IMG-LOGO
Opini

Tentang Definisi Ulama

Rabu 19 September 2018 13:31 WIB
Bagikan:
Tentang Definisi Ulama
Ilustrasi (ist)
Oleh Fathoni Ahmad

Politik identitas seringkali mengaburkan substansi sehingga para elit kerap melenceng dari tujuan politik sesungguhnya, yaitu mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Artinya, keadilan, kesejahteraan, kemakmuran bangsa merupakan tujuan (ghayyah), sedangkan politik merupakan alat (instrumen) untuk mewujudkan tujuan tersebut. Hal itu menuntut konsekuensi logis bahwa siapa saja yang ingin memimpin negeri ini harus mempunyai integritas, loyalitas, dan dedikasi yang tinggi dalam bentuk program, bukan melontarkan wacana-wacana politik identitas yang tidak mendidik publik dalam hal edukasi politik.

Eskalasi politik identitas boleh dibilang pertama kali muncul dan langsung meledak ketika berlangsungnya Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 lalu. Seseorang yang mempunyai identitas berbeda secara keyakinan dieksploitasi secara masif sehingga memunculkan intoleransi dalam skala luas. Bahkan berdampak pada konflik horisontal yang tidak berkesudahan. Apalagi ditambah ‘gorengan-gorengan’ informasi di media sosial yang tidak sedikit memunculkan polarisasi pandangan dan pola pikir, bahkan mendestruksi akal sehat.

Kebebasan cara pandang yang sampai mendestruksi atau merusak akal sehat bukan bagian dari konsekuensi demokrasi. Karena kehidupan demokrasi menuntut kemajuan cara pandang dan pola pikir bagaimana membangun bangsa dan negara di tengah kemajemukan identitas. Sebab itu, para elit politik mestinya tidak hanya mengejar kekuasaan belaka, tetapi juga menawarkan program kemajuan bangsa dan negara sehingga politik tidak berisi wacana-wacana tidak penting (nihil substansi), seperti politik identitas.

Terlihat jelas bahwa wacana politik identitas ini mulai kerap muncul di masa-masa pemilihan presiden (pilpres) 2019, tepatnya sejak para pasangan calon presiden dan calon wakil presiden ditetapkan oleh partai koalisi. Dari tiba-tiba menyebut pasangan calon yang diusungnya sebagai santri hingga terkahir mengkristal disebut sebagai ulama. Ini politik nihil substansi karena bangsa Indonesia tidak hanya berisi orang-orang Islam, tetapi juga umat agama lain. Jangan sampai umat agama lain yang juga bagian dari bangsa Indonesia apatis dalam partisipasi membangun bangsa sebab yang diwacanakan hanya persoalan itu-itu saja.

Akhirnya, sampailah tulisan ini pada persoalan penyebutan ulama. Penyematan gelar ulama tidak dapat dilakukan secara srampangan, semena-mena, tanpa ajar dan dasar, apalagi hanya untuk kepentingan politik praktis. Nabi Muhammad SAW menyebutkan, al-‘ulama waratsatul anbiya’, ulama merupakan pewaris para Nabi. Warisan Nabi tidak hanya ilmu agama, tetapi juga keistimewaan dan akhlak mulia terhadap sesama makhluk Allah di muka bumi.

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya dalam bukunya Secercah Tinta (2014) menjelaskan tentang siapakah ahli dzikir itu. Ia menyatakan bahwa ahli dzikir adalah para wali dan para ulama yang dalam hatinya terdapat rasa takut (khasyyah) kepada Allah SWT. Dalam QS Al-Anbiya ayat 7 disebutkan bahwa ahli dzikir ialah orang-orang berilmu. Namun, perlu dipahami bahwa ahli dzikir bukan sekadar orang yang pintar. Itu artinya semua orang pintar bukan berarti ahli dzikir. Dengan kata lain, semua orang pintar tidak bisa dikatakan sebagai ulama.

Ahli dzikir ialah orang yang ‘arif, rijalul ‘arif. Habib Luthfi menyebutkan, kalau orang ‘arif sudah dipastikan ibadahnya baik. Itu semua disaksikan dan diakui oleh Allah yang menciptakan. Para wali, ulama, dan orang-orang ‘arif itulah sumber-sumber akidah, bagaimana umat Islam bisa memahami agama dengan sumber-sumber mutawatir, dapat dipertanggungjawabkan, dan tersambung hingga kepada Nabi Muhammad SAW kemudian sampai kepada seluruh umat. Sebab, para ulama selain dinyatakan oleh Nabi Muhammad dalam sabdanya juga mendapatkan kesaksian dalam Al-Qur’an. Ulama, sungguh derajat yang bukan main-main.

Sejarah mencatat, ketika Rasulullah SAW telah wafat, para sahabat menjadi rujukan umat dalam setiap urusan, baik menyangkut agama, politik, dan sosial. Setelah sahabat tidak ada, generasi selanjutnya ialah tabi’in yang disebut juga generasi salaf, atau yang sering disebut salafus shalih. Dan setelah itu ulama mutaqaddimin. Mereka semua mendapat pengakuan langsung dari Allah SWT dan Rasulullah SAW. Predikat yang diberikan Rasulullah kepada generasi berikutnya ialah ulama’i ka an-nabi bani isra’il (ulama dari kalangan umatku seperti para Nabi di kalangan Bani Israil).

Dari pengakuan dan predikat yang dinyatakan langsung oleh Nabi Muhammad tersebut menegaskan keistimewaan ulama dari kalangan umat Nabi SAW yang sebanding dengan Nabi di kalangan Bani Israil. Dari petunjuk tersebut, tidak ada alasan bagi umat Nabi Muhammad untuk tidak mengikuti ulama yang merupakan pewaris para Nabi. Kriteria ulama yang dapat diikuti tentu saja yang mewarisi akhlak Nabi Muhammad dan mampu mewujudkan kehidupan yang lebih baik dengan ilmu-ilmu yang dimilikinya, tidak membuat kerusakan di muka bumi, mampu hidup berdampingan dengan sesama makhluk Allah SWT, dan lain sebagainya.

Istilah ulama sendiri merujuk kepada seseorang yang mumpuni dalam bidang ilmu agama, berakhlak baik, menjadi teladan hidup bagi masyarakat, dan sifat-sifat mulia lainnya. Ulama senantiasa mengisi sendi-sendi kehidupan dengan laku positif yang berdampak kebaikan secara luas. Keberadaan ulama mendatangkan rahmat, bukan laknat. Dakwahnya juga merangkul, bukan memukul, mengajak bukan mengejek.

Habib Luthfi dalam buku yang sama menyebutkan hadits Riwayat Ad-Dailami dari Anas r.a, Rasulullah SAW bersabda: ittabi’ul ulama’a fainnahum suruuhud dunyaa wamashaa biihul akhirah. “Ikutilah para ulama karena sesungguhnya mereka adalah pelita-pelita dunia dan lampu-lampu akhirat.” (HR Ad-Dailami)

Hadits di atas tentu saja semakin memperkuat pengakuan Rasulullah terhadap para ulamanya. Namun, saat ini sebagian masyarakat tidak sedikit yang terjebak dengan simbol-simbol agama yang melekat melalui pakaian seseorang. Akibatnya, meskipun seorang itu tidak berilmu, bahkan secara perilaku dan ucapan tidak mencerminkan akhlak mulia, tetapi kerap diikuti sebagai seorang yang dianggap mengerti agama. Na’udzubillah.

Konsep ulama menurut Muhammad Quraish Shihab dalam karyanya Tafsir Al-Misbah adalah seorang yang memiliki pengetahuan yang jelas terhadap agama, Al-Qur’an, ilmu fenomena alam. Pengetahuan tersebut mengantarkan seseorang memiliki rasa khasyyah (takut) kepada Allah. Ulama juga mempunyai kedudukan sebagai pewaris Nabi yang mampu mengemban tugas-tugasnya serta memiliki derajat yang tinggi di sisi Allah. 

Namun, relevansi dalam kehidupan sekarang terutama di Indonesia yang lebih sering mengaitkan atau membatasi pengertian ulama hanya kepada para kiai, ustadz dan pendakwah adalah berbeda dengan pemahaman Quraish Shihab, karena pembatasan itu terkadang mengantarkan pada kekeliruan dan kesalahan dalam menilai seseorang. Kecuali gelar tersebut memang disematkan kepada seseorang yang memang secara ilmu agama mumpuni dan mempunyai akhlak yang baik terhadap kehidupan bersama.

Oleh karena itu, konsep ulama menurut Quraish Shihab adalah mengacu pada sifat-sifat, bukan hanya sekadar pada gelar atau atribut lahiriah. Cara pandang tersebut akan lebih sesuai dalam semangat agama, bahwa kemuliaan bukan dikarenakan gelar atau jabatan tertentu, melainkan dengan ketakwaan dan kecintaan manusia kepada Allah dilengkapi dengan ilmu agama yang mumpuni yang dengan ilmu itu mempunyai dampak positif terhadap kehidupan manusia secara umum. Ini menunjukkan bahwa ulama juga termasuk kaum intelektual yang membawa pencerahan kepada masyarakat sekitarnya.

Badaruddin Hsukby dalam bukunya Dilema Ulama dalam Perubahan Zaman (1995) mengungkapkan definisi ulama menurut para Mufassir Salaf, di antarannya, pertama, menurut Imam Mujahid berpendapat bahwa ulama adalah orang yang hanya takut kepada Allah SWT. Malik bin Anas pun menegaskan bahwa orang yang tidak takut kepada Allah bukanlah ulama.

Kedua, pendapat Hasan Basri bahwa ulama ialah orang yang takut kepada Allah dikarenakan perkara ghaib, suka terhadap sesuatu yang disukai Allah, dan menolak segala sesuatu yang dimurkai Allah. Ketiga, pendapat Ali Ash-Shabuni bahwa ulama adalah orang yang rasa takutnya kepada sangat mendalam dikarenakan ma’rifatnya. Keempat, menurut Ibnu Katsir yang menyebutkan ulama adalah yang benar-benar ma’rifatnya kepada Allah sehingga mereka takut kepadanya. Jika ma’rifatnya sudah mendalam, maka sempurnalah takut kepada Allah.

Kelima, Syekh Nawawi Al-Bantani yang berpendapat bahwa ulama adalah orang-orang yang menguasai hukum syara’ untuk menetapkan sah itikad maupun amal syari’at lainnya. Dalam hal ini, Wahbah Zuhaili berkata bahwa secara naluri ulama ialah orang-orang yang mampu menganalisa fenomena alam untuk mengubah hidup dunia dan akhirat serta takut ancaman Allah jika terjerumus ke dalam kenistaan. Orang-orang maksiat hakikatnya bukan ulama.

Kelima definisi dari para Mufasir Salaf tersebut, bisa ditarik benang merah yakni ulama ialah orang yang takut kepada Allah SWT. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan dalam QS Al-Fathir ayat 28: innama yakhsyallaha min ibadihil ulama (sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para Ulama).

Terkait kata ulama dalam Nahdlatul Ulama KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah mengatakan bahwa nama Nahdlatul ulama diilhami oleh kalimat Ibnu Athaillah as-Sakandari (W 1309 M) penulis kitab Al-Hikam. Menurut Gus Dur, Mbah Hasyim Asy’ari (Pendiri NU) kerap mengutip Ibnu Athaillah yang mengatakan, Latashhab man la yunhidluka ilallahi haaluhu wa laa yadulluka ilallahi maqooluhu (jangan kau jadikan sahabat atau guru orang yang amalnya tidak membangkitkan kamu kepada Allah).

Membangkitkan itu makna dari yunhidlu. Menurut Gus Dur, ulama-lah yang tingkahnya membangkitkan kepada Allah. Maka lahirlah Nahdlatul Ulama. Kata nahdlah jelas dari yunhidlu tadi. Kala itu usulan kata Ulama dari banyak kiai. Tapi Gus Dur mengungkapkan, yang merangkum menjadi kata-kata Nahdlatul Ulama ialah Mbah Hasyim Asy’ari. Wallahu’alam bisshowab.


Penulis adalah pengajar di Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta
Tags:
Bagikan:
Selasa 18 September 2018 7:0 WIB
Dakwah Gus Miftah dan Inspirasi Sunan Drajat
Dakwah Gus Miftah dan Inspirasi Sunan Drajat
Gus Miftah (via Tribun)
Oleh Ahmad Ali Adhim

Seorang sejarahwan muslim K. Ng. Agus Sunyoto dalam bukunya yang berjudul “Atlas Wali Songo” (Rekonstruksi sejarah yang tersingkirkan) menyebutkan secara umum ajaran Kanjeng Sunan Drajat dalam menyebarkan dakwah Islam dikenal oleh masyarakat luas sebagai  “Pepali Pitu”  (tujuh dasar ajaran),tujuh falsafah itu kemudian dijadikan pijakan dalam kehidupan. Tujuh dasar ajaran Sunan Drajat yang dimaksud Agus Sunyoto itu adalah:

Pertama, memangun Resep Tyasing Sasama, yang artinya: “Kita selalu membuat senang hati  orang lain.” Kedua, jroning Suka Kudu Eling Lan Waspodo, yang artinya: “Dalam suasana gembira hendaknya selalu ingat Tuhan dan selalu waspada.”

Ketiga, laksitaning Subrata Lan Nyipta Marang Pringga Bayaning Lampah, yang artinya: “Dalam upaya menggapai cita-cita luhur jangan menghiraukan halangan dan rintangan.” Keempat, meper Hardaning Pancadriya, yang artinya: “Senantiasa berjuang menekan gejolak-gejolak nafsu duniawi.”

Kelima, Heneng-Hening-Hanung, yang artinya: “Di dalam diam akan dicapai keheningan dan di dalam keheningan akan mencapai jalan kebebasan mulia”. Keenam, mulya guna Panca Waktu, yang artinya: “Pencapaian kemulian lahir batin dicapai dengan shalat lima waktu.”

Ketujuh, wenehono teken marang wong kang wuto. Wenehono mangan marnag wong kang luwe. Wenehono busana marang wong kang wuda. Wenehono pangiyupan marang wong kang kudanan.”

Yang artinya: “Berikan tongkat pada orang yang buta, Berikan makan pada orang yang lapar, Berikan pakaian pada orang yang telanjang ,Berikan tempat berteduh pada orang yang kehujanan.”

Maksud dari terjemahan bebas, ajaran "Pepali Pitu" tersebut diatas adalah sebagai berikut secara makna rumusan "Filosofis Sosiologis" dari ajaran kanjeng Sunan Drajat berupa, bertujuan mengajak agar setiap diri membina dalam konsep konteks membangun diri. Sebagai arti petuahnya sebagai berikut:

Pertama, di dalam kehidupan ini setiap orang pasti melakukan interaksi atau hubungan dengan orang lain, agar tujuan dan cita citanya berhasil maka harus mampu membuat orang lain senang.

Kedua, dalam perjalanan hidup ini pasti akan menjumpai suka dan duka, untuk itu apabila dalam keadaan suka harus tetap waspada.

Ketiga, demikian pula dalam mencapai cita cita luhur itu, niscaya kita menemui kesulitan kesulitan atau hambatan maka tidak boleh putus asa terhadap segala rintangan dan harus tetap waspada supaya tidak terjerumus atau tergoda oleh jalan yang sesat atau membahayakan diri sendiri. Namun tetap berani menghadapi resiko segala bentuk rintangan.

Keempat, setiap orang harus mampu menahan segala hawa nafsu, baru akan nampak akhlak dan budi. Kelima, melalui sholat lima waktu dengan hati yang bersih orang akan menjadi terhormat, berguna serta mulya bermartabat.

Keenam, berpikirlah dengan tenang, jernih, supaya sampai yang dituju (kepada Allah). Ketujuh, jadilah orang yang dermawan, karena segala sesutu yang dimiliki manusia di muka bumi ini hanyalah titipan Allah semata.

Adapun bila diperhatikan ketujuh ajaran wejangan "Sapta Paweling" tersebut diatas menurut alim ulama sangat berhubungan erat sekali dengan akhlak dan budi pekerti, agar nantinya kita diterima disisi Allah Azza Wajalla, beliau juga sang "Sunan Drajat" berfatwa untuk memperoleh ridho Allah SWT, melalui tiga langkah yaitu:

Pertama, berperilaku yang baik, hingga menyebabkan hati orang lain senang dengan cara senantiasa waspada (hati hati), baik dalam keadaan suka maupun duka, agar tidak terjerumus kedalam perbuatan tercela.

Kedua, untuk itu seseorang harus mendirikan sholat lima waktu, menahan hawa nafsu (Lawwamah, Musawwalah, Amarah), penuh kesabaran, kearifan akal budi, bertakwa, serta mawas diri (nafsu Mutmainnah).

Ketiga, agar manusia dapat kembali ke haribaan Allah Azza Wajalla Yang Maha Esa karena itulah tujuan hidup kaum mukmin, menuju dalam keridhaan-Nya.

Kanjeng Sunan Drajat melanjutkan wejangannya; "Urif iku mung kadya wewayangan, lemampah senetran kadya ing tangane para dalang." Artinya, kehidupan adalah sekedar bayang bayang yang melintas sekejap bagaikan pelakon sandiwara yang berlagak lagak menghabiskan waktunya diatas panggung kemudian tak terdengar lagi suaranya.

Pada poin ke tujuh dalam “Pepali Pitu” itulah Gus Miftah terinspirasi untuk memberikan jalan bagi orang-orang yang berada di dunia malam untuk bermesraan kembali kepada Tuhan. ”Saya pernah ke makam nya Sunan Drajat, di sana ada pesan beliau dalam bahasa jawa Wenehono Ageman Marang Wong Mudo, Wenehono Tongkat Marang Wong Wuto, dalam bahasa indonesianya seperti ini; Berikanlah Pakaian kepada Orang yang Telanjang, dan Berikanlah Tongkat kepada Orang Buta.

Artinya bagi saya itu ajaran berbagi kasih sayang, sementara kebetulan ada teman-teman PSK yang butuh bimbingan kembali kepada Tuhan, sedangkan mereka dianggap masyarakat sekitar sebagai manusia tuna susila, oleh sebab itu saya mengambil keputusan untuk menjemput Bola.” Begitulah pengakuan Gus Miftah ketika berdialog dengan salah seorang Ketua PBNU, Robikin Emhas.

Berawal dari situ, Gus Mifta mengajak orang-orang yang bertato, wanita-wanita yang yang rambutnya dicat berwarna-warni itu untuk mengaji. Hampir belasan Tahun Gus Miftah melakukan dakwahnya di Dunia Malam itu tanpa disoroti media, Gus Mifta sudah melakukan dakwah di prostitusi Sarkem (Pasar Kembang) Yogyakarta 14 Tahun lamanya.

Gus Miftah mengalami banyak sekali rintangan dan halangan, perjalanan dakwahnya sempat dihadang oleh beberapa preman, namun berkat kegigihan beliau dalam mensyiarkan agama Islam, pada akhirnya langkah Gus Miftah untuk meminta izin kepada manajemen kelab-kelab di Yogyakarta dan Bali, ada beberapa manajer yang menolak, ada yang menerima, ada juga yang menerima dengan syarat.

Apakah Gus Miftah punya motif lain dalam menjalani dakwahnya di tempat-tempat prostitusi itu? Hanya Allah dan Gus Miftah yang tahu, namun dari pengakuan Gus Miftah kita dapat menarik kesimpulan bahwa yang berhak menjadi hakim atas tindakan orang lain itu hanya Allah. Beginilah pengakuan Gus Miftah:

“Coba tanya manajemen, apakah saya meminta bayaran? saya pengajian di Bali malah cari hotel sendiri. Saya tidak mencari sensasi, saya dituduh melacurkan agama tidak apa-apa, yang saya lakukan saat pengajian malah membawakan mereka makanan dan mukenah, saya bagian secara cuma-Cuma kepada mereka.” Masya Allah, semoga Allah memudahkan urusan siapa saja yang benar-benar berjuang di Jalan Allah.

Dalam kitab Riyadhus Shalihin Kitabul Ilmi Al Imam An Nawawi menyebutkan hadits nabi shallalahu’alaihi wasallam:

وَعَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ:وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقًايَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا,سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا إِلَى الجَنَّةِ

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” (HR Muslim)


Penulis adalah Santri di Pesantren Kreatif Baitul Kilmah Yogyakarta
Selasa 18 September 2018 0:0 WIB
Kesadaran dan Perilaku Green Hajj, Kurikulum Penting Manasik
Kesadaran dan Perilaku Green Hajj, Kurikulum Penting Manasik
Sampah tercecer di jalanan sekitar Jarwal, Makkah (Foto: A Sahri)
Oleh: Achmad Sahri

Kota Makkah yang merupakan kota suci umat Islam selayaknya bersih dari segala hal buruk, termasuk sampah tidak seharusnya berserakan di mana-mana. Sampah-sampah yang berserakan, menjadi pemandangan yang tidak mengenakan dan menimbulkan bau yang tak sedap.

Pemerintah Kota Makkah mengklaim mengelola sekitar 4.000 ton sampah per hari yang dikumpulkan selama musim haji dari empat area utama. Keempat area ini yaitu Makkah Haram, area Mina, Muzdalifah dan Arafat, yang dihasilkan dari sekitar 2,4 juta jamaah haji. Jumlah yang tidak bisa dibilang sedikit. 

Meski pengelolaan sampah di kota suci ini diklaim telah menggunakan Smart Waste System (sistem pengelolaan sampah cerdas) menggunakan teknologi digital, namun ada hal lain yang masih perlu menjadi perhatian. Kesadaran (awareness) dan perilaku (behaviour) jamaah haji terkait lingkungan (green hajj) yang perlu ditumbuhkan jauh sebelum seorang jamaah haji datang ke tanah suci.

Hal itu menjadi penting dilakukan mengingat kualitas lingkungan di bumi kita yang semakin menurun. Seruan hidup hijau (green) yang lebih ramah lingkungan juga telah menggaung sejak dekade terakhir dan dikampanyekan secara masif, namun praktiknya masih kurang merata di semua tempat.

Penerapan teknologi canggih memang dapat mendukung pengelolaan sampah menjadi lebih efektif saat sampah sudah terkumpul. Namun, kesadaran dan perilaku ramah lingkungan dari jamaah haji yang tidak berubah, menjadi masalah tersendiri. Karena, teknologi tidak serta merta memberikan suasana lingkungan menjadi bersih, selama perilaku orangnya tidak berubah. 

Kurikulum green hajj terutama pengetahuan dan kebiasaan hidup bersih perlu dimasukkan sebagai salah satu materi ajar selama kegiatan manasik haji di negara asal masing-masing. Jamaah haji harus tahu apa yang perlu dilakukan saat berada di tanah suci, bahkan sebelum mereka sampai ke lokasi. Proses naik haji bisa sejalan dengan praktik menjaga lingkungan. Caranya dimulai dengan meningkatkan kesadaran dan pengetahuan dari rumah. Bila perlu, green hajj ini dijadikan modul tersendiri dalam manasik haji, dan setiap jamaah haji harus lulus ujian modul ini untuk dapat dikatakan siap beribadah haji. 

Jika penyelenggara haji di Arab Saudi mau melakukan evaluasi dan mau meningkatkan pelayanan terkait lingkungan, terdapat beberapa hal yang menjadi catatan. Pertama, kesadaran dan perilaku hidup bersih perlu diberikan bukan saja kepada jamaah haji, namun juga kepada seluruh penghuni Kota Makkah.

Pemerintah Kota Makkah mengklaim telah memiliki program pendidikan bagi masyarakat sejak tingkat Sekolah Dasar dalam hal menjaga kebersihan dan memelihara keindangan Kota Makkah. Pada praktiknya beberapa orang dewasa yang membuang sampah lewat jendela bus atau membuang sampah di sembarang tempat yang sempat terekam oleh penulis selama ibadah haji mencerminkan bahwa kesadaran dan perilaku hidup bersih belum dilakukan oleh semua lapisan masyarakat.

Kedua, fasilitas sampah dan kebersihan (mandi cuci kakus), terutama di Mina, Arafah dan Muzdalifah harus mencukupi. Rasio jumlah orang, jumlah fasilitas, lama waktu tinggal dan jumlah petugas kebersihan perlu dipertimbangkan dengan baik.




Berikutnya, menurut laporan pemerintah setempat, lebih dari 13 ribu pekerja kebersihan beserta pengawasnya diperkerjakan selama musim haji tahun 2018 ini. Akan tetapi, distribusi pekerja kebersihan nampaknya belum merata. Akibatnya beberapa tempat mengalami penumpukan sampah yang sangat parah, seperti di kawasan Mina.

Keempat, frekuensi pengambilan sampah perlu dilakukan lebih sering. Jangan biarkan sampah menumpuk, terutama di dekat tenda di Mina, karena bisa menjadi sumber penyakit. Kelima, teknologi lapor sampah online: foto, kirim, tangani.

Sistem pengelolaan sampah cerdas yang diterapkan oleh Pemerintah Kota Makkah dengan teknologi digital memungkinkan para petugas memonitor kondisi kebersihan kota suci tersebut secara akurat sepanjang hari. Ini termasuk informasi terkait jumlah tempat sampah yang ada di seluruh area Makkah, volume sampah di setiap tempat sampah, dan jadwal pembersihan. Bahkan, konon jika masyarakat menemukan ada tumpukan sampah yang belum ditangani di suatu tempat, mereka dapat mengambil gambar dan mengirimkannya ke pusat pengelolaan sampah.

Para petugas di kantor itu dengan segera mengetahui lokasinya, dan mengirimkan petugas kebersihan untuk menangani sampah tersebut. Namun, informasi terkait kemana harus melaporkan atau mengirimkan gambar tumpukan sampah juga tidak banyak ditemukan. Publikasi terkait ini sangat minim.

Terakhir, sampahmu milikmu! Petugas haji perlu menekankan agar para jamaah melakukan tanggung jawabnya terkait kebersihan lingkungan. Jamaah haji harus rela bersabar untuk membawa sampahnya sendiri sampai menemukan tempat sampah. Bila perlu berikan sanksi bagi pembuang sampah yang tidak dapat menaati aturan. Selain itu, tanda-tanda dengan anjuran agar jamaah memilah sampah sesuai jenisnya juga perlu dilakukan, agar pengelolaan sampah lebih efektif. 

Kesadaran dan perilaku hidup bersih yang berjalan dengan baik di negara-negara maju seperti Belanda atau Jepang mestinya bisa menjadi contoh dan rujukan. Haji mabrur seharusnya ditunjukkan bukan hanya dengan kesalehan ritual semata, tetapi juga kesalehan lingkungan. Bukankah kebersihan sebagian dari iman?

Penulis adalah Ketua Lembaga Pertanian dan Lingkungan Hidup (LPLH) Pengurus Cabang Istimewa Nahdhatul Ulama (PCINU) Belanda. Tinggal di Wageningen-Belanda.


Senin 17 September 2018 19:15 WIB
Memecah Belah Umat dan Perbedaan Pilihan Politik
Memecah Belah Umat dan Perbedaan Pilihan Politik
Oleh Al-Zastrouw Ngatawi

Kalimat memecah belah umat ini begitu populer di kalangan masyarakat. Beberapa kelompok yang kontra sering menggunakan kalimat ini sebagai argumen retoris untuk melegitimasi tindakan dan melakukan penolakan terhadap yang lain. Apakah saat ini umat benar-benar pecah? Atau ini sekadar slogan retoris dan politis?

Untuk menjawab berbagai pertanyaan di atas ada baiknya melihat arti kata "pecah" sebagai akar kata "perpecahan". Dalam KBBI kata "pecah" diantaranya bermakna: (1) terbelah menjadi beberapa bagian; (2) retak atau rekah; 3) bercerai berai atau tidak kompak lagi, dan beberapa arti lagi, namun tiga makna itulah yang relevan ketika digabungkan dengan kata umat.

Jika dilihat dalam perspektif dan bingkai keislaman dan keindonesiaan, sebenarnya penggunaan kata "memecah belah umat" untuk mendiskripsikan suatu tindakan dan pilihan politik yang berbeda sebenarnya tidak tepat karena tidak sesuai dengan fakta.

Jika kata "memecah belah umat" tersebut ditujukan pada umat Islam maka ini jelas tidak tepat, karena sampai detik ini umat Islam Indonedia masih bersatu dan utuh dalam bingkai NKRI. Tidak ada yang tercerai-berai, mereka masih berpegang Qur'an dan Hadits. Menjadikan ulama, kiai dan habaib sebagai panutan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang berdasar Pancasila.

Dari berbagai kenyataan ini, jelas terlihat sebenarnya tidak ada perpecahan umat Islam Indonesia. Yang ada adalah perbedaan, mulai perbedaan pemahaman, pemikiran, madzhab sampai perpedaan pilihan politik terutama saat pilpres, pilkada maupun pileg.

Selagi mereka masih mengakui NKRI dan Pancasila sebagai bentuk dan dasar negara maka sebenarnya yang terjadi bukan perpecahan umat tetapi perbedaan pilihan. Dengan demikian penggunaan kata "memecah belah umat" karena perbedaan pilihan politik menjadi tidak tepat.

Jargon memecah belah umat baru menjadi tepat ketika katagori yang digunakan adalah sistem politik dan ideologi. Dalam konteks ini orang yang tidak mau menerima sistem dan ideologi yang ditawarkan akan dianggap orang lain atau kelompok lain yang perlu disingkirkan dan dimusuhi. Jika sudah demikian maka yang terjadi adalah perpecahan karena masing-masing pihak berada dalam sistem dan ideologi yang berbeda dengan garis demarkasi yang jelas.

Ketika ada sekelompok orang yang ingin mengganti ideologi Pancasila dan NKRI dengan mengusung sistem khalifah dan ideologi fundamentalisme Islam maka mereka akan berusaha menyatukan umat dalam gerakan mereka. Persatuan umat Islam berarti bersatu dengan gerakan dan pemikiran politik mereka. Yang berbeda akan dianggap pengkhianat, pemecah belah umat yang harus dilawan dan disingkirkan.

Di sini perbedaan akan dianggap sebagai perpecahan. Meskipun secara formal dan ideologis seseorang memeluk Islam dan rajin menjalankan ibadah namun akan tetap dianggap thoghut jika tidak mau ikut pada pemahaman dan garis perjuangan mereka.

Misalnya dalam konteks pemilihan Presiden, kedua pasang kandidat yang sedang berlaga adalah sama-sama warga bangsa Indonesia dan sama-sama Muslim, maka sebenarnya tak ada perpecahan umat Islam ketika terjadi perbedaan dalam memilih dua kandidat tersebut. Siapa pun yang menang adalah bagian dari umat Islam.

Perpecahan akan muncul, katika salah satu pasangan kandidat dianggap bukan Islam atau bukan representasi dari umat Islam. Sehingga ketika ada umat Islam yang memilih pasangan tersebut dianggap telah memecah belah umat. Bahkan keberadaan pasangan tersebut dianggap memecah belah umat sekali pun dia seorang ulama. Sedangkan calon yang lain dianggap sebagai pemersatu umat karena sesuai dengan kemauan mereka.

Dari sini jelas terlihat apa dan siapa yang paling suka menggunakan kata "memecah belah umat" dan ideologi apa yang ada di baliknya, yaitu ideologi fundamentalis puritan yang selalu ingin berkuasa dan memaksakan kehendak dengan segala cara. Ideologi ini tidak mengenal adanya perbedaan karena perbedaan dianggap sama dengan perpecahan. Semua umat harus bersatu dalam kendali dan barisan mereka. Itulah yang menyebabkan kelompok ini mudah mengatasnamakan umat dan agama.

Pandangan seperti ini tidak akan muncul di kalangan ulama dan umat Islam Indonesia yang masih menerima NKRI dan Pancasila sebagai bentuk dan dasar negara. Bagi kelompok ini perbedaan suara umat dalam menentukan pilihan Presiden atau Pilkada tidak akan dianggap sebagai perpecahan umat. Mereka akan menganggap hanya perbedaan bukan perpecahan karena masih sama-sama menjadi warga negara dan masih sama-sama Islam.

Apa yang terjadi menunjukkan bahwa tidak akan ada perpecahan umat Islam Indonesia hanya karena perbedaan pilihan saat pilpres atau pileg. Selagi mereka masih menerima Pancasila dan NKRI sebagai dasar dan bentuk negara perbedaan sejauh apapun tidak akan menimbulkan perpecahan umat. Perpecahan umat akan muncul ketika perbedaan pilihan dianggap sebagai pengkhianat dan penghambat terjadinya pergantian sistem dan ideologi di negeri ini.


Penulis adalah pegiat budaya, dosen Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG