IMG-LOGO
Esai

Ghirah Islam Nusantara di Negeri Ginseng

Rabu 3 Oktober 2018 15:25 WIB
Bagikan:
Ghirah Islam Nusantara di Negeri Ginseng
Nahdliyin Korsel (Foto: istimewa)
Oleh Syaifullah Amin

Keris adalah simbol kepahlawanan di Nusantara, khususnya Jawa. Keris bukanlah senjata utama bagi sepasukan tentara Jawa. Keris adalah senjata yang bersifat pribadi atau biasa disebut sebagai agamanya yang artinya pegangan. Dalam dinas kemiliteran lawas, keris serupa tongkat komando bagi tentara modern semacam pistol kebanggaan bagi para perwira atau pendekar. 

Di Jawa, kepemilikan keris bukan hanya didominasi oleh militer. Baik Jawa lama maupun Jawa modern keris biasa dimiliki oleh berbagai kalangan. Ksatria atau militer, pedagang maupun para begawan atau guru-guru yang dalam Bahasa sekarang biasa disebut sebagai tokoh, baik tokoh agama, tokoh masyarakat maupun tokoh pemuda, semua biasa memiliki keris. Senjata yang terbuat dari logam berkelok-kelok ini juga biasa disebut sebagai piandel. Ya artinya sama saja, senjata pegangan atau senjata favorit. 

Keris juga bermakna sebagai simbol citra diri dan ketersambungan spiritual. Makna ini terus berlaku sejak zaman kuno hingga zaman modern. Karenanya, keris adalah simbol yang terus diharapkan melekat pada setiap putra Jawa, di mana pun mereka berada. Ya di mana pun mereka berada, termasuk di Korea Selatan. 

Kenapa saya mengawali tulisan ini dengan membahas keris? Padahal saya ingin membincang tentang semangat ke-Nahdliyin-an warga negara Indonesia di Korea Selatan? Ya, karena saat saya berada di Korea Selatan, saya berkesempatan menyaksikan penyambungan estafet sanad ke-Aswaja-an dari KH Said Aqil Siroj selalu Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kepada para Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Korea Selatan yang secara simbolik diwakili oleh Madi Al-Rasyid selaku Ketua Tanfidziyah. 

Keris yang diserahkan bukanlah keris lama, ya kerisnya memang keris baru, tetapi maknanya adalah makna lama. Artinya keris yang diserahkan merupakan simbol bagi ketersambungan semangat perjuangan Islam menurut cara yang berkembang di Indonesia, yang kini biasa disebut sebagai Islam Nusantara. 

Dengan diserahkannya keris dari Ketua Umum PBNU, berarti teman-teman PCINU Korea Selatan menerima untuk memgemban amanah yang sama untuk mendakwahkan Islam Nusantara, khususnya di Korea Selatan. Nah dari konsep ini, marilah kita turunkan ke ranah praksisnya. Saat ini PCINU bermarkas di Incheon, tepat di samping Masjid Al-Mujahidin yang juga menjadi tempat konsolidasi mereka.


Keris, simbol estafet kepemimpinan di PCINU Korsel. (Foto: istimewa)

Oke, marilah kita lihat, setidaknya melalui tulisan ini, bagaimana sepakat terjang PCINU Korea Selatan. Paling tidak sejak mereka pertama kali dilantik di Daejon pada tanggal 28 September 2014 M. Masa kepengurusan PCINU adalah dua tahun, mempertimbangkan masa kerja dan berlakunya Visa.  

Setelah dilantik, teman-teman PCINU terus melakukan konsolidasi keluar dan ke dalam. Mereka juga melengkapi kepengurusan dengan membentuk alat kelengkapan organisasi. Kini PCINU sudah memiliki beberapa lembaga seperti LDNU, LTMNU, LPNU, LAZISNU dan LESBUMI serta dua Banom, yakni Fatayat dan Ansor serta Banser. 

Saya juga berkesempatan untuk mengikuti pengukuhan anggota Banser di sana pada hari Sabtu malam Ahad tanggal 22 September 2018 kemarin di Masjid Al-Huda Gumi. Sehingga cukup banyak mendapat bahan obrolan seputar ghirah (spirit) dan kegiatan ke-NU-an di Korea Selatan. 

Mereka bercerita bahwa, memperjuangkan NU di Korea Selatan bukanlah perkara mudah. Beberapa hal yang menjadi kendala bagi perjuangan NU antara lain adalah pertama, satu sisi dilihat dari diri mereka sendiri selaku pribadi pengurus yang mayoritas berprofesi sebagai TKI buruh pabrik. Memang ada beberapa pengurus yang bukan TKI, seperti para mahasiswa dan staf kedutaan atau pemegang visa non-TKI lainnya, tetapi jumlah mereka tidaklah banyak. 

Kedua, dari sisi masyarakat Indonesia di Korea yang diajak untuk ber-NU,  mereka pun mayoritas adalah sesama TKI buruh pabrik yang jam kerjanya sangat ketat. Jam kerja apa Korea. Memang tidak semua adalah buruh pabrik, ada yang butuh di pertanian atau butuh lepas lainnya, tetapi tetap saja, jam kerjanya adalah jam kerja Korea. Waktu dan tenaga mereka hampir-hampir sudah habis untuk bekerja. Sisa-sisa tenaga mereka tinggallah untuk istirahat saja. 

Ketiga, adalah faktor dai dari luar NU,  baik yang datang dari dalam negeri maupun luar negeri. Untuk dai non-NU, maksudnya non Aswaja dari dalam negeri biasanya berasal dari lembaga donasi sebelah yang mensponsori puritanisme Islam.  Sedangkan dai non-Aswaja dari luar negeri biasanya didominasi oleh jamaah Tabligh, atau di sana mereka biasa menamakan diri Jamaah Dakwah. Saya juga sempat bertemu dan berbincang-bincang dengan beberapa orang dari kelompok terakhir ini. 

Dengan adanya ketiga tantangan ini memang bukan hal mudah bagi perjuangan para pengurus. Ditambah kenyataan bahwa mereka sedang berada di negeri orang. Harga-harga mahal bos, sewa gedung atau hallo untuk acara pengajian dan juga mobilisasi atau pergerakan massa juga membutuhkan waktu dan biayanya yang lumayan. 

Masjid-masjid dan musholla-musholla memang sudah eksis dan sudah terjaring komunikasi aktif, baik antar masjid-musholla maupun dengan kepengurusan PCINU, demikian pun dengan komunitas-komunitas kedaerahan di sana. Terbukti banyak pengajian-pengajian yang diselenggarakan oleh masjid-musholla maupun komunitas kedaerahan ini yang difasilitasi oleh PCINU, khususnya untuk urusan mendatangkan dai atau ustadz dari tanah air. 

Alhamdulillah, selama di Korea Selatan selama dua minggu, saya turut menyaksikan secara langsung bagaimana PCINU beserta lembaga-lembaga dan Banomnya, aktif memfasilitasi kegiatan-kegiatan dakwah di Korea yang diselenggarakan oleh masjid-musholla maupun komunitas kedaerahan. (bersambung)


Penulis adalah Wakil Direktur NU Online
Tags:
Bagikan:
Senin 1 Oktober 2018 3:0 WIB
Dua Pesan Abuya KH Abdurrahman Nawi
Dua Pesan Abuya KH Abdurrahman Nawi
Abuya KH Abdurrahman Nawi
Oleh Mawardi

Dalam suatu kesempatan, Abuya KH Abdurrahman Nawi, pengasuh Pesantren Al-Awwabin menyampaikan pesan: “Jangan jauh-jauh dari pesantren jika hidup ente mau barokah!” 

Boleh jadi sejumlah alumni Al-Awwabin juga pernah mendapat pesan serupa atau bahkan mungkin diperoleh dalam forum pengajian. Kepada penulis sendiri, beliau juga pernah menyampaikannya.

Pesan ini tentu saja tidak boleh dipahami secara tekstual lantaran akan melahirkan suatu pesan yang tidak tepat. Pun juga dengan berbagai pesan dan petuah beliau yang sering dikutip oleh para alumni. 

Dalam arti kata, pesan ini terbilang sederhana dan renyah tetapi bukan berarti kita juga memahami dan memaknai pesan tersebut dengan cara yang sederhana. Hal yang tidak kalah penting adalah memahami dan memaknai pesan utama di balik ungkapan beliau.

Dua kata kunci: pesantren dan barokah.
Setidaknya ada dua kata kunci dalam pesan itu. Pertama kata ‘pesantren’ dan kedua kata ‘barokah.’ Saya memahami pesantren dalam pesan itu adalah sebuah nilai-nilai takwa, nilai-nilai kesalehan. Pesantren adalah sebuah personifikasi dari nilai-nilai tersebut. 

Makna di atas tentu saja tidak terlepas dari berbagai praktek, ritual dan rutinitas, yang dilakukan dan dibiasakan di pesantren pada hakikatnya merupakan amaliyah dari ciri-ciri orang yang bertakwa. Begitupun dengan keilmuan yang diajarkan di pesantren yang bertujuan menghantarkan seorang santri pada tujuan takwa dan kesalehan. 

Di dalam pesantren, santri diwajibkan untuk shalat berjamaah, puasa sunnah, berbagai macam shalat sunnah muakkad: Shalat Tahajjud, Hajat, Duha, dan lain-lain. Begitupula dengan dzikir dan berbagai amalan lainnya. Karena pada hakikatnya, amaliyah yaumiyyah di pesantren yang bersifat “wajib” bagi para santri itu merupakan suatu proses internalisasi atau pembatinan nilai-nilai ketakwaan dan kesalehan. 

Keilmuan yang diajarkan di pesantren juga tak lepas dari upaya memperkuat basis bagi proses pembatinan nilai-nilai tersebut. Sehingga filosofi pendidikan di pesantren berpijak pada harmonisasi antara ilmu dan amal dalam proses internalisasi nilai-nilai takwa dan kesalehan. 

Sementara itu kata kunci kedua adalah “keberkahan” atau barokah (بركة). Kata keberkahan boleh jadi memiliki banyak sekali makna dan penafsiran. Kata ini bagi seorang santri bukanlah sembarang kata biasa melainkan sebuah kata agung, kata yang menjadi gheist, spirit, roh dan jiwa dalam kehidupan santri. Bahkan seringkali keberkahan dijadikan semacam teleologis, yakni tujuan akhir dari proses pembelajaran dan pengabdian yang dilakukan dalam kehidupan. Kata ini biasanya menjadi sifat dari istilah atau kata lain seperti ilmu yang barokah, rezeki yang barokah, dan seterusnya.  

Secara maknawi keberkahan atau barokah seringkali disebut sebagai زيادة الخير yakni bertambahnya suatu kebaikan. Di tengah masyarakat, bahkan di kalangan santri sendiri khususnya, ada begitu banyak penafsiran tentang keberkahan atau barokah ini. Mayoritas penafsiran terhadap keberkahan yang cukup banyak digunakan dan berkembang di kalangan masyarakat lebih banyak pada penyebutan contoh-contoh belaka dari efek keberkahan seperti ilmu barokah, bukan pada hakikat atau definisi keberkahan itu sendiri. Ada banyak sekali contoh kalau mau disebut, tapi saya lebih suka membahasnya dari sudut pandang lain. 

Keberkahan dalam beberapa kitab disebut sebagai زيادة الخير atau bertambahnya kebaikan. Ada dua hal penting di balik pengertian itu, pertama maksud زيادة  atau bertambah, peningkatan. Pertambahan dan peningkatan ini memiliki dua dimensi: kualitas dan kuantitas. 

Sementara kata yang kedua yakni الخير sebagai sesuatu “yang baik” atau “kebaikan”. Kebaikan atau “yang baik” secara substansi makna mengandung banyak tinjauan bergantung pada perspektif atau sesuatu yang dianggap bernilai oleh seseorang dalam kehidupannya. 

Bagi seorang materialis, kehidupan “yang baik” adalah kehidupan bergelimang harta dimana harta-benda menjadi nilai paling berharga dalam kesadarannya. Harta-benda menjadi ukuran dalam cara pandang seorang materialis dalam memaknai sebuah kehidupan “yang baik”, kehidupan yang barokah. Sebaliknya “yang baik” akan dipahami berbeda oleh seorang yang pragmatis, idealis dan seterusnya. 

Penafsiran yang umum muncul kata keberkahan sebagai bertambahnya kebaikan seringkali dimaknai pada pertambahan dari segi kuantitas bukan kualitas, dan “yang baik” diukur dari segi harta-benda, dan segi popularitas, dan sebagainya dari ukuran-ukuran duniawi belaka.

Makna Penting yang Tersirat
Oleh itu pesan Abuya sesungguhnya mengandung pesan filosofi yang sangat mendalam bilamana kita mau menyibak makna lain dari apa ‘yang tak terkatakan’ dan tersirat di balik pesan yang tampak dan tersurat. Karena kalau kita memahaminya secara tekstual maka makna yang muncul seolah keberkahan terbatas pada wilayah kepesantrenan. Oleh karenanya kita perlu memahami makna lain di balik pesan tersebut. 

Dengan demikian, makna penting yang lain dari pesan  “Jangan jauh-jauh dari pesantren kalau ente mau hidup barokah...”, artinya adalah agar kita senantiasa berpegang teguh pada nilai-nilai ketakwaan agar hidup kita terhindar dari segala perbuatan dosa yang menjerumuskan ke dalam neraka. Pesantren sebagai personifikasi nilai-nilai ketakwaan dan kesalehan. Dan kehidupan yang barokah adalah kehidupan dimana kita terhindar dari segala perbuatan maksiat dan dosa yang dapat menjerumuskan seseorang ke neraka. 

Karena bagi orang yang bertakwa kehidupan yang barokah adalah kehidupan dimana kita mampu melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi segala yang dilarang oleh Allah. Maka pengalaman belajar yang barokah dan keilmuan yang barokah adalah ilmu yang membawa kita pada kebahagiaan akhirat dan menjaga kita dari kesengsaraan di akhirat akibat perbuatan tercela dan dosa. 

Prinsip dasar dari makna keberkahan ini adalah قوا انفسكم وأهليكم نارا , jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. Wallahu `alam bisshawab


Penulis adalah salah seorang ustadz di Pondok Pesantren Al-Awwabin, pernah nyantri di Lirboyo, lulusan Aqidah Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Senin 24 September 2018 5:0 WIB
Masjid Tanda Seru
Masjid Tanda Seru
ilustrasi: tekoneko.net
Oleh Abdullah Alawi

Sekali waktu saya shalat di masjid agung sebuah kabupaten. Sebagaimana masjid pada umumnya, arsitektur rumah ibadah orang Muslim itu memiliki beranda. Saya duduk di situ sambil memandang taman, hilir mudik orang diciprati cahaya lampu-lampu yang mulai dinyalakan. Kemudian melepas sepatu coklat pinjaman. Berhubung sepatu orang, semula saya berniat menitipkan, supaya aman, meski harus bayar. Tapi tak ada. Sepatu dibiarkan saja berjajar dengan alas kaki warna-warni, merk dan ukuran.

Melepas capek, sambil selonjoran, saya lirik kanan-kiri beranda. Barangkali, meski kemungkinannya kecil bisa bertemu orang yang dikenal. Kemudian mata saya berhenti pada huruf kapital di tembok. Hmmm... baru masuk beranda saja sudah menemui larangan. “Dilarang merokok di beranda masjid,” begitu bunyi tulisan.

Santai saja, wahai beranda masjid, aku tahu diri, tak mungkin merokok di sini.

Setelah berwudlu, masuk ke ruangan utama masjid. Kulirik-lirik seputar ruangan, dan tiang-tiang penyangga atap itu berseru, “Dilarang tidur di masjid!”.

Santai saja, bung tiang masjid, saya tidak akan tidur di sini kok. Aku ke sini bukan hendak tidur.

Ketika hendak takbirtul ihram, sudut mata saya melirik tulisan lain lagi. Di tembok dekat mihrab, di atas kaligrafi yang jelimet itu terdapat larangan pula, “Jangan akatifkan hape!”

Cerewet banget ini masjid, udah kumatikan dari tadi hapeku.

Saya memperbaiki takbiratul ihram. Allahu akbar...eh, pikiran bukan ke doa iftitah, malah ke tiga larangan itu…hmmm... Kemudian setan lewat mengirim kabar aneh dalam bentuk pertanyaan, “Bagaimana kalau berjudi dan korupsi di masjid, atau main bola, apa dibolehkan di masjid ini? Bukankah di situ tidak dicantumkan laranganya?”

Doa Iftitah kemudian bersulih dengan racauan pikiran tak beres. Entah kenapa, saya merasa tulisan-tulisan larangan itu malah mengganggu keindahan. Tapi mungkin pihak masjid memang tidak ada pilihan selain itu, karena orang yang masuk masjid tidak semua ingin masuk masjid. Mereka punya niat berbeda-beda, misalnya merokok, tidur, dan menelpon tetangganya, pacarnya, atau dukun. Bisa juga dia yang ditelpon untuk menagih utang, atau sekadar mengirim ucapan selamat ulang tahun atau kirim i miss you. 

Larangan-larangan seperti itu mengingatkan saya pada kalangan tertentu dalam Islam sendiri yang selalu menanyakan perbuatan sekarang dengan dalil masa lalu. Perilakunya begini, kalau ada yang melihat orang tahlilan, dia akan bertanya, “mana dalilnya?” Kalau melihat ada yang Yasinanan di malam Jumat, dia akan bertanya, “Mana dalilnya?” Melihat orang-orang shalawatan, bertanya pula, “mana dalilnya?”

Bagaimana kalau saya berperan sebagaimana mereka, sementara saja, kepada masjid agung kabupaten itu. Pertama, dilarang merokok di masjid, “mana dalilinya?” Kedua, dilarang tidur di masjid, “mana dalilnya?” Ketiga, dilarang menyalakan telpon genggam, “mana dalilnya?”

Khusus merokok, meski saya perokok, tidak layak diizinkan di ruang publik seperti masjid. Tapi soal tidur di masjid, sebaiknya diizinkan sajalah. Saya yakin di kota semacam itu banyak orang kelelahan, kemudian istirahat, ketiduran. Jika dilarang, malah akan menjauhkan umat dari rumah tuhannya. Dan kepada pemilik telpon genggam, tahu dirilah.


Kamis 20 September 2018 13:0 WIB
Imajinasi Santri Harus Naik, Tak Sebatas Potong Video
Imajinasi Santri Harus Naik, Tak Sebatas Potong Video
Ilustrasi
Oleh Hamzah Sahal

Siaran langsung, live streaming melalui media sosial, video pendek, footage, dan sejenisnya, yang hari ini booming di kalangan pesantren, adalah berkat kerja keras, di antaranya mulai dipopulerkan NUTIZEN. Saya, sebagai bagian dari NUTIZEN waktu itu, turut senang dengan perkembangan itu. 

Harapanku dan teman-teman, hari-hari ke depan, masa-masa mendatang, kualitasnya naik. Imajinasi dan mimpinya terus dipompa. Agendanya bukan saja merespon keperluan sehari-hari, jangka pendek, dan memenuhi kebutuhan internal saja.

Harapan tersebut hanya bisa terwujud dengan terus belajar, berjejaring, mengundang ahlinya, membuka pikiran, dan piknik ke tempat-tempat yang memantik daya kreativitas.

Teman-teman tidak boleh puas karena sudah viral dengan modal memotong suara Gus Muawafiq, bahkan Gus Dur, lalu ditambah gambar comot sana, comot sini. Boleh itu untuk tingkat "ibtida". Untuk tingkat selanjutnya, "haram" memotong-memotong begitu. Mengapa haram?

Kalau memotong suara Gus Dur dengan mutu buruk, itu namanya menempatkan Gus Dur pada level rendah. Gus Dur itu presiden, Kang. Jangan samakan dia dengan wakil rais syuriah level MWC, yang speakernya boleh kresek-kresek bahkan mati di tengah pengajian. Sekali lagi boleh untuk tingkat "ibtida", tapi ngak boleh untuk tingkat "tsanawi", apalagi kelas "aliyah", apalagi tingkat "ma'had ali".

Imajinasi kita harus lebih lagi, naik kelas. Ingat, Habibi sudah dibuatkan operanya, di samping film-film yang ditonton jutaan masyarakat itu. Dan punya daya kekuatan bisnis!

Kita harus buat karya bagus dan berkualitas dunia, agar gagasan Gus Dur dipelajari. Mulailah menonton Mahatma Gandhi, dengan versinya yang beragam. Itulah kenapa Gandhi "hidup" di belahan dunia manapun, antara lain karena film.

Kemarin saya mengunjungi "Akatara" di Jakarta Theater. Ini event "bisnis" para sineas yang baru diselenggarakan dua kali oleh Bekraf. Ditempat itu sineas menjajakan idenya, berjumpa dengan investor, diskusi dengan tamu-tamu, dll. Saya mengharapkan, tahun 2020 ada teman-teman santri yang duduk di sana.


Penulis adalah produser film 'Jalan Dakwah Pesantren'
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG