IMG-LOGO
Pustaka

Menelusuri Jagat Sufisme Ibnu Athaillah

Ahad 23 September 2018 6:0 WIB
Bagikan:
Menelusuri Jagat Sufisme Ibnu Athaillah
Dalam khazanah Islam, kitab kuning menempati posisi paling krusial sebagai wadah  tranformasi keilmuan dan pelestarian ajaran-ajaran Islam. Asas-asas agama semacam, ahlak, fiqih dan akidah tertampung dalam lembaran-lembaran kuning yang lumrahnya tanpa tanda baca dan harakat.

Bagi masyarakat pesantren, menekuri lembar demi lembar kitab kuning dan mempelajarinya bukanlah hal yang asing dan sulit. Tradisi pembelajaran ilmu alat seperti nahwu dan sharaf memiliki andil besar sebagai medium untuk memahami literatur-literatur klasik, semacam kitab Al-Hikam yang merupakan masterpiece Syekh Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari ini.

Di Indonesia sendiri, karya syekh Ibnu Athaillah tersebut begitu fenomenal, utamanya di lingkungan pesantren. Bahkan KH. Hasyim Muzadi menetapkannya sebagai nama pondok pesantrennya di Malang (al-Hikam). Untaian-untaian kata mutiara yang sangat menandakan kedalaman makrifat sang muallif, khususnya mereka yang tengah menempu jalan menuju Allah. Barangkali inilah alasan penerjemahan kitab ini, padahal secara isi dan materi, kitab ini cukup berat untuk dicerna nalar biasa. 

Hadirnya versi terjemahan yang diterbitkan oleh Qaf Media ini merupakan berita gembira bagi mereka yang gagap literasi klasik. Mereka bisa mereguk hikmah-hikmah menyejukkan tanpa perlu mengernyitkan dahi menelaah lembar kitab kuningnya terlebih dahulu. Di ranah pesantren, kedudukan kitab ini sangat spesial, bahkan di beberapa pesantren, seorang santri terlebih dahulu harus khatam kitab Sullamut taufiq dan Bidayatul hidayah sebagai pengantar demi membaca kitab ini.  

Sebagai seorang arif billah, Syaikh Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari telah mengenali proses terjal dan penuh liku-liku yang harus di tempuh seorang salik, dan kitab ini serupa buku panduan untuk melaluinya dengan baik, terlebih di zaman yang disesaki ontran-ontran duniawi dan hedonisme ini. Tentunya kita tidak perlu khawatir kitab ini akan melencengkan kita dari syariat, karena kitab ini ditulis dengan basis Al-quran dan sunnah, nyaris searah dengan mekanisme yang ditempuh Imam Al-Ghazali (hlm. 98) 

Kredibilitas Ibnu ‘Atha’illah sendiri tidak perlu diragukan. Ulama yang hidup sekitar 700 tahun lalu ini tergolong penulis yang produktif. Tidak kurang dari 20 karya lintas bidang pernah dita’lifnya, seperti tasawuf, tafsir, ushul fiqh dan lainnya. Di antaranya adalah Unwaan al-Taufiq fi ‘dab al-Thariq, latha’iful minan, dan Miftah al-Falah serta beragam kitab lain yang belum penulis ketahui dan konon, kitab Al-Hikam ini adalah magnum opus dari seluruh karya Beliau. Beliau juga mamiliki posisi sebagai syekh ke-3 dalam tarekat Syadziliyah.

Di masanya, tidak sedikit pihak yang antipati dan melancarkan berbagai kritik terhadap ajaran sufi, salah satunya adalah Ibnu Taimiyah. Sejarah telah mencatat dialog sengit yang pernah terjadi antara dua ulama ini. Menurut ibnu Taimiyah, ajaran tasawuf terlalu mengada-ada dan tanpa dasar, baik dari al-Quran atau pun Sunnah. Kritik-kritik ini ditanggapi dengan santun oleh Syekh Ibnu ‘Atha’illah melalui karyanya, yaitu Al-Qaul al-Mujarrad fi al-Ism al-Mufrad.

Guru Besar Psikologi UI, Prof. Dr. Ahmad Mubarak, MA, pernah menuturkan bahwa karya tasawuf model al-Hikam ini lahir dari penghayatan spiritual terhadap dinamika sosial yang cenderung menyimpang dari nilai-nilai akhlak Islam. Ketika umat lebih suka mengkoarkan argumentasi ‘aqly dan naqly, para sufi melalui makrifatnya lebih memilih merumuskan kaidah-kaidah agama dengan petikan-petikan hikmah yang menyejukkan. Ini mengindikasikan bahwa keluhungan etika adalah pondasi utama membangun ketentraman agama secara umum dan menyerukan eksistensi manusia yang sejati, yaitu sebagai Abdullah.

Selain Syarah al-Hikam yang ditulis oleh Dr. Ashim Ibrahim al-Kayyali ini, ada banyak ulama lain yang pernah menulis syarah atau komentar terhadap al-Hikam, diantaranya: Ibn Abbad, Ibn Ajibah, Syekh al-Syarnubi, Syekh Ahmad al-Zarruq dan Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati.

Sebenarnya terjemahan kitab ini pun sudah banyak beredar di Indonesia dengan pengulas yang berbeda pula, sebut saja al-Hikam yang diulas oleh syekh asy-Syarqawi al-Khalwati yang dialihbahasakan oleh penerbit Turos dan ditahbis sebagai “terlengkap yang pernah diterbitkan”.

Kendatipun berskala lebih kecil, terjemahan al-Hikam yang diulas oleh Dr. Ashim Ibrahim al-Kayyali ini, memiliki nilai tawar yang tidak bisa disepelekan. Pasalnya, dalam terjemahan kitab ini termaktub al-Hikam al-‘athaiyyah al-shugra yang selama ini masih berupa manuskrip dan belum tersentuh bahasa populer. Terdapat pula istilah-istilah penting dalam belantara tasawuf Syekh Ibnu ‘Atha’illah yang dikupas tuntas agar pembaca lebih mengenali spiritualitas Islam.

Kitab al-Hikam ini adalah semacam antitesis dari kehidupan umat yang telah mengalami disorientasi akibat desakan duniawi dari berbagai aspek kehidupan. Kekalutan politik, kehausan material, adalah sekilas potret kekacauan umat kekinian yang berakibat pada kegersangan spiritual. Dan kitab al-Hikam ini hadir di tengah-tengah kita laksana oase yang melebur kehausan dan menjernihkan qalbu dari segala anasir-anasir yang menghijab dari Allah. Wallahu a’lam, salam literasi dan selamat membaca!

Peresensi adalah Muhammad Faiz As, santri pegiat literasi yang bermukim di Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Selatan Guluk-guluk, Sumenep, Jawa Timur.

Identitas buku:
Judul Buku: Al-Hikam Ibnu ‘Atha’illah: Jalan Kebahagiaan 
Penulis: Ibnu ‘Atha’illah
Cetakan: I, Juli 2018
Penerbit: Qaf Media
Tebal: 332 Halaman.
ISBN: 978-602-5547-25-6
Bagikan:
Selasa 18 September 2018 11:50 WIB
Menag Lukman Paparkan Pentingnya Konferensi Sarjana Muslim Dunia
Menag Lukman Paparkan Pentingnya Konferensi Sarjana Muslim Dunia
Palu, NU Online
Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) ke-18 tahun 2018 di IAIN Palu, Sulawesi Tengah mempertemukan sejumlah sarjana, akademisi, peneliti Muslim dari beberapa negara. Dalam pertemuan ini, dibahas sejumlah tema strategis soal problem Islam global terkini.

Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin yang membuka acara ini mengungkapkan, forum seperti ini penting agar studi Islam tidak teralienasi dari dinamika sosial di masyarakat.

"Dalam diskusi akan dibahas sejauh mana para pakar studi Islam merespon dan memberikan solusi atas persoalan sosial keagamaan yang belakangan ini mengganggu kerukunan," katanya di Hotel Mercure, Palu, Selasa (18/9) pukul 10.00 WITA.

Kasus-kasus intoleransi, penodaan agama, persekusi, hingga kasus radikalisme dan terorisme membutuhkan respon yang tidak bersifat reaktif belaka, tetapi membutuhkan kajian dan penelitian empirik.

Menurut Menag, akademisi Islam tidak boleh berada di atas menara gading yang terlalu asyik dengan penelitian dan diskusi yang tidak berkontribusi dalam menyelesaikan masalah sosial, politik, kebangsaan baik di Indonesia maupun dunia.

"Era keterbukaan global telah melahirkan tantangan di mana-mana tak terkecuali bagi Indonesia. Bergesernya kecenderungan keagamaan menjadi lebih korservatif dan kepentingan poitik yang menunggangi adalah contoh dinamika masyarakat yang secara riil menciptakan masalah. Terhadap yang demikian itu kita wajib merespon dengan kearifan," tambahnya.

Menag berharap, konferensi ini melahirkan kontribusi nyata yang dipersembahkan kepada dunia yang damai. 

Salah satu kontribusi yang diinginkan dari akademisi islam adalah menularnya gagasan populisme. Kabar baiknya, sejauh ini dunia semakin menyadari bahwa Islam Nusantara dan memiliki kekhasan tersendiri dalam merespon radikalisme dan konservativisme berbasis agama. 

Keynote speaker dalam serangkaian sidang ini adalah Menetri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin dan Dominik Müller dari Max Planck Institute for Social Anthropology, Jerman, yang merupakan pakar antropologi agama yang penelitiannya berbasis di asia tenggara termasuk indonesia. Pembicara asing lainnya adalah Hans Christian Gunther dari Albert Ludwig Universitat, Freiburg, Jerman, Hew Wai Weng dari University Kebangsaan Malaysia, dan Ken Miichi dari Waseda University, Jepang.

Tahun ini sebanyak 1700 sarjana studi Islam dari seluruh dunia membicarakan adanya gap antara teks-teks Islam dengan praktik di lapangan. Untuk itu tema pertemuan AICIS tahun ini adalah Islam in a Globalizing World: Text, Knowledge and Practice.

AICIS adalah forum kajian keislaman yang diprakarsai Indonesia sejak 18 tahun lalu. Pertemuan para pemikir islam ini menjadi barometer perkembangan kajian Islam dan tempat bertemunya para pemangku kepentingan studi Islam dunia. (Red: Fathoni)
Selasa 18 September 2018 11:0 WIB
Penjelasan Makhluk Jin dalam Al-Qur’an
Penjelasan Makhluk Jin dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam dan sumber rujukan utama membahas berbagai hal dalam kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat. Al-Qur’an juga sarat dengan keterangan-keterangan ilmu pengetahuan. Salah satu pengetahuan yang diterangkan Al-Qur’an ialah makhluk halus, baik malaikat, jin, hingga setan.

Ketiga makhluk tersebut ditulis oleh Pakar Tafsir Al-Qur’an Muhammad Quraish Shihab dalam ketiga bukunya tentang malaikat, jin, dan setan dalam Al-Qur’an. Review buku tentang Malaikat dalam Al-Qur’an sebelumnya telah ditulis dengan judul Mengenal Malaikat dalam Al-Qur’an.

Dalam buku tentang Malaikat tersebut, Quraish Shihab berupaya menerangkan bahwa hanya orang-orang istimewalah yang dapat merasakan langsung kehadiran malaikat. Hal ini terjadi ketika Muhammad yang saat itu berumur 40 tahun merasakan kehadiran makhluk saat dirinya berkontemplasi di Gua Hira. Saat itu malaikat jibril menghampiri Muhammad dengan membawa wahyu pertama dari Allah.

Adapun tentang makhluk bernam Jin ini, Quraish Shihab menjelaskan bahwa jin secara harfiah bermakna sesuatu yang tersembunyi. Makna tersebut menunjukkan bahwa jin merupakan makhluk halus. Sifat halusnya jin bisa menyerupai manusia secara fisik, namun manusia sendiri tidak bisa melihat jin secara kasat mata kecuali diterangkan oleh Quraish Shibab orang tersebut mempunyai kemuliaan dan keistimewaan.

Salah satu dasar pokok keimanan seorang Muslim ialah percaya pada hal-hal ghaib. Sesuatu yang ghaib ini merujuk pada sesuatu yang tidak terjangkau oleh pancaindera, baik disebabkan oleh kurangnya kemampuan maupun oleh sebab-sebab lainnya.

Perihal ghaib, Quraish Shihab menerangkan bahwa banyak hal ghaib bagi manusia serta beragam pula tingkat keghaibannya. Pertama, ada ghaib mutlak yang tidak dapat terungkap sama sekali karena hanya Allah yang mengetahuinya, contoh kematian. Kedua, ghaib relatif, sesuatu yang tidak diketahui seseorang tetapi bisa diketahui oleh orang lain, contoh ilmu pengetahuan, makhluk halus, dan lain-lain.

Istilah jinn dalam Al-Qur’an berarti yang tersembunyi dan tertutup. Quraish Shihab menngungkapkan sejumlah akar kata yang sama, di antaranya majnun (manusia yang tertutup akalnya), janin (bayi yang masih dalam kandungan, karena ketertutupannya oleh perut ibu), al-junnah (perisai, karena ia menutupi seseorang dari gangguan), junnah (orang munafik menjadikan sumpah untuk menutupi kesalahan dan menghindar dari kecaman dan sanksi), janan (kalbu manusia, karena ia dan isi hati tertutup dari pandangan serta pengetahuan).

Di lihat dari perspektif linguistik atau kebahasaan, bisa dipahami bahwa jin merupakan makhluk halus yang tersembunyi, karena tertutup. Tersembunyi dan tertutup ini bukan berarti sama sekali tidak terlihat karena ghaibnya relatif, sebagian orang bisa melihat jin karena keistimewaan yang dimilikinya, biasanya manusia yang dekat dengan Allah karena akhlak dan ilmunya.

Barangkali yang menarik dari buku Jin dalam Al-Qur’an setebal 147 halaman ini ialah soal kontroversi ada atau tidak adanya jin. Quraish Shihab mengungkapkan pendapat Ibnu Sina (980-1037 M) dalam risalahnya menyangkut Definisi Berbagai Hal, menyebutkan bahwa jin adalah binatang yang bersifat hawa yang dapat mewujud dalam berbagai bentuk.

Pendapat Ibnu Sina tersebut diterjemahkan oleh Fakhruddin Ar-Razi bahwa definisi yang dikemukakan oleh Ibnu Sina hanyalah penjelasan tentang arti kata jinn. Sedangkan jin itu sendiri tidak memiliki eksistensi di dunia nyata. Para filsuf penganut pendapat di atas berdalih bahwa jika jin memang ada wujudnya, ia tentu mengambil bentuk makhluk halus atau kasar.

Dalam hal ini, Quraish Shihab mencatat bahwa ketika seseorang menyatakan bahwa jin adalah mekhluk halus, maka kehalusan yang dimaksud tidak harus dipahami dalam arti hakikatnya demikian, tetapi penamaan itu ditinjau dari segi ketidakmampuan manusia untuk melihatnya. Jika demikian, bisa jadi jin merupakan makhluk kasar, tetapi karena keterbatasan mata manusia, maka ia tidak terlihat, jadi bahasa manusia menamakannya sebagai makhluk halus.

Pandangan kedua ialah, pakar-pakar Islam yang justru sangat rasional tidak mengingkari bahwa ayat-ayat Al-Qur’an berbicara tentang jin, tetapi mereka memahaminya tidak dalam pengertian hakiki. Paling tidak, ada tiga pendapat yang menonjol dari kalangan ini menyangkut hakikat jin.

Pertama, memahami jin sebagai potensi negatif manusia. Karena menurut pandangan ini yang membawa manusia pada hal-hal positif ialah malaikat, sedangkan jin dan setan sebaliknya. Pandangan ini juga menilai bahwa jin tidak memiliki wujud. Kedua, memahami jin sebagai virus dan kuman-kuman penyakit. Namun pandangan ini mengakui eksistensi jin. Ketiga, memahami jin sebagai jenis makhluk manusia liar yang belum berperadaban. 

Dari ketiga pandangan tersebut, sekilas bisa dipahami bahwa jin merupakan makhluk yang mewujud pada sesuatu. Namun, keberadaan jin sendiri diterangkan dalam Al-Qur’an bahwa, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribdaha kepada-Ku” (QS. Adz Dzariyat [51]: 56).

Karena diciptakan, tentu wujudnya ada. Perbedaannya ialah, manusia diciptakan dari unsur tanah, sedangkan jin diciptakan dari api. Menurut Quraish Shihab, iblis dalam Al-Qur’an diterangkan dari jenis jin. Namun demikian, iblis maupun setan mempunyai karakteristik tersendiri sehingga tidak semua makhluk jin adalah iblis atau setan.

Meskipun buku ini tidak terlalu tebal, tetapi cukup memahamkan kepada pembaca perihak keterangan makhluk jin, termasuk soal tempat dan waktu yang disuksi jin, bentuk jin, dan kemampuan-kemampuan yang dimilikinya. Lalu, apa pentingnya manusia memahami makhlus halus secara umum? Selain karena dorongan keimanan terkait makhluk ghaib, jin dan makhluk halus lainnya juga menunjukkan kepada manusia bahwa mereka bukan makhluk satu-satunya di alam semesta. Wallahu’alam bisshowab.

Peresensi adalah Fathoni Ahmad, pengajar di Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta

Identitas buku:
Judul: Jin dalam Al-Qur’an: Yang Halus dan Tak Terlihat
Penulis: M. Quraish Shihab
Penerbit: Lentera Hati
Cetakan: Keempat, 2013
ISBN: 978-979-9048-79-0
Tebal: xxi + 147 halaman
Kamis 13 September 2018 8:0 WIB
Renungan Remaja: Sosok Dilan dan Al-Fatih
Renungan Remaja: Sosok Dilan dan Al-Fatih
NR. Tambunan seorang cendekiawan Alumni University of Lille 1, Perancis mengatakan “BANDUNG pun rela ‘mundur’ ke era 1990-an demi sebuah film remaja yang sedang hits saat ini ‘Dilan 1990’.” Menurutnya Film yang diadopsi dari sebuah novel karya Pidi Baiq itu memang didukung oleh walikota Bandung Ridwan Kamil dan didukung oleh masyarakat Bandung karena berlatar belakang Bandung zaman baheula.

Tak heran, film ini pun akhirnya mampu menembus jutaan penonton dalam waktu hanya beberapa hari. Bahkan tak jarang anak-anak muda baik di kota maupun di desa terkena demam Dilan “jangan rindu, ini berat, kamu gak akan kuat, biar aku saja.” 

Yang menarik dari fenomena ini sesunguhnya apa? Jika Publikasi dan dukungan penguasa menjadi faktor yang menyedot masyarakat terutama remaja zaman now untuk berbondong-bondong terhanyut ke dalam diksi romantis yang ditawarkan Dilan. Tentu hal ini akan berdampak pada tiap film-film remaja bertemakan cinta dan romantisme akan selalu mendapatkan sambutan yang meluap dari masyarakat.

Hal ini juga bisa menjadi bukti bahwa karena masyarakat saat ini haus akan imaginasi romantisme di tengah-tengah kesulitan hidup dan kondisi nyata yang melelahkan, ataukah memang selera masyarakat kita pada kisah yang menawarkan cerita dan merefleksikan fakta remaja kekinian. Yang pasti, film-film serumpun makin menyebar luas dan memenuhi beranda kehidupan masyarakat kita.

Inilah fenomena remaja saat ini yang sudah demikian bebas, semakin liar dan jauh dari nilai-nilai agama adalah kondisi yang memang menjadi sebuah kondisi yang menghawatirkan. Industri hiburan di bidang perfilman memiliki andil yang sangat nyata dalam memelihara arus budaya yang saat ini menggerusi pola pergaulan para remaja.

Budaya permisif yang sekuler adalah budaya yang senantiasa dicekokkan ke dalam benak anak-anak muda Indonesia. Sedangkan anak muda adalah merupakan aset masa depan bangsa. Akankah hal ini akan dibiarkan begitu saja? Adakah hasrat kapitalis di sana?

Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan. Mengapa demikian? Segi positif yang bisa diambil adalah remaja merupakan generasi masa depan penerus bangsa yang diharapkan mampu bangkit dan memiliki pemikiran revolusioner, fresh dan keknian. Namun di sisi lain bukankah ini akan menjadikan mereka menjadi remaja yang alay, lebay dan perayu serta mudah dirayu?

Alangkah baiknya jika kita membuka kembali sejarah Islam, misalnya kita menyoroti kondisi remaja di dalam kepemimpinan Islam. Sebut saja Muhammad Al Fatih, yang telah menjadi seorang pemimpin di usianya yang masih belia. Beliau bahkan telah menaklukkan Konstantinopel yang terkenal tak terkalahkan pada saat menginjak usia 21 tahun. Saat itu ia masih berusia 21 tahun telah mencapai prestasi yang amat luar biasa. Adakah kira-kira di zaman sekarang pemuda seusia itu mempunyai pemikiran dan mimpi-mipi besar untuk bangsa dan agamanya?

Manakala Sultan al Fatih menjadi nakhoda kepemimpinan, kaum Muslimin berhasil menguasai Benteng terkuat pada masa itu. Di bawah sistem kepemimpinan Islam dengan metode pendidikan Islam, potensi remaja sebagai aset masa depan dapat dioptimalkan sehingga mampu mencetak pemuda-pemuda berkualitas semisal Muhammad Al-Fatih.

Apa yang terjadi sekarang? Sungguh amat disayangkan, apabila remaja saat ini kurang peka dan tidak menyadari bahwa dirinya adalah pemegang estafet kepemimpinan di masa depan. Sangat penting bagi kita untuk dapat membangunkan remaja agar tidak tenggelam dalam propaganda kapitalis dan terjebak dalam budaya yang tidak kurang mendidik.

Masyarakat harus dapat mengeluarkan sikap kritisnya terhadap serangan budaya dan kepentingan kapitalis yang merasuki remaja melalui industri film maupun cara-cara lainnya. Dilan dan Muhammad Al Fatih adalah dua produk pemuda yang berbeda dengan kualitas yang berbeda. Dan kita saat ini tentu saja lebih membutuhkan para pemuda berkapasitas setara dengan Muhammad Al Fatih bahkan lebih lagi untuk dapat melakukan perubahan yang nyata dan membangun peradaban yang mulia.

Tokoh Dilan yang hidup di tahun1990 dia adalah seorang pria, menyukai perempuan yang bernama Milea dan berusaha menaklukan hatinya. Dalam sejarah Islam ada pemuda pemberani yang mempunyai prestasi luar biasa. Siapakah dia? Namanya adalah Muhammad Al Fatih. Jika sosok Dilan membawa kita kepada perasaan salut dan kagum. Apakah yang akan kita rasakan ketika mengetahui kisah hidup Sultan Al Fatih? menangis haru dan bangga?

Perbedaan mendasar diantara Sultan Fatih dan Dilan adalah jika Pada diri al Fatih ia Mempunyai karakter pemimpin yang ditanamkan sejak kecil, Menghafal Al-Quran 30 Juz di ketika masih kecil, Menjadi Khalifah Utsmani ketia usianya 19 Tahun, Menaklukan Byzantium. Sedangkan dalam diri Dilan ia mampu Menaklukan hati wanita di Usia kurang lebih 20 tahun, Suka Meramal, Anggota Geng Motor.

Kesimpulan yang dapat ditarik adalah "Dilan kuat menanggung berat nya rindu, punya genk motor, ia juga bisa meramal pertemuannya dengan Milea. Sedangkan al Fatih? Ia adalah jawaban dari ramalan Rasulullah SAW, mempunyai pasukan yang amat tangguh dan istiqomah berpuasa. Seperti apakah ramalan Rasulullah itu? Dan bagaimana kehebatan Sultan al Fatih hingga ia bisa menaklukkan Konstantinopel?

Penulis buku ini Ahmad Ali Adhim mengatakan bahwa untuk itulah buku sederhana ini dihadirkan, ia berharap melalui buku ini generasi bangsa kita dapat mengambil pelajaran dari kisah dan perjalanan hidup yang amat mulia dari mereka berdua, baik dari sisi positif yang ada pada diri Dilan maupun al Fatih.

Keduanya sama-sama pemuda yang mempunyai keberanian dan patut diapresiasi. Namun sebagai generasi bangsa yang baik, kita harus bisa memilih dan memilah manakah yang cocok untuk kita jadikan tauladan.

Meski terhitung tipis, sebab buku ini hanya berjumlah 144 Hlm, tetapi di dalamnya terdapat banyak pelajaran yang bisa diambil; mulai dari perjuangan, diplomasi politik, dan strategi Muhammad al Fatih dalam mengumpulkan pasukan, perjuangan dan semangat Dilan melawan kebathilan (guru yang semena-mena).

Penulis buku ini rupanya ingin mengajak generasi milenial untuk menjaga hak dan martabanya sebagai siswa atau mahasiswa, sebagaimana yang disabdakan oleh Ramsey Clark seorang pengacara, aktivis, dan mantan pejabat pemerintah federal Amerika. “Hak bukanlah apa yang diberikan seseorang kepadamu, melainkan apa yang seorangpun tidak bisa ambil darimu.”

Buku ini cocok untuk generasi Millenial, ada semangat jiwa muda di sana, ada juga lika-liku perjuangan cinta yang selalu berkobar. Karya yang ditulis oleh santri di Pesantren Baitul Kilmah Yogyakarta ini menggambarkan kebesaran jiwa al Fatih dengan begitu dramatis. Bacalah ini:

“Setelah menaklukkan Konstantinopel, masuklah Sulatan ke kota besar itu. Ia kemudian mengubah nama Konstantinopel menjadi Islambul yang bermakna (Ibukota Islam). Meski kemudian nama yang dirumuskan oleh al Fatih itu diselewengkan menjadi Istanbul. Ia juga mengubah gereja terbesar di kota itu yang bernama Aya Sophia menjadi masjid setelah pasukannya menunaikan shalat di sana paska kemenangan perangnya. Bagaimana perlakuan atau sifat beliau kepada orang Kristen?

Beliau sama sekali tidak memperlakukan mereka seperti dahulu mereka memperlakukan kaum muslimin. Beliau memberikan kebebasan kepada mereka untuk beribadah dan membiarkan uskup mereka mengatur segala urusan agama mereka. Ketika kaisar Konstantinopel terbunuh dan para pengikutnya ditawan, beliau mempersilahkan pasukan Kaisar Kristen itu agar dimakamkan dengan cara agama mereka, sedikitpun beliau tidak menyuruh agar Kaisar itu dimakamkan dengan cara yang ada dalam Islam.

Seorang Filosof Perancis bernama Voltaire mengatakan “sesungguhnya orang-orang Turki itu tidak pernah memperlakukan kaum Kristen dengan buruk seperti yang kita yakini. Hal yang harus dicermati adalah bahwa tak satupun masyarakat Kristen yang akan mengizinkan kaum Muslimin mempunyai masjid di negerinya. Berbeda dengan bangsa Turki.

Mereka mengizinkan bangsa Yunani yang kalah dalam peperangan itu mempunyai Gereja sendiri. Hal inilah menunjukkan bahwa Sultan Muhammad Al Fatih adalah sosok yang cerdas dan bijaksana ketika memberikan kebebasan kepada kaum Kristen yang kalah itu untuk memilih sendiri uskup mereka. Dan ketika mereka telah memilihnya, Sultan pun menetapkannya dan menyerahkan tongkat keuskupan kepadanya serta mengenakan cincin untuknya.

Hingga sang uskup berseru saat itu dengan mengatakan “aku sungguh malu menerima penghargaan dan penghormatan ini; suatu hal yang tidak pernah dilakukan oleh raja-raja Kristen terhadap uskup-uskup sebelumku.”

Inilah perbedaan prinsip Islam di medan perang dan toleransinya terhadap pemeluk agama lain yang disajikan oleh penulis. Ada banyak surat-surat Dilan yang super romantis, ada banyak juga surat-surat al Fatih yang super diplomatis nun bijaksana. Ada pula nasehat al Fatih untuk para pejabat negara, salah satunya bacalah ini: “Bekerjalah engkau untuk menyebarkan Islam karena itu sesungguhnya itu merupakan kewajiban para penguasa di muka bumi ini. Kedepankankepetingan agama di atas kepentingan lain apapun."

Sebagai seorang guru, saya sangat setuju dengan ungkapan Dilan yang djelaskan lebih renyah oleh penulis dalam buku ini. “Guru itu digugu dan ditiru, kalau dia mengajariku menampar, aku juga akan menampar!" Membaca buku ini, membuat saya menjadi ingin mengulang masa muda, masa yang selalu berapi-api, dimana semangat masih membaja, apa yang kita inginkan harus terealisasi, pesan itu yang saya dapat dalam buku ini. Selamat membaca!

Peresensi adalah Besse Tantri Eka, alumnus Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Jurusan Magister Pendidikan Agama Islam, saat ini menjadi salah satu pendidik di sekolah unggulan SD Budi Mulia 2 Yogyakarta.

Identitas buku:
Judul Buku: Dilan & al-Fatih: Pemuda, Keberanian, dan Perjuangan Cinta
Penulis: Ahmad Ali Adhim
Penerbit: Andalusia
Cetakan: Pertama, 2018
ISBN: 978-602-5653-11-7
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG