IMG-LOGO
Nasional

Pernyataan Sikap Gusdurian soal Posisi dalam Pilpres 2019

Sabtu 29 September 2018 20:45 WIB
Bagikan:
Pernyataan Sikap Gusdurian soal Posisi dalam Pilpres 2019
Jakarta, NU Online

Menjelang Pemilihan Presiden 2019, suasana kebangsaan semakin dinamis. Berbagai manuver dan pendekatan kepada kelompok-kelompok warga bangsa dilakukan untuk kepentingan kemenangan pasangan Calon Presiden/Calon Wakil Presiden. Tak terkecuali kepada Keluarga Gus Dur dan kepada jutaan Pengikut Gus Dur melalui berbagai kelompoknya. Inspirasi warisan perjuangan Gus Dur yang masih sangat relevan, dikombinasikan dengan keteguhan merawat para Pengikut Gus Dur selama ini, nyata-nyata berdampak pada pengaruh yang tetap besar dari sosok Gus Dur dan keluarga. Hal ini menyebabkan ramainya pendekatan partai politik kepada Keluarga Gus Dur dan para Pengikut Gus Dur di setiap perhelatan politik bangsa ini.

Keluarga Gus Dur merawat warisan perjuangan Gus Dur melalui berbagai strategi. Peran Gus Dur secara garis besar dapat dipetakan sebagai seorang ulama, sebagai seorang pejuang kemanusiaan dan demokrasi, sebagai seorang penggerak kultural, dan sebagai seorang politisi. Peran yang sangat lengkap ini berdampak pada strategi merawat inspirasi perjuangan Gus Dur.

Secara garis besar, Keluarga Gus Dur mengambil peran menjadi pengayom bagi semua, terutama Ibu Sinta Nuriyah Wahid. Secara khusus, warisan Gus Dur sebagai pejuang kemanusiaan dirawat oleh Jaringan GUSDURian Indonesia. Sedangkan warisan Gus Dur sebagai politisi dan Negarawan dirawat melalui Gerakan Kader Gus Dur. 
 
Pada hari Rabu, 26 September 2018, Yenny Wahid mengumumkan Deklarasi Dukungan Konsorsium Kader Gus Dur kepada pasangan Capres Joko Widodo – Cawapres KH Ma’ruf Amin. Berbagai media kemudian menyebutkan bahwa deklarasi ini merupakan sikap Gusdurian dalam Pemilihan Presiden 2018. Penyelarasan informasi yang dilakukan setelahnya juga dipelintir oleh sementara pihak sebagai perpecahan di dalam tubuh keluarga Gus Dur. 
  
Atas dinamika ini, Jaringan GUSDURian Indonesia menyampaikan beberapa klarifikasi sebagai berikut:

1. Jaringan GUSDURian Indonesia adalah arena berkumpul dan bekerjasama para GUSDURian. GUSDURian adalah Pengikut Gus Dur yang secara aktif merawat dan melanjutkan warisan perjuangan Gus Dur dalam ruang-ruang pendampingan masyarakat, terutama masyarakat yang dilemahkan (kaum mustadh’afin). Sebagai panduan gerakan sosialnya, Jaringan GUSDURian Indonesia bersandar pada 9 Nilai Utama Gus Dur, yang menjadi saripati spektrum perjuangan Gus Dur yang luas.
2. Pilihan strategi gerakan Jaringan GUSDURian dilandaskan pada kesadaran bahwa spektrum perjuangan Gus Dur sangat luas dan memiliki watak ruang perjuangan yang berbeda. Watak gerakan sosial kemasyarakatan tidak mudah untuk disatukan dengan watak gerakan politik. 
3. Karena keragaman watak tersebut, Jaringan GUSDURian Indonesia sejak dirintisnya medio 2010 telah menetapkan garis strategi perjuangan dalam gerakan sosial (masyarakat sipil), dan sebagai konsekuensinya tidak melibatkan diri dalam arena politik elektoral atau politik praktis baik pada tingkat nasional maupun tingkat lokal.   
4. Sampai saat ini, Jaringan GUSDURian Indonesia telah tersebar di berbagai penjuru Indonesia dan beberapa kota dunia. Sebagian besarnya membentuk Komunitas Gusdurian tingkat kota yang telah mencapai lebih dari 110 kota (dalam catatan Pertemuan Nasional Penggerak Agustus 2018). Sikap konsisten dan teguh pada strategi gerakan sosial menjadi salah satu faktor kepercayaan publik kepada Jaringan GUSDURian Indonesia. 

Mengacu pada fondasi di atas, Jaringan GUSDURian mempertegas sikap berikut ini:

1. Dalam proses Pemilihan Presiden 2019, Jaringan GUSDURian Indonesia tetap teguh untuk tidak terlibat dalam politik elektoral.  
2. Sikap tidak terlibat politik elektoral telah diperkuat secara sungguh-sungguh oleh setiap lini Jaringan GUSDURian mulai dari jaringan nasional sampai lokal kabupaten/kota, bukan hanya pada Pemilihan Presiden 2019 ini, namun semenjak dirintisnya. 
3. Jaringan GUSDURian mendorong para GUSDURian untuk menyalurkan hak politiknya sebagai warga negara, dengan keikhlasan untuk tidak membawa atau mengatasnamakan Gusdurian dan Jaringan GUSDURian Indonesia. Sikap ikhlas ini diperlukan untuk menjaga garis perjuangan dan kredibilitas Jaringan GUSDURian Indonesia. 
4. Dalam konteks warisan perjuangan Gus Dur sebagai politisi, seluruh pengikut Gus Dur dapat mengikuti gerakan politik Kader Gus Dur sebagai saluran aspirasi, bukan melalui Jaringan GUSDURian Indonesia. 
5. Jaringan GUSDURian Indonesia memahami kesalahpahaman publik dan media, mengingat gerakan masif yang selama ini lebih dikenal adalah Jaringan GUSDURian Indonesia sebagai gerakan sosial dengan program-program akar rumput yang kuat. 
6. Jaringan GUSDURian Indonesia meminta bantuan kepada publik dan media untuk menjernihkan kesimpangsiuran ini, karena berdampak kepada gema gerakan sosialnya. Semisal, saat ini Jaringan GUSDURian Indonesia sedang melaksanakan program Desa Tangguh Bencana di Lombok. Dampak pemberitaan tentang dukungan GUSDURian dalam Pilpres 2019 mengakibatkan pertanyaan apakah program tersebut terkait dengan kampanye Pilpres. 
7. Pemelintiran bahwa penegasan sikap Jaringan GUSDURian Indonesia menunjukkan perpecahan dalam keluarga Gus Dur adalah salah kaprah, baik disengaja maupun tidak. Strategi yang berbeda-beda dalam merawat warisan perjuangan Gus Dur adalah untuk saling melengkapi, bukan untuk saling menegasikan. Baik Gerakan Kader Gus Dur maupun gerakan sosial Jaringan GUSDURian Indonesia, juga anggota keluarga Gus Dur yang lain, bergerak ke arah yang sama: demi kemaslahatan bangsa.

Demikian sikap Jaringan GUSDURian Indonesia mengenai Pemilihan Presiden 2019. Semoga Tahun Politik ini tidak menjadi ajang perpecahan namun menjadi ruang tumbuh bagi bangsa dan rakyat Indonesia untuk memantapkan demokrasi sebagai jalan untuk mewujudkan cita-cita bersama yaitu bangsa yang adil makmur sentosa.    

Gus Dur telah meneladankan, saatnya kita melanjutkan.

Salam,

Alissa Wahid
(Koordinator Nasional Jaringan GUSDURian Indonesia)
Bagikan:
Sabtu 29 September 2018 23:50 WIB
Penjelasan soal Gangguan Listrik dan Komunikasi Akibat Gempa Sulteng
Penjelasan soal Gangguan Listrik dan Komunikasi Akibat Gempa Sulteng
Jakarta, NU Online
Sebanyak tujuh gardu induk PLN padam usai gempa mengguncang Sulawesi Tengah, Jumat (28/9). Gardu listrik yang padam khususnya di Palu dan Donggala.

“Saat ini baru dua gardu induk yang bisa dihidupkan kembali,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam rilis yang diterima NU Online, Sabtu (29/9).

Akibat dari tidak beroperasinya pasokan listrik PLN yang putus, berpengaruh pada rusaknya jaringan komunikasi. Terdapat 276 base station yang tidak dapat dapat digunakan. 

Selain di bidang listrik dan komunikasi, gempa juga menyebabkan terganggunya aktivitas di penerbangan. Di Bandara Mamuju terjadi kerusakan di bangunan tower, walaupun masih berfungsi; Bandara Toli-Toli dan Poso normal; sementara Bandara Luwuk Bangai terjadi pergeseran tiang tower namun masih berfungsi.

Adapun Bandara Mutiara Sis Al-Jufrie ditutup hingga Sabtu (29/9) pukul 19.20 WITA, dengan catatan tidak terjadi gempa atau tsunami lagi. Bagian tower lantai 4 bandara runtuh, peralatan komunikasi rusak, pemancar radio rusak, jaringan Usat down, radar dan VOR belum berfungsi.

Sepanjang 500 meter dari 2.500 meter landas pacu atau runway Bandara Palu retak akibat gempa. Landas pacu yang tersisa sepanjang 2.000 meter tersebut tidak dapat didarati pesawat jet berukuran besar, seperti Boeing 747 dan sejenisnya.

Di bidang pelayaran, Pelabuhan Pantoloan di Kota Palu juga rusak paling parah. Quay crane (kran peti kemas) yang biasanya digunakan untuk bongkar muat peti kemas roboh. Di Pelabuhan Wani bangunan dan dermaga mengalami kerusakan. Kapal Motor Sabuk Nusantara 39 terhempas tsunami ke daratan sejauh 70 meter dari dermaga. Pelabuhan Ampana, Pelabuhan Luwuk, Pelabuhan Belang-belang, Pelabuhan Majene kondisi baik dan tidak ada kerusakan akibat gempa. 

Sebagai respons atas dampak gempa bumi di Donggala dan Palu, NU Peduli memberangkatkan Tim sebanyak enam orang menuju Donggala dan Palu, Sabtu (29/9). Tim ini  terdiri dari Tim respons cepat termasuk yang bertugas untuk asesmen dan tim medis.

Ketua LBPI NU, M Ali Yusuf mengatakan, Tim tersebut berasal dari Jakarta dan Sulawesi Selatan. Tim melakukan serangkaian aktivitas, yaitu kaji cepat kebutuhan masyarakat terdampak bencana, melakukan koordinasi dengan PWNU Sulawesi Tengah dan berbagai pihak terutama Pemerintah baik Pusat maupun daerah. (Kendi Setiawan)

Sabtu 29 September 2018 23:45 WIB
Inovasi Haji 2019, Kemenag Siapkan Sistem Pelaporan Berbasis Aplikasi
Inovasi Haji 2019, Kemenag Siapkan Sistem Pelaporan Berbasis Aplikasi
foto: Kemenag.go.id
Yogjakarta, NU Online
Operasional Haji 1439H/2018M baru saja usai. Meski demikian,  Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag sudah mencanangkan inovasi haji 1440H/2019M. Salah satunya adalah pengembangan sistem pelaporan berbasis aplikasi. 

Hal ini ditegaskan oleh Direktur Pengelolaan Dana Haji Ramadhan Harisman saat menjadi pembicara pada Evaluasi Pelayanan Akomodasi, Konsumsi, dan Transportasi Darat Jemaah Haji di Arab Saudi 1439H/2018M di Yogyakarta.

Evaluasi ini diikuti para Kabid Haji Kanwil Kemenag se Indonesia,  Kepala Sektor di Makkah dan Madinah, serta pejabat Ditjen Penyekenggaraan Haji dan Umrah.  Evaluasi berlangsung tiga hari,  28 - 30 September 2018. 

Menurut Ramadhan, saat ini, data dan sistem pelaporan haji lebih banyak dilakukan secara manual. Petugas kloter misalnya, selama bertugas,  mereka membuat laporan kedatangan/keberangkatan jemaah,  pelaksanaan ibadah, serta kondisi jemaah dan kesehatan jemaah.

"Laporan itu selama ini dibawa petugas kloter ke sektor. Ini sudah tidak efisien dalam kondisi saat ini. Apalagi di Mina untuk petugas yang menempati tenda yang jauh dari tenda misi haji," tuturnya di Yogyakarta, Sabtu (29/9) sebagaimana diberitakan Kemenag.go.id

Hal sama dilakukan petugas sektor. Mereka membuat laporan inventarisasi barang, distribusi katering,  penempatan jemaah,  transportasi,  validasi pergerakan jemaah,  dan tanazul. Sebagian dilaporkan secara manual dari sektor ke daker.

Demikian juga dengan petugas daker, mereka berkewajiban membuat laporan badal dan safari wukuf,  haji khusus, dan permasalahan lainnya. 

"Dari semua itu,  yang sudah dilakukan secara elektronik baru laporan layanan kesehatan, kedatangan dan keberangkatan jemaah, serta tanazul. Selebihnya masih manual," jelasnya. 

"Menag minta semuanya berbasis elektronik di 2019," sambungnya.

Sehubungan itu,  Kemenag akan mengembangkan sistem pelaporan berbasis aplikasi. Sistem ini berbasis pada aplikasi Haji Pintar yang sudah dikembangkan sebelumnya. 

Kenapa Haji Pintar? Ramadhan menilai aplikasi ini sudah berjalan dengan baik dan banyak diakses publik. Bahkan, Haji Pintar juga banyak "diadopsi" negara lain.

Selain itu,  informasi yang tersedia di Haji Pintar juga sudah cukup lengkap,  mulai dari jadwal,  manasik,  peta lokasi pemondokan,  informasi akomodasi,  konsumsi, dan transportasi, termasuk layanan pengaduan melalui wa. Haji pintar juga sudah memuat estimasi keberangkatan dan info lainnya. 

Berangkat dari aplikasi Haji Pintar,  Ramadhan mengatakan kalau pihaknya akan melakukan sejumlah pengembangan. Pengembangan itu mencakup delapan aspek, yaitu:

1. Pelaporan petugas kloter dan sektor 
2. Pengaduan melalui sistem pengaduan dan monitoring (bukan melalui wa) 
3. Komunikasi petugas dan jemaah,  serta monitoring petugas
4. Informasi kesehatan jemaah (rawat,  kembali dari ruang rawat, sakit, rujukan) 
5. Informasi badal dan safari wukuf.
6. Proses check in/out menggunakan kartu pengenal (gelang RFID).
7. Akses dibatasi sesuai tingkatan level
8. Fitur pelaporan haji khusus

Radio Frequency Identification (RFID), kata Ramadhan, adalah sistem informasi berbasis wireless dengan menggunakan gelombang radio yang dapat digunakan untuk pengambilan data, tanpa harus bersentuhan. Bentuknya bisa dengan chip yang ditaruh di gelang atau menggunkan kartu sendiri. 

"Tujuan penggunaan RFID, mempermudah pendataan jemaah saat chek in/out, masuk/keluar bus/hotel; juga memudahkan otorisasi distribusi katering,  dan mengetahui info detail jemaah," jelasnya. 

Sebab, data jemaah (nama,  nomor paspor,  maktab,  hotel,  dll)  akan dimasukkan di kartu RFID. Dengan begitu,  pelaporan nantinya tidak sekedar rekap jumlah,  tapi hingga daftar namanya. 

"Prinsipnya,  aplikasi ini menerjemahkan sop pelaporan yang ada, dari bentuk menual ke aplikasi," urainya. 

Untuk itu,  lanjut Ramadhan,  sebagai langkah awal,  pihaknya tengah mengumpulkan indormasi terkait prosedur pelaporan. SOP itu akan diterjemahkan dalam bahasa regulasi, baru dilakukan pembangunan sistem aplikasi pellaporan.

"Aplikasi ini akan kami bangun sendiri," tegasnya.

"Inovasi ini akan mulai dikembangkan di bulan Oktober. Harapannya,  awal tahun 2019 sudah bisa dilakukan ujicoba," tandasnya. (Red: Abdullah Alawi)

Sabtu 29 September 2018 23:15 WIB
Gempa Donggala Robohkan Jembatan Ponulele
Gempa Donggala Robohkan Jembatan Ponulele
Jembatan Ponulele roboh akibat gempa (foto: Kompas.com)
Jakarta, NU Online
Jembatan Ponulele yang menghubungkan antara Donggala Barat dan Donggala Timur juga roboh. Jembatan yang menjadi ikon wisata Kota Palu ini roboh setelah diterjang gelombang tsunami. Akibat gempa, jalur trans Palu-Poso-Makassar tertutup longsor.

Demikian informasi yang diterima NU Online dari Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, Sabtu (29/9).

Selain itu, berbagai bangunan, mulai rumah, pusat perbelanjaan, hotel, rumah sakit, dan bangunan lainnya ambruk sebagian atau seluruhnya. Diperkirakan puluhan hingga ratusan orang belum dievakuasi dari reruntuhan bangunan.

Pusat perbelanjaan atau mall terbesar di Kota Palu, Mal Tatura di Jalan Emy Saelan, ambruk. "Hotel Roa-Roa berlantai delapan yang berada di Jalan Pattimura rata dengan tanah. Di hotel yang memiliki 80 kamar itu terdapat 76 kamar yang terisi oleh tamu hotel yang menginap," rinci Sutopo.

Berikutnya, arena Festival Pesona Palu Nomoni, di mana puluhan hingga seratusan orang pengisi acara dan sebagian merupakan para penari, belum diketahui nasibnya. Rumah Sakit Anutapura yang berlantai empat, di Jalan Kangkung, Kamonji, Kota Palu, roboh. 

Di samping itu,sebanyak tujuh gardu induk PLN padam usai gempa mengguncang Sulawesi Tengah, khususnya di Palu dan Donggala. Saat ini baru dua gardu induk yang bisa dihidupkan kembali.

Kerusakan jaringan komunikasi, di Donggala, Palu dan sekitarnya tidak dapat beroperasi karena pasokan listrik PLN putus. Terdapat 276 base station yang tidak dapat dapat digunakan. 

Terkait jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi dan tsunami yang terja di di Palu, Sulawesi Tengah, meningkat menjadi 384 orang. Selain itu, tercatat 29 orang hilang dan 540 luka berat.

Sebagai respons atas dampak gempa bumi di Donggala dan Palu, NU Peduli memberangkatkan Tim sebanyak enam orang menuju Donggala dan Palu. Tim ini  terdiri dari Tim respons cepat termasuk yang bertugas untuk asesmen dan tim medis.

Ketua LBPI NU, M Ali Yusuf mengatakan, Tim tersebut berasal dari Jakarta dan Sulawesi Selatan. Tim akan melakukan serangkaian aktivitas, yaitu kaji cepat kebutuhan masyarakat terdampak bencana, melakukan koordinasi dengan PWNU Sulawesi Tengah dan berbagai pihak terutama Pemerintah baik Pusat maupun daerah.

NU Peduli melalui NU Care-LAZISNU mengajak masyarakat untuk menyalurkan bantuan kepada warga terdampak gempa Donggala, Sulawesi Tengah. Ketua NU Care-LAZISNU, Ahmad Sudrajat mengatakan bantuan dapat disalurkan melalui NU Care-LAZISNU.

Bantuan dapat disalurkan melalui rekening BCA atas nama Yay.LAZISNU di nomor rekening 0681.1926.88; dan Mandiri 123.000.483.89.77. Konfirmasi donasi melalui nomor 081398009800.

"Doa dan dukungan masyarakat akan sangat bermanfaat untuk warga di Sulawesi Tengah," kata Sudrajat. (Kendi Setiawan)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG