan sebagai bencana lokal. Tiga kali bencana besar membuktikan skenario penanganan awal tidak sesuai dengan keadaan. Rencana baru harus segera disusun agar para korban segera pulih. Status bencana nasional baru diputuskan pada Kamis (23/8).

Pemerintah, lembaga-lembaga kemanusiaan, dan masyarakat yang tidak terdampak bencana bahu-membahu menyingsingkan lengan baju agar mereka yang menjadi korban segera mendapatkan pertolongan sebaik-baiknya. Tanpa dikomando, begitu gempa besar terjadi, masyarakat dengan segera mengumpulkan bantuan untuk korban bencana. Media yang melaporkan secara terus-menerus dari lokasi kejadian membuat empati meningkat sehingga mendorong mereka untuk memberikan sumbangan. 

Perayaan Idul Kurban dengan semangat untuk berbagi menjadi saat yang tepat ketika ada saudara kita di Lombok membutuhkan dukungan untuk memulihkan diri dari bencana yang terus-menerus datang. Saatnya bertindak. Seberapa pun jumlah sumbangan yang bisa kita berikan, jika diakumulasikan dengan jutaan orang lainnya di Indonesia atau belahan dunia lainnya, akan memberi dampak yang signifikan dalam upaya pemulihan tersebut.

Nahdlatul Ulama melalui NU Care-LAZISNU (Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah) dan Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI NU) dan didukung oleh perangkat organisasi NU lainnya seperti GP Ansor, Fatayat NU, IPNU-IPPNU, Ma’arif NU dan lainnya telah terjun secara langsung ke lokasi-lokasi bencana, berkoordinasi dengan pemerintah setempat dan bekerja sama dengan kepengurusan NU di sana. Mereka terus memberikan bantuan dan dukungan dalam berbagai bentuk. Ini merupakan bagian dari tanggung jawab NU untuk membantu mereka yang mengalami bencana. 

Sementara itu, tim relawan dari lembaga-lembaga kemanusiaan yang sudah terlatih diterjunkan ke lokasi-lokasi paling parah yang diakibatkan gempa. Munculnya lembaga-lembaga kemanusiaan profesional ini merupakan berkah dari era keterbukaan di Indonesia. Mereka dikelola dengan baik sebagai sebuah organisasi yang sifatnya permanen, bukan lembaga sementara yang dibentuk saat terjadi bencana, lalu dibubarkan ketika kondisi sudah pulih. Mereka memiliki tim yang benar-benar tahu bagaimana menangani bencana yang memang kerap terjadi di Indonesia. Standar prosedur operasi dalam penanganan bencana sudah dipahami dan jalankan dengan baik. 

Sayangnya, di tengah bencana yang membutuhkan pertolongan ini, masih saja ada yang sibuk dengan perseteruan politik. Media sosial tetap saja bising dengan unggahan bernada menyerang pihak lawan. Ujaran-ujaran seperti ini menunjukkan kurangnya simpati kepada mereka yang sedang menjadi korban. Jika ada kerabat atau kawan mereka yang turun menjadi korban, para penggembira politik di media sosial tentu akan berpikir ulang untuk membuat kebisingan. Sayangnya, kemampuan untuk merasakan penderitaan orang lain kurang sekali. 

Jangan pula, mengaitkan bencana dengan urusan pilihan politik yang kini mulai menghangat seiring dengan semakin dekatnya pemilu legislatif dan pemilihan presiden. Menuduh pilihan politik seseorang kemudian menimbulkan bencana adalah fitnah dan kekejian kepada orang-orang yang saat ini sudah menderita. Masing-masing pilihan memiliki alasannya masing-masing. Yang penting adalah saling menghormati pilihan. Mengabaikan bencana demi perdebatan-perdebatan politik adalah tindakan yang tidak bermoral, menuduh bencana timbul karena perbedaan pilihan adalah kenistaan.

Yang lebih memprihatinkan lagi adalah beredarnya informasi hoaks tentang bencana tersebut seperti gempa akan terjadi pada tanggal 26 atau pada hari minggu. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan hingga kini belum ada teknologi yang mampu meramalkan kejadian gempa dengan akurat. Masyarakat diharapkan mencari informasi resmi melalui situs bmkg.go.id. Aparat sudah semestinya bertindak pada hal-hal yang meresahkan ini. 

Bantuan dari masyarakat sangat diperlukan untuk memulihkan keadaan. Namun, hal ini juga tergantung pada sikap masyarakat dalam memulihkan dirinya sendiri. Betapapun kecilnya sumberdaya yang tersisa, tetapi jika lengan baju segera disingsingkan, mengerjakan apa saja yang bisa dilakukan, melupakan kesedihan dan menatap masa depan secara bersama-sama, maka pemulihan akan berjalan dengan cepat. 

Bencana juga membutuhkan manajemen pengelolaan yang terkoordinasi dengan baik. Dalam penanganan yang kurang baik, distribusi bantuan tidak berjalan secara merata. Ada satu lokasi yang menerima bantuan secara berlebihan tetapi di lokasi lainnya mengalami kekurangan. Ego bahwa bantuan kepada korban bisa dilakukan terserah pada lembaga masing-masing akan membuat penanganan kurang efektif.   

Sesungguhnya, manajemen bencana yang ada saat ini sudah jauh lebih bagus daripada sebelumnya. Undang-undang kebencanaan yaitu. UU Nomor 24 tahun 2007 Tentang Penanggulangan Kebencanaan menjadi panduan dalam pengelolaan bencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dibentuk untuk menangani bencana. Lembaga serupa di tingkat provinsi dan kabupaten juga sudah ada. Namun, mengingat tingginya risiko bencana, perbaikan-perbaikan dalam beragam aspek mendesak untuk terus dilakukan.

Selanjutnya, kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana yang seharusnya mendapat perhatian lebih. Sebagai negeri yang berada dalam posisi cincin api, bencana alam dapat terjadi kapan saja. Ilmu pengetahuan terus berkembang, tetapi kita belum mampu memprediksi kapan sebuah gempa besar akan terjadi. Yang bisa kita lakukan saat ini adalah mempersiapkan diri dengan upaya terbaik saat situasi tak terduga tersebut datang.

Sejumlah upaya pencegahan akan mengurangi dampak jika bencana terjadi. Standar bangunan tahan gempa akan mengurangi tingkat kerusakan atau korban nyawa. Mengenalkan prosedur evakuasi saat gempa atau tsunami akan mengurangi kepanikan. Kearifan lokal yang banyak terdapat di berbagai daerah dalam menangani bencana layak dipertahankan, seperti sikap masyarakat di Pulau Simeuleu Aceh yang naik ke dataran tinggi ketika ada gempa disertai air laut yang surut sehingga menyelamatkan banyak nyawa. Kita juga bisa belajar dari negara-negara dalam posisi cincin api yang memiliki manajemen bencana yang baik. Jangan sampai bencana alam yang terjadi menimbulkan bencana kemanusiaan karena kita tidak mampu menanganinya dengan tepat. (Achmad Mukafi Niam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG