IMG-LOGO
Trending Now:
Nasional

Ribuan Banser Berzikir di Islamic Center Siak Riau

Ahad 23 September 2018 17:0 WIB
Bagikan:
Ribuan Banser Berzikir di Islamic Center Siak Riau
Siak, NU Online
Ribuan anggota Ansor dan Banser memadati Masjid Islamic Center Sultan Syarif Hasim, Kabupaten Siak, Riau, untuk berzikir dalam acara Haul Sultan Siak dengan khidmat. 

Acara dihadiri acara Wakil Bupati Siak Alfedri, Kapolres Siak AKBP Ahmad David, Dewan Syuro NU Siak KH Muhtaqdihin, Kemenag Siak Muharrom, Ketua PP GP Ansor Riau Purwaji, dan pengurus lainnya.

"Pelaksanaan zikir kebangsaan di Siak berjalan aman dan lancer, walau awalnya ada aksi penolakan dari sejumlah masyarakat," kata Kapolres Siak AKBP Ahmad David kepada wartawan, Ahad (23/9).

Adapun personel yang dilibatkan untuk pengamanan berjumlah, jelas Ahmad, sekitar 600 orang. Terdiri dari kesatuan Polres Siak, Polda Riau, Polres Pelalawan dan Polres Meranti.

Usai zikir bersama, kata Ahmad, para perserta melaksanakan ziarah ke makam Sultan Syarif Kasim yang selesai Ahad (23/9) dinihari sekitar pukul 01.00 WIB.

"Semua kegiatan berjalan normal, tanpa ada halangan apa pun," kata Ahmad.

Senada, Ketua PW GP Ansor Purwaji mengatakan, kegiatan berjalan lancar walau sempat ada aksi penolakan.

Purwaji mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Siak dan Riau atas sambutan hangatnya dalam kegiatan tersebut. Pihaknya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan, termasuk pihak aparat keamanan. 

"Kami datang dengan damai dan sesuai tujuan Kirab Satu Negeri yang digelar GP Ansor adalah untuk mempersatukan Indonesia yang belakangan ini mulai muncul benih-benih perpecahan. Mari kita jaga persatuan dan kesatuan dalam bingkai NKRI. Alhamdulillah, dengan semangat ‘Kita Ini Sama mencintai Negeri Ini’, akhirnya semua menjadi sejuk, tidak ada gesekan di masyarakat dalam kegiatan ‘Kirab Satu Negeri’ di Riau," kata Purwaji. 

Sementara, dalam tausyiahnya Gus Faris Al Haq menyampaikan untuk bersama-sama menjaga bangsa dan negara jangan ada perpecahan.

"Perlu diketahui bahwa di Siak ini ada sultan yang membangun bangsa berdasarkan Islam. Sebab itu, jika ada pihak-pihak yang merusak bangsa ini, maka GP Ansor dan Banser akan berjuang di depan membela bangsa dan negara ini," tandas Gus Faris. (Ahmad Rozali)
Tags:
Bagikan:
Ahad 23 September 2018 23:55 WIB
Pentingnya Parenting untuk Tekan Angka Perkawinan Anak menurut Alissa Wahid
Pentingnya Parenting untuk Tekan Angka Perkawinan Anak menurut Alissa Wahid
Jakarta, NU Online
Angka perkawinan anak masih sangat tinggi di Indonesia. Survei Sosial dan Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan BPS pada 2015 juga menyebutkan, di antara perempuan pernah kawin usia 20-24 tahun, 22,82 persen dari mereka menikah sebelum usia 18 tahun. Sulsel adalah satu provinsi terparah di mana terdapat 720 kasus pernikahan anak di Sulsel sepanjang Januari-Agustus 2018. 

Tingginya angka perkawinan anak, Putri Gus Dur Alissa Wahid menjelaskan bahwa perkawinan anak kerap dijadikan jalan keluar bagi kenakalan remaja atau jalan keluar atas kasus kehamilan di usia anak akibat pergaulan bebas misalnya.

Menurut Alissa, menikahkan anak yang terjerat masalah hamil di luar nikah tidak dapat dibenarkan tanpa memberikan pendampingan yang mencukupi bagi si anak. Sebab anak yang menikah belum memiliki kesiapan mental dan pengetahuan untuk menjadi ibu, dan ia terancam menghadapi bully-an atau perundungan dari lingkungan sekitarnya.

Pemaksaan nikah muda tanpa pendampingan justru beresiko mengakibatkan masalah lain yang lebih besar seperti kekerasan dalam rumah tangga, kemiskinan dan ancaman perceraian. Pendampingan yang ia maksudkan adalah pendampingan agar mereka mendapatkan hak untuk terus melanjutkan pendidikan, mendapat pendampingan kesehatan, dan pendampingan psikkologis yang dibutuhkan.

“Menikahkan saja tidak akan menyelesaikan semua urusan. Harusnya tidak berhenti di situ. Harusnya mereka didampingi semua aspek kehidupannya, pendidikan, kesehatan, dan keduanya harus didampingi supaya bisa lebih matang. Sampai nanti mereka di atas 21 tahun,” kata sekretaris Lembaga Kemaslahatan Keluarga NU ini kepada NU Online, di Jakarta, Sabtu (22/9).

Alissa menjelaskan, korban utama dari pernikahan anak tanpa pendampingan adalah ibu dan terutama si anak. Dalam kondisi semacam itu, si anak dapat terancam terkena masalah seperti stunting mengingat sang ibu belum memiliki kesiapan untuk hamil baik kesiapan reproduksi dalam hal mental dan pengetahuan. 

Lebih jauh, tingginya angka pernnikahan anak dapat ditekan dari level domestik keluarga dengan memberikan perhatian dan pendidikan dini pada anak. Pendidikan tersebut kelak akan mejadi benteng bagi si anak untuk menghadapi pergaulan di luar lingkungan keluarganya.

Walaupun ia tak memungkiri besarnya godaan pergaulan bebas, namun menurutnya masalah eksternal seperti itu dapat diantisipasi dengan menguatkan mental anak dari lingkungan terkecilnya yakni keluarga.

“Orang menyalahkan pergaulan dari luar. Tapi bukan itu masalahnya. Maslahnya adalah anaknya tidak disiapkan untuk menghadapi godaan itu. Initinya, kuncinya ada di orang tua. Bahwa semua orang tua saat ini menjadi kunci apakah anak-anaknya akan berkembang atau tidak,” paparnya.

Dengan dibekali pendidikan yang cukup, baik dari orang tuanya atau dari guru-gurunya, Alissa yakin si anak akan mampu menghadapi tantangan dari lingkungannya dan terhindar dari pernikahan usia anak. (Ahmad Rozali)
Ahad 23 September 2018 23:45 WIB
Warga NU Jangan Sampai Jadi 'Bancakan' Orang Lain
Warga NU Jangan Sampai Jadi 'Bancakan' Orang Lain
Jakarta, NU Online
Penjabat Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar menegaskan agar para pengurus NU menjaga Nahdliyin yang jumlahnya besar menjadi bancakan (mangsa) untuk kepentingan pihak lain. Apalagi pihak yang belum tentu sepaham dengan cara pandang, pikir, amaliah NU. 

“Jangan sampai umat NU menjadi bancakan orang lain,” katanya pada pidato setelah ditetapkannya sebagai Penjabat Rais Aam pada Rapat Pleno di Gedung PBNU, Jakarta, Sabtu (22/9).  

Di banyak kasus, setiap perhelatan negara seperti pilkada, hal itu terjadi dimana-mana. Oleh karena itu, menurut dia, segenap jajaran pengurus NU bertugas mencerdaskan warga NU agar mengerti situasi. 

Saat ini, lanjutnya, NU sedang shock karena punjernya (rais aam) diambil untuk kepentingan yang lebih besar. Namun, NU merelakan karena ada tugas yang lebih besar yang akan diembannya. 

“Dia kader terbaik kita, perdana yang terpilih melalui ahlul halli wal aqdi (ahwa). Maka harapan kita, tunjukkan bahwa kader kita betul-betul terbaik,” pintanya.  

Meski demkian, ia menegaskan, bahwa NU memiliki aturan-aturan, ada AD/ART, dan khittah nahdliyah. Jangan sampai hal itu dilanggar. Karena itulah, ia meminta kepada segenap pengurus PBNU dari jajaran mustasyar, syuriyah, tanfidziyah, untuk saling mengingatkan. 

Sebagaimana diketahui, Forum Rapat Pleno PBNU 2018 ini juga menerima sikap pengunduran diri KH Ma’ruf Amin dari tugas Rais Aam PBNU sebagai konsekuensi amanah Anggaran Rumah Tangga NU Bab XVI Pasal 51 ayat 6 dan peraturan NU lainnya. Ia mengundurkan diri sebab mencalonkan diri sebagai calon wakil presiden mendampingi calon presiden Joko Widodo. Forum ini juga menetapkan Kiai Ma’ruf Amin sebagai Mustasyar PBNU 2015-2020.

Rapat Pleno PBNU kemudian menetapkan KH Miftachul Akhyar sebagai penjabat rais aam yang sebelumnya wakil rais aam. Hal ini sesuai AD/ART NU Bab XV Pasal 48 ayat (1). (Abdullah Alawi)


Ahad 23 September 2018 23:30 WIB
Delapan Tahun Pergunu, Ini Prestasinya
Delapan Tahun Pergunu, Ini Prestasinya
Pergunu laporkan kinerja kepada PBNU dalam Rapat Pleno, Sabtu (22/9)
Jakarta, NU Online
Pada Rapat Pleno PBNU, Sabtu (22/9), Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) turut melaporkan kinerjanya. Laporan disampaikan oleh Ketua PP Pergunu, Aris Adi Leksono

Meski baru berumur delapan tahun, Pergunu sudah dapat menjangkau 34 provinsi, 468 kota/kabupaten, 4.352 kecamatan, dan beranggotakan lebih dari 900 ribu guru. 

Selanjutnya dalam mengemban amanat perkhidmatan, terutama dalam membangun SDM Indonesia, Pergunu telah memberikan 1.267 beasiswa untuk pendidikan S1, 689 beasiswa S2, dan 247 beasiswa S3. "Semua diambil dari putra-putri terbaik Nahdliyin perwakilan provinsi se-Indonesia. Ini adalah benih unggul yang akan dipanen dalam bentuk cendekiawan muslim yang cinta terhadap bangsa dan Negaranya, karea NKRI Harga Mati," tegas Aris.

Selain itu, Pergunu juga memberikan beasiswa kepada mahasiswa dari negara lain seperti Afganistan, Kazakhstan, Maroko, Thailand, Malaysia, Kamboja, Vietnam.

(Integritas Siswa Jadi Fokus Pergunu)
(Pergunu Nilai Pilpres Upaya Ciptakan Indonesia yang Adil)
Selebihnya untuk memberikan jaminan keselamatan kerja, kesehatan, dan perlindungan hukum bagi guru, Pergunu telah mengusulkan kepada pemerintah adanya Komisi Perlindungan Guru Indonesia.

"Komisi ini nantinya bertugas mengawal terlaksananya Undang-Undang Guru dan Dosen, Peraturan Pemerintah tentang perlindungan hukum guru. KPGI juga bertugas mengawasi kesejahteraan guru dapat terjamin baik bagi dirinya dan keluarganya," papar Aris. 

Pihaknya berharap perkhidmatan ini menjadi kontribusi Pergunu bagi Nahdliyin, Islam dan Bangsa Indonesia. Pada kesempatan tersebut turut hadir Ketum PP Pergunu, KH Asep Saifuddin Chalim. Laporan dalam bentuk lalu diserahkan kepada Rais Aam, KH Miftachul Akhyar. (Kendi Setiawan)


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG