IMG-LOGO
Daerah

Pengurus NU dan Ansor di Demak Dilantik Bersama

Jumat 14 September 2018 22:45 WIB
Bagikan:
Pengurus NU dan Ansor di Demak Dilantik Bersama
Pelantikan pengurus Ansor Desa Prampelan, Sayung, Demak.

Demak, NU Online

Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Desa Prampelan, Sayung, Demak, Jawa Tengah peringati tahun baru hijriyah dengan memberikan santunan anak yatim. Kegiatan dipusatkan di masjid jami Nurul Huda, Kamis (13/9).


Santunan diberikan langsung Rais Nahdlatul Ulama setempat kepada puluhan anak yatim dan diikuti para dermawan yang hadir. Kegiatan juga berbarengan dengan pelantikan PRNU dan Gerakan Pemuda (GP) Ansor desa setempat. 


Ketua Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor Demak H Nurul Muttaqin mengingatkan bahwa bergabung di Ansor harus melakukan tiga hal. “Ingat sahabat-sahabat bahwa ada tigal hal yang harus kita kerjakan sebagaimana pesan ketua umum kita Gus Yaqut yaitu ngaji, ngader, makaryo,” kata pria yang juga Ketua DPRD Kabupaten Demak tersebut.


Sedangkan KH Luthfi Najib juga memberikan wejangan kepada mereka dilantik sebagai pengurus NU. “Hendaknya dapat memberikan manfaat dan kemaslahatan masyarakat Desa Prampelan,” harapnya.


Usai pelantikan acara dilanjutkan dengan pengajian bersama Ustadzah Mumpuni Handayayekti yang menjadi juara satu aksi Asia mewakili Indonesia.


Turut hadir pada kesempatan tersebut KH M Luthfin Najib selaku Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kecamatan Sayung yang melantik Pengurus Ranting NU Prampelan.


Juga  Ketua PC GP Ansor Kabupaten Demak H Nurul Muttaqin yang melantik  Pimpinan Ranting GP Ansor Desa Prampelan. Serta seluruh Banom NU dan masyarakat sekitar. (Muhammad A Rochman/Ibnu Nawawi)


Tags:
Bagikan:
Jumat 14 September 2018 23:30 WIB
PMII Unusia Gelar Pelatihan Makalah
PMII Unusia Gelar Pelatihan Makalah
Jakarta, NU Online
Pengurus Komisariat Unusia Jakarta kembali melaksakan kegiatan pembuatan makalah untuk bekal mahasiwa baru dalam menghadapi tugas perkuliahan. Pelatihan yang dilaksanakan Kamis (13/9) di Aula kampus Unusia Jakarta berlangsung interaktif dan mendapat respons yang baik dari para mahasiswa baru.

“Pelatihan pembuatan makalah ini memang dibuat untuk mahasiswa baru, yang pertama untuk memudahkan para mahasiwa baru dalam menghadapi tugas perkuliahan,"  terang Ibnu, ketua Komisariat Unusia.

Kedua memperkenalkan dan mengajak mereka untuk bergabung ke organisasi PMII," terang Ibnu ketua komisariat PMII Unusia.

Pelatihan dirancang menjadi dua sesi. Sesi pertama adalah pelatihan dari segi teori yang diisi langsung oleh Jubir BEM PTNU se-Nusantara, Aqil. Sementara pada sesi kedua diisi praktik yang dipandu langsung oleh Amar, sekretaris umum PK PMII Unusia.

Pembagian sesi tersebut bertujuan agar pelatihan berjalan dengan maksimal sesuai dengan target yang diinginkan. Pelatihan pembuatan makalah terkait dengan tulis menulis menjadi kebutuhan mahasiswa. Pembuatan makalah yang ideal harus diupayakan sesuai dengan aturan yang ada. (Muhammad Haidar/Kendi Setiawan)



  
Jumat 14 September 2018 21:30 WIB
Bersuci Tak Sekadar Bermakna Menghilangkan Kotoran
Bersuci Tak Sekadar Bermakna Menghilangkan Kotoran
Jombang, NU Online
Banyak kalangan menyibak rahasia mengapa sejumlah kitab kuning yang membahas masalah hukum Islam atau fiqih diawali bab thaharah (bersuci). Ternyata hal tersebut antara lain membawa pesan akan pentingnya membersihkan diri.

“Masalah yang paling penting dalam fiqih adalah bab thaharah atau bersuci,” kata Ustadz Mustaufikin, Jumat (14/9). 

Bagi alumnus pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (Uinsa) Surabaya tersebut, penempatan bab thaharah di awal pembahasan tidak lain karena di dalamnya memuat ajaran yang paling inti dari agama. “Bahwa suci adalah ujung dari sebuah ikhtiar beragama, tujuan dari laku spiritual seorang salik,” ungkapnya. 

Dirinya kemudian menjelaskan sebagaimana terkait bersuci ini dibahas oleh hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali. “Tingakatan bersuci itu dalam pandangan Imam AlGhazali ada empat,” katanya.

Secara rinci, jebolan Pondok Pesantren Tremas Pacitan Jawa Timur ini mengemukakan sebagai berikut. “Pertama, membersihkan atau menyucikan yang lahir dari hadas,” urainya.

Sedangkan yang kedua membersihakan atau menyucikan anggota badan dari dosa,

“Dan ketiga yakni menyucikan sekaligus membersihkan hati dari akhlak tercela, serta terakhir atau keempat adalah membersihkan dan menyucikan dari selain Allah,” ungkapnya.

Dari tingkatan tersebut dapat diperhatikan tujuan dari orang beragama adalah yang terakhir atau keempat.  “Namun tidak akan sampai pada tingkatan keempat jika belum melewati tingkatan sebelumnya,” katanya.

Staf Unit Pengendali Mutu di Madrasah Aliyah Unggulan KH Abd Wahab Hasbulloh (MAUWH) Tambakberas Jombang tersebut mengingatkan sebenarnya thaharah bukanlah kegiatan lahir yang menggunakan air atau debu untuk menghilangkan kotoran dan hadas. 

“Lebih dari itu, thaharah adalah sarana membersihkan hati dan jiwa seseorang dari perbuatan tercela dan niat selain Allah,” pungkasnya. (Ibnu Nawawi)
Jumat 14 September 2018 21:0 WIB
Mapel Al-Qur'an SD Zaha Genggong Segera Terapkan Metode Tikrar
Mapel Al-Qur'an SD Zaha Genggong Segera Terapkan Metode Tikrar
Seorang guru mengajarkan metode Tikrar untuk menghafal Qur'an
Probolinggo, NU Online
Dalam waktu dekat mata pelajaran (mapel) Al-Qur'an di SD Zainul Hasan (Zaha) Genggong Kabupaten Probolinggo akan menerapkan metode Tikrar. Metode ini diyakini akan membuat anak-anak lebih cepat menghafal dan lebih terukur hasilnya.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Biro Pendidikan Pesantren Zainul Hasan (Zaha) Genggong Abdul Aziz. Menurutnya, cara tersebut didapat melakukan monitoring ke SD Zaha Genggong untuk mengetahui bagaimana cara guru mengajarkan materi pada mata pelajaran Al Qur'an, khususnya bagi kelas akhir.

"Ketika melakukan monitoring di kelas V dan VI, kami melihat dan mendengarkan langsung, metode mengajarnya sangat beragam. Akhirnya kami mengambil kesimpulan perlu diterapkan metode Tikrar. Dengan metode ini maka anak-anak bisa lebih cepat menghafal dan hasilnya akan jauh lebih terukur," katanya, Jumat (14/9).

Tidak hanya berwacana saja, di dalam kelas Aziz kemudian mempraktikkan metode tersebut kepada sejumlah siswa SD Zaha Genggong. 

"Saya akhirnya langsung membimbing metode Al-Qur'an dengan metode Tikrar. Alhamdulillah dalam hitungan 10 menit, anak-anak sudah mampu menghafal 15 ayat," jelasnya.

Melihat metode tersebut efektif, para guru mapel Al-Qur'an menyatakan kesiapannya untuk mempraktikkan metode tikrar di SD Zainul Hasan Genggong. 

"Mudah-mudahan dengan metode Tikrar ini akan semakin banyak anak-anak yang menempuh pendidikan di lingkungan Pendidikan Pesantren Zainul Hasan Genggong cepat dalam menghafal Al-Qur'an," harapnya.

Sudah menjadi agenda rutin bahwa Biro Pendidikan Pesantren Zainul Hasan Genggong melakukan monitoring terhadap pola ajar mapel Al-Qur'an ke sekolah dan madrasah di bawah naungan Pendidikan Pesantren Zainul Hasan Genggong. Sehingga ke depan diharapkan akan ada perbaikan dalam pembelajaran mapel Al-Qur'an. (Syamsul Akbar/Muiz
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG