::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kedudukan Dalil Rasional dalam Ilmu Tauhid

Sabtu, 15 September 2018 13:30 Ilmu Tauhid

Bagikan

Kedudukan Dalil Rasional dalam Ilmu Tauhid
Ilustrasi (via LinkedIn)
Ketika membahas tentang aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah (Asy'ariyah-Maturidiyah), ada beberapa orang yang mengatakan bahwa Asy'ariyah tak punya dalil, bicara tanpa dalil, hanya akal-akalan, hanya berfilsafat dan sebagainya. Mereka mengira bahwa yang dimaksud dengan dalil hanyalah teks berupa ayat, hadits, dan nukilan pendapat ulama saja. Anggapan semacam ini muncul sebab tak paham bagaimana sesungguhnya dalil itu dan apa saja klasifikasinya. 

Imam al-Amidy dalam karya monumentalnya, al-Ihkâm fî Ushûl al-Ahkâm, mendefinisikan dalil sebagai berikut:

وَأَمَّا حَدُّهُ عَلَى الْعُرْفِ الْأُصُولِيِّ، فَهُوَ مَا  يُمْكِنُ التَّوَصُّلُ بِهِ إِلَى الْعِلْمِ بِمَطْلُوبٍ خَبَرِيٍّ، وَهُوَ مُنْقَسِمٌ: إِلَى عَقْلِيٌّ مَحْضٌ، وَسَمْعِيٌّ  مَحْضٌ، وَمُرَكَّبٌ مِنَ الْأَمْرَيْنِ.

"Adapun definisi dalil menurut para ahli ushul fiqh adalah sesuatu yang dengannya memungkinkan untuk sampai kepada pengetahuan yang bersifat berita (bukan pengetahuan inderawi). Dalil tersebut terbagi menjadi dua, yaitu murni aqli (rasional), murni sam'i (tekstual) dan gabungan keduanya". 

Definisi serupa di atas mudah ditemukan dalam kitab-kitab lain, utamanya kitab ilmu ushul fiqh. Bedanya hanya soal istilah saja di mana sebagian ulama memakai istilah dalil sam'i dan sebagian lagi memakai dalil naqli, keduanya merujuk pada dalil yang bersifat tekstual dari Al-Qur’an dan Hadits. Dalil tekstual ini adalah hujjah yang diakui, namun kandungannya masih bisa dipilah menjadi dua; ada yang qath'î ad-dilâlah (petunjuknya sudah jelas tanpa ada kemungkinan multi tafsir) dan ada yang dhannî ad-dilâlah (petunjuknya masih belum jelas sebab mengandung beberapa kemungkinan penafsiran).  

Dalil naqli yang qath'î ad-dilâlah misalnya firman Allah هو الله أحد  (Dialah Allah Yang Maha Esa). Petunjuk dalil ini sudah jelas tentang keesaan Allah yang menyeluruh dalam semua aspek dan tak bisa ditafsirkan lain. Adapun dalil naqli yang dhannî ad-dilâlah misalnya firman Allah ثلاثة قروء (tiga quru'). Kata quru' bisa bermaksud masa suci dan bisa juga bermaksud masa haid. Dalil naqli jenis dhanni (multitafsir) ini banyak sekali, bahkan mendominasi, sehingga kita dapati para ulama berbeda pendapat dalam hampir semua hal. Meskipun Al-Qur’an-nya hanya ada satu dan kitab haditsnya “hanya” itu-itu saja dan semua mengimaninya sebagai hujjah akan tetapi masing-masing mujtahid mempunyai penafsiran berbeda atas teks itu sebab teksnya sendiri memang memungkinkan dipahami berbeda. Perbedaan penafsiran ini berlaku dalam teks tentang aqidah, fiqih, akhlaq, dan lainnya. 

Adapun dalil aqli berarti dalil rasional, yakni dalil yang didapatkan dari pemikiran logis. Bila anda melihat seorang anak, tentu anda tahu bahwa anak itu pastilah mempunyai ibu meskipun anda tak pernah melihat ibunya. Keberadaan ibu anak itu diperoleh dari sebuah kesimpulan rasional bahwa seorang anak pasti dilahirkan dari Rahim seorang ibu. Demikian juga ketika kita melihat semesta ini yang begitu teratur, kita tahu bahwa ada sosok Pencipta yang menciptakan dan mengaturnya sedemikian rupa dengan sangat teliti, meskipun kita tak bisa melihatnya di dunia ini. Dalil aqli ini bukan hanya diakui sebagai hujjah dalam agama, namun justru kebenaran dalil naqli seringkali bergantung padanya. 

Nyaris semua ilmu dalam khazanah Islam lahir dari rahim dalil aqli ini sebab faktanya untuk memahami dalil naqli sering kali butuh argumen rasional. Berikut ini sedikit contohnya:

Ilmu tafsir membutuhkan dalil aqli untuk menentukan apa kesesuaian (munâsabah) suatu ayat/surat dengan ayat/surat lainnya, untuk menyelesaikan kesan pertentangan antar-ayat (tanâqudl), untuk menentukan mana tafsiran yang paling relevan, untuk menentukan metodologi tafsir yang hendak dipakai dan seterusnya. Jangan dikira Allah dan Rasulullah sudah memberikan petunjuk literal tentang metodologi tafsir dan apa tafsiran tiap ayat yang sebenarnya dikehendaki Allah, semua itu adalah hasil ijtihad para ulama dengan dalil rasional.

Ilmu hadits membutuhkan dalil aqli untuk menentukan teori sahih tidaknya suatu sanad, kriteria keterpercayaan para perawi, kriteria persambungan riwayat antar perawi, kriteria kritik matan, tatacara menyelesaikan tanâqudl (pertentangan makna antar-hadits), tatacara penentuan tarjîh riwayat/matan dan seterusnya dalam ilmu hadits. Jangan dikira semua itu sudah dijelaskan secara tekstual oleh Rasulullah. Bahkan menjelaskan bahwa hadits terbagi menjadi shahîh, hasan, dan dla'îf saja, Rasulullah tak pernah melakukannya. 

Ilmu ushul fiqh yang menjadi pondasi lahirnya fiqih juga disusun sepenuhnya oleh dalil aqli. Jangan kira Allah dan Rasulullah pernah menjelaskan bagaimana tatacara memperlakukan nash umum dan khusus, nash yang mutlaq dan muqayyad, nash yang muhkam dan mutasyâbih perbedaan antara manthûq dan mafhûm, bagaimana memahami amar dan nahi, bagaimana menyelesaikan ta'ârudl al’-adillah, dan banyak hal lain yang dibahas dalam ilmu ushul fiqh. Semua itu adalah olah akal para mujtahid dalam memahami teks. Sama sekali tak ada petunjuk teknis yang jelas dari Allah dan Rasulullah tentang hal itu. Bahkan petunjuk operasional melakukan qiyâs atau analogi hukum saja, yang notabene bentuk intihad paling dasar, tak dijelaskan secara literal meskipun keberadaan qiyâs sendiri bisa dilacak sejak masa Rasulullah. 

Ilmu fiqih memerlukan dalil aqli untuk mencari definisi yang tepat, menentukan illat (faktor penentu) hukum suatu perkara, menentukan maqâshid as-syarî'ah, tahrîr mahal an-nizâ' (mengurai inti perbedaan pendapat), tarjîh al-aqwâl, dan lain sebagainya. Jangan dikira ada petunjuk tekstual dari Allah dan Rasulullah untuk itu semua. 

Demikian juga semua ilmu lainnya tak bisa lepas dari dalil aqli, tak terkecuali ilmu tauhid atau ilmu kalam. Menyangkal dalil aqli dengan anggapan "hanya akal-akalan" hanya menunjukkan dua hal: Pertama, menyangkal dasar keberadaan semua ilmu keislaman dari akar-akarnya. Kedua, menunjukkan tak adanya kapasitas dalam membahas ilmu-ilmu keislaman.

Ilmu tauhid atau kalam sebenarnya masuk dalam kategori ketiga dalam klasifikasi dalil di atas, yakni dalil gabungan antara naqli (tekstual ) dan aqli (rasional). Memahami tauhid harus sesuai dengan keduanya sekaligus sebab kita dilarang mengatakan sesuatu yang tidak ada landasan tekstualnya dan sekaligus diperintahkan untuk memakai akal sehat untuk memahaminya. 

Betapa banyaknya sanggahan Allah dalam al-Qur'an kepada para kaum kafir/musyrik gagal paham yang tak memakai akalnya secara benar. Jangan sampai kaum Muslimin meniru kebodohan penyembah berhala, penyembah api, penyembah matahari/bintang atau penyembah manusia yang dipertuhankan, semisal penyembah Fir’aun. Jangan sampai kaum Muslimin menisbatkan sifat yang tak layak bagi kemuliaan Allah sebab Allah sendiri menafikan sifat-sifat tak layak itu dalam firman-Nya سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ, “maka suci tuhanmu dari apa yang disifatkan oleh mereka itu” (QS. as-Shaffât: 180). Jangan sampai juga dalam hal aqidah berkata seperti perkataan penyembah berhala "Kami menemukan leluhur kami sudah berkeyakinan begitu" atau hanya taklid buta saja tanpa paham secara rasional tentang aqidahnya. 

Bahkan kaum Muslimin diperintah untuk belajar dari kisah pencarian Nabi Ibrahim akan Tuhan ketika melihat bulan dan matahari (QS. Al-An’âm: 76-79), belajar bagaimana argumennya ketika menghadapi Azar, pengasuhnya (QS. Al-An’âm: 74),  atau ketika menghadapi seluruh kaumnya setelah dia menghancurkan biara (QS. Al-Anbiyâ’: 52-67). Ternyata semua dalil Nabi Ibrahim saat itu memakai dalil aqli. Dan, memang faktanya ketika menghadapi non-Muslim, satu-satunya dalil yang bisa dipakai hanyalah dalil aqli sebab mereka sama sekali tak mempercayai seluruh dalil tekstual agama Islam. Demikian juga untuk memutuskan mana aqidah kaum Muslimin yang paling tepat ketika masing-masing kelompok sudah berdalil dengan ayat atau hadits shahih, hal ini hanya bisa dilakukan dengan dalil aqli, bukan naqli sebab justru dalil naqli itulah yang diperdebatkan maknanya. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti Aswaja NU Center Jember.