IMG-LOGO
Pustaka

Menag Lukman Paparkan Pentingnya Konferensi Sarjana Muslim Dunia

Selasa 18 September 2018 11:50 WIB
Bagikan:
Menag Lukman Paparkan Pentingnya Konferensi Sarjana Muslim Dunia
Palu, NU Online
Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) ke-18 tahun 2018 di IAIN Palu, Sulawesi Tengah mempertemukan sejumlah sarjana, akademisi, peneliti Muslim dari beberapa negara. Dalam pertemuan ini, dibahas sejumlah tema strategis soal problem Islam global terkini.

Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin yang membuka acara ini mengungkapkan, forum seperti ini penting agar studi Islam tidak teralienasi dari dinamika sosial di masyarakat.

"Dalam diskusi akan dibahas sejauh mana para pakar studi Islam merespon dan memberikan solusi atas persoalan sosial keagamaan yang belakangan ini mengganggu kerukunan," katanya di Hotel Mercure, Palu, Selasa (18/9) pukul 10.00 WITA.

Kasus-kasus intoleransi, penodaan agama, persekusi, hingga kasus radikalisme dan terorisme membutuhkan respon yang tidak bersifat reaktif belaka, tetapi membutuhkan kajian dan penelitian empirik.

Menurut Menag, akademisi Islam tidak boleh berada di atas menara gading yang terlalu asyik dengan penelitian dan diskusi yang tidak berkontribusi dalam menyelesaikan masalah sosial, politik, kebangsaan baik di Indonesia maupun dunia.

"Era keterbukaan global telah melahirkan tantangan di mana-mana tak terkecuali bagi Indonesia. Bergesernya kecenderungan keagamaan menjadi lebih korservatif dan kepentingan poitik yang menunggangi adalah contoh dinamika masyarakat yang secara riil menciptakan masalah. Terhadap yang demikian itu kita wajib merespon dengan kearifan," tambahnya.

Menag berharap, konferensi ini melahirkan kontribusi nyata yang dipersembahkan kepada dunia yang damai. 

Salah satu kontribusi yang diinginkan dari akademisi islam adalah menularnya gagasan populisme. Kabar baiknya, sejauh ini dunia semakin menyadari bahwa Islam Nusantara dan memiliki kekhasan tersendiri dalam merespon radikalisme dan konservativisme berbasis agama. 

Keynote speaker dalam serangkaian sidang ini adalah Menetri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin dan Dominik Müller dari Max Planck Institute for Social Anthropology, Jerman, yang merupakan pakar antropologi agama yang penelitiannya berbasis di asia tenggara termasuk indonesia. Pembicara asing lainnya adalah Hans Christian Gunther dari Albert Ludwig Universitat, Freiburg, Jerman, Hew Wai Weng dari University Kebangsaan Malaysia, dan Ken Miichi dari Waseda University, Jepang.

Tahun ini sebanyak 1700 sarjana studi Islam dari seluruh dunia membicarakan adanya gap antara teks-teks Islam dengan praktik di lapangan. Untuk itu tema pertemuan AICIS tahun ini adalah Islam in a Globalizing World: Text, Knowledge and Practice.

AICIS adalah forum kajian keislaman yang diprakarsai Indonesia sejak 18 tahun lalu. Pertemuan para pemikir islam ini menjadi barometer perkembangan kajian Islam dan tempat bertemunya para pemangku kepentingan studi Islam dunia. (Red: Fathoni)
Tags:
Bagikan:
Selasa 18 September 2018 11:0 WIB
Penjelasan Makhluk Jin dalam Al-Qur’an
Penjelasan Makhluk Jin dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam dan sumber rujukan utama membahas berbagai hal dalam kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat. Al-Qur’an juga sarat dengan keterangan-keterangan ilmu pengetahuan. Salah satu pengetahuan yang diterangkan Al-Qur’an ialah makhluk halus, baik malaikat, jin, hingga setan.

Ketiga makhluk tersebut ditulis oleh Pakar Tafsir Al-Qur’an Muhammad Quraish Shihab dalam ketiga bukunya tentang malaikat, jin, dan setan dalam Al-Qur’an. Review buku tentang Malaikat dalam Al-Qur’an sebelumnya telah ditulis dengan judul Mengenal Malaikat dalam Al-Qur’an.

Dalam buku tentang Malaikat tersebut, Quraish Shihab berupaya menerangkan bahwa hanya orang-orang istimewalah yang dapat merasakan langsung kehadiran malaikat. Hal ini terjadi ketika Muhammad yang saat itu berumur 40 tahun merasakan kehadiran makhluk saat dirinya berkontemplasi di Gua Hira. Saat itu malaikat jibril menghampiri Muhammad dengan membawa wahyu pertama dari Allah.

Adapun tentang makhluk bernam Jin ini, Quraish Shihab menjelaskan bahwa jin secara harfiah bermakna sesuatu yang tersembunyi. Makna tersebut menunjukkan bahwa jin merupakan makhluk halus. Sifat halusnya jin bisa menyerupai manusia secara fisik, namun manusia sendiri tidak bisa melihat jin secara kasat mata kecuali diterangkan oleh Quraish Shibab orang tersebut mempunyai kemuliaan dan keistimewaan.

Salah satu dasar pokok keimanan seorang Muslim ialah percaya pada hal-hal ghaib. Sesuatu yang ghaib ini merujuk pada sesuatu yang tidak terjangkau oleh pancaindera, baik disebabkan oleh kurangnya kemampuan maupun oleh sebab-sebab lainnya.

Perihal ghaib, Quraish Shihab menerangkan bahwa banyak hal ghaib bagi manusia serta beragam pula tingkat keghaibannya. Pertama, ada ghaib mutlak yang tidak dapat terungkap sama sekali karena hanya Allah yang mengetahuinya, contoh kematian. Kedua, ghaib relatif, sesuatu yang tidak diketahui seseorang tetapi bisa diketahui oleh orang lain, contoh ilmu pengetahuan, makhluk halus, dan lain-lain.

Istilah jinn dalam Al-Qur’an berarti yang tersembunyi dan tertutup. Quraish Shihab menngungkapkan sejumlah akar kata yang sama, di antaranya majnun (manusia yang tertutup akalnya), janin (bayi yang masih dalam kandungan, karena ketertutupannya oleh perut ibu), al-junnah (perisai, karena ia menutupi seseorang dari gangguan), junnah (orang munafik menjadikan sumpah untuk menutupi kesalahan dan menghindar dari kecaman dan sanksi), janan (kalbu manusia, karena ia dan isi hati tertutup dari pandangan serta pengetahuan).

Di lihat dari perspektif linguistik atau kebahasaan, bisa dipahami bahwa jin merupakan makhluk halus yang tersembunyi, karena tertutup. Tersembunyi dan tertutup ini bukan berarti sama sekali tidak terlihat karena ghaibnya relatif, sebagian orang bisa melihat jin karena keistimewaan yang dimilikinya, biasanya manusia yang dekat dengan Allah karena akhlak dan ilmunya.

Barangkali yang menarik dari buku Jin dalam Al-Qur’an setebal 147 halaman ini ialah soal kontroversi ada atau tidak adanya jin. Quraish Shihab mengungkapkan pendapat Ibnu Sina (980-1037 M) dalam risalahnya menyangkut Definisi Berbagai Hal, menyebutkan bahwa jin adalah binatang yang bersifat hawa yang dapat mewujud dalam berbagai bentuk.

Pendapat Ibnu Sina tersebut diterjemahkan oleh Fakhruddin Ar-Razi bahwa definisi yang dikemukakan oleh Ibnu Sina hanyalah penjelasan tentang arti kata jinn. Sedangkan jin itu sendiri tidak memiliki eksistensi di dunia nyata. Para filsuf penganut pendapat di atas berdalih bahwa jika jin memang ada wujudnya, ia tentu mengambil bentuk makhluk halus atau kasar.

Dalam hal ini, Quraish Shihab mencatat bahwa ketika seseorang menyatakan bahwa jin adalah mekhluk halus, maka kehalusan yang dimaksud tidak harus dipahami dalam arti hakikatnya demikian, tetapi penamaan itu ditinjau dari segi ketidakmampuan manusia untuk melihatnya. Jika demikian, bisa jadi jin merupakan makhluk kasar, tetapi karena keterbatasan mata manusia, maka ia tidak terlihat, jadi bahasa manusia menamakannya sebagai makhluk halus.

Pandangan kedua ialah, pakar-pakar Islam yang justru sangat rasional tidak mengingkari bahwa ayat-ayat Al-Qur’an berbicara tentang jin, tetapi mereka memahaminya tidak dalam pengertian hakiki. Paling tidak, ada tiga pendapat yang menonjol dari kalangan ini menyangkut hakikat jin.

Pertama, memahami jin sebagai potensi negatif manusia. Karena menurut pandangan ini yang membawa manusia pada hal-hal positif ialah malaikat, sedangkan jin dan setan sebaliknya. Pandangan ini juga menilai bahwa jin tidak memiliki wujud. Kedua, memahami jin sebagai virus dan kuman-kuman penyakit. Namun pandangan ini mengakui eksistensi jin. Ketiga, memahami jin sebagai jenis makhluk manusia liar yang belum berperadaban. 

Dari ketiga pandangan tersebut, sekilas bisa dipahami bahwa jin merupakan makhluk yang mewujud pada sesuatu. Namun, keberadaan jin sendiri diterangkan dalam Al-Qur’an bahwa, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribdaha kepada-Ku” (QS. Adz Dzariyat [51]: 56).

Karena diciptakan, tentu wujudnya ada. Perbedaannya ialah, manusia diciptakan dari unsur tanah, sedangkan jin diciptakan dari api. Menurut Quraish Shihab, iblis dalam Al-Qur’an diterangkan dari jenis jin. Namun demikian, iblis maupun setan mempunyai karakteristik tersendiri sehingga tidak semua makhluk jin adalah iblis atau setan.

Meskipun buku ini tidak terlalu tebal, tetapi cukup memahamkan kepada pembaca perihak keterangan makhluk jin, termasuk soal tempat dan waktu yang disuksi jin, bentuk jin, dan kemampuan-kemampuan yang dimilikinya. Lalu, apa pentingnya manusia memahami makhlus halus secara umum? Selain karena dorongan keimanan terkait makhluk ghaib, jin dan makhluk halus lainnya juga menunjukkan kepada manusia bahwa mereka bukan makhluk satu-satunya di alam semesta. Wallahu’alam bisshowab.

Peresensi adalah Fathoni Ahmad, pengajar di Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta

Identitas buku:
Judul: Jin dalam Al-Qur’an: Yang Halus dan Tak Terlihat
Penulis: M. Quraish Shihab
Penerbit: Lentera Hati
Cetakan: Keempat, 2013
ISBN: 978-979-9048-79-0
Tebal: xxi + 147 halaman
Kamis 13 September 2018 8:0 WIB
Renungan Remaja: Sosok Dilan dan Al-Fatih
Renungan Remaja: Sosok Dilan dan Al-Fatih
NR. Tambunan seorang cendekiawan Alumni University of Lille 1, Perancis mengatakan “BANDUNG pun rela ‘mundur’ ke era 1990-an demi sebuah film remaja yang sedang hits saat ini ‘Dilan 1990’.” Menurutnya Film yang diadopsi dari sebuah novel karya Pidi Baiq itu memang didukung oleh walikota Bandung Ridwan Kamil dan didukung oleh masyarakat Bandung karena berlatar belakang Bandung zaman baheula.

Tak heran, film ini pun akhirnya mampu menembus jutaan penonton dalam waktu hanya beberapa hari. Bahkan tak jarang anak-anak muda baik di kota maupun di desa terkena demam Dilan “jangan rindu, ini berat, kamu gak akan kuat, biar aku saja.” 

Yang menarik dari fenomena ini sesunguhnya apa? Jika Publikasi dan dukungan penguasa menjadi faktor yang menyedot masyarakat terutama remaja zaman now untuk berbondong-bondong terhanyut ke dalam diksi romantis yang ditawarkan Dilan. Tentu hal ini akan berdampak pada tiap film-film remaja bertemakan cinta dan romantisme akan selalu mendapatkan sambutan yang meluap dari masyarakat.

Hal ini juga bisa menjadi bukti bahwa karena masyarakat saat ini haus akan imaginasi romantisme di tengah-tengah kesulitan hidup dan kondisi nyata yang melelahkan, ataukah memang selera masyarakat kita pada kisah yang menawarkan cerita dan merefleksikan fakta remaja kekinian. Yang pasti, film-film serumpun makin menyebar luas dan memenuhi beranda kehidupan masyarakat kita.

Inilah fenomena remaja saat ini yang sudah demikian bebas, semakin liar dan jauh dari nilai-nilai agama adalah kondisi yang memang menjadi sebuah kondisi yang menghawatirkan. Industri hiburan di bidang perfilman memiliki andil yang sangat nyata dalam memelihara arus budaya yang saat ini menggerusi pola pergaulan para remaja.

Budaya permisif yang sekuler adalah budaya yang senantiasa dicekokkan ke dalam benak anak-anak muda Indonesia. Sedangkan anak muda adalah merupakan aset masa depan bangsa. Akankah hal ini akan dibiarkan begitu saja? Adakah hasrat kapitalis di sana?

Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan. Mengapa demikian? Segi positif yang bisa diambil adalah remaja merupakan generasi masa depan penerus bangsa yang diharapkan mampu bangkit dan memiliki pemikiran revolusioner, fresh dan keknian. Namun di sisi lain bukankah ini akan menjadikan mereka menjadi remaja yang alay, lebay dan perayu serta mudah dirayu?

Alangkah baiknya jika kita membuka kembali sejarah Islam, misalnya kita menyoroti kondisi remaja di dalam kepemimpinan Islam. Sebut saja Muhammad Al Fatih, yang telah menjadi seorang pemimpin di usianya yang masih belia. Beliau bahkan telah menaklukkan Konstantinopel yang terkenal tak terkalahkan pada saat menginjak usia 21 tahun. Saat itu ia masih berusia 21 tahun telah mencapai prestasi yang amat luar biasa. Adakah kira-kira di zaman sekarang pemuda seusia itu mempunyai pemikiran dan mimpi-mipi besar untuk bangsa dan agamanya?

Manakala Sultan al Fatih menjadi nakhoda kepemimpinan, kaum Muslimin berhasil menguasai Benteng terkuat pada masa itu. Di bawah sistem kepemimpinan Islam dengan metode pendidikan Islam, potensi remaja sebagai aset masa depan dapat dioptimalkan sehingga mampu mencetak pemuda-pemuda berkualitas semisal Muhammad Al-Fatih.

Apa yang terjadi sekarang? Sungguh amat disayangkan, apabila remaja saat ini kurang peka dan tidak menyadari bahwa dirinya adalah pemegang estafet kepemimpinan di masa depan. Sangat penting bagi kita untuk dapat membangunkan remaja agar tidak tenggelam dalam propaganda kapitalis dan terjebak dalam budaya yang tidak kurang mendidik.

Masyarakat harus dapat mengeluarkan sikap kritisnya terhadap serangan budaya dan kepentingan kapitalis yang merasuki remaja melalui industri film maupun cara-cara lainnya. Dilan dan Muhammad Al Fatih adalah dua produk pemuda yang berbeda dengan kualitas yang berbeda. Dan kita saat ini tentu saja lebih membutuhkan para pemuda berkapasitas setara dengan Muhammad Al Fatih bahkan lebih lagi untuk dapat melakukan perubahan yang nyata dan membangun peradaban yang mulia.

Tokoh Dilan yang hidup di tahun1990 dia adalah seorang pria, menyukai perempuan yang bernama Milea dan berusaha menaklukan hatinya. Dalam sejarah Islam ada pemuda pemberani yang mempunyai prestasi luar biasa. Siapakah dia? Namanya adalah Muhammad Al Fatih. Jika sosok Dilan membawa kita kepada perasaan salut dan kagum. Apakah yang akan kita rasakan ketika mengetahui kisah hidup Sultan Al Fatih? menangis haru dan bangga?

Perbedaan mendasar diantara Sultan Fatih dan Dilan adalah jika Pada diri al Fatih ia Mempunyai karakter pemimpin yang ditanamkan sejak kecil, Menghafal Al-Quran 30 Juz di ketika masih kecil, Menjadi Khalifah Utsmani ketia usianya 19 Tahun, Menaklukan Byzantium. Sedangkan dalam diri Dilan ia mampu Menaklukan hati wanita di Usia kurang lebih 20 tahun, Suka Meramal, Anggota Geng Motor.

Kesimpulan yang dapat ditarik adalah "Dilan kuat menanggung berat nya rindu, punya genk motor, ia juga bisa meramal pertemuannya dengan Milea. Sedangkan al Fatih? Ia adalah jawaban dari ramalan Rasulullah SAW, mempunyai pasukan yang amat tangguh dan istiqomah berpuasa. Seperti apakah ramalan Rasulullah itu? Dan bagaimana kehebatan Sultan al Fatih hingga ia bisa menaklukkan Konstantinopel?

Penulis buku ini Ahmad Ali Adhim mengatakan bahwa untuk itulah buku sederhana ini dihadirkan, ia berharap melalui buku ini generasi bangsa kita dapat mengambil pelajaran dari kisah dan perjalanan hidup yang amat mulia dari mereka berdua, baik dari sisi positif yang ada pada diri Dilan maupun al Fatih.

Keduanya sama-sama pemuda yang mempunyai keberanian dan patut diapresiasi. Namun sebagai generasi bangsa yang baik, kita harus bisa memilih dan memilah manakah yang cocok untuk kita jadikan tauladan.

Meski terhitung tipis, sebab buku ini hanya berjumlah 144 Hlm, tetapi di dalamnya terdapat banyak pelajaran yang bisa diambil; mulai dari perjuangan, diplomasi politik, dan strategi Muhammad al Fatih dalam mengumpulkan pasukan, perjuangan dan semangat Dilan melawan kebathilan (guru yang semena-mena).

Penulis buku ini rupanya ingin mengajak generasi milenial untuk menjaga hak dan martabanya sebagai siswa atau mahasiswa, sebagaimana yang disabdakan oleh Ramsey Clark seorang pengacara, aktivis, dan mantan pejabat pemerintah federal Amerika. “Hak bukanlah apa yang diberikan seseorang kepadamu, melainkan apa yang seorangpun tidak bisa ambil darimu.”

Buku ini cocok untuk generasi Millenial, ada semangat jiwa muda di sana, ada juga lika-liku perjuangan cinta yang selalu berkobar. Karya yang ditulis oleh santri di Pesantren Baitul Kilmah Yogyakarta ini menggambarkan kebesaran jiwa al Fatih dengan begitu dramatis. Bacalah ini:

“Setelah menaklukkan Konstantinopel, masuklah Sulatan ke kota besar itu. Ia kemudian mengubah nama Konstantinopel menjadi Islambul yang bermakna (Ibukota Islam). Meski kemudian nama yang dirumuskan oleh al Fatih itu diselewengkan menjadi Istanbul. Ia juga mengubah gereja terbesar di kota itu yang bernama Aya Sophia menjadi masjid setelah pasukannya menunaikan shalat di sana paska kemenangan perangnya. Bagaimana perlakuan atau sifat beliau kepada orang Kristen?

Beliau sama sekali tidak memperlakukan mereka seperti dahulu mereka memperlakukan kaum muslimin. Beliau memberikan kebebasan kepada mereka untuk beribadah dan membiarkan uskup mereka mengatur segala urusan agama mereka. Ketika kaisar Konstantinopel terbunuh dan para pengikutnya ditawan, beliau mempersilahkan pasukan Kaisar Kristen itu agar dimakamkan dengan cara agama mereka, sedikitpun beliau tidak menyuruh agar Kaisar itu dimakamkan dengan cara yang ada dalam Islam.

Seorang Filosof Perancis bernama Voltaire mengatakan “sesungguhnya orang-orang Turki itu tidak pernah memperlakukan kaum Kristen dengan buruk seperti yang kita yakini. Hal yang harus dicermati adalah bahwa tak satupun masyarakat Kristen yang akan mengizinkan kaum Muslimin mempunyai masjid di negerinya. Berbeda dengan bangsa Turki.

Mereka mengizinkan bangsa Yunani yang kalah dalam peperangan itu mempunyai Gereja sendiri. Hal inilah menunjukkan bahwa Sultan Muhammad Al Fatih adalah sosok yang cerdas dan bijaksana ketika memberikan kebebasan kepada kaum Kristen yang kalah itu untuk memilih sendiri uskup mereka. Dan ketika mereka telah memilihnya, Sultan pun menetapkannya dan menyerahkan tongkat keuskupan kepadanya serta mengenakan cincin untuknya.

Hingga sang uskup berseru saat itu dengan mengatakan “aku sungguh malu menerima penghargaan dan penghormatan ini; suatu hal yang tidak pernah dilakukan oleh raja-raja Kristen terhadap uskup-uskup sebelumku.”

Inilah perbedaan prinsip Islam di medan perang dan toleransinya terhadap pemeluk agama lain yang disajikan oleh penulis. Ada banyak surat-surat Dilan yang super romantis, ada banyak juga surat-surat al Fatih yang super diplomatis nun bijaksana. Ada pula nasehat al Fatih untuk para pejabat negara, salah satunya bacalah ini: “Bekerjalah engkau untuk menyebarkan Islam karena itu sesungguhnya itu merupakan kewajiban para penguasa di muka bumi ini. Kedepankankepetingan agama di atas kepentingan lain apapun."

Sebagai seorang guru, saya sangat setuju dengan ungkapan Dilan yang djelaskan lebih renyah oleh penulis dalam buku ini. “Guru itu digugu dan ditiru, kalau dia mengajariku menampar, aku juga akan menampar!" Membaca buku ini, membuat saya menjadi ingin mengulang masa muda, masa yang selalu berapi-api, dimana semangat masih membaja, apa yang kita inginkan harus terealisasi, pesan itu yang saya dapat dalam buku ini. Selamat membaca!

Peresensi adalah Besse Tantri Eka, alumnus Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Jurusan Magister Pendidikan Agama Islam, saat ini menjadi salah satu pendidik di sekolah unggulan SD Budi Mulia 2 Yogyakarta.

Identitas buku:
Judul Buku: Dilan & al-Fatih: Pemuda, Keberanian, dan Perjuangan Cinta
Penulis: Ahmad Ali Adhim
Penerbit: Andalusia
Cetakan: Pertama, 2018
ISBN: 978-602-5653-11-7
Rabu 12 September 2018 13:0 WIB
Jalan Lurus Anak-Cucu Nabi Muhammad
Jalan Lurus Anak-Cucu Nabi Muhammad
Istilah thariqah tentu sudah tidak asing bagi warga nahdliyin. Secara harfiah, thariqah dapat dimaknai sebagai jalan. Jalan dimaksud tidak lain berupa serangkaian metode untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Salah satu thariqah muktabaroh dalam lingkungan Nahdlatul Ulama adalah Thariqah Alawiyah.

Jalan Lurus Anak Cucu Nabi: Thariqah Alawiyah merupakan salah satu buku yang dapat menjadi rujukan bagi siapapun yang ingin mempelajari Thariqah Alawiyah. Buku karya Habib Novel bin Muhammad Alaydrus ini tergolong spesial karena ditulis langsung oleh salah satu keturunan dari Rosulullah Muhammad SAW.

Habib Novel merupakan salah satu murid dari Habib Anis Al-Habsy yang kealiman dan kezuhudannya tidak diragukan lagi. Habib Novel juga merupakan pengasuh Majelis Ar-Raudhah, salah satu majelis besar di Solo, Jawa Tengah.

Buku ini diawali dengan ulasan tentang gelar habib. Gelar yang di Indonesia disematkan khusus kepada keturunan Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana dipahami bersama, Thariqah Alawiyah merupakan thariqah khas para habib dari zaman ke zaman.

Dengan bahasa yang sederhana, buku ini mengajak pembacanya untuk memahami dengan detail tentang seluk beluk Bani ‘Alawi. Mulai dari nasab, alasan hijrah ke Yaman, hingga akidah dan madzhab yang dianut oleh keturunan Rosululloh Muhammad SAW dari zaman ke zaman. Penjelasan ini berlanjut pada pengertian tentang thariqah secara umum, dan Thariqah Alawiyah.

Menggunakan referensi yang  terbilang komplet, Habib Novel dalam buku ini mengajak pembaca untuk menyusuri lautan samudra Thariqah Alawiyah. Bahkan, ada bagian khusus yang memberikan penjelasan detail tentang Al Faqih Al Muqodam yang dikenal sebagai salah satu dari panutan Thariqah Alawiyah.

Dengan tegas, dalam buku ini dipaparkan Al Quran dan sunah sebagai pondasi Thariqah Alawiyah: Sebagai sebuah tarekat sufi, tarekat Bani ‘Alawi sedikit pun tidak pernah menyimpang dari Al Qur’an dan Sunah. Keduanya merupakan pondasi utama tarekat ini. (Hal: 139)

Selain mendapat pemahaman yang cukup lengkap tentang Thariqah Alawiyah, pembaca buku ini akan termotivasi untuk meneladan kesungguhan ulama-ulama besar Bani ‘Alawi dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dengan demikian, bisa setapak demi setapak menapaki maqam tobat, wara’, zuhud, sabar, faqr, syukur, khauf, tawakal, dan ridha yang juga dijelaskan pada buku spesial karya Habib Novel ini.

Identitas Buku
Judul Buku: Jalan Lurus Anak Cucu Nabi, Thariqah Alawiyah
Pengarang: Novel bin Muhammad Alaydrus
Penerbit: Taman Ilmu
Tebal Buku: vi+240
Peresensi: Pekik Nur Sasongko, santri Majelis Ar-Raudhah, Anggota LTN NU Klaten
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG