Angkat Pemikiran Gus Dur, Kader Lakpesdam NU Lampung Raih Prestasi

Kader Lakpesdam NU Lampung, Siti Mahmudah (Foto: Ist.)
Kader Lakpesdam NU Lampung, Siti Mahmudah (Foto: Ist.), Angkat Pemikiran Gus Dur, Kader Lakpesdam NU Lampung Raih Prestasi
Kader Lakpesdam NU Lampung, Siti Mahmudah (Foto: Ist.), Angkat Pemikiran Gus Dur, Kader Lakpesdam NU Lampung Raih Prestasi
Bandarlampung, NU Online
Prestasi ditorehkan salah satu pengurus Lakpesdam NU Provinsi Lampung, Siti Mahmudah, setelah menjadi juara ke tiga ajang lomba penulisan karya ilmiah tingkat internasional, “The 2nd Sunan Kalijaga International Writing Contest” di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pada perlombaan ilmiah yang diikuti oleh berbagai ilmuwan dalam dan luar negeri dengan reviewer (peninjau) berasal dari berbagai kampus ternama di dunia, seperti University of North Florida, USA, dosen Fakultas Syari’ah UIN Lampung ini mengangkat pemikiran KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tentang konsep pribumisasi.

“Gagasan “Pribumisasi Islam” selalu mendapat perhatian sebagai solusi bangsa bahkan dunia agar tercipta tatanan kehidupan yang damai. Konsep “Pribumisasi Islam” merupakan hasil renungan pemikiran yang mendalam dan pembacaan yang brillian, cerdas dan aktual dari seorang tokoh besar sekaligus guru bangsa, Gus Dur terhadap perjalanan panjang Islam di negeri ini,” katanya melalui pesan tertulis kepada NU Online, Ahad (30/9).

Prestasi kader NU Lampung yang juga aktif di KUPI (Kongres Ulama Perempuan Indonesia) ini melengkapi berbagai penghargaann sebelumnya diantaranya penulis disertasi terbaik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta periode 2016-2017.

Ia juga didaulat sebagai pembicara dalam berbagai event-event internasional seperti AICIS (Annual Islamic Conference on Islamic Studies) tahun 2016 di UIN Lampung dan di ajang tahunan CILIC (Center for Indonesian Law, Islam and Society) di Melbourne University, Australia.

Dalam even ilmiah internasional yang membawa tema besar “Islam and World Peace” ini, Mahmudah mengangkat kembali pemikiran besar tokoh besar NU sang Guru Bangsa, Gus Dur.

Untuk memperkuat posisi Gus Dur pemikirannya disandingkan dengan pemikiran tokoh dari Mesir, Khalil Abdul Karim. Karya ilmiah ini pun lalu dituangkan dalam tulisan berjudul “Islam and Local Traditions ; The Study of the Thinking of Abdurrahman Wahid (1940-2009) and Khalil Abdul Karim (1930-2002); an Indonesian and Egyptian Perspective.

“Tulisan ini merupakan hasil penelitian yang saya lakoni intensif selama dua bulan antara Februari  Maret 2018, di Australian National University (ANU) Australia,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua PWNU Lampung Alamsyah menilai bahwa hasil riset yang bersifat studi kasus dan komperatif ini meneguhkan watak otentik Islam yang damai dalam berdialektika dengan budaya lokal di mana saja dan kapan pun, sejak masa wahyu sampai ke era kekinian.

“Secara khusus riset ini melihat nilai substantif Islam damai tersebut dari perbandingan antara pengalaman dan pemikiran tokoh Indonesia, dalam hal ini diwakili oleh Gus Dur atau Abdurrahman Wahid dengan teori Pribumisasi Islam-nya dan oleh Khalil Abdul Karim dari Mesir dengan teori Historisitas Syari’at-nya,” jelas Dekan Fakultas Syariah UIN Lampung ini.

Menurutnya, dua tokoh ini sepakat bahwa syari’at atau hukum Islam adalah hasil adaptasi dan dialektika antara Islam dengan lingkungan budaya dan sosial sekitarnya. Dengan karakter adaptasi tersebut maka bentuk-bentuk aturan syari’at bisa sangat dinamis, fleksibel, dan mengalami penyesuaian, saat bertemu dan ber-inkulturasi dengan aneka budaya di berbagai wilayah dan negara, dengan tetap dan tidak menghilangkan nilai-nilai terdalam yang menjadi esensi dan misi atau ruh dari syari’at itu sendiri, seperti keadilan, persamaan, perdamaian dan persaudaraan.

Dengan kemampuan adaptabilitas demikian lanjutnya, akan dapat dilahirkan dan harus ditampilkan syari’at yang hadir dan menyatu serasi dalam ruang-ruang kehidupan di tempat syari’at itu berkembang, menghargai dan mengakomodir perbedaan agama, etnis dan berbagai kearifan lokal, serta mengedepankan persamaan secara damai dan harmoni.

"Karya ilmiah yang berbobot dan sarat prestasi ini pun semakin meneguhkan kebenaran Islam Nusantara, Islamnya Indonesia, Islam yang Rahmatan lil ‘Alamin; dengan syari’at-nya yang ramah dan damai," pungkasnya. (Red: Muhammad Faizin)
BNI Mobile