IMG-LOGO
Tokoh

KH Mas Abdurrahman dari Mathla'ul Anwar ke NU

Sabtu 29 September 2018 5:0 WIB
Bagikan:
KH Mas Abdurrahman dari Mathla'ul Anwar ke NU
Ada beberapa organisasi yang memiliki hubungan erat dengan NU. Di Lombok, Nusa Tenggara Barat ada namanya Persatuan Ulama Islam Lombok (PUIL) yang berpusat di Ampenan. Ketika NU berdiri, para tokohnya meleburkan organisasnya dengan NU.

Di Sulawesi Selatan ada Darud Dakwah wal-Irsyad (DDI). Para pengurusnya banyak yang merangkap dengan menjadi pengurus NU. Misalnya KH Ali Yafie. Dan itu sepertinya tidak ada persoalan bagi dua organisasi ini. 

Di Sumatera Barat ada Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) yang didirikan Syekh Sulaiman Ar-Rasuli. Dengan organisasi ini pun NU memiliki sejarah hubungan yang sangat erat. Bahkan bersama-sama mendirikan Liga Muslimin Indonesia pada tahun 1952. Para tokoh dua organisasi ini pun saling mempromosikan. Majalah Berita Nahdlatoel Oelama misalnya merokomendasikan pembacanya untuk membaca buku karya-karya tokok Perti KH Sirojuddin Abbas. Tak heran makanya karyanya menjadi konsumsi di pesantren-pesantren NU. 

Hal itu terjadi karena pemikiran dan haluan organisasi tersebut sejalan dengan NU. Di Subang, ada kiai bernama Moch Anwar. Ia pernah menjadi pengurus NU di Karawang dan di Subang sendiri, tapi kemudian menjadi pengurus Perti.   

Di Sumatera Utara ada organisasi Al-Washliyah. Organisasi itu tetap eksis hingga sekarang. Namun, di antara anggota dan pengurusnya, dalam waktu yang sama aktif juga di NU. Bisa ditemukan misalnya KH Fadlan Zainuddin. Ia adalah anggota Al-Wahsliyah yang menjadi Ketua Jam’iyyatul Qurra wal-Huffaz NU, badan otonom tempat berkumpulnya pra qari dan qariah dan penghafal Al-Qur’an. 

Di Pandeglang ada namanya Mathlaul Anwar yang didirikan oleh beberapa kiai, salah seorang di antaranya adalah KH Mas Abdurrahman. Namun, ketika salah seorang sahabatnya, Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari mendrikan NU, para pendiri Math'laul Anwar sepakat meleburkan diri dengan NU.

KH Mas Abdurrahman sendiri merupakan kiai yang sejak awal ikut muktamar NU pertama di Surabaya. Bahkan ia didudukan pada posisi syuriyah. Satu-satunya kiai dari Jawa Barat yang mendapakannya.  

Mungkin karena ketokohan dia juga sehingga Muktamar NU ke-13 berlangsung di daerahnya, di Menes.

Pada muktamar ketiga, ia kembali duduk di Syuriyah HBNO. Dan dia merupakan satu-satunya ulama dari Jawa Barat yang mendapat kedudukan itu.  Ia hadir pula di muktamar keempat, Semarang tahun 1929. 

Pada muktamar ketiga itu ia menjadi pemimpin di Majelis ketujuh dengan anggota Kiai Hasyim, Kiai Ridwan, Kiai Asnawi, Kiai Yasin (Banten). Ia juga menjadi anggota pada Komisi Lima. Muktamar-muktamar selanjutnya ia terus mengikuti, diantaranya muktamar ke-15 di Surabaya. Sepanjang hidupnya, ia mengikuti muktamar NU, kecuali saat berlangsung di luar Jawa, yaitu pada tahun 1936 di Banjarmasin. 

KH Mas Abdurahman lahir sekitar 1875 dan wafat tahun 1942. Ia dimakamkan di Sodong, Menes. Ia pernah nyantri di Pesantren Sarang (Jawa Tengah), Pesantren Agung Caringin, Purwakarta (Jawa Barat), dan berguru di Makkah. Di sanalah ia bertemu dengan tokoh-tokoh yang kemudian mendirikan NU. 

Ayahnya bernama Jamal. Dari silsilahnya, ia merupakan keturunan sultan Banten sehingga namanya diawali Mas. (Abdullah Alawi) 

Tags:
Bagikan:
Senin 17 September 2018 8:0 WIB
Ibnu Ruslan dan Matan Zubadnya
Ibnu Ruslan dan Matan Zubadnya
Jarang ada ulama sebelum Ibnu Ruslan membuat Matan Zubad, sebuah nazham berisi kajian fiqih. Nazham ini sangat terkenal, di dunia maupun di Nusantara, terkhusus di kalangan santri, lantaran mereka mempelajarinya di pesantren.

Nama lengkap pemilik nazham ini adalah Al-‘Allamah Syihabuddin Abu Al-‘Abbas Ahmad bin Husain bin Hasan bin ‘Ali bin Yusuf bin ‘Ali bin Ruslan Ar-Ramly As-Syafi’i. Ia lahir di kota Ramlah yang terletak di Palestina pada tahun 773 H. Ada pendapat lain yang mengatakan 775 H. Ia tumbuh di sana dan hafal Al-Quran sejak usia 10 tahun.

Dalam permulaan mencari ilmu, ia memulai dengan mendalami ilmu nahwu, bahasa, dan nazham. Ia kemudian mempelajari kitab Al-Hawi kepada Syekh Syamsudin Al-Qalqasandy. Setelah melanjutkan petualangannya dalam menuntut ilmu, ia sampai di sejumlah muhadditsin pada zaman itu.

Ibnu Ruslan talaqi (membaca di hadapan guru) kitab Shahih Bukhari kepada Syekh Syihabuddin Abu Al-Khairi bin ‘Al-‘Ala, Kitab Muwattho’ yang dengan riwayat Yahya bin Bukair kepada Syekh Abu Hafsh ‘Umar bin Muhammad ‘Ali As-Sholih, Kitab Jami’ At-Tirmidzi, Sunan Ibn Majah, As-Syifa, dan Syirah Ibn Hisyam kepada Syekh Abu Al-‘Abbas Ahmad bin ‘Ali bin Sanjar Al-Mardini, dan membaca sebagian banyak kitab Bukhari kepada Syekh Jalal Al-Bulqini sekaligus mengizinkannya untuk mengeluarkan fatwa, dan mempelajari nahwu pada Syekh Al-Ghumary begitu juga An-Nasawury yang memberi ijazah dalam ilmu nahwu.

Konon ia terus-menerus mengulang-ngulang apa yang telah dipelajarinya, selalu melazimkan memuthala’ah ilmu serta sibuk bermukim di Quds Palestina. Namun kadang-kadang juga di Ramlah sehingga ia dinobatkan sebagai imam yang terkemuka dalam masalah fiqih, ushul fiqih, bahasa arab, sekaligus tafsir, hadits dan ilmu kalam.

Ibnu Ruslan juga terkenal dengan ketaatan dan kerajinannya dalam beribadah terkhusus shalat tahajjud. Selain itu ia lebih suka ‘khumul’ dan zuhud, sehingga di kemudian hari menjadi panutan bagi para salik dan menanamkan mahabbah Allah SWT di hati manusia.

Imam Ibnu Ruslan menuntut ilmu kepada sejumlah masyaikh pada zamannya. Di antaranya: ilmu fiqih kepada Syekh Syamsuddin Al-Qalqasandy, ilmu faraidh dan hisab kepada Syekh Syihabuddin ibn Al-Haim, ilmu tasawuf sekaligus talqin zikir kepada Jalaluddin Al-Busthami, Shihabuddin bin Nashih, Muhammad Al-Qarmy, dan Muhammad Al-Qadiry. Kemudian ia banyak bertalaqi kepada Abu Hurairah bin Adz-Dzahabi, Ibnu Al-‘Izz, Ibn Abu Al-Majdi, Ibnu Shiddiq.

Guru-gurunya antara lain adalah At-Tanukhy, Ibnu Al-Kuwayki, Abu Al-‘Abbas Ahmad bin ‘Ali bin Sanjar Al-Mardini, Nasim bin Abi Sa’id Ad-Daqqaq, Ali bin Ahmad An-Nawiry Al-‘Aqily, Shihabuddin Al-Hasbani, Jalaluddin Al-Bulqini, Sirajuddin Al-Bulqini yang merupakan ayahnya sendiri.

Murid-murid yang menuntut ilmu kepadanya sangat banyak. Namun ia tidak menyebutkan dalam sumber manapun mengenai hal ini. Meski begitu, Imam As-Sakhawi mengatakan bahwa Al-Kamal bin Abi Syarief dan Syihabuddin Abu Al-Basith Ar-Ramly pernah belajar kepada Ibnu Ruslan.

Imam Ibnu Ruslan banyak meninggalkan karangan yang sangat banyak manfaatnya dalam berbagai macam bidang keilmuan. Karyanya meliputi: Syarah Sunan Abu Dawud sebanyak sebelas jilid, Syarah Al-Hawi dalam ilmu furu’, Syarah Jam’il Jawami’ milik Imam As-Subki, Syarah Mukhtashar Ibn Al-Hajib, Nihayah As-Sul Syarah Minhajul Wushul milik Imam Baidhawy, Syarah Shahih Al-Bukhari baru mencapai akhir bab haji berjumlah tiga jilid, Syarah Thayyibat An-Nashr fi Al-Qira’at Al-‘Asyr berjumlah sebelas jilid, Syarah Mulhatul I’rab milik Imam Al-Hariri, Syarah Al-Fiyah Al-‘Iraqi, sebuah ta’liqat kitab Syifa milik Qadhi ‘Iyadh, syarah Al-Bahjah Al-Wardiyyah, Tanqih Al-Adzkar An-Nawawi, Mukhtasar Al-Minhaj, Mukhtasar Raudhatut Thalibin, Manzhumah Ats-Tsalats Al-Qira’ah Az-Zaidah ‘ala As-Sab’i, Manzhumah Ats-Tsalats Az-Zaidah ‘ala Al-‘Asyr, Mukhtasar Hayat Al-Hayawanat, I’rab Al-Alfiyah, Thabaqatul Fuqaha As-Syafi’iyah, Syarah Tarajum Ibn Jamrah, Ar-Raudhah Al-Ardhiyyah Fi Qismil Faridhah, Suthurul A’lam, Syarah Muqaddimah Az-Zahid, Shafwah Az-Zubbad.

Ibnu Ruslan wafat pada 24 Syaban tahun 844 H di tempat tinggalnya di Palestina.

Kitab Shafawatu Zubad atau yang lebih dikenal dengan matan Zubad berisi tiga disiplin ilmu penting dalam Islam, yaitu ilmu tauhid, fiqih, dan tasawuf. Tiga ilmu tersebut adalah refleksi dari hadits yang diriwayatkan sahabat Umar RA tentang islam, iman, dan ihsan:

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ   وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ (رواه مسلم)

Artinya, “Dari Umar RA, ia berkata, Ketika kami duduk-duduk di sisi Rasulullah SAW suatu hari tiba-tiba datang seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk di hadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah SAW) seraya berkata, “Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam?” Rasulullah SAW bersabda, “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang disembah selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu.” Kemudian ia berkata, “Anda benar.” Kami semua heran, ia yang bertanya dan ia pula yang membenarkan. Kemudian ia bertanya lagi, “Beritahukan aku tentang Iman.” Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir. Engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” Kemudian ia berkata, “Anda benar.” Kemudian ia berkata lagi, “Beritahukan aku tentang ihsan.” Lalu Rasul SAW bersabda, “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya. Jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau.” Kemudian ia berkata, “Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Rasul bersabda, “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.” Ia berkata, “Beritahukan aku tentang tanda-tandanya.” Rasul bersabda, “Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya.” Kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian Rasulullah bertanya, “Tahukah engkau siapa yang bertanya?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasul SAW bersabda, “Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian,” (HR Muslim).

Ibnu Ruslan menyusun matan ini dengan bentuk rajaz, sebagaimana yang lebih sering dipakai di beberapa kitab manzhumah yang ada. Meski berbentuk nazham, matan Zubad lumayan mudah dipahami bagi para pelajar atau pemula.

Ibarat dalam ilmu fiqih, nazham ini seperti Fathul Qarib atau dalam ilmu ushul fiqih seperti Waraqat yang mana keduanya banyak digunakan oleh para pelajar yang baru memulai mendalami fiqih maupun ushul fiqih.

Imam Ibnu Ruslan mengisyaratkan dalam mata ini di dalam mukaddimahnya:

يسهل حفظُها على الأطفال # نافعة لمبتدي الرجال
تكفي مع التوفيق للمشتغل # إن فهمت وأُتبعت بالعمل

Artinya, “Mudah menghafalkannya bagi anak-anak/dan bermanfaat untuk pemula dari kalangan orang dewasa/
Nazham ini mencukupi (dari yang selainnya) bersama dengan taufiq bagi orang yang menyibukan diri (untuk membaca dan mempelajarinya/jika dipahami dan diikuti dengan amal.”

Ar-Ramli dalam bait kedua ini menerangkan bahwa taufiq adalah di mana Allah SWT menciptakan kemampuan pada seorang hamba untuk melaksanakan ketaatan. Ketaatan adalah sumber dari seseorang bisa memahami suatu ilmu, sebagaimana Allah SWT berfirman:

واتقوا الله ويعلمكم الله  والله بكل شيء عليم

Artinya, “Takwalah kepada Allah, maka Allah akan mengajarkanmu,” (Al-Baqarah ayat 282).

Ayat ini menunjukkan janji Allah SWT bahwa siapa pun yang bertakwa akan diberikan suatu pemahaman dan ilmu. Begitu juga Allah SWT akan menjadikan cahaya di hati orang ini sehingga mudah dalam memahami ilmu.

Matan yang berisi intisari hukum-hukum fiqih ini sangat cocok dijadikan pedoman kita dalam mengarungi bahtera kehidupan di dunia. Tertarik untuk membacanya? (Amien Nurhakim)
Kamis 13 September 2018 9:0 WIB
KH Masruri Mughni dan Budaya Menghafal Al-Qur’an Masyarakat Benda
KH Masruri Mughni dan Budaya Menghafal Al-Qur’an Masyarakat Benda
KH Masruri Abdul Mughni
Setiap tanggal 1 Muharam tahun Hijriyah, masyarakat Desa Benda, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, mengadakan Haul Akbar al-Maghfūr lah KH Masruri Abdul Mughni (1943-2011 M) atau yang akrab disapa Abah Masruri. Namun, sebagian masyarakat belum banyak yang tahu tentang keunikan desa tersebut sebagai kampung yang aktif “memproduksi” Ḥāfiẓ/Ḥāfiẓah di setiap generasinya.

Pada umumnya, Desa Benda dikenal oleh khalayak masyarakat sebagai kampung santri karena keberadaan Pesantren Al-Hikmah, terutama ketika di bawah kepemimpinan kharismatik Abah Masrur, sebagai tokoh generasi kedua.

Meski tidak sepenuhnya salah, namun satu fakta yang tidak boleh luput dari tinta sejarah adalah penisbatan Desa Benda sebagai Dār al-Qur’ān atau desa hunian Qur’āni. Penisbatan demikian tidaklah berlebihan dan sangat beralasan mengingat di samping desa ini memiliki tidak kurang 7 pesantren Taḥfiẓ al-Qur’ān, desa ini juga telah bershasil menciptakan budaya menghafal al-Qur’an bagi masyarakat setempat dan di sekitarnya.

Tujuh pesantren di Desa Benda yang dirintis khusus pembelajaran Taḥfiẓ al-Qur’ān adalah Pesantren Al-Hikmah, Pesantren Al-Amīn, Pesantren Al-ʻIzzah, Pesantren Manārul Qur’ān, Pesantren Al-Istiqāmah, Pesantren Nūr al-Qur’ān, dan muncul belakangan adalah Pesantren Al-Hikmah 1.

Oleh karenanya tidak sedikit para ulama dan tokoh nasional yang sempat berkunjung ke Desa Benda selalu menyebutnya sebagai Dār al-Qur’ān atau Desa Al-Qur’ān  yang layak masuk rekor MURI. Fakta demikian semakin diperkuat dengan data statistik tahun 2013 yang mencatat bahwa jumlah Ḥāfiẓ/Ḥāfiẓah penduduk desa Benda (non-santri) sebanyak 165 orang (JQH Brebes, 2013). Jumlah ini menurun drastis dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Berdasarkan wawancara peneliti dengan ʻIzzuddīn Masruri, Putra Abah Masrur sekaligus Pengasuh Pesantren Taḥfiẓ al-Qur’ān Al-Hikmah, diperoleh sebuah informasi bahwa pendidikan Taḥfiẓ al-Qur’ān di Desa Benda tidak sekonyong-konyong ada, tetapi melalui sebuah proses panjang pengenalan al-Qur’ān  kepada masyarakat yang dimulai dari era Kiai Nasir sampai Kiai Suhaimi.

Kiai Nasir adalah orang yang pertama kali memperkenalkan bacaan al-Qur’ān  kepada masyarakat Benda meski dari segi kualitas bacaan tidak sempurna seperti pengucapan yā ḥayyu menjadi yā kayyu,walāḍḍāllīn menjadi walā lalin dan sebagainya, sampai dengan datangnya Kiai Khalīl bin Maḥallī. Maka perlu dicatat bahwa orang yang pertama kali mereformasi bacaan al-Qur’ān secara tepat dan benar berdasarkan kaidah tajwid adalah Kiai Khalīl sampai dengan lahirnya budaya menghafal al-Qur’ān  di era Kiai Suhaimi 11 tahun kemudian (1922 M).

Abah Masrur adalah cucu pendiri Pondok Pesantren Al-Hikmah (1911 M), KH. Cholil bin Mahali. Ulama yang menjadi Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah hampir dua periode ini dikenal khalayak sebagai kiai kharismatik yang ʻālim hampir di semua bidang ilmu keagamaan sebagaimana menu harian yang dibaca untuk santrinya mulai dari Fatḥ al-Wahāb, Tafsir Jalālain, Sharaḥ Ibn ʻAqīl sampai Ihyā ‘Ulūm al-Dīn.

Khusus bagi santri yang belajar di Madrasah Mu’allimīn dan Muʻallimāt akan mendapat servis plus darinya dengan materi ilmu tafsir, ilmu ‘arūḍ dan ilmu falak. Waktunya hampir habis untuk mengajar para santri yang dimulai dari baʻda subuh hingga tengah malam dan itu dilakukan dengan istiqāmah hingga menjelang wafatnya.

Tidak berlebihan jika sebagian masyarakat menisbatkan tarekatnya sebagai tarekat taʻlīmiyah. Atau bahkan ada yang menisbatkannya dengan tarekat mbanguniyah karena di eranya lah, Al Hikmah mengalami perkembangan pesat dalam ranah pendidikan yang dibarengi dengan pembangunan sarana dan prasarana yang tak bertepi.

Dalam konteks budaya menghafal, kiprah dan kontribusi Abah tidak dapat diabaikan. Meski tidak secara langsung membawahi Pesantren Taḥfiẓ al-Qur’ān, sebagai generasi kedua, peran Abah sangat krusial dan substansial. Abah tidak pernah merasa sungkan untuk selalu memberi motivasi kepada khalayak masyarakat khususnya santri untuk menjadi Ahl al-Qur’ān dengan menghafalkannya.

Bahkan di setiap pengajian-pengajian majlis taʻlim, Abah tidak jarang memberikan tawaran beasiswa kepada siapa saja yang mau menghafal al-Qur’ān dan di manapun pesantren yang diinginkan. Sebuah terobosan yang juga dilakukan pendahulunya, Kiai Suhaimi yang tidak sungkan untuk menjemput bola dan mengajak orang untuk menghafal al-Qur’ān.

Semangat Abah bukan tanpa alasan tetapi terinspirasi oleh ajaran fiqh yang menghukumi Farḍu Kifāyah di dalam menghafal al Qur'ān, yakni harus ada sebagian umat Islam yang hafal Al Qur’ān. Ia melihat selama ini belum ada lembaga yang menyatakan sanggup menjaga ketentuan fardlu kifayah yang satu ini. Untuk itu, melalui pondok pesantrennya, ia ingin sebisa mungkin menjaga ketentuan ini.

“Jangan sampai pada suatu masa nanti, tidak ada lagi satu pun umat Islam yang hafal kitab suci yang terbagi dalam 6 ribu lebih ayat, 114 surat dan 30 juz itu”(Profil Pondok Pesantren Al-Hikmah, t.t.). Bahkan dengan para penghafal al-Qur’ān, Abah tidak segan mengungkapkan jargon “Afḍal al-Ṭarīqah Ṭarīqah Al-Qur’ān”.

Motivasi Abah ini memiliki pengaruh luar biasa di dalam menjaga budaya menghafal al-Qur’an bahkan berhasil melakukan terobosan ke arah pengembangan. Bertambahnya jumlah Pesantren Taḥfiẓ al-Qur’ān di Desa Benda disertai massifnya generasi penerus penghafal al-Qur’an, merupakan fakta yang menggembirakan.

Untuk menyebut dari sekian generasi penerus dan beberapa pesantren yang lahir kemudian seperti Ustāẓ ʻAbdul Hādi (menantu dan penerus Kiai Fatih), KH. Abdul Rauf, KH. Abdur Rasyid dan KH. Mustofa (ketiganya merupakan anak dan penerus KH. Aminuddin), KH. Izzuddin dan Nyai Hj. Minhah (keduanya adalah penerus KH. Alī Ashʻāri).

Sedangkan beberapa Pesantren Taḥfiẓ al-Qur’ān yang lahir kemudian adalah Pesantren Al-Istiqāmah di bawah asuhan KH. Abdul Jamil, Pesantren Nūr al- Qur’ān di bawah Asuhan Kiai Nashroh, Pesantren Al-Izzah di bawah asuhan Ny. Hj. Minhah (isteri KH. Alī ʻAshʻārī) beserta puteranya Ustaẓ Faiq Muʻin dan terkahir pesantren Al-Hikmah I yang diasuh Ustaẓ Ḍiyāulhaq (cucu Kiai Suhaimi dari garis KH. Shodik Suhaimi).

Dengan meningkatnya jumlah generasi penerus dan berkembangnya jumlah pesantren Tahfidz al-Qur’ān, merupakan lompatan besar sebagai keberhasilan kaderisasi yang dilakukan generasi sebelumnya. Dan semuanya tidak dapat dilepaskan dari pengaruh Abah sebagai tokoh sentral masyarakat Desa Benda.

Namun demikian, bertambahnya jumlah pesantren dan jumlah generasi tidak berbanding lurus dengan semangat budaya menghafal al-Qu’ān masyarakat Desa Benda. Hal ini dapat dilihat dari keengganan masyarakat untuk menghafal al-Qur-ān akhir-akhir ini karena sudah dianggap tidak prospektif atau meminjam istilah Kiai Ahsin Sakho sebagai kelompok “masa depan suram”.

Di sinilah makna kerinduan motivasi, laiknya motivasi dari seorang Abah dibutuhkan. Motivasi sebagai suntikan ampuh untuk masyarakat dan khususnya masyarakat Desa Benda agar semakin mencintai al-Qur’ān dan menghafalnya kembali. Setidaknya untuk membuktikan kepada khalayak umum bahwa seorang ḥāfiẓ/ḥāfiẓah tidak lagi identik dengan kelompok masa depan suram tetapi kelompok yang menjaga kalimat Allah dan tentunya membawa pencerahan.
Agus Irfan, alumni Al-Hikmah, Pengurus Ansor Jawa Tengah dan Pengasuh Pesantren Mahasiswa Sultan AgungUNISSULA Semarang.

Referensi :
1. Agus Irfan, Kontekstualisasi Pendidikan Tahfidz al-Qur’ān, Penelitian DIPA Kopertais, Kemenag, 2013.
2. Profil Pondok Pesantren Al-Hikmah, t.t.
3. Laporan Jam’iyat al-Qurrā wa al-Ḥuffāḍ (JQH), Kabupaten Brebes, 2013.
4. Wawancara dengan Izzudin Masruri, 2013 dan 2018
Sabtu 8 September 2018 15:0 WIB
Syekh Junaid Al-Baghdadi, Imam Tasawuf Panutan NU
Syekh Junaid Al-Baghdadi, Imam Tasawuf Panutan NU
Nahdlatul Ulama mengikuti Imam Asyari dan Imam Maturidi dari sisi aqidah, imam empat mazhab dari sisi fiqih, dan Imam Junaid Al-Baghdadi serta Imam Al-Ghazali dari segi tasawuf. Kenapa para kiai mengangkat nama Imam Junaid Al-Baghdadi? Apakah karena ia bergelar sayyidut thaifah di zamannya, pemimpin kaum sufi yang ucapannya diterima oleh semua kalangan masyarakat?

Junaid bin Muhammad Az-Zujjaj merupakan putra Muhammad, penjual kaca. Ia berasal dari Nahawan, lahir dan tumbuh di Irak. Junaid seorang ahli fikih dan berfatwa berdasarkan mazhab fikih Abu Tsaur, salah seorang sahabat Imam Syafi’i.

Junaid berguru kepada As-Sarri As-Saqthi, pamannya sendiri, Al-Harits Al-Muhasibi, dan Muhammad bin Ali Al-Qashshab. Junaid adalah salah seorang imam besar dan salah seorang imam terkemuka dalam bidang tasawuf. Ia juga memiliki sejumlah karamah luar biasa. Ucapannya diterima banyak kalangan. Ia wafat pada Sabtu, 297 H. Makamnya terkenal di Baghdad dan diziarahi oleh masyarakat umum dan orang-orang istimewa.

Syekh Ibrahim Al-Laqqani dalam Jauharatut Tauhid menyebut Imam Malik dan Imam Junaid Al-Baghdadi sebagai pembimbing dan panutan umat Islam.

ومالك وسائر الأئمة وكذا أبو القاسم هداة الأمة

Artinya, “Imam Malik RA dan seluruh imam, begitu juga Abul Qasim adalah pembimbing umat,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Laqqani, Jauharatut Tauhid pada Hamisy Tuhfatil Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 89).

Syekh M Nawawi Banten juga menyebutkan sejak awal Imam Junaid Al-Baghdadi sebagai panutan umat dari sisi tasawuf. Menurutnya, Imam Junaid Al-Baghdadi layak menjadi pembimbing umat dari sisi tasawuf karena kapasitas ilmu dan amalnya.

ويجب على من ذكر أن يقلد في علم التصوف إماما من أئمة التصوف كالجنيد وهو الإمام سعيد بن محمد أبو القاسم الجنيد سيد الصوفية علما وعملا رضي الله عنه والحاصل أن الإمام الشافعي ونحوه هداة الأمة في الفروع والإمام الأشعري ونحوه هداة الأمة في الأصول والجنيد ونحوه هداة الأمة في التصوف فجزاهم الله خيرا ونفعنا بهم آمين

Artinya, “Ulama yang disebutkan itu wajib diikuti sebagaimam perihal ilmu tasawuf seperti Imam Junaid, yaitu Sa’id bin Muhammad, Abul Qasim Al-Junaid, pemimpin para sufi dari sisi ilmu dan amal. Walhasil, Imam Syafi’i dan fuqaha lainnya adalah pembimbing umat dalam bidang fiqih, Imam Asy’ari dan mutakallimin lainnya adalah pembimbing umat dalam bidang aqidah, dan Imam Junaid dan sufi lainnya adalah pembimbing umat dalam bidang tasawuf. Semoga Allah membalas kebaikan mereka dan semoga Allah memberikan manfaat kepada kita atas ilmu dan amal mereka. Amiiin,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nihayatuz Zein, [Bandung, Al-Maarif: tanpa catatan tahun], halaman 7).

Pandangan serupa juga dikemukakan oleh Syekh M Ibrahim Al-Baijuri. Menurutnya, jalan terang dan keistiqamahan Imam Junaid Al-Baghdadi di jalan hidayah patut menjadi teladan. Ilmu dan amalnya dalam bidang tasawuf membuat Imam Junaid layak menjadi pedoman.

وقوله كذا أبو القاسم كذا خبر مقدم وأبو القاسم مبتدأ مؤخر أي مثل من ذكر في الهداية واستقامة الطريق أبو القاسم الجنيد سيد الطائفة علما وعملا ولعل المصنف رأى شهرته بهذه الكنية ولو قال جنيدهم أيضا هداة الأمة لكان أوضح 

Artinya, “Perihal perkataan ‘Demikian juga Abul Qasim’, ‘demikian juga’ adalah khabar muqaddam atau predikat yang didahulukan. ‘Abul Qasim’ adalah mubtada muakhkhar atau subjek yang diakhirkan. Maksudnya, seperti ulama yang sudah tersebut perihal hidayah dan keistiqamahan jalan adalah Abul Qasim, Junaid, pemimpin kelompok sufi baik dari sisi ilmu maupun amal. Bisa jadi penulis memandang popularitas Junaid melalui gelarnya. Kalau penulis mengatakan, ‘Junaid juga pembimbing umat’, tentu lebih klir,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyah Tuhfatil Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 89).

Meskipun sebagai seorang imam sufi di zamannya, Junaid Al-Baghdadi tidak meminggirkan sisi fiqih dalam kesehariannya. Artinya, ia cukup proporsional dalam menempatkan aspek fiqih (lahiriyah) dan aspek tasawuf (batiniyah) di saat kedua aspek ini bersitegang dan tidak berada pada titik temu yang harmonis di zamannya.

Di zamannya, banyak ulama terjebak secara fanatik di satu kutub yang sangat ekstrem, yang faqih dan yang sufi. Banyak ulama mengambil aspek fikih dalam syariat Islam, tetapi menyampingkan aspek tasawuf dalam syariat. Sebaliknya pun terjadi, banyak ulama mengambil jalan sufistik, tetapi menyampingkan aspek fiqih dalam syariat.

Junaid sendiri bahkan ahli fiqih. Ia juga seorang mufti yang mengeluarkan fatwa berdasarkan mazhab Abu Tsaur, salah seorang sahabat Imam Syafi’i. Baginya, jalan menuju Allah tidak dapat ditempuh kecuali oleh mereka yang mengikuti sunnah Rasulullah SAW sebagai keterangan Al-Baijuri berikut ini.

وكان الجنيد رضي الله عنه على مذهب أبي ثور صاحب الإمام الشافعي فإنه كان مجتهدا اجتهادا مطلقا كالإمام أحمد ومن كلام الجنيد الطريق إلى الله مسدود على خلقه إلا على المقتفين آثار الرسول صلى الله عليه وسلم ومن كلامه أيضا لو أقبل صادق على الله ألف ألف سنة ثم أعرض عنه لحظة كان ما فاته أكثر مما ناله ومن كلامه أيضا إن بدت ذرة من عين الكرم والجود ألحقت المسيئ بالمحسن

Artinya, “Imam Junaid dari sisi fiqih mengikuti Abu Tsaur, salah seorang sahabat Imam Syafi’i. Abu Tsaur juga seorang mujtahid mutlak seperti Imam Ahmad. Salah satu ucapan Imam Al-Junaid adalah, ‘Jalan menuju Allah tertutup bagi makhluk-Nya kecuali bagi mereka yang mengikuti jejak Rasulullah SAW,’ ‘Kalau ada seorang dengan keimanan sejati yang beribadah ribuan tahun, lalu berpaling dari-Nya sebentar saja, niscaya apa yang luput baginya lebih banyak daripada apa yang didapatkannya,’ dan ‘Bila tumbuh bibit kemurahan hati dan kedermawanan, maka orang jahat dapat dikategorikan dengan orang baik,’” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyah Tuhfatil Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 89-90).

Keterangan Al-Baijuri menjelaskan sikap sufisme Junaid Al-Baghdadi, yaitu tasawuf sunni. Jalan ini yang diambil oleh Junaid Al-Baghdadi karena banyak pengamal sufi di zaman itu terjebak pada kebatinan dan bid’ah yang tidak bersumber dari sunnah Rasulullah SAW. Oleh karena itu, Imam Junaid layak menjadi panutan NU dari sisi tasawuf karena tetap berpijak pada sunnah Rasulullah SAW. 

وقوله هداة الأمة أي هداة هذه الأمة التي هي خير الأمم بشهادة قوله تعالى كنتم خير أمة أخرجت للناس فهم خيار الخيار لكن بعد من ذكر من الصحابة ومن معهم والحاصل أن الإمام مالكا ونحوه هذاة الأمة في الفروع والإمام الأشعري ونحوه هداة الأمة في الأصول أي العقائد الدينية والجنيد ونحوه هداة الأمة في التصوف فجزاهم الله عنا خيرا ونفعنا بهم 

Artinya, “Perkataan ‘pembimbing umat’ maksudnya adalah pembimbing umat Islam ini, umat terbaik sebagaimana kesaksian firman Allah SWT dalam Al-Qur’an ‘Kalian adalah sebaik-baik umat yang hadir di tengah umat manusia.’ Mereka para imam itu adalah orang pilihan di tengah umat terbaik tetapi derajatnya di bawah para sahabat Rasulullah dan tabi’in. walhasil, Imam Malik dan fuqaha lainnya adalah pembimbing umat dalam bidang furu’ atau fiqih. Imam Asy’ari dan mutakalimin sunni lainnya adalah pembimbing umat dalam bidang ushul atau aqidah. Imam Junaid dan sufi lainnya adalah pembimbing umat dalam bidang tasawuf. Semoga Allah membalas kebaikan mereka dan semoga Allah memberikan manfaat kepada kita atas ilmu dan amal mereka,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyah Tuhfatil Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 90).

Imam Junaid juga menyayangkan sikap naif sebagian kelompok sufi yang mengabaikan realitas dan aspek lahiriyah. Menurutnya, sikap naif sekelompok sufi dengan mengabaikan sisi lahiriyah mencerminkan kondisi batinnya yang runtuh seperti kota mati tanpa bangunan.

وكان رضي الله عنه يقول إذا رأيت الصوفي يعبأ بظاهره فاعلم أنه باطنه خراب

Artinya, “Imam Junaid RA mengatakan, ‘Bila kau melihat sufi mengabaikan lahiriyahnya, ketahuilah bahwa batin sufi itu runtuh,’” (Lihat Syekh Abdul Wahhab As-Syarani, At-Thabaqul Kubra, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 85).

Sebaliknya, ia juga menyayangkan sekelompok umat Islam yang hanya mengutamakan sisi lahiriyah melalui formalitas hukum fiqih dengan mengabaikan sisi batiniyah yang merupakan roh dari kehambaan manusia kepada Allah.

Walhasil, Imam Junaid Al-Baghdadi adalah ulama abad ke-3 H yang mempertemukan fiqih dan tasawuf di saat keduanya tidak pernah mengalami titik temu. Sikap proporsional Imam Junaid seperti ini sejalan dengan pandangan NU yang tawasuth, tawazun, dan i’tidal, yaitu dalam konteks ini mempertahankan dengan gigih syariat Islam melalui fiqih sekaligus menjiwainya dengan nilai-nilai tasawuf sehingga tidak ada penolakan terhadap salah satunya. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG