IMG-LOGO
Humor

Orang Madura Naik Pesawat

Kamis 20 September 2018 7:30 WIB
Bagikan:
Orang Madura Naik Pesawat
Ilustrasi (merdeka.com)
Suatu ketika Kamiluddin, pria paruh baya dari Sumenep ingin mengunjungi saudaranya di Jakarta. Ia memilih naik pesawat terbang agar cepat sampai. Lagipula, moda transportasi ini belum pernah dicobanya. Ini merupakan pengalaman pertama Kamiluddin naik pesawat.

Ia mempersiapkan segala sesuatunya, terutama tiket. Ia agak terburu-buru karena harus check-in 30 menit yang seharusnya 60 menit sebelum penerbangan.

Dengan langkah tergopoh-gopoh akhirnya dia bisa masuk ke pesawat juga. Tidak memperhatikan nomor seat di boarding pass, Kamiluddin serta merta langsung duduk di bagian depan. Padahal, kursinya di bagian belakang.

Sedang asyik bersantai setelah merapikan tas di bagasi kabin, Kamiluddin tiba-tiba didatangi oleh seorang perempuan muda.

“Maaf pak, kursi yang bapak duduki itu kursi saya,” kata si perempuan.

“Eh mbak, jangan sembarangan, ini kursi milik perusahaan pesawat, kursi sampean di rumah,” jawab Kamiluddin dengan logat khas Maduranya.

Melihat keributan itu, seorang pramugari mendatangi Kamiluddin dan si perempuan. Pramugari langsung melihat tiket masing-masing. Kemudian berkata, “Maaf pak, ini tempat duduk ibu, kursi bapak di bagian belakang,” ucap pramugari.

“Eh mbak, sampean ini siapa? Kursi saya di rumah, bukan di belakang. Ini kursi pesawat tempat duduk semua penumpang,” Kamiluddin tetap teguh dengan pendiriannya.

Keributan itu menyita semua mata penumpang, tak terkecuali pria asal Surabaya bernama Fauzan yang sedikit banyak memahami karakter orang Madura.

“Maaf, bapak tujuannya ke mana?” tanya Fauzan.

“Saya mau ke Jakarta,” jawab Kamiluddin dingin.

“Kursi tempat duduk bapak bukan untuk penumpang tujuan Jakarta, nanti bapak bisa nyasar loh. Tujuan Jakarta tempat duduknya di belakang,” terang Fauzan.

Tanpa basa-basi, akhirnya Kamiluddin langsung mlipir ke kursi bagian belakang dipandu oleh pramugari agar sesuai dengan nomor seat. (Fathoni)
Tags:
Bagikan:
Ahad 16 September 2018 18:30 WIB
Nikmatnya Jadi Orang NU
Nikmatnya Jadi Orang NU
Kenduri (Foto: Ist.)
Kebiasaan mengundang jamaah untuk doa bersama sudah menjadi budaya warga NU. Biasanya setelah doa bersama yang biasa dinamakan kenduri, para jamaah membawa pulang makanan khas yang dinamakan berkat.

Dinamakan berkat karena berharap apa yang dilakukan dan makanan yang disedekahkan akan menjadi berkah bagi pengundang maupun yang diundang. Tak heran jika ada pernyataan menilai bahwa warga NU yang sudah sukses dalam kehidupan tidak lepas dari jasa nasi berkat yang ia makan sejak ia kecil.

Terkait kebiasaan kenduri ini suatu hari usai shalat Ashar, Pak Kaum Ahmad bediri di depan para jamaah yang memenuhi mushala tua disamping rumahnya. Dengan suara pelan penuh wibawa, namun terdengar oleh seluruh jamaah, ia mengumumkan kepada jamaah bahwa nanti malam akan ada dua kegiatan kenduri dilingkungannya.

Tampak para jamaah mendengarkan satu-persatu kalimat yang disampaikan oleh Pak Kaum yang sudah lebih dari 25 tahun mengabdi ikhlas demi warga mulai dari menikahkan warga sampai dengan mengurusi jenazah ini.

Belum sampai Pak Kaum menyampaikan inti dari apa yang disampaikan, batuknya menghentikan kalimatnya dan menggema di ruangan Mushala. Jamaah pun merasa penasaran. Dua kegiatan kenduri apa yang akan dilaksanakan nanti malam.

“Bapak-Bapak nanti habis maghrib dan habis Isya, kita mendapat undangan dari jamaah kita. Mudah-mudahan kita diberi kesempatan dan kesehatan untuk hadir,” jelasnya sambil memperbaiki letak surban hijau di pundaknya.

Salah satu jamaah spontan bertanya kepada Pak Kaum tentang undangan kenduri apa dan dari siapa nanti malam. “Maaf Pak Kaum, undangan kenduri apa dan dari siapa?,” tanya jamaah yang nampak kurang sabar menunggu pengumuman dari Pak Kaum.

“Nanti malam habis Maghrib dan Isya kita diundang kenduri Syukuran di tempat Pak Slamet dan Slametan di tempat Pak Syukur,” jawabnya seraya menutup pengumumannya dengan salam. (Muhammad Faizin)
Rabu 12 September 2018 19:0 WIB
Akibat Memahami Al-Qur’an Secara Tekstual
Akibat Memahami Al-Qur’an Secara Tekstual
Al-Qur’an itu ‘kompleks.’ Untuk memahaminya, dibutuhkan banyak perangkat. Ada tafsir, asbabun nuzul (sebab turunya), ushul fiqih, balaghah, dan lainnya. Tidak cukup memahami Al-Qur’an hanya berdasarkan terjemahan. Malah, memahami suatu ayat Al-Qur’an secara tesktual bisa-bisa membuat seseorang ‘keblinger’ dan jauh dari apa yang dimaksudkan ayat tersebut.

Dikisahkan, ada seorang Badui bernama Mujrim –dalam bahasa Arab, Mujrim bermakna pelaku kriminal atau pendosa. Suatu ketika, Mujrim sedang melaksanakan shalat Subuh di sebuah masjid. Ia berada di barisan paling depan, belakang imam tepat. Sejak imam takbiratul ihram hingga selesai membaca Al-Fatihah, Mujrim baik-baik saja. 

Keadaan tiba-tiba berubah manakala sang imam membaca Surat al-Mursalah, usai membaca Surat Al-Fatihah. Ketika sang imam sampai pada ayat ke-16: Alam nuhlikil awwalin (Bukankah telah Kami binasakan orang-orang terdahulu?). Mendengar ayat itu, Mujrim langsung mundur ke barisan paling belakang. Dalam pemahaman Mujrim, ‘orang-orang terdahulu’ dalam ayat tersebut adalah orang yang berada dalam barisan pertama shalat, dirinya.

Ketika sang imam membaca ayat ke-17; Tsumma nutbi’uhumul akhirin (Lalu Kami susulkan (azab Kami atas) orang-orang yang datang belakangan). Lagi-lagi, karena  memahami ayat tersebut secara tekstual, apa adanya, maka Mujrim berpindah lagi. Ia maju satu shaf, berdiri di barisan tengah. 

Tidak sampai di situ, ulah Mujrim ‘menjadi-jadi’ manakala imam sampai pada ayat ke-18 Surat al-Mursalat. Imam membaca Kadzalika naf’alu bil mujrimin (Demikianlah Kami perlakukan para pendosa (mujrim)). Mendengar ayat yang dibacakan imam itu, si Badui Mujrim langsung keluar dari barisan shalat dan berlari meninggalkan masjid seketika itu juga. Tidak lain, dengan memahami ayat Al-Qur’an secara tekstual, Mujrim mengira bahwa dirinyanya lah yang dicari-cari untuk dibinasakan atau dibunuh. (Ahmad)

Kisah di atas disarikan dari Tertawa Bersama Al-Qur’an, Menangis Bersama Al-Qur’an.
Rabu 12 September 2018 7:30 WIB
Donor Hati Anggota DPR
Donor Hati Anggota DPR
Ilustrasi via Elshinta
Herman merupakan salah satu orang terpandang di kampungnya. Tetapi dia harus menghadapi penyakit dalam yang akut, kerusakan hati.

Setelah diperiksa oleh dokter di sebuah rumah sakit kelas satu, hati Herman harus ditransplantasi.

“Bapak harus melakukan transplantasi hati kalau ingin sembuh total,” terang sang dokter.

“Maksudnya hati saya harus diganti, dok?” tanya Herman.

“Benar pak, dan bapak harus mencari donornya,” dokter lagi.

“Saya minta tolong saja dok, carikan donor hati seorang anggota DPR,” pinta Herman.

“Kenapa harus anggota DPR, pak?” dokter keheranan.

“Karena hati mereka jarang dipakai, dok,” seloroh Herman. (Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG