IMG-LOGO
Nasional
NU PEDULI LOMBOK

NU Peduli Santuni Yatim di Pengungsian

Jumat 21 September 2018 1:15 WIB
Bagikan:
NU Peduli Santuni Yatim di Pengungsian
Santunan yatim di pengungsian, Kamis (20/9)
Jakarta, NU Online
Pada momentum 10 Muharram, Kamis (20/9), NU Peduli turut membagikan kebahagiaan kepada anak-anak yatim piatu di lokasi pengungsian warga terdampak gempa Lingkungan Tegal, KelurahanSelagalas, Kecamatan Sandubaya, Kota Mataram. Melalui program Santunan Yatim Piatu NU Peduli sebanyak 50 anak menjadi penerima manfaat.

"Anak-anak yatim piatu dari Kota Mataram dan Lombok Barat," kata Refreandi dari Tim NU Peduli.

Ketua LAZISNU NTB, H Saprudin mengatakan kegiatan ini merupakan satu rangkaian dari NU Peduli Lombok.

"Selain diberi santunan, kami ajak anak-anak berdoa dan bershalawat," imbuhnya.

Pada kesempatan tersebut anak-anak diperdengarkan kisah Nabi Yunus yang mengalami kesulitan yakni disantap ikan besar di tengah laut. Namun, Nabi Yunus diselamatakan oleh Allah dan berhasil keluar dari perut ikan karena berdoa kepada Allah dengan tulus dan sungguh-sunguh.

Melalui kisah tersebut, anak-anak diajak agar selalu dekat dengan Allah. Dalam masa yang masih sulit akibat gempa bumi, mereka harus berdoa, antara lain dengan sering melafaldzkan, Lailaha ila anta subhanaka inni kuntum minal dzalimin.

Kegiatan tersebut juga dihadiri tokoh agama dan masyarakat sekitar. (Kendi Setiawan)
Bagikan:
Jumat 21 September 2018 23:0 WIB
Sumbar Siap Jadi Tuan Rumah MTQ Nasional Ke-28
Sumbar Siap Jadi Tuan Rumah MTQ Nasional Ke-28
Menag RI H Lukman Hakim Saifuddin saat terima Gubernur Sumbar
Jakarta, NU Online
Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Nasional Ke-27 akan digelar bulan Oktober mendatang di Medan, Sumatera Utara. Sementara, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), menyatakan kesiapannya menjadi tuan rumah MTQ Ke-28 pada tahun 2020.

“Untuk meyakinkan usulan kami yang dibawa Wagub beberapa waktu lalu kepada Menteri Agama, menjadi tuan rumah MTQ Nasional tahun 2020. Secara subjektif sudah siap, fasilitas, masjid, Perguruan tinggi dan lainnya,” kata Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, saat bertemu Menag Lukman di ruang kerjanya, Jakarta, Jumat (21/09).

Dikutip dari kemenag.go.id, Irwan menjalsakan, mulai pemerintah Provinsi, Kanwil Kemenag, Bupati, Walikota sudah setuju agar Sumbar menjadi tuan rumah MTQ Ke-28. Selain fasilitas yang sudah disiapkan, anggaran juga siap untuk gelaran tahun 2020.

Insyaallah kami menyanggupi, Sumbar terakhir menjadi tuan rumah MTQ pada tahun 1983,” tambah Irwan.

Bahkan, lanjut Irwan, hotel, gedung-gedung kampus dan fasilitas lain di Kota Padang, Pariaman dan kabupaten lain bisa dipakai untuk mensukseskan jalannya MTQ Ke-28 nantinya. Saat ini juga, stadion utama di Padang Pariaman sudah dibangun dengan dana sebesar Rp200 Miliar.

Menag Lukman Hakim Saifuddin menyambut baik datangnya Gubernur Sumbar menemuinya yang sebelumnya juga sudah disambangi oleh Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit. Diakui Menag Lukman, memang sudah ada empat calon tuan rumah pada MTQ tahun 2020, selain Sumbar, ada Provinsi Kalteng, Kalsel, dan Riau.

Ditegaskan Menag Lukman, untuk menentukan tuan rumah MTQ Nasional tahun 2020 akan dilakukan dan diumumkan pada MTQ Ke-27 di Medan pada bulan Oktober mendatang. Bagi provinsi yang sudah siap menjadi tuan rumah, dipersilahkan untuk mengajukannya kepada Direktorat Jenderal Bimas Islam dan Biro Umum Kementerian Agama.

“Untuk tuan rumah MTQ 2020, sudah mengajukan, Provinsi Kalbar, Kalsel dan Sumsel. Mekanismenya sudah ada tim yang verifikasi menyangkut kesiapan tiap Provinsi untuk tuan rumah MTQ Ke-28,” tegas Menag.

Dirjen Bimas Islam Muhammadiyah Amin, menambahkan bahwa setelah silaturahim Wagub Sumbar pada bulan Juli lalu, tim Ditjen Bimas Islam sudah memverifikasi kesiapan Sumbar sebagai tuan rumah. Namun, selain Sumbar, lanjut Muhammadiyah Amin, Provinsi Kalsel dan Sumbar yang sudah siap, sementara Provinsi Kalteng dan Sumsel baru dalam tahap verifikasi pengajuan. (Red: Muiz)



Jumat 21 September 2018 22:0 WIB
Umat Islam Diminta Teladani Mbah Muntaha
Umat Islam Diminta Teladani Mbah Muntaha
KH Marsudi Syuhud
Wonosobo, NU Online
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Marsudi Syuhud menyampaikan bahwa biasanya ketika ada orang menghauli yang sudah wafat,  orang yang diperingati tersebut merupakan orang yang mempunyai peninggalan atau warisan (berupa Ilmu), dan itu merupakan orang yang hebat. 

Hal tersebut disampaiakan KH Marsudi saat mengisi pengajian Haflah Khatmil Qur'an yang Ke-41 Pesantren Al-Asy'ariyah, Kalibeber, Mojotengah, Wonosobo, Kamis (20/9) malam di Depan Masjid Ponpes Al-Asy'ariyah. 

Menurut Kiai Marsudi,KH Muntaha Al-Hafidh yang biasa di panggil Mbah Mun itu merupakan orang yang hebat. Ciri orang yang hebat ada pada sosok Mbah Muntaha yang selama hidupnya dihabiskan waktunya untuk mengkaji Al-Qur'an. 

"Ketika sudah meninggalnya, Mbah Mun diperingati wafatnya. Karena Mbah Mun orang yang hebat serta mempunyai karya cipta, mempunyai amal sholeh, yang mana amal sholeh itu disebut warisan atau peninggalan. Dan tinggalan itu dirasakan manfaatnya oleh orang banyak," ujar Marsudi. 

Dalam pengajian tersebut  Marsudi juga mengatakan bahwa dalam sepanjang hidup Mbah Muntaha, Al-Qur’an senantiasa menjadi pegangan utama dalam mengambil  berbagai keputusan, sekaligus menjadi media bermunajat kepada Allah SWT dan Mbah Mun tidak pernah mengisi waktu luang kecuali dengan Al-Qur’an. 

"Maka Alumni Al-Asy'ariyah mau menjadi apapun setelah keluar dari pesantren, mau menjadi guru, pejabat, dan pekerjaan lainnya harus ditujukan untuk Al-Qur'an (mengamalkan apa yang ada dalam Al-Qur'an)," tegas Marsudi. 

Turut hadir pada pengajian HKQ Ke-41 tersebut para dzuriyah Al-Asy'ariyah, diantaranya KH Abdurrahman Asy'ari, KH Khoerullah Al-Mujataba, KH Nuruzzaman, Gus Fadlurrahman Al-Faqih, KH Muchotob, KH Ibnul Jauzi, KH Atho'illah Asy'arin dan ratusan kiai serta ribuan umat Islam dari Wonosobo, dan sekitarnya. (Nahru/Muiz)
Jumat 21 September 2018 20:45 WIB
RUU PESANTREN
KH Musthofa Aqil: Perlu Hati-hati agar RUU Tidak Kekang Pesantren
KH Musthofa Aqil: Perlu Hati-hati agar RUU Tidak Kekang Pesantren
Jakarta, NU Online
Rais Syuriyah PBNU KH Musthofa Aqil Siroj mendukung RUU Pesantren yang ditangani oleh Komisi VIII DPR RI. Kiai Musthofa berharap RUU Pesantren tidak memuat pasal-pasal yang justru menghambat denyut perkembangan pesantren itu sendiri.

Pengasuh Pesantren Kempek Kabupaten Cirebon ini berharap RUU Pesantren mengakomodasi kepentingan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang sudah lama dan terbukti serta teruji.

“Secara pribadi saya tidak setuju dengan RUU Pesantren kalau RUU Pesantren ini justru malah membatasi dan mengekang ruang gerak pesantren,” kata Kiai Musthofa Aqil kepada NU Online, Jumat (21/9).

Ia menambahkan bahwa kecenderungan pesantren selama ini berjalan sesuai dengan gagasan pendirinya. Kecenderungan ini kemudian mengalami sedikit perbaikan seiring perubahan dan tuntutan zaman. Meski demikian, perbaikan tersebut tidak menghilangkan ciri khas pesantren itu sejak awalnya.

“Masing-masing pesantren juga memiliki kekhasan tersendiri. RUU Pesantren jangan sampai mengekang apa yang sudah menjadi kekhasan pesantren,” kata Kiai Musthofa.

Ia menyatakan dukungan terhadap RUU Pesantren perihal materi ajar yang beredar di pesantren. Menurutnya, negara perlu menertibkan bahan bacaan yang memprovokasi 

“Tetapi saya setuju kalau RUU Pesantren ini memuat klausul yang memantau bahan bacaan di pesantren yang menyebarkan gerakan radikalisasi karena pesantren sendiri ada yang baru dan belum teruji komitmen kebangsaannya,” kata Kiai Musthofa.

Ia menyatakan bahwa dirinya belum membaca draf RUU Pesantren. (Alhafiz K)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG