IMG-LOGO
Opini

Penentuan Awal Bulan Qamariyah Perspektif NU

Rabu 1 Agustus 2007 13:12 WIB
Bagikan:
Penentuan Awal Bulan Qamariyah Perspektif NU

Judul di atas mengisyaratkan adanya keragaman pandangan tentang sistem penentuan awal bulan qamariyah.

Semula umat Islam hanya mengenal sistem rukyat  sebagai dasar penentuan awal bulan qamariyah khususnya awal bulan Ramadlan, Syawal, dan Dzulhijjah sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Ketika ilmu hisab masuk dalam kalangan umat Islam pada abad 8 Masehi di masa Dinasti Abasiyah, maka mulai berkembang pemikiran untuk menggunakan hisab bagi penentuan awal bulan qamariyah. Dari dua sistem tersebut lahirlah perbedaan antara hisab dengan rukyat, perbedaan di dalam rukyat, dan perbedaan di dalam hisab.

Sistem<> rukyat melahirkan berberapa pendapat:
1. Pendapat yang mendasarkan pada ruang lingkup berlakunya rukyat, maka timbullah istilah: rukyat lokal, rukyat nasional, dan rukyat global.
2. Pendapat yang mendasarkan pada ada atau tidak adanya persinggungan dengan hisab, maka timbullah: pendapat yang mendasarkan pada rukyat minus dukungan hisab dan pendapat yang mendasarkan pada rukyat plus dukungan hisab.

Sistem hisab melahirkan beberapa pendapat:
1. Pendapat yang mendasarkan pada adanya perbedaan metode hisab, yaitu:
a. Metode Hisab Urfi.
b. Metode Hisab Haqiqi Taqribi (disingkat Taqribi).
c. Metode Hisab Haqiqi Tahqiqi (disingkat Tahqiqi).
d. Metode Hisab Tadqiqi/’Ashri atau Kontemporer.

2. Pendapat yang mendasarkan pada kriteria awal bulan:
a. Pendapat yang mendasarkan pada Waktu Ijtima’.
b. Pendapat yang mendasarkan pada Wujudul Hilal.
c. Pendapat yang mendasarkan pada Imkanur Rukyat.

Meskipun terdapat keragaman, tetapi di dalam sejarah sejak zaman Sahabat hingga sekarang ternyata para khalifah, sultan, ulil amri menggunakan sistem rukyat sebagai dasar itsbat awal bulan Ramadlan, Syawal, dan Dzulhijjah.

Sesuai dengan judul di atas, maka dalam makalah ini akan dibahas pandangan NU tentang penentuan awal bulan qamariyah, khususnya awal bulan Ramadlan, Syawal, dan Dzulhijjah.

NU (Nahdlatul Ulama) adalah Jam’iyah Diniyah Islamiyah (Organisasi Sosial Keagamaan Islam) yang berhaluan Ahlussunnah wal Jama’ah, yang menjunjung tinggi dan mengikuti ajaran Rasulullah Muhammad SAW serta tuntunan para sahabat dan hasil ijtihad para ulama madzhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali).

Sebagai sebuah Jam’iyah Diniyah Islamiyah, sesuai dengan tujuan keberadaannya, NU berkewajiban untuk senantiasa mengamalkan, mengembangkan, dan menjaga kemurnian ajaran agama Islam yang diyakininya, termasuk di dalamnya adalah penentuan awal bulan qamariyah khususnya yang ada hubungannya dengan ibadah, yakni bulan Ramadlan, Syawal, dan Dzulhijjah.

Sikap NU tentang sistem penentuan awal bulan qamariyah, khususnya awal bulan Ramadlan, Syawal, dan Dzulhijjah diambil melalui keputusan Muktamar NU XXVII di Situbondo (1984), Munas Alim Ulama di Cilacap (1987), Seminar Lajnah Falakiyah NU di Pelabuhan Ratu Sukabumi (1992), Seminar Penyerasian Metode Hisab dan Rukyat di Jakarta (1993), dan Rapat Pleno VI PBNU di Jakarta (1993), yang akhirnya tertuang dalam Keputusan PBNU No. 311/A.II.04.d/1994 tertanggal 1 Sya’ban 1414 H/13 Januari 1994 M, dan Muktamar NU XXX di Lirboyo Kediri (1999).

Keputusan PBNU tersebut telah dibukukan dengan judul “PEDOMAN RUKYAT DAN HISAB NAHDLATUL ULAMA”.

Menurut NU, penentuan awal bulan qamariyah, khususnya awal bulan Ramadlan, Syawal, dan Dzulhijjah didasarkan pada sistem rukyat sedang hisab sebagai pendukung.


Rukyat adalah melihat dan mengamati hilal secara langsung di lapangan pada hari ke 29 (malam ke 30) dari bulan yang sedang berjalan; apabila ketika itu hilal dapat terlihat, maka pada malam itu dimulai tanggal 1 bagi bulan baru atas dasar rukyatulhailal; tetapi apabila tidak berhasil melihat hilal, maka malam itu tanggal 30 bulan yang sedang berjalan dan kemudian malam berikutnya dimulai tanggal 1 bagi bulan baru atas dasar istikmal.

Pandangan NU tentang rukyat sebagai dasar penentuan awal bulan qamariyah, khususnya awal bulan Ramadlan, Syawal, dan Dzulhijjah didasarkan atas pemahaman, bahwa nash-nash tentang rukyat itu bersifat ta’abbudiy. Ada nash al-Quran yang dapat dipahami sebagai perintah rukyat, yaitu QS. al-Baqarah:185 (perintah berpuasa bagi yang hadir di bulan Ramadhan) dan QS. al-Baqarah:189 (tentang penciptaan ahillah). Dan tidak kurang dari 23 hadits tentang rukyat, yaitu hadits-hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah, Imam Malik, Ahmad bin Hambal, ad-Darimi, Ibnu Hibban, al-Hakim, ad-Daruquthni, al-Baihaqi, dan lain-lain . Dasar rukyat ini dipegangi oleh para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ittabi’in dan empat madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali).

Rukyat atau pengamatan hilal akan menambah kekuatan iman. Pengamatan terhadap benda-benda langit termasuk bulan adalah bagian dari melaksanakan perintah untuk memikirkan ciptaan Allah agar lebih dalam mengetahui kemahabesaran Allah, sehingga memperkuat iman.

Rukyat mempunyai nilai ibadah jika digunakan untuk penentuan waktu ibadah seperti shiyam, ‘id, gerhana, dan lain-lain.

Rukyat adalah ilmiah. Rukyat atau pengamatan/penelitian/observasi terhadap benda-benda langit melahirkan ilmu hisab. Tanpa rukyat tidak akan ada ilmu hisab.

Sebagai konsekwensi dari prinsip ta’abbudiy, NU tetap menyelenggarakan rukyatul hilal bil fi’li di lapangan, betapa pun menurut hisab hilal masih di bawah ufuk atau di atas ufuk tapi ghairu imkanir rukyat yang menurut pengalaman, hilal tidak akan kelihatan. Hal demikian ini dilakukan agar pengambilan keputusan istikmal itu tetap didasarkan pada sistem rukyat di lapangan yang tidak berhasil melihat hilal, bukan atas dasar hisab.

Rukyat yang diterima sebagai dasar adalah hasil rukyat di Indonesia (bukan rukyat global) dengan wawasan satu wilayah hukum NKRI. Sehingga apabila salah satu tempat di Indonesia dapat menyaksikan hilal, maka hasil rukyat demikian ini menjadi dasar itsbatul aam yang berlaku bagi umat Islam di seluruh Indonesia.

Rukyat yang dikehendaki oleh NU adalah rukyat yang berkualitas didasarkan atas:

1. Pemahaman terhadap hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud dari salah seorang sahabat Rasulullah SAW., Rib’i bin Hirasy, yang di dalamnya terdapat ungkapan:
بِاللهِ لَأَهَلَّ الْهِلاَلُ (Demi Allah, bahwa sesungguhnya hilal telah tampak.)

Kata sumpah, kata sungguh, dan kata tampak dalam hadits itu mengisyaratkan, bahwa rukyatul hilal itu benar-benar terjadi dan meyakinkan, sehingga Rasulullah SAW. menerima laporan itu. Hal ini dapat dipahami, bahwa Rasulullah SAW. menerima laporan itu karena rukyat itu berkualitas.

2. Pemahaman terhadap qaul Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam Kitab Tuhfatul Muhtaj jilid III halaman 382, yang artinya:

“Yang dituju dari padanya ialah bahwa hisab itu apabila para ahlinya sepakat bahwa dalil-dalilnya qath’i (pasti) dan orang-orang yang memberitakan (mengumumkan) hisab tersebut mencapai jumlah mutawatir, maka persaksian rukyat itu ditolak. Jika tidak demikian, maka tidak ditolak.”

Qaul ini dalam konteks laporan hasil rukyat yang ditolak jika para ahli hisab yang mencapai jumlah mutawatir sepakat, bahwa saat itu hilal ghairu imkanir rukyat secara hisab. Dengan demikian dapat dipahami, bahwa Ibnu Hajar al-Haitami menghendaki adanya rukyat yang berkualitas.

Untuk mewujudkan rukyat yang berkualitas, maka NU menggunakan ilmu hisab dan menerima kriteria imkanur rukyat sebagai pendukung proses pelaksanaan rukyat.

Hisab sebagai pendukung rukyat. Bukan sebagai dasar penentuan awal bulan qamariyah, khususnya awal bulan Ramadlan, Syawal, dan Dzulhijjah karena ia sebagai ilmu yang dihasilkan oleh rukyat.

Ilmu hisab / ilmu falak adalah ilmu pengetahuan yang membahas posisi dan lintasan benda-benda langit, tentang matahari, bulan, dan bumi dari segi perhitungan ruang dan waktu. Ilmu Hisab sebagai ilmu yang termasuk dalam kelompok ilmu pengetahuan alam, maka berlaku ketentuan-ketentuan ilmu itu; artinya dapat berkembang terus menerus sejalan dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan modern. Pengamatan atau penelitian/observasi (rukyat) terhadap benda-benda langit terus menerus dilakukan oleh para ahlinya, sehingga berkembang pula ilmu hisab yang semakin tinggi tingkat akurasinya.

Dewasa ini di kalangan Umat Islam berkembang lebih dari 20 metode hisab (kitab hisab) yang dapat dibagi dalam 3 kelompok, yaitu: metode haqiqi Taqribi (disingkat taqribi), metode haqiqi tahqiqi (disingkat tahqiqi), dan metode Tadqiqi/’Ashri atau kontemporer.

Untuk mendukung proses pelaksanaan rukyat, maka NU memilih metode yang tingkat akurasinya tinggi agar memperoleh hasil yang berkualitas. Dalam konteks ini, NU pun menerima kriteria imkanur rukyat.

Kriteria imkanur rukyat hanyalah sebagai instrumen untuk menolak laporan adanya rukyatul hilal, sedangkan para ahli hisab telah bersepakat, bahwa hilal masih di bawah ufuq atau di atas ufuq tapi ghairu imkanir rukyat. Jadi kriteria imkanur rukyat tidak digunakan untuk menentukan awal bulan qamariyah. Jelasnya apabila menurut hitungan hisab bahwa hilal sudah imkanur rukyat, tetapi kenyataan di lapangan hilal tidak berhasil dirukyat, maka penentuan awal bulan qamariyah, khususnya awal bulan Ramadlan, Syawal, dan Dzulhijjah didasarkan atas dasar istikmal.

Jadi posisi ilmu hisab berikut kriteria imkanur rukyat bersifat ta’aqquliy sebagai sarana untuk mendukung proses penyelenggaraan rukyat.

Proses pengambilan keputusan yang diterbitkan oleh PBNU sehubungan dengan hasil rukyat untuk menentukan awal bulan Ramadlan, Syawal, dan Dzulhijjah melalui 4 tahap:

1. Melakukan hisab awal bulan untuk membantu pelaksanaan rukyat dan untuk mengontrol keakurasian laporan hasil rukyat.
2. Menyelenggarakan rukyatul hilal bil fi’li di lokasi-lokasi strategis yang telah ditentukan di seluruh Indonesia.
3. Melaporkan hasil rukyat dalam sidang itsbat yang diselenggarakan oleh Menteri Agama.
4. Kemudian setelah ada itsbat dari pemerintah, maka PBNU mengeluarkan ikhbar sehubungan dengan itsbat tersebut untuk menjadi pedoman warga NU. Ikhbar PBNU dapat sejalan dengan itsbat pemerintah jika diterbitkan atas dasar rukyat. Jika itsbat tidak berdasarkan rukyat, maka PBNU berwenang untuk mengambil kebijakan lain.

Jadi PBNU tidak dalam kapasitas mengitsbatkan hasil rukyat. Hak itsbat ada pada pemerintah. Hak ikhbar ada pada PBNU.

Dari hal-hal yang dipaparkan di muka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Penentuan awal bulan qamariyah khususnya awal bulan Ramadlan, Syawal, dan Dzulhijjah perspektif NU didasarkan atas rukyat, sedangkan hisab sebagai pendukung.
2. NU dalam memahami dan mengamalkan nash-nash al-Quran dan as-Sunah menggunakan asas ta’abbudiy dan dilengkapi dengan asas ta’aqquliy.
3. Sebagai konsekwensi dari penggunaan asas ta’abbudiy ini, maka menurut NU sistem penentuan awal bulan qamariyah, khususnya awal bulan Ramadlan, Syawal, dan Dzulhijjah didasarkan pada pemberlakuan otentitas nash, yakni dengan cara rukyat atau istikmal sesuai dengan sunnah Nabi SAW serta tuntunan para sahabat dan hasil ijtihad para ulama madzhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali).
4. Sedangkan konsekwensi dari penggunaan asas ta’aqquliy untuk menyempurnakan ta’abbudiy, maka menurut NU rukyat itu perlu didukung dengan ilmu hisab yang tingkat akurasinya tinggi disertai dengan kriteria imkanur rukyat untuk mencapai hasil rukyat yang berkualitas.
5. Rukyat memiliki nilai keimanan, ibadah, dan pengembangan ilmu.
6. NU berwawasan nasional, 1 wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia, dalam penentuan awal bulan qamariyah, khususnya awal bulan Ramadlan, Syawal, dan Dzulhijjah.
7. NU berpendapat, bahwa itsbat pemerintah suatu keniscayaan.
8. Ikhbar PBNU dikeluarkan sesudah terbitnya itsbat pemerintah.
9. Pandangan NU yang didasarkan pada prinsip rukyat nasional didukung hisab dengan menerima kriteria imkanur rukyat dan mengakui hak itsbat pemerintah diharapkan menjadi bahan perenungan menuju kesatuan dalam mengawali shiyam, hari raya ‘Idul Fitri, dan hari raya ‘Idul Adha.

KH. Ahmad Ghazalie Masroeri
Ketua PP Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU)

Bagikan:
Selasa 31 Juli 2007 17:17 WIB
Radikalisme, Modernisme, Internetisme
Radikalisme, Modernisme, Internetisme

Oleh Jamal Maimur Asmani

TIDAK terasa, 31 Juli 2007, atau 16 Rajab 1428 H. NU sudah berusia 84 tahun (berdiri 16 Rajab 1344). Usia yang relatif tua dan matang. Tantangan dan rintangan yang dihadapi organisasi kaum sarungan ini semakin hari semakin berat, baik dalam konteks agama maupun politik. ;

KH Hasyim Muzadi, Ketua Umum PBNU dalam suatu acara (17/5/2007) mengatakan, NU sekarang berada dalam kepungan dua ekstremisme. Pertama, fenomena radikalisme agama yang dibawa kelompok Islam yang mengedepankan jalan kekerasan dalam mengekspresikan nilai keagamaannya. Mereka ada yang berasal dari luar negeri, menggunakan ideologi kekerasan demi tegaknya khilafah Islamiyah di Indonesia. Kedua, massifnya kelompok liberal agama yang melakukan dekonstruksi dan profanisasi "doktrin" agama yang membawa pada konsep desakralisasi dan relativisme kebenaran agama.

Kedua kelompok ini sama-sama berbahaya. Untuk kelompok pertama, mereka seperti kaum "khowarij" yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, tidak perduli apakah cara itu membayakan dan menyengsarakan orang lain. Lebih ekstrem lagi, mereka memandang non-muslim sebagai orang yang darah, harta, dan harga dirinya "halal", boleh dibunuh, dijarah, dan dilecehkan.

Sedangkan kelompok kedua, mereka mau membunuh sendi-sendi keagamaan secara pelan-pelan. Umat Islam dijauhkan dari kebenaran agama. Agama tidak lebih hanya sekadar "keyakinan teologis" yang bersifat private, tidak sampai masuk wilayah publik. Umat Islam harus menghindari fanatisme teologis, mereka harus masuk dalam komunitas universal umat manusia tanpa disekat oleh eksklusivitas agama.

Kelompok kedua ini agaknya benar, namun, agama adalah kebenaran dan keyakinan hati. Ajaran-ajarannya tidak semuanya bisa disesuaikan dengan rasio manusia. Khususnya dalam masalah "teologi". Ia adalah wilayah hidayah (petunjuk Tuhan) yang tidak bisa diintervensi manusia.

Dalam agama, ada wilayah yang didekati dengan kekuatan rasio, ada juga yang hanya bisa didekati dengan kebeningan hati dan ketajaman rasa menembus keagungan Sang Pencipta.

Modernisme NU

Menghadapi dua tantangan besar ini, modernisme NU adalah suatu keniscayaan. NU harus merevitalisasi dan mendinamisasi dua unsur sekaligus, tradisionalitas (asholah) dan modernitas (hadatsah). Kaidah populer NU adalah al-muhafadhotu ala al-qodim al-sholih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah (konsisten terhadap warisan tradisi yang masih relevan dan mendinamisasi diri dengan hal-hal baru yang lebih transformatif- progresif) .

NU harus konsisten menjaga, mengembangkan, dan mengejawantahkan warisan tradisionalitasnya di tengah kompetisi dunia yang berjalan secara eskalatif. Warisan tradisi NU berkisar pada khazanah keilmuan klasik yang luar biasa nilainya, warisan budaya yang sangat kaya, santun, akomodatif-selektif , dan wawasan kemasyarakatan yang kosmopolit. Aktualisasi dan refungsionalisasi adalah dua tugas yang harus segera direalisasi agar relevansi warisan tradisionalitas NU bisa tetap eksis.

Disamping itu, NU juga harus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka memodernisasi diri di tengah kecepatan era globalisasi sekarang ini.Kecanggihan teknologi informasi dan profesionalitas manajemen harus dimanfaatkan untuk mendukung kerja-kerja organisasi agar berjalan secara cepat, efesien, efektif, dan akurat. NU tidak bisa mengandalkan manajemen dan teknologi sederhana, karena akan dicap ketinggalan zaman dan selalu tidak mampu mengikuti setiap perkembangan yang terjadi.

Urgensi Internet

NU harus mempunyai jaringan komunikasi efektif dan efesien untuk optimalisasi program-programnya. Dalam konteks ini, adanya fasilitas internet di setiap cabang NU yang bisa diakses para pengurus adalah langkah yang mendesak direalisasi. Dengan fasilitas internet, organisasi akan berjalan secara sehat. Koordinasi, konsultasi, dan konsolidasi dapat dilakukan dengan cepat, akurat, dan efisien, tidak memerlukan mobilitas massa dan anggaran yang banyak. Selama ini, kalau mau mengadakan konsolidasi, koordinasi, dan pemberdayaan organisasi, NU selalu membutuhkan anggaran banyak, mobilitas massa, dan hasilnya sangat tidak efektif.

Sebetulnya, PBNU sudah mempunyai peralatan canggih ini, bahkan sudah mempunyai website canggih, www.nu.or.id, namun sosialisasi dan fungsionalisasinya untuk menjadikan paradigma pemikiran dan manajemen NU menjadi modern dan professional masih sangat minim. Sedangkan kalau para pengurus NU membaca ide-ide pembaharuan yang ada dalam website tersebut akan sangat luar biasa, mampu mempercepat roda transformasi lembaga ke arah modernisasi paradigma berpikir dan profesionalitas manajemen, sebagai modal mengembangkan kegiatan yang berorientasi kerakyatan dan kemanusiaan.

Kalau langkah ini tidak segera diambil, maka seperti kekhawatiran banyak kalangan, termasuk KH. Hasyim Muzadi dan KH. Musthofa Bisri, NU hanya tinggal simbol, formalitas, dan jargon, tanpa ada fungsi sosial yang diharapkan.

NU menjadi tidak menarik, rakyat tidak merasakan manfaat positif dari eksistensi NU, mereka malas menjadi orang NU, anak-anak mereka tidak tertarik pada NU, dan NU hanya tinggal nostalgia masa lalu yang menjadi dongeng anak bangsa di kemudian hari.

Sedangkan di sisi lain, organisasi sosial keagamaan lainnya sedang gencarnya menggunakan cara-cara NU yang lama untuk menarik masa, dengan memperhatikan mereka, khususnya kalangan orang miskin-papa, memberikan beasiswa, menyantuni yatim-piatu, dan program-program kerakyatan lainnya. Mereka menghindari kesan "korupsi" dalam bentuk apa pun, dan selalu cepat merespons setiap penderitaan dan kesengsaraan yang dialami rakyat kecil. Akhirnya, pelan namun pasti, mereka mendapat simpati masyarakat, dan NU semakin terperosok.

Oleh sebab itu, tidak ada waktu lagi untuk menunda tugas berat ini. NU harus segera berbenah diri, menyongsong agenda masa depan dengan melakukan konsolidasi internal, membangun tim yang solid dan berkwalitas, mengembangkan kegiatan yang berorientasi kerakyatan, memperluas jaringan kerja, menetapkan prioritas dan selalu melakukan evaluasi.

Alasan klise selama ini, bahwa para pengurus NU sibuk-sibuk, banyak kegiatan personal, tidak bisa rukun, dan berjalan sendiri-sendiri, harus segera diakhiri kalau ingin melihat masa depan NU cerah. Demi organisasi, ego pribadi harus ditanggalkan, kebersamaan harus digalakkan, rasa memiliki organisasi harus dihidupkan, dan pengorbanan (waktu, tenaga, pikiran, harta) harus dikedepankan. Jika tidak, maka NU hanya tinggal kenangan.

Merangkul anak-anak muda potensial adalah salah satu jalan alternatif untuk mempercepat proses ini. Kadangkala, NU sering hanyut dalam wilayah politik praktis, sehingga melupakan asset terbesarnya, yaitu kader-kader muda potensial, calon pemimpin NU masa depan. (11)

- Jamal Maimur Asmani, pengurus harian Robithoh Ma'ahid Islamiyah (RMI) Cabang Pati, pengamat sosial keagamaan

sumber: suara merdeka

Kamis 12 Juli 2007 14:54 WIB
Ka’bah Mean Time
Ka’bah Mean Time

Selama ini garis awal waktu (day date line) kita berkiblat ke Inggris. Kota Greenwich, yang letaknya dekat London, ditetapkan sebagai bujur 0 atau disebut Greenwich Mean Time (GMT). Setiap 15 derajat dari sana dihitung berbeda 1 jam dalam hitungan 24 jam. Perhitungan hari pun bermula dari bujur yang berjarak 180 derajat dari Greenwich.

Kenyataan ini dirasa patut mengusik kesadaran umat Islam, sekurang-kurangnya bagi keperluan ritual atau ibadah, untuk bersepakat menetapkan Ka’bah sebagai kiblat penetapan waktu; Ka’bah Mean Time. Caranya, kota Mekah yang terletak pada 40 derajat bujur timur itu ditetapkan sebagai bujur 0 derajat. Sehingga 180 derajat dari Mekah, yakni 140 derajat bujur barat dari Greenwich, ditetapkan sebagai garis awal batas tunggal. Dengan demikian, umat Islam sedunia dapat, misalnya, merayakan Idul Fitri atau Idul Adha pada hari yang sama.

Anda<>ikan ide ini bisa diwujudkan, tentu Ka’bah kita akan semakin populer --meski sebenarnya tanpa itu pun, Ka’bah kita itu sudah jauh lebih populer dibanding dengan kota Greenwich. Hanya saja persoalannya, apa benar penetapan Ka'bah sebagai bujur 0 derajat akan berdampak positif bagi keperluan ritual, misalnya umat Islam sedunia bisa berhari raya pada hari yang sama?

Orang yang mengerti bahwa bola Bumi ini bulat dan mengerti bahwa umat Islam ada di mana-mana di seantero belahan Bumi yang bulat ini, tentu sulit mencema uraian tersebut di atas. Apakah hanya dengan menggeser day date line sejauh 40 derajat ke arah timur, atau lebih awal 2 jam 40 menit dari yang berlaku sekarang, umat Islam akan bisa berhariraya pada hari yang sama?

Orang yang memiliki sekelumit pengetahuan tentang ilmu falak atau ilmu hisab yang mengetahui bahwa awal bulan Hijriyah ditentukan berdasarkan kemunculan hilal di atas ufuk barat dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan day date line (garis batas tanggal) itu tadi, tentu akan geleng-geleng kepala menyimak ide Ka’bah Mean Time ini. Pindah-pindahkanlah posisi day date line itu ke mana suka, umat Islam di mana pun di belahan Bumi ini tidak akan pernah bingung tentang kapan saatnya mereka berhariraya karena pedoman untuk itu sudah konkret.

Umat Islam di satu belahan Bumi tertentu yang belum mengalami terbit hilal tidak akan memaksakan diri untuk berhariraya pada hari yang sama dengan umat Islam di belahan Bumi lain yang telah lebih dahulu mengalami terbit hilal. Sebab, Nabi SAW tidak memberi petunjuk demikian. Sedangkan sunnatullah mengenai gerakan bulan pada lintasannya mengakibatkan belahan bumi yang pertama kali mengalami terbit hilal selalu berubah setiap bulan.

Seandainya ide tentang Ka'bah Mean Time (KMT) ini bisa diterima secara internasional, kita umat Islam tentu saja ikut bangga. Kendati rasanya agak utopis, tetapi mari kita tunggu saja! Wallahu a'lam.

KH Abdul Salam Nawawi
Ketua Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Jawa Timur

Senin 25 Juni 2007 17:58 WIB
Selamat Jalan Prof. Dr. Sujudi di Usia 77 Tahun
Selamat Jalan Prof. Dr. Sujudi di Usia 77 Tahun

Oleh : HM. Rozy Munir

Sabtu 23 Juni 2007 siang, sewaktu penulis periksa gigi di tempat praktek dokter Gigi Sarworini, jalan Gandaria Kebayoran Baru mendadak terima SMS tentang wafatnya Prof. DR Sujudi mantan Rektor UI dan mantan Menteri Kesehatan RI. Pasalnya Prof. DR. Sujudi mau membuka simposium Perhimpunan Persahabatan Indonesia Jepang di RS Pertamina Jakarta. Prof . Sujudi jatuh sebelum acara di mulai dan menghembuskan nafas terakhir di RS tersebut. Penulis dan istri langsung ke RS. Pertamina, sewaktu melihat wajah almarhum yang damai, mendadak penulis terkenang pada perjalan silam dalam interaktif relasi dengan Prof. Sujudi.

Prof. Sujudi seorang tokoh intelektual dan pendidik yang besar jasanya dalam memimpin Universitas Indonesia sebagai Center of Excellent juga sebagai Reseach University, sebagai perguruan tinggi papan atas di Indonesia.

<>

Sewaktu penulis menjabat menteri BUMN dan Investasi, Prof. Sujudi mendatangi penulis untuk memberikan saran masukan bagi pengembangan BUMN Farmasi. Saat itu Dirut BUMN Farmasi antara lain DR. H. Bina Suhendra (PT. Phapros), Drs. Dorojatun (PT. Kimia Farma), Drs. Thamrin Pulungan (PT. Biofarma). Beliau juga menginginkan agar Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia membeli obat-obatan dari Indonesia untuk keperluan haji karena selain sesama negara penduduk muslim, juga quota jama’ah haji Indonesia jumlahnya cukup besar sekitar 200 ribu jiwa per tahun.

Dibawah Prof. Sujudi, penulis diangkat jadi Kepala Pusat Penelitian Pranata Pembangunan UI tahun 1986, sebagai kepala pertama dari  pusat penelitian tersebut. Selama sebelas tahun (lebih dari 3 Periode) menjabat sebagai kepala Puslit Pranata telah bergabung beberapa peneliti senior seperti Arbi Sanit, Prof. Sardjono Jatiman (alm), Dr Sukiat (alm) Psycholog andal, DR. Burhan Magenda, Prof. Subur Budi Santos, Drs.Aslam Sumhudi,MA , Mahrus Irsyam, MA (alm), DR. Suparman Ibrahim yang saat ini Pembantu Rektor I Universitas Assyafiiyah dan Ketua Yayasan Universitas NU Solo. Sedangkan dideretan peneliti muda waktu itu adalah Gumilar (sekarang Prof. DR, Dekan Fisip UI), Reny Chandriachsya (sedang pendidikan Ph.D di Australia, Daly Erni, SH, MH, (dosen FHUI), Ariza Agustina (saat ini menjadi politisi di PKB)

Sewaktu muktamar NU di Pondok Pesantren Krapyak tahun 1990 penulis di  angkat menjadi salah satu ketua PBNU pimpinan Gus Dur, yang beritanya dipublikasikan secara luas di media. Segera penulis menghadap Prof. Sujudi yang sedang praktek dokter di Pegangsaan Timur. Maklum waktu itu untuk ikut politik bagi pejabat di kampus UI termasuk sensitif.

Dengan kalem sang Profesor ini menjawab teruskan sebagai kepala Pusat penelitian di UI dan tetap ngajar di Fakultas Ekonomi UI, toh NU bukan partai dan saya dukung saudara. Prof. Sujudi senang humor joke-jokenya selalu keluar segar dari mulut beliau. Joke yang sering disampaikan adalah menceritakan kembali jokenya Gus Dur, tentang imam sholatnya seorang NU yang ucapan usholli-nya berulang-ulang demikian juga takbir awalnya, surat yang di baca pun panjang-panjang. Karena tak sabar di interupsi dan diganti oleh seorang imam dari Muhammadiyah. Sang imam sambil takbir dan setelah baca al-fatihah dia tengok ke belakang ke mantan imam NU sambil berkata, cepat kan ya!!

Dalam usia senja kang Sujudi tetap aktif, baik di Rumah Sakit maupun dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan tutur istri Prof. Sujudi dengan ramah dan murah senyum kepada para pelayat di RS. Pertamina. Ibu Sujudi berkata kepada penulis “Menurut Islam, mengharuskan dimakamkan segera sore ini juga tidak boleh ditunda sampai besok pagi tapi, kasihan keluarga dan sahabat yang lain jadi tidak melihat jenazah”.

Penulis menimpali memang harus disegerakan mengubur jenazah tapi tidak harus sore ini juga, soal begini di NU biasa dilakukan, terutama mengingat kearifan dalam mengurus jenazah.

Prof. Sujudi di makamkan  hari minggu pagi di taman makam pahlawan Kalibata dengan upacara militer. Selamat jalan Prof. Sujudi semoga diterima amal kebaikannya oleh Allah SWT dan bagi keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan iman. Innalillahi wa Inna Ilaihi Rojiun

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG