IMG-LOGO
Nasional

Pembangunan Masjid Antigempa NU Jateng di Lombok Utara Hampir Usai

Selasa 25 September 2018 22:30 WIB
Bagikan:
Pembangunan Masjid Antigempa NU Jateng di Lombok Utara Hampir Usai
Masjid antigempa dari NU Jateng di Lombok Utara
Lombok Utara, NU Online
Pendirian masjid antigempa yang didirikan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah untuk masyarakat terdampak gempa bumi di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB) saat ini sudah mencapai 80 persen.

Ketua PWNU Jateng, KH Muzammil meninjau langsung ke titik lokasi masjid didirikan. Ia didampingi oleh Sekretaris NU Care-LAZISNU Jateng, Zainuddin; serta M Wibowo, ketua LPBI NU Jateng.

Kedatangan mereka disambut langsung oleh Tuan Guru Sa'i, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Yaqin, Pemenang, Lombok Utara, yang merupakan lokasi pendirian masjid.

"Masjid yang didirikan hasil iuran masyarakat Jawa Tengah semoga dapat bermanfaat dan menjadi sarana untuk masyarakat berkegiatan," tuturnya Selasa (25/9).

Sementara itu, Tuan Guru Sa'i menimpali atas bantuan PWNU dan warga Jawa Tengah, mereka dapat kami kembali memiliki masjid untuk beribadah.

Masjid antigempa tersebut berbahan baja ringan, berukuran 10x20 meter. Proses pendirian masjid dimulai Senin (17/9), melibatkan 12 orang relawan dari Banser Boyolali. Relawan dipilih berdasarkan kualifikasi keahlian di bidang pendirian bangunan berbahan baja ringan. (M Maulana Ali/Kendi Setiawan)
Bagikan:
Selasa 25 September 2018 23:0 WIB
SAS Institute Dorong Pemerintah dan Ormas Keagamaan Tanggulangi Kekerasan
SAS Institute Dorong Pemerintah dan Ormas Keagamaan Tanggulangi Kekerasan
Ilustrasi (hipwee)
Jakarta, NU Online
Direktur Said Aqil Siroj (SAS) Institute, M Imdadun Rahmat mendorong pemerintah dan organisasi sosial keagamaan agar bersama-sama untuk menanggulangi kekerasan.

"Pemerintah dan masyarakat harus kerja bersama terkait dengan soal ini," kata Imdad kepada NU Online di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (25/9), merespons tindakan kekerasan yang menghilangkan nyawa suporter sepak bola.

Menurutnya, pemerintah dalam menanggulangi kekerasan bisa melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Agama dengan cara memasukkan nilai-nilai tentang kemanusiaan, toleransi dan anti-kekerasan dalam kurikulumnya. Begitu juga lembaga atau organisasi keagamaan harus menanamkan nilai-nilai luhur, seperti toleransi kepada masyarakat.

"Lembaga pendidikannya dan lembaga agama harus sejak dini mengembangkan spirit kasih sayang, spirit perdamaian," jelasnya.

Ia mengatakan, seseorang atau sekelompok orang mudah melakukan kekerasan disebabkan menurunnya nilai-nilai dan karakter bangsa di dalam kehidupan bermasyarakat. "Ini bukan masalah sepak bola, menurut saya. Ini masalah karakter dan nilai-nilai bangsa (yang menurun)," ucapnya.

Oleh sebab itu, sudah seharusnya karakter dan nilai-nilai bangsa seperti toleransi ditumbuhkan di tengah-tengah masyarakat untuk menanggulangi kekerasan.

"Kita harus ganti budaya kekerasan menjadi budaya damai, budaya menghargai orang, menghargai martabat orang, menghargai hak hidup orang, menghargai keyakinan orang, menghargai pilihan politik, pilihan hobi dan sebagainya. Stop budaya kekerasan," terangnya. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)
Selasa 25 September 2018 21:30 WIB
Ketua Umum Inkopsim: Membangun Kemitraan Itu Penting
Ketua Umum Inkopsim: Membangun Kemitraan Itu Penting

Jakarta, NU Online
Sinergitas antara petani jagung, koperasi dan perusahaan adalah modal penting untuk menjaga stabilitas harga daging dan telur ayam. Sebab, tiga komponen itu merupakan lembaga yang saling bergantung dalam menjalankan aktifitasnya. Demikian diungkapkan oleh Ketua Umum Inkopsim (Induk Koperasi Syirkah Muawanah), HM Al Khaqqoh Istifa saat menjadi pemateri dalam Workshop Membangun Model Kemitraan Agribisnis di hotel Puri Denpasar, Jakarta, Senin (24/9).

Menurut Gus Khaqqoh, saapan akrabnya, jika kemitraan dari ketiga komponen  itu terbangun dengan baik, maka akan menghasilkan produk dengan harga terjangkau.

“Yang kita inginkan adalah adanya kepastian dan kelanjutan suplai jagung dari petani jika kemitraan itu terjalin,” tuturnya.

Gus Khaqqoh menegaskan bahwa Inkopsim berkomitmen untuk menjadi mitra perusahaan maupun petani jagung. Sejauh ini, katanya, Inkopsim telah menjalin kemitraan dengan para petani jagung di  banyak daerah. Tujuannya adalah untuk memastikan ketersediaan jagung bagi perusahaan yang bermitra dengan Inkopsim.

“Untuk hal itu, kami menggunakan jaringan NU. Jadi warga NU banyak yang jadi petani jagung di desa-desa,” jelasnya.

Di bagian lain, Gus Khaqqoh menegaskan pentingnya koperasi  untuk menjalin kemitraan dengan korporasi guna terciptanya akselerasi kemandirian dan kedaulatan ekonomi masyarakat.
“Inkopsim ingin ekonomi kita berdaulat,” tukasnya (Red: Aryudi AR).

Selasa 25 September 2018 21:0 WIB
SAS Institue: Sebuah Ikatan Harus Disertai Kesiapan Tenggang Rasa
SAS Institue: Sebuah Ikatan Harus Disertai Kesiapan Tenggang Rasa

Jakarta, NU Online

Direktur Said Aqil Siroj (SAS) Institute M Imdadun Rahmat menyatakan keprihatinannya atas jatuhnya korban jiwa disebabkan perbedaan dukungan klub sepak bola. 


"Itu memprihatinkan dan membuat hati kita pilu karena masih ada sebagian dari bangsa Indonesia yang kehilangan kemanusiaannya hanya karena berbeda dukungan klub bola," kata Imdad kepada NU Online di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (25/9). 


Menurutnya, peristiwa tersebut mestinya menyadarkan semua pihak dalam upaya pembentukan karakter bangsa bahwa ikatan apa pun, harus disertai dengan penanaman toleransi, sehingga melahirkan sikap menghargai terhadap kelompok yang berbeda. 


"Seharusnya pengelompokan orang-orang itu disertai dengan kesiapan tenggang rasa dan toleransi dengan kelompok yang berbeda," ucapnya.


Ia berharap, kasus tersebut bukan sedang memperlihatkan karakater bangsa Indonesia dan tidak sedang menunjukkan tipisnya rasa kemanusiaan di masyarakat.


"Ya mudah-mudahan ini bukan cermin dari karakter bangsa kita. Mudah-mudahn ini bukan seperti fenomena gunung es," harap pria yang pernah menjabat Ketua Komnas HAM Periode 2016-2017 itu.


Sebagaimana diketahui, suporter Persija (The Jak), Haringga Sirla (23) meninggal karena dikeroyok oleh suporter Perib (Bobotoh) di pelataran parker Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Ahad (23/9) lalu. (Husni Sahal/Ibnu Nawawi)


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG