IMG-LOGO
Humor

Inayah Wahid: Saya Alumni 212 yang Sah

Ahad 30 September 2018 15:15 WIB
Bagikan:
Inayah Wahid: Saya Alumni 212 yang Sah
Inayah Wahid (kanan)
Saat hadir di Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara dalam rangka Bedah Buku 'Merindu Gus Dur', Jumat (28/9) kemarin, putri Gus Dur, Inayah Wahid menerima pertanyaan dari salah satu peserta.

"Mbak, jika hari ini Gus Dur masih hidup kira-kiranya bagaimana komennya dengan aksi 212," tanya Arif, peserta dari Jepara.

Menanggapi pertanyaan itu, perempuan bernama asli Inayah Wulandari ini menjawab dengan enteng. "Ta' kasih tau ya, sebenarnya alumni 212 yang sah, ya saya," jawabnya disambut tawa hadirin.

Kenapa?

"Karena saya dan kakak saya Anita, dulu sekolahnya di SMPN 212 (Jakarta)."

Meskipun sebagai alumni yang sah, katanya, saat ada reuni di Monas dirinya merasa tidak diundang.

Lalu bagaimana sikap Gus Dur jika saat ini masih hidup? 

"Paling-paling Bapak enggak komen. Atau jangan-jangan beliau malah hadir di situ (Monas)," jawabnya lagi. Tawa pun membahana di Auditorium Pascasarjana Unisnu Jepara. (Syaiful Mustaqim)
Tags:
Bagikan:
Jumat 28 September 2018 14:0 WIB
Peristiwa Menggelikan di Tengah Pembebasan Kota Makkah
Peristiwa Menggelikan di Tengah Pembebasan Kota Makkah
Ilustrasi Makkah (via Pinterest)
Di tengah kemenangan Nabi dan kaum Muslimin dalam perjuangan membebaskan Kota Makkah (Fathu Makkah), ada satu peristiwa ketika Abu Sufyan dan para pembesar Quraisy akhirnya menyerah dan bersedia mengikuti petunjuk Nabi Muhammad SAW.

Kemudian Nabi meminta kepada para pimpinan pasukannya, baik pasukan dari jalur normal, pasukan lembah, dan pasukan bukit untuk menyatakan, al-yaum yaumal marhamah (hari ini hari kasih sayang).

Namun, salah seorang sahabat Nabi berteriak: al-yaum yaumal malhamah (hari ini adalah hari pertumpahan darah). Atas pernyataan dari sahabat Nabi tersebut, penduduk Makkah kembali diselimuti ketakutan.

Abu Sufyan gentar kemudian melayangkan protes, kenapa menjadi hari pertumpahan darah padahal sebelumnya diumumkan hari kasih sayang dan hari pengampunan.

Rasulullah lalu menjawab, tidak begitu maksudnya. Sahabat itu lidahnya cadel, tidak bisa menyebut huruf ra, sehingga huruf ra terucap la.

Hal itu yang menyebabkan kalimat al-yaum yaumal marhamah berubah menjadi al-yaum yaumal malhamah sehingga menimbulkan kesalapahaman. (Fathoni)


*) Kisah ini disarikan dari buku "Khutbah-khutbah Imam Besar" karya KH Nasaruddin Umar (2018)
Jumat 21 September 2018 8:30 WIB
Ingin Gelar ‘Gus’ Biar Jadi Presiden
Ingin Gelar ‘Gus’ Biar Jadi Presiden
Gus Dur dikenal sebagai sosok yang dekat dengan siapa saja dan dari kalangan mana pun. Suatu sore ia didatangi seorang tamu, pemuda non-Muslim.

Setelah mengaji kebangsaan kepada Gus Dur, pemuda tersebut bertanya tentang sebutan yang melekat pada diri Gus Dur. Pemuda itu merasa, panggilan ‘Gus’ begitu istimewa.

"Gus, kuliah di mana biar saya dapat gelar ‘Gus’ seperti Gus Dur?" tanya si pemuda.

"Enggak ada kuliah dan wisudanya," kata Gus Dur menimpali.

"Kalau gelar kiai dan ulama?" tanya si pemuda lagi ingin paham lebih jauh.

"Sama juga. Hehehe. Kenapa kamu bertanya begitu?" ucap Gus Dur.

"Saya pengin dapat gelar Gus supaya jadi Presiden kayak panjenengan,” selorohnya. (Ahmad)


Kisah ini disampaikan oleh KH M. Luqman Hakim, Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor
Kamis 20 September 2018 7:30 WIB
Orang Madura Naik Pesawat
Orang Madura Naik Pesawat
Ilustrasi (merdeka.com)
Suatu ketika Kamiluddin, pria paruh baya dari Sumenep ingin mengunjungi saudaranya di Jakarta. Ia memilih naik pesawat terbang agar cepat sampai. Lagipula, moda transportasi ini belum pernah dicobanya. Ini merupakan pengalaman pertama Kamiluddin naik pesawat.

Ia mempersiapkan segala sesuatunya, terutama tiket. Ia agak terburu-buru karena harus check-in 30 menit yang seharusnya 60 menit sebelum penerbangan.

Dengan langkah tergopoh-gopoh akhirnya dia bisa masuk ke pesawat juga. Tidak memperhatikan nomor seat di boarding pass, Kamiluddin serta merta langsung duduk di bagian depan. Padahal, kursinya di bagian belakang.

Sedang asyik bersantai setelah merapikan tas di bagasi kabin, Kamiluddin tiba-tiba didatangi oleh seorang perempuan muda.

“Maaf pak, kursi yang bapak duduki itu kursi saya,” kata si perempuan.

“Eh mbak, jangan sembarangan, ini kursi milik perusahaan pesawat, kursi sampean di rumah,” jawab Kamiluddin dengan logat khas Maduranya.

Melihat keributan itu, seorang pramugari mendatangi Kamiluddin dan si perempuan. Pramugari langsung melihat tiket masing-masing. Kemudian berkata, “Maaf pak, ini tempat duduk ibu, kursi bapak di bagian belakang,” ucap pramugari.

“Eh mbak, sampean ini siapa? Kursi saya di rumah, bukan di belakang. Ini kursi pesawat tempat duduk semua penumpang,” Kamiluddin tetap teguh dengan pendiriannya.

Keributan itu menyita semua mata penumpang, tak terkecuali pria asal Surabaya bernama Fauzan yang sedikit banyak memahami karakter orang Madura.

“Maaf, bapak tujuannya ke mana?” tanya Fauzan.

“Saya mau ke Jakarta,” jawab Kamiluddin dingin.

“Kursi tempat duduk bapak bukan untuk penumpang tujuan Jakarta, nanti bapak bisa nyasar loh. Tujuan Jakarta tempat duduknya di belakang,” terang Fauzan.

Tanpa basa-basi, akhirnya Kamiluddin langsung mlipir ke kursi bagian belakang dipandu oleh pramugari agar sesuai dengan nomor seat. (Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG