IMG-LOGO
Internasional

Serah Terima Keris, Tradisi Estafet Kepemimpinan di PCINU Korsel

Selasa 25 September 2018 11:50 WIB
Bagikan:
Serah Terima Keris, Tradisi Estafet Kepemimpinan di PCINU Korsel
Jakarta, NU Online
Tradisi pergantian estafet kepemimpinan di tubuh Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Korea Selatan ditandai dengan serah terima keris. Senjata ampuh produk asli orang-orang Nusantara tersebut ingin dilestarikan PCINU Korsel karena mengandung kearifan lokal dan nilai-nilai luhur yang tinggi. Saat ini, keris menjadi salah satu warisan budaya dunia asal Indonesia yang sudah diakui UNESCO.

Ketika Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj diundang ke Korsel, Ahad (23/9) untuk memperingati ke-9 tahun Masjid Al-Huda Gumi, keris tersebut ditunjukkan dan dijelaskan sebagai semacam tongkat komando saat terjadi transisi kepemimpinan di tubuh PCINU Korsel.

Salah seorang aktivis PCINU Korsel Yasin Wisanggeni mengatakan, sekarang masyarakat telah memasuki abad k-21. Zaman telah berubah sehingga perlu masyarakat sadari bahwa penting untuk melestarikan hasil karya seni kebudayaan para leluhur Nusantara agar tidak terkikis perkembangan zaman.

“Bila kita melihat hasil karya seni para leluhur kita yang telah dibuat beberapa abad yang lalu cukup membanggakan serta mempunyai nilai seni dan makna yang tinggi. Salah satu peninggalan hasil karya tersebut berupa Tosan Aji yang berwujud keris,” ujar Yasin Wisanggeni dikutip NU Online, Selasa (25/9) lewat Facebook PCINU Korsel.



Sebagai generasi penerus, sambung Yasin, sudah sepantasnya masyarakat Nusantara melestarikan budaya yang adiluhung, penuh dengan makna dan filosofi tinggi yang terkandung di dalamnya. 

“Beberapa waktu yang lalu saya diajak diskusi oleh seorang sahabat yang saat ini ada di Korea Selatan. Dari hasil diskusi akhirnya sepakat untuk menjadikan keris sebagai simbol estafet kepengurusan PCINU Korea Selatan,” ujar pria asal Bantul, Yogyakarta ini.

Dalam hal melestarikan warisan budaya, Yasin menjelaskan ada tiga hal cara untuk menghancurkan sebuah bangsa secara halus. Pertama, mengaburkan sejarah, kedua mengubur bukti sejarahnya dan ketiga memutuskan mata rantai sejarah dari leluhurnya.

Artinya, lanjut Yasin, memutuskan sejarah dari leluhur dalam hal ini antara lain menganggap bahwa leluhur masyarakat Nusantara adalah orang yang primitif. Padahal justru sebaliknya, sudah memiliki ilmu yang belum tentu bisa tercipta pada zaman sekarang.

Secara pribadi Yasin dan para sahabat yang ada di Korea Selatan bangga di mana tetap menjadikan keris sebagai simbol estafet kepengurusan atau kepemimpinan yang tentunya tidak melupakan keris sebagai jati diri bangsa Indonesia.

Dari hasil diskusi ini tercipta sebuah Keris dengan Dhapur Sepang, yang mempunyai makna dan filosofi tentang keseimbangan, baik hablun minallah maupun hablun minannas, yang artinya keseimbangan antara hubungan antara Manusia dengan Tuhan dan hubungan antara sesama manusia.

Pamor Keleng yang memiliki makna kelanggengan, mempunyai prinsip, tegas, tidak plin-plan dan ketulusan, dihiasi dengan kinatah logo NU, warangka sunggingan dengan logo NU juga pendok dengan logo NU. “Salut buat sahabat-sahabat PCINU Korea Selatan, beliau semua memang luar biasa,” ungkap Yasin.

Dia membayangkan seandainya ini bisa diadopsi oleh para pengurus NU se-Indonesia dari pusat hingga anak ranting. Itu baru satu organisasi saja, menurutnya bisa dibayangkan kalau hal ini ditiru oleh organisasi, komunitas, instansi pemerintah maupun swasta dan masih banyak lagi, tentunya Keris akan semakin jaya seperti zaman dahulu, yang saat ini Keris tinggal salah satu saksi kejayaan Nusantara pada masa lampau.

“Mari kita bergerak dan bekerja bersama demi lestarinya tosan aji Nusantara,” tandas Yasin. (Fathoni)
Bagikan:
Selasa 25 September 2018 20:20 WIB
Hilang 14 Tahun, Sarisih Dipulangkan dari Yordania
Hilang 14 Tahun, Sarisih Dipulangkan dari Yordania
Yordania, NU Online
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Amman Yordania memulangkan Pekerja Migran Indonesia bernama Sarisih (42 tahun), setelah dua bulan lalu ditemukan oleh Tim Satgas Perlindungan KBRI. Pekerja migran asal Lampung itu akhirnya bisa berkumpul lagi dengan keluarganya setelah kehilangan kontak selama 14 tahun.

“Kami memulangkan Sarisih setelah ditemukan keberadaan rumah majikannya dan langsung ditampung di griya singgah KBRI. Kini Sarisih telah berkumpul dengan keluarganya di tanah air," kata Dubes RI untuk Kerajaan Yordania merangkap Palestina,  Andy Rachmianto dalam keterangan persnya, Senin (24/9).

Andy menjelaskan selama ini tim satgas mencari tahu Sarisih melalui berbagai sumber informasi. Setelah berkoordinasi dengan LSM dan Anti Human Trafficking Unit (AHTU), pada awal Juli mulai ada titik terang tentang keberadaan Sarisih.

Hasil investigasi tim satgas diperoleh fakta Sarisih tidak diurus kelengkapan dokumennya. Paspornya kadaluarsa sejak 2008 dan tidak diperpanjang lagi. Melalui proses mediasi yang panjang, akhirnya majikan mau membayar denda ijin tinggal selama Sarisih berada di Yordania.

“Dengan berbagai perjuangan, semua permasalah terkait, termasuk pelunasan gajinya dapat diselesaikan melalui mediasi, “ kata Andy Rachmianto yang menyempatkan diri menemui Sarisih sebelum kembali ke tanah air akhir pekan lalu.

Sarisih, kata Dubes Andy Rachmianto, selama berada di Griya Singgah dalam kondisi fisik sehat.  Dubes Andy Rachmianto juga meluangkan waktu menemui Sarisih dan menyampaikan selamat atas rencana kepulangannya ke tanah air sekaligus bertemu putrinya Ferdina, yang gigih mencari keberadaan ibunya setelah lama berpisah.

Atase Tenaga Kerja KBRI Yordania, Suseno Hadi menambahkan pemulangan Sarisih ini merupakan komitmen kehadiran negara dalam pelayanan dan perlindungan WNI di luar negeri sebagai salah satu prioritas pemerintahan Jokowi.

“KBRI Amman akan terus memperjuangkan hak-hak dan melindungi sekitar tiga ribuan pekerja migran yang masih berada di Yordania," kata Suseno

Suseno mengungkapkan bersamaan tuntaskan kasus pekerja migran Sarisih, pihaknya juga telah menyelesaikan enam kasus pekerja migran lainnya dan melakukan pendampingan untuk kepulangannya ke tanah air.

Para pekerja migran itu selama 5-10 tahun belum pernah pulang ke Indonesia. “Masalah utama yang mereka hadapi di Yordania pada umumnya terkait dengan gaji yang belum dibayar dan denda izin tinggal yang tidak diurus oleh majikan," kata Suseno

Ditegaskan Atase Suseno dengan pemulangan pekerja migran dari Yordania ini, sejak 2017 pemerintah  telah fasilitasi pemulangan 400 orang pekerja migran bermasalah. (Red: Kendi Setiawan)
Selasa 25 September 2018 16:0 WIB
Perangi Ekstremisme, Putera Mahkota: Saudi Teguh pada Islam Moderat
Perangi Ekstremisme, Putera Mahkota: Saudi Teguh pada Islam Moderat
Foto: truthdig
Riyadh, NU Online
Putera Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman menegaskan, Saudi memegang teguh pada prinsip-prinsip Islam yang toleran dan moderat. Bin Salman juga menyebutkan, Saudi bertekad untuk terus memerangi ekstremisme dan terorisme.

“Kami tidak akan membiarkan siapapun menyerang kedaulatan negara kita dan membahayakan keamanannya,” kata Muhammad bin Salman dalam pidatonya saat Saudi merayakan hari nasional ke-88, Ahad (23/9), sebagaimana dikutip Arabnews.

Muhammad bin Salman mengatakan, Saudi tidak akan membiarkan benih-benih ekstremisme dan terorisme berkembang. Baginya, Islam adalah agama yang damai dan penuh kasih. 

“Tidak ada tempat bagi seorang yang melihat dalam perang kita melawan ekstremisme sebagai sarana untuk menyebarkan degradasi moral dan mengeksploitasi agama guna mencapai tujuannya,” jelasnya.

Selain itu, Muhammad bin Salman juga menyinggung soal Visi Saudi 2030. Ia menuturkan, lembaga-lembaga pemerintah telah menetapkan prinsip-prinsip transparansi dan keadilan untuk meningkatkan integritas, memerangi korupsi, dan mencapai tujuan dari rencana reformasi Visi 2030. 

“Visi 2030 merupakan langkah untuk melihat ke masa depan, dan berusaha menempatkan Saudi di garis depan dari negara-negara lain dengan tindak lanjut terus menerus, bimbingan, dan dukungan dari Raja Salman,” paparnya.

Pada kesempatan itu, Muhammad bin Salman juga menyampaikan terima kasihnya kepada Allah karena  telah menjadikan Saudi sebagai negara yang meliputi Makkah dan Madinah, kota dimana dua masjid suci umat Islam berada. 

Dengan demikian, imbuhnya, Arab Saudi menjadi negara pelayan umat Islam yang menjalankan ibadah haji dan umrah. Ia berkomitmen untuk terus meningkatkan pelayanan dan fasilitas untuk memudahkan para jamaah melaksanakan ibadah haji dan umrah. (Red: Muchlishon)
Selasa 25 September 2018 13:30 WIB
Lagi, Bukti Kekerasan Tentara Myanmar terhadap Rohingya Terungkap
Lagi, Bukti Kekerasan Tentara Myanmar terhadap Rohingya Terungkap
Ilustrasi (AP)
Washington, NU Online
Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat (Kemlu AS) menyatakan telah menemukan bukti-bukti kekerasan sistematis dan terkoordinasi baik yang dilakukan tentara Myanmar terhadap Muslim Rohingya. 

Laporan Kemlu AS tersebut didasarkan pada hasil wawancara terhadap 1.024 orang Muslim Rohingya yang tinggal di kamp-kamp di Bangladesh pada April lalu. Data dan keterangan yang diperoleh Kemlu AS selaras dengan hasil penyelidikan yang dilakukan PBB sebelumnya. 

Namun demikian, tidak ada istilah genosida atau pembersihan etnis untuk menggambarkan pembunuhan massal terhadap Muslim Rohingya dalam laporan Kemlu AS tersebut. Sedangkan, sebelumnya PBB menegaskan bahwa apa yang dilakukan Myanmar sudah termasuk aksi genosida.

“Survei ini mengungkapkan bahwa kekerasan baru-baru ini di Negara Bagian Rakhine utara adalah ekstrem, berskala besar, meluas dan tampaknya diarahkan untuk meneror penduduk dan mengusir penduduk Rohingya," demikian bunyi laporan 20 halaman Biro Intelijen dan Riset Kemlu AS seperti dilansir Reuters, Selasa (25/9). 

"“Ruang lingkup dan skala operasi militer menunjukkan bahwa mereka terencana dan terkoordinasi dengan baik.”

Laporan Kemlu AS juga mengungkap, di beberapa daerah tentara Myanmar menggunakan cara-cara yang dapat mengakibatkan jatuhnya korban massal dalam aksinya. Seperti memasukkan dan mengunci Muslim Rohingya di dalam rumahnya sebelum akhirnya membakarnya hidup-hidup, memagari perbatasan desa-desa sebelum menembaki Muslim Rohingya, dan menenggelamkan perahu yang ditumpangi saat mereka hendak melarikan diri ke Bangladesh.

Dalam laporan, Muslim Rohingya selamat yang diwawancarai menggambarkan, mereka menyaksikan langsung kekerasan yang terima saudara-saudaranya. Termasuk bagaimana bayi dan anak kecil dibunuh, orang yang tidak bersenjata ditembak dan dikubur hidup-hidup, dan perempuan-perempuannya Rohingya diperkosa.

Seorang saksi menggambarkan empat gadis Rohingya yang diculik, diikat dengan tali, dan diperkosa selama tiga hari. Kemudian, mereka ditinggalkan dalam keadaan ‘setengah mati.’ 

Pada 25 Agustus 2017, tentara Myanmar menggelar operasi militer di sejumlah desa yang banyak ditinggali Muslim Rohingya. Peristiwa itu menyebabkan sedikitnya 700 ribu Muslim Rohingya melarikan diri ke Bangladesh. Ribuan lainnya dilaporkan meninggal dalam operasi itu. 

Pihak Myanmar membantah tuduhan yang menyebut operasi itu sebagai upaya pembersihan etnis. Mereka berdalih, operasi itu dilakukan untuk memberantas kelompok separatis Muslim Rohingya yang ada di negara bagian Rakhine. (Red: Muchlishon)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG