IMG-LOGO
Nasional

Mengenal Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar

Sabtu 22 September 2018 22:52 WIB
Bagikan:
Mengenal Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar
Penjabat Rais PBNU KH Miftachul Akhyar
Jakarta, NU Online 
KH Miftachul Akhyar tentu saja bukan nama baru di kalangan NU. Terutama Nahdliyin dan kalangan pesantren Jawa Timur. Ia lahir dari tradisi dan melakukan pengabdian di NU sejak usia muda. Tak heran kemudian hari ini mengemban puncak kepemimpinan NU, sebagai Penjabat Rais Aam.  

Kiai Miftah adalah Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya. Ia adalah putra Pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah KH Abdul Ghoni. Ia lahir tahun 1953, anak kesembilan dari 13 bersaudara. 

Di NU ia pernah menjabat sebagai Rais Syuriyah PCNU Surabaya 2000-2005, Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur 2007-2013, 2013-2018 dan Wakil Rais Aam PBNU 2015-2020 yang selanjutnya didaulat sebagai Pj. Rais Aam PBNU 2018-2020, di Gedung PBNU, Sabtu (22/9).

Menurut catatan PW LTNNU Jatim Ahmad Karomi, genealogi keilmuan KH Miftachul Akhyar tidak diragukan lagi. Ia tercatat pernah nyantri di Pondok Pesantren Tambak Beras, Pondok Pesantren Sidogiri (Jawa Timur), Pondok Pesantren Lasem Jawa Tengah, dan mengikuti Majelis Ta'lim Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Makki Al- Maliki di Malang, tepatnya ketika Sayyid Muhammad masih mengajar di Indonesia.

Masih menurut Karomi, penguasaan ilmu agama KH Miftachul Akhyar ini membuat kagum Syekh Masduki Lasem sehingga ia diambil menantu oleh oleh kiai yang terhitung sebagai mutakharrijin (alumnus) istimewa di Pondok Pesantren Tremas.

Kemudian KH Miftachul Akhyar mendirikan  Pondok Miftachus Sunnah di Kedung Tarukan mulai dari nol. Awalnya ia hanya berniat mendiami rumah sang kakek, tetapi setelah melihat fenomena pentingnya "nilai religius" di tengah masyarakat setempat, maka mulailah beliau membuka pengajian. Apa sebab?

“Konon, kampung Kedung Tarukan terkenal sejak lama menjadi daerah yang tidak ramah pada dakwah para ulama. Namun berkat akhlak dan ketinggian ilmu yang dimiliki KH Miftachul Akhyar, beliau berhasil mengubah kesan negatif itu sehingga kampung yang "gelap" menjadi "terang dan sejuk" seperti saat ini dalam waktu yang relatif singkat,” tulis Karomi. 

Kesederhanaan KH. Miftachul Akhyar, menurut Karomi, yang terekam dengan jelas adalah bentuk penghormatan terhadap tamu. Kiai Miftah tidak segan-segan menuangkan wedang dan menyajikan cemilan kepada tamunya. 

“Akhlak ini beliau dapat dari ayahandanya, KH Abdul Ghoni,” lanjut Karomi. 

Karomi mengutip penuturan Gus Tajul Mafakhir, bahwa ayah KH Miftachul Akhyar  merupakan karib KH M. Usman al-Ishaqi Sawahpulo saat sama-sama nyantri kepada Kiai Romli di Rejoso, Jombang. Terlebih lagi saat sang ayah nyantri kepada Kiai Dahlan Ahyad Kebondalem sang pendiri MIAI dan Taswirul Afkar.

“Tepatlah kiranya pepatah mengatakan: "buah jatuh tidak jauh dari pohonnya". KH Abd Ghoni dalam pandangan Abah Thoyib Krian merupakan salah satu kiai ampuh yang ditutupi oleh keindahan akhlak. Acapkali KH Abd Ghoni mengadukkan wedang, menyuguhkan dan mempersilahkan kepada tamunya. Nah, "lelaku sae" inilah yang oleh KH Miftachul Akhyar tetap dilestarikan,” tulis Karomi. (Abdullah Alawi)


Bagikan:
Sabtu 22 September 2018 21:45 WIB
Kemnaker Tingkatkan SDM Pekerja Pariwisata
Kemnaker Tingkatkan SDM Pekerja Pariwisata
Jakarta, NU Online
Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) terus meningkatkan keterampilan angkatan kerja. Peningkatan dilakukan menyesuaikan potensi lapangan pekerjaan pada daerah setempat. Misalnya, meningkatkan kompetensi angkatan kerja sektor pariwisata di Kabupaten Sumba, Nusa Tenggara Timur, mengingat industri pariwisata di daerah tersebut terus menunjukkan tren positif. 
 
Terkait hal itu, Kemnaker akan bekerja sama dengan Sumba Hospitality Foundation, sebuah sekolah yang fokus pada bidang pariwisata di Sumba. "Instruktur dari sekolah ini akan mengajari peserta menjadi pekerja di bidang jasa pariwisata secara profesional, bertaraf internasional," kata Menaker M Hanif Dhakiri usai membicarakan rencana tersebut dengan Sumba Hospitality Foundation di kantor Kemnaker, Jumat (21/9).
 
Bentuk kerja sama yang akan dilakukan adalah instruktur dari Sumba Hospitality Foundation akan memberikan pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK) milik Kemnaker. "Minggu depan, tim Kemnaker akan melakukan peninjauan BLK di Sumba untuk memastikan kesiapan pelaksanaan program ini," jelas Menaker Hanif. 
 
Tidak hanya dilatih, para siswa juga akan diikutkan magang di berbagai hotel berbintang di Bali. Tujuannya, agar para siswa mengenal dunia kerja yang sesungguhnya sehingga mereka lebih siap masuk dunia kerja, baik di dalam maupun luar negeri.
 
Ditegaskan pula, kerja sama tersebut bentuk dari komitmen pemerintah yang terus meningkatkan akses dan mutu pelatihan kejuruan di BLK. Selain itu, pemerinta juga terus berdialog dan berinteraksi dengan berbagai pihak, terutama kalangan pendidikan dan dunia usaha guna membuka peluang kerja sama dalam rangka meningkatkan kualitas SDM Indonesia. Kerja sama semacam ini guna memastikan peserta pelatihan langsung bisa diterima di dunia kerja.
 
Pendiri dan Pembina Sumba Hospitality Foundation, Inge de Lathauwer, mengatakan pihaknya menyambut baik kerja sama ini. "Kami ingin membantu meningkatkan kompetensi anak muda Sumba, khususnya di sektor pariwisata," kata Inge.

Pihaknya akan mendatangkan tenaga instruktur dari Eropa. Mereka akan memberikan keterampilan hospitality serta Bahasa Inggris.

Sumba Hospitality Foundation berdiri sejak tahun 2015. Lembaga ini fokus melatih masyarakat pra-sejahtera di Sumba supaya memiliki kompetensi di bidang pariwisata. Pelatihan dilakukan selama 10-11 bulan dengan pengajar 80 persen berasal dari luar negeri. (Red: Kendi Setiawan)
Sabtu 22 September 2018 21:35 WIB
Kiai Ma’ruf Amin Dilepas Para Kiai dengan Doa, Shalawat, dan Tangis Haru
Kiai Ma’ruf Amin Dilepas Para Kiai dengan Doa, Shalawat, dan Tangis Haru
Wakil Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar mencium tangan Kiai Ma'ruf Amin
Jakarta, NU Online 
KH Ma’ruf Amin menyampaikan pidato tertulis pengunduran dirinya sebagai Rais Aam PBNU pada Rapat Pleno yang berlangsung Sabtu (22/9). Setelah itu, ia kemudian meninggalkan ruangan, berpamitan kepada seluruh kiai yang hadir, pengurus PBNU, lembaga dan banom NU. 

Tanpa dikomandoi, para kiai itu menyenandungkan shalawat untuk Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa salam seraya memeluk dan menciumi tangannya. 

Ya rabbibil musthafa
Baligh maqasidana waghfir lanaa
Mamadha ya wasyi’al karami

Muhammadun sayyidul kaunaini watsaqalaini 
walfariqoini min ’urbin wa min ’ajami

Wakil Rais Aam PBNU KH MIftachul Akhyar, Ketua Umum PBNU dan para pengurus lain mencium tangan Kiai Ma’ruf. Begitupun para peserta Rapat Pleno PBNU itu. Tampak Kiai Said menyeka air matanya. Begitu juga kiai lain. Mukanya sembab. Iringan shalawat pun terdengar mendayu-dayu.  

Kiai Ma’ruf Amin berjalan perlahan karena tertahan menerima jabat tangan mereka. Di ambang pintu aula lantai delapan PBNU itu, seorang kiai yang sepuh, memeluknya beberapa saat. Kemudian melepasnya. Melepasnya. Melepasnya. Sementara shalawat terus mengiringi Kiai Ma’ruf menuju lift. 

Maulaya shalli wa salim daiman abada
‘Alan nabiyyi wa ahli baiti kullihimi…

Ya, Kiai Ma’ruf pergi, tapi bukan meninggalkan NU. Ia justru berangkat dengan niat akan memperbesar perjuangannya di lapangan pengabdian yang lebih luas.

“Saya dididik di pesantren untuk memegang teguh bahwa ketika negara memnggil, harus tunduk. Sebelum menerima panggilan itu saya menerima arahan para masyaikh (guru-guru), semua mendukung,” katanya pada pidato tertulis pada pengunduran diri sebagai Rais Aam PBNU. "Ini merupakan perjuangan baru untuk kemaslahatan yang lebih banyak. Saya hijrah dari aktivitas saya dari jalur kultural ke jalur struktural, karena itu mohon doa dan dukungan semoga cita-cita semua tercapai,” harapnya.   

Setelah Kiai Ma’ruf mengundurkan diri, secara AD/ART NU maka Wakil Rais Aam KH Miftachul Akhyar menggantikannya. (Abdullah Alawi)

Sabtu 22 September 2018 21:18 WIB
Isi Lengkap Pidato Pengunduran Diri KH Ma'ruf Amin dari Rais Aam
Isi Lengkap Pidato Pengunduran Diri KH Ma'ruf Amin dari Rais Aam
KH Ma’ruf Amin menyampaikan pengunduran diri dari jabatan Rais Aam
Jakarta, NU Online
KH Ma’ruf Amin secara resmi mengundurkan diri dari jabatan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Keputusan tersebut diambil setelah sebelumnya, Komisi Pemilihan Umum (KPU) penetapan dirinya sebagai calon wakil presiden mendampingi capres Joko Widodo.

Berikut ini adalah pidato resmi yang disampaikan pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara, Serang, Banten, di hadapan peserta Rapat Pleno PBNU, pada Sabtu, (22/9).


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

الحمد لله حق حمده والصلاة والسلام على خير عبده وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم وعيده أما بعد

Semenjak menerima amanah dari Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-33 di Jombang, Jawa Timur, tahun 2015 sebagal Rais 'Aam, saya ber’azam mewakafkan diri saya untuk menjalankan amanah tersebut sebaik-baiknya. Tugas utama menegakkan dan menjaga manhajul fikri dan manhajul harakah di lingkungan NU menjadi fokus kerja saya selama ini. 

Melalui penguatan institusi Syuriah di setiap jenjang kepengurusan, agenda untuk lebih memantapkan pemahaman dan pengamalan Ahlusunnah Wal-jamaah an-Nahdliyah bagi warga NU dilakukan secara terstruktur, sistematis dan berkelanjutan. Sedangkan upaya mengefektifkan organisasi, saya lakukan dengan terus mendorong dan menggerakkan pengurus tanfidziyah dan lembaga/banom di bawah NU untuk terus berupaya menjalankan program kerja hasil Muktaramar di Jombang. Dalam hitungan saya, selama waktu lima tahun periode kepengurusan, program kerja amanah Muktamar NU di Jombang harus sudah terlaksana semua. 

Tapi rupanya Allah subhanahu wata’ala berkehendak lain. 'Azam saya untuk menuntaskan amanah tersebut sulit untuk terlaksana. Sebagaimana maklum beberapa bulan terakhir saya dihadapkan pada situasi amat sulit yang saya harus pilih salah satunya. Tugas sebagai Rais ‘Aam merupakan amanah yang amat mulia bagi semua kader NU, tak terkecuali saya. Namun di sisi lain, ada situasi yang saya sebagai kader NU tidak bisa menghindar. Bangsa dan Negara memanggil saya untuk memberikan pengabdian terbaik dengan dicalonkan sebagai Wakil Presiden. 

Saya dididik di lingkungan pesantren yang memegang teguh keyakinan bahwa apabila Bangsa dan Negara memanggil untuk mengabdi, maka siapapun harus tunduk dan patuh. Sebelum menerima panggilan tersebut, saya meminta arahan dan saran dari banyak masyayikh dan para kiai. Semua menyarankan agar saya menerima panggilan tersebut. Karena hal itu merupakan kesempatan terbaik untuk membawa manhajul fikri dan manhajul harakah NU ke ranah yang lebih luas, yaitu ranah berbangsa dan bernegara. Dengan tekad bulat, saya merelakan diri untuk menjalankan petunjuk masyayikh dan para kiai tersebut. Meskipun berat saya akhirnya menerima panggilan sebagai calon Wakil Presiden. 

Konsekuensinya, saya harus mundur dari tugas sebagai Raas 'Aam, sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU. Saya tunduk dan patuh terhadap aturan AD/ART tersebut. Setelah resmi dinyatakan sebagai calon wakil presiden, terhitung mulai hari ini saya menyatakan mengundurkan diri sebagai Rais Aam. Untuk selanjutnya, tugas-tugas Rais Aam akan dilaksanakan Wakil Rais Aam, sebagaimana diatur oleh AD/ART.

Meskipun demikian, perlu saya sampaikan bahwa di manapun dan sampai kapanpun saya adalah kader Nahdlatul Ulama. Pilihan saya ini merupakan jalur perjuangan baru untuk kemaslahatan yang lebih luas. Semoga Allah subhanallah wata’ala memberikan keberkahan dan kelancaran. Amiin.

Demikian dan terimakasih.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Jakarta, 12 Muharram 1440 H
22 September 2018

Hormat kami,
Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin




IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG