IMG-LOGO
Nasional

Ketidakpuasan pada Kondisi yang Ada, Pemicu Radikalisme

Rabu 3 Oktober 2018 18:30 WIB
Bagikan:
Ketidakpuasan pada Kondisi yang Ada, Pemicu Radikalisme
Jakarta, NU Online
Ketua Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme Majelis Ulama Indonesia (BPET MUI) Zainut Tauhid Sa'adi mengatakan, perilaku radikal tidak hanya berbentuk tindakan, tapi juga ucapan atau verbal. 

Radikal yang berbentuk tindakan merupakan segala perilaku yang menyerang dan mengandung unsur kekerasan. Sementara radikal yang bersifat verbal berwujud segala bentuk pemikiran radikal yang mengandung unsur ujaran kebencian, intoleransi terhadap kelompok yang berbeda, atau pun hoaks.

Menurut laki-laki yang juga menjabat Wakil Ketua Umum MUI ini, mereka yang melakukan perilaku radikal verbal kerap kali menyalahkan orang lain yang tidak sepaham dengannya secara verbal, intoleran terhadap yang berbeda, dan menyebarkan informasi yang bermuatan ujaran kebencian serta hoaks.   

“Kondisi demikian dipicu di antaranya oleh ketidakpuasan pada kondisi yang ada, sehingga menuntut adanya perubahan segera. Padahal perubahan secara alamiah dilakukan melalui suatu tahapan, sehingga prosesnya dapat berjalan secara natural," kata Zainut dalam sebuah diskusi yang digelar MUI di Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (3/10).

Senada dengan Zainut, Wakil Kepala Badan Intelijen dan Keamanan Polri Suntana juga menyatakan bahwa salah satu penyebab radikalisme berkembang adalah karena ketidakpuasan suatu kelompok terhadap politik, sosial, ekonomi, dan budaya yang ada. Mereka berusaha melakukan tindakan-tindakan radikal untuk mengubah ketidakpuasannya tersebut.

Sukanta juga menjelaskan bahwa radikalisme berkembang juga karena semakin merebaknya berbagai penafsiran satu ajaran agama tertentu tanpa membandingkan dengan penafsiran yang lainnya. Misalnya, mereka meyakini bahwa makna jihad adalah berperang saja. Sementara jika dibandingkan dengan tafsir-tafsir yang lain, jihad memiliki makna yang beragam. 

Selain itu, lanjutnya, konflik sosial bernuansa intra dan antar agama juga menjadi pemicu berkembangnya tindakan radikalisme dan terorisme. (Muchlishon)
Bagikan:
Rabu 3 Oktober 2018 23:15 WIB
Kiai Ma'ruf Perkuat Landasan 100 Tahun NU
Kiai Ma'ruf Perkuat Landasan 100 Tahun NU
Purwakarta, NU Online
Mantan Rais Aam PBNU KH Ma'ruf Amin bersedia menjadi Cawapres Jokowi karena sebuah panggilan untuk pengabdian yang lebih luas. Sebagai kader NU, Kiai Ma'ruf Amin juga ingin memperkuat landasan 100 tahun kedua Nahdlatul Ulama (NU).

Demikian dinyatakan KH Ma'ruf Amin dalam sambutannya pada acara Doa untuk Sulawesi Tengah dan Halaqah Kebangsaan Syuriyah NU dan Kiai Lembur II-III Jawa Barat di Pesantren Al Muhajirin, Sukatani, Purwakarta, Rabu (3/10).

Dalam acara yang digelar oleh Pengurus Besar Majelis Dzikir Hubbul Wathon (PB MDHW) ini Kyai Ma'ruf menjelaskan, meski yang menjadi Cawapres adalah dirinya, ia berharap manfaatnya bisa terus dipetik hingga generasi-generasi selanjutnya. 

"Saya menjadi Cawapres ini ibarat menanam pohon, nanti yang memetik adalah generasi setelah saya. Sebagai kader NU, saya ingin memperkuat landasan 100 tahun kedua NU," kata Kiai Ma'ruf.

Senada dengan itu, Sekjen PB MDHW Hery Haryanto Azumi sangat mendukung gagasan Kiai Ma'ruf terkait keinginannya memperkuat landasan 100 tahun kedua NU. Hery menuturkan bahwa 100 tahun kedua NU harus disambut dengan optimis. 

"Kita sebagai kader NU memang sudah seharusnya mempersiapkan 100 tahun kedua NU. Apa yang disampaikan Abah Kiai Ma'ruf harus disambut baik. Seratus tahun kedua NU harus menjadi perhatian seluruh kader NU," kata Hery yang merupakan penanggung jawab acara di Purwakarta tersebut.

Hery berpandangan bahwa dalam tradisi Nahdliyin, kiai tidak sekadar tokoh panutan dalam urusan agama, tetapi juga sebagai rujukan dalam beragam hal kehidupan, termasuk dalam urusan sosial dan politik.

“Kita berharap Kiai Ma'ruf Amin dapat menjadi penyambung lidah dan pemersatu kelompok nasionalis dan Islam. Sehingga kita semakin dekat pada cita-cita menuju Indonesia Emas 2045,” tutup Hery. (Red: Kendi Setiawan)

Rabu 3 Oktober 2018 22:30 WIB
KH Nasaruddin Umar: Selama Umat Islam Kokoh, Indonesia Tidak Akan Hancur
KH Nasaruddin Umar: Selama Umat Islam Kokoh, Indonesia Tidak Akan Hancur
Jakarta, NU Online
Imam Besar Masjid Istiqlal KH Nasaruddin Umar mengatakan, umat Islam Indonesia memiliki peran penting dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ia menegaskan, Indonesia tidak akan hancur jika umat Islamnya kuat. Sebaliknya, jika umat Islam Indonesia hancur maka Indonesia juga akan hancur.

“Selama umat Islam kokoh, Indonesia tidak bisa dihancurkan,” tegas Kiai Nasar di Kuningan Jakarta, Rabu (3/10).

Menurut Kiai Nasar, padahal banyak futurolog yang memprediksikan bahwa Indonesia akan hancur menjadi negara kecil-kecil, sebagaimana yang terjadi pada negara-negara Balkan, Uni Sovyet, atau pun Yugoslavia. Namun faktanya hingga hari ini, Indonesia masih utuh.  

“Kita harus waspada. Selama umat Islam kuat, Indonesia akan kuat. Tapi kalau umat Islam rapuh, itu awal dari kehancuran,” jelasnya.

Guru Besar UIN Jakarta ini menambahkan, ada pihak-pihak yang tidak suka kalau Indonesia utuh. Mereka melakukan berbagai macam cara untuk membuat Indonesia pecah. Salah satunya dengan melakukan politik adu domba antar sesama umat Islam. selain itu, umat Islam juga diacak-acak agar mereka tercerai-berai.

“Ada strategi baru, umat Islam diacak-acak, diadudomba,” ucapnya.

Ia berharap, umat Islam Indonesia yang yang berpaham Ahlussunnah wal Jamaah harus terus diperkuat dan dipertahankan. Ini menjadi benteng keutuhan NKRI. (Muchlishon)
Rabu 3 Oktober 2018 22:15 WIB
Kesaksian Warga Saat Hilangnya Sebuah Kampung Akibat Gempa Palu
Kesaksian Warga Saat Hilangnya Sebuah Kampung Akibat Gempa Palu
Ridwan (berkaos putih)
Jakarta, NU Online
Kelurahan Balaroa di Kota Palu, Sulawesi Tengah termasuk kampung yang mengalami dampak parah akibat gempa dan tsunami yang terjadi Jumat (28/9). 

Berdasarkan citra satelit tanggal 17 Agustus dan 1 Oktober, memperlihatkan betapa drastisnya perubahan kampung tersebut. Kampung yang semula tampak rapi, begitu datang gempa dan tsunami, menjadi luluh lantah. 

Sebagian besar tanah dan bangunan ikut amblas akibat likuifaksi, menyebabkan publik menyebut Balaroa, selain Patebo, sebagai kampung yang hilang.

Peristiwa amblasnya bangunan dan tanah di Balaroa masih menimbulkan trauma bagi sebagian besar warga. Seorang warga, Ridwan menceritakan bangunan runtuh seperti yang terjadi hari itu, baru saat itu ia saksikan.

“Bangunan bukan hanya retak tapi hancur dan amblas,” kisah Ridwan seperti dalam rekaman video yang dikirimkan Tim NU Peduli kepada NU Online, Rabu (3/10).

“Banyak juga rumah tingkat, amblas dan rata dengan tanah. Atap itu sudah ambruk kiri kanan,” sambung Ridwan.

Kala itu Ridwan bisa selamat karena tengah melayat seorang kerabatnya yang meningal dunia. Ada ratusan orang yang melayat kerabat Ridwan. Sebagian besar warga yang melayat juga menjadi korban gempa hari itu. Hanya sedikit warga yang selamat, yaitu mereka yang berada di depan lapangan dan pinggir jalan dekat rumah duka.

“Yang di dalam rumah ada ratusan, meninggal semua. Yang di muka (depan) lapangan ada puluhan bisa selamat,” tutur Ridwan.

Ia juga menceritakan banyak jenazah korban gempa di Balaroa yang belum dievakuasi. Proses evakuasi terkendala minimnya alat berat, selain memang banyak warga yang tertimbun bersama rumah dan tanah yang amblas. (Kendi Setiawan) 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG