::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Melawan Inkonsistensi Pemahaman tentang Sifat Ketinggian Allah

Jumat, 28 September 2018 15:15 Ilmu Tauhid

Bagikan

Melawan Inkonsistensi Pemahaman tentang Sifat Ketinggian Allah
Ilustrasi (almanarpress.net)
Dahulu kala di masa salaf (masa tiga abad pertama), ada kalangan Jahmiyah-Muktazilah yang mempropagandakan keyakinan bahwa Allah ada di mana-mana. Semua ayat atau hadits yang mengindikasikan bahwa Allah ada di atas langit/Arasy mereka takwil, sedangkan semua dalil yang mengindikasikan bahwa Allah ada bersama manusia di mana pun berada, mereka artikan secara harfiah.

Keyakinan semacam ini ditolak dengan keras oleh banyak tokoh dengan mengatakan sebaliknya. Golongan kedua ini memahami seluruh dalil yang mengindikasikan bahwa Allah ada di atas langit dan mewajibkan untuk menakwil seluruh dalil yang mengindikasikan bahwa Allah bersama manusia. Perang dalil dan pencarian legitimasi dari kedua kelompok yang sama-sama hidup di era salaf ini sangat sengit karena masing-masing kelompok punya dalil yang sama kuat dari Al-Qur’an dan hadits. 

Sebenarnya bila mau objektif, kedua kelompok di atas tidak konsisten berpegang teguh pada dalil Al-Qur’an dan Hadits semata. Mereka hanya mengikuti tafsiran mereka sendiri yang mewajibkan takwil pada satu jenis dalil dan mewajibkan pemahaman harfiah pada jenis dalil lainnya. Aturan semacam ini sama sekali tak berdasar dan tidak ilmiah. Syekh Ibnu Abdil Barr adalah salah satu ulama yang objektif dalam melihat fenomena perebutan klaim di masa salaf ini. Sebagaimana dinukil oleh Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, beliau mengomentari sebuah hadits sahih yang berisi larangan bagi orang yang sedang shalat untuk meludah ke arah depan sebab disabdakan oleh Nabi bahwa Allah ada di depan orang shalat tersebut, sehingga hendaknya meludah ke bawah kakinya. Dalam komentarnya terhadap hadits yang secara literal mengatakan bahwa Allah ada di depan orang shalat ini, Ibnu Hajar menukil:

وَقَالَ بن عَبْدِ الْبَرِّ هُوَ كَلَامٌ خَرَجَ عَلَى التَّعْظِيمِ لِشَأْنِ الْقِبْلَةِ وَقَدْ نَزَعَ بِهِ بَعْضُ الْمُعْتَزِلَةِ الْقَائِلِينَ بِأَنَّ اللَّهَ فِي كُلِّ مَكَانٍ وَهُوَ جَهْلٌ وَاضِحٌ لِأَنَّ فِي الْحَدِيثِ أَنَّهُ يَبْزُقُ تَحْتَ قَدَمِهِ وَفِيهِ نَقْضُ مَا أَصَّلُوهُ وَفِيهِ الرَّدُّ عَلَى مَنْ زَعَمَ أَنَّهُ عَلَى الْعَرْشِ بِذَاتِهِ وَمهما تُؤُوِّلَ بِهِ هَذَا جَازَ أَنْ يُتَأَوَّلَ بِهِ ذَاكَ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

"Ibnu Abdil Barr berkata: Hadits itu adalah pernyataan yang keluar sebagai penghormatan bagi kiblat. Sebagian Muktazilah yang meyakini bahwa Allah berada di mana-mana menolak hadits itu, dan itu adalah kebodohan yang nyata karena di hadits itu disebutkan bahwa ia harus meludah ke arah bawah kakinya. Di dalam hal ini ada penolakan terhadap kaidah mereka sendiri (sebab bawah kaki juga masuk dalam kategori di mana-mana). Dalam hadits itu juga ada penolakan terhadap orang yang menyangka bahwa Dzat Allah berada di atas Arasy (bertempat secara fisik di atas Arasy). Kalau hadits ini boleh ditakwil dengan dalil yang berbicara tentang posisi Allah di atas Arasy, maka hadits tentang posisi Allah di atas Arasy juga boleh ditakwil dengan hadits ini. Wallahu a'lam." (Ibnu Hajar, Fath al-Bâri, juz I, halaman 508).

Syekh Ibnu Abdil Barr, pengarang kitab at-Tamhîd, dan juga Imam Ibnu Hajar yang menukilnya tersebut sangat jeli melihat inkonsistensi para Jahmiyah-Muktazilah di satu sisi dan para tokoh yang berseberangan secara diametral dengan mereka di sisi lain. Bila dalil yang mengatakan Allah ada di atas lantas dipahami bahwa Dzat Allah bertempat di atas langit sedangkan seluruh dalil yang menyatakan Allah di bumi ditakwil agar sesuai dengan itu, maka hal sebaliknya juga boleh dilakukan. Dengan logika ini, maka kedua belah pihak sama-sama terlihat kelemahannya.

Inkonsistensi inilah yang dimanfaatkan oleh Syekh Ahmad al-Ghummari, seorang pakar hadits kontemporer, untuk membungkam tiga orang tokoh pendaku Salafi yang berdialog dengannya. Dalam kitab autobiografinya diceritakan bahwa beliau berkata pada ketiga orang tersebut:

فما الذي جعل ذلك القرآن أولى بالإعتقاد من هذا القرآن وكله من عند الله؟ قالوا إن الإمام أحمد قال ذلك. قلت وما لكم ولإحمد فهل أنتم تعملون بالدليل أو بقول أحمد؟ فسكتوا ولم ينطقوا بكلمة.

“Apa yang membuatmu menjadikan ayat Al-Qur’an yang ini (tentang Allah berada di atas) lebih utama dari ayat Al-Qur’an yang ini (tentang Allah berada di bawah) sedangkan semuanya berasal dari Allah?. Mereka berkata: Sesungguhnya Imam Ahmad mengatakan demikian. Aku berkata: Kenapa kalian mengikuti Imam Ahmad, apakah kalian memakai dalil atau memakai perkataan Imam Ahmad? Mereka dia dan tak berbicara sepatah kata pun.” (Ahmad bin Shiddiq al-Ghummari, Ju’nat al-‘Atthâr, juz 1, halaman 36-37).

Sebenarnya, Imam Ahmad dan banyak imam lainnya di kalangan salaf tidak bermaksud mengatakan bahwa Allah bertempat secara fisik di atas langit sebagaimana sering disalahpami para pendaku Salafi. Para Imam yang menjadi rujukan umat itu hanya ingin menegaskan sifat ‘uluw atau ketinggian Allah, tapi  bukan dalam makna ketinggian secara koordinat sebagaimana ketinggian satu jism atas jism lainnya.

Hal ini sudah penulis bahas berulangkali di bagian lain di kolom Tauhid NU Online ini sehingga tak perlu diulangi. Pendapat resmi mayoritas ulama salaf yang muktabar adalah seluruh ayat dan hadits tentang sifat Allah cukup dibaca ulang (imrâr) seperti redaksi asalnya dari Allah dan Rasulullah tanpa dibahas makna spesifik apa yang dimaksud. Ini adalah metode yang paling aman dan hati-hati. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja Center Jember